Kamis, 31 Desember 2009

Renungan Akhir Tahun

Tuhan memang selalu baik terhadap saya.

Tahun ini akan berakhir dan tidak ada rahmat Tuhan yang saya sangsikan. Semuanya saya syukuri baik yang membuat bahagia maupun yang membuat sedih. Saya sadar, perasaan sedih mungkin karena pemahaman saya terhadap maksud Tuhan yang agak berbeda. Tuhan tahu yang terbaik buat saya, jadi ketika sesuatu yang saya harapkan tidak terkabul dan membuat saya sedih, justru Tuhan sedang menyelamatkan saya. Tidak pernah Tuhan menzhalimi umatnya. Itu yang saya yakini.

Tahun ini saya banyak diberi berkat. Mulai dengan pindah kerja, meskipun untuk itu saya harus rela melepaskan jabatan dan kenyamanan yang saya dapatkan selama ini, tapi saya semakin dekat dengan mimpi saya. Menjadi Doktor. Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan saya ketika semakin mendekati mimpi dan merealisasikan angan. Saya rela menukarkan apapun untuk itu.

Tahun ini juga banyak sahabat-sahabat yang datang menyambangi. Pertemanan yang tidak terduga bisa terjalin sampai seerat ini. Potongan-potongan tulisan dan serakan kata dalam wacana yang akhirnya mempertemukan saya dan mereka. Sahabat-sahabat yang lahir dari sebuah blog yang kemudian tidak hanya bertukar kata tapi terealisasikan dalam dunia nyata sampai saat ini. Sahabat yang dikirim Tuhan untuk kembali membuat saya bahagia dan merasa bahwa saya tidak pernah sendirian dan ditinggalkan.

Sahabat baru juga ternyata lahir dari bukan hanya blog, tapi Tuhan mengirim sebagian dari mereka melalui perantaraan alat-alat berat pembentuk tubuh. Sahabat-sahabat baru yang saya temukan di gym. Sahabat yang kadang (sering) memompakan semangat tidak hanya pada saat latihan tetapi juga di kehidupan-kehidupan di luar itu. Para sahabat yang membuat saya tertawa dengan cara yang berbeda, sahabat yang seringkali membuat saya berpikir, “kok badannya bisa bagus sih?”

Bukan hidup namanya kalau hanya dikasih senyum dan bahagia. Sedih dan air mata jadi paket lengkap dalam hidup. Tahun ini juga saya dianugerahi dua hal tersebut. Saya dikirim tiga orang yang membuat saya mencicip air mata. Mata segaris yang dengan ketegaannya memaksa saya kembali menapak bumi setelah melambungkan saya bukan hanya ke langit ketujuh, tapi ke nirwana. Si cinta sebelah tangan saya, yang kemudian mengajarkan saya untuk TIDAK jatuh cinta lagi pada kekasih orang. Terakhir sahabat baru saya yang seringnya membuat saya terintimidasi oleh perasaan saya sendiri . Tapi berkat semua itu saya mengenal kompromi, mengetahui cara berdamai dengan keadaan, bahkan berdamai dengan diri sendiri.

Di tahun yang baru besok, seperti halnya doa yang terucap ketika saya ulang Tahun kemarin. Saya hanya ingin bahagia. Bahagia dengan cara yang memang telah Tuhan gariskan buat saya. Bahagia yang saya rasakan bahkan ketika banyak hal yang tidak bisa saya raih. Bahagia karena saya yakin saya masih punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya, memiliki keluarga yang selalu mencintai dan mendukung saya, serta para sahabat yang selalu ada buat saya. Maka kebahagiaan saya sudah LEBIH dari cukup!

SELAMAT TAHUN BARU 2010 SEMUANYA!!!

Selasa, 29 Desember 2009

Kado Spesial

On the phone with XX:

XX : happy birthday Apis! I wish you all the best ya..

Me : makasih ya, amiiin. Eh gimana kabar semua keluarga di Surabaya? Sehat-sehat kan?

XX: Alhamdulillah semuanya sehat. Aku sedemikian kangennya sama Surabaya, sampai jarang di rumah lho, jalan-jalan terus.

Me: Pastinya lah, secara kamu juga udah lama gak pulang kan? Batuk kamu udah sembuh?

XX: Batuknya masih nih, tapi udah agak baikkan. Aku seneng disini, nggak sestres di Jakarta.

Me: Dooh segitu cintanya sama Surabaya. Pindah kesana aja!

XX: Eh, sebenernya aku mau ngasih kado sama kamu, tapi berhubung aku cuti sampai tanggal 3 takutnya keburu basi. Aku kasih by telpon aja yah?!


Me: Mana bisa ngasih kado via telpon. Aku gak mau denger kamu nyanyi yah! Hahahaha

XX: Bisa. Makanya dengerin dulu. Aku udah cerita belum kalau aku resign dari kantor lama. Dan mulai tanggal 4 itu aku mulai kerja di kantor yang baru?

Me: Hah? Belum cerita kamu. Tapi masih di Jakarta kan? Terus kadonya bagian mana?
XX: Aku training di Jakarta 2 minggu, abis itu pindah ke cabang BSD.

Me: Hahahaha, ke BSD juga. Kadonya?

XX: Kadonya ya itu. Sekarang aku kerjanya office hour, Monday to Friday. Nggak pake shift.

Me: Pengaruhnya sama aku?

XX: Apis, kemarin kita tinggal di daerah yang sama tapi jadwal kita jarang sekali match karena jadwal kerja yang nggak tentu. Sekarang aku sabtu libur, malem juga available.

Me: terus??

XX: Ya, kita bisa lebih serius aja untuk menjajal segala kemungkinan. Aku tuh serius tahu sama kamu, cuma kemaren jadwal hidup aku tuh ganggu. Kerja di mall, pake shift, kerjaannya numpuk. Ya sekarang memang nggak jadi manajer lagi, tapi aku lebih senang. Kita bisa sering ketemu. Aku memang nggak mau buru-buru, tapi sekarang menginisiasi untuk saling bertukar pemikiran jadi semakin besar kemungkinannya. Itu kado buat kamu!!

Me: Hah?


Saya tiba-tiba melihat ribuan kuncup bunga beraneka warna mekar serentak. Hati saya penuh, entah oleh perasaan apa namanya. Yang pasti saya senang mendapatkan kenyataan kalau dia ternyata memikirkan semuanya.

Dia, seseorang yang saya kenal melalui perantaraan teman. Tinggal sedaerah dengan tempat saya tinggal sekarang, ternyata memberi kado paling istimewa di umur saya yang ke-28. Memang seperti yang dia bilang, saya maupun dia tidak mau terburu-buru untuk memulai segalanya. Kita hanya sedang berusaha menginisiasi dan menjajal semua kemungkinan yang terpampang di depan. Bertukar pemikiran sekedar untuk mengetahui seberapa cocok kami berdua dalam memandang sesuatu.

Dia, dengan kebiasaan merokoknya yang pernah membuat saya mengkhawatirkannya teramat sangat ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mengubah kenyamanan hidupnya hanya untuk mengambil resiko melihat persepsi saya dan menjajal kemungkinan untuk menyatukan hati saya dan hatinya dia. Saya tahu, mungkin saya bukan alasan satu-satunya atau bahkan bukan alasan utamanya untuk mengganti haluan karirnya. Banyak yang ada di dalam kepalanya, saya tidak tahu. Yang pasti ketika saya dijadikan salah satu alasan minornya, saya bisa apa kecuali mensyukurinya.

Dear You, terima kasih di hari ulang tahun saya kamu memberi sesuatu yang nggak pernah saya pikirkan sama sekali. Sesuatu yang tidak bisa ditakar dengan uang sekalipun. Saya siap untuk saling bertukar pandangan, mengawal rasa yang ada untuk terejawantahkan menjadi apa akhirnya saya tidak tahu. Yang pasti saya akan sangat senang menjalani semuanya. Saya berharap, kamu adalah jawaban atas doa-doa saya selama ini.

Minggu, 27 Desember 2009

28 on 27

27 on 27. Qiu Qiu. Saya pernah berharap bahwa pada angka itu saya akan mengalami titik balik. Titik dimana saya mengakhiri petualangan di dunia semu, menamatkan perjalanan saya pada titian warna kelabu. Ternyata saya masih sebegitu betahnya dalam kesemuan itu, masih sebegitu nyamannya diayun ambingkan belenggu kelabu. Sampai hari ini, 28 on 27.

Saat ribuan detik bergerak menuju pergantian waktu. Saat ribuan panah terlontar tanpa sarana. Saya duduk dalam kesederhanaan. Menikmati kesenyapan malam untuk sekedar menapaki hening. Berusaha mentafakuri segala yang pernah menimpa selama bertahun-tahun kebelakang. Hari ini saya diberi kenikmatan lebih oleh Tuhan. Menjejak usia 28.

Saya tidak muda lagi, saya tahu. Saya sudah harus bersikap dewasa, dari beberapa tahun yang lalu seharusnya. Saya harus lebih memikirkan jalan kedepannya akan seperti apa. Kadang jalan sudah terbentang menantang, maka saya tahu yang saya harus lakukan hanyalah berusaha menjalaninya dengan baik. Tanpa pemberontakan yang justru akan membuat jalannya jadi bergelombang.

Malam ini, tak lagi ada pesta. Tak ada lagi perayaan dengan menghentak lantai dansa. Tak ada lagi berhura-hura. Saya hanya duduk sendiri, menatap redup lilin yang saya letakan di atas kue tart pemberian seorang karib. Saya merenung tentang semuanya, saya berdoa akan banyak harap. Semuanya saya lakukan dalam perasaan indah. Penuh kepasrahan.

Saya Apis, malam ini melontarkan ribuan ucap syukur atas umur yang Tuhan telah beri. Menguntai ribuan doa demi keinginan yang ingin terkabulkan. Tak lupa dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga, teman, sahabat, kolega atas berbagai pengalaman, doa, kesenangan dan kesedihan yang telah diberikan selama ini. Saya sadar tanpa kalian semua, Apis tidak akan sekuat ini. Ijinkan saya lebur dalam syukur karena dianugerahi kalian semua. Sesuatu yang tidak akan saya sesali sampai mati.

Hari ini saat saya berada di titik 28 on 27. Saya hanya bisa berharap dapat mengalami transformasi lanjut menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sekarang. Berubah menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah Engkau tentukan.

Selasa, 22 Desember 2009

Untuk Mami

Namanya Ika. Umurnya 50 tahun. Dia lahir dari ayah yang asli Bandung dan ibu yang peranakan Tionghoa. Sedari kecil katanya dia dididik untuk bekerja keras dan percaya akan kekuatan doa. Berkat doa itu pulalah katanya dia juga mampu tidak hanya mengenyam mimpi tapi mewujudkannya menjadi jalan hidup. Sampai sekarang.

Ketika umurnya belum genap 22 bahkan saat gelar yang dibanggakannya belum berhasil dia raih, dia mengambil langkah paling berani sepanjang hidupnya. Dia menerima ajakan menikah dari kakak kelasnya jaman SD yang ternyata juga seniornya waktu di universitas. Dia menikah dengan laki-laki yang baru saja memulai kehidupannya, laki-laki yang juga punya cita-cita sama luhurnya dengan dia. Bahagia, hanya itu yang ada dalam pikirannya waktu itu.

Dari pernikahan itu dan dari rahimnya yang agung kemudian lahirlah apisindica dan apisdorsata. Saya dan adik saya. Dia kemudian tidak hanya menjelma menjadi seorang ibu yang hebat tetapi menjadi wanita tangguh. Wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk ratusan pasien dan kami berdua anaknya. Wanita yang sedemikian rela dibebani oleh ocehan kami sampai saat ini, bahkan menjadi wanita yang sedemikian cekatan membagi waktunya dan seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan saya dan adik saya.

Saya memanggilnya Mami.

Mami, di hari ibu ini saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tercurah tiada henti dari saya lahir sampai sekarang. Saya tahu Mami merasa itu sudah kewajiban Mami, tapi di mata saya itu merupakan pengabdian akan tujuan hidup yang selalu Mami dengung-dengungkan. Saya belajar dari semua itu Mi, mencoba menjalani jalan hidup dengan satu tujuan. Membagi kasih.

Saya tahu, saya belum bisa membahagiakan Mami menurut versi saya maupun versi Mami. Tapi ketika Mami bilang, kalau saya hidup dengan benar, tidak pernah menyakiti orang, dan selalu percaya akan Tuhan, Mami sudah cukup bahagia. Karenanya saya mencoba untuk berlaku seperti itu walau kadang ternyata sulit sekali menjalankannya. Saya berusaha Mi, tidak lain hanya ingin membuat Mami bahagia. Karena hanya itu satu-satunya yang saya ingin wujudkan selama saya hidup. Melihat Mami bahagia.

Saya juga meminta maaf kalau masih ada kelakuan yang ternyata tidak Mami harapkan. Saya sadar, diucapkan atau tidak, Mami tahu banyak tentang saya. Banyak yang ternyata diluar kuasa saya. Seandainya saya bisa memilih kemana angin akan menerbangkan saya, tentu saya akan memilih untuk selalu berada di kisaran yang Mami harapkan. Sayang, angin kadang tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa diajak berkontemplasi. Tetapi saya tetap berusaha Mi, percayalah.

Di hari ibu ini, ingin rasanya pulang ke rumah sekedar untuk membasuh kaki Mami dan kemudian meminta doa serta maaf di pangkuan Mami seperti dulu. Saat kenyataan hidup yang menghampiri tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mami adalah kekuatan saya untuk tetap bertahan, tetap berjuang karena tujuan hidup saya adalah melihat Mami bahagia dan bangga.

Mom, there are so many things that I like in this world, such as studying, going out, games. But the best of all the things that I like is having a great mother like you. Thanks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.

HAPPY MOTHERS DAY MOM!!!! I LOVE YOU SO MUCH!

Minggu, 20 Desember 2009

Flirting dan Kebodohan

Scene 1. Lokasi : Locker room
Saya baru selesai latihan dada dan lengan selama 2 jam dan dilanjut ikut kelas body combat. Masuk locker room buat siap-siap mandi. Kaos dibuka karena sudah sangat basah, tapi nggak langsung mandi karena lebih tertarik buat balesin pesan-pesan di BB.

Terpisah beberapa loker ada seseorang yang sedari tadi curi-curi pandang. Anehnya ketika saya memergokinya, dia tidak lantas mengalihkan pandangannya. Seulas senyum tipis malah disunggingkan di bibirnya. Radar saya seketika bukan hanya berbunyi, tapi berteriak-teriak. Confirmed!

Adegan curi-curi pandang – Kepergok – Senyum, terjadi berulang kali. Saya juga jadinya senyum-senyum sendiri. Lucu. Tapi saya masih asyik dengan BB saya, dan tentu saja mengupdate status tentang kejadian curi-curi pandang itu. Teuteup.

Dia berjalan melewati saya sambil melirik. Saya diam saja dan tetap asyik bermain dengan BB.

Scene 2. Lokasi : Sauana room
Saya tidak menyangka kalau ternyata dia ada di dalam sauna. Saat itu di sauna hanya ada saya, dia dan satu koko berperut buncit yang kemudian mempertanyakan kenapa saya masih masuk sauna padahal katanya badan saya terlihat tidak berlemak. Koko yang kemudian dengan sok fasih menjelaskan mengenai kandungan lemak dalam tubuh, manfaatnya serta kemutlakan dia ada di dalam sel. Saya mendengus dan lebih memilih untuk menunduk. Dia tidak tahu saya mendapatkan mata kuliah tentang itu bersemester-semester waktu jaman muda.

Koko itu kemudian keluar duluan meninggalkan saya dengan si curi-curi pandang yang sedari tadi ketika koko itu berkhotbah dapat saya rasakan kerap kali menatap saya. Ketika sudah berdua saya lebih berani untuk sekedar bertanya basa-basi mengenai ini dan itu. Tentu saja diakhiri dengan saya yang mengulurkan tangan dan mengucapkan nama. Dia juga mengucapkan namanya.

Saya keluar sauna duluan dan meninggalkan dia yang ternyata lebih banyak diam. Dia lebih berani untuk menatap ketimbang ngobrol.

Scene 3. Lokasi: shower room
Sesaat sebelum masuk ke ruang bilas untuk mandi, saya melirik ke arah ruang sauna. Dengan jelas saya bisa melihat kalau dia menengokan kepalanya dan lagi-lagi tersenyum. Saya diam dan masuk ke ruang shower. Mandi.

Keluar shower, saya mendapati ruang shower yang tepat berhadapan dengan saya gordennya sedikit terbuka. Ketika saya melewatinya, saya melihat si curi-curi pandang itu lagi-lagi menatap saya. My gosh, sebegitu niatkahnya dia melihat saya. Saya pura-pura cuek dan kembali ke locker room untuk berpakaian.

Scene 4. Lokasi: di depan fitness centre
Saya memang keluar gym duluan. Saya meninggalkannya yang masih asik berpakaian, saya terlalu cape untuk sekedar berbasa-basi lagi. Dia terlalu banyak diam sehingga komunikasi hanya berjalan satu arah. Bikin saya hanya semakin cape.

Saya menerima telpon dari seorang teman yang membuat saya kemudian berdiri agak lama di depan fitness centre tersebut. Saya melihat dia keluar dan sesekali menatap saya yang sedang menelpon. Dia turun menggunakan eskalator sementara saya setelah selesai menelpon turun menggunakan lift.

Saya pikir ceritanya akan sampai disini. Tidak lebih. Paling nanti ketemu lagi kalau memang jadwal gymnya kebetulan bareng. Nggak tahu kapan.

Scene 5. Lokasi : Depan Mall
Saya keluar parkiran dan melihat dia sedang berjalan. Ternyata dia tidak membawa kendaraan. Entah kekuatan dari mana, yang biasanya pasti bukan saya banget, saya meminggirkan kendaraan saya ke arahnya dan kemudian terjadilah sedikit percakapan yang lagi-lagi saya merasa kok bukan saya banget. Saya merasa dapat kekuatan baru yang selama ini tidak pernah saya lakukan. Ya mungkin selama ini saya terlalu penakut.
Saya: “Pulang ke daerah mana?”
Dia: “Deket kok, di belakang mall ini”
Saya : “Mau saya antar!”
Dia: “Gak usah, takut merepotkan”
Saya: “Gak apa-apa. Saya nggak begitu tahu jalan tapi asal kamu tunjukin pasti nyampe. Yuk naik!”

Saya tidak menyangka responnya bagus. Dia naik ke kendaraan saya. Dalam kendaraan kami hanya terlibat obrolan yang juga masih terkesan basa-basi. Dia lebih banyak diam sambil menunjukan arah, sementara saya konsentrasi memegang kemudi. Saya tahu dari ujung mata kalau dalam diamnya dia sering kali memandang saya.

Scene 6. Lokasi : Depan rumah dia.
Dia: “itu di depan rumah saya”. Saya kemudian menghentikan kendaraanya tepat di depan rumah dia. “Makasih ya udah mau nganterin. Mau mampir?”.
Saya : “Nggak usah, udah malem. Makasih” Dia kemudian turun dan berjalan ke depan pagar rumahnya setelah sebelumnya menepuk bahu saya.
Dia : “Tahu jalan pulang kan?”
Saya: “mudah-mudahan” kata saya sambil memutarkan kendaraan. Dia kemudian melambaikan tangannya.

Scene 7. Lokasi : Di jalan pulang.
Saya memaki diri sendiri. Bodoh!!!!!! Kenapa nggak berani minta nomer handphonenya! Menawarkan untuk mengantarkan dia pulang berani, kenapa minta nomer telponnya jadi gak berani. BODOH!!! Sebenarnya tadi pertanyaan itu sudah ada di ujung bibir tapi entah kenapa tiba-tiba hati saya menciut.

Kalau terbiasa nyaman dengan ketidakberanian seperti ini, sampai kapanpun akan selalu seperti itu. Itulah mengapa tadi saya bilang bukan saya banget. Panggil saya Bodoh atau Pengecut kemudian.

Kamis, 17 Desember 2009

Agresifkah saya?

“Ternyata kamu itu agresif juga ya?” Seorang teman yang sedang melanglang buana di belahan benua lain ngomong di salah satu kesempatan waktu kita chat. “Tadinya saya pikir kalau kamu itu pemalu”

“Hah??? Mana ada saya agresif. Kayaknya kamu udah kenal saya juga lumayan lama, selama itu apakah saya pernah terlihat agresif? Ya memang sih saya nggak pasif, mulut juga nyablak tapi ketika berbicara soal perasaan, tentang hati, saya berubah menjadi super pemalu. Nggak percaya diri maksudnya”

“Tapi kayaknya belakangan ini kamu berubah deh. Kemaren saya ngobrol sama si X (menyebutkan salah satu nama seorag sahabat) dan ngebahas soal postingan terakhir kamu tentang si Pualam itu. Kamu terlihat sangat agresif” Mereka berdua memang kenal siapa itu Pualam, bahkan sahabatan.

“Hah??? Terlihat sangat agresif di postingan itu? Di bagian mananya saya terlihat agresif?” Saya berulang kali membaca postingan itu. LAGI. Berusaha menganalisis di bagian mana saya terlihat “seperti” tampak agresif mengejar-ngejar si Pualam itu. Dan saya tidak mendapatkan apa-apa.

Saya kemudian menelaah waktu kebelakang, berusaha mencari pemicu sampai dua orang sahabat saya itu menilai kalau saya agresif. Memang menjadi agresif juga tidak salah, tidak dosa. Saya hanya ingin tahu, bagian mana yang membuat saya terlihat agresif. Bukan hanya di blog saya menelisik tapi juga di serpihan-serpihan waktu lain yang melingkarkan saya, si Pualam dan kedua sahabat saya itu.

Saya teringat dengan facebook. Memang dua hari belakangan ini saya menulis status tentang bagaimana saya mengirim SMS pada seseorang dan tidak pernah dibalas. Tanpa menyebut nama si Pualam tentu saja. Tak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin tahu opini orang apabila berada di posisi yang sama dengan saya, secara saya memang pada dasarnya selalu ingin tahu. Dan itu nggak ada maksud lebih, nggak bermaksud menggugat secara tidak langsung tentang kelakuan si Pualam, toh saya sudah berkompromi dengan kelakuannya itu. Apa itu membuat saya terlihat agresif?

Ketika saya mengirim sms pada si pualam kemudian tidak dibalas, dan saya MASIH tetap mengirim sms mungkin ini yang membuat saya terlihat agresif, terlihat maksa. Kalau ingat hal ini kadang saya tersenyum geli. Merasa bodoh. Tapi, tujuan saya terus mengirimnya sms padahal saya juga tahu kalau tidak akan pernah dibalas, saya hanya ingin tahu sejauh atau selama apa dia mau bertahan. Masa sih hatinya tidak tergerak sedikitpun, meski kembali saya tahu kalau dia pasti akan kuat bertahan. Saya hanya berdiri di atas keyakinan saya. Orang bisa berubah. Orang bisa melunak, meski entah kapan.

Apa saya terlihat agresif ketika saya sering mengajak jalan si Pualam kemudian mengenalkannya pada teman-teman saya? Tidak ada maksud apa-apa. Tidak bermaksud juga untuk memamerkan kalau saya punya gandengan, meski ada teman yang bisik-bisik dan menebak kalau kami pacaran. Bukan, tidak seperti itu. Saya dan dia sekarang sahabatan, tidak ada perasaan-perasaan lain yang justru akan membuat semuanya semakin ribet. Saya hanya membiarkan semuanya mengalir. Membiarkan berjalan natural seperti sekarang ini.

Mengajaknya jalan kemudian mengenalkannya dengan banyak teman hanya ingin memberinya wawasan baru, sedikit menambah cara pandangnya dalam melihat sesuatu. Saya tahu Pualam juga temannya banyak,wawasannya juga luas, tapi siapa tahu berkenalan dengan teman saya justru bisa memperkaya isi otaknya dengan hal-hal baru. Dan apa itu kemudian dikatagorikan agresif?

Ya sudahlah disebut agresif juga nggak apa-apa, karena bukan hal yang memalukan juga. Tapi karena si pualam suka membaca blog ini, saya jadinya nggak enak sama dia. Perantaraan tulisan ini kemudian saya meminta maaf kalau misalnya ternyata si Pualam merasakan hal yang sama kalau saya agresif dan agak menggangu. Tidak ada maksud lain, saya hanya sedang memaknai jalan yang Tuhan sedang kasih untuk saya lewati.

Jumat, 11 Desember 2009

Pualam

Saya yakin semua orang tahu mengenai hikayat jin dalam botol. Jin yang akan mengabulkan 3 permintaan kita ketika jin itu kita lepaskan dengan cara menggosok-gosok botolnya. Tapi pernahkan bertemu dengan orang yang menggunakan analogi jin dalam botol melalui cara yang berlawanan? Maksudnya orang tersebut tidak akan menjawab tiga pertanyaan yang kita ajukan terhadap dia pada saat pertama kali berkenalan? Saya pernah.

Pernahkah bertemu dengan orang yang tidak mau memberikan nomer telpon dengan alasan bahwa kita sudah sering ngobrol di YM atau Gtalk, bahkan online 24 jam selama 7 hari sehingga tidak butuh nomer telpon? Saya pernah.

Pernahkah bertemu dengan orang yang mengeset handphonenya sehingga ketika kita menelpon HP-nya tidak berbunyi sama sekali hanya karena alasan kita mendapatkan nomernya dari mbah Google di internet? Saya pernah. Padahal saya bertanya pada Mbah google juga karena saya tidak diberi meskipun meminta dengan cara yang sangat baik-baik.

Pernahkan mengirim sms kepada seseorang, tapi tidak pernah dibalas dengan alasan tidak ada sms yang masuk padahal notifikasi di HP kita menunjukan pesannya terkirim? Saya pernah. Padahal saya mengirim sms juga karena untuk membangunkannya yang itupun dia minta sebelum saya tidur. Ya mungkin saya yang salah mengenai ini, dia minta dibangunkan via Gtalk dan saya malah melalui SMS.

Pernahkah makan bersama dengan seseorang dan duduk berdampingan tetapi dia sangat menjaga jarak sampai saya takut dia akan jatuh? Saya pernah.

Pernahkah mengajukan pertanyaan kepada seseorang dan orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sangat di luar perkiraan? Saya pernah. Saya pernah bertanya kepada seseorang , kebahagiaan apa yang akan sedikit dikorbankan atau ditukarkan dengan sebuah hubungan? Dia menjawab dia akan menukarkan sedikit kebahagiaannya berupa kegemarannya makan di Burger King, Makan Indomie rebus dan makan gorengan pedas selama setahun. Tidak salah memang, itu kebahagiaanya. Saya hanya takjub dibuatnya.

Pernahkah diberi pertanyaan oleh seseorang dan tidak boleh mempertanyakan hal yang sama terhadap orang tersebut? Saya pernah. Dia bilang, begitulah aturannya kalau ngobrol dengan dia.

Saya pernah mengalami kejadian-kejadian di atas. Dan saya mengalami semuanya dengan orang yang sama. Ya, satu orang. Satu orang yang hidup dengan beragam aturan, satu orang yang kadang membuat saya berpikir panjang tentang sikapnya itu. Berusaha memahami setiap alasan yang dia berikan ketika saya mempertanyakan. Seseorang yang membuat saya kadang tersenyum sendiri karena merasa konyol, bahkan ketika merasa kesal. Dia sukses membuat saya tersenyum atas sesuatu yang menurut saya aneh.

Karena semua sikapnya itu saya kemudian memanggilnya PUALAM. Pengandaian atas semua sikap dinginnya. Saya tahu dia tidak suka dipanggil dengan pualam, makanya saya semakin menjadi-jadi memanggilnya begitu.

Tapi belakangan ini sang pualam mulai menghangat. Buktinya dia yang selalu menemani saya menghabiskan waktu menunggu kereta terakhir sementara teman-teman yang lain telah beranjak duluan dengan berbagai alasan. Dia mau menemani saya berjalan dari GI sampai stasiun Sudirman padahal saya tahu dia kepanasan dan sudah lelah. Saya senang dia mulai menghangat meskipun tetap tidak mau mengangkat telpon dan membalas sms saya. Tapi ya sudahlah, hak dia juga.

Pualam, entah kenapa kamu bersikap seperti itu. Tidak perlu dijawab karena saya yakin kamu juga tidak akan pernah mau menjawabnya seperti biasa. Mungkin kamu belum bisa mempercayai saya, ada bagain dalam diri kamu yang merasa tidak nyaman atau malah tidak aman. Saya tidak tahu. Tapi kapanpun kamu mau berbagi, mau berbicara tentang apapun, kamu tahu kalau saya selalu ada disini. Di Gtalk!!!! ;)

Rabu, 09 Desember 2009

Ketika Hujan Tiba

Desember sudah datang, ditandai dengan seringnya hujan yang turun mencumbu genting rumah. Hawa dingin diiringi angin yang kadang mengigilkan sudah terasa di awal desember . Desember, saya selalu menyukai bulan ini. Kesannya romantis. Geliat romansa yang selalu memberi semangat untuk setidaknya meniupkan harapan baru. Harapan tentang banyak hal. Tentang cinta, tentang hidup, tentang kebahagiaan. Saya suka desember walaupun menurut sebagian orang desember itu kelabu.

Ketika saya menulis postingan saya yang sebelumnya “tentang rokok dan cemburu” saat itu sedang hujan. Hujan bulan desember, dan saya sangat antusias. Bukan antusias karena saya “terlihat” seperti sedang memamerkan sesuatu, berusaha membewarakan kalau saya sedang dekat dengen seseorang. Bukan itu. Saya antusias karena saya menyukai hujan, tarian hujan tepatnya. Hujan selalu membawa saya ke dimensi yang berbeda, melambungkan saya ke tengah derai yang menyejukan dan membuat basah.

Memang desember ini, ketika hujan tercurah sesering matahari menyapa semesta, saya banyak mendapat ‘hadiah’. Mungkin berkah dari hujan yang tercurah itu. Banyak harapan yang tiba-tiba menyelusup kedalam selimut malam saya melalui perantaraan mimpi. Anehnya ketika saya terbangun, saya hidup dengan mimpi itu. Mimpi yang membuat saya kemudian harus memilah-milahnya untuk memisahkan mana yang bisa saya kecap dan mana yang harus saya kembalikan ke dunia asalanya. Dunia mimpi, dunia yang tidak bisa direalisasi.

Kadang hadiah atau paket atau apapun itu kemudian saya menyebutnya, baru berani saya telisik dari berbagai sisi. Paling jauh saya hanya menimangnya, belum berani saya buka. Mungkin saya terlalu pengecut, tapi bayang ketakutan untuk sekedar membukanya seperti menghantui langkah saya. Kerap kali saya justru menghadapi kenyataan bahwa saya ternyata membuka kotak Pandora, masalah yang tidak kunjung berakhir setelah saya membukanya. Ujung-ujungnya saya merasa tidak bahagia dan putus asa. Karenanya sekarang saya lebih berhati-hati, sekedar menjaga perasaan saya sendiri. Saya sekarang lebih memilih menyimpan hadiah atau paketnya tetap di depan pintu. Belum saya pungut masuk.

Seperti seseorang yang saya gambarkan dengan kebiasaanya merokok, saya masih memperlakukannya seperti hadiah yang masih dalam kotak meskipun untuk yang ini saya sudah menimangnya dan membawanya hilir mudik kemana-mana. Di luar kamar. Saya mencoba lebih berdamai, lebih berani, karena saya tahu ketika itu tidak saya lakukan maka saya justru tidak akan mengetahui apa-apa. Yang saya dapatkan hanyalah kosong nantinya. Makanya saya lebih berani. Memungut, menimang, membawanya berjalan, melewati hujan, berteduh menunggu reda, menyentuh semua bagian kotaknya, dan akhirnya tetap saya letakan di luar kamar.

Boleh bilang saya naïf atau munafik. Tapi ketika pengalaman mengajarkan saya sesuatu, maka saya harus lebih bijaksana dalam memaknai proses pembelajarannya itu. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil langkah yang akan saya ambil atau tidak sembrono dalam memilih pijakan yang akan saya titi adalah hal yang banyak diajarkan oleh pengalaman. Pengalaman yang saya maknai kali ini bersama hujan di bulan desember, yang kadang kehadirannya mendahului pagi.

Kalau saya boleh berdoa, saya hanya minta kali ini saya diberi kesabaran yang agak lebih. Saya tidak ingin tergesa-gesa membuka hadiahnya untuk menjejalkannya kedalam kompartemen hati saya, meskipun saya sudah merasakan kekosongan yang teramat sangat. Saya hanya ingin merasakannya tepat terlebih dahulu. Tepat dalam artian bahwa dia memang seseorang yang saya cari selama ini. Entah kedepannya akan seperti apa, tapi setidaknya bukan hubungan sesaat yang ketika berakhir saya seperti dipaksa bangun tiba-tiba dari tidur nyenyak saya ketika hujan.

Hujan di desember ini, saya menemukan seseorang yang sedang saya pelajari perspektifnya dalam menjalani hidup. Seseorang yang saya akan ajak mengarungi banyak pergulatan pemikiran sebelum saya mengambil dari kotaknya dan meletakannya tidak lagi di depan pintu. Tapi akan saya bawa masuk, agar dia terhindar dari hujan. Bersama hati saya.

Senin, 07 Desember 2009

Tentang Rokok dan Cemburu

Dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak merasa keberatan dengan kebiasaanmu merokok. Aku mengerti kalau jauh sebelum kamu mengenalku, kamu sudah memulainya. Jadi sekali lagi aku bilang kalau aku tidak akan pernah melarangmu untuk merokok. Aku tidak punya hak lebih juga untuk itu, aku hanya berstatus seseorang yang sedang dekat. Hanya itu.

Aku bukan hanya tidak akan melarangmu merokok, aku juga mau berkompromi dengan kebiasaanmu itu. Kamu ingat betapa seringnya aku ngomel karena kepanasan di dalam mobil hanya karena kamu membuka jendela dan mematikan AC. Hanya untuk merokok. Aku hanya ngomel, tapi tidak lantas memintamu berhenti. Kenapa? Karena aku mengenalmu sudah satu paket, dan aku mau menerima paket itu. Lengkap.

Tapi ketika kemarin kita ngobrol panjang di salah satu gerai kopi, ngobrol tentang segala hal yang tidak melulu soal hati. Ketika cuaca sangat bersahabat karena tidak mencurahkan hujan dan angin yang selalu berhembus sehingga kita memilih duduk di luar beratapkan pekat, aku baru sadar kalau kamu bisa merokok sebanyak itu. Rasanya tak henti-hentinya kamu membakar dan mengisapnya kemudian menjatuhkan abunya ke dalam asbak. Berulang-ulang seperti itu meski topik yang kita bicarakan selalu berubah-ubah.

Aku mulai khawatir. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu. Aku tahu, mungkin kamu sudah sangat tidak peduli dengan itu, dengan kesehatanmu. Karena seperti kamu sering bilang dalam argumenmu, kalau kamu imbangi kebiasaanmu itu dengan olah raga. Aku juga tahu, sesering apa kamu mendatangi fitness centre untuk membentuk tubuhmu atau menurut alasanmu untuk mengimbangi kebiasaanmu merokok. Tapi semuanya tidak bekerja seperti itu, tidak lantas racun-racun rokok itu menghilang karena kamu berolah raga seperti orang gila. Aku hanya khawatir.

Cemburu. Kamu juga sering bilang kalau aku hanya cemburu. Bukan cemburu karena aku tidak merokok, karena aku memang tidak ingin. Tapi menurutmu aku cemburu terhadap rokok-rokok itu karena kamu pikir aku selalu complain tentang tidak didengarkan ketika ngobrol dengan kamu hanya karena kamu yang sedang merokok. Bukan begitu, tapi kadang kamu memang seperti terisolir dengan asap-asap itu ketimbang mendengarkan aku ngomong. Tapi balik lagi ke paket tadi. Aku mengenalmu ketika paket lengkapnya sudah terbungkus, jadi tidak ada gunanya untuk banyak protes.

Aku hanya minta cobalah dikurangi sedikit demi sedikit. Kalau tidak bisa diberhentikan, ya dikurangi. Tapi jangan karena aku karena seperti sering aku bilang langsung padamu, aku tidak keberatan tentang kebiasaanmu itu. Aku hanya ingin kamu lebih memikirkan kesehatanmu di masa yang akan datang. Siapa tahu kita ada jalan untuk terus beriringan, dan aku tidak mau melihatmu sakit-sakitan karena dampak jangka panjang dari kebiasaanmu itu.

Aku hanya berusaha peduli, tidak cemburu seperti yang kamu pikir.

Rabu, 02 Desember 2009

He's Getting Married

Pagi belum juga berdiri dengan sempurna ketika Mami membangunkan saya hari itu. Rumput di halaman mungkin baru saja purna melakukan gutasi, tapi goncangan di badan saya mau tidak mau memaksa saya untuk membuka mata. Berat. Apalagi saya baru saja terlelap sesaat, kehidupan malam bersama teman-teman jaman kuliah selesai dikecap ketika jarum jam sudah sangat condong ke arah kanan.

“Papi, ngajak nyari sarapan tuh. Ayo bangun!”

“Harus yah Mi? Aku masih ngantuk, lagian belom laper juga. Aku ngak ikut aja ya!” Setengah sadar saya bergumam.

“Eh, ayo bangun! Kasian Papi, udah lama nggak jalan bareng sama kamu kan? Sekali-kali sarapan di luar bareng kayak dulu”

“Tapi aku nggak mau nyetir yah! Ngantuk” saya merajuk manja.

Saya duduk di belakang, sementara Mami dan Papi di depan. Saya teringat jaman dulu, ketika saya masih kecil. Apis kecil senang sekali melihat-lihat dari balik jendela mobil sambil bertanya apa ini dan apa itu, berceloteh tentang hampir semua yang dilihatnya. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang di luaran.

Pagi itu saya juga melakukan hal yang sama. Menatap ke luar jendela, mengamati kesibukan orang di luar. Bedanya saya tidak lagi mengeluarkan komentar melalui lisan, meskipun hati saya sibuk berbicara ini dan itu, pikiran saya menganalisis bagaimana dan apabila. Saya sangat suka menatap keluar jendela, apalagi ketika hujan baru saja reda dan meninggalkan jejak basah. Rasanya nyaman.

“Gimana kehidupan cinta kamu? Lagi dekat dengan siapa sekarang?” Pertanyaan Papi seketika membuyarkan lamunan saya. Merenggut paksa imagi yang sedari tadi berputar-putar di dalam kepala. Tiba-tiba saya menjadi sangat tidak berminat pada semesta, rasanya ingin menghilang atau menghindar. Pertanyaan yang lagi-lagi merusak bagain kokhlea telinga saya. Mengiritasi. Saya tidak suka pertanyaan tentang itu, dan Papi tahu. Tapi kenapa pagi ini tiba-tiba Papi mempertanyakannya lagi.

“Papi tahu kamu tidak pernah sendirian, Papi juga tahu kalau kamu bahagia dengan status kamu yang sekarang, entah itu punya pacar atau nggak. Papi tahu prioritas kamu, dan buat Papi itu nggak masalah. Maksud Papi, karena kamu selalu bilang ingin mengambil S3 dulu dan baru menata hidup sambil jalan sekolah, yang artinya juga masih agak lama. Kamu keberatan nggak kalau misalnya si Embrot nikah duluan?”

“Hah? Tapi nggak berarti kalau pacarnya si Embrot itu hamil duluan kan?” Pertanyaan bodoh memang. Tapi terlontar secara spontan begitu saja. Reaksi dari sedikit keterkejutan, yang mungkin dirasa berlebihan.

“Ya nggak lah! Kamu ini kalau ngomong kok sembarangan” Mami menimpali. “Kalau kamu setuju, mungkin lamarannya awal tahun depan dan nikahannya bisa jadi tengah atau akhir tahun”

“Ya apa urusannya aku pake nggak setuju segala. Aku malah senang banget, ada yang bisa ngasih Mami sama Papi cucu lebih cepat. Beban aku sedikit berkurang” Saya tertawa ditengah perasaan lega, lucu,dan senang. Saya kemudian mengalihkan pandangan lagi ke luar jendela. Orang-orang masih sibuk lalu-lalang, basah hujan masih menyisakan tapak di jalanan.

Si Embrot, yang sekarang sudah tidak Embrot lagi, yang malah dengan nggak sopan badannya “jadi” dan lebih bagus dari saya, mengambil langkah yang jauh lebih berani. Berniat menyelesaikan masa lajangnya ketika usianya belum juga genap 23. Keputusan yang sangat berani, dan pastinya tidak diputuskan secara instan. Saya ikut bahagia untuknya. Sangat.

Si Embrot, dokter muda yang saya bisa lihat kecemerlangan kariernya dari sekarang. Partner berantem abadi saya sepanjang masa, berniat melangkahi saya, kakaknya yang beda usia dengannya terpaut 5 tahun. Dia akan menikahi wanita yang dicintainya, wanita yang dikejarnya dari semenjak SMA. Wanita yang padanya akan saya titipkan adik saya selamanya, adik yang membuat saya tidak pernah ingin beranjak dewasa.

Embrot, saya ikut berbahagia dengan keputusanmu. Mudah-mudahan bukan keputusan yang salah atau terlalu awal, karena saya yakin kamu tahu yang terbaik buat kamu. Sudah menikah atau belum, kamu tetap adik saya, lawan paling seimbang dalam berbagai perkelahian.

Soal pelangkah, tak usahlah kamu memikirkannya terlalu berlebihan. Saya hanya meminta yang gampang-gampang saja, itu pun hanya untuk mengugurkan tradisi di kebudayaan kita. Sebagai pelangkah mungkin saya hanya akan meminta untuk KELILING EROPA!

Senin, 30 November 2009

Hadiah, Kenangan dan Persahabatan

Hal yang pertama saya lakukan ketika saya sampai rumah di Bandung adalah masuk kamar. Hadiah sebagai oleh-oleh dari maminya si mata segaris sedemikian menarik rasa ingin tahu saya. Sebenarnya saya lebih tertarik pada hadiah yang diberikan si mata segaris sebagai kado ulang tahun yang prematur. Ya, prematur karena ulang tahun saya masih sebulan kedepan.

Saya tidak bertanya-tanya lagi kepada mami tentang pertemuannya dengan maminya mata segaris tempo hari. Saya tidak ingin mami malah jadi banyak bertanya tentang ini dan itu. Saya tidak sedang ingin banyak berbohong juga, jadi langkah yang paling bijaksana menurut saya untuk dilakukan adalah dengan tidak mengungkit-ngungkitnya. Membiarkan pertemuan itu berbekas dengan caranya sendiri di hati mami saya maupun maminya si mata segaris.

Hadiah itu terserak di atas tempat tidur yang rapi karena jarang saya tiduri. Saya hanya mengisi kamar itu ketika saya pulang ke Bandung, dan itu menjadi salah satu hal yang selalu saya rindukan. Bau kamar tidur saya.

Saya mengeluarkan hadiah yang terbungkus kertas berwarna biru dan berpita itu dari plastiknya. Sejenak saya bisa merasakan kalau saya tersenyum, hati saya penuh. Saya merasa terlempar pada masa-masa pendekatannya dulu. Dia selalu memberikan hadiah yang dibungkus kertas berwarna biru dan berpita. Selalu. Tidak peduli meskipun hadiahnya sederhana, tapi dia selalu konsisten dengan kertas warna biru dan pitanya. Angan saya dilambung kenangan akan masa lalu kemudian.

Perlahan, kertas biru itu saya robek. Saya koyak dengan rapi sesuai jalurnya. Saya menghargai setiap detail cara pembungkusannya karena saya tahu si mata segaris sangat suka membungkus hadiah. Saya pernah mengatainya aneh karena hobinya itu, dia hanya tersenyum, senyum yang membuat matanya yang kecil semakin hilang ditelan kelopaknya.

Sebuah cardigan hitam dan sebotol parfum terkuak dari dalam kardus berbungkus kertas biru dan berpita itu. Dua benda yang saya suka setengah mati, dan dia masih mengingatnya. Malam itu, ketika hujan membasuh Bandung hingga basah, lagi-lagi saya dipaksa untuk terlempar ke belakang, ke masa lalu ketika kami masih berjanji untuk bersama. Dulu, ketika kami belum memutuskan untuk berjalan tak lagi bergandengan di jalan yang terbentang. Dulu.

Kartu ucapannya saya baca. Lagi-lagi hati saya penuh, dilimpahi kenangan-kenangan ketika cinta itu masih ada di sana. Di hati saya. Rasa cinta yang kemudian menguap dan mengkristal entah menjadi apa. Dalam kartunya dia menulis.

Buat Apis,

HAPPY (EARLY) BIRTHDAY!
WISHING YOU ALL THE VERY BEST HAPPINESS…

Apa kabarmu sahabat? Semoga semuanya berjalan sesuai dengan yang selalu aku harapkan. Maaf kadonya datang lebih cepat soalnya sekalian mumpung mami nengokin aku disini. Lumayan, ngirit ongkos kirim. Hahahaha, cinanya keluar.

Di sana pasti sudah sering hujan ya? Makanya aku kasih kamu cardigan. Aku masih ingat kalau kamu lebih suka pakai cardigan ketimbang jaket. Mudah-mudahan bisa dipakai untuk sedikit mengenyahkan dingin. Jangan lupa buat jaga kesehatan juga, kamu kan gampang kena flu.

Pokoknya, aku berharap di umur kamu yang sekarang ini kamu bisa lebih dewasa dalam menjalani hidup. Lebih bijaksana dalam memutuskan segala sesuatu. Lebih baik juga dari sebelum-sebelumnya. Amien. Cepetan sekolah lagi! Sekolah itu menyenangkan. Bikin kita selalu merasa muda, meskipun buat aku berada dekat kamu selalu bikin aku merasa muda. Ketawa-ketawa terus sih.

Oke deh sahabat, pokoknya aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Eniwei, apa rencanamu akhir tahun ini? Mengunjungi Suramadu kah? Denger-denger kamu mau jadi orang Madura ya? Hahahaha, becanda. Aku masih berharap kok kalau kamu suatu saat jadi orang Singapur. Udah ah, malah ngelantur.

Hugs,
Mata Segaris


Saya berulang-ulang membacanya, dan berulang kali juga saya tersenyum dibuatnya. Saya bisa dengan jelas membayangkan mimik mukanya ketika menulis semua itu.

Sahabat? Ya akhirnya konsep persahabatan yang memang kami usung sekarang. Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian, tapi untuk sekarang bersahabat mungkin jalan yang paling indah untuk dilalui. Persahabatan yang tidak ada lagi benci, persahabatan yang tidak ada lagi mengorek-ngorek kesalahan di masa lalu. Persahabatan yang akan berjalan ke depan, bukannya tertambat di belakang.

Mata segaris, Terima kasih!

Jumat, 27 November 2009

Something Wrong With Me

Ada yang tahu tempat rukhiah atau ahli ruwatan yang bagus gak? Seriusan nih….Kalau bisa rukhiah aja deh, biar lebih agamis. Kan pake ayat-ayat Quran.

Beneran, kayaknya gue butuh dirukhiah, dikeluarkan Jin atau makhluk-makhluk halus lainnya itu deh. Ada sesuatu yang aneh sama diri gue belakangan ini, dan keanehan itu bukan hanya datang sekali. Berulang kali, dengan masalah yang itu-itu juga. Makanya gue ngerasa kalau ada yang salah. Dan gue jadinya mikir kalau harus dirukhiah.

Entah aura gue yang lagi beda, atau ada yang berubah sama aura PENDIAM gue itu, tapi yang pasti gue ngerasa kalau aura gue nggak kaya dulu lagi. Sekarang aura gue justru menarik orang-orang yang tidak diharapkan kehadirannya . Mungkin ini kerjaanya jin dalam tubuh gue itu, atau bisa jadi mahluk-mahluk itu mensabotase kinerja auranya. Gue nggak tahu, pokoknya gue cuma sadar kalau ada yang salah dengan diri gue.

Masa dalam dua bulan terakhir ini, banyak sekali yang menawarkan hati (lebay mode on). Harusnya bagus donk, yang artinya pasaran gue lagi naik. Kan jarang-jarang, dulu mana pernah bisa begitu. Kering. Hehehehe. Tapiiii, ya itu tadi kenapa yang datang membawa hati justru orang dengan status yang nggak gue harepin. Ada aja masalahnya. Yang datang menghampiri itu kalau nggak pacar orang ya ayahnya anak-anak. Dua status yang bikin hidup ini bakalan ribet. Jangankan memulai suatu hubungannya, berpikir untuk memulai aja udah ribet.

Gue memang pendukung kubu kalau cinta gak boleh buta. Cinta harus punya mata. Jadi meskipun gue udah jatuh cinta setengah mati sama tuh orang (yang cinta itu tumbuh karena biasanya di awal mereka nggak ngaku kalo udah punya apacar atau udah jadi ayahnya anak-anak), gue harus mengakhirinya segera. SEGERA. Gue nggak pengen cinta menjadikan gue orang yang menyedihkan. Gue nggak pengen cinta bikin gue harus jadi selingkuhan. Been there done that. Sumpah, jadi selingkuhan itu nggak enak, apalagi buat gue yang kadang nggak suka berbagi.

Alasan lain adalah gue ingin bersikap adil. Sama si pacarnya atau sama keluarganya terlebih sama diri gue sendiri. Gue pernah diselingkuhin, dan rasanya sakit. Gue nggak pernah mentolelir kelakuan itu apapun alasannya. Meskipun alasannya karena gue kosong, atau gue terlalu sibuk, atau gue mungkin terlalu pasif. Semuanya nggak masuk akal, karena bisa dikomunikasikan. Kalaupun sudah tidak merasa nyaman, apa susahnya bilang dan mengakhirinya baik-baik bukannya malah mengambil tema hidup kalau bisa dua kenapa harus satu. Sialan.

Selain dua status itu, kemarin-kemarin juga ada orang yang berusaha mendekat tapi ya ampun pasifnya setengah mati. Alasannyanya sih takut bikin gue merasa nggak nyaman, meskipun akhirnya gue punya pikiran kalo justru dia yang takut nggak nyaman jalan sama gue. Please deh!! Buat ngakalin keadaan itu, dia selalu mengajak sahabatnya kalau mau ketemuan sama gue. Bahkan ketemuan itupun selalu sahabatnya yang menginisiasi. Capek…Kenapa sih nggak yakin atau percaya sama hatinya sendiri, kalau memang nanti jadinya garing dan bikin suasana gak nyaman, ya udah diterminasi. As simple as that. Yang model-model pasif beginian juga bikin gue langsung teriak COREEEEEET!!!!

Makanya nih, kayaknya butuh banget tempat rukhiah, setidaknya buat mengeluarkan aura-aura jahat dan kotor itu. Biar auranya kena sama yang single-single dan appropriate aja. Nggak usah sama yang aneh-aneh, atau biarin aja aura nggak lakunya yang keluar. Lebih nggak ribet menata hatinya. Tolong ya, kalau ada yang tahu gue dikabarin. Yang nggak pake pegang-pegang badan lho yah! Kan bukan mukhrim. Hahahahaha. GELOOOO!

Rabu, 25 November 2009

Silent Treatment

Gue orangnya ngambekan. Kalo minjem istilahnya Fa, sumbunya pendek. Mudah terbakar. Jadi untuk hal yang sepele aja, emosi gue bisa tersulut.

Masalahnya, gue kalo ngambek itu diem. Minjem istilah orang lagi ah, silent treatment. Gue bakal ngediemin orang yang udah bikin gue ngambek. Seberapa waktu silent treatmentnya sih tergantung gue, kadang bentar, kadang bisa lamaaaa. Suka-suka suasana hati aja, dan ini sudah berlangsung dari dulu, dari gue kecil. Keluarga gue aja udah ngerti kalo gue diem dan nggak nyapa-nyapa mereka artinya gue lagi ngambek. Terdengar sangat kekanak-kanakan, dan gue sadar kalau itu kelemahan makanya sedang dicoba untuk dihilangkan. Tapi kok susah yah?!

Sebagian besar orang-orang di sekitar gue udah pernah jadi sasaran silent treatment ini. Pasti mereka sebel banget deh sama gue kalo gue lagi bersikap seperti ini, tapi mereka juga ngerti kalau gue akan balik ke gue yang seperti biasanya. Kapannya itu yang biasanya mereka nggak tau, jadi mereka akhirnya diem juga. Diem-dieman kayak yang musuhan, padahal kesel atau marah gue udah ilang dari lama. Gue diem karena memang cuma lagi pengen diem.

Yang lebih memperparah kebiasaan gue memberikan orang silent treatment itu adalah karena gue orangnya well prepared. Semua sudah gue rencanakan jauh-jauh hari, jadi ketika ada orang yang mengacaukan semua rencana yang sudah gue susun dari jauh itu, gue jadinya bête. Gue ngambek, dan kalau gue ngambek gue diem. Mood gue bisa rusak berhari-hari karena rencana yang udah gue susun itu berantakan dan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Apalagi ketika rencana itu kemudian digagalkan di menit-menit terakhir.

Contoh kasus, gue janjian sama temen buat ketemu dari seminggu sebelumnya. Pas hari H, temen gue itu membatalkan acara 15 menit sebelum waktu yang ditentukan untuk kita ketemu. Gue pasti marah. Kenapa? 15 menit sebelum waktunya, berarti gue udah dandan, gue udah di jalan, gue udah terjebak kemacetan di beberapa ruas jalan. Gampang sih sebenernya, gue tinggal putar stir, berbelok pulang atau belok ke mall favorit gue dan mengerahkan temen-temen gue yang available buat ketemu disana. Masalah selesai. Tapi gue bête, bukan berarti karena gue punya banyak temen yang bisa gue kerahkan, rencana gue bisa diacak-acak seenaknya kan?!

Tapi kadang kita nggak bisa mengarahkan orang buat bertindak seperti apa yang kita pengen. Orang juga bergulat dengan sifatnya masing-masing, dan harusnya gue bisa berkompromi dengan itu bukannya malah ngambekan nggak penting yang totally childish. Tapi sumpah, susah banget ngilangin sifat ini lho, gue sadar banget itu kekurangan dan harus segera dihilangkan tapi beneran susah. Otak gue udah terpola dengan kalo bête ya marah, kalo marah ya diem, dan kalo diem ya lama.

Apa nggak ada kesempatan kedua? Pasti ada donk meski gue bukan Tuhan yang bisa langsung memaafkan. Tapi dalam diam itu gue biasanya udah maafin kok, cuman keselnya pasti masih ada jadinya masih diem. Dan itu cuman karena pengen diem aja.

Tapiiiiiiiiiiii, kalau udah dikasih kesempatan kedua dan masih suka batalin janji seenak perutnya, dan tetap merasa tidak bersalah. Gue pasti murka. Entah itu alasannya sakit atau apapun, masa sih nggak bisa ngasih kabar melalui sms. Gue bakal jauh lebih menghargai itu, karena seperti yang gue bilang, kadang gue udah nyusun acara itu dari jauh-jauh hari yang berarti gue banyak menghilangkan jadwal lain yang sebenernya bisa gue kerjain di hari itu.

Akhirnya gue cuman bisa balik lagi ke diri gue sendiri. Mungkin gue nya aja yang egois, yang gak pernah bisa ngertiin kondisi orang. Selalu memaksakan orang buat ngertiin gue tapi nggak pernah nyoba ngertiin orang. Ya, yang salah memang selalu gue. Ambekan, egois, childish. Tapi kayaknya kalau nggak ada itu, seorang Apisindica bakal jadi kurang lengkap. Pembenaran cara gue.

Buat yang pernah atau sedang merasakan silent treatment yang gue lakuin, gue minta maaf. Gue tahu gue yang salah, apalagi buat orang yang merasa nggak salah. Yang salah memang selalu gue kok, gue tahu itu. Jadi inget salah satu tagline : “kesempurnaan hanya milik Allah, kesalahan milik?: Dorce Gamalama” Itu yang bunda Dorce omongin di salah satu acaranya lho, bukan kata gue! Hihihihihihi. Sinting!

Senin, 23 November 2009

Mereka Bertemu (Akhirnya)

On the phone with my mom:

Mom : “Pis, kemarin sore ada ibu-ibu dateng ke klinik Mami. Udah agak berumur sih, tapi masih cantik. Katanya mau konsul, tapi pas liat foto keluarga kita di meja Mami itu Mami sama dia jadinya ngobrol. Dia kenal kamu, ibunya temen kamu ternyata”

Me: “Oh, kan biasa Mi, kalau ibunya temen aku yang periksa ke Mami. Eh, tapi temen aku yang mana yah Mi? Temen kuliah?”

Mom: “Bukan. Itu lho, temen kamu si mata segaris itu, yang lagi sekolah di Amerika. Mirip banget yah sama ibunya!”

Me : “Hah???”


Sesaat saya kehilangan semua kata. Saya terlempar pada ingatan saya akan sosok wanita itu, wanita yang dulu sangat dekat dengan saya. Iya dulu, saat saya masih berpacaran dengan anaknya. Si mata segaris. Wanita yang pernah meyakinkan saya bahwa cinta anakanya itu tulus dan sungguh-sungguh. Wanita yang dengan sangat terbuka menerima kehadiran saya di tengah-tengah keluarganya. Wanita yang juga mengatakan bahawa ternyata dia lebih menyayangi saya ketimbang anaknya sendiri. Dan wanita yang juga menangis karena merasa bersalah ketika si mata segaris kemudian menduakan cinta saya.

Entah memang kebetulan atau ada unsur kesengajaan, saya tidak tahu. Tapi apa maksudnya dia datang ke klinik ibu saya? Dulu dia pernah mengutarakan ingin mengenal ibu saya, dan saya hanya bilang untuk apa? Toh ibu saya tidak seterbuka dia. Ibu saya tidak mungkin melakukan hal-hal luar biasa yang dia berikan kepada saya. Saat itu dia hanya mengatakan ingin kenal. Dan lagi-lagi saya hanya tertawa, memangnya kalau sudah kenal mau ngapain? Dan memang, selama saya berpacaran dengan anaknya dia tidak pernah bertemu dengan ibu saya. Sampai kemarin. Entah untuk apa?

Mom: “Dan kamu tahu Pis, tadi kita makan siang bareng. Kemarin itu dia ngundang Mami, dan kebetulan siang tadi Mami nggak ada operasi jadi kita makan bareng deh. Orangnya baik yah, nggak sombong”

Me : “Haah??? Ngomongin apa aja mami sama dia?”


Jantung saya berhenti berdetak. Ribuan kekhawatiran hinggap di dada saya. Saya tahu wanita itu sangat bijaksana, jadi tidak mungkin dia membicarakan sesutu yang memang sebetulnya tidak layak untuk dibicarakan. Tapi tetap ada ketakutan di hati saya, karena ini sangat tidak wajar. Mereka bertemu, tanpa sepengetahuan saya, dan saya tidak punya gambaran apa yang mereka obrolkan kemudian.

Mom: “Banyak sih. Dia cerita kalau dia baru pulang dari Amerika, ngejenguk anaknya. Dan dia nitipin oleh-oleh buat kamu. Kata dia tadinya mau dikirim pake kurir tapi karena ketemu Mami, jadinya dititipin Mami aja. Ketidaksengajaan yang menyenangkan yah? Mami intip di rumah sih oleh-olehnya baju tuh, ada beberapa. Kayaknya dia kenal banget selera kamu deh. Terus ada yang dibungkus juga, kata dia kado ulang tahun buat kamu dari si mata segaris. Ulang tahunnya belum kok kadonya udah nyampe. Aneh.”

Kado dan oleh-oleh. Mudah-mudahan hanya itu motifnya. Hanya itu alasannya sampai dia mau bertemu dengan Ibu saya. Saya kehilangan semua ide tentang pertemuannya dengan ibu saya, benar-benar tidak habis pikir.

Berulang kali saya bilang sama wanita itu, bahwa kami, saya dan anaknya telah selesai. Sudah tidak ada cinta lagi. Tapi meskipun begitu, saya tidak akan pernah merubah sayang saya sama dia. Wanita hebat yang mau dengan keikhlasan hati menerima keadaan anaknya, tanpa menggugat lagi. Wanita yang mungkin hanya satu diantara seribu wanita di Indonesia, yang melihat anaknya tidak hanya dari satu sisi.

Me : “Udah gitu aja, nggak ngobrol apa-apa lagi? Apa jangan-jangan Mami janjian lagi sama dia ya?”

Mom: Nggak kok, nggak janjian lagi. Besok dia pulang ke Singapur. Tapi dia ngajakin Mami buat belanja bareng di Singapur. Malah ngajakin nginep di rumahnya aja disana. Baik banget yah, padahalkan kenal juga baru”


Wahai wanita yang hatinya entah terbuat dari apa. Saya minta jangan seperti ini. Jangan membuat saya selalu serasa berjalan di tempat. Berputar-putar di cerita yang itu-itu juga. Saya tahu kamu menyayangi saya selayaknya anakmu sendiri seperti yang sering engkau bilang, saya juga tahu bahwa kamu masih memiliki keinginan untuk melihat saya dan anakmu si mata segaris itu untuk bersatu kembali. Tapi untuk saat ini saya tidak bisa, saya tidak bisa mempercayai hati saya sendiri. Mempercayai bahwa jarak yang terentang bisa dimanipulasi, hati yang terpisah bisa diakali. Saya belum bisa percaya. Mungkin nanti saya bisa belajar percaya atau justru saya tidak akan pernah percaya. Saya tidak tahu.

Wahai wanita yang memiliki cinta tak hanya yang kasat mata. Ijinkan saya tetap menyayangimu dengan cara saya, dengan jalan yang saya sudah putuskan untuk saya titi. Tapi jangan seperti ini, datang hanya kemudian memberi saya langkah bimbang. Cinta saya pada anakmu mungkin telah tidak ada, tapi percayalah kalau cinta saya kepadamu tidak akan pernah berubah. Sampai kapanpun, saya sudah terlajur menyayangimu sepenuh hati. Ijinkan saya menganggapmu hanya sebagai ibu. Jangan berharap lebih.

Me: “Makanya itu Mi, karena baru kenal itu jangan terlalu percaya sama orang. Pake mau belanja bareng segala. Dia memang baik sih, tapi kalau baru kenal kayaknya berlebihan deh”

Mom: “Iya, Mami juga ngerti. Lagian tadi juga Mami nggak bilang iya, mami cuma bilang mungkin nanti kapan-kapan. Ya udah ah, Mami ada pasien lagi”


Sambil menikmati tarian hujan yang dipertontonkan awan, saya menitipkan rindu untuk wanita itu melalui rintik yang mengecup aspal jalan. Kepada angin saya mewartakan bahwa saya meminta maaf untuk kesekian kalinya, karena saya sudah menamatkan rasa cinta saya pada anaknya. Si mata segaris.

Jumat, 20 November 2009

Di Atas Kereta

Pagi itu seperti biasa, kita bertemu dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri. Ini sudah kesekian kalinya kita bertemu dalam kondisi yang sama. Kadang kita berdekatan, tapi kadang juga berjauhan meski dalam posisi yang itu-itu juga. Aku duduk dan kamu berdiri.

Aku tahu kamu sering mengamatiku seperti kamu juga tahu kalau aku diam-diam mengamatimu. Radar kita tidak hanya menyala, tapi sudah berteriak-teriak dengan kencang. Sayang belum ada keberanian dari aku maupun dari kamu untuk sekedar menyapa, atau setidaknya tersenyum ramah. Kita sudah dipertemukan oleh waktu yang selalu berpihak, tapi kita tidak pernah berusaha mencoba untuk memanfaatkan waktu itu.

Aku heran, kenapa dari sepuluh gerbong yang ada, aku dan kamu selalu memilih di gerbong yang sama, dan selalu dalam kondisi aku duduk dan kamu berdiri. Mungkin kamu harus datang lebih awal supaya setidaknya kita bisa duduk sebelahan atau berhadap-hadapan. Atau mungkin nanti bila ada kesempatan lain, aku harus menawarkanmu duduk di tempatku. Aku harus mencari cara untuk paling tidak membuka sedikit percakapan.

Aku bisa melihat dengan jelas sesuatu dibalik tatapan itu, tatapan yang ketika kupergoki akan kamu alihkan ke luar jendela atau ke koran yang sedari tadi kamu pegang. Rasanya lucu, melihatmu kikuk seperti pagi itu. Rasanya hangat ketika untuk beberapa detik pandangan kita beradu, meski akhirnya kita sama-sama membuang muka karena malu. Aku tahu kamu merasakan hal yang sama. Sayang, kita hanya berkomunikasi perantaraan udara.

Cara kamu berpakaian selalu menarik perhatianku. Kadang kamu bisa sangat rapi tapi tak jarang juga kamu bergaya sangat cuek. Kamu ingat ketika jumat itu, ketika untuk kesekian puluh kalinya kita bertemu dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri, kamu hanya mengenakan polo shirt putih yang dipadukan dengan jins belel itu? Kamu benar-benar menyihirku, memantraiku untuk selalu mencuri pandang ke arahmu, dan kamu dengan cekatan selalu memergoki ketika aku memandangmu. Kamu manipulatif, kamu tahu apa yang akan terjadi dan kamu memanfaatkannya.

Satu hal yang selalu tergambar dengan jelas dalam otakku selain sorot matamu yang penuh makna, kamu kurus. Untuk ukuran tinggi sepertimu, kamu terlalu kurus. Makanya berbincanglah kapan-kapan denganku di kereta pagi yang biasa kita naiki, kita berteman. Nanti akan aku temani kamu makan, aku menontonmu makan maksudku. Atau aku akan menemanimu makan dengan takaranku, setengah porsi untukku, satu setengah porsi untukmu.

Pagi itu, dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri, di atas kereta pagi yang membelah Jakarta, aku mengirimkan banyak isyarat melalui udara. Berharap kamu menangkap dan memahaminya.

Rabu, 18 November 2009

Denial Phase

Semalam saya bertanya kepada hati saya. “Betulkah saya sekarang berada dalam fase penyangkalan seperti yang dibilang salah seorang sahabat?”

Lama, tak ada jawaban.. ……Yang saya dapatkan hanya sunyi.

Saya beralih bertanya pada otak, karena saya berpikir bahwa otak biasanya lebih realistis. Tidak lagi mempertimbangkan perasaan. Tapi yang saya dapatkan juga diam. Otak saya seperti mogok tidak mau diajak berpikir, bahkan sekedar untuk memberikan komentar.

Akhirnya saya berbincang dengan diri saya sendiri. Entah dengan siapa, karena hati dan otak yang biasanya bisa saya andalkan keduanya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Saya berbincang dalam hening, dan mungkin lebih tepat dilihat seperti pentas monolog, karena hanya saya yang berbicara. Tanpa ada sahutan.

Seperti orang bodoh, saya terus-menerus mendengungkan berbagai pertanyaan, meski saya tahu bahwa tidak akan ada jawaban. Tapi itu lebih baik, setidaknya saya tidak sedang merasa dihakimi. Saya bertanya, saya juga yang menjawab.

“Apakah ketika saya mengatakan untuk saat ini tidak sedang membutuhkan seorang kekasih, Saya dikatagorikan dalam fase penyangkalan?” Saya merasa itu bukan salah satu bentuk penyangkalan. Saya justru sedang bersikap sangat realistis. Belajar dari berbagai pengalaman yang hadir silih berganti, dari titian waktu yang bergerak dalam jalur perjalanan, saya merasa bahwa kehadiran seorang kekasih bisa dieliminir dengan berbagai hal. Terdengar absurd mungkin, apalagi bagi sebagian orang yang mengenal saya dengan baik.

Tidak sedang membutuhkan kekasih bukan berarti kemudian saya berhenti mencari. Saya tetap mencari tetapi tidak ngotot seperti dulu. Tidak lantas mengambil segala cara untuk menggenggam cinta, bahkan dengan mencoba merebut kekasih orang. Saya benar-benar malu pernah berada di titik itu. Saya selalu yakin akan kekuatan Doa, dan saya sangat yakin kalau Tuhan mendengar. Jadi apakah ketika saya berdiri dalam bentuk kepasrahan seperti ini saya disebut sedang dalam tahap penyangkalan?

Saya mempunyai tiga orang sahabat yang bertemu pertama kali perantaraan blog ini, dan sekarang mereka semua sudah berbahagia dalam kaca mata saya. Hidup dengan cinta yang mereka yakini, bertemu dengan pasangan jiwa yang membuat mereka merasa lengkap. Apakah saya iri? Pasti, siapa yang tidak iri dengan hal itu, tapi perasaan ikut berbahagia bagi mereka jauh lebih banyak ketimbang perasaan iri saya. Salah satu bentuk kebahagiaan saya adalah melihat sahabat-sahabat berbahagia dalam hidupnya. Dan apakah ketika saya merasa iri, saya harus menerima tawaran hati tanpa berpikir banyak hal? Dan apakah ketika saya banyak menolak tawaran hati sampai akhirnya saya mengatakan bahwa saat ini tidak sedang membutuhkan kekasih, kemudian saya dikatakan berada dalam fase penyangkalan?

Seorang sahabat juga bilang bahwa saya sudah tua, menjelang kadaluarsa, jadi kenapa harus pilih-pilih? Saya mengamini. Saya tidak semuda dulu, dalam beberapa tahun ke depan saya akan menginjak usia berkepala tiga, dan mungkin memang saya menjelang kadaluarsa. Tapi karena merasa tua itulah kemudian saya lebih selektif. Mungkin terkesan pilih-pilih, tapi lagi-lagi pengalaman mengajarkan saya banyak hal. Sudah teramat sering saya salah menginderai terang. Saya berpikir itu adalah bulan yang akan menuntun saya pulang, tapi ternyata itu hanyalah lampu taman yang temaram. Saya tersesat kemudian.

Sebagian orang pasti akan berteriak-teriak dan menyebut bahwa tulisan ini adalah bentuk nyata dari sebuah penyangkalan. Silahkan beropini, tapi yang mengetahui saya bahagia atau tidak hanyalah saya. Dan untuk saat ini saya CUKUP bahagia. Saya memiliki kehidupan yang memberikan saya alasan untuk selalu ingin bangun keesokan harinya, dan tersenyum menyambut hangatnya mentari.

Senin, 16 November 2009

Hujan Musim Ini

Aku menghargai kejujuranmu yang telah mengakui bahwa sebetulnya kamu masih memiliki seorang kekasih. Entah kemudian menurutmu itu kekasih di luar nalarmu, di luar logikamu, tapi tetap dia disebut kekasih, seseorang yang pastinya masih mengisi tempat teristimewa di hatimu. Aku menghargai semua niat baikmu sehingga kamu masih menghormati aku dengan berterus terang. Sebelum semuanya berjalan lebih jauh.

Aku tidak ingin cinta menjadikanku bodoh. Aku tidak ingin cinta membuat jiwaku menjadi kerdil. Dan apabila kemudian aku mau berkompromi dengan semua keadaanmu itu artinya aku bodoh, dan aku membiarkan jiwaku kerdil. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menang bersaing dengan cinta yang masa tumbuhnya berkelipatan 365 hari itu. Aku akan selalu kalah tersisih. Tak peduli meskipun kamu bilang bahwa dia sebenarnya kosong, bahwa mencintai dia sungguh di luar akal sehatmu. Aku akan selalu kalah.

Mungkin aku kamu anggap bisa mengisi kosong yang kekasihmu beri, tapi itu artinya aku akan hidup dalam bayang-bayang dia. Dan aku tidak mau seperti itu. Apabila hubungan kalian sudah hitungan tahun, artinya selama ini kamu sudah berkompromi dengan kekosongan itu. Kenapa sekarang kamu justru seperti kebakaran jenggot dengan complain bahwa dia kosong? Jangan jadikan aku sebagai alasanmu mengugat kekosongan itu.

Kamu boleh bilang bahwa mencintainya di luar nalarmu, bahwa mencintainya membuatmu menomersekiankan logika. Tapi, ketika hubungan itu bisa kamu pertahankan sampai sekarang kamu bukan lagi hidup di luar nalar, tidak lagi mengabaikan logika, kamu sudah nyaman. Nikmati kenyamanan itu, jangan kemudian berontak karena kamu pikir aku bisa menutupi kekosongan kekasihmu. Aku mungkin hadir di saat yang tidak tepat, memberikan sensasi baru yang mungkin hanya sebuah selingan.

Gambar puzzle hati di dadamu mungkin tidak penuh karena kekosongan yang menurutmu dimiliki oleh kekasihmu itu, tapi selama hatinya masih bisa mengalunkan isyarat cinta kenapa harus dipermasalahkan. Aku mungkin bisa pas dengan potongan puzzle yang belum lengkap itu, tapi aku yakin warna gambar hatinya akan berbeda, dan aku hanya akan tetap menjadi potongan puzzle. Bukan gambar hati utuh. Karenanya aku memilih untuk mundur. Aku tidak ingin cinta menjadikanku tidak adil terhadap dia. Kekasihmu.

Hujan masih menyisakan genangan air meski bau tanahnya sudah menguap. Genting masih basah setelah sesaat dicumbu rinai hujan. Basah hujan musim ini aku memutuskan untuk beranjak dari sana, dari kepingan harapan yang sebelumnya aku kembangkan. Maaf jika aku kemudian menutup akses komunikasi diantara kita. Tolong beri aku waktu untuk menyembuhkan luka, karena layaknya gerimis, kamu hanya datang sesaat. Dan dalam kesesaatannya itu kamu masih meninggalkan jejak. Jejak air mata.

Jumat, 13 November 2009

to my L friend!

On email, tengah malam buta.

Boleh saya tanya sesuatu??

Kamu seorang L dan orangtuamu yg sangat menyanyangimu menginginkan melihatmu menikah sebelum ajalnya tiba apa yang bakal kamu lakukan?? sementara mereka sakit-sakitan ditelan usia..(orangtua mengetahui kamu memiliki orientasi seksual yg berbeda dgn yg lainnya)

- kamu akan mencari pasangan pria dan menikah
- memberi pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat (sedangkan sebelumnya orang tua telah banyak mengerti kamu dan sampai penghabisan waktunya masih harus tetap mengerti kamu)
- atau tetap egois tidak mengabulkan permintaan ortu (tetap tidak mau menikah) yg mungkin permintaan terakhirnya..


Best regards,
XXX

My L friend, sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak langsung membalas email itu, bahkan saya mengendapkannya beberapa hari. Bukan bermaksud untuk tidak membantu, tetapi saya merasa saya harus berpikir lebih, tidak boleh sembarangan menjawab. Karenanya sekarang saya mencoba menjawab (dari perspektif saya) dan tidak di email. Kenapa? Karena banyak diluaran sana orang yang memiliki problematika yang sama, jadi bisa sekalian sharing. Saya tahu kamu juga membaca blog saya, jadi pasti kamu mendapatkan jawaban dari sudut pandang saya.

Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Dan dalam kultur manapun orang tua merasa bahagia apabila telah mengantarkan anaknya ke gerbang pernikahan, karena orang tua merasa bahwa ketika sang anak sudah menikah dia akan menjemput kebahagiannya sendiri. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kadang ketika muncul masalah mengenai preferensi seksual dari sang anak, hal tersebut menjadi dilematis.

Saya tahu betul bahwa kamu sedang dilanda dilema yang luar biasa, dan jangan khawatir di luaran sana banyak yang mengalami masalah yang sama dengan kamu. Dilema yang menempatkan kamu dan mereka itu pada posisi sulit, antara ingin membahagiakan orang tua dengan membahagiakan diri sendiri. Kebahagiaan yang tidak bisa disinergiskan. Dua kebahagiaan itu berada di dua kutub yang berbeda. Saya tahu kamu mengalami perang batin kemudian.

Pada kasus kamu, ada hal yang terlihat lebih gampang. Orang tua kamu mengetahui mengenai preferensi seksualmu yang berbeda. Jadi ketika kamu mengambil keputusan apapun nantinya, ada alasan kuat yang mendasarinya. Pergulatan batin akan jauh lebih besar pada mereka yang orang tuanya tidak mengetahui hal itu, sehingga orang tua akan dengan lebih leluasa terus memaksamu untuk menikah. Kamu harus bersyukur tentang ini.

Karena kamu memberi saya tiga pilihah jawaban, saya mau mencoba menganalisisnya dari tiap pilihan.

Kamu akan mencari pasangan pria dan menikah. Langkah yang tidak gampang apalagi bagi mereka yang telah berdamai dengan hatinya dan menerima keadaan dirinya. Bisa jadi hal ini akan menjadi pengorbanan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Menikah dengan pria, mungkin tidak gampang tapi bisa dilakukan. Dan tolong dilakukan dengan hati, dalam artian jangan jadikan pria ini sebuah pelarian. Ketika kamu sudah memutuskan, kamu harus berlaku adil terhadap pasanganmu, meskipun dia pria yang sebenarnya tidak kamu cintai sepenuh hati. Dan jangan lagi pernah menengok ke belakang. Tutup akses kesana, jadikan pria ini sarana untuk mengubah jalan hidupmu, dan mudah-mudahan ke jalan hidup yang lebih baik.

Memberikan pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat adalah hal yang paling banyak dilakukan oleh kebanyakan orang yang memiliki masalah yang sama dengan kamu. Memperpanjang waktu tempuh dalam menghindar. Tapi pertanyaanya, sampai kapan kamu bisa menghindar? Selamanya kita tidak bisa menghindar karena orang tua akan terus berputar-putar disana, di kerangka kebahagiaan menurut persepsi mereka.

Bersikap egois. Mungkin hal yang paling gampang untuk dipikirkan tetapi tidak mudah dijalani. Ketika seseorang telah memutuskan untuk berlaku egois saja, dia harus siap dengan semua konsekuensi. Kita berbuat adil terhadap diri kita, karena takaran kebahagiaan kita berbeda dengan takaran orang tua. Tapi kita menyakiti hati orang tua secara tidak langsung. Silahkan bertanya pada hati kecil kamu, itukah yang kamu inginkan?

Mungkin ini tidak menjawab pertanyaan kamu. Tapi kalau kamu bertanya, saya akan mengambil langkah yang mana? Maka saya akan mengambil langkah yang pertama. Saya akan menikah, dengan pasangan yang saya lihat kualitas di dirinya bisa merubah saya ke arah yang lebih baik. Yang mungkin bisa memberi saya kebahagiaan lain yang selama ini saya menutup mata tentangnya. Pasangan yang juga bisa menumbuhkan usaha saya untuk mencintainya lahir batin, sampai mati.

Rabu, 11 November 2009

Perantaraan Angin

Saya mengenal orang ini perantaraan angin. Melalui aksara yang diterbangkan bersamaan dengan debu. Aksara yang kemudian mengendap dalam imaji dan membangun sosok tanpa wujud asli. Saya hanya berharap bahwa angin ikut menghembuskan nyawa sehingga membuatnya menjadi nyata, tak hanya berupa kata.

Kepada angin saya kemudian selalu menitipkan pesan, mencoba mengenali jati dirinya. Mengorek detail relief hatinya yang seakan beku. Tetapi yang saya dapatkan hanyalah dingin, karena dia tidak mudah disibak. Dia berlindung dalam ketegaran laksana karang di tepian pantai. Kokoh berdiri diterjang gelombang.

Saya berjuang dalam keyakinan pada angin. Yakin bahwa angin akan menyampaikan semua pesan yang tak perlu saya ucapkan. Saya hanya yakin bahwa dibalik baju besi yang dia pakai, saya akan menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin saya cari selama ini dalam pengembaraan hati, pengembaraan yang tak jelas ujungnya karena seringkali hanya menempatkan saya di gurun tandus tanpa suara.

Saya memanjatkan doa perantaraan angin, berharap Sang Sutradara Hidup mendengar semua pinta. Saya hanya meminta diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh, menuntaskan apa yang sudah saya mulai. Menyelesaikan kepenasaran akan cinta. Melalui angin saya tak lagi berbisik, saya berteriak lantang : Tolong beri saya kepastian!!!

Ternyata tak perlu ribuan anak panah yang terlepas dari busurnya seiring waktu, angin kemudian memberi saya jawaban. Keterbukaan yang saya cari selama ini akhirnya terpapar dengan sempurna. Saya melihat dia justru dalam perspektif yang tidak lagi sama, dan ternyata saya tidak siap. Dia, seseorang yang saya ingin ketahui aslinya ternyata sedangkan memanggangkan tubuhnya dalam bara. Menomorsekiankan logika hanya karena cinta.

Ternyata angin tidak hanya memberikan jawaban, tapi angin juga membelot. Dia berubah menjadi badai, memporakporandakan hati dan perasaan saya. Memaksa saya untuk terhempas mundur dari dalam himpunan. Mencabuti rasa yang sedang saya semai, melucuti semua keyakinan saya akan damai.

Saya yang dihempas kenyataan kemudian bergumam : “Angin, entah ini cobaan atau becandaan, tetapi kenapa engkau mengirim LAGI sebongkah hati dengan status KEKASIH ORANG?”

Senin, 09 November 2009

Menyerah

“Lupakan aku……….” Sepenggal kalimat yang kemudian menotok pertahanan semua sarafku. Lemah. Tak berdaya, tak bisa malakukan apa-apa.

“Aku mohon jangan menyerah!” Pintaku. Sayang sepertinya dia tidak akan mendengar permintaanku, karena justru kalimat itu terucap setelah telepon tertutup. Atau mungkin sesaat setelah dia menutup hatinya untuk kehadiranku.

“Aku tahu kita pasti bisa melewatinya, makanya jangan menyerah. Jangan sekarang” Kalimat itu kuucapkan meski aku tahu semuanya sia-sia. Semuanya sudah berakhir pada titik nadir yang dibuatnya. Kumpulan titik yang membangun garis-garis samar untuk kemudian menjelma menjadi nyata dan memisahkan aku dengannya.

Aku diam. Hening. Aku membiarkan pikiranku menjuntai, bergulung-gulung luruh ditelan pahit. Pikiranku kemudian menemukan jalan buntu, tapi aku menyuruhnya terus melaju. Biarkan saja pikiranku menabrak semua yang menghalangi jalannya, biarkan merayap, menyelusup melalui liang yang ada. Setidaknya tidak diam, karena dengan diam berarti stagnan. Dan stagnan berati mati, sementara aku tidak mau pikiranku mati. Mati berarti menyerah, dan aku tidak menyerah.

Pikiranku berhenti di salah satu pusaran yang kemudian melingkarkanku untuk mengingat suatu percakapan yang aku tak ingat dimana pernah mendengarnya. Tepatnya pikiranku membelot untuk tidak mengingatkanku akan hal itu. Lamat-lamat percakapan itu menjelma menjadi sangat nyata, bahkan setiap detail kata yang terucap membahana di ruang pikiranku yang menjuntai dan bergulung. Pikiranku memaksaku untuk mendengarkannya berkali-kali, entah apa maksudnya. Tapi aku seakan berada di titik yang itu-itu juga, berputar-putar dan kembali ke titik yang sama.

“Jangan menyerah. Aku mohon jangan menyerah!”

“Apa karena aku bodoh? Aku akan dengan giat belajar agar menjadi pandai dan tidak mempermalukanmu di depan teman-temanmu”

“Apa karena aku nista? Aku akan berdiri setia hanya padamu sampai kapanpun”

“Apa karena aku miskin? Aku akan giat bekerja agar tidak selalu menyusahkanmu dan bergantung padamu”

“Makanya aku mohon jangan menyerah!”

Kalimat-kalimat itu terus menggema di dalam pikiranku yang menjuntai dan bergulung. Semakin bergulung, semakin membuatku oleng. Aku limbung. Aku pusing, kemudian pikiranku menghilang. Aku tak sadar. Apa aku mati? Aku tidak mau mati, karena aku masih mau berjuang seperti kalimat-kaliamat percakapan tadi yang gaungnya kian kencang bahkan ketika aku merasakan bahwa aku telah mati.

Saat gulungan pikiranku berhenti bergerak, aku tersadar. Aku bangun meski tertatih, aku berontak meski tak bertenaga. Aku hanya ingin berjuang. Memperjuangkan cinta yang dulu kita bangun berdua. Aku tak sanggup berjuang sendirian sementara kamu selayaknya prajurit yang mengaku kalah padahal perang belum juga usai. Menyerah untuk tidak berjalan bersamaku lagi. Kenapa?

Aku tidak bodoh, yang artinya aku tidak akan mempermalukanmu di depan teman-temanmu. Mungkin aku nista, tapi meskipun begitu aku akan berdiri setia hanya padamu sampai kapanpun. Aku tidak terlalu miskin, aku punya pekerjaan yang menjanjikan, artinya aku tidak akan terlalu menyusahkan dan bergantung padamu. Tapi kenapa kamu tetap menyerah? Sudah terlalu beratkan beban yang kau pikul untuk sekedar berjalan beriringan denganku?

Aku tahu setapak itu berbatu dan seringkali membuat kaki kita terluka sampai berdarah. Tapi kalau kita bersama, kita akan bisa melewatinya, menyongsong jalan besar tak terjal yang terpampang mengundang. Tak peduli aku harus memapahmu sampai jauh, menggendongku saat kamu sama sekali tidak bisa berjalan. Aku rela menjadi titian langkahmu untuk mengenyahkan sakit yang mungkin datang. Aku rela.

Aku hanya ingin kamu tidak menyerah. Tidak seperti ini, karena aku masih kuat menerima dera. Aku akan berdoa agar aku bisa menggatikanmu untuk menerima sakit, perih dan luka yang mungkin ada. Aku rela. Percayalah aku rela.

Sayangnya kamu sudah tidak percaya padaku, bahkan pada kemampuanmu sendiri. Aku bisa apa? Sekuat apapun aku berjuang tapi ketika kamu memutuskan untuk menyerah maka perjuangan akan sia-sia. Cinta tak bisa diperjuangkan hanya oleh aku sendiri, aku tak akan sanggup. Mungkin aku seharusnya mengikuti caramu menghindar dari semua kenyataan ini. Mungkin sudah saatnya bagiku juga untuk menyerah.

Terima kasih telah mengajarkanku menjadi kuat dengan caramu. Terima kasih telah menjadikanku dewasa lewat pembelajaran yang luar biasa. Aku berhutang banyak padamu. Aku mungkin tidak akan bisa membayarnya sampai kapanpun, karena kini aku juga menyerah. Aku menamatkan peranku di kehidupanmu. Titik.

PS: based on true story. Maaf ya DSR, curhatanmu aku jadikan tema postingan. Seandainya ada yang bisa aku lakukan lebih selain menemanimu menangis seperti semalam!

Jumat, 06 November 2009

Kenapa Berubah?

Aku benci sikapmu belakangan ini. Kenapa sekarang setiap kamu akan menelponku harus didahului dengan meminta izin melalui sms? Kenapa nggak bisa langsung nelpon saja, toh kalau misalnya aku tidak ingin berbicara denganmu akan jauh lebih mudah dengan tidak mengangkatnya ketimbang membalas sms mu dengan kata “tidak”.

Apa alasanmu melakukan itu? Apa kamu takut aku terjebak lagi pada perasaan seperti dulu, atau justru kamu takut pertahananmu yang justru bobol duluan? Pertahanan untuk tidak membiarkan rasa itu ada disana, tidak kamu biarkan tumbuh, padahal aku yakin primordial rasa itu ada di hatimu. Kamu hanya tidak mencoba. Tapi ya sudahlah, semuanya juga sudah berlalu.

Sering aku bilang, ada atau tidak ada rasa cinta di hati ini, aku akan tetap menjadi orang yang sama. Orang yang akan mendukung semua lini kehidupanmu. Berjalan beriringan denganmu sebagai sahabat. Jangan ragu untuk berbagi seperti dulu, bercerita tentang segalanya. Aku sebagai sahabat akan selalu ada untuk itu. Berbagi sepotong kue dalam menjalani semuanya. Sekali lagi aku bilang, tidak akan ada cinta lagi, jadi kenapa harus takut.

Aku justru rindu saat-saat seperti dulu. Saat kamu menggangguku dengan telpon-telpon yang nggak perlu. Telpon pagi-pagi buta, yang selalu dimulai dengan kamu yang bilang “masih tidur ya?” Dan aku akan menjawabnya “nggak kok” padahal dengan mata masih tertutup rapat aku menjawab telponmu. Semuanya berasa rutinitas harian, makanya sekarang ketika kamu begitu sungkan untuk menelponku bahkan merasa harus meminta izin terlebih dahulu, aku jadi membencimu.

Berprilakulah seperti biasanya, seolah tidak pernah ada apa-apa, karena memang tidak pernah ada apa-apa. Terbukalah seperti dulu, layaknya dua orang sahabat yang tidak ada yang ditutupi satu sama lain. Meminta izin ketika ingin mengobrol denganku hanya memperlebar jarak antara aku dan kamu, jarak yang sepertinya tidak mungkin untuk dilewati bahkan dengan melompat sekalipun. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi, aku tidak ingin kehilangan lagi seorang sahabat.

Aku lelah hidup dalam kebencian, makanya jangan buat aku jadi membencimu seperti ini. Membenci seorang sahabat seperti melihat hati sendiri mati perlahan-lahan. Getir. Tapi jika menurutmu dengan kebencian itu hidup kamu bisa lebih tenang, aku akan menjalaninya. Demi persahabatan.

Rabu, 04 November 2009

Tribute to Sinting Maut

Sinmau, apa kabar teman?? Tiba-tiba gue teringat sangat sama lo malem ini. Rasanya pengen ngobrol kayak dulu.

Teringat juga dulu waktu pertama kali kita ketemu. Lo masih inget kan? Ketemuan di salah satu mall dan elo datang terlambat (yang ternyata di ketemuan-ketemuan berikutnya juga lo selalu terlambat). Terus kita langsung gosipin anak yang juga kita ajak ketemuan hari itu. Bisik-bisik bilang coreeeeeeettttt. Gue inget semuanya. Apalagi pertemuan hari itu kita ditutup dengan dugem bareng untuk yang pertama kalinya. Gila-gilaan naik stage, flirting-flirting gak penting, sok jual mahal tapi pas pulang di taksi pada teriak “kok kita nggak laku yah??!!”. Lucu aja kalo inget hari itu.

Pertemuan itu bukan pertemuan terakhir karena ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang tetep ditutup dengan dugem bareng. Lo kita angkat sebagai mamie endorse karena di tangan lentik lo itu, rambut kita-kita jadi tampil maksimal. Yang paling berkesan adalah waktu kita naik stage (selalu) nggak inget malu selain goyang, dan besok-besoknya ada foto kita muncul di situsnya concierge lagi dengan pedenya bergoyang di atas stage di depan dj. Gokil banget. Atau waktu temen kita dari Jogja dateng dan ternyata dia di club laku gila, sementara kita cuman cengo jadi penonton dan lo bilang kalo baju zara baru (nggak worthed) yang gue pake itu nggak ngaruh bikin gue laku. Sial. Gue inget semuanya.

Tapi kita ketemuan juga isinya nggak hura-hura semua, ada kalanya (seringnya) kita ngobrol pake hati tentang hidup, tentang cinta, tentang semuanya di kosan si Peranakan Padang-Arab bertinggi 180 cm itu (ngakunya) yang ternyata pas dulu ketemu kok boncel. Hehehehe. Lucu aja kalau inget semuanya. Kosan lumayan gede yang gerahnya minta gila, yang kayaknya sekarang udah diisi orang lain karena si Peranakan Padang-Arab wannabe itu udah ngontrak rumah sendiri sama istrinya. Memori itu masih menempel jelas di otak gue sampai sekarang.

Semua tinggal kenangan, apalagi dengan lo yang tiba-tiba menghilang dari peredaran. Blog ditutup, SMS nggak pernah dibales, message di YM meskipun gue kirim pas lo offline gue yakin pasti sampe nggak pernah lo gubris. Gue bingung sebenernya ada apa dengan lo? Apa lo baik-baik aja? Cerita dong Sinmau sama gue, sama kita, sahabat-sahabat lo. Kita khawatir.

Kalau misalnya memang lo mau berubah, mau mengganti haluan jalan yang ada, bilang donk!! Kita nggak akan halang-halangi kok, apalagi untuk sesuatu yang lebih baik. Kita pasti dukung, dan kita tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi sahabat lo seperti yang dulu. Lo inget kan waktu si Padang-Arab itu memutuskan buat menikah? Apa kita larang-larang? Nggak kan? Kita malah support dia buat jadi lebih baik. Dan itu akan berlaku buat lo. Menjadi apapun lo, selama lo bahagia, kita pasti dukung. Percaya deh!!

Gue nggak suka cara lo kayak gini, apalagi lo menghilang disaat gue bener-bener sendirian. Si Padang-Arab sudah menikah, yang gak mungkin gue gangguin kayak dulu. Si Koko dokter sangat sibuk dengan pekerjaannya ditambah sedang menata “keluarga” kecilnya dengan sang cinta sejati yang akhirnya dia temukan. Si Uda Padang yang menurut lo senyumnya manis itu lagi ke Swiss memperjuangkan cinta sejatinya. Gue? masih sendiri aja kayak dulu, cinta belom ketemu. Makanya gue butuh lo sebagai sahabat, setidaknya buat partner gue berbagi.

Sinmau, gue pengen ada lo entah dengan casing baru atau casing lama,karena cuman lo yang bisa marahin gue kalau gue kebablasan kayak dulu waktu gue jatuh cinta sama cinta sebelah tangan gue itu, menghibur gue dengan bilang bahwa dia nggak pantes ngedapetin gue, ngeyakinin gue kalo nanti akhirnya gue akan bahagia dan menemukan seseorang. Gue pengen ada Sinmau yang kayak dulu. Gue tahu meskipun lo berubah, hati lo buat gue nggak akan berubah. Makanya gue nggak suka cara lo kayak begini.

Sinmau, gue kangen tauk!!! Bener-bener kangeeeeeeeeeen!!! Setidaknya kalau lo nggak mau ketemu sama kita-kita lagi kasih kita kabar. Itu akan jauh dari cukup.

Senin, 02 November 2009

Terinderai

Saya masih duduk disana, dalam lingkaran yang dibentuk oleh orang-orang yang duduk melingkar, dengan satu orang sebagai porosnya. Orang yang berdiri di pusat lingkaran itu kemudian berbicara mengenai aturan main dari sesi pagi itu. Saya sekuat tenaga berusaha menegakan kepala yang terasa sangat berat, mencoba mencerna apa yang diucapkannya tapi saya tidak bisa. Rasanya ada lonceng besar yang terus berdentang tak karuan di dalam kepala saya.

Tadi malam saya tidak sedikitpun bisa tertidur. Badan saya ngilu, tulang rasanya dilolosi dari sendinya. Menggigil saya menahan sakit yang tidak bisa saya jelaskan. Keringat membasuh semua badan saya, mengalir deras seiring semakin kuatnya saya berteriak meminta tolong. Meminta obat. Saya mengiba semalaman meminta diberi obat, saya sudah tidak kuat. Rasanya saya berada di gerbang kematian tadi malam.

Orang-orang berbaju putih itu mendatangi saya, mengerubungi seperti lalat, tapi tak satupun dari mereka memberi obat seperti yang saya minta. Mereka malah sibuk mengompres badan saya, memegangi tangan dan kaki saya yang terus menggelinjang karena sakit, mencekoki saya dengan larutan manis yang entah apa, tapi bukan obat yang saya minta.

Setelah cairan itu masuk kedalam kerongkongan, saya merasakan otot-otot saya mulai mengendur, rasa sakitnya sedikit demi sedikit terkikis meski badan saya masih terasa ngilu. Saya bergelung memeluk lutut, masih mengigil, masih berkeringat. Rasanya lelah, tapi saya tidak lantas bisa terlelap. Tiba-tiba saya teringat Tuhan, kemudian saya bertanya dalam hening : “Tuhan sekarangkah ajal saya akan tiba?” Tidak ada sahutan. Saya mengulanginya dengan berteriak, tetap tidak ada jawaban. Senyap.

Satu persatu orang di dalam lingkaran itu berdiri ke poros, menceritakan pengalaman mereka. Kepala saya semakin berdenyut, mendidih akibat dualisme antara kejadian tadi malam dengan bingung memulai dari mana cerita yang harus saya bagi dengan mereka. Saya tidak mungkin menceritakan semuanya, dengan seperti ini saja saya sudah cukup malu apalagi kalau harus membagi latar belakang pemicu kejadiannya. Rasanya tidak mungkin, saya masih belum mau.

Tuhan masih baik terhadap saya, tepat setelah orang yang duduk di sebelah selesai membagi pengalamannya, yang berarti giliran saya berikutnya, sesi dipotong break istirahat. Saya menghela nafas panjang, lega. Waktu saya bertambah untuk sekedar mengkarang cerita, merangkai kejadian yang tidak saya alami tapi akan saya bilang bahwa itu pemicu semuanya.

Saya beranjak ke pojokan, memisahkan diri dari mereka. Rasanya hanya ingin sendiri, ingin segera keluar dari tempat ini. Saya seperti dipenjara, banyak peraturan. Dan yang paling sedih, saya harus berpisah dengan teman-teman. Mereka yang justru disalahkan keluarga saya karena menjerumuskan saya ke pergaulan yang dianggap salah. Padahal bukan karena mereka, saya hanya mencari pelarian.

Saya terperanjat ketika ada orang yang tiba-tiba duduk di sebelah, saya meliriknya. Dia ternyata, salah seorang dari kelompok saya. Seseorang yang selalu duduk tepat di seberang saya dalam lingkaran beberapa hari ini. Seseorang yang selalu tersenyum manis ke arah saya, entah apa maksudnya. Senyum penuh makna yang kadang membuat saya tersipu di tengah dentangan lonceng besar di dalam kepala. Sorot matanya ketika tersenyum seakan meredam bunyi lonceng itu. Membawa ketentraman.

“Saya David. Kamu pasti sudah tahu. Kita sudah berkenalan di sesi awal beberapa hari lalu bukan?” Dia berkata sambil menyodorkan segelas teh hangat. Saya sebetulnya tidak sedang ingin minum, makanya tadi saya tidak mendekati ke meja snack. Tapi mau tidak mau saya menerima gelas yang ditawarkan David.

“Terima kasih” Saya berkata pelan.

“Kamu terlihat selalu muram. Mendung. Cobalah sesekali menikmati suasana disini, biar kamu cepat sembuh” Ada ketulusan di balik perkataanya. Saya hanya tersenyum, mungkin senyum yang tidak setulus perkataanya. Seolah dipaksakan.

“kalau boleh saya tebak, you’re gay!” dia tanpa ada beban mengatakan itu di hadapan saya. Saya yang merasa dituduh kemudian berlaku defensif , mencoba berkelit.

“Sok tahu kamu! Kalaupun saya memang iya seperti yang kamu tebak, apa pedulimu? Apa urusan kamu?” sengit saya menjawab.

David malah tertawa kemudian bangkit dari duduknya. Memegang kepala saya sambil berkata, “it was so obvious darling! Tapi tenang saja, saya tidak akan menyebarkannya, karena kamu pikir memangnya saya bukan? Saya sama dengan kamu” David berjalan meninggalkan saya yang masih terkejut dengan kalimat terakhirnya. Setelah beberapa langkah David menoleh dan bilang “saya suka kalau kamu tersenyum”

Lonceng masih berdentang tak karuan di kepala saya, masih membuatnya berat tapi saya merasa tiba-tiba hati saya hangat. Ternyata di tempat seperti ini saya masih bisa ditemukan. Di panti rehabilitasi narkoba, David masih bisa menemukan saya, membaui keanomalian yang justru sedang saya bawa berlari entah kemana. Tanpa tujuan.

Note: Dah ketebakkan? Ini pastinya PIKTIP, jadi saya tidak perlu bersumpah segala kali ini. ;)