Minggu, 27 September 2009

Mencintaimu (berulang kali)

Aku mencintaimu berulang kali. Ya, berulangkali. Seperti janji matahari pada siang. Datang berulang-ulang pada waktu yang sama, meski kadang siang berselingkuh dengan awan yang menjadikannya mendung. Matahari tidak kecewa tertutup mendung, karena matahari yakin bahwa siang akan tetap menantikannnya. Aku juga begitu, aku yakin dengan apa yang aku cintai.

Mencintaimu tidak menjadikanku buta. Selayaknya siang yang dibutakan malam, siang akan hadir lagi esoknya. Tanpa pamrih. Mencintaimu tanpa pamrih memang menyulitkan langkahku, membuatku terseok dan cemburu dengan hal-hal yang tak perlu. Tapi aku sadar, cinta suatu saat akan membuka mata hatimu. Menyadarkanmu bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu sedetikpun. Seperti udara. Selalu ada.

Aku tidak peduli dengan langit yang menghujanimu dengan cinta. Aku tahu kalau itu hanya rintangan dan proses yang memang sewajarnya terjadi. Silahkan kau semai benih hatimu dengan cinta yang tercurah dari langit, aku tidak cemburu. Karena aku yakin tidak ada yang akan mengerti kamu seperti aku. Mencintaimu dalam hening, menyelusup dalam sunyi. Menjelma menjadi fatamorgana. Nyata menurutku, tapi semu di matamu.

Memang tak kutawarkan hati merah jambu, yang akan menjaminmu selalu bahagia ketika melangkah bersamaku. Tapi aku punya perasaan yang akan menguatkanmu. Menjadi pagar pelindungmu dari mara bahaya. Menitis bagai embun pagi yang menyejukkan jiwamu kala nestapa. Aku berusaha menghadirkan semuanya, tanpa perlu kamu minta. Aku sudah berkomitmen dengan semua itu, tasbih dari semua doa yang terucap dari raga.

Kini, ketika kamu kubebaskan untuk melangkah dalam setapak kecilmu, itu tidak berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya bertindak seperti matahari. Tidak egois. Matahari mau berbagi dengan bulan kala malam, bahkan dengan jutaan bintang yang minta dihadirkan pada saat yang bersamaan. Aku setia menunggu saat yang tepat untuk aku kembali hadir, meski tak dimengerti. Tidak perlu dimengerti, karena aku hanya akan mengamati. Menanti kamu berjalan ke arahku di ujung pencarianmu.

Apa aku bodoh? Tidak. Aku tidak bodoh karena semuanya kulakukan dengan alasan yang pasti. Cinta. Aku mencintaimu berulang kali, seperti udara yang kamu hela. Ya, aku tidak bisa tidak mencintaimu. Jangan ditanya kenapa, karena cinta tidak butuh alasan. Cinta hanya butuh diperjuangkan. Dan aku akan berjuang, dalam pematang kehidupanku yang temaram.

Jumat, 25 September 2009

Calon Doktor, Bukan Dokter

Apa yang paling menyenangkan dari moment lebaran? Berkumpul tentu saja. Kebagian angpau sudah nggak musim, maklum rentangan usia saya sudah banyak. Malah sekarang saya yang harus bagi-bagi sedikit rezeki buat ponakan-ponakan yang masih kecil, yang udah gede gak usah. Senang juga melihat mereka bahagia mendapat uang 5000 ribuan baru tiga lembar. Iya, maklum keponakan saya agak-agak banyak jadi kalau lebih dari itu bagi-baginya bisa bangkrut mendadak.

Most irritating question saat lebaran adalah “kapan menikah?” atau “apis, kemana calonnya?”. Arghhh, rasanya bosan mendengar pertanyaan yang itu-itu saja setiap tahunnya. Kok kayaknya gak ada hal lain yang bisa ditanyakan selain itu.

Dulu saya sering bĂȘte kalo pertanyaan itu sudah terlontar, apalagi kalau sudah ada embel-embel kasihan si papi and si mami udah pengen nimang cucu. Igh, ibu saya nggak pernah sebetulnya ngomong gitu. Mereka aja, tante dan oom saya yang sering usil. Suka sok perhatian, atau mungkin lebih ke kasian sama saya yang belum juga menikah. Halloooo, umur saya belum genap 28. Kenapa sih pada ribut.

Tahun ini saya tidak hilang akal. Ketika pertanyaan itu muncul lagi, dengan datar saya menjawab: “calonnya lagi sekolah di Amerika, lebaran ini nggak pulang” Selesai semua, tidak ada pertanyaan lanjutan. Padahal entah calonnya siapa yang lagi sekolah di Amerika, secara calon saya lagi ada di Tiiiiiiiiiit, sensor dulu ah!

Irritating topics lain saat lebaran adalah tentang dunia dokter. Di silsilah keluarga besar saya,SEMUA sepupu saya dokter, termasuk adik saya. Malah dari lahir saya hidup dari uang pasien yang sakit atau pasien yang bersuka cita mendapatkan anggota keluarga baru. Jadi ketika momen berkumpul seperti saat lebaran, seringnya saya mendengar tentang residensi lah, ko ass lah, PTT lah, praktek di sini lah, di sana lah. Kadang hati saya menciut, cuma saya yang bukan dokter. Otak saya nggak nyampe buat jadi dokter, makanya waktu jaman UMPTN dulu saya nggak nembus fakultas kedokteran. Masuk negeri aja masih untung.

Sedih? Dulu saya sempet sedih. Kok cuma saya yang tidak jadi dokter yah? Padahal jadi dokter itu cita-cita kebanyakan anak-anak, meski sekarang agak bergeser trendnya. Anak sekarang lebih bercita-cita jadi artis timbang dokter. Tapi tidak jadi seorang dokter menjadi lecutan buat saya, kemudian saya bertekad kalau meskipun tidak jadi dokter, saya harus lebih hebat dari mereka. Setidaknya dalam perspektif saya.

Saya berjanji, meskipun saya tidak jadi dokter tapi saya akan menjadi kandidat doktor pertama di silsilah keluarga ini. Saya jamin. Tinggal selangkah lagi. Tolong bantu saya dengan doa. Terima kasih!

Selasa, 22 September 2009

Happy Birthday Mom

50 tahun yang lalu seorang wanita terlahir dengan penuh keberuntungan. Wanita yang kini telah bertransformasi menjadi wanita paling hebat dalam hidup saya. Wanita yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya tidak hanya pada saya tetapi juga pada ratusan bahkan ribuan pasiennya atas nama kemanusiaan.

Hari ini, wanita itu berulang tahun yang kelima puluh, setengah abad hidup telah dia lewati. Saya tahu pasti tidak mudah menjalani keseluruhan rangkaian hidupnya, terlebih dalam membesarkan anak seperti saya dan adik saya. Tapi saya lebih tahu kalau dia bahagia menjalani semuanya. Menjadi seorang ibu yang berjiwa baja.

Tidak ada rasa syukur yang tidak dipanjatkan setiap harinya dari hati saya karena memiliki ibu seperti dia. Rasanya hidup saya sangat lengkap karena kehadiran dan kasih sayangnya. Seorang ibu, sekaligus sahabat, kakak dan partner bertengkar. Tumbuh dalam naungan kasihnya membuat saya merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia ini.

Mom, selamat ulang tahun yah! semoga Mommy panjang umur, sehat selalu, makin banyak rejekinya. Amien.

Terima kasih untuk tidak selalu mempertanyakan kapan saya akan menikah, atau kapan saya akan memberi cucu. Saya tahu hal itu akan membahagiakan Mommy, tapi untuk saat ini tolong ditahan dulu keinginan untuk hal itu yah Mom. Pasti akan saya kabulkan hal itu, tapi tidak sekarang. Rasanya masih banyak target hidup yang ingin saya jalani. Saya tahu mommy mengerti itu. Tak ada orang di dunia ini yang ngertiin saya sehebat Mommy. I Love you so much Mom!


Mom, you know that I love you so much more than anything in this world. I’m so sorry for making you worries with my unstable live. I’ll try my best to make you proud for having a son like me. Thaks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.

PS: Mom, soal cucu...boleh nggak kalo cucu Mommy nanti cina??? ;)

Jumat, 18 September 2009

Penghujung Ramadhan


Aku berdiri di penghujung Ramadhan 1430 H, mentafakuri apa yang telah terjadi hampir sebulan ini. Bulan yang menurut Al-Qur’an adalan bulannya seribu bulan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan yang seharusnya dimanfaatkan oleh seluruh umat islam sebagai bulan untuk meleburkan semua dosa.

Aku kemudian tersadar ketika bulan ini akan segera usai. Mungkin terlambat untuk menyadarinya, tapi aku tahu Ya Allah, Ya Rabb, engkau tidak mungkin salah dalam memberi ganjaran atas amal seseorang termasuk aku. Meskipun aku merasa sering alfa dalam menjalankan amal ibadah di bulan Ramadhan kali ini.

Bulan yang seharusnya diisi dengan tadarus membaca kitab suci Mu Ya Allah, aku lewatkan begitu saja. Memang aku masih membaca, meski terasa jarang. Tidak serajin waktu ramadhan dulu. Aku lebih sibuk menata hati, bermain dengan perasaan, cinta yang memabukkan. Aku tidak menyalahkan cinta yang kemarin menggelitikku, mengajakku bermain dalam taman surgawi meski semu, karena aku yang seharusnya tersadar dan menganggapnya sebagai ujian. Harusnya aku lulus menghadapi ujian itu, walaupun cinta itu koyak diakhirnya seperti biasa.

Tarawih dan itikaf pada Ramadhan kali ini pun sering aku lewatkan begitu saja. Godaan membentuk tubuh di gym ternyata lebih menggoda ketimbang tarawih untuk mendekatkan diri pada Mu. Aku memang masih melakukan tarawih meski di rumah, tapi bukankah lebih utama mengerjakannya di Mesjid secara berjamaah. Aku sadar dan mengerti betul tentang semua itu tapi secara sadarpun aku menodainya. Aku berdosa secara terang-terangan, seakan meremehkan ampunanmu yang Engkau janjikan di bulan ini. Tapi bukan itu maksud aku Ya Allah, aku hanya tergoda. Ampuni segala kekhilafanku.

Kaum Sholeh yang beriman selalu menangis di penghujung Ramadhan seperti sekarang, karena mereka takut tidak bertemu lagi dengan ramadhan tahun depan. Aku yang dengan kadar keimanan sebegini-begini saja, dengan perasaan rendah hati kemudian mengharapkan hal yang sama. Pertemukanlah Aku lagi dengan Ramadhan tahun depan. Mungkin terdengar sombong dan congkak Ya Allah, karena ketika aku diberikan kesempatan (lagi) pada tahun ini ternyata aku tidak memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Aku lalai, aku senantiasa tergoda. Tapi aku selalu yakin dengan kebaikan Engkau, makanya aku masih berani meminta.

Ya Allah, ampuni segala dosaku selama ini, leburkan ke titik nol agar di hari nan fitri yang sebentar lagi akan kujelang, aku bisa lahir kembali menjadi manusia baru. Manusia yang lebih baik dalam segala aspek. Amien. Hanya kepada Engkaulah aku bisa meminta semua itu, karena hanya engkau pemilik hidup dan matiku.

Untuk semua teman yang sering datang menyambangi aku perantaraan blog ini, aku juga memintakan maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Baik yang disadari maupun yang tidak. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan, yang menyinggung, yang mendeskriditkan. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan itu. Mohon dimaafkan juga atas lintasan hati yang mungkin sering suudzhon terhadap kalian semua, karena kadang kita tidak bisa mengendalikan kata hati.

Dengan segala kerendahan hati, Apisindica mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan
Amien, Ya Allah Ya Rabbal Alamin

Rabu, 16 September 2009

Mutiara Hitam

Seorang teman bertanya kepada saya tadi malam. Mungkin mempertanyakan lebih tepatnya. Dia mempertanyakan masalah kenapa sampai saat ini saya belum punya atau mendapatkan seorang kekasih. Dia bilang padahal kan saya baik, perhatian, beredar dimana-mana, badannya bagus, sudah S2 pula.

Mendengar hal itu saya bak berdiri di point of nowhere. Merasa tersanjung dan terhina dalam waktu yang bersamaan. Karenanya saya mencoba merefleksikan apa yang sudah dia bilang dengan kenyataan yang ada.

Saya tersinggung karena dalam kalimat yang dia ucapkan kenapa dia tidak menyebutkan kata cakep atau ganteng. Hehehehehe. Saya sok ingin disebut ganteng, padahal dengan muka saya yang biasa-biasa saja memang jauh dari kesan ganteng. Mungkin dia berpikiran kalau dia menyebutkan kata ganteng, dia takut menyinggung saya, takutnya saya menganggap itu sebagai suatu ledekan atau cemoohan. Kalau begitu, baiklah saya maafkan dia karena tidak menggunakan kata itu.

Ketersinggungan saya yang kedua, dia bilang badan saya bagus. Saya kemudian bilang dalam hati, mungkin dia buta, tidak bisa membedakan mana badan yang bagus dan mana yang gendut. Saya itu gendut, jadi harusnya jauh dong dari kesan badan bagus. Atau jangan-jangan trend tahun ini memang badan bagus itu yang gendut yah?! Tapi kan itu penilaian dia, jadi saya hanya bisa mengomentarinya saja. Dalam hati.

Kalau masalah sudah S2, itu hanya kebetulan semata. Kebetulan papa dan mama saya masih mau ngasih beasiswa tanpa syarat, jadi saya ambil saja kesempatan itu. Kebetulan juga ketika saya daftar, panitianya sedang berbaik hati, mungkin kasihan sama saya. Makanya diluluskan aplikasinya. Kebetulan lain yang paling berharga adalah, kebetulan Tuhan sangat berbaik hati mempermudah saya menjalani kuliah S2. Mana ada mahasiswa program master yang bisa lulus tepat waktu tapi kerjaanya keluyuran atau dugem sesering yang saya lakukan. Kebetulan yang terakhir ini yang membuat saya sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan.

Beredar dimana-mana belum menjadi jaminan kalau akan mebuat banyak orang yang tertarik sama saya. Lagian saya beredar kan hanya untuk membunuh sepi, membuat jalinan persahabatan baru, atau mencari klien. Dan biasanya ketika saya beredar itu, saya seringnya tidak bisa menanggalkan topeng jutek saya. Entah kenapa, sudah bawaan orok. Jadi nggak usah heran, kalau saya banyak beredarpun tetap tidak mudah mendapatkan pasangan.

Baik dan perhatian? Dooh untuk yang ini saya benar-benar tersanjung. Apa saya memang baik dan perhatian yah? Perasaan biasa-biasa saja, meski ada beberapa orang teman yang bilang saya ibu peri. Hehehehe. Masalahnya kalaupun baik dan perhatian ini merupakan modal awal dalam mendapatkan pasangan, intinya orang kan harus mengenal saya dulu baru mereka bisa menilai kalau saya baik dan perhatian , tapi orang mendekat dan mengenal saya lebih jauh saja tampaknya ogah, jadi bagaimana mereka bisa memberikan penilaian saya baik dan perhatian.

Saya punya pengalaman agak-agak traumatis. Meskipun saya telah berusaha baik dan perhatian tapi tetap orang itu menolak saya. Berarti kan untuk mendapatkan pasangan tidak cukup hanya dibutuhkan sikap baik dan perhatian. Maaf jadinya saya curcol.

Untuk menimpali pertanyaan teman saya tadi, saya cuma menjawab: “iya yah, kenapa sih banyak orang yang nggak engeh kalau ada mutiara hitam, meski dalam lumpur?”

Teman saya sambil terbahak kemudian mengatakan: “Ya siapa juga yang mau ngubek-ngubek lumpur buat mendapatkan mutiara. Hitam lagi”

Mungkin itu juga masalahnya, saya merasa bahwa saya mahal, jadi saya berprinsip tidak mudah mendapatkan saya. Dibutuhkan usaha lebih. Tapi orang pasti akan berpikiran, untuk apa usaha lebih kalau untuk mendapatkan barang yang serupa bisa dibeli dengan mudah. Bahkan di pinggir jalan. Nurani saya berteriak, itu kan imitasi, kalaupun asli pasti mutiaranya berasal dari pelecypoda tidak berkualitas yang tumbuh di teluk Jakarta yang tercemar. Tetap saya tidak mau kalah. Tambah nggak heran kan kenapa saya tidak juga mendapatkan pasangan.

Akhirnya saya hanya bisa pasrah dan berserah. Saya yakin pada waktunya akan ada seseorang yang berani mempertaruhkan hidupnya untuk mendapatkan mutiara hitam seperti saya. Meski harus mengubek-ngubek lumpur. Saya hidup dengan keyakinan itu saat ini.

PS: Tuhan, saya tahu kalau saya tidak akan pernah mendapatkan semua yang saya inginkan. Ketika kita mendapatkan sesuatu pasti kita akan kehilangan yang lainnya. Oleh karena itu, apabila ada pilihan untuk saya menjadi mutiara putih yang bersih tetapi tidak memiliki wawasan keilmuan seperti sekarang ini. Saya lebih memilih menjadi mutiara hitam saja Tuhan.

Senin, 14 September 2009

in memoriam of club pesta

Kemarin, saya mendapat undangan untuk buka puasa bareng dari kantor lama. Kantor lama sekali maksud saya. Kantor dimana saya bekerja ketika saya masih mahasiswa. Iya, saya sejak mahasiswa sudah bekerja, bukan karena kekurangan biaya buat bayar semesteran. Tapi karena untuk menyalurkan hobi yang tidak mau diam.

Dikenalkan oleh seorang teman yang sudah terlebih dahulu kerja disana, saya akhirnya diterima. Pekerjaan yang menyenangkan karena hobi berbicara saya terwadahi dengan baik. Dipercaya menjadi public relation di salah satu tempat hiburan yang berlokasi di salah satu hotel rasanya luar biasa, padahal yang punyanya tahu kalau background pendidikan saya jauh dari dunia ke-PR-an.

Empat tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk join dengan salah satu tempat kerja kan? Banyak sekali pengalaman yang tertoreh di hati saya. Empat tahun rasanya sudah menjadikan kami semua keluarga besar, meski akhirnya saya mengundurkan diri karena alasan Tugas akhir yang menyita waktu dan kesempatan yang saya dapat untuk short course di negeri sakura. Saya meninggalkan bagian terindah dalam hidup saya saat itu. Rasanya sedih tapi saya berpikir bahwa saya beranjak untuk sesuatu yang lebih baik. Masa depan saya.

Memang sepulang dari jepang, saya mendengar bahwa tempat hiburan itu akan tutup karena kesalahan pihak manajeman. Tapi saya tidak sempat mendatanginya karena kesibukan saya melanjutkan studi sampai tempatnya kemudian tutup meski hotelnya sampai sekarang masih ada. Mengingat hal itu kadang saya menyesal, padahal dari sana saya mendapatkan banyak pengalaman. Dan juga banyak pacar.

Kemarin waktu reunian buka puasa itu, kami berkumpul di restaurant hotel tersebut. Rasanya semua kenangan berlarian minta ditayangkan, kadang kabur, kadang baur. Tapi aromanya masih menusuk-nusuk hidung saya. Rasanya masih seperti kemarin. Bukan hanya kenangan tentang kantor itu yang datang memenuhi rongga dada saya, tapi orang-orang itu juga. Tiga orang mantan pacar saya. Iya, disana saya mendapat tiga orang pacar. Tentu dalam waktu yang berlainan. Lucu juga kalau diingat-ingat, kok dulu saya seperti piala bergilir. Seperti para pemain film Beverly hills yang pacarannya hanya sama orang di kelompok yang itu-itu saja.

Selaku orang baru, dengan asupan darah segar dan berasa miss congeniality yang ramah sana, ramah sini ternyata menarik perhatian orang, setidaknya tiga orang itu. Bayangkan, 4 tahun 3 kali ganti pacar di lingkungan yang sama. Rasanya kok nampak tidak tahu malu sekali saya. Tapi itu jaman muda, jaman-jamannya saya masih laku. Sekarang? Boleh tanya toko sebelah deh. Semakin bertambah umur, mungkin keberuntungan semakin berkurang juga. Atau saya mungkin sudah mempunyai standar baru untuk menata jalan ke depan, jadinya susah mendapatkan yang menurut saya cocok untuk saya ajak serius menata hidup. Dulu lebih banyak untuk senang-senang, atau sebagai ajang pembuktian diri.

Tiga orang yang pernah mengisi lobus-lobus hati saya itu datang dengan pasangannya masing-masing, dan saya dengan bloonnya datang sendirian. Padahal kalau mau, saya kan bisa ngajak adik atau kakak sepupu atau teman sekalipun yang kemudian saya bilang pasangan saya. Tapi kemudian saya berpikir, untuk apa menipu diri. Tak ada untungnya buat saya, selain perasaan berdosa. Nurani saya kemudian berkata, nggak laku yah nggak laku saja, tidak usah memaksakan. Toh dengan masih sendiri, tidak berarti saya tidak bahagia.

Seperti sering saya bilang, melihat mantan-mantan kekasih saya sekarang bahagia dengan pasangannya sudah membuat saya sangat bahagia. Tak ada kebahagiaan yang lebih sempurna dari melihat orang yang (pernah) kita sayangi mendapatkan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Melengkapkan puzzle memori suka cita dalam ingatan saya.

Hei kamu…kamu…dan kamu…saya senang bertemu dengan kalian hari ini. Menyegarkan kembali ingatan saya akan semuanya. Terima kasih pernah memberi saya kenangan yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapanpun. Saya turut mendoakan semoga hubungan kalian saat ini bisa langgeng. Selamanya. Amien.

Jumat, 11 September 2009

Postingan Terakhir

Aku menyerah. Aku memilih untuk menanggalkan semua rasa yang ada. Rasanya sakit, tapi aku tidak punya pilihan. Dipaksa beranjak dari satu perasaan yang awalnya membuncah memang tidak gampang, dibutuhkan tidak hanya air mata tetapi juga usaha.

Aku menyerah di akhir langkah. Memutuskan untuk melepaskan cinta yang belakangan ini bergelayut di gelambir hati. Aku memilih untuk melihatnya bahagia dengan jalannya, yang dari awal aku tahu tak mungkin ada aku disana. Aku kemarin hanya memaksakan, berusaha memanipulasi keadaan.

Aku kalah. Aku berhenti berjuang untuk apa yang aku yakini. Kini aku hanya akan berjalan mundur, melewati pematang kehidupanku sendiri. Mencari peruntungan baru yang aku tahu pasti ada terbentang disana.

Kisah ini akan kumasukan dalam jambangan kesedihanku seperti biasanya. Jambangan yang isinya hanya cerita yang itu-itu saja. Disakiti, ditolak, diterlantarkan, diabaikan. Jadi rasanya sudah teramat biasa dengan perasaan ini. Kesedihan sudah bersahabat lama dengan hidupku, jadi kalau sekarang hanya ditambah lagi satu cerita nampaknya aku sudah kebal.

Seperti aku pernah bilang bahwa dalam cerita ini aku selayaknya rumput liar yang ada di taman, karenanya akan ada saatnya untuk aku menepi kemudian mati. Inilah saatnya. Saat untuk menepi dan mematikan perasaan yang pernah ada. Jalan yang terbaik. Pasti ada air mata, tapi itu rasanya lebih baik dibanding memboroskan perasaan untuk sesuatu yang sia-sia.

Tuhan, mungkin tak akan Engkau dengar lagi namanya kusebut dalam doa-doaku, meski aku selalu mendoakan dia bahagia. Aku kemudian berserah kepada-Mu, Tuhan. Engkaulah pemilik seluruh hidupku, Sutradara dari jalan hidup yang aku lakoni.

Kalau boleh aku meminta, untuk episode mendatang, aku ingin cerita yang berakhir bahagia. Kalaupun itu tidak ada dalam daftar pilihan, aku meminta cerita tentang kesendirian yang bahagia. Rasanya jauh lebih nyaman merasa sendirian ketimbang selalu sakit seperti ini.

Untuknya, kutawarkan uluran persahabatan seperti dulu. Saat perasaan ini belum tumbuh subur dan tak terkontrol. Maafkan aku kalau selama ini membebani langkahmu.

Tuhan, aku kalah. Aku menyerah…

Rabu, 09 September 2009

Mimpi

Semalam aku bermimpi dia datang ke tempatku. Wajahnya bersih, bersahabat dan tanpa pandangan penuh selidik. Matanya hanya menyapu sekilas keseluruhan tubuhku, dan diakhiri dengan senyuman manis. Tak ada kesan menghakimi.

Ketika dalam mimpi itu dia datang, dia tak bersuara, tapi dari matanya aku bisa tahu banyak kata yang tercipta. Kebisuannya justru mengigilkan tubuhku, menggulungku dalam perasaan bersalah yang teramat sangat. Aku beringsut mencari pojokan untuk berlindung. Bibirnya yang tak berujar sepatah katapun justru menenggelamkanku dalam perasaan berdosa.

Aku duduk berhadapan dengan dia dalam dimensi yang sulit dimengerti. Kita tidak saling berbicara, tapi hati saling berujar. Hatiku yang berujar banyak tepatnya. Dia hanya menatapku, lagi-lagi tanpa ada kesan menghakimi.

Aku berdosa pada dia, hatiku berisyarat. Aku telah mengambil banyak kesempatan ketika dia sedang tidak berada di sana. Aku menikmati setiap momen yang tercipta, menyelesupkannya dalam kompartemen hatiku. Aku bermaksud untuk memiliki semua momen itu padahal justru dia yang paling berhak untuk mendapatkan semuanya. Aku mencoba curang dengan menganggap dia tidak ada, padahal jelas-jelas dia ada disana. Mungkin tidak mengamati, tapi instingnya aku yakin bisa merabanya. Makanya dia datang dalam mimpiku malam tadi.

Aku berulang kali minta maaf dalam mimpi tadi malam, tapi dia hanya meresponnya dengan senyuman. Senyuman yang aku sendiri tidak bisa mengerti apa artinya. Aku hanya melihat sebuah telaga ketidakrelaan disana, tidak rela karena aku berusaha merenggut kebahagiaannya. Matanya kemudian mengirimkan banyak isyarat melalui perantaraan udara, memintaku untuk mengerti posisi dia. Aku kemudian dipaksa bergulat dengan logika hati dan rasa, sehingga aku terengah-engah sebelum akhirnya berdiri pada satu keputusan.

Dengan tatapan tanpa menghakimi, tanpa selidik justru membuatku tak berdaya. Hatiku luluh lantak kemudian otak dengan kesadaran yang masih sedikit tersisa memerintahkanku untuk mulai mengemasi hati kecil perakku yang tak terasa sudah lebur. Beranjak untuk memberi kesempatan kepada dia bahagia dengan apa yang sesungguhnya sudah dia miliki dari awal. Aku hanya berusaha merebut kebahagiaan itu. Makanya meskipun tanpa kata, aku tahu dia hanya meminta sesuatu yang menjadi miliknya. Dan memang sudah saatnya aku mengembalikan semuanya. Mengembalikan kebahagiaannya.

Iya semalam aku bermimpi tentang dia. Kekasih resmi dari orang yang aku cintai.

Selasa, 08 September 2009

Maaf, Aku Lupa...

I’ve got an email days ago:

Dear Apisindica,

Apa Kabar Apis? Aku mengerti kalau misalnya kamu lupa akan hari ini karena memang tidak lagi penting hari ini bagimu. Aku juga kemudian mengerti ketika tidak ada kata perpisahan seperti yang kita pernah reka-reka dalam imaji, dulu. Sekarang aku bukan siapa-siapa bagimu.

Hari ini aku hanya ingin pamit karena hari ini, iya hari ini aku akan pergi melanjutkan studiku ke Negara itu, seperti yang sudah kamu tahu, dulu. Aku selalu menekankan dulu karena memang sekarang keadaan sudah berubah, dan itu disebabkan oleh tindakan bodohku. Aku mengerti kalau kamu masih belum bisa memaafkanku. Aku mengerti, setidaknya ini adalah hukuman dari kelakuanku menelantarkan perasaanmu. Rasanya sakit melawati hari ini tanpa mu.

Rasanya ingin aku berdiri di bandara bersamamu hari ini, seperti yang pernah kita diskusikan dulu. Lagi-lagi dulu, ketika masih ada kita. Berdekapan erat seakan tak terpisahkan, saling menguatkan, saling meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena jarak bisa diakali, belahan dunia bisa disiasati. Tapi hari ini, aku berdiri sendiri, tanpa kamu yang melepas kepergianku. Sudahlah, aku hanya ingin pamit.

Dua tahun mungkin bukan waktu yang lama sehingga rasanya tidak muluk-muluk apabila dua tahun itu telah terlalui aku masih berharap kamu mau kembali. Pengharapan yang berlebihan mungkin, tapi aku percaya akan mimpi, dan aku tidak ingin terjaga ketika bermimpi tentangmu. Maafkan aku yang waktu dulu terjaga tiba-tiba dan meninggalkan mimpi itu. Ketika aku mencoba kembali menutup mata, kamu sudah tidak ada, kamu sudah hilang dari sana.

Aku pamit Apis, semoga dua tahun dari hari ini aku masih bisa merengkuhmu. Oh iya, kamu dapat salam dari mamie, papie dan Ko Andre. Mamie bilang, sampai kapan kamu akan menghukum mamie seperti ini?

-Mata segaris-

Lupa….aku benar-benar lupa kalau sudah awal September. Parahnya aku lupa kalau awal September dia, seseorang yang pernah menorehkan cerita indah di hari-hariku akan pergi melanjutkan studinya. Maafkan aku mata segaris, aku benar-benar lupa.

Tidak bermaksud menyiksamu dengan membebani perasaan bersalah yang berlebihan, karena aku sudah memaafkanmu dari dulu. Bahkan aku sudah mengampunimu dari saat kamu tidak memilihku dan berpaling pada orang lain. Jadi tak ada niatanku untuk memberatkan langkahmu dengan tidak menghubungimu ketika kamu akan pergi. Aku hanya lupa, benar-benar lupa. Maafkan aku untuk itu.

Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di depan. Setahun, dua tahun, entah apa yang akan terjadi. Jangan menutup hatimu untuk orang baru disana, siapa tahu kamu menemukan seseorang yang lebih. Karena seperti aku, sekarang aku sedang berjalan dalam track bersama seseorang yang aku perjuangkan cintanya setengah mati. Aku tidak mau masa lalu membelengguku untuk melangkah mencicipi cinta. Aku berharap kamu melakukan hal yang sama. Setidaknya mencoba membuka hati.

Soal mamie, aku tidak menghukum dia. Aku masih menyanyanginya seperti dulu, saat katanya aku akan menjadi calon menantunya. Biar nanti aku jelaskan kepadanya kalau aku masih Apis yang dulu. Calon menantunya atau bukan, aku masih tetap sayang padanya. Tidak ada yang berubah.

Maafkan kalau tanpa sengaja aku ternyata sudah menyakiti banyak orang. Aku hanya tidak mau berlarut-larut dalam masalah yang akan memasungku dalam masa lalu. Aku hidup tidak surut ke belakang, aku hanya ingin bergerak di jalan yang ada.

Ps: buat kamu, seseorang yang sekarang sedang aku perjuangkan cintanya. Jangan lantas cemburu, ini hanya penggalan masa lalu. Saat ini aku lebih memilih beriringan denganmu meski dalam perasaan yang terabaikan. Aku hanya ingin kamu tahu.

Kamis, 03 September 2009

Mencintainya...

Akhirnya aku sudah menamatkan rasa cintaku padanya. Bukan dalam artian bahwa aku berhenti mencintainya, tapi aku sudah menamatkan semua rasa yang selama ini terpenjara di dalam hatiku. Akhirnya aku bilang kalau aku mencintainya.

Aku tidak peduli dengan respon yang kemudian tercipta. Aku hanya ingin membebaskan rasa yang ada. Membebaskannya dari belenggu. Aku sudah cukup bahagia dengan memberitahukan perasaanku padanya. Tak ada penyesalan, tak ada rasa bersalah, karena aku yakin dengan apa yang aku rasakan kemudian aku perjuangkan.

Mencintainya ternyata mampu membuatku menjadi orang yang lebih manusiawi. Orang yang mampu berkompromi kemudian berdamai dengan hati. Mencintainya membuatku mampu berkompromi dengan rasa sakit, berkompromi dengan sikap egois, berkompromi dengan perasaan cemburu, berkompromi dengan sikap kekanak-kanakan. Aku bisa mengatasi semuanya. Tidak seperti dulu. Mencintainya mampu mengubahku jadi lebih baik, karena itu aku bersyukur jatuh cinta kepadanya!

Tuhan, terima kasih Engkau telah anugerahkan rasa cinta ini untuknya. Aku tahu pasti ada maksud di balik ini semua, entah maksud baik yang berimbas baik, entah maksud baik yang berimbas buruk. Yang pasti aku sadar bahwa Engkau tidak sedang mempermainkan perasaanku.

Tuhan, semoga Engkau juga tidak bosan mendengar namanya kusebut dalam doa-doaku. Aku hanya ingin mendoakan yang terbaik untuknya. Membantunya melancarkan segala urusannya. Dan seperti Engkau selalu dengar Tuhan, aku tidak pernah berdoa agar dia balas mencintaiku. Bukan aku tidak ingin dia balik mencintaiku, aku hanya ingin proses itu terjadi sewajarnya. Tanpa paksaan. Dan apabila tidak balik mencintaiku justru membuatnya jauh lebih bahagia. Aku sudah sangat senang. Setidaknya aku tamat dalam rasa cintaku.

Aku tidak ingin mencintainya menjadikanku seorang yang egois. Aku hanya ingin melihatnya bahagia.

Selasa, 01 September 2009

Reactions of Love

Kemaren-kemaren gue memang bikin banyak postingan yang kayaknya menggambarkan kalau gue desperate banget. Memendam cinta tak kesampaian, cinta sebelah tangan, cinta yang menurut sebagian orang aneh, Cinta yang katanya menyakiti diri sendiri.

Ternyata hal itu banyak mengundang reaksi dari temen-temen terdekat gue. Baik melalui komen langsung di postingan itu, SMS, YM, bahkan melalui omongan langsung. Kebanyakan mereka mempertanyakan sikap gue sih, yang katanya bukan gue banget. Mereka serasa tidak mengenal gue saat ini.

Komen beberapa teman di postingan:
  1. 1. dari awal,gw udah ngrasa aneh. apisindica suka sama pacarnya orang?? that's so not you babe.....
  2. yang sabar ya beib... orang bijak pernah berkata, "cinta tidak harus memiliki"... quote yang standard dan sering kita dengar kan?? tapi memang begitu adanya...I believe, some other times u would find the one that u love and u could share ur love each other... :D
  3. wake up, darliing !!! WAKE UP !!! loe terbuai,,,,,
  4. Melow sekali.. gw ga kenal sama Apis yang ini.. yang gw kenal dia orangnya kuat! Bangun!!!
  5. Gw heran.....kayak apa sih orang yang bisa bikin loe kayak gini. Cinta emang buta darling tp loe kan bisa operasi mata (ganti retina kek) .....Ato loe lebay karena terpengaruh kesendirian? Bukan loe banget ahhh

Komen melalui SMS:
  1. Love is blind. And you certainly is very blind now. Bisa-bisanya jadi orang ketiga…
  2. Mungkin dia hanya merasa nyaman. Terusin aja lah, tapi tanpa banyak berharap. Enjoy aja gitu maksud gw…
  3. Ya udah lah, lepasin aja. Kesannya lo jadi ribet sama hati dan perasaan elo. Gimana coba kalo dia jadi parno sama elo. Gak banget kan?

Komen di YM
  1. Take time, peri (hahaha, cuman dia yang manggil gw peri). Lu cuman butuh waktu buat ngeyakinin diri sendiri kalau dia bukan buat kamu. Inget gak maktu lu nasehatin gw tentang hal yang sama, sekarang saatnya dipraktekan…
  2. Darling, bukan tipe lu banget sih (sama si temen cewek gw yang di antah berantah ini, gw kirimin foto si dia). Sepanjang gw kenal elu, yang begituan bukan tipe lu deh. KOK BISAAAAAAA????...tapi namanya juga cinta yah, kita gak bisa milih. Tapi satu lagi, KOK SUKANYA SAMA PACAR ORANG? Kayak yang gak laku aja. Please deh….

Komentar langsung dari temen kuliah gue yang tau banget siapa gw : “Apis, kayaknya dia bukan tipe lu? Gue kan tahu siapa pacar-pacar lu sebelumnya dan yang ini kayaknya beda dari yang dulu-dulu. Mana yang ini pacar orang lagi. Dulu aja kalo yang suka sama lu dan dia pacar orang, pasti lu nggak mau. Kok sekarang bisa-bisanya sih suka sama pacar orang, yang dengan jelas bilang nggak suka sama lu. Ada apa sih sama lu. Gw heran….”

Senangnya punya teman-teman yang perhatian. Gue tahu reaksi mereka cuman peduli sama gue. Mereka cuman nggak ingin gue terluka seperti biasanya. Apalagi ini jelas-jelas endingnya bakal kayak gimana, sama yang pasti-pasti aja kadang mereka khawatir. Makanya gue merasa bersyukur dikelilingi teman-teman seperti mereka.

Emang kalau gw jatuh cinta sama dia salah yah? (ya iyah lah salah, pacar orang gitu!). Tapi gue gak bisa apa-apa dengan perasaan ini. Tumbuh gitu aja, nggak kekontrol.

Gue minta sama temen-temen gue, jangan meninggalkan gue ketika gue terantuk pada kenyataan yang sudah dengan jelas terpampang di depan. Jangan pernah bilang: “kan udah gue bilang….” Karena dari awal gue sudah tahu konsekuensinya, gue nanti hanya butuh pundak untuk berbagi, seperti biasanya.