Rabu, 27 Agustus 2008

AM I THAT IMPORTANT?

Merasa diri penting udah jadi cap buat gue dari temen-temen. Sebenernya sih bukan merasa penting karena gue memang penting bukan? (teuteup). Memang sih, gue sering pengen jadi penting di semua bagian baik di kehidupan gue sendiri maupun di kehidupan orang lain. Padahal gue yakin i'm not that important like i thought.

Kesadaran bahwa gue nggak penting-penting amat udah jadi permulaan yang bagus. Dari kesadaran itulah gue dapet menekan sifat egois gue. Nggak selamanya hidup atau keberadaan gue menjadi sesuatu yang penting di kehidupan orang lain. Mungkin menjadi satu titik warna baru, tapi tidak lantas menjadi kesimpulan yang bisa diambil dari suatu gambar. lagian apa sih untungnya selalu berasa penting?

Ngomongin soal berasa penting, ada dua kejadian belakangan ini yang bikin gue mengelus dada sambil bertanya sama diri gue sendiri. Am I that important? Apa gue sebegitu pentingnya sampai-sampai mereka di dua kejadian tersebut menganggap gue begitu penting. Dua kejadian berbeda yang melingkarkan gue di kondisi yang sama. tersanjung sekaligus heran.

Kejadian pertama melibatkan temen gue di tempat kerja. Suatu waktu dia memutuskan untuk keluar kerja. Bukan itu yang mau gue bahas. Totally none of my business. Hidup dia keputusan dia. Yang bikin heboh, dia keluar dengan cara yang tidak "cantik", tapi itu bukan urusan gue. Dia keluar kerja sebelum dia dapet kerjaan baru. dan itu juga bukan urusan gue. lantas urusan gue apa? Kok dibahas!

Sebulan setelah dia resign, gue ditelpon dia dan mengalirlah cerita soal dia udah dapet kerjaan baru. Alhamdulillah, gue ikut seneng. Yang bikin gue bingung, kok dia ceritanya sampai detail gitu. Mulai kerjanya kapan, gajinya berapa, kosnya dimana, deket apa, temen kosannya siapa aja, tugas disana ngapain, dapet fasilitas apa aja. Detail banget kan? awalnya gue anggap itu wajar soalnya dia orangnya agak-agak "aneh" juga.

Usut punya usut, ternyata dia itu belum kerja. Gue dapet info dari sumber yang terpercaya jadi keabsahannya bisa dipertanggungjawabkan (berat banget yah bahasa gue. Gile). Nah kalo dia bohong, apa maksudnya dia cerita sedetail itu ama gue? Toh kalau dia belom kerjapun nggak akan gue hina. Siapa gue coba? Nggak punya kepentingan sama hidup dia, lagian kenal juga baru.

Sebegitu pentingnyakah gue sehingga dia musti bohong?

Kejadian kedua lebih spekta. Lebih megang. Waktu kemaren gue ada interview di Bandung (iya gue udah interview lagi. Jangan protes!) seperti biasa gue kenalan donk sama yang mau diinterview lain. Nambah temen. Nama dia xxx (censored), lulusan statistik PTN Bandung. Kenalan basa-basi gitu lah, sekedar membunuh sepi sambil nunggu dipanggil. Sebenarnya dia sih yang banyak nanya-nanya, gue banyakan sibuk sendiri.

Dia dipanggil interview duluan, abis itu gue. Pas giliran gue, interviewernya sebelom cas-cis-cus ngomong pake inggris nanya ama gue apa gue kenal sama yang diinterview sebelom gue. Gue jawab baru kenal barusan di depan. Nggak salah donk! Soalnya memang baru kenal. tapi interviewernya nanya lagi, beneran katanya gue nggak kenal sebelomnya sama "temen baru" gue itu. Ya emang gue nggak kenal, mo diapain.

Ternyata donk, kata interviewernya si "temen baru" gue itu bilang kalo dia udah kenal gue sebelumnya. What? When? Where? Maksud dia apa yah? Yang bikin gue ngakak, waktu gue keukeuh bilang kalo gue nggak kenal dia, interviewernya malah ngomong katanya mungkin gue udah terkenal sebelomnya di luaran. Artis kalee ah gue. heran deh. Memangnya "temen baru" gue itu bakal diterima kalo dia bilang kenal sama gue. Aneh.

Nah dari dua kejadian tersebut bikin gue berfikir akan dua hal. menyimpulkan lebih tepatnya. (1) Gue emang penting buat kehidupan sebagian orang (kan udah dibilang kalo nggak boleh protes!). kebuktian kan, terus (2) Berarti gue nggak salah-salah amat ketika menganggap diri penting (aduh, kok masih protes sis!). Pokoknya i'm too important to ignore. Too important for being only ordinary people. But wait, am i that important?

Selasa, 26 Agustus 2008

SURAT UNTUK DIA

Kelar meeting kemaren langsung pengen nangis. Pengen marah, pengen teriak. Bener-bener mati rasa, serba salah, bingung. Bukan karena meeting ngebahas kerjaan yang super duper banyak, itu udah biasa. Tapi ini lebih ke masalah hati, hati gue cape banget. Merasa bahwa yang udah gue kerjain sia-sia semuanya.

Gue ngerasa kalo gue lagi berada di satu titik yang entah mau kemana. Titik yang membawa gue ke gerbang keputusasaan. Gue berasa nggak bernyawa, terpontang-panting dalam terowongan gelap gulita yang kemudian meluluhlantakkan gue di titik yang sama. Nggak beranjak kemana-mana.

Dulu waktu ada rencana kalo perusahaan gue mau nyewa jasa konsultan untuk memberi arahan yang jelas, gue seneng banget. Gue seakan menemukan setitik cahaya dalam jelaga tak bertepi. Yang akan menyingkap tabir kelam tak berujung. Kepadanya gue akan menggantungkan harapan, berharap dia kan membuka wawasan bos gue. Membawa gue ke suatu pencerahan.

Tapi kelar meeting kemaren, gue kembali terpuruk. Gue ngerasa kalau harapan gue padanya terlalu tinggi. Kehadirannya ternyata tak membawa gue mana-mana. Malah terasa gue tenggelam lebih dalam. Aku tak bisa bergantung padanya. dahan yang dia sediakan tak cukup kuat gue rasakan untuyk gue bergantung. Gue kecewa. Bahkan dikehadirannya yang baru dua kali.

Makanya, setelah selesai meeting gue nyoba nulis surat buat dia. Bukan untuk menggugat, hanya untuk berbagi. Siapa tahu beban yang menggelayut di hati dan perasaan gue, bisa kikis meski tipis. Bisa pudar walau samar. Sekedar berkeluh kesah, berharap ragu dan kecewa bisa musnah.

Tangerang, 22 Agustus 2008
Dear NA

Dulu waktu kehadiaran ibu dibicarakan akan mewarnai kinerja kami, saya senang sekali. Seakan menemukan oase di gurun kering kami selama ini. Membawa angin baru yang menerbangkan kami ke sebuah tujuan yang jelas. Membuka wawasan kami dan pimpinan kami, untuk kemudian berjalan bersama menuju ke suatu arah. Pencerahan.

Pada Ibu, kami terutama saya menggantungkan harapan. Berharap agar kehadiran Ibu menguatkan kami, meyakinkan pimpinan kami bahwa apa yang dia inginkan hanya sekedar ego. Meskipun realistis tapi terlalu memaksakan. Dan Ibu tahu bahwa kami hanya berdua. Bayangkan Bu, dua orang untuk sekian belas produk yang ingin dikembangkan.

Dari awal saya hanya meraba-raba, mencoba menekan ego saya untuk menegakkan ego bos saya. tapi sekarang saya lelah, putus asa tepatnya. Saya merasa kalau saya sia-sia. Mengerjakan sesuatu yang menurut saya terlalu dini untuk diinisiasi. Saya benar-benar putus asa.

Saya ingat kemaren ibu bilang bahwa mahasiswa ibu di Bogor, daya survivenya rendah. Hal itu disebabkan karena mereka terbiasa hidup di metropolitan. Saya tersenyum miris. Ternyata saya sama dengan mereka, mahasiswa ibu. Saya merasa sudah tidak bisa bertahan lagi. Kalaupun saya masih bisa berdiri, saya nggak yakin sampai kapan. saya tidak sekuat apa yang saya bayangkan.

Terus terang saya sedikit kecewa dengan ibu. Di meeting kemarin, ibu sama sekali tidak membela saya padahal saya yakin bahwa konsep yang saya utarakan itu benar. Mengapa ibu tidak mengcounter keinginan bos saya, padahal ibu tahu bahwa kami lelah? Saya yakin ibu tahu itu. Tapi mengapa?

Mungkin saya memang harus berhenti bertanya dan tersadar bahwa ini sudah nasib saya. Saya hanya bisa bergantung dan berharap pada kekuatan saya sendiri. Mencoba berdiri tegak padahal kaki bergemeretak, siap jatuh kapan saja. Saya akan berjuang demi kebebasan saya, secepatnya.

-Yuda-

Question : would i send that email?

Minggu, 17 Agustus 2008

THE CAT BALADS

Bete gue liat kelakuan kucing gue. Ini kucing beneran, bukan kucing-kucing looks kampong yang suka mangkal di lapangan banteng atau yang suka mejeng di Thamrin. Gile, sekarang tuh kucing-kucing mangkalnya udah di jalan protokol. Nggak lagi sembunyi-sembunyi. Mungkin mangsa mereka sekarang laen, mereka udah lebih punya taste, selera tinggi. Nggak asal terkam.

Gue punya pengalaman lucu soal kucing-kucing itu. Bukan soal make mereka, sumpah gue nggak pernah make. Gila kali gue make yang begituan, udah sinting. Nggak pernah terbersit sedikitpun dalam benak gue buat “nyobain” mereka. Lagian kebanyakan dari mereka kan cuma money grabbing whore.

Waktu di kantor gue sama temen-temen ngomonging tuh para kucing, gue sempet bilang. Waktu gue ada tugas ke Yogja, gue kan jalan sendiri dari hotel ke Malioboro. Niatnya emang jalan, sekalian cari makan. Trus gue bilang lagi, di beberapa spot di jalan Malioboro, gue sempet mempercepat langkah karena disana banyak kucing lagi mangkal. Daripada nyari penyakit, mendingan gue menghindari mereka. Selain terbebas dari dosa juga terbebas dari melayangnya lembaran rupiah.

Temen gue dengan polosnya bilang (sumpah dia itu polos banget, padahal kulianya di ITB. 4 tahun di Bandung, nggak berbekas apa-apa di hidupnya. Ups…sorry), emang kucing di Yogya itu pada galak yah? Kok gue bisa sampai takut gitu sama kucing, emang mereka suka gigit yah? Sumpah, semua orang di ruangan gue ngakak sampe keluar aer mata. Dia mengartikan kucing secara harfiah sebagai binatang berkaki empat yang senengnya dielus-elus. Waduuuh…so silly. Meskipun ada persamaan antara kucing kampung itu dengan kucing versi dia, sama-sama suka dibelai dan suka nyolong kalo nggak diperhatikan.

Back to my real cat. Kucing peranakan Anggora dan Persia yang sekarang lagi masuk masa kawin. Yang bikin gue bete, dia itu suka diapelin sama kucing kampung, merusak pedigree silsilah keturunan kan? Kucing gue itu nggak sadar diri kalo dia mahal. Masa mau aja diajak pacaran sama kucing kampung pincang yang entah dari mana datengnya. Yang kalo gue buka pintu pagi-pagi, langsung masuk dan nungguin di depan kandang kucing gue. Ato malem-malem ngeong-ngeong di atas atep ngajakin ketemuan. Seringnya gue lempar tuh kucing, tapi nggak kapok. Dateng lagi, dateng lagi. Does love make cat blind also?

Gue jadi keingetan sama perkataan temen gue yang polos tadi di lain percakapan. Gue kan suka ngisengin salah seorang HRD yang duduk depan ruangan gue. GR-GRin gitu deh soalnya dia suka curi-curi pandang sama gue, suka ngasih senyum manisnya. Gue sih cuman iseng-iseng doang, nggak ada maksud lebih. Kalo dia GR dan kepikiran, jangan salahin gue. Suruh siapa senyumnya manis (teuteup). Temen gue (yang polos itu) bilang kalaupun gue suka sama seseorang di kantor, musti liat-liat dong. Siapa gue siapa dia, musti yang selevel jangan asal milih. As info, temen gue itu memang terkenal pendidikan minded.

Memang sih, yang gue GRin itu cuman lulusan SMA meski sekarang lagi kuliah D3 trus rumahnya di kampung nun jauh di sana. Tapi gue mah gak ada niatan lebih kok. Temen gue aja yang berlebihan. Conclusion from this story, so what is the different between me and my Cat? Like owner like pets.

LIFE IS A CINEMA

Hidup ibarat sebuah sinema, bahkan lebih menyeramkan. Sakit adalah sakit dan darah adalah darah. Tak ada peran pengganti yang akan menggantikanmu menanggung sakit akan sesuatu.

Memang benar hidup itu tak lebih dari sebuah jalinan cerita dalam sinema, episode demi episode harus kita jalani tanpa tahu skenarionya secara pasti. Tak lebih dari sekedar menerka-nerka jalan ceritanya. Mencoba menjadi kreatif untuk sekedar menyelesaikan satu episode penuh misteri. Dipaksa memainkan peran yang tak pernah terbayangkan kadang sering dijalankan hanya untuk itu tadi. Menyelesaikan satu episode hidup.

Kalaupun satu season berisi beberapa episode telah usai dan tamat maka kita sudah ditunggu dengan cerita baru. Skenario asing yang tak kita kenal menanti untuk dimainkan. Peran pembantu juga telah disiapkan lengkap, antagonis dan protagonis. Semuanya hanya untuk membuat cerita hidup kita menjadi lebih bermakna. Lebih bermakna dengan cara berinteraksi dengan mereka. Peran pengganti yang hadir justru akan menguatkan posisi kita sebagai peran utama. Membuat kita menamatkan tiap episode dengan indah.

Hidup lebih hebat dari sinema pada kenyataannya, karena dalam waktu yang sama kita akan bermain di beberapa cerita. Tak selalu jadi peran utama memang, tapi setidaknya jadi peran pembantu. Peran pembantu dalam jalinan cerita sinema orang-orang di sekedar kita. Kadang kita memainkan peran protagonis ketika kita menjadi sosok yang baik untuk orang lain, menguatkan kehidupan seseorang untuk membuat ceritanya menjadi indah. Tapi sering pula kita menjadi peran antagonis, seseorang yang ternyata tanpa disadari menyulitkan hidup seseorang. Membuat episode hidup seseorang menjadi tidak gampang. Life is totally a cinema, and I really love doing my cast.

Tak bisa memilih skenario mana yang harus dilakoni seringnya menjadi tantangan tersendiri. Kehidupan dengan jalinan cerita yang monoton akan menjebak kita dalam rasa bosan yang tak terperi. Hidup yang datar-datar saja tak akan membawa kita kemana-mana, tak menjadikan kita siapa-siapa. Hanya menamatkan kewajiban untuk menjalani peran tersebut. Justru kehidupan yang berliku, yang penuh onak dan duri yang akan menjadikan kita lebih kuat, lebih memaknai jalinan cerita itu sendiri. Menjadikan kita layak mendapatkan piala vidia kehidupan bahkan untuk katageri life achievement award.

Skenario yang harus kita jalankan seringkali tak sejalan dengan keinginan kita. Di situlah seninya, bagaimana kita mengerahkan semua kemampuan kita hanya untuk menjalankan cerita yang sebenarnya tak kita inginkan. Mencoba berdamai dengan sang sutradara kehidupan hakiki dan dengan cerita serta peran yang harus kita jalankan mungkin satu-satunya seni peran yang bisa dilakukan. Just follow the main story, and try to make a little improvisation would make a whole story become a great story at the end.

Karena nggak ada peran pengganti maka kita harus siap untuk menanggung setiap resiko dari setiap peran yang akan kita jalankan. Menangis, air mata, bahagia dan tertawa pasti akan mewarnai semua cerita. Jangan hanya mengharapkan tawa karena air mata juga membuat semuanya lebih bermakna. Tak hanya suka yang membuat kita bahagia, kesedihan juga sering membuat kita menjadi lebih kuat. Lebih kuat dari siapapun.

Akhirnya aku Cuma ingin bilang : Selamat menjalankan peran kita masing-masing!

WHEN YOU SAY SORRY

Kata temen gue, memberi maaf itu jauh lebih susah dibandingkan dengan meminta maaf. Katanya lagi memberi maaf lebih banyak mempertaruhkan ego kita dibanding dengan meminta maaf itu sendiri. Buat gue meminta maaf memang jauh lebih mudah, lebih enteng dikatakan, kadang tanpa beban. Hanya untuk meleburkan kewajiban setelah melakukan kesalahan. Tapi yang namanya memberi maaf, susahnya minta ampun. Gue mungkin orang yang gampang memberi maaf, tapi tidak mudah melupakan.

Kembali gue menyadari salah satu lagi kelemahan gue. Gue bukan orang yang mudah melupakan kesalahan orang lain. Bertahun-tahun kadang kala gue masih mengingat (dan tentunya masih “terganggu”) dengan perilaku orang yang telah membuat hati gue terluka dan sakit. Dimaafkan mungkin, tapi tidak pasti dilupakan. Diingat untuk kemudian digugat kemudian hari. Gue sadar betul perilaku itu nggak bagus, nggak manner, tapi terkadang sakit itu terlalu membekas. Meninggalkan jejak air mata tak hanya di pipi tapi juga di hati.

Parahnya, kadang (bahkan seringkali) gue selalu menuntut orang untuk memaafkan semua kesalahan gue, melupakannya dan tak menggugatnya kembali di kemudian hari. Tapi gue sendiri? Nggak bisa lepas dari perilaku yang mungkin diharapkan orang dari gue untuk sekedar memaafkan. Tak adil. Kembali gue bertindak nggak adil, bukan hanya untuk orang lain tapi juga untuk diri gue sendiri. Nggak adil buat gue karena gue senantiasa menyiksa diri untuk mengingat kejahatan atau kealpaan orang. Seakan dunia gue hanya berkutat disana, menuntut dan mengugat.

Bekerja di perusahaan gue yang ini membuka mata gue. Ternyata tak hanya memberi maaf yang susahnya setengah mati, tapi meminta maaf juga demikian. Apalagi meminta maaf untuk sesuatu yang nggak kita pernah lakuin. Atau meminta maaf untuk sekedar menutupi kesalahan orang lain, yang notabene atasan kita. Butuh kekuatan lebih just for say sorry. Sepenggal kata dengan jutaan makna dan ekspektasi. Magical word selain kata cinta. Maaf adalah kata beraroma nirwana, suci tapi kadang dinodai oleh artinya itu sendiri.

Menjadi orang yang selalu “terpaksa” untuk meminta maaf sebagai pelebur kesalahan orang lain ternyata jauh lebih sulit dibanding menjadi diri sendiri. Jauh lebih sulit dari menerima kekalahan dalam persaingan. Untuk melakukan hal itu (meminta maaf), kita terkadang menjadi seseorang yang bodoh, yang nalarnya kemudian “dipaksa” tak sejalan dengan kenyataan. Bertindak hanya untuk menyelamatkan muka seseorang dari rasa malu, dengan taruhan muka sendiri tercoreng.

Ketika gue tersadar bahwa meminta maaf untuk orang lain itu ternyata susahnya setengah mati, lantas gue tergugah dan bertanya. Bukankah hal itu sering juga gue lakuin? Memaksa orang dengan sadar atau tidak untuk meminta maaf atas kesalahan gue. Dan gue nggak pernah mau peduli, seakan itu adalah kewajiban dia terhadap gue. Gue yang bukan siapa-siapa, yang ongkang-ongkang di atas pertaruhan seseorang akan malu.

Mengucapkan maaf juga ternyata tidak mudah, apalagi sepenuh hati. Sehingga ketika kita mengucapkan kata maaf kita harus dengan tulus memaknainya. Maaf bukan kata yang bisa diulang-ulang untuk kesalahan yang sama. Bukan sekedar legitimasi atas peleburan kesalahan kita yang ternyata itu-itu saja. Mulai sekarang, gue harus membiasakan diri untuk selalu mengucapkan maaf dengan tulus, bahkan untuk kesalahan kecil sekalipun.

Doakan yah!!!!!!!!!

MENULIS

Temen gue yang baru baca blog pribadi gue protes-protes. Katanya tulisan gue itu terlalu panjang-panjang, bikin males bacanya. Rame sih, tapi karena panjang, bacanya suka diloncat-loncat. Eigh….Kenapa musti protes sih? Gue menulis bukan untuk diprotes. Yang protes bayar! Lagian kalo males bacanya ya nggak usah dibaca. Nggak ada kewajiban untuk baca blog gue kok, lagian blog gue itu kan isinya nggak penting-penting amat, nggak menyangkut hajat hidup orang banyak. Isinya cuman ngata-ngatain orang, eksis-eksisan, sharing experiences, atau bualan-bualan belaka.

Tapi….apa memang terlalu panjang ya tulisan-tulisan gue. Iya sih, kalo dibandingin sama blog-blog temen gue yang lain, tulisan gue jauh lebih puanjaaaaaaaaaaaaaaang. Nggak dipungkiri itumah. Sesuai fakta. Mau gimana lagi, soalnya gue kalo udah nulis apalagi kalo lagi ngata-ngatain orang, suka lupa berdiri (iklan furniture kali ah!).

Buat gue menulis itu adalah kewajiban. Menulis bikin otak gue nggak mengkeret, menulis bikin beban di dada gue nguap, menulis bikin hidup gue berwarna. Makanya gue paling nggak suka kalo (1) nggak ada ilham sama sekali buat nulis, even for a small things like my daily life. (2) Banyak ide di kepala, tapi otak nggak mau diajak kerja sama. Ide ngendon di sana tanpa bisa dikembangkan jadi cerita. (3) Banyak ide tapi nggak ada waktu buat nulisnya. For some reasons like busy at office, sleepy, lazy atau memang lagi nggak pengen nulis aja. (4) Tulisan gue diprotes-protes. Come on people, I write for release my stress, no further. So that unacceptable!

Kadang nggak ada yang gue pikirin selain menulis. Menulis bikin gue bisa jadi siapa aja. Bikin gue penuh imajinasi untuk masuk dan menjelma menjadi seseorang yang sebetulnya nggak gue kenal sama sekali. So I totally addicted by writing. Selain mengembangkan kemampuan mengolah ide, berharap mudah-mudahan suatu saat gue bisa jadi seorang penulis besar setidaknya kayak Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelanginya itu (amien 1000X….Ayo rame-rame bilang Amien). Penulis yang nggak musti meninggalkan background pendidikannya, untuk menulis apa aja.

Menulis buat gue juga sebagai pelarian. Pelarian dari sunyi yang kadang-kadang menyelinap dan menyergap. Berlari dari kenyataan bahwa gue yang merasa dikalahkan oleh kehidupan, bahkan pelarian dari rasa sakit. Sakit ketika memang tubuh tak berdaya melawan kuman, sakit ketika sebongkah bentuk hati warna merah muda tak juga terbentuk, sakit ketika rasa rindu membenturkanmu pada tembok ketidakberdayaan. Menulis bisa melakukan itu semua. Makanya, nggak ada yang gak gue pikirin setiap saat selain menulis.

Maka dari itu, baca tulisan gue nggak usah pake protes. Ngasih komentar boleh asal yang membangun. Membangun kepercayaan diri gue untuk terus menulis bukannya untuk berhenti menulis. Karena gue rasa nggak ada sesuatu di dunia ini yang akan menghalangi gue untuk menulis selain kematian.

Dengan menulis kita bisa mengeksplore semua kemampuan sekaligus ketidakberdayaan kita. Dua sisi mata uang yang harusnya bisa dilakukan oleh suatu kegiatan bernama menulis. Gue jatuh cinta pada menulis dari mulai gue mengenal aksara dan sampai kapanpun nggak akan bakalan berhenti menulis. Sampai nafas dilepas raga satu per satu suatu hari kelak. Tapi setidaknya gue sudah menamatkan rasa cinta gue pada menulis. Thanks God.

Minggu, 10 Agustus 2008

SALAH PILIH SOULMATE

Siapa sih sebenernya soulmate kita? Seringnya kita milih soulmate atau menjadikan seseorang itu jadi soulmate karena banyaknya kesamaan antara kita sama dia. Saling pengertian dan memahami juga bisa jadi landasan buat milih siapa soulmate kita. Always together in the happiness and sadness used to be a quote between us and our soulmate.

Jujur, gue punya soulmate lebih dari satu. Bukannya maruk tapi gue ngerasa bahwa orang yang memang mahamin gue dan mau menerima gue apa adanya lebih dari satu. So nggak ada alesan buat nggak bikin mereka jadi soulmate gue. Gue malahan beruntung punya banyak soulmate. Kan soulmate juga nggak selamanya nyenengin, kadang juga nyebelin. So, kalo salah satu soulmate gue lagi kambuh sifat menyebalkannya, gue bisa lari ke soulmate yang lain. That’s an exact reason for having more than one soulmate.

Gue punya soulmate di tiap-tiap kelompok hidup gue. Maksudnya, waktu kuliah S1 soulmate gue si A, waktu kuliah S2 soulmatenya si B, di temen-temen gaul si C, di temen-temen EO soulmate gue si D, di tempat kerja yang dulu soulmatenya si E, di tempat kerja sekarang soulamte gue si F. Eh salah-salah, di tempat kerja yang baru sekarang gue belom nemu soulmate. Masih screening and skiming. Beli baju aja milih-milih masa nentuin soulmate nggak milih. Gimana nanti kalo salah pilih, bisa-bisa kayak miara anak harimau. Awalnya lucu, lama-lama nerkam. Bikin kita menyesal seumur hidup.

Temen-temen gue di kantor yang sekarang lagi pada heboh. Mereka nganggap kalo gue itu soulmatenya manager gue. Meskipun gue nggak merasa begitu, kalo manager gue yang nganggap ya nggak masalah. Itu kan haknya dia, bukan gue yang minta. Tapi nggak juga ah, gue nggak ngerasa gue bisa ngertiin dia kok, jadi nggak ada correct reasons buat dia untuk milih gue jadi soulmatenya. Lagian kalo gue bisa milih, gue nggak mau jadi soulmatenya dia. Males.

Sebenernya soulmate manager gue itu adalah salah satu temen gue sedivisi, tapi sayang temen gue itu udah resign. Memutuskan untuk mengabdi jadi volunteer di salah satu LSM kemanusiaan. Nah manager gue itu gamang, kehilangan pegangan hidup. Lebay nggak sih? Segitunya. Tapi kalo orang udah jadi soulmate ya memang seperti itu, when we loosing our soulmate, we feel like release our soul. Dying. Jadi, bisa dipahami kalo manager gue itu agak-agak sedikit gimana.

Masalahnya temen-temen gue sekarang nganggap kalo gue itu udah jadi soulmatenya manager gue itu. Ya mungkin karena gue memang lebih deket sama manager gue itu timbang temen-temen yang lain. Bukan gue yang pengen lebih deket sama dia kok, tapi situasi yang bikin gue jadi deket sama dia. Nggak deket-deket juga sih, gue masih tau diri. Siapa dia, siapa gue. Right, dia tetep bos gue. So I have to treat her like I have to do in manner.

Kalo dulu mungkin sama temen gue yang udah resign itu, dia punya rasa kecocokan dan temen gue itu nggak pernah membantah dan seiring sejalan. Beda sama gue, kalo ada yang nggak sesuai sama nalar gue, gue langsung ngomong. Bahkan gue sambil ketus dan marah-marah ngomong sama dia. Iya sih nggak pantes gue berlaku seperti itu. Tapi kalo nalar gue bilang itu salah dan nggak tepat, gue pasti ngedumel. Nggak peduli dia marah atau nggak. Nyokap gue aja yang ngelahirin gue, ngasih makan, nyekolahin sampei tinggi, tetep aja gue ngedumel kalo dia lagi marah-marah. Apalagi ini manager gue yang bukan siapa-siapa. Kan soulmate? Igh…itu kan anggapan temen-temen gue aja.

Temen gue ngakak-ngakak waktu liat gue ngedumel dan marah-marah sama dia (baca : manager gue itu). Katanya gue terlalu berani berlaku seperti itu. Iya yah, mungkin nggak tepat yah gue bertindak kayak gitu? Nggak manner, nggak berpendidikan tinggi. Tapi, kadangkan kita suka loose control, nalar nggak jalan, kalah sama emosi dan ego. Itulah gue. Seseorang yang seringnya bertindak karena emosi dan bukannya karena nalar dan akal sehat.

Kata temen- temen gue itu, manager gue salah milih soulmate. Salah ngejadiin gue jadi soulmatenya. She was totally wrong for choosing me as her soulmate. Big mistake.

Biarin aja dia salah pilih soulmate. Lagian siapa sih yang soulmate-an? Mungkin manager gue itu nganggap gue sebagai soulmatenya, tapi gue? Tau….

Pelajaran moral : Makanya jangan salah pilih soulmate!!!!!

R&D AMBIGU

Sekarang gue paling susah ngejawab pertanyaan dari banyak orang soal kerjaan gue. Bukannya gue mau nutup-nutupin kerjaan gue itu apa, toh kerjaan gue bukan sesuatu yang haram dan nista semisal jadi germo or gigolo. Bukan juga gue sok jaim, pengen terlihat misterius. Nggak penting juga karena kerjaan gue bukan detektif yang penuh kerahasiaan. Apalagi karena malu dan minder, karena kerjaan gue lumayan “oke”. Bahkan jadi team leader segala, setingkat supervisor. Jadi nggak ada alesan buat malu dan minder kan

Trus kenapa musti susah jawabnya? Kan kalo “oke” harusnya diumbar aja sekalian. Biar eksis, biar nampak okeh. Sebenernya bukan susah jawabnya, karena gue tinggal bilang kerjaan gue itu jadi R&D alias research and development. Such a great job kan? Posisi yang banyak diincer sama orang-orang sains. Nah masalahnya, gue sekarang susah buat ngejabarin what kind of R&D I am? Berkesan ambigu untuk dijelaskan. Lebih ambigu malahan karena kan kalo ambigu itu punya makna ganda. Nah kalo posisi gue sebagai R&D itu, maknanya nggak lagi ganda. Lebih dari dua.

Wait…..Emangnya gue itu R&D apaan sih? Gue kan kerja di perusahaan food processing, berarti research soal makanan donk. Apanya yang ambigu? Oke-oke, let me explain my confusion. I am R&D of :

[satu]
R&D beneran. Disini gue berperan sebagai researcher yang mengembangkan produk-produk makanan. Whole process, dari hulu sampai hilir. Bagaimana meningkatkan nilai pangan suatu produk makanan. Diversifikasi produk juga jadi tugas gue sebagai R&D beneran ini.
[dua]
R&D lay out. Gue bertugas untuk mendesain bagaimana lay out suatu ruang produksi dan laboratorium seharusnya. Lumanyan nyambung lah sama ilmu gue, meski sering bete karena tiap meeting lay out yang udah fix selalu diubah-ubah lagi. Gue berasa bodoh jadinya. Lupa, gue emang bodoh kan, cuman beruntung aja selama ini.
[tiga]
R&D produksi. Dengan alesan karena ini perusahaan baru maka nanti orang produksinya ya gue juga. Semua proses produksi gue yang handle, dari mulai nyiapain raw material sampe packaging. Kalo perlu sampe angkut-angkut kalee.
[empat]
R&D legal. Semua perizinan dan tetek bengek birokrasinya gue juga yang ngurusin. Dari mulai ngadep big boss buat minta approval sampe nyetir puluhan kilo buat nemuin pejabat berwenang gue jabanin. Jemput peninjau dari instansi terkait juga jadi tanggung jawab gue. Termasuk bikin surat-surat pendukungnya.
[lima]
R&D business development. How to make a good business plan juga urusan gue. Berasa belajar lagi kewirausahaan. Belajar posisioning, segmenting dan targeting lagi gue, padahal sumpah udah pada lupa. Gue juga musti analisis market sharenya. Trus musti nentuin kalo produk yang mau kita launching itu based on market driven or product driven. Pokoknya semua yang berhubungan dengan bisnis-bisnisan itu juga put on my shoulder.
[enam]
R&D purchasing/procurement. Semua barang-barang yang mau dibeli juga musti gue yang nentuin spectnya apa, bikin penawarannya kemana aja, nentuin beli ke mana, supplier yang mana, harganya berapa, nego harga, minta diskon, bikin usulan pembelian (UP), bikin purchasing order (PO), sampei bikin berita acara kalo barang itu udah dateng. Termasuk nandatanganin semua formnya. Rangkap-rangkap malah, pemohon, petugas gudang, petugas ahli dan kepala gudangnya ya gue-gue juga. Hebat bukan?
[tujuh]
R&D OB. Kalo mau ada kunjungan dari mana atau big boss udah complain-complain soal kebersihan maka dengan tidak sungkan-sungkan gue juga musti ngeberesin semuanya. Including ngepel dan ngelap-ngelap yah. Pokoknya yang berkeringat-keringat juga jadi salah satu job des gue. Oh iya, termasuk ngangkut barang-barang yang dateng abis dibeli juga. Pokoknya OB banget deh.

Tuh kan, gimana gue nggak bingung dan susah kalo ada yang nanya kerjaan gue apa. Secara kerjaannya turn over alias tumpang tindih. Semua-muanya musti gue yang kerjain. Mabok-mabok deh gue. Mungkin gue juga sih yang salah waktu ditawarin kerja di perusahaan ini. Dulu ownernya cuman bilang kalo gue direkrut jadi R&D. Gue nggak nanya kalo sebenernya R&D apa. Coba kalo nanya, pasti gue disuruh milih mau R&D mana diantara nomer satu sampe tujuh diatas.

Karena gue nggak nanya makanya R&Dnya ya R&D semua. Nggak boleh nolak karena dulu gue nggak nanya dan nggak milih. Kalo udah begini berasa pengen punya kekuatan untuk memutar balik peristiwa. I wish I could turn back times.

So guys, would you help me! Which one of R&D that appropriate for me? Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh? Ato memang semuanya jadi paket lengkap yang musti gue pilih. No choices and no bargain.

Tau ah. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!

HADIAH ISENG-ISENG

Buat kebanyakan orang, begitu liat atau denger istilah M.Si pasti langsung keingetan sama salah satu gelar S2 yang artinya master sains. Nggak salah, bener malah. MSi itu memang master sains. Legitimasi suatu kebanggaan karena berhasil menyelesaikan strata pendidikan yang nggak semua orang punya kesempatan buat menyelesaikannya. Meskipun sekarang udah banyak kok yang abis lulus sarjana langsung ngambil S2, nampak haus ilmu.

Gue, merasa beruntung bisa nyampei tahapan itu. Berhasil menyelesaikan pendidikan S2 buat nyabet gelar MSi. Bangga? Lumayan, tapi merasa biasa-biasa aja karena banyak hal yang bikin gue muter otak buat jawab pertanyaan paling hakiki. Emang gue pantes yah dapet gelar itu? Kadang gue mikir, gue bisa dapet gelar itu cuman karena kebeneran dan keberuntungan. Just lucky.

Masalahnya, buat gue MSi itu punya arti lain selain Master sains. Buat gue MSi itu artinya master sinting. Ya, gue memang sinting. Siapa coba S2 yang kalo di kantor atau di tempat kerja manapun kerjaannya cuman ketawa-ketawa doang, cekikikan sana-sini, ngebanyol plus ngata-ngatain orang. Serius sih sometime, buktinya semua kerjaan berhasil dikerjakan dengan paripurna. Report selalu tepat waktu, meeting selalu buka suara dengan ide-ide brilian. Tapi kalo udah masalah pembawaan, selalu pecicilan.

Pernah di kantor gue yang baru ini ada orang dari divisi lain mengundurkan diri. Dia dapet kesempatan buat jadi manager di perusahaan lain. Menurut gue biasa aja, semua orang punya kesempatan buat jadi manager. Masalahnya (Catet ya! Kalo perlu dibold, diitalic sama diunderline) dia itu seumuran sama gue, abis lulus SMU nggak langsung kuliah tapi kerja dulu 2 tahun karena nggak punya biaya. Trus tanpa maksud merendahkan, dia cuman lulusan S1 dari Universitas swasta yang namanya aja baru gue denger. Hebat kan? Beda banget sama gue.

Perbedaan antara gue sama dia yang paling hakiki adalah pembawaan. Dia itu orangnya dewasa banget, ngomong selalu penuh penekanan dan berkesan wibawa. Serius. Nah gue? Dewasa? Jauh dari kesan dewasa. Mana ada orang seumur gue yang masih act like a child, nggak pernah nganggap dengan serius selalu masalah, ngomong selalu dengan intrik penuh lelucon, nggak ada kesan wibawa sama sekali. Itu yang jawab pertanyaan gue kenapa sampe sekarang gue bukan jadi manager. Buat gue nggak masalah, semua orang bahagia dengan jalannya sendiri.

Buat gue, gue seperti sekarang ini sudah sangat bahagia. Nggak musti punya jabatan jadi manager untuk bisa memberi arti buat orang lain. Nggak peduli orang bilang gue itu Master sinting, yang katanya gelar itu cuman embel-embel doang. Hehehehe. Temen-temen gue di kantor malah nggak percaya kalo gue S2. Dasar. Masa kemana-mana gue musti nenteng-neneteng ijazah sama transkrip nilai gue. Nggak lucu dan nampak lebay.

Kalo ada yang nanya kok gue bisa kerja di perusahaan ini, gue ngejawabnya dengan santai (khas master sinting). Gue jawab, Bos gue itu nemu gue waktu tanpa sengaja belanja snack Chiki di minimarket deket pasar yang bau. Pas dia buka kemasannya, bos gue lompat-lompat sambil teriak. Dapet hadiah, dapet hadiah. Pas diambil dari tumpukan Chiki yang berbau kaldu ayam itu, hadiahnya ternyata gue. Ngerekrut gue kayak dapet hadiah dari chiki. Iseng-iseng berhadiah. Kalo bagus disimpen, kalo jelek ya dihempas ke tong sampah. Namanya juga hadiah dari iseng-iseng. Sintiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!

NIKAHAN HARU BIRU

Kemaren waktu gue ngemsi di salah satu acara kawinan, gue nangis. Bener-bener berlinangan air mata. Bukan lagi haru seperti biasa, tapi lebih ke miris. Buat gue ngemsi di acara nikahan siapapun semuanya bisa dilewati dengan aman. Nggak peduli yang nikahan itu anak konglomerat sampe klien dari kalangan yang biasa-biasa aja. Gue nggak pernah membeda-bedakan klien gue, yang penting mereka bawa duit dan mampu bayar gue. Status sosial jadi nggak masalah ketika mereka membawa duit dengan nominal yang sama. Hehehe.

Nah pas kemaren itu, gue bener-bener musti kerja keras ngatur nafas, ngatur suara karena nggak lucu kan masa suara MC nya sengau dan sesenggukan. Kalau pas acara siraman yang diiringi shalawat badar gue pasti nangis, nggak bisa lagi jaga emosi. Tapi itu wajar karena situasinya memang syahdu banget, jadi keingetan dosa sama kedua orang tua gue. Padahal yang mau kawin siapa, tapi kok gue yang sedih yah. Namanya juga banyak dosa, jadi kadang suka sedih sendiri.

Di acara nikahan kemaren itu, air mata gue tumpah ruah. Bahkan dari acara masih di awal-awal. Ngemsi gue kali ini lebih ke acara derma, salah satu kerabat jauh temen gue minta tolong buat dipandu acara nikahannya. Kalo udah gini, nominal nggak jadi lagi masalah, yang penting ada uang buat bensin sama buat ngelaundry kostum gue. Hari gini masih gratis? Lo pikir suara gue milik Negara.

Apa sih yang bikin gue mengharu biru? Banyak hal yang bikin glandula lakrimalis alias kelenjar air mata gue terinduksi dan kemudian tumpah nggak terbendung. Kesederhanaannya, keterbatasannya, kesan dipaksakannya (wait, bukan dalam artian dipaksakan karena mempelai cewek hamil duluan yah!). Menikah itu kan sesuatu yang sakral, sesuatu yang dilaksanakan ketika semua hal sudah dirasa siap. Bukan cuman keinginan yang siap, tapi juga materi dan bukan hanya untuk melegitimasi nafsu.

Acara nikahan kemaren, gue bilang teramat sangat sederhana. Mungkin gue nggak adil karena gue membadingkan dengan puluhan bahkan ratusan acara pernikahan yang udah gue datengin baik sebagai MC maupun hanya sebagai tamu. Kesan sedrhana sudah terkuak dari awal acara. Pernikahan memang tidak harus dirayakan dengan besar-besaran, tapi ketika sudah dipustuskan untuk mengundang khalayak, maka kesederhanaan sudah menguap diganti dengan keterpaksaan apabila ada ketidaksiapan materi.

Kedua orang tua dari kedua belah pihak yang sakit juga jadi bahan yang bikin gue meneteskan air mata. Sang ayah mempelai yang bicara aja susah ketika akan menikahkan putrinya pas ijab Kabul, sang mempelai wanita yang nggak henti-hentinya nangis ngedenger suara bapaknya, suara mempelai pria yang sesenggukan diiringi tangis ketika mengikrarkan dan memberikan mas kawin, bikin gue luluh lantak. Gue nggak akan menyoroti masalah materi, karena nanti jatohnya nggak adil dan menyepelekan. Semuanya cuman bisa bikin gue mengucap syukur. Thanks God buat kehidupan gue sekarang ini dan sebelumnya.

Tapi…..Kembali like slap on my face. Menikah? M-E-N-I-K-A-H. Acara sakral untuk menyatukan dua insan itu kembali menampar muka gue. Orang-orang dengan keterbatasan ekonomipun sudah berani mengambil resiko besar untuk melompat, tak lagi melangkah. Nah gue yang insya Allah semuanya sudah tercapai, kok masih belum berani melompat, masih melangkah terbata-bata seperti bayi baru belajar jalan. Berjalan hati-hati menyusuri pematang kehidupan gue sendiri tanpa mampu mengambil resiko untuk jatuh dan terpuruk atau berlari, melompat dan bahagia.

SILLY THOUGHT

Ngakak, gue bener-bener ngakak ngedenger cerita temen gue waktu selesai mengajukan surat pengunduran diri [WHAT? Ada temen gue yang mengundurkan diri lagi?]. Iya temen sedivisi gue mengundurkan diri, setelah yang dulu dipaksa mengundurkan diri, yang satu ini mengundurkan diri secara baik-baik. Dapet pekerjaan baru yang lebih baik, membuat dia hengkang. Wajar sih, apalagi dengan gaji bernominal dollar. Siapa yang gak ngiler coba. Gue kapan yah hengkang dari perusahaan ini? I don’t know.

Temen gue itu cerita, waktu dia mengajukan pengunduran diri itu sama direktur utamanya. Pertamanya susah, sang direktur mempertahankannya dengan sekuat tenaga dengan berbagai alasan meskipun akhirnya luluh juga. Membolehkannya pergi. Membebaskannya. Yang bikin gue ngakak [sumpah, gue ngakak beneran], sang bos bilang katanya dia tahu kenapa temen gue itu mengundurkan diri, dia berpikiran bahwa temen gue itu frustasi karena yang diangkat jadi team leader adalah gue bukannya dia. Totally silly though kan?

Aduh, heran deh. Masa sih temen gue frustasi karena dia nggak diangkat jadi team leader. Temen gue aja ngakak waktu si bos bilang begitu. Katanya dia, amit-amit dia nggak pernah pengen jadi team leader. Do I want that posisition? No, jelas nggak. Kan gue bilang di salah satu tulisan blog gue kalo sebenernya gue nggak mau jadi team leader. Kalo boleh milih sih, mending jadi rakyat jelata aja. Lebih nyaman. Lebih sedikit jatah dihantui kehadiran bos gue itu. Syeremmmmmmm.

Sang bos bilang lagi kenapa dia milih gue [iya, GUE] jadi team leader dan bukannya temen gue itu. Satu, gue S2. Dua, gue laki-laki. Halooo, 2008 gitu lho, masa gender dijadikan isu utama. Dua alasen yang buat gue nggak masuk akal, nggak nyambung sama nalar gue. Pertama, kan gue udah bilang kalo gue itu S2 nya kebeneran. Kebeneran gue masih mau kuliah, kebeneran bokap gue masih mau ngebiayain dan kebeneran lulus [cum laude lagi, teuteup]. Trus kalo soal gue laki-laki, aduh hari gini. Presiden aja bisa cewek masa team leader masih mempermasalahkan gender. Ibu kartini pasti nangis sesenggukan liat realita kayak gini. Dan jujur, bener ini gue jujur sejujur-jujurnya. Gue nggak keberatan kalo yang jadi atasan gue atau team leader gue itu anak S1 and cewek. Doesn’t matter.

Masa lama tinggal di eropa, yang biangnya kapitalis, yang biangnya modernisasi tapi pikirannya masih sempit yah. Isu gender dan pendidikan masih dijadikan pijakan utama. Ato jangan-jangan dia bilang gitu sama temen gue cuman buat bikin temen gue merevisi keputusannya [yang gue yakin nggak bakalan, meskipun dunia jungkir balik pun, temen gue itu pasti nggak bakalan mau merubah keputusannya]. Mencoba membesarkan hati temen gue dan mengatakan secara tidak langsung kalau dia minta maaf karena memilih gue dan bukan temen gue itu. Gue jadi nggak enak. Sampe-sampe gue sambil bercanda bilang sama temen gue, ya udah jabatan team leadernya gue kasih deh ke lo biar lo bertahan. Dia malahan bilang, amit-amit. See?!

Atau jangan-jangan gue diangkat jadi team leader cuman karena dua alasan itu aja. Yang sebenernya kalo temen gue yang mo resign itu cowok dan S2 pasti dia yang dipilih dan bukannya gue. Berarti gue dipilih karena terpaksa and there no other choice. Masa sih? Padahalkan gue kompeten. Kompeten banget malah. Kompeten untuk mulai cari kerja baru lagi biar bisa secepatnya ikut hengkang dari perusahaan ini. Perusahaan yang bikin gue cenut-cenut setiap harinya. Yang selalu bikin kepala gue mau pecah dengan rencana-rencana yang gak focus. Tau ah, kita liat saja nanti. Would I?

LOVE IS A BATTLEFIELD

LOVE IS A BATTLEFIELD
Orang bilang cinta itu adalah medan pertempuran meski tak diperlukan senjata ataupun tetesan darah. Cinta adalah medan pertempuran yang tidak dibutuhkan pemenang, karena dalam cinta tak ada istilah yang menang dan yang kalah. Yang ada adalah saling menerima untuk kemudian saling melengkapi.

Cinta adalah medan pertempuran dari dua ego. Ego dari dua orang yang saling mencintai, mengasihi dan menyayangi. Oleh karena itulah dalam cinta tak ada pemenang. Pertempuran dalam cinta pasti tidak dapat dihindari, menyatukan dua ego yang berbeda agar bisa selaras memang tidak mudah, tapi disitulah seninya. Seni pertempuran dalam cinta.

Menanggalkan ego pribadi untuk meleburkannya dengan ego orang lain agar menjadi rasa baru butuh usaha. Butuh pengorbanan. Tapi, bukankah setiap cinta membutuhkan pengorbanan. Cinta tak dapat ditegakkan apabila salah satu pendirinya tidak mau berkorban. Apabila hal itu terjadi mungkin cinta bisa menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya.

Selain ego pribadi, cinta juga merupakan medan pertempuran untuk memerangi rasa cemburu, dan rasa posesif. Cemburu itu bukti cinta. Itu memang diakui, tapi haruskan setiap langkah yang diambil selalui dibumbui dengan rasa cemburu. Cinta tidak perlu diwujudkan dengan rasa seperti itu. Cemburu yang berlebihan justru akan memadamkan api cinta yang tengah berkobar. Cemburu tidak menjadi lagi bumbu tapi cemburu kemudian menjadi sumbu yang akan menyulut pertempuran dalam kasta bernama cinta.

Rasa memiliki sangat wajar dimiliki dalam cinta. You are mine and I am yours adalah sesuatu yang memang tak bisa dipungkiri dalam cinta. Kita akan berjalan dalam koridor cinta yang sama dengan rasa saling memiliki. Tapi apabila rasa saling memiliki itu kemudian berlebihan sehingga masing-masing pribadi tidak bisa lagi berjalan di lorongnya sendiri, maka itu bukan lagi cinta. Cinta tidak seperti itu. Cinta itu membebaskan. Membebaskan pasangannya untuk menjadi seseorang yang berkembang dengan caranya sendiri.

Cinta memang sebuah misteri. Apabila dipertahankan terlalu kuat, maka ia akan hilang. Meskipun tersisa, engkau hanya akan mendapatkan sebagian kecil dari dirinya. Tetapi ketika kau mempertahankannya dengan kelonggaran, dengan keleluasaan, maka ia akan bertahan dalam rengkuhanmu. Membuatmu nyaman dan tak tersiksa oleh rasa yang tak perlu. Rasa yang membelenggu.

Membebaskan cinta tidak berarti bahwa kita tidak berusaha, justru sebaliknya. Dengan membebaskan kita berusaha untuk mempertahankan cinta. Mematrinya agar tetapi bersemayam dalam kalbu, menjelma dalam setiap sendi tubuhmu dan mengalir dalam setiap urat nadimu. Cinta akan menjadi aroma nafas hidup dan matimu.

Cinta itu unik, dan karena keunikannya itulah maka kita harus pandai-pandai memaknainya. Cinta bisa membuatmu nyaman ketika kau maknai dengan cara yang benar, dengan perasaan yang membebaskan. Tetapi ketika kau memaknainya dengan caramu sendiri yang ambigu, maka cinta akan membuatmu tersiksa. Menjadikannya medan pertempuran yang sesungguhnya. Menjadikannya anomali di tengah perasaan nyaman yang dijanjikan sebuah kata bernama cinta.

GAY SERIAL KILLER

Udah hampir dua minggu ini [atau lebih yah?], Indonesia digemparkan karena terjadi lagi pembunuhan berantai yang dilakukan seseorang. Jumlah korbannya sampai saat ini udah total 11 orang. Gila gue rasa tuh pembunuh, semacam psikopat. Nggak tanggung-tanggung hampir semua korbannya dikubur di halaman belakang rumahnya. Bahkan pembunuhan yang dilakukannya terakhir pake acara motong-motong korbannya alias mutilasi. Gue gak bisa ngebayangin, apa yang ada di pikiran orang itu waktu motong-motong korbannya. Bener-bener keji.

Motif pertama sih asalnya cuman karena cemburu. Katanya orang yang dimutilasi itu mau “make” pacar si pembunuh. Si pembunuh yang namanya rian itu nggak suka, cemburu kemudian terjadilah pembunuhan keji itu. Kejadian itu terjadi di salah satu apartemen mewah di bilangan Bekasi. Orang-orang yang terlibat itu semuanya gay alias penyuka sesama jenis. Nah lho?!

Entah gimana ceritanya, tiba-tiba kok merembet ke pembunuhan-pembunuhan yang sudah dilakukan si pembunuh. Pokoknya sinetron banget deh hidupnya, okeh banget. Hehehehe. Hampir semua korbannya gay, berarti link nya disitu-situ aja. Muter di lingkaran setan.
Menurut para ahli, perilaku cemburu yang berlebihan sering terjadi di kalangan gay. Sifat posesif yang berlebihan, membuatnya tega melakukan apa saja demi mempertahankan pasangannya. Masa sih? Makanya temen gue Fa, yang juga udah coming out jadi cong, eh gay protes-protes. Katanya pendapat para ahli itu salah kaprah. Asal jeplak, tanpa mengetahui kondisi di lapangannya. Sabar Fa, mungkin mereka memang nggak ngerti dunia lo, mereka cuman bicara hasil penalaran dari teori yang mereka dapet di bangku kuliah. So pasti beda antara pendapat lo sama ahli-ahli itu.

Mungkin mereka harus meletek dulu kali Fa, jadi cong dulu kayak lo biar tahu kondisi sebenernya di lapangan. Pokoknya gue ketawa-ketawa sendiri deh baca blognya Fa yang sangat kecewa dengan pendapat para ahli yang menurutnya sok tahu itu. Niat banget dia sampe nulis 4 episode untuk hal yang sama. Mana panjang-panjang. Bener-bener nulisnya pake ati. Kata dia, kasusnya si rian itu membunuh karakter para cong di Indonesia. Masa sih segitunya Fa?
Back to Rian case. Kok bisa yah membunuh sekian banyak orang dengan alesan cemburu? Wait a minutes, laku banget yah si Rian, padahal dia nggak cakep-cakep amat. Ternyata selidik punya selidik [cie], motif lain dari pembunuhan-pembunuhan itu adalah perampokan dan pencurian. Semua harta para korban diambil Rian. That answering my question, masa pengangguran aja bisa tinggal di apartemen mewah. Ato jangan-jangan dia piaraan seseorang? None of my business.

Yang bikin gue bingung, si Rian itu jadi psikopat karena gay atau jadi gay karena psikopat. Bingug kan lo pada? Tapi apapun itu, semua tindakannya salah. Jadi gay mungkin nggak salah [ mungkin yah!], karena itu pilihan hidupnya. Tapi jadi psikopat itu yang salah, entah psikopatnya punya disorientasi seksual ataupun tidak. Yang namanya psikopat tetep aja salah. Bener gak? Yang gak setuju unjuk tangan…

Buat para korban, semoga kalian semua diterima di sisi-Nya, dan diampunia semua dosa-dosanya. Amien.

HE NAMED AYAH

Apa yang membuat seseorang bernama ayah memiliki hak untuk menentukan jalan hidup anaknya? Apa yang membuat dirinya merasa berhak untuk menjadikan anaknya seperti apa yang dia inginkan tanpa memperhatikan keinginan si anak? Dan apa yang ada di pikiran sang ayah ketika anaknya berontak menolak keinginannya? Dan mengapa tetap memaksakan kehendak?

Jangan hanya karena sang ayah merasa telah membesarkan, memberi makan dan memberikan rasa aman kemudian menjadi bertindak sewenang-wenang. Atau jangan hanya karena merasa telah berjasa meniupkan kehidupan ke anaknya melalui perantaraan seekor sperma yang tumbuh dalam tubuhnya, kemudian dia menjadi merasa sangat berhak atas kehidupan anknya. Tidak, seharusnya seorang ayah tidak bertindak seperti itu.

Gue bener-bener terenyuh baca artikelnya Samuel Mulia di Kompas minggu kemaren. Di sana dia menceritakan “curhatan” anak seorang temennya yang merasa sangat tertekan. Tertekan karena mempunyai ayah yang selalu memaksakan kehendak. Sang ayah merasa dirinya orang yang paling berhak untuk menentukan jalan hidup anaknya, terutama dalam bidang pendidikan.
Anak tersebut di caci maki ketika dia tidak masuk fakultas kedokteran, dibilang bodoh kemudian dimusuhi. Sekarang ketika si anak ingin melanjutkan ke jenjang S2, kembali keinginannya terbentur dengan ego sang ayah. Menurut ayahnya, ilmu ini yang paling bagus dan pastinya harus diambil sama anaknya. Sementara sang anak kembali meyakinkan kalau itu bukan dunianya, bukan tujuan hidup yang ingin dicapainya.

Kok ada yah ayah model beginian? Tapi jangan salah, ternyata banyak sekali ayah otoriter seperti itu. Samuel Mulia pun secara eksplisit menceritakan bahwa ayahnya dulu juga otoriter dalam hal pendidikan anak. Beruntung Samuel bisa menyelesaikan pendidikan dokternya, meski habis lulus malah bertekad jadi penulis. Ada juga Barry temen gue yang setelah lulus kuliah akuntansi langsung berikrar tidak mau bekerja di bidang akuntansi dan ingin jadi tim kreatif di salah satu majalah. Imagine, dia berikrar on his graduation day. Dia bilang, dia lulus jadi akuntan hanya untuk melunasi keinginan ayahnya. But is he happy? NO. Big No.

Kemudian gue hanya bisa bersyukur kalo ayah gue nggak seperti itu. Sedikit otoriter memang, tapi untuk soal pendidikan, dia membebaskan gue untuk memilih sesuatu yang sesuai keinginan gue. Waktu S1 mau milih ini boleh, lanjut S2 ngambil itu silahkan. Selama gue berprestasi dan bahagia, bokap gue selalu mendukung. Kalo soal otoriter, wajar lah. Namanya juga ayah, dia pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Asal otoriternya beralasan dan tidak kebablasan.

Dan gue, sebagai calon ayah nanti [amien], hanya bisa bertekad dalam diri kalo gue akan membebaskan anak gue kelak untuk memilih jalan hidupnya sendiri selama tidak bertentangan dengan norma, agama dan kebiasaan. Gue ingin anak gue terbang bebas menemukan dunianya dengan pijakan diri gue sebagai ayahnya. Akan gue biarkan dia keluar dari kepompong emasnya perantaraan gue sebagai ranting tempatnya menggantung. I’ll do my best for my child. Dunia akhirat.

Masalahnya, kapan gue mau punya anak? Yang pasti sekarang dalam proses. Bukan proses menunggu kelahiran anak gue itu, tapi dalam proses pemikiran. Kapan yah gue siap menikah dan kemudian punya anak? Never ending question.

Kamis, 07 Agustus 2008

TERLAMBAT BERTEMU

Pagi itu ketika untuk kesekian kalinya aku melihatmu, hatiku bersenandung lirih: Diriku dan dirimu, mungkin terlambat bertemu.....Kau sudah punya cinta, begitu juga aku....Meski kadang hatiku, ingin selalu bersamamu.....Mengapa semua indah, bila ada dekatmu....Getar lebih terasa dari cinta yang ada....Tak bisa aku hindari, meski kadang sadari.....Mungkin diriku yang salah. Pasti diriku yang salah.

Ternyata kebersamaan kita menimbulkan perasaan lain, setidaknya di hatiku. Sebenernya dari awal melihatmu, kamu sudah menawan hatiku. Pertemuan yang intens, seringnya saling pandang untuk kemudian saling melemparkan seulas senyum, menguatkan perasaan itu. Rasa sayang mulai merambati. Aku tak bisa memungkiri semua itu. Setiap melihatmu duduk disana, mengerjakan sesuatu, berkonsentrasi dan sesekali melirik ke arahku, membuatku semakin tersiksa. Sial...kenapa senyummu begitu manis.

Aku sadar bahwa ini salah, aku tahu bahwa ini tidak adil untuk pasangan kita masing-masing. Tapi aku lebih sadar bahwa tidak ada perasaan cinta dan sayang yang salah. Tak ada yang salah dalam cinta, yang ada hanya ketidaktepatan. Waktunya tidak tepat, tempatnya tidak tepat bahkan mungkin rasanya yang tidak tepat. Masih pantaskah cinta kemudian dipersalahkan?

Terlambat bertemu mungkin satu-satunya hal yang tepat untuk menggambarkan keadaan kita saat ini. terlambat mengembangkan layar cinta karena biduk telah tertambat di dermaga yang lain, dermaga yang disinggahi terlalu awal. Sebelum aku mengenalmu kemudian jatuh cinta.

Adilkah semua ini untuk kita? Untuk mereka? Buat kita tidak adil, karena terpaksa kita menerima cinta yang sudah terlanjur ada, mematahkan angan kita. Tidak adil karena harus menanggalkan rasa yang terlanjur indah, rasa yang menuntunku untuk berjalan di setapak kecilku dalam dimensi yang lain. Berbeda dengan warna yang biasa aku hirup. Adilkah untukku? Tidak, aku yakin itu tidak adil.

Kalau untukku saja itu tidak adil, apalagi untuk dia. Kekasih yang selama ini senantiasa menemaniku melukis angkasa. Aku hanya akan menyakitinya, membuatnya menangis. Padahal mendengarnya menangis pasti akan seperti mendengar hatiku patah. Koyak. Adilkah aku mengingkari perasaan yang sudah lama ada hanya karena aku menemukan nuansa baru? Adilkah aku melegalkan istilah terlambat bertemu dengan seseorang hanya untuk meninggalkannya? Melepaskan semua cita kita, menguapkannya ke angkasa tanpa sisa.

Adil atau tidak adil mungkin hanya akan membelengguku, memberondongku dengan perasaan bersalah tak bertepi. Saatnya aku tersadar dan memilih. Memilih kembali kepadanya, mencoba melupakanmu yang hadir dalam kondisi terlambat bertemu.

Jumat, 01 Agustus 2008

MENUNGGANG MIMPI

Aduh....kenapa di mimpi gue yang dateng dia lagi? Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk......Tak cukupkah dia menghantuiku di kehidupan nyata. Kenapa mesti datang dan datang lagi menunggang mimpi.