Sabtu, 31 Desember 2011

Review 2011

Well, mari kita riview apa-apa saja yang sudah saya alami selama tahun 2011 ini. Memang banyak kalau dirunut satu-satu, tapi mari kita lihat dari momen-momen paling dramatis atau paling membahagiakan, atau mungkin paling lebay sekalipun. Ini dari kacamata saya lho yah, jadi jangan berharap yang macam-macam.

Tahun ini saya masih belum boleh sekolah. Ya tahu lah kalau di lembaga riset milik kementrian begini, banyak yang ngantri. Dan yang di posisi paling depan tampak nggak maju-maju sampai rasanya pengen jorokin mereka ke kolam hiu. Wooy, yang ngantri di belakang banyak wooy...Kalau situ nggak bergerak-bergerak gimana yang belakang mau sekolah. Tapi menurut saya sekolah itu rezeki, jadi kalau saya belum diijinkan dan belum lolos beasiswa yang saya lamar diam-diam artinya rezeki saya belum tiba. Dan kata agama juga, Allah akan memberikan sesuatu itu indah pada waktunya. Tahun ini belum indah, jadi ya terima nasib aja. (Baca: paragraf ini intinya membesarkan hati sendiri).

Berhubung sekolah masih belum boleh dan saya tetap harus merasa eksis, saya kasak-kusuk mencari dimana saya bisa mengaktualisasikan diri (tampil, red). Dan Alhamdulillah tahun ini saya dipercaya mengelola 9 proyek penelitian di berbagai daerah yang artinya tahun ini saya banyak perjalanan dinas. Dan berkat proyek-proyek tersebut saya bisa mencicip tempat-tempat yang tidak pernah saya bayangkan bisa menginjakan kaki kesana. Saya berkenalan dengan tanah di pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat, dengan persawahan di desa adat Tana Toraja, dengan panas sengatan matahari di pinggiran pantai wilayah Gunung Kidul, dan terakhir dengan banci-banci transgender di kawasan jalur Gaza di Bali. Maaf, yang terakhir tidak termasuk dalam penelitian. Tapi dikunjungi saking penasarannya saat jadi nara sumber di salah satu kampus di Bali. (Baca: paragraf ini intinya uang saya banyak. Seharusnya. Tapi yah tahu juga birokrasi pemerintahan kita seperti apa. Banyak sunat sana-sini).

Banyak kegiatan wara-wiri ditambah sok totally into diet dan hit the gym like crazy bikin tipes saya berulang. Walhasil saya terpaksa harus mengucapkan salam perpisahan kepada aktivitas diet dan jadwal fitness yang padat. Untuk urusan wara-wiri saya tidak melepaskannya karena ini masalah kepercayaan donatur dan lebih ke masalah uang. Kalau saya tidak wara-wiri, saya nggak punya uang, yang artinya saya akan terganggu jadwalnya dalam menyambangi berbagai midnite sale di mall-mall Jakarta. Jadi sepanjang tahun ini saya selalu berdoa semoga diberi kesehatan yang purna. (Baca: paragraf ini intinya “selamat datang kegemukan” Sixpacks di perut saya tinggal garis-garisnya, garis imajiner tentu saja).

Untuk urusan cinta jangan ditanya, tahun ini saya memecahkan rekor. Tidak ada sekalipun patah hati menyambangi pelataran hidup saya. Bukan hebat, tapi karena sepanjang tahun ini saya tidak pacaran. Terdengar menyedihkan kan? Memang *lari ke pojokan* *sesenggukan* Ada sih beberapa prospekan, tapi ternyata sebelum semuanya jelas sudah keburu saya buang ke keranjang sampah karena satu dan lain hal. Eh bahkan tahun ini saya didatangi seseorang yang pendekatan dari awal sudah mengarah ke soal pernikahan. Tapi seperti biasa, semua hanya angin surga. Sebelum terealisasi, saya dibangunkan paksa dan berjalan lagi sendirian. (Baca: paragraf ini intinya I’m unlucky lover).

Galau adalah satu kata yang overused di tahun ini. Dan saya mencandunya sangat, mengawinkannya dengan drama. Jadi kalau soal drama nan galau saya pasti jawaranya, tapi jangan khawatir, itu semua hanya artifisial. Tipuan. Jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tulis, saya hanya seorang pencerita, penggagas drama tanpa suara di dalam kepala. Dan sebagai orang yang sangat kekinian, saya juga ingin menjual kegalauan yang lagi trend di tahun ini. Sekedar mengikuti alur jaman. Eh tapi tahun lalu, tahun lalunya lagi saya tetap galau kan yah? Berarti.... (Baca: paragraf ini intinya saya penipu ulung. Yang galau).

Hmm, apalagi yah? Kayaknya udah kepanjangan. Eh satu lagi deh, tahun ini saya belum berhasil move on dari dia yang sekarang tinggal di negara tetangga. Bukan move on dari mencintai dia sih, tapi move on dari perasaan bahwa diantara saya dan dia pernah ada sesuatu. Move on dari masa lalunya yang susah, kalau dari rasa cintanya sih udah dari jaman kapan tau. Tapi mau bagaimana lagi, salah satu cara memaknainya hanya dengan menikmati aja perasaan nggak bisa move on ini aja. Lumayan bisa jadi ide tulisan, bukan? (Baca: paragraf ini intinya saya masih hidup di masa lalu)

Sekarang beneran udahan ah, saya kemudian hanya berharap kalau hidup saya ke depan seperti saat-saat saya menjelang sidang skripsi dan tesis dulu, karena menjelang sidang saya menjadi pribadi yang rajin beribadah dan dekat dengan Tuhannya serta jauh dari perbuatan maksiat. Amin. Sekiyan.

Akhirnya, saya Apisindica mengucapkan: “Selamat tinggal 2011 dan selamat datang tahun yang baru 2012” Semoga semua berjalan dengan baik, damai dan tentram ke depannya dalam semua lini kehidupan. Amin. *ciyum yang baca satu-satu* *celepoooot* *digampar terompet*

Kamis, 29 Desember 2011

Mahal Nggak?

Semalam saya pulang agak terlambat dari kantor. Masih ada puluhan DNA yang harus dianalisis sehingga saya harus merelakan jam pulang kantor lebih lama dari biasanya. Ini sudah menjelang akhir tahun tapi pekerjaan saya masih menumpuk dan lembur adalah bentuk konsekuensi yang harus saya hadapi karena terlalu banyak bepergian ke luar kota dan meninggalkan DNA-DNA itu tersimpan rapi di dalam lemari pendingin.

Ya, dan semalam saya sendirian. Setelah menyelesaikan proses retriksi hampir belasan DNA saya memutuskan untuk pulang. Mata dan tenaga rasanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, keduanya berebutan minta diistirahatkan karena terlalu saya porsir hari itu. Saya hanya keluar lab untuk keperluan ke kamar kecil dan makan. Selebihnya saya menjelma menjadi seorang peneliti (baca: sungguhan) yang dikejar target para donatur penelitian saya.

Ketika saya pulang, sudah bisa ditebak kalau kondisi laboratorium sudah sunyi senyap. Tidak ada lagi aktivitas orang atau bunyi alat-alat yang biasanya ribut mengisi lorong-lorong laboratorium yang panjang. Begitupun area parkir, hanya tersisa kendaraan saya yang terlihat menggigil kuyup karena diguyur hujan sepanjang sore. Untung saya memarkirkan kendaraan itu tidak telalu jauh dari pos satpam jadi saya masih bisa melihat aktivitas para satpam yang sebagian malah sibuk menonton tayangan televisi.

Belum genap saya membuka kendaraan saya, dari jarak agak jauh saya melihat segerombolan orang, lebih dari 3 orang jalan sedikit tergesa mendekat ke arah saya. Kondisi yang agak temaram dan mata yang sudah ngantuk berat membuat saya tidak dengan jelas bisa melihat siapa mereka, yang pasti saya tahu mereka berjalan ke arah saya. Buru-buru saya membuka kendaraan saya, tapi sebelum masuk saya bisa dengan jelas melihat gerombolan yang semakin mendekat itu. Mereka adalah para office boy dan cleaning service di kantor ini.

Mau apa mereka? Apa ada barang-barang saya yang tercecer di laboratorium atau ruang kerja saya? Apa mereka punya motif lain melihat ketergesa-gesaan mereka mendekat ke arah saya? Maklum hari ini beberapa orang dari mereka memang saya marahi. Bagaimana tidak marah kalau ketika saya datang, ruangan yang biasanya sudah rapi tersapu dan terpel ternyata masih kotor dan berantakan, kemudian galon air mineral kosong yang dari kemarin sorenya saya minta diisi belum juga diganti. Tekanan pekerjaan menjelang limit akhir membuat sumbu emosi saya terbakar lebih dari biasanya.

Semakin mereka mendekat tergesa, semakin saya gemetar menyalakan kendaraan saya. Semua jendela sudah tertutup rapat, jadi setidaknya saya lebih merasa aman. Saya menunggu, tidak menggerakan kendaraan saya. Di tengah deraan takut saya masih penasaran sebenarnya apa yang mereka mau lakukan. Sesaat setelah mereka berada di sebelah kendaraan saya, salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela. Saya turunkan sedikit jendelanya, dan bertanya “ada apa?”

“ Maaf Pak, saya cuma mau tanya kalau parfum yang Bapak pakai mereknya apa yah Pak? Wanginya enak. Dan maaf lho Pak nanyanya di parkiran, kalau di kantor malu sama temen-temen Bapak yang lain?”

Lemas saya terduduk di kursi. Otot yang semula tegang rasanya seperti dilolosi. Perasaan saya campur aduk antara ingin marah dan geli. Dan mau tidak mau, saya menyebutkan merek parfum yang saya pakai meskipun sesaat kemudian saya panik. Bagaimana kalau nanti satu kantor wangi parfumnya sama semua, dan itu dipakai oleh para office boy dan cleaning service. Bisa rusak reputasi saya (#ditampar).

Ditengah kelegaan saya, salah satu dari mereka bertanya lagi “Mahal nggak Pak?” Sembari memajukan kendaraan saya tersenyum dan menjawab “Lumayan”

Kendaraan saya menjauhi mereka. Saya tertawa seperti orang tolol di tengah jalanan yang mulai lengang tanpa kemacetan seperti biasanya. Dan pertanyaan bodoh terlontar dari benak saya, tadi keteka ada yang bertanya “Mahal nggak Pak?” itu maksudnya parfum saya yang mahal, atau saya yang mahal yah?

#kemudianhening

Selasa, 27 Desember 2011

3 Dasawarsa

Babak baru dalam kehidupan saya baru saja dimulai. Babak yang seharusnya nanti saya isi dengan berbagai kebaikan dan kebenaran yang tidak lagi penuh kompromi. Dulu sebelum sampai pada tahapan ini saya selalu berdoa agar segera terbebaskan dari belenggu kelabu, terlepas dari area abu-abu. Tapi sepertinya saya masih sedemikian betah terayunambingkan ketidakpastian, hidup dengan pembenaran yang sebetulnya adalah sebuah penyangkalan.

Waktu terus begerak tak bisa ditahan, mengantarkan saya dari satu undakan ke undakan di atasnya. Memapah saya pada tujuan yang entah seperti apa karena saya juga belum tahu akhir ceritanya. Dan malam ini ribuan detik mengantarkan saya pada gerbang babak baru yang harus saya jalani. Saya masih terjaga dalam senyap guna melakukan ritual sederhana sebelum saya melangkah pada gerbang baru yang akan terbuka perlahan.

Saya duduk dalam perasaan sederhana. Berusaha merefleksi apa-apa saja yang sudah saya lakukan di waktu terdahulu sebelum saya melangkah melalui gerbang baru. Saya ingin di waktu yang masih tersisa, saya bisa menandai hal-hal yang tidak boleh saya ulangi ketika kaki saya genap menjajak pada babak baru yang tidak bisa saya undur-undur lagi. Saya ingin di akhir saya merefleksi saya bisa lebur dalam perasaan syukur luar biasa karena lagi-lagi saya masih diberi kesempatan yang luar biasa oleh Tuhan. Menjejak usia 30 Tahun.

Tidak ada pesta. Tidak ada acara keriaan semisal menghentak lantai dansa seperti yang sering saya lakukan ketika saya mendapatkan berkah yang sama di tahun-tahun yang telah silam. Saya hanya ingin diam sambil menatap redup lilin yang menyala di atas tart yang untuk tahun ini saya beli sendiri sambil terus bersyukur dan bersyukur. Menghitung semua hadiah yang telah diberikan Tuhan dalam perjalanan seorang Apisindica, termasuk perasaan mengerti bahwa kadang banyak mimpi yang hanya bisa dipelihara sebagai mimpi.

Saya bersukur kepada Tuhan, bahwa sampai umur saya yang ke-30 Tuhan tidak pernah pergi meninggalkan saya bahkan ketika saya sedang alpa. Tuhan selalu ada ketika saya sedang butuh perbincangan misterius yang berujung sebuah ketenangan. Kapan saja dan dimana saja. Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan keluarga, sahabat, teman dan kolega yang turut juga menghiasi dan memberikan arti tersendiri dalam kehidupan saya. Tanpa dukungan dari mereka semua maka saya tidak akan menjadi siapa-siapa.

Ijinkan saya di babak baru ini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut campur tangan dalam mendewasakan saya, baik dengan cara yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Semua saya maknai sebagai cara yang memang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukannya pecundang. Kalianlah yang membuat saya menjadi sekuat ini, karena itu saya bersyukur dan berterima kasih. Mengenal dan memiliki kalian adalah hal yag tidak akan pernah saya sesali sampai mati.

Doa saya yang paling utama hari ini (masih) sama dengan tahun-tahun sebelumnya, semoga saya diberi kesempatan untuk terus bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini. Merangkak dan belajar menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah engkau tentukan. Amin.

Selamat ulang tahun Apisindica...

Minggu, 25 Desember 2011

Pulang

Saya senang pulang ke rumah.

Rumah tempat saya tumbuh dari belum mengenal dengan jelas apa itu dunia sampai saya dengan jelas mengotori dunia. Rumah tempat saya merasa nyaman dan aman karena saya tidak perlu lagi bersembunyi dari berbagai hal yang membuat saya gentar dan gemetar.

Saya senang pulang ke rumah.

Semua beban dan masalah di luaran saya tanggalkan di depan pintu tanpa saya bawa masuk. Meskipun pada akhirnya semua beban tersebut harus saya kenakan kembali nanti, tapi saya ingin mereka tidak membebani saya ketika saya berada di dalam rumah. Saya ingin lupa sejenak tentang semua yang memberatkan langkah dan pikiran ketika saya selonjoran di sofa depan televisi di rumah ini.

Rumah ini. Bangunan tempat saya melambungkan angan. Tempat saya menggantungkan harapan. Tempat saya menyandarkan kesedihan yang membandel tidak mau saya tanggalkan di halaman. Tempat saya sembunyi-sembunyi memintal perasaan suka terhadap seseorang yang kemudian setelah berani saya undang seseorang itu untuk datang bertandang. Rumah ini saksi semuanya, tempat saya mencetak tawa dan mengenyahkan air mata.

Saya senang pulang ke rumah.

Berbincang di meja makan malam-malam bersama Mami sambil makan es krim berkotak-kotak. Membicarakan dari sesuatu yang penting seperti gambaran masa depan sampai hanya gosip para tetangga. Keintiman ibu dan anak yang seperti biasa sejak jaman saya balita (akan) selalu diterminasi karena Mami mendapatkan telepon yang mengabarkan bahwa ada pasien yang akan melahirkan, entah dengan cara normal maupun seksio caesaria. Dan kebahagiaan sederhana itu menguap seiring dengan mobil yang pergi keluar gerbang. Tapi saya tidak pernah khawatir karena momen seperti itu akan berulang esok hari dengan akhir yang (biasanya) sama.

Saya senang pulang ke rumah.

Di rumah ini saya akan tetap menjadi anak kecil yang senang dimanjakan. Tidak peduli sudah sekian angka yang tercetak dalam lintasan usia karena setiap kali saya pulang ke rumah, saya akan menjadi seorang anak yang senang didongengkan cerita khayal sebelum tidur. Atau seorang anak yang dengan bebas berlarian mengitari kursi-kursi di ruang tengah bahkan meloncat-loncat di atas tempat tidur empuk milik orang tuanya.

Saya senang pulang ke rumah.

Sekedar bernostalgia bahwa saya pernah bahagia dan masih bahagia dengan cara yang tentu saja berbeda. Sejauh apapun saya melangkah pergi, saya yakin bahwa saya pasti akan melangkah pulang. Ke rumah kami.

Bandung, 25 Desember 2011

Kamis, 22 Desember 2011

Mother's Day

Selamat hari ibu, Mami.

Terima kasih untuk selalu menjadi seorang ibu lebah yang bijaksana. Ibu lebah yang tidak pernah lelah mengumpulkan madu dari kuntum-kuntum bunga beraneka warna demi aku anakmu.

Lewat keuletanmu memelihara sarang tempat aku melabuhkan nyaman, aku belajar dan bersyukur. Belajar bahwa tidak ada yang mudah diraih dalam kehidupan. Tidak ada kenikmatan dan kekayaan yang serta merta datang tanpa kerja keras dan cucuran peluh penuh perjuangan. Karena itu aku bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi seorang ibu berhati malaikat sebagai model untukku mengarungi kehidupan.

Pasti banyak hal yang telah aku lakukan dan ternyata membuat mami keberatan serta tidak merasa senang. Tapi Mami tidak lantas meninggalkan aku atau menghentikan kasih sayang yang selalu tercurah seperti hujan. Lewat kalimat-kalimat bijaksana dan menyejukkan mami ungkapkan keberatan serta rasa tidak senang yang mami rasakan. Dan itu menurutku lebih ampuh dibanding makian bahkan pukulan sekalipun. Aku menjadi mengerti serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.

Buat aku mami layaknya malaikat yang selalu membimbingku menapaki jalan hidup yang tidak gampang. Memang sesekali aku tergelincir karena aku lebih memilih tergoda hasutan yang dibisikan setan, tapi mami tidak pernah bosan untuk terus mengingatkan bahwa kebenaran itu harus tetap dijalankan. Mami selalu ada ketika aku sedang merasa sangat kotor, dan mami seperti biasa tidak pernah merasa jijik untuk memandikanku dan menjadikanku bersih kembali. Untuk itu sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menghadiahiku mami sebagai kado terindah sepanjang zaman.

Selamat hari ibu, Mam..

Semoga mami senantiasa diberi limpahan kesehatan untuk terus mengarungi hidup yang tidak pernah sepi cobaan. Semoga mami tetap istiqomah dalam menjalankan tugas yang telah diamanatkan Tuhan, baik itu tugas membimbing aku maupun menolong ribuan pasien yang membutuhkan bantuan. Aku sangat tahu mami memiliki kapasitas lebih dari itu. Dan aku bangga karenanya. Memiliki Mami yang canggih luar biasa.

I love my mom no matter what we go through and no matter how much we argue because i know, in the end, she’ll always be there for me. I love you Mom!!!

Senin, 19 Desember 2011

(sekedar) Unek-Unek

Aku rindu sebuah hubungan intelektual. Hubungan yang akan saling menggali isi di balik tempurung kepala dua orang yang saling mencinta.

Aku bosan dengan hubungan yang kosong layaknya cangkang kepompong yang sudah ditinggalkan kupu-kupu purna bertransformasi dari sebentuk larva. Hubungan tanpa isi yang hanya mengumbar penggalan-penggalan drama tanpa makna. Hubungan yang lebih banyak mempertontonkan hal yang sebetulnya tidak perlu. Hubungan tak sarat kualitas karena dasar hubungan tersebut tidak pernah jelas mengenai apa.

Dan aku bosan dengan itu. Aku tidak ingin (lagi) hubungan yang hanya banyak diisi oleh saling bergenggaman tangan di bawah meja saat aku dan dia menikmati santapan makan malam di sebuah restauran yang temaram. Atau hubungan yang lebih banyak diisi dengan kegiatan mencuri-curi kesempatan untuk berduaan karena aku dan dia sebetulnya tidak ingin ketahuan. Aku bosan dengan semua ritual-ritual tersebut.

Aku sudah tidak lagi muda. Kalau diibaratkan makanan dalam kemasan mungkin aku sudah bisa dibilang menjelang waktu kadaluarsa. Karena itu aku ingin sebuah hubungan yang berkualitas, hubungan intelektual yang akan mensejajarkan aku dan dia dalam cara pandang yang sama dalam melihat sesuatu.

Aku bukan orang yang memiliki intelektualitas tinggi, sehingga aku juga tidak mengharapkan seseorang yang memiliki kapasitas lebih dari itu. Tapi setidaknya aku ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diisi dengan saling mendengarkan. Kalau perlu sesekali diselingi dengan perdebatan tentang sesuatu yang memiliki dasar keilmuan. Bukan diisi dengan banyak perdebatan mengenai misalnya kenapa seharian aku tidak ada kabar. Atau mengapa aku terlambat membalas sms yang dia kirimkan.

Hubungan intelektual. Mungkin terdengar berat untuk dijalankan. Tapi tidak, karena dalam hubungan intelektual, aku dan kamu tidak perlu membahas mengenai relativitas Einstein sebagai dasar dibangunnya mesin waktu. Aku hanya ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diskusi, bukan hanya tentang hari ini tapi juga tentang masa depan dan bagaimana kita merencanakannya dalam kerangka impian. Apa itu sebuah hal yang muluk-muluk?

Aku mengharapkan seseorang yang tidak hanya bisa diandalkan untuk memeluk ketika aku sedang risau. Aku butuh pasangan yang bisa dijadikan sebagai lawan diskusi mengenai masalah yang aku temui dalam pekerjaan. Dan aku akan berlaku sebaliknya. Berusaha ikut memecahkan masalahnya yang dia hadapi dalam pekerjaannya. Mungkin tidak kontekstual, tapi setidaknya bisa berdasarkan akal dan nalar.

Aku tidak lagi muda sehingga aku mengharapkansebuah hubungan intelektual. Hubungan berkualitas yang terus akan mendewasakan dua orang pelaku yang bergenggaman di dalamnya. Aku tahu, aku terlalu banyak mau jadi tidak heran kalau sampai saat ini aku belum juga bertemu dengan sosok yang aku harapkan. Tapi aku sudah dilatih bersabar sekian lama, jadi kalau aku masih disuruh untuk menunggu, maka kalian keliru kalau aku tidak mau.

Jumat, 16 Desember 2011

Jalanan Lengang

Lengang. Jalanan sunyi serupa pernah aku lewati beberapa kali. Jalanan tak beraspal yang menyimpan banyak jebakan berupa kubangan di tempat-tempat yang tak terduga sama sekali. Jalanan yang harus kulalui karena tidak ada jalan lain sebagai alternatif, dan kalaupun ada harus memutar jauh dan menghabiskan banyak waktu.

Aku tidak memilih jalan memutar, karena aku belum tahu medan. Belum tentu jarak yang lebih jauh menjanjikan kemulusan tanpa lubang di jalanan. Bagaimana kalau ujungnya sama saja membuat kakiku terjerembab pada kubangan yang hampir sama? Aku tidak mau bertaruh karena seringkali aku tidak beruntung. Menggadaikan perasaan percaya yang tetap tercuri simalakama.

Iya, aku terlalu penakut. Tidak mau mengambil banyak resiko dengan mencoba hal-hal baru. Aku memilih jalanan lengang yang harus dilalui tanpa penerangan. Lebih memilih meraba-raba dalam gelap dan hati-hati dalam melangkahkan kaki agar tidak berdarah saat terkatuk kerikil tajam yang acak tersebar. Aku memilih jalanan lenggang yang sepi dari lalu lalang kendaraan, sehingga aku benar-benar harus mengandalkan instuisiku sendiri. Percaya kepada apa yang aku percaya.

Sempat aku berguru pada matahari, menyerap sinarnya sepenuh mungkin dan berharap biasnya dapat kusesapkan dalam setiap sendi tubuhku sehingga dapat berpendar ketika aku dalam kegelapan. Tapi sia-sia. Matahari tidak memperbolekanku berpendar kala malam. Dia membagi sinarnya pada rembulan dan gemintang, tapi memadamkan pendarnya dalam tubuhku. Sementara bulan dan bintang seakan cemburu sehingga tidak mau menuntunku dengan cara bersembunyi di balik awan kelabu. Lagi-lagi aku berjalan dalam kegelapan. Sendirian.

Aku memilih jalanan lengang ketimbang jalanan yang ramai. Ketika sepi aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya, tidak perlu bertopeng untuk sekedar menyenangkan hati orang yang sibuk hilir mudik di trotoar jalanan yang ramai. Dalam senyap aku menemukan banyak kedamaian, terhindar dari banyak pertikaian atau paling tidak dari debu dan asap hitam knalpot kendaraan. Aku bisa menjadi aku. Aku bebas berekspresi tentang sesuatu.

Iya, mungkin aku terlalu penakut untuk menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Aku belum cukup bekal untuk dilepas di rimba yang penuh dengan kepalsuan. Dengan cahaya-cahaya benderang yang yang justru menyesatkan, aku takut tidak bisa lagi pulang. Dengan warna-warna yang memabukkan, aku khawatir malah tidak mau pulang sementara aku sadar bahwa akhirnya aku harus hidup dengan benar. Tanpa embel-embel kepalsuan.

Sudah saatnya saya menanggalkan baju yang selama ini saya pakai, menggantinya dengan kain yang akan saya kenakan dalam keabadian. Merintis lagi kepercayaan bahwa kehakikian akan datang meski belakangan dan lewat jalan sepi yang temaram. Bukan lewat jalan yang penuh gegap gempita yang selama ini aku bayangkan.

Dalam ketakutan aku memilih jalanan lengang yang pasti penuh cobaan. Dalam ketakutan aku berserah pada doa agar aku selamat sampai tujuan, tidak peduli kalau perjalanan ini menghasilkan ribuan benjol kapalan. Setidaknya aku ingin hidup lebih baik dari sekarang, tidak lagi menyangkal dan bernafas lega tanpa banyak penyesalan.

Rabu, 14 Desember 2011

Ilalang

Sebut saja dia ilalang. Gulma perusak tanaman budidaya yang mudah sekali tumbuh tanpa perlu perawatan yang berarti. Tidak perlu pupuk, tidak perlu pengairan yang cukup, dan dia akan tetap hidup dengan subur menghimpun suatu kekuatan.

Lewat geragih yang tidak tampak mata dia beranak pinak membentuk suatu perkumpulan sehingga semakin sulit dihilangkan. Dan dia pintar, ketika lingkungan sebegitu tidak menguntungkan dia meranggaskan tajuknya hingga tampak seolah-olah mati. Tapi di dalam tanah dia bersinergi, mengumpulkan kepercayaan-kepercayaan baru untuk diretasnya kembali ketika hujan mulai datang di penghujung kemarau panjang.

Sebut saja dia ilalang. Musuh yang paling ditakuti tanaman budidaya yang disayangi petani. Penuh rakus ilalang akan menghabiskan nutrisi yang digelontorkan petani untuk tanaman yang mereka sayangi. Tanpa kenal ampun ilalang akan berkompetisi untuk memperoleh area hidup yang sedemikian luas dengan cara tumbuh lebih cepat dari semestinya. Lewat mekanisme alelopati, ilalang mengeluarkan racun untuk membunuh saingannya.

Dan apakah dengan segala usaha kerasnya itu dia lantas mendapatkan kasih sayang petani? Jawabannya tetap tidak. Petani akan berusaha lebih giat untuk melenyapkannya, tidak peduli harus mengeluarkan biaya ekstra bahkan mengutang pada tengkulak. Atau ketika sang petani sudah sampai pada tahap frustasi, dia akan membiarkan ilalang berkembang di lahannya tanpa pernah dia perhatikan.

Dan aku pernah hidup seperti ilalang. Tumbuh subur di pekarangan orang, berharap kalau suatu saat pemilik pekarangan tidak lagi merawat bunga layu yang tumbuh di sudut halaman dan berpaling ke arahku sekedar mencari penyegaran. Bunga itu sudah layu, sudah tidak pantas dipertahankan menghiasi pekarangannya yang nyaman. Karenanya aku berusaha keras menjalar ke semua penjuru untuk mencuri sedikit perhatian. Menyemai kepercayaan kalau suatu saat dia akan tersadar dan memilihku sebagai pengganti bunga yang layu.

Bunga itu tetap di tempatnya. Mengeringkan sisa kelopaknya yang pernah menjadi bagian indah dari pekarangan yang nyaman. Aku tahu bunga itu tidak ingin dipertahankan, aku tahu bunga itu hanya menuntaskan sisa-sisa harapannya untuk kemudian mati total. Tidak peduli pada pemilik pekarangan yang bersikukuh ingin mempertahankan meski dia tahu alur cerita yang akan dia hadang.

Dan aku salah. Memilih menyemai benih ketika bunga itu sepenuhnya belum meranggas kering. Dan aku salah. Melancarkan banyak usaha ketika pemilik pekarangan masih gamang antara bertahan atau bergerak meninggalkan. Pemilik pekarangan dilimbung bingung, sehingga akhirnya dia memilih untuk tidak memperhatikan ilalang kusam yang tumbuh disudut yang berlainan.

Sebut saja aku ilalang. Tumbuh liar di pekarang yang masih menjadi milik orang. Penuh upaya aku membuktikan kalau aku mampu bertahan walau tidak banyak kasih yang dicurahkan. Sebut saja aku ilalang, gulma pengganggu hubungan orang. Tanpa bermaksud ingin dibandingkan, aku hanya hadir dalam sebuah kekeliruan. Hingga akhirnya aku lelah dan meranggas kerontang.

Selayaknya ilalang, akan ada saatnya untuk aku menepi kemudian mati.

Senin, 12 Desember 2011

Jendela Tua

Tidak ada yang tahu kalau diam-diam aku sering bercerita kepada jendela tua di rumah itu. Jendela tanpa tirai yang menjadi semacam tempat pelarianku dari berbagai macam persoalan. Kepadanya aku tidak hanya bercerita, tapi aku menggambarkannya dengan serangkaian huruf-huruf yang mungkin hanya dipahami oleh aku dan dia.

Pada bingkai kayunya, aku membisikan semua rahasia yang sejak lama aku simpan. Aku mempercayainya sehingga aku tidak khawatir kalau dia akan mengkhianatiku dengan membewarakannya kepada angin. Aku mempercayai dia segenap hati, apalagi aku dan dia sudah melakukan sumpah darah yang tidak akan kami langgar. Kulukai ujung jariku dengan peniti kemudian kuteteskan ke salah satu bagian bingkainya yang berlubang. Sumpah sakralpun kemudian aku rapal dalam diam.

Meski dia tidak bicara apa-apa, aku tahu kalau dia mengerti tentang kesepakatan kami. Karena itu jugalah aku mempertaruhkan kepercayaanku kepadanya. Menampilkan diriku yang paling polos tanpa berbalut lagi banyak kebohongan. Di hadapannya aku ingin tampil selayaknya anak kecil yang tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan. Di hadapannya aku ingin muncul sebagai aku yang belum pernah mengenal dusta.

Sering malam-malam aku mengendap ke arahnya. Suara aku buat seminim mungkin karena aku tidak ingin membangunkan banyak orang yang justru akan merusak ritualku bercerita pada sebuah jendela tua. Dengan menyenandungkan syair lirih aku mulai bercerita tentang lagi-lagi cinta. Kuharap dia tidak akan pernah bosan dengan penggalan-penggalan cerita yang aku utarakan. Cerita mengenai cinta yang mungkin membosankan. Cinta yang seringkali tidak pernah tersampaikan.

Aku tidak peduli. Aku terus bercerita. Aku terus memupuk kepercayaan kepada sebuah jendela tua.

Dan dia memang setia. Sampai suatu saat ketika dia tergoda oleh sebungkus kembang gula. Dengan lancar dia menceritakan apa saja yang sudah aku percayakan kepada orang asing yang berteduh di dekatnya kala hari hujan. Hanya demi sebuah kembang gula murah dia mengkhianatiku. Demi sebuah sensasi manis perantaraan kembang gula yang dijanjikan orang asing itu dia mengumbar rahasiaku sampai ke yang paling kelam.

Tentu saja aku marah. Merasa dikhianati oleh seorang sahabat yang diikat oleh sumpah darah tempo hari. Dengan berlari aku mendatanginya. Nafasku tersenggal-senggal karena diburu amarah seperti sumbu yang tersulut minyak di bagian bawahnya dan api di atasnya. Aku berteriak-teriak di hadapan jendela tua yang selama ini menjadi sahabatku. Meminta penjelasan atas apa yang sudah dia lakukan. Mengkhianati sumpah untuk tidak pernah menceritakan apapun yang aku ceritakan pada orang lain, apalagi orang asing. Aku benar-benar marah.

Di ujung penggugatanku, aku menangis. Rasanya dikhianati oleh jendela tua yang sudah aku anggap sebagai sahabat yang paling setia itu seperti dibenamkan pada pasir hisap tanpa bisa bernafas lagi. Aku terus menangis. Menggugatnya dengan berbagai pertanyaan sambil kutunjuk-tunjuk tempat dimana aku meneteskan darahku pada bagian bingkainya yang berlubang. Tapi dia tetap diam.

Lama hening membalut kami. Aku kelelahan setelah menuntaskan amarahku yang menggebu, sementara dia masih saja diam tidak menggubris kata-kata yang sudah aku lontarkan. Di ujung kelelahanku, perlahan aku melihat sekelompok embun menutupi kacanya yang tidak bertirai. Embun itu berkumpul dan lama-lama berubah menjadi tetes-tetes air yang membanjiri bingkainya yang usang dimakan usia. Dia menangis.

Sesaat kemudian aku mendengar dia berbisik pelan. Aku dekatkan telingaku ke arahnya agar bisa dengan jelas menangkap apa yang ingin dia utarakan. Masih sambil menangis dia berbisik “Aku menceritakan kepada orang lain karena aku sangat menyayangimu. Aku ingin ada orang lain yang tahu kalau kamu sebetulnya butuh pertolongan”

Aku kemudian hanya bisa diam. Tanpa daya. Kemudian yang kulihat hanyalah gelap.

Kamis, 08 Desember 2011

Asimtot

Gedung Kuliah Umum (GKU) lama, Institut Teknologi Bandung, Pertengahan tahun 1999. Untuk kesekian kalinya pada mata kuliah kalkulus 1 aku mendengar dan mengerjakan latihan soal mengenai asimtot. Seperti bahasan-bahasan lain sebetulnya dimana aku tidak pernah mengerti untuk apa sesuatu yang absurd seperti itu dipelajari. Entah apa kepentingannya sampai aku harus bersusah payah mengerjakan soal tentang suatu garis lurus yang didekati oleh kurva lengkung dengan jarak semakin lama semakin kecil mendekati nol di jauh tak terhingga.

Aku tidak pernah mengerti apa itu asimtot. Mengapa ada garis yang mendekati suatu garis lain yang berbentuk kurva tanpa pernah bisa menyentuhnya hingga saling berpotongan? Aku tidak mengerti konsep asimtot sampai aku mengenalmu.

Dari asimtot aku kemudian mengenal konsep pasangan rel kereta api, yang juga tidak aku mengerti. Seperti asimtot, pasangan rel tersebut terus beriringan tanpa pernah bisa saling beririsan. Tidak ada satu titik tujuan yang membuat keduanya untuk saling bertemu atau paling tidak bersentuhan. Asimtot mungkin lebih beruntung karena garis yang satu terus mendekati garis yang lainnya sampai batas tak hingga meski hasil akhirnya juga tetap tidak berpotongan. Tapi rel kereta berbeda, sepanjang jalan dari satu tujuan ke tujuan berikutnya mereka dipisahkan oleh jarak yang sama tanpa bisa bersinggungan.

Dan kita selayaknya mereka. Bisa saling berpandangan tanpa pernah bisa disatukan. Aku dalam jalur yang satu dengan leluasa bisa mengamatimu yang berada di jalur yang lainnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Kita saling berdekatan, tapi karena sesuatu yang sudah ditakdirkan kita tidak bisa saling berpegangan. Hanya bisa saling mengutarakan rasa lewat getaran-getaran tak kasat mata yang tercipta ketika serombongan gerbong-gerbong itu melintas di atas kita. Sebuah sarana yang aku manfaatkan betul keberadaanya hanya untuk sekedar melepaskan rasa yang entah bisa dikatagorikan sebagai apa.

Kita memilih berbagi kesakitan yang sama. Membagi sama rata titik berat ketika kereta melindasi kita sehingga tidak ada yang menanggung lebih dari kesengsaraan yang tercipta. Lewat cara-cara yang sederhana seperti itu kita mengumbar cinta. Lewat banyak ketidakpastian kita mempertaruhkan segala hal untuk sekedar terus berpandangan sambil mengucap banyak harapan yang sebutulnya kita tahu benar kalau itu tidak bakal kejadian.

Saat melewati satu pemberhentian, entah itu sebuah stasiun atau sebuah area luas tanpa bangunan yang hanya dijaga oleh seorang pria berseragam, aku berharap ada rekonstruksi yang akan menyatukan kita walau sesaat. Mungkin tidak akan berwujud kenyataan karena jarak sepertinya telah ditasbihkan untuk selalu berada diantara kita, tapi aku tidak lepas berdoa. Aku hanya ingin menyentuhmu dan kemudian berkata kalau aku setia kepadamu. Tidak peduli kalau itu akan merubah sebuah tatanan menjadi kongruen dan membentuk suatu bangun ruang.

Seperti asimtot aku akan berusaha terus untuk mendekat ke arahmu sampai waktu yang tak hingga. Sebuah bukti tentang kesetian yang sering kamu perbincangkan. Selayaknya bagian dari sepasang rel kereta yang akan terus mendampingi pasangannya dari satu satu pemberhentian ke pemberhentian berikutnya, aku akan setia mengumbar rasa yang lagi-lagi entah untuk apa.

Seperti asimtot yang konsepnya tidak pernah aku mengerti, kita juga tidak akan pernah saling memahami.

Selasa, 06 Desember 2011

Iklan

Aku menganggapnya sebagai iklan yang hadir dalam fragmen panjang cerita hidup yang seringkali membosankan. Dengan rutinitas yang hanya itu-itu saja, aku butuh hiburan. Sekedar pengalihan untuk sedikit mencuri-curi waktu dan bernafas leluasa. Terbebaskan.

Aku butuh banyak kejutan sebagai sarana memelihara imajinasiku yang liar tentang sesuatu. Karenanya sering aku memanfaatkan semua kesempatan sekecil apapun sambil berdoa bahwa di akhir langkah aku akan memperoleh kejutan. Entah yang menyenangkan atau justru malah menyedihkan. Tak jadi soal, aku pasti akan menikmatinya. Convekti atau air mata semua aku nikmati dengan caraku sendiri.

Yang kemarin terjadi aku anggap hanya iklan. Selingan sesaat yang menyenangkan. Ketika waktu tayangnya telah habis, maka aku akan kembali kepada fragmen-fragmen yang sudah baku tertulis di kitab takdir. Jalan hidup yang senantiasa harus aku titi sambil menunggu iklan-iklan berikutnya hadir.

Kadang iklan sebegitu menggodanya, memaksa kita merogoh lebih dalam untuk membelanjakan hati. Berharap bahwa kesenangan yang dia tawarkan dalam kemasannya memang benar adanya. Tapi hidup tidak demikian, terlalu banyak tipuan pandangan, terlalu banyak manipulasi paralaks yang membuat kita salah dalam mengartikan apa yang kita lihat. Dan semuanya sudah terlambat ketika akhirnya sadar bahwa itu adalah salah.

Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis ketika kenyataan tidak seperti yang ditawarkan dalam iklan. Sudah terlalu banyak keperihan yang justru menguatkan. Sudah terlalu kebal telapak kaki ini untuk merasakan tajam kerikil di jalanan. Aku menyikapi iklan benar-benar hanya sebuah selingan yang menyenangkan. Mewisatakan mata dan perasaan pada bentuk kemasan yang menjanjikan kesemuan. Enak dipandang tapi belum tentu nyaman dirasakan.

Aku sudah tumbuh dewasa. Tidak ada lagi air mata ketika dipaksa untuk mempercepat waktu tayang sebuah iklan padahal hati masih ingin menikmati titik-titik melodi. Aku sudah dewasa sehingga tidak lagi gamang membedakan mana kenyataan dan mana sebuah selingan, meski kadang aku terduduk lama sebelum berkemas kemudian beranjak.

Kamu kemarin, hanya aku anggap sebagai iklan. Jadi ketika di ujung waktu yang pendek itu ternyata kamu memberiku kepedihan, aku sudah membekali hati. Tidak ada penyesalan telah menikmati buaian perasaan dalam waktu yang sesaat. Tidak ada amarah ketika kamu berjalan meninggalkan, karena seperti sudah aku bilang bahwa kamu selayaknya iklan. Sebuah selingan menyenangkan, sebuah kejutan yang membuat hidupku tidak hambar.

Jangan khawatirkan aku. Sudah sering aku mengalami hal yang serupa, jadi aku akan baik-baik saja. Kalaupun sekarang aku menghilangkan semua sarana kita berkomunikasi, itu hanya karena aku tidak ingin menikmati iklan yang sama dua kali.