Halaman

Kamis, 22 Januari 2009

Life is a Cinema


Hidup ibarat sebuah sinema, bahkan lebih menyeramkan. Sakit adalah sakit dan darah adalah darah. Tak ada peran pengganti yang akan menggantikanmu menanggung sakit akan sesuatu.

Memang benar hidup itu tak lebih dari sebuah jalinan cerita dalam sinema, episode demi episode harus kita jalani tanpa tahu skenarionya secara pasti. Tak lebih dari sekedar menerka-nerka jalan ceritanya. Mencoba menjadi kreatif untuk sekedar menyelesaikan satu episode penuh misteri. Dipaksa memainkan peran yang tak pernah terbayangkan kadang sering dijalankan hanya untuk itu tadi. Menyelesaikan satu episode hidup.

Kalaupun satu season berisi beberapa episode telah usai dan tamat maka kita sudah ditunggu dengan cerita baru. Skenario asing yang tak kita kenal menanti untuk dimainkan. Peran pembantu juga telah disiapkan lengkap, antagonis dan protagonis. Semuanya hanya untuk membuat cerita hidup kita menjadi lebih bermakna. Lebih bermakna dengan cara berinteraksi dengan mereka. Peran pengganti yang hadir justru akan menguatkan posisi kita sebagai peran utama. Membuat kita menamatkan tiap episode dengan indah.

Hidup lebih hebat dari sinema pada kenyataannya, karena dalam waktu yang sama kita akan bermain di beberapa cerita. Tak selalu jadi peran utama, tapi peran pembantu. Peran pembantu dalam jalinan cerita sinema orang-orang di sekitar kita. Kadang kita memainkan peran protagonis ketika kita menjadi sosok yang baik untuk orang lain, menguatkan kehidupan seseorang untuk membuat ceritanya menjadi indah. Tapi sering pula kita menjadi peran antagonis, seseorang yang ternyata tanpa disadari menyulitkan hidup seseorang. Membuat episode hidup seseorang menjadi tidak gampang. Life is totally a cinema, and I really love doing my cast.

Tak bisa memilih skenario mana yang harus dilakoni seringnya menjadi tantangan tersendiri. Kehidupan dengan jalinan cerita yang monoton akan menjebak kita dalam rasa bosan yang tak terperi. Hidup yang datar-datar saja tak akan membawa kita kemana-mana, tak menjadikan kita siapa-siapa. Hanya menamatkan kewajiban untuk menjalani peran tersebut. Justru kehidupan yang berliku, yang penuh onak dan duri yang akan menjadikan kita lebih kuat, lebih memaknai jalinan cerita itu sendiri. Menjadikan kita layak mendapatkan piala vidia kehidupan bahkan untuk kategori life achievement award.

Skenario yang harus kita mainkan seringkali tak sejalan dengan keinginan kita. Di situlah seninya, bagaimana kita mengerahkan semua kemampuan kita hanya untuk memainkan cerita yang sebenarnya tak kita inginkan. Mencoba berdamai dengan sang sutradara kehidupan hakiki dan dengan cerita serta peran yang harus kita jalankan mungkin satu-satunya seni peran yang bisa dilakukan. Ikuti saja jalan cerita utamanya, buat sedikit improvisasi, itu akan membuat cerita yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

Karena nggak ada peran pengganti maka kita harus siap untuk menanggung setiap resiko dari setiap peran yang akan kita jalankan. Menangis, air mata, bahagia dan tertawa pasti akan mewarnai semua cerita. Jangan hanya mengharapkan tawa karena air mata juga membuat semuanya lebih bermakna. Tak hanya suka yang membuat kita bahagia, kesedihan juga sering membuat kita menjadi lebih kuat. Lebih kuat dari siapapun.

Akhirnya aku cuma ingin bilang : Selamat menjalankan peran kita masing-masing!

Tidak ada komentar: