Rabu, 24 Februari 2010

Ambiguitas

Saya lagi sering senyum-senyum sendiri, tapi bukan gila. Lagi merasa lucu aja sama reaksi orang-orang di sekeliling, orang-orang dari masa lalu tepatnya. Entah itu mantan pacar, atau orang yang pernah deket tapi nggak sempet pacaran karena banyak factor rintangan.

Di kantor, di kamar, di toilet, dimanapun selalu senyum-senyum sendiri. Lagi kerja di laboratorium, lagi meeting, bahkan lagi seminarpun saya sering sekali tersenyum karena reaksi-reaksi mereka. Kerjaan yang lagi numpuk dan padet banget ternyata tidak bisa menyita pikiran saya untuk sedikitpun teralihkan dari sana. Ketika nyetir saya seringnya jadi salah belok atau diklaksonin orang dari belakang.

Semua gara-gara postingan saya yang terakhir.

Di postingan yang terakhir saya menulis mengenai mendokumentasikan waktu. Bagaimana saya mendokumentasikan sebuah kenangan dalam rekam imaji. Mem-file-kan lembar demi lembar kejadian masa lalu yang pernah membuat saya bahagia. Saat menulis itu, saya memang sedang duduk membuka lagi folder yang berisi semuanya. Mencoba mereka ulang alur yang pernah saya pijak bersama seseorang.

Hei kamu…iya kamu.

Kamu yang ambigu. Bermakna tidak hanya dua, tapi bisa banyak. Di tulisan itu saya memang tidak menuliskan secara spesifik untuk siapa saya tujukan tulisannya. Pokoknya buat kamu…iya kamu. Seseorang yang pernah hadir, mengisi kemudian pergi. Karena tidak spesifik itulah ternyata menimbulkan opini yang membuat saya tidak berhenti tersenyum sendiri.

Entah itu melalui media sms, email, chat, telpon langsung bahkan BBM hampir semua orang yang pernah dekat saya kemudian berekasi. Entah becandaan atau sungguhan, saya tidak tahu. Yang pasti mereka kebanyakan mempertanyakan. Bertanya kepada siapa saya mendedikasikan tulisan saya itu. Saya bungkam, konsisten dengan apa yang saya tulis. Pokoknya kamu…iya kamu!!! Siapapun itu, biar hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Mereka boleh bertanya, mereka boleh menyimpulkan. Tapi itu saya, seseorang yang pernah hadir mengisi jambangan hati mereka kala itu. Kalaupun sekarang saya seperti merasa berhutang kepada mereka layaknya yang saya tuliskan di mendokumentasikan waktu, karena saya merasa bahwa mereka telah bertransformasi menjadi teman bahkan sahabat. Dan seorang teman atau sahabat memiliki kewajiban untuk selalu memompakan semangat, mengawasi dan mengingatkan. Jangan lagi menoleh kebelakang walau perpisahan yang terjadi seringkali didasarkan pengkhianatan atau berpijak pada sakit dan air mata. Hidup tidak surut ke belakang.

Hei kamu…iya kamu. Siapapun kamu, aku tetap menyayangimu seperti dulu meskipun dengan perspektif yang tidak lagi sama.

Jumat, 19 Februari 2010

Mendokumentasikan Waktu

Hey kamu…Iya kamu. Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak berkomunikasi seperti dulu. Rasanya kangen juga diributkan oleh sesuatu yang seringkali tidak perlu. Selalu melapor sedang dimana, bersama siapa, mau kemana. Padahal kita bukan siapa-siapa. Kita hanya menikmati nyaman yang tercipta, berusaha berdiri di titik aman tanpa berusaha melangkah. Entah kenapa.

Hey kamu…Iya kamu. Aku ingat pernah berjanji kalau aku akan selalu menemanimu bertransformasi menjadi sesuatu, membantumu melewati hari-hari besar yang akan membawamu menjadi seseorang. Jangan pikir aku lupa, aku mengingat semuanya. Setiap detail apa yang pernah kita rencanakan dan apa yang perlu direalisasikan. Rasanya baru kemarin ya? Ternyata kita sudah jauh melangkah.

Maaf kalau sepertinya aku terlihat menjilat ludahku sendiri dengan tidak memompakan semangat yang dulu seringkali kulakukan. Maaf juga kalau selayaknya pecundang aku seperti tidak ingin menepati janji. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus memulainya lagi, rasanya rikuh untuk kembali terlibat dalam semua elemen itu. Aku terbelenggu canggung yang sampai kini juga aku tidak tahu kenapa.

Mungkin sebentar lagi waktu itu akan tiba. Waktu yang dulu aku rencanakan ketika datang, aku akan berada disampingmu. Menjadi semacam kekuatan untuk mendobrak semua belenggu. Menitis bagai hembus angin yang akan menentramkan ketika kamu gundah melangkah. Aku ingat pernah berjanji pada diriku sendiri untuk melakukan semuanya, tanpa harus ada imbalan. Aku hanya senang menemanimu, meski tidak jelas sebagai apa atau siapa.

Hey kamu…Iya kamu. Ayo semangat! Jangan jadikan mendung di luaran menggelayuti pikiranmu. Aku yakin kamu akan sanggup melalui semuanya. Bukan hanya itu, aku yakin kamu akan keluar sebagai pemenang. Jangan hiraukan waktu yang katanya terlambat mengantarkanmu menuju tujuan asa, jangan lagi bersembunyi dibalik ketidakberdayaan karena semuanya pasti bisa dilewati. Hari hanya tinggal hitungan jari, jadilah pejuang yang sesungguhnya. Tangguh tak luruh diterjang gemuruh.

Meski mungkin aku terasa jauh, yakinlah kalau aku tetap mengawasimu. Melihat keseluruhan proses pendewasaan yang menempamu. Mendokumentasikan perjalanan yang kerap diwarnai pemberontakanmu tentang semua perasaan bimbang dan ragu. Aku menjadi saksi semua itu meski tak pernah kamu sadari.

Hei kamu…Iyah kamu. Ternyata aku masih menyimpan sedikit rasa itu. Di hatiku.

Selasa, 16 Februari 2010

Ngerjain Tugas

Dapet tugas dari pohon. Sebenernya males ngerjain, tapi berhubung si guwe itu lebah baik hati nan menawan, gue kerjain juga deh. Disela-sela istirahat makan siang, saat mendung menggelantung di ujung pandang (halah, tetep harus pake bahasa lebay!!!)

1. WHERE IS U'R CELL PHONE
Yang pasti harus berada dekat dan mudah dijangkau. Di saku celana, saku kemeja, sebelah laptop. Pokoknya kapanpun telponnya bunyi bisa segera diangkat atau direject!

2. RELATIONSHIP
Sedang menanti jodoh yang dalam perjalanan. Perjalanan dikirim Tuhan maksudnya. Konkritnya sedang berusaha mendapatkan pasangan yang bisa melengkapi gambar hati di dada.

3. U'R HAIR?
pendek dan dari jaman dulu gak berubah style-nya. kalau digondrongin takut jatohnya kayak edi brokoli.

4. WORK?
dikontrak seumur hidup sebagai abdi negara yang menitis pada tubuh peneliti sinting.

5. U'R SISTERS?
satu orang. Adik laki-laki yang dengan tidak sopan lebih pinter, dan jadi dokter. Gara-gara dia lengkaplah penderitaan gue. Menjadi satu-satunya bukan dokter di kelurga.

6. U'R FAVORITE THING
Ngomong. Mulut adalah modal utama, dari sana bisa keluar sesuatu yang berkualitas, doa sampai sampah. dari sana juga gue mendapatkan berlembar-lembar rupiah.

7. U'R DREAM LAST NIGHT
Akhir-akhir ini lagi sering mimpi gak penting yang entah apa maksudnya. Mimpi terakhir tentang menerangkan biosintesis gibberelin di depan audience. Oh no...kenapa mimpinya juga mengenai kerjaan!!!

8. U'R FAVORIT DRINK?
air putih tentu saja. Cemilan sehat, kalau laper, minum aja. kembung-kembung deh!

9. U'R DREAM CAR?
Apapun itu yang penting mobil dengan 2 pintu saja. Tapi bukan mobil bak terbuka.

10. U'R SHOES?
casual, cats, sneaker, pantovel mengkilat.

11. U'R FEARS
Pertama, takut ketika mati tidak dalam keadaan islam yang seutuhnya. Kedua, takut Allah murka dengan segala dosa yang terus dijalani. Ketiga, Takut GENDUT!!!!!!

12. WHAT DO U WANT TO BE IN 10 YEARS?
Kalaupun tidak jadi profesor, cukuplah jadi doktor yang mengajar di universitas ternama di Eropa. Amiiiiiiin.

13. WHO DID U'R HANG OUT WITH LAST WEEK?
sama sekumpulan alat-alat berat di fitness center. Teman-teman yang sungguh inspirasional dalam memahat otot.

14. WHAT ARE U NOT GOOD AT?
nggak pintar menyembunyikan perasaan. kalau udah sebel sama seseorang, nggak bisa ditutup-tutupi. Nggak pintar juga dalam menjaga keimanan serta keislaman. kadang selalu melakukan dosa dengan sadar.

15. ONE OF U'R WISH LIST ITEM?
Seorang anak yang lahir dari hati

16. WHERE U GREW UP?
dari lahir sampai lulus S2 selalu di Bandung. Giliran kerja baru bermigrasi ke ibukota.

17. LAST THING U DID?
makan siang sambil ngerumpi

18. WHAT ARE U WEARING?
pakaian kerja pas badan. Teuteup!!!!

19. U'R COMPUTER?
Laptop acer ajah. Ya lumayanlah, kalau dibawa konferensi atau seminar ke luar negeri nggak malu-maluin amat!

20. U'R PET?
ada 3 kucing persia betina medium dan satu jantan persia pignose. Tiap beranak, anaknya dijual. Lumayan buat tambah-tambah belanja di Top Man ataw Zara.

21. U'R LIFE?
harus terus dijalani walau itu sedang senang maupun sedang susah. kadang hanya itu yang bisa dilakukan. Menjalani. tentu saja dengan ikhtiar dan doa.

22. MISSING?
kamar tidur di rumah dengan segala pernak-pernik dan bau khasnya.

23. WHAT ARE U THINKING RIGHT NOW?
Gimana caranya mendapatkan profesor buat jadi promotor doktor gue. Profesor yang gampang. Gampang ngasih nilai bagus, gampang ngelulusin, dan kalau bisa gampang dipacari. hahaha

24. U'R CAR?
semenjak jadi abdi, mobil ditinggal ngejugruk di bandung. Nggak kuat ngebiayainnya disini. dana serba terbatas.

25. U'R KITCHEN?
pindah-pindah. Kadang di restauran, kafe, bahkan di warteg dan tenda pinggir jalan.

26. U'R FAVORIT COLOR?
merah, hitam dan putih.

27. LAST TIME U LAUGH?
barusan, waktu temen kantor ngomenin status gue di twitter.

28. LAST TIME U CRIED?
kemaren. Ketika ngadu sama Tuhan, kenapa seringkali hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang gue inginkan. Cuman ngadu yah bukan menggugat.

29. LOVE?
Cinta bukan matematika. Jadi nggak perlu menghitung berapa yang sudah gue kasih ke pasangan dan berapa yang pasangan sudah atau harus kasih ke kita. Cinta itu ikhlas.

30. SO WHO WANTS TO SHARE THEIR ONE'S? HOW ABOUT?
mungkin otak encernya lagi beku karena mendung di luar sana. Gag ngerti maksud pertanyaanya.

31. PERSON ELECTED TO THE TAG...
Dapet tugas itu adalah beban, dan sebagai orang baik gue lagi nggak pengen membebani orang lain. maaf buat yang udah bikin peraturan, aturannya gue modifikasi. jangan marah yaa, ingat hidup itu harus ikhlas. hehehe. Piss ah!!!

Minggu, 14 Februari 2010

Kenangan

Barang itu masih terlipat rapi di lemari. Usianya satu tahun tepat hari ini, 14 februari. Mungkin hampir terlupakan kalau saya tidak iseng membongkar dan membereskan barang-barang yang lainnya di sana. Saya kemudian menyadari kalau ternyata saya masih menyimpannya. Barang pemberian seseorang setahun lalu, barang yang katanya refleksi rasa sayang.

Barang itu mengingatkan saya padanya. Tahun lalu saya masih berjalan beriringan dengannya, saling menggenggam tidak hanya tangan tapi juga hati. Saling mempercayai dan mengamini kalau cinta akan membuat kami berlabuh di dermaga yang sama. Melempar jangkar untuk kemudian bersatu meski badai hilir mudik menghadang berkali-kali.

Itu tahun lalu. Tahun ini kami sudah tidak bersama. Kami sudah memutuskan untuk berlayar menggunakan kapal yang berlainan, mencari pemberhentian sendiri-sendiri. Jangkar sudah dinaikkan sehingga angin membawa kami ke arah yang berlawanan. Dia telah menemukan penumpang sementara saya berusaha memilih nahkoda. Seseorang yang akan menuntun saya mengarungi gamang, menunggangi banyak perasaan.

Barang itu saya keluarkan dari tempatnya, hanya ingin mengamati. Menelisik lagi kenangan yang mungkin tersisa disana. Bukan ingin membuka cerita lama, bukan juga ingin hidup di masa lalu. Saya hanya ingin sedikit melihat ke belakang, tersenyum untuk sebuah perjalanan yang pernah saya lalui. Mungkin belajar dari sebuah kesalahan, kealfaan yang harus membuat saya berjuang makin keras untuk terus memperbaiki diri. Untuk saya, bukan untuk siapa-siapa.

Perantaraan barang tersebut, saya tersenyum. Menyadari percintaan bagai remaja yang pernah kami lewati. Melakukan hal-hal bodoh yang tak sesuai dengan umur yang terpampang, memanjakan perasaan dengan permainan yang hanya pantas dilakukan murid taman kanak-kanak. Bersamanya saya seperti anak kecil, tak sabar menanti esok hanya demi sebuah permen yang dijanjikan.

Semua telah usai, dan saya tidak sedih. Masa-masa muram telah berlalu seiring detik yang menjemput hari. Saya sudah kuat, saya sudah siap menerima orang baru. Saya hanya ingin menoleh sejenak untuk kemudian berlari. Bukan lagi berjalan. Meninggalkan apa yang sebetulnya memang telah saya tanggalkan tanpa penyesalan.

Hari ini saya memasukan barang itu kembali ke dalam tempatnya. Barang yang masih tampak baru karena saya baru memakainya sekali. Bukan tidak menghargai pemberian, tapi karena suatu alasan yang membuat saya enggan.

Saya menyimpan kembali barang itu. Sebuah t-shirt bergambar wajah shizuka.

Kamis, 11 Februari 2010

Seseorang

Saya tidak menyangka kalau angin akan menerbangkan saya ke arahnya. Seseorang yang mungkin telah saya tunggu di lorong gelap penantian. Seseorang yang saya harap membawa seberkas cahaya, tidak perlu besar asal berpendar. Dan dengan itu kemudian dia menuntun saya lepas dari ketersesatan, menyelamatkan saya dari buta berkepanjangan.

Mungkin hati saya sudah sedemikian kerontang, gersang dihajar kemarau yang tak berkesudahan. Kemarau yang tetap menghadang walau hujan tengah datang hampir di setiap kesempatan. Rasa yang mengendap kering menyebabkan saya merasa nyaman, enggan beranjak sekedar untuk memapah rintik di halaman.

Kini, ketika dia datang, kemarau seakan lenyap menguap bagai keringat. Diganti segar laksana kuncup yang menitis mekar. Saya merasa hidup, seakan dilahirkan kembali dari rahim cakrawala hati. Dia membawa udara untuk dihela, merangkul matahari guna menyinari. Menggugah perasaan yang sempat mati suri untuk hidup kembali.

Awalnya saya bimbang. Tidak yakin dengan apa yang hati rasakan. Teramat sering saya salah menginderai terang, kerap saya salah mencumbui fatamorgana yang justru membawa saya tidak bisa pulang. Karenanya saya bertahan, tak goyah oleh buai kata yang keluar. Saya tidak ingin gagal karena kecerobohan, saya hanya ingin pulang. Ke peluk hangat pangkuan sayang.

Sekarang, saya yakin kalau dia seseorang. Sosok yang akan saya persilahkan masuk ke dalam. Tidak hanya mengamati tapi boleh juga mengisi. Menambah peralatan yang mungkin masih terasa kurang. Mengganti yang mungkin tidak cocok dengan bentuk dan ruang. Mengarsir dan menandai mana yang boleh diterjang dan mana yang harus ditentang. Saya yakin dia adalah seseorang.

Dalam temaram pendar yang dia hadirkan, saya menemukan lagi siapa saya, siapa dia. Merefleksi bayangan yang terbentuk di dinding. Tidak jelas tapi nyata. Saya berharap semuanya menjadi lebih nampak ketika sudah keluar dari terowongan. Saya senang. Setidaknya saya tidak memapah jejak sendirian, saya bersamanya. Seseorang.

Ketika cahaya semakin benderang, kenapa bayangannya malah memudar. Saya berlari ke tengah lapang, tapi bayangannya terus menciut dimakan terang. Saya berteriak, tapi dia malah menghilang. Saya menangis di batas kesabaran.

Dia memang seseorang. Seseorang yang saya liat dalam impian.

Senin, 08 Februari 2010

Syarat

Akhirnya laki-laki itu nembak juga setelah sekian lama. Setelah sekian puluh hari menggantung tanpa keputusan, setelah ribuan detik terumbar tanpa sarana, tanpa tahu bakal dibawa kemana. Ya, akhirnya kata cinta itu terlontar juga. Sebuah kata yang sudah lama dinanti. Demi sebuah kepastian.

Tapi kenapa setelah kata itu terlontar yang tercipta justru kebimbangan bukan kebahagiaan seperti yang dulu dibayangkan. Kenapa setelah cinta itu diumbar rasanya ingin mundur perlahan. Berusaha membohongi diri dan berharap kalau semua hanya mimpi.

Heyyyyyyyyyyy, jangan berpikir macam-macam dulu. Saya tidak sedang mengumbar cerita tentang saya, tapi tentang sahabat saya. My Grace on Will and Grace, my Kitty Walker on brother and sister. Sahabat perempuan, yang saya kenal ketika awal kuliah. Dulu, lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi angka 10 itu kami lewati dengan selalu berbagi. Tak ada yang dia tidak tahu tentang saya, begitupun dia. Dengannya saya bermetamorfosis menjadi kuat. Bersamanya saya bertransformasi menjadi bijaksana.

Untuk seorang perempuan, umur 28 mungkin menjadi usia penuh kewas-wasan. Apalagi belum menikah, lebih buruk belum memiliki pasangan. Dan sahabat saya ini sedang berdiri di titik itu. Sebetulnya saya juga, tapi saya punya alasan tepat. Karena saya LAKI-LAKI. Percintaan ala drama memang jauh sekali dari dia, kisah penuh liku selalu bersahabat dengan hidupnya. Kadang saya merasa miris melihatnya.

Tapi sekarang akhirnya ada seorang pria yang mengutarakan cintanya kepada dia. Dan seperti biasa dia malah bingung, bimbang dan ragu. Semalam kami ngobrol panjang lebar tentang semua itu, berusaha menemukan titik terang dalam terowongan yang membutakan matanya. Karena ini tentang perasaan, saya lebih menyarankan untuk bertanya pada hatinya. Hanya dia yang paling tahu apa yang dia mau. Saya hanya menempatkan diri sebagai teman bicara, meski dia berharap lebih.

Dia merasa kalau laki-laki itu tidak memenuhi kriteria dasar untuk menjadi pendamping hidupnya. Ya, dia mengharapkan seorang suami bukan lagi pacar. Dan dia ingin laki-laki ini kemudian menjadi pelabuhan terakhirnya. Sudah cukup dia merasakan sakit hati katanya. Kriteria yang dia inginkan ada di dalam diri calon suaminya adalah harus bisa ngaji dan rajin sholat subuh berjamaah di mesjid. Kriteria yang berat. Alasannya, dia ingin suaminya menjadi imam yang akan membawanya ke surga.

Siapa yang tidak ingin ke surga? Siapa yang tidak ingin bersamaan dengan orang yang kita sayangi meniti jalan yang bermuara pada kenikmatan surga? Semua orang ingin seperti itu, tak terkecuali saya. Tapi apakah semua harus diputuskan di awal. Saya hanya bilang bahwa semua kembali lagi ke satu hal. Kompromi. Bagaimana kita menerima pasangan kita apa adanya, tanpa syarat. Soal mengaji, bisa dipelajari. Soal solat berjamaah, bisa diinisiasi. Tapi semua itu bisa dilakukan sambil berjalan, pelan-pelan. Ketika semua diharuskan dari awal maka yang akan didapat hanyalah bimbang.

Tidak bermaksud mengecilkan arti dan kemapuan laki-laki di luaran sana. Tapi hari gini mencari laki-laki yang mau solat subuh berjamaah di mesjid kayaknya susah. Satu diantara seribu. Kecuali nyarinya di lingkungan pesantren atau di sentra-sentra pengajian remaja. Bukan tidak ada, tapi kalau kitanyapun tidak melakukan hal yang sama bagaimana kita bisa tahu ada laki-laki yang juga melakukannya. Mulailah dari diri sendiri, meski buat wanita solat berjamaah itu bukan sesuatu yang wajib.

Sahabatku sayang, saya hanya bisa mendukungmu. Membantu mentasbihkan doa demi kebahagiaan hakikimu. Jangan ragu untuk melangkah dan hidup dengan sesuatu yang kamu yakini, karena percayalah aku akan selalu ada di dekatmu. Menyayangimu tanpa syarat.

Jumat, 05 Februari 2010

EMAK

Wanita itu kini semakin renta. Keriput-keriput usia terlihat jelas menghiasi seluruh permukaan kulitnya. Bukan hanya di wajahnya tapi juga di tangannya. Itu yang jelas teramati. Keriput yang ternyata tidak menghalangi semangatnya untuk tetap bangun pagi dan tersenyum. Keriput yang selalu dia banggakan sebagai saksi dari perjalanan hidupnya yang katanya indah.

Wanita yang kini keriput itu adalah saksi hidup dari perjalanan hidup saya sejak lahir hingga kini. Wanita yang mencurahkan kasih sayangnya lebih daripada kepada anak-anaknya sendiri. Wanita yang pernah saya tuliskan dengan bangga di dalam skripsi dan tesis saya, dan pasti juga pasti di desertasi saya nanti. Sesuatu yang katanya selalu dia doakan, melihat saya merampungkan desertasi.

Saya mengenalnya ketika saya masih belum bisa mengenal sesuatu, saat yang bisa saya lakukan hanya menangis. Dia memang sudah tinggal di rumah saya bahkan ketika saya belum lahir. Dia adalah wanita yang hebat yang ikut membesarkan saya selain Mami dan Papi saya sendiri. Wanita yang kini sudah keriput, tanda usianya yang sudah beranjak senja.

Wanita kuat itu saya kenal dengan sebutan emak. Pengasuh sekaligus pembantu di rumah saya. Sebetulnya saya tidak suka menyebutnya pembantu, karena kehadirannya sudah selayaknya keluarga di hati saya. Wanita yang selalu membela saya, menyayangi tanpa pamrih, bahkan partner saya dalam melakukan banyak hal. Termasuk kebohongan.

Kini, diusianya yang menginjak 58 dia memutuskan untuk pensiun. Sebetulnya sudah dari dulu kami sekeluarga memintanya untuk pensiun saja, tapi dia bergeming untuk tetap tinggal di rumah saya. Katanya berat meninggalkan saya dan adik saya. Memang kami sudah sejak lama tidak membebaninya dengan pekerjaan lagi, dia lebih menjadi pengawas pembatu lain yang ada. Wanita yang kadang jauh lebih galak terhadap pembatu yang lain ketimbang kami.

Emak kini akan pulang. Menghabiskan hari tuanya bersama anak-anak dan cucunya sendiri. Hati saya sedih, karena dia sudah sedemikian lekatnya di hidup saya. Emak, seorang wanita yang sudah berperan sebagai salah satu pahlawan saya. Berkat kasih sayang dia juga saya bisa seperti sekarang ini. Berkat dia juga saya tahu bahwa sayang bisa tumbuh tidak hanya pada anak sendiri, tapi pada orang lain yang dianggap anak.

Emak, terima kasih sudah pernah dan akan selalu hadir dalam hidup saya. Bukan emak saja yang sedih, Apis juga sedih. Pasti rasanya akan aneh ketika pulang ke Bandung dan tidak mendapati emak lagi. Tapi semua memang harus seperti ini, kini saatnya anak cucu emak yang berbakti dengan langsung. Itu yang mereka inginkan. Emak harus bangga dengan keinginan mereka. Apis akan baik-baik saja, dan pasti akan sering nengokin emak di kampung.

Kalau emak sudah nggak ada di rumah, siapa yang mau Apis ribetin buat buka pintu pager kalo Apis pulang dugem? Siapa yang mau bantuin bohong sama Papi kalo Apis pulang kemaleman? Siapa yang mau kerokin Apis kalo misalnya lagi masuk angin? Pokoknya banyak hal yang harus disesuaikan ketika emak sudah nggak ada. Semuanya karena Emak adalah sahabat yang paling pengertian sedunia.

I LOVE YOU EMAK!

Senin, 01 Februari 2010

Raped

Aku bergelung di pojokan kamar. Gigil menggoncangkan seluruh badanku. Bulir-bulir air mata terus keluar, tak bisa tertahankan lagi. Aku merasa kotor, kotor sekali. Berulang-ulang kugosok seluruh permukaan tubuhku, berharap bisa mengikis perasaan kotor yang tertinggal disana. Tapi perasaan itu tetap meraja, kotor.

Aku berlari ke arah kamar mandi, duduk bersimpuh di bawah shower yang kunyalakan dengan kekuatan penuh. Uap air seketika memenuhi ruangan sempit itu, kaca berembun meninggalkan jejak air yang berlarian dari atas ke bawah. Aku semakin menjadi menggosok tubuhku, kurasakan perih tertinggal di setiap bekas gosokannya. Semakin perih aku semakin puas, karena pikirku perih dapat mengelupaskan noda yang tertinggal. Tapi, semua sia-sia. Aku tetap merasa aku kotor.

AKU DIPERKOSA!!

Bagaimana detailnya, aku sedikit lupa. Aku kehilangan potongan-potongan kejadian rinci dari hal yang membuatku merasa kotor. Kalaupun tidak hilang, potongan-potongan itu terserak acak bak puzzle yang terlontar dari alasnya. Berantakan. Semampuku aku tetap mencoba menyusunnya, menguntai potongan demi potongan untuk sebuah gambaran utuh. Kejadian yang kuharap hanya mimpi.

Kecewa-marah-masuk club-minum-berkenalan-mabuk-lupa. Hanya itu yang aku ingat, selebihnya aku benar-benar lupa. Aku tersadar ketika dia sudah berada di atasku, menindih. Keringat meleleh dari hampir seluruh permukaan tubuhnya, membasahi tubuhku. Setengah sadar aku berusaha mengenali wajahnya, kemudian berusaha mengenyahkan tubuhnya dari tubuhku. Sulit. Semakin aku berontak, semakin dia beringas menekan-nekankan tubuhnya. Aku merasakan sakit di bagian bawah sana.

Aku terus berontak, aku terus meronta. Tapi bagai kesetanan dia tidak mengindahkan perlawananku. Dia makin beringas, dia memegangi kedua tanganku. Menekannya dengan teramat keras hingga pergelanganku terasa sakit. Aku memalingkan mukaku ketika dengan liar dia memainkan bibir dan lidahnya disana. Dia tidak menyerah, dia beralih pada leher dan dada. Aku tetap memberinya perlawanan, tapi hasilnya nihil. Tumpuan berat tubuhnya menghimpitku dengan sesak, menyulitkanku untuk bergerak. Sama sekali.

Waktu…bergeraklah bagai kuda pacu
Percepatlah iramamu demi sebuah garis finish
Aku rela kehilangan semua momen yang justru sebelumnya aku impikan
Aku ingin tuntas meski waktu belum purna


Bersamaan dengan lenguhan panjang, dia menekan lebih keras. Cengkraman yang sedari tadi membelenggu, seketika mengendur. Dia labuh dalam tubuhku yang rapuh. Nafasnya masih menderu, detak jantungnya masih amat jelas berdentum di atas dadaku yang sesak. Aku menangis, mengutuki kejadian tadi. Dia seakan tidak peduli, dia bangkit dan berpakaian. Pergi. Meninggalkanku yang masih nyeri. Bukan lagi nyeri di bagian bawah sana, tapi nyeri di bagian hati. Remuk.

Tuhan, inikah jawaban atas gugatanku selama ini? Gugatan atas perasaan yang Engkau ciptakan dalam hatiku. Perasaan yang tidak bisa aku eliminir. Perasaan yang selalu membawaku ke posisi mempertanyakan. Tuhan, beginikah cara-Mu menunjukkan bahwa perasaan itu salah? Beginikah cara-Mu memberiku efek jera. Haruskah Engkau tunjukan dengan cara seekstrim ini? Haruskan Engkau mengirimkan iblis untuk menjawab rasa penasaranku. Aku hanya ingin tahu kenapa Engkau memberiku perasaan menyukai sesama laki-laki?

Aku menangis di hadapannya. Dengan berurai air mata aku menceritakan kejadian semalam kepadanya, sahabat baruku. Seorang gadis yang aku kenal di sebuah LSM HIV AIDS. Entah kenapa sejak awal bertemu, aku langsung jujur padanya. Membuat pengakuan siapa aku sebenarnya, apa yang berkecamuk di dalam kepalaku. Kepadanya, aku bercerita mengenai awal ketertarikanku pada sesama jenis. Kepadanya aku sering mengeluh, mempertanyakan kenapa Tuhan memberiku perasaan seperti ini. Hari ini, dia menjadi orang pertama yang mengetahui kejadian semalam atas tubuhku. Hari ini, dia membantuku menguntai ingatan tentang kejadian yng membuatku merasa kotor. Di rumahnya.

Suara mobil yang masuk pekarangan rumahnya membuatku sedikit panik. Aku tidak ingin orang lain melihatku menangis dan kemudian banyak bertanya. Berlembar-lembar tisu kuambil dan kulapkan di kedua mataku. Aku ingin mengenyahkan air mata itu untuk sementara. Aku ingin bertopeng dalam ketegaran. Mengganti perih dengan senyum di hadapan orang lain. Dia bilang itu ayahnya yang baru pulang kerja.

Ayahnya masuk dan memberi salam. Aku menoleh untuk menjawab salamnya. Tapi tiba-tiba aku merasa langit runtuh menimpa kepalaku, pengap. Semuanya gelap, karena aku serasa dijatuhkan dari langit tanpa tali pengaman. Aku ingat dia, aku ingat. Dia, laki-laki yang sudah menyetubuhiku dengan paksa semalam. Dia laki-laki yang menorehkan pengalaman pertamaku yang harusnya penuh madu. Dia pemerkosa itu, laki-laki yang mungkin dikirim Tuhan untuk menjawab segala kepenasaranku.

Note: ini hanya cerpen, rekaan imaji gila kala hujan turun menyapa malam panjang tak berkesudahan. Sekali lagi, ini hanya CERPEN! :)