Jumat, 21 Januari 2011

Tiga

Tanpa terasa, tiga tahun sudah proses bertumbuh yang telah dilalui. Berproses seiring dengan perputaran waktu yang terus melaju. Mengantarkan pada satu pemberhentian ke pemberhentian selanjutnya, menyisakan banyak kejadian yang patut untuk dikenang.

Tiga tahun menghasilkan beragam coretan. Tertuang dari yang mulai sangat sederhana sampai ke yang sangat berlebihan tergantung suasana hati. Coretan yang membuatnya semakin dewasa, entah dalam memaknai hidup ataupun dalam menuangkan isi hati. Semuanya dianggap pembelajaran yang senantiasa mendewasakan, membuatnya tidak lagi mudah menangis ketika banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Air mata memang masih ada tetapi dimaknai dengan cara yang berbeda. Itulah dewasa yang telah dilalui selama tiga tahun keberadaannya.

Seperti kebanyakan serangga holometabola yang mengalami metamorfosis sempurna, tiga tahun telah membuatnya berulangkali mengalami siklus kehidupan. Telur-Ulat-Kepompong-Lebah. Berulang dengan putaran yang sama. Dan dalam setiap putarannya, seorang Apisindica berusaha untuk terus menjadi lebih baik. Membenahi ini dan itu untuk sekedar bertahan dari perubahan iklim yang tidak menentu yang ternyata tidak hanya mengancam tetapi juga membuatnya harus terus beradaptasi. Menyesuaikan dengan apa yang sedang berlangsung. Bertahan hidup.

Hari ini tiga tahun lalu seorang Apisindica mencipta tempat bermainnya sendiri. Sebuah taman imaji yang dia sebut taman aksara. Taman yang membuatnya hilir mudik di puluhan kuncup bunga untuk mengumpulkan polen-polen aksara, merangkainya menjadi sebuah prosa. Dan semenjak itu tidak pernah ada keinginan sedetikpun bagi Apisindica untuk berhenti menulis. Dia kecanduan kata, mabuk oleh makna yang diciptakan sebuah diksi yang dia ciptakan sendiri. Berulang kali tersungkur dan bersyukur karena berhasil membuat semacam galeri perjalanan hidup yang telah dijalaninya.

Bukan cuma itu, taman aksara berhasil membuat seorang Apisindica mengenal dunia luar yang juga memabukkan. Mengantarkannya pada kasih persahabatan yang juga terpola karena aksara. Sahabat yang tercipta karena pertautan kata, terpatri karena pengejawantahan arti. Sahabat-sahabat yang menjelma menjadi nyata bukan hanya di lingkup taman aksara tetapi lebih luas lagi. Sahabat yang bisa direngkuh pasti ketika banyak masalah yang mendera. Sahabat yang tak sungkan mengulurkan bantuan ketika Apisindica dirundung kesedihan.

Sudah banyak transformasi yang dialami Apisindica dalam menoreh kata. Banyak pro dan kontra tentang bagaimana dia mempertontonkan banjar-banjar makna dalam selubung kata. Tapi dia bergeming, merasa bahwa inilah gayanya. Pola menulis yang membuatnya nyaman, eksplorasi penuh diksi. Mungkin dirasa muram, penuh kesedihan, tapi Apisindica kemudian berdalih di balik topeng sebuah ciri khas. Metamorf perjalanan taman aksara.

Di hari ulang tahunnya yang ketiga, ijinkan Apisindica melalui taman aksaranya berterima kasih kepada semua orang yang telah memberikan apresiasi. Membuatnya tetap subur dan bertahan sampai sekarang. Buat mas Fa, inspirasi tiada henti. Cikal bakal lahirnya konstruksi taman aksara. Untuk teman-teman lain yang selalu hadir, yang meracau dan membuat taman aksara tidak seperti kota mati yang sepi. Terima kasih, berkat kalian semua taman aksara menjadi lebih hidup dan bermakna. Berkat kalianlah, aku, Apisindica berproses dan bertahan sampai sekarang. Terima kasih!

Selasa, 18 Januari 2011

Ditelikung Malam

Seandainya kamu tidak menyelinap diam diam malam tadi, semua ini tidak akan terjadi. Kehadiranmu yang justru menunggang sunyi telah meninggalkan sebuah jejak yang sampai kini tidak aku mengerti. Mengurai sebuah tema yang sesungguhnya tidak ingin aku reka, menggagas cerita yang sama sekali tidak mau aku retas.

Untuk apa kamu menyelinap diam diam malam tadi?

Dalam diam kamu justru mengoyak perasaan tanpa aku bisa meronta. Aku seakan dipaksa menyaksikan sekian reka adegan yang sama sekali tidak ingin aku pandang. Tapi kamu memaksa, menjejalkan semua pesan perantaraan diam ke dalam labirin perasaan. Bahkan ketika aku sekuat tenaga memejamkan mata. Berontak tidak membuatmu menyerah, kamu justru lebih beringas memasukan segala sesuatu pada ranah ingatan.

Aku tidak pernah mengganggumu, mengusik keberadaanmupun tidak. Jadi untuk apa kamu menggangguku? Menyelinap diam-diam kemudian meninggalkan perasaan yang sebetulnya aku ingin lupa. Ibarat ombak yang mengoyak bibir pantai, kamu datang tanpa bisa dibendung. Beralasan mengikuti takdir yang tidak bisa dihindari. Datang kemudian mengendapkan ketidakpastian asa. Menanarkan langkah yang seharusnya ringan untuk digerakan.

Aku membencimu. Bukan karena kedatanganmu yang memang tidak bisa aku hindari. Aku membencimu karena kamu datang menunggang sunyi, menyelinap dalam diam kala aku belum mempersiapkan diri. Semua terjadi begitu cepat, belum sempat aku menggugat kamu sudah beranjak. Meninggalkan semua tanda tanya besar yang terkungkung rekam imajinasi. Ketidakpastian yang membuatku terombang-ambing dalam lautan pencarian sebuah jawaban.

Untuk apa kamu menyelinap diam diam malam tadi?

Ketika aku tidak banyak bereaksi, bukan berarti aku mengijinkanmu untuk bertandang. Ketika aku terbelenggu jarak, bukan alasan bagimu untuk datang diam-diam menunggang bisu. Tanpa kata kamu justru menjejalkan banyak makna. Tanpa suara kamu justru menyelusupkan banyak selaksa. Entah apa maksudmu, karena di akhir keberadaanmu malam tadi aku belum juga bisa mengurai satu-satu kemungkinan alasan yang kamu ingin sampaikan.

Aku hanya bingung. Bagaimana kamu bisa menyelinap malam tadi. Bukankan semua pintu dan jendela sudah aku tutup rapat? Mungkinkah kamu masuk melalui lubang angin yang memang aku biarkan terbuka kemudian masuk kedalam selimutku? Tapi untuk apa? Bukankah urusan diantara kita sudah selesai jauh-jauh hari. Tidak ada lagi yang perlu digagas. Tidak perlu lagi sebuah penjelasan. Semua sudah usai, seiring air hujan yang terlindi menuju saluran. Mengikuti khitoh yang tidak bisa dipertanyakan.

Aku menggugatmu bukan karena persoalan dulu. Aku hanya membencimu yang datang dengan cara menyelinap diam-diam malam tadi. Menunggang mimpi.

Jumat, 14 Januari 2011

Berujung Terang

Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya kalau betapa beruntungnya dirimu? Kamu beruntung karena lebih dahulu menemukan terang. Keluar dari lorong gelap yang memabukkan, mencapai garis akhir yang menjanjikan sebuah kepastian.

Pasti tidak mudah, apalagi senandung tetaluan dari lorong gelap itu senantiasa mengalun. Memanggil untuk sekedar menoleh ke belakang, menghadirkan ribuan coba yang kadang menggoyahkan. Tapi lihat, sejauh ini kamu tetap kuat bertahan. Tidak goyah meski untuk sekedar bermain di tepi himpunan bahkan dengan orang-orang yang dulu sempat terlingkarkan. Bagaimanapun itu bentuk godaan, jadi aku sangat paham kalau kamu sama sekali tidak ingin bersentuhan. Beririsan dengan penggalan masa lalu yang pastinya masih menggoda untuk dijajal.

Aku kagum pada pendirianmu. Kukuh berpegangan pada janji yang pernah terlontar. Terpatri pada kata yang sudah diucapkan sebagai sumpah. Sudah sepantasnya kamu bersikukuh, karena imbalannya adalah kebahagiaan yang hakiki. Bukan hasil reka-reka seperti yang dijanjikan ketika kita berjalan di dalam terowongan itu. Gelap yang tergambar mungkin menjanjikan kebahagiaan, tapi itu semu. Akan berakhir dengan keambiguan.

Sekali lagi aku katakan betapa beruntungnya dirimu.

Kini kamu sudah bersahabat dengan cahaya. Tak perlu lagi naungan yang justru mengaburkan setiap bayangan yang semestinya tergambar dengan sempurna di halaman. Tidak perlu lagi ada keragu-raguan bahkan ketakutan untuk menjadi kelabu. Masa itu sudah berlalu, digilas putaran langkah yang membebaskan. Mengenyahkan belenggu yang memberongsong ketidakmampuan. Semua gelap sirna, diganti pencerahan. Aku bahagia karenanya, sebab sahabatku kini tak perlu lagi tertatih. Tak perlu lagi meraba-raba. Semua sudah jelas terpampang. Tanpa keraguan.

Jauh di dalam hatiku, aku iri padamu. Terang lebih dahulu menyambangimu, sementara aku di tingkat kesadaran yang paling kecilpun masih sedemikian betahnya dininabobokan abu-abu. Bukan tidak ingin keluar dari terowongan, hanya saja semua kemungkinan jalan yang terpampang belum mengantarkanku pada ujung yang berakhir pada terang. Masih buntu yang aku temui di setiap titian. Mungkin waktuku belum tiba. Belum saatnya aku bermuara pada sebuah kepastian.

Tidak pernah kusangka bahwa aku akan menerima lagi sapa darimu yang telah dimahkotai kebebasan. Tidak bisa berucap pada awalnya, semua kata diberangus bahagia mendengar apa yang sekarang kamu tengah alami. Jawaban atas semua doa sekarang terpapar jelas di beranda rumahmu. Menanti untuk direalisasi satu demi satu. Disyukuri sebagai anugerah dan berkah yang tak perlu lagi sangsi untuk direcap. Aku ikut bahagia.

Sahabat, meskipun ternyata kita tidak lagi bisa bersinggungan. Aku tetap mendoakan, agar apa yang telah kamu perjuangkan bisa terus diretas sampai ujung batas pencarian. Aku sadar benar bahwa apabila diantara kita kemudian beririsan, terlalu riskan untuk mempertaruhkan apa yang sudah kamu dapatkan. Aku mengerti. Tanpa kamu mintapun aku sudah membiasakan diri. Merilis sedikit demi sedikit ikatan batin yang dulu pernah direkatkan.

Aku bahagia, bukan karena terang yang sudah kamu dapatkan. Aku bahagia karena ternyata akhirnya kamu bahagia.

Ditulis untuk sahabatku si peranakan Padang-Arab dengan tinggi badan 180 cm. Jauh disini, aku merindukanmu.

Selasa, 11 Januari 2011

Kita

Hey, ternyata kamu benar. Aku tidak sekuat apa yang aku bayangkan. Roboh juga akhirnya aku di ujung sua kita yang terakhir. Luruh bagai petal-petal bunga yang tak lagi kuat menahan kencang angin di musim gugur yang mengigilkan. Berserakan.

Pernah aku sesumbar bilang kalau aku bakalan sanggup melewati rentang ini. Menyiasati dan memanipulasinya hingga tak ada lagi koordinat yang berjauhan. Ternyata aku salah, bagaimanapun jarak adalah jarak. Memisahkan dua titik dan membuatnya saling bersebrangan. Kadang bisa ditarik garis lurus diantara keduanya, tapi tidak setiap waktu. Ada barier-barier yang membuatnya tetap harus terpisahkan.

Tapi kamu tidak perlu khawatir, meskipun aku sempat tersungkur, itu tidak akan merubah apa-apa. Anggap saja setiap perpisahan itu adalah sebuah undakan yang justru akan mengantarkan kita pada puncak yang sudah kita reka. Semacam ujian kenaikan kelas.

Kalaupun ada air mata, itu hanya pengaruh suasana. Sekuat apapun kita mencoba berdiri, perasaan tidak akan bisa dibohongi. Bakal ada sesuatu yang kurang ketika kebersamaan kemudian digantikan dengan ketidakadaan meskipun itu sifatnya sementara. Semua kuat lambat laun akan terkikis dan kemudian menebal kembali untuk terkikis lagi. Dan lagi. Ibarat siklus, putarannya akan mengantarkan kita pada hal yang itu-itu juga. Tapi dalam kasus ini, aku yakin semakin banyak putaran semakin kencang awahan yang kita simpan untuk lepas dari kungkungan.

Aku berjanji, tidak akan ada lagi sedih bekepanjangan. Kalaupun ada, cukuplah sehari ketika kita berpisah (lagi-lagi) di bandara. Setelah itu tak boleh lagi ada alasan untuk bersedih atau mengurai air mata. Perpisah itu menjanjikan sebuah pertemuan, jadi untuk apa diratapi. Perpisahan itu menguatkan, menguntai helai demi helai kepercayaan menjadi tali yang justru akan mengikatkan kita. Aku dan kamu. Selamanya.

Hari ini 11 Januari 2011 (11111). Angka cantik. Dan hari ini aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Semoga banyak harap yang akan terwujud dalam kehidupanmu sekarang hingga nanti. Maaf sekali tidak bisa memelukmu seperti yang sudah kamu lakukan ketika ulang tahunku kemarin. Tidak ada juga kado istimewa atau sekedar kejutan menyenangkan yang seharusnya bisa aku siapkan. Cukuplah yakin kalau aku senantiasa ada. Berdiri dalam jarak yang tidak dekat tapi nyata. Bisa diandalkan.

Semoga di usiamu yang sekarang, kamu lebih bisa memaknai hidup sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Menghargai setiap jengkal usaha untuk mencapai cita tentang kita. Tak perlu banyak bicara karena aku tahu kita memiliki keinginan yang sama. Terima kasih untuk selalu membuat bentuk hati di dadaku senantiasa berbentuk utuh. Dan aku harap, aku juga bisa melakukan hal yang sama untukmu.

Dengar, yang mengalun bukan lagu selamat ulang tahun seperti biasanya. Tapi lagu tentang kita, lagu yang kemarin kita dengarkan hingga nyaris gila : With you is where I'd rather be. But we're stuck where we are. And it's so hard,you're so far. This long distance is killing me. I wish that you were here with me. But we're stuck where we are. And it's so hard,you're so far. This long distance is killing me. (long distance by Bruno Mars)

Kamis, 06 Januari 2011

(bukan lagi) Resolusi

Sudah enam hari beranjak di kalender baru tahun ini. Saya masih ingat setiap awal tahun semua orang membuat berbagai resolusi, termasuk saya. Di tahun-tahun terdahulu biasanya saya merinci apa-apa yang saya ingin realisasikan selama 365 hari kedepan. Mengeluarkan harapan dari sangkarnya untuk dijadikan pijakan dalam mengejawantahkannya dalam bentuk lebih nyata.

Setiap tahun saya merinci. Merunut keinginan dari yang paling logis ke yang paling tidak masuk akal. Mematrinya dalam kepala agar terus diingat dan diusahakan terlaksana sesuai dengan plot yang telah saya reka. Ada yang kesampaian, tapi banyak juga yang tidak kejadian. Seperti saya pernah bilang, ternyata banyak mimpi yang memang harus dipelihara hanya sebagai mimpi.

Enam hari bergerak dalam tahun yang baru saja dibuka, dan saya belum membuat resolusi apa-apa. Bukan tidak memiliki mimpi atau pengharapan, tapi rasanya setiap tahun saya hanya menuliskannya tanpa berusaha sekuat tenaga. Menjadi semacam ritual mengikuti kelatahan banyak orang tanpa bertanggung jawab untuk merealisasikannya dengan berusaha. Mungkin saya terlalu pemalas, atau hanya hidup dalam mimpi yang sebetulnya memang hanya mimpi. Entahlah.

Bukan saya putus asa. Tidak. Saya tidak pernah mengijinkan jiwa saya tergadai pada perasaan putus asa. Putus asa hanya membuat hidup kita stagnan, padahal hidup tidak diam atau surut kebelakang. Hidup itu bergerak maju, dan dalam perjalanannya banyak yang harus kita lihat sambil meraih kesempatan yang terpampang apabila dimungkinkan. Kesinambungan seperti itu yang harus terus dijalani, memanfaatkan semua kesempatan yang ada.

Saya tidak lagi muluk-muluk. Tidak ingin ini dan itu yang kadang hanya saya tulis sebagai kelatahan saya terhadap ritual bernama menetapkan resolusi. Saya hanya ingin memanfaatkan semua kesempatan yang pasti mampir selama saya melangkah di 365 hari kedepan. Kesempatan yang pastinya bisa saya raih untuk kemudian saya perjuangkan. Hasil akhir bukan saya yang menentukan, karena pastinya semua sudah diatur Tuhan. Saya hanya perlu berjuang yang dikombinasikan dengan merapal doa.

Tapi kalau saya diperbolehkan berdoa dan memilih kesempatan apa yang saya harapkan datang pada tahun ini, maka saya akan memilih beberapa. Tidak usah terlalu banyak, karena ternyata semakin bertambah usia semakin saya merasa lebih bijaksana menurut kacamata saya. Semakin banyak keinginan kita menjadi tidak fokus dalam merealisasikannya. Terlalu banyak pilihan yang justru membuat kita menjadi tidak beranjak kemana-mana.

Saya hanya ingin diberi kesempatan menjadi manusia yang lebih baik. Itu saja. Kalaupun dalam prosesnya nanti saya kemudian diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah seperti yang saya inginkan, atau diberi kesempatan untuk mempertahankan perasaan kepada orang yang sekarang mengisi hati saya sampai nanti, saya anggap itu rezeki. Imbalan dari setiap doa yang terucap, atau bonus dari berproses menjadi manusia yang lebih baik tadi.

Saya juga ingin diberi kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan. Dzat Maha Agung pemilik dan pengatur hidup saya. Boleh saja orang menilai dan menghakimi jalan hidup yang sudah saya pilih, tapi saya yakin Tuhan tahu hati saya. Tuhan tidak akan menzhalimi saya, pasti ada alasan serta jalan keluar dari sebuah penciptaan masalah. Dan saya yakin Tuhan punya pemecahan dari keambiguan saya.

Hari ini saya berdoa, semoga setahun kedepan bisa saya jalani dengan baik. Penuh rintangan yang bisa saya hadapi dan siasati. Mengubahnya menjadi rahmat yang akhirnya saya syukuri. Amin.