Sabtu, 28 Juni 2014

Ramadhan Datang

I love ramadhan because that kid who never prays, prays. That girl who never covers, covers. That guy who never fasts, fasts. Even if it’s just for a month, at least these “types” of people tasted the “sweetness of faith” just for one month. And perhaps months later down in life, if their life ever becomes bitter, they will refer back to ramadhan and yearn for that same “sweetness” they sampled just that one month. You call them “Only Ramadhan Muslims” but i call them “Muslim who may only need Ramadhan to change”

Saya bukan orang suci. Bukan orang yang tidak pernah khilaf. Bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bukan juga orang yang tidak pernah menyakiti perasaan orang lain baik yang tidak disengaja ataupun dilakukan secara terang-terangan. Saya manusia biasa. Sering khilaf, sering melakukan kesalahan dan sering menyakiti perasaan orang.

Saya tidak bangga, meski saya melakukannya lagi dan lagi. Saya tidak pernah jera bahkan ketika peringatan demi peringatan Tuhan hadirkan perantaraan kejadian yang membuat saya mengelus dada. Seringnya saya memaknainya sebagai sebuah kesialan karena saya tidak berhati-hati mengatur langkah. Saya bebal. Tidak kapok dan hanya sesaat tersadar untuk kemudian melakukan berbagai macam kesalahan lagi di setiap kesempatan. Saya mungkin tidak lebih pintar dari seekor keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama lebih dari satu kali.

Kemudian Ramadhan datang. Memberikan janji sebuah pengampunan besar di penghujungnya apabila saya menjalani setiap ibadah di bulan tersebut dengan penuh penghayatan, dengan tekad untuk melakukan sebuah pertaubatan. Dan saya tergoda untuk mengetuk pintu rahmat-Nya. Tanpa malu saya beringsut dari pojokan untuk mengiba sebuah bentuk pemaafan yang paling hakiki atas apa-apa yang sudah saya lakukan satu tahun ke belakang. Tanpa malu saya meminta lagi pengampunan seperti tahun-tahun sebelumnya. Meminta untuk dibebaskan dari segala macam ancaman dan ganjaran atas apa yang sudah pernah saya lakukan.

Ramadhan datang, membuka pintu langit untuk manusia yang ingin berjalan menuju terang. Saya kembali mengetuk, menunggu di ambang pintu seperti kebanyakan orang karena rahmat Tuhan pada bulan itu sedang banyak dibagi-bagikan. Saya dengan pakaian paling bagus berkumpul dengan khalayak ramai untuk memburu rahmatan. Pakaian paling bagus yang saya punya, yang kali ini bukan untuk bertopeng ataupun menyamarkan. Paling bagus karena saya malu untuk meminta ampunan dengan pakaian lusuh yang seperti tanpa persiapan. Pakaian bagus yang saya jahit dengan amalan yang saya kumpulkan. Pakaian paling bagus yang ternyata masih menyisakan banyak lubang di berbagai tempat yang belum bisa tertambal.

Mungkin saya termasuk orang yang tidak tahu malu. Selalu meminta sebuah pengampunan setelah sebelas bulan melakukan banyak kesalahan, padahal ketika melakukannya seringkali saya sedang  berdiri sadar. Saya tidak tahu malu karena hanya berburu ampunan ketika Ramadhan datang, dan setelah itu biasanya saya kembali menelan bara dan angkara. Tapi saya yakin Tuhan Maha Pengampun, dan saya tidak sangsi kalau Tuhan Maha Tidak Menzhalimi. Seberapapun saya melakukan tindakan kesalahan, Tuhan akan menurunkan ampunan selama saya tidak menyekutukan-Nya.

Menyambut ramadahan ini baju saya masih kotor, masih berlubang meskipun saya merasa baju itu sudah paling bagus dan paling pantas untuk dikenakan. Dan karena kesalahan saya tidak hanya pada Tuhan tetapi lebih banyak pada hadai taulan dan teman maka izinkan saya pada kesempatan kali ini untuk memintakan maaf atas semua kesalahan. Kesalahan perkataan, berbuatan maupun hanya serupa lintasan hati berupa bisikan. Saya ingin menyongsong Ramadhan dengan perasaan termaafkan. Dan seperti yang sudah dituliskan di awal, saya membutuhkan Ramadhan untuk melakukan perubahan.


Saya tidak bisa berjanji akan menjadi baik sekali setelah nanti Ramadhan usai, tapi setidaknya berikan saya sebuah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik perantaraan ramadhan. Karenanya sekali lagi saya mohon untuk dimaafkan.

Kamis, 26 Juni 2014

Janji

Katanya akan ada pelangi setelah hujan, atau paling tidak akan ada udara segar beraoma tanah basah setelah debunya tergerus lindian air. Tidak ada cobaan yang akan datang terus menurus karena pada suatu saat pasti cobaan tersebut berbuah manis hasil sebuah penantian. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya hadir untuk sebuah alasan, sebuah pembelajaran atau bisa jadi sebuah peringatan.

Akan ada indah setelah penderitaan. Pasti muncul cahaya setelah gelap berkepanjangan. Jadi kenapa harus sangsi?

Katanya hidup seperti roda pedati. Kadang berada di atas tapi pasti juga berada di bawah kecuali pedatinya sedang berhenti. Entah sesaat entah untuk waktu yang lumayan lama. Hidup mengajarkan itu. Hidup memberikan pengalaman bagaimana kita bersikap ketika kita sedang di atas. Hidup memberikan peluang untuk kita berjuang bagaimana membuat tuas memutar roda ketika kita justru sedang terjerembab di kuadran paling bawah. Hidup mengajarkan semuanya.

Kadang kita hanya lupa bagaimana rasanya di bawah. Kita terbuai dengan aroma yang memabukkan ketika kita berada di atas sehingga kita lupa bahwa dalam hitungan sekejap semua bisa berubah. Kita limbung karena kita lupa memasang kuda-kuda. Kita takut karena justru kita tidak memiliki awahan untuk melompat dan tergerus bersama tanah kering dan bebatuan yang tidak jarang membuat kita kapalan. Kita lupa bahwa dengan tergerus dan mengkapal kita akan mengerahkan sekuat tenaga untuk berjuang dan lepas dari segala macam penderitaan.

Namanya juga manusia. Selalu ingin memilih hidup pada posisi nyaman yang tidak akan mengenal halangan. Namanya juga manusia. Kemudian mempertanyakan dan menggugat Tuhan karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Kita marah. Kecewa. Sedih dan kemudian meratap. Tidak salah karena semua sifat itu sangat manusiawi, tapi bukankah kita harusnya merasa beruntung karena pernah didera oleh semua perasaan tersebut. Perasaan yang justru akan mendewasakan pemikiran. Perasaan yang membuat kita semakin kuat karena kita diharuskan berjuang untuk bangkit, berdiri kemudian berlari.

Tidak ada satu orangpun yang tidak pernah berada di bawah. Kalaupun banyak yang tampak hanya mengalami kebahagiaan semenjak lahir karesa sebuah proses turun temurun dalam sebuah trah yang sudah kuat mengakar, yakinlah kalau itu hanya yang tampak dari luar. Pasti ada bagian dari hidupnya yang pernah merasa ada di bagian paling bawah dari lembah, entah itu soal perasaan ataupun soal kemandirian. Jadi kenapa harus risau? Yang paling penting adalah kita tetap berjuang dan belajar. Berjuang bagaimana keluar dari keterpurukan dan belajar bagaimana senantiasa siap ketika tiba-tiba hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Bisnis hanya sebuah permainan. Kadang menang telak dan beruntung tapi kadang juga kalah terberangus banyak ketidakmenentuan. Tidak usah khawatir ataupun berputus asa. Mari kita berdoa, berusaha dan memulainya lagi. Tak perlu takut untuk melangkah setelah kita merasa kalah. Tidak perlu khawatir tidak bisa lagi berdiri setelah terjerembab dan dipaksa seperti mengerat nadi sendiri. Semua akan berubah baik. Semua akan menemukan jalan keluar karena seperti tadi sudah dibilang, akan ada pelangi setelah guyuran hujan yang seakan tidak pernah berhenti.

Jangan bersedih. Jangan kalut dan bimbang. Setidaknya ada aku di sini yang senantiasa menemani. Sekarang hingga nanti. Janji!