Kamis, 31 Desember 2009

Renungan Akhir Tahun

Tuhan memang selalu baik terhadap saya.

Tahun ini akan berakhir dan tidak ada rahmat Tuhan yang saya sangsikan. Semuanya saya syukuri baik yang membuat bahagia maupun yang membuat sedih. Saya sadar, perasaan sedih mungkin karena pemahaman saya terhadap maksud Tuhan yang agak berbeda. Tuhan tahu yang terbaik buat saya, jadi ketika sesuatu yang saya harapkan tidak terkabul dan membuat saya sedih, justru Tuhan sedang menyelamatkan saya. Tidak pernah Tuhan menzhalimi umatnya. Itu yang saya yakini.

Tahun ini saya banyak diberi berkat. Mulai dengan pindah kerja, meskipun untuk itu saya harus rela melepaskan jabatan dan kenyamanan yang saya dapatkan selama ini, tapi saya semakin dekat dengan mimpi saya. Menjadi Doktor. Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan saya ketika semakin mendekati mimpi dan merealisasikan angan. Saya rela menukarkan apapun untuk itu.

Tahun ini juga banyak sahabat-sahabat yang datang menyambangi. Pertemanan yang tidak terduga bisa terjalin sampai seerat ini. Potongan-potongan tulisan dan serakan kata dalam wacana yang akhirnya mempertemukan saya dan mereka. Sahabat-sahabat yang lahir dari sebuah blog yang kemudian tidak hanya bertukar kata tapi terealisasikan dalam dunia nyata sampai saat ini. Sahabat yang dikirim Tuhan untuk kembali membuat saya bahagia dan merasa bahwa saya tidak pernah sendirian dan ditinggalkan.

Sahabat baru juga ternyata lahir dari bukan hanya blog, tapi Tuhan mengirim sebagian dari mereka melalui perantaraan alat-alat berat pembentuk tubuh. Sahabat-sahabat baru yang saya temukan di gym. Sahabat yang kadang (sering) memompakan semangat tidak hanya pada saat latihan tetapi juga di kehidupan-kehidupan di luar itu. Para sahabat yang membuat saya tertawa dengan cara yang berbeda, sahabat yang seringkali membuat saya berpikir, “kok badannya bisa bagus sih?”

Bukan hidup namanya kalau hanya dikasih senyum dan bahagia. Sedih dan air mata jadi paket lengkap dalam hidup. Tahun ini juga saya dianugerahi dua hal tersebut. Saya dikirim tiga orang yang membuat saya mencicip air mata. Mata segaris yang dengan ketegaannya memaksa saya kembali menapak bumi setelah melambungkan saya bukan hanya ke langit ketujuh, tapi ke nirwana. Si cinta sebelah tangan saya, yang kemudian mengajarkan saya untuk TIDAK jatuh cinta lagi pada kekasih orang. Terakhir sahabat baru saya yang seringnya membuat saya terintimidasi oleh perasaan saya sendiri . Tapi berkat semua itu saya mengenal kompromi, mengetahui cara berdamai dengan keadaan, bahkan berdamai dengan diri sendiri.

Di tahun yang baru besok, seperti halnya doa yang terucap ketika saya ulang Tahun kemarin. Saya hanya ingin bahagia. Bahagia dengan cara yang memang telah Tuhan gariskan buat saya. Bahagia yang saya rasakan bahkan ketika banyak hal yang tidak bisa saya raih. Bahagia karena saya yakin saya masih punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan saya, memiliki keluarga yang selalu mencintai dan mendukung saya, serta para sahabat yang selalu ada buat saya. Maka kebahagiaan saya sudah LEBIH dari cukup!

SELAMAT TAHUN BARU 2010 SEMUANYA!!!

Selasa, 29 Desember 2009

Kado Spesial

On the phone with XX:

XX : happy birthday Apis! I wish you all the best ya..

Me : makasih ya, amiiin. Eh gimana kabar semua keluarga di Surabaya? Sehat-sehat kan?

XX: Alhamdulillah semuanya sehat. Aku sedemikian kangennya sama Surabaya, sampai jarang di rumah lho, jalan-jalan terus.

Me: Pastinya lah, secara kamu juga udah lama gak pulang kan? Batuk kamu udah sembuh?

XX: Batuknya masih nih, tapi udah agak baikkan. Aku seneng disini, nggak sestres di Jakarta.

Me: Dooh segitu cintanya sama Surabaya. Pindah kesana aja!

XX: Eh, sebenernya aku mau ngasih kado sama kamu, tapi berhubung aku cuti sampai tanggal 3 takutnya keburu basi. Aku kasih by telpon aja yah?!


Me: Mana bisa ngasih kado via telpon. Aku gak mau denger kamu nyanyi yah! Hahahaha

XX: Bisa. Makanya dengerin dulu. Aku udah cerita belum kalau aku resign dari kantor lama. Dan mulai tanggal 4 itu aku mulai kerja di kantor yang baru?

Me: Hah? Belum cerita kamu. Tapi masih di Jakarta kan? Terus kadonya bagian mana?
XX: Aku training di Jakarta 2 minggu, abis itu pindah ke cabang BSD.

Me: Hahahaha, ke BSD juga. Kadonya?

XX: Kadonya ya itu. Sekarang aku kerjanya office hour, Monday to Friday. Nggak pake shift.

Me: Pengaruhnya sama aku?

XX: Apis, kemarin kita tinggal di daerah yang sama tapi jadwal kita jarang sekali match karena jadwal kerja yang nggak tentu. Sekarang aku sabtu libur, malem juga available.

Me: terus??

XX: Ya, kita bisa lebih serius aja untuk menjajal segala kemungkinan. Aku tuh serius tahu sama kamu, cuma kemaren jadwal hidup aku tuh ganggu. Kerja di mall, pake shift, kerjaannya numpuk. Ya sekarang memang nggak jadi manajer lagi, tapi aku lebih senang. Kita bisa sering ketemu. Aku memang nggak mau buru-buru, tapi sekarang menginisiasi untuk saling bertukar pemikiran jadi semakin besar kemungkinannya. Itu kado buat kamu!!

Me: Hah?


Saya tiba-tiba melihat ribuan kuncup bunga beraneka warna mekar serentak. Hati saya penuh, entah oleh perasaan apa namanya. Yang pasti saya senang mendapatkan kenyataan kalau dia ternyata memikirkan semuanya.

Dia, seseorang yang saya kenal melalui perantaraan teman. Tinggal sedaerah dengan tempat saya tinggal sekarang, ternyata memberi kado paling istimewa di umur saya yang ke-28. Memang seperti yang dia bilang, saya maupun dia tidak mau terburu-buru untuk memulai segalanya. Kita hanya sedang berusaha menginisiasi dan menjajal semua kemungkinan yang terpampang di depan. Bertukar pemikiran sekedar untuk mengetahui seberapa cocok kami berdua dalam memandang sesuatu.

Dia, dengan kebiasaan merokoknya yang pernah membuat saya mengkhawatirkannya teramat sangat ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Mengubah kenyamanan hidupnya hanya untuk mengambil resiko melihat persepsi saya dan menjajal kemungkinan untuk menyatukan hati saya dan hatinya dia. Saya tahu, mungkin saya bukan alasan satu-satunya atau bahkan bukan alasan utamanya untuk mengganti haluan karirnya. Banyak yang ada di dalam kepalanya, saya tidak tahu. Yang pasti ketika saya dijadikan salah satu alasan minornya, saya bisa apa kecuali mensyukurinya.

Dear You, terima kasih di hari ulang tahun saya kamu memberi sesuatu yang nggak pernah saya pikirkan sama sekali. Sesuatu yang tidak bisa ditakar dengan uang sekalipun. Saya siap untuk saling bertukar pandangan, mengawal rasa yang ada untuk terejawantahkan menjadi apa akhirnya saya tidak tahu. Yang pasti saya akan sangat senang menjalani semuanya. Saya berharap, kamu adalah jawaban atas doa-doa saya selama ini.

Minggu, 27 Desember 2009

28 on 27

27 on 27. Qiu Qiu. Saya pernah berharap bahwa pada angka itu saya akan mengalami titik balik. Titik dimana saya mengakhiri petualangan di dunia semu, menamatkan perjalanan saya pada titian warna kelabu. Ternyata saya masih sebegitu betahnya dalam kesemuan itu, masih sebegitu nyamannya diayun ambingkan belenggu kelabu. Sampai hari ini, 28 on 27.

Saat ribuan detik bergerak menuju pergantian waktu. Saat ribuan panah terlontar tanpa sarana. Saya duduk dalam kesederhanaan. Menikmati kesenyapan malam untuk sekedar menapaki hening. Berusaha mentafakuri segala yang pernah menimpa selama bertahun-tahun kebelakang. Hari ini saya diberi kenikmatan lebih oleh Tuhan. Menjejak usia 28.

Saya tidak muda lagi, saya tahu. Saya sudah harus bersikap dewasa, dari beberapa tahun yang lalu seharusnya. Saya harus lebih memikirkan jalan kedepannya akan seperti apa. Kadang jalan sudah terbentang menantang, maka saya tahu yang saya harus lakukan hanyalah berusaha menjalaninya dengan baik. Tanpa pemberontakan yang justru akan membuat jalannya jadi bergelombang.

Malam ini, tak lagi ada pesta. Tak ada lagi perayaan dengan menghentak lantai dansa. Tak ada lagi berhura-hura. Saya hanya duduk sendiri, menatap redup lilin yang saya letakan di atas kue tart pemberian seorang karib. Saya merenung tentang semuanya, saya berdoa akan banyak harap. Semuanya saya lakukan dalam perasaan indah. Penuh kepasrahan.

Saya Apis, malam ini melontarkan ribuan ucap syukur atas umur yang Tuhan telah beri. Menguntai ribuan doa demi keinginan yang ingin terkabulkan. Tak lupa dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga, teman, sahabat, kolega atas berbagai pengalaman, doa, kesenangan dan kesedihan yang telah diberikan selama ini. Saya sadar tanpa kalian semua, Apis tidak akan sekuat ini. Ijinkan saya lebur dalam syukur karena dianugerahi kalian semua. Sesuatu yang tidak akan saya sesali sampai mati.

Hari ini saat saya berada di titik 28 on 27. Saya hanya bisa berharap dapat mengalami transformasi lanjut menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sekarang. Berubah menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah Engkau tentukan.

Selasa, 22 Desember 2009

Untuk Mami

Namanya Ika. Umurnya 50 tahun. Dia lahir dari ayah yang asli Bandung dan ibu yang peranakan Tionghoa. Sedari kecil katanya dia dididik untuk bekerja keras dan percaya akan kekuatan doa. Berkat doa itu pulalah katanya dia juga mampu tidak hanya mengenyam mimpi tapi mewujudkannya menjadi jalan hidup. Sampai sekarang.

Ketika umurnya belum genap 22 bahkan saat gelar yang dibanggakannya belum berhasil dia raih, dia mengambil langkah paling berani sepanjang hidupnya. Dia menerima ajakan menikah dari kakak kelasnya jaman SD yang ternyata juga seniornya waktu di universitas. Dia menikah dengan laki-laki yang baru saja memulai kehidupannya, laki-laki yang juga punya cita-cita sama luhurnya dengan dia. Bahagia, hanya itu yang ada dalam pikirannya waktu itu.

Dari pernikahan itu dan dari rahimnya yang agung kemudian lahirlah apisindica dan apisdorsata. Saya dan adik saya. Dia kemudian tidak hanya menjelma menjadi seorang ibu yang hebat tetapi menjadi wanita tangguh. Wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk ratusan pasien dan kami berdua anaknya. Wanita yang sedemikian rela dibebani oleh ocehan kami sampai saat ini, bahkan menjadi wanita yang sedemikian cekatan membagi waktunya dan seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan saya dan adik saya.

Saya memanggilnya Mami.

Mami, di hari ibu ini saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tercurah tiada henti dari saya lahir sampai sekarang. Saya tahu Mami merasa itu sudah kewajiban Mami, tapi di mata saya itu merupakan pengabdian akan tujuan hidup yang selalu Mami dengung-dengungkan. Saya belajar dari semua itu Mi, mencoba menjalani jalan hidup dengan satu tujuan. Membagi kasih.

Saya tahu, saya belum bisa membahagiakan Mami menurut versi saya maupun versi Mami. Tapi ketika Mami bilang, kalau saya hidup dengan benar, tidak pernah menyakiti orang, dan selalu percaya akan Tuhan, Mami sudah cukup bahagia. Karenanya saya mencoba untuk berlaku seperti itu walau kadang ternyata sulit sekali menjalankannya. Saya berusaha Mi, tidak lain hanya ingin membuat Mami bahagia. Karena hanya itu satu-satunya yang saya ingin wujudkan selama saya hidup. Melihat Mami bahagia.

Saya juga meminta maaf kalau masih ada kelakuan yang ternyata tidak Mami harapkan. Saya sadar, diucapkan atau tidak, Mami tahu banyak tentang saya. Banyak yang ternyata diluar kuasa saya. Seandainya saya bisa memilih kemana angin akan menerbangkan saya, tentu saya akan memilih untuk selalu berada di kisaran yang Mami harapkan. Sayang, angin kadang tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa diajak berkontemplasi. Tetapi saya tetap berusaha Mi, percayalah.

Di hari ibu ini, ingin rasanya pulang ke rumah sekedar untuk membasuh kaki Mami dan kemudian meminta doa serta maaf di pangkuan Mami seperti dulu. Saat kenyataan hidup yang menghampiri tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mami adalah kekuatan saya untuk tetap bertahan, tetap berjuang karena tujuan hidup saya adalah melihat Mami bahagia dan bangga.

Mom, there are so many things that I like in this world, such as studying, going out, games. But the best of all the things that I like is having a great mother like you. Thanks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.

HAPPY MOTHERS DAY MOM!!!! I LOVE YOU SO MUCH!

Minggu, 20 Desember 2009

Flirting dan Kebodohan

Scene 1. Lokasi : Locker room
Saya baru selesai latihan dada dan lengan selama 2 jam dan dilanjut ikut kelas body combat. Masuk locker room buat siap-siap mandi. Kaos dibuka karena sudah sangat basah, tapi nggak langsung mandi karena lebih tertarik buat balesin pesan-pesan di BB.

Terpisah beberapa loker ada seseorang yang sedari tadi curi-curi pandang. Anehnya ketika saya memergokinya, dia tidak lantas mengalihkan pandangannya. Seulas senyum tipis malah disunggingkan di bibirnya. Radar saya seketika bukan hanya berbunyi, tapi berteriak-teriak. Confirmed!

Adegan curi-curi pandang – Kepergok – Senyum, terjadi berulang kali. Saya juga jadinya senyum-senyum sendiri. Lucu. Tapi saya masih asyik dengan BB saya, dan tentu saja mengupdate status tentang kejadian curi-curi pandang itu. Teuteup.

Dia berjalan melewati saya sambil melirik. Saya diam saja dan tetap asyik bermain dengan BB.

Scene 2. Lokasi : Sauana room
Saya tidak menyangka kalau ternyata dia ada di dalam sauna. Saat itu di sauna hanya ada saya, dia dan satu koko berperut buncit yang kemudian mempertanyakan kenapa saya masih masuk sauna padahal katanya badan saya terlihat tidak berlemak. Koko yang kemudian dengan sok fasih menjelaskan mengenai kandungan lemak dalam tubuh, manfaatnya serta kemutlakan dia ada di dalam sel. Saya mendengus dan lebih memilih untuk menunduk. Dia tidak tahu saya mendapatkan mata kuliah tentang itu bersemester-semester waktu jaman muda.

Koko itu kemudian keluar duluan meninggalkan saya dengan si curi-curi pandang yang sedari tadi ketika koko itu berkhotbah dapat saya rasakan kerap kali menatap saya. Ketika sudah berdua saya lebih berani untuk sekedar bertanya basa-basi mengenai ini dan itu. Tentu saja diakhiri dengan saya yang mengulurkan tangan dan mengucapkan nama. Dia juga mengucapkan namanya.

Saya keluar sauna duluan dan meninggalkan dia yang ternyata lebih banyak diam. Dia lebih berani untuk menatap ketimbang ngobrol.

Scene 3. Lokasi: shower room
Sesaat sebelum masuk ke ruang bilas untuk mandi, saya melirik ke arah ruang sauna. Dengan jelas saya bisa melihat kalau dia menengokan kepalanya dan lagi-lagi tersenyum. Saya diam dan masuk ke ruang shower. Mandi.

Keluar shower, saya mendapati ruang shower yang tepat berhadapan dengan saya gordennya sedikit terbuka. Ketika saya melewatinya, saya melihat si curi-curi pandang itu lagi-lagi menatap saya. My gosh, sebegitu niatkahnya dia melihat saya. Saya pura-pura cuek dan kembali ke locker room untuk berpakaian.

Scene 4. Lokasi: di depan fitness centre
Saya memang keluar gym duluan. Saya meninggalkannya yang masih asik berpakaian, saya terlalu cape untuk sekedar berbasa-basi lagi. Dia terlalu banyak diam sehingga komunikasi hanya berjalan satu arah. Bikin saya hanya semakin cape.

Saya menerima telpon dari seorang teman yang membuat saya kemudian berdiri agak lama di depan fitness centre tersebut. Saya melihat dia keluar dan sesekali menatap saya yang sedang menelpon. Dia turun menggunakan eskalator sementara saya setelah selesai menelpon turun menggunakan lift.

Saya pikir ceritanya akan sampai disini. Tidak lebih. Paling nanti ketemu lagi kalau memang jadwal gymnya kebetulan bareng. Nggak tahu kapan.

Scene 5. Lokasi : Depan Mall
Saya keluar parkiran dan melihat dia sedang berjalan. Ternyata dia tidak membawa kendaraan. Entah kekuatan dari mana, yang biasanya pasti bukan saya banget, saya meminggirkan kendaraan saya ke arahnya dan kemudian terjadilah sedikit percakapan yang lagi-lagi saya merasa kok bukan saya banget. Saya merasa dapat kekuatan baru yang selama ini tidak pernah saya lakukan. Ya mungkin selama ini saya terlalu penakut.
Saya: “Pulang ke daerah mana?”
Dia: “Deket kok, di belakang mall ini”
Saya : “Mau saya antar!”
Dia: “Gak usah, takut merepotkan”
Saya: “Gak apa-apa. Saya nggak begitu tahu jalan tapi asal kamu tunjukin pasti nyampe. Yuk naik!”

Saya tidak menyangka responnya bagus. Dia naik ke kendaraan saya. Dalam kendaraan kami hanya terlibat obrolan yang juga masih terkesan basa-basi. Dia lebih banyak diam sambil menunjukan arah, sementara saya konsentrasi memegang kemudi. Saya tahu dari ujung mata kalau dalam diamnya dia sering kali memandang saya.

Scene 6. Lokasi : Depan rumah dia.
Dia: “itu di depan rumah saya”. Saya kemudian menghentikan kendaraanya tepat di depan rumah dia. “Makasih ya udah mau nganterin. Mau mampir?”.
Saya : “Nggak usah, udah malem. Makasih” Dia kemudian turun dan berjalan ke depan pagar rumahnya setelah sebelumnya menepuk bahu saya.
Dia : “Tahu jalan pulang kan?”
Saya: “mudah-mudahan” kata saya sambil memutarkan kendaraan. Dia kemudian melambaikan tangannya.

Scene 7. Lokasi : Di jalan pulang.
Saya memaki diri sendiri. Bodoh!!!!!! Kenapa nggak berani minta nomer handphonenya! Menawarkan untuk mengantarkan dia pulang berani, kenapa minta nomer telponnya jadi gak berani. BODOH!!! Sebenarnya tadi pertanyaan itu sudah ada di ujung bibir tapi entah kenapa tiba-tiba hati saya menciut.

Kalau terbiasa nyaman dengan ketidakberanian seperti ini, sampai kapanpun akan selalu seperti itu. Itulah mengapa tadi saya bilang bukan saya banget. Panggil saya Bodoh atau Pengecut kemudian.

Kamis, 17 Desember 2009

Agresifkah saya?

“Ternyata kamu itu agresif juga ya?” Seorang teman yang sedang melanglang buana di belahan benua lain ngomong di salah satu kesempatan waktu kita chat. “Tadinya saya pikir kalau kamu itu pemalu”

“Hah??? Mana ada saya agresif. Kayaknya kamu udah kenal saya juga lumayan lama, selama itu apakah saya pernah terlihat agresif? Ya memang sih saya nggak pasif, mulut juga nyablak tapi ketika berbicara soal perasaan, tentang hati, saya berubah menjadi super pemalu. Nggak percaya diri maksudnya”

“Tapi kayaknya belakangan ini kamu berubah deh. Kemaren saya ngobrol sama si X (menyebutkan salah satu nama seorag sahabat) dan ngebahas soal postingan terakhir kamu tentang si Pualam itu. Kamu terlihat sangat agresif” Mereka berdua memang kenal siapa itu Pualam, bahkan sahabatan.

“Hah??? Terlihat sangat agresif di postingan itu? Di bagian mananya saya terlihat agresif?” Saya berulang kali membaca postingan itu. LAGI. Berusaha menganalisis di bagian mana saya terlihat “seperti” tampak agresif mengejar-ngejar si Pualam itu. Dan saya tidak mendapatkan apa-apa.

Saya kemudian menelaah waktu kebelakang, berusaha mencari pemicu sampai dua orang sahabat saya itu menilai kalau saya agresif. Memang menjadi agresif juga tidak salah, tidak dosa. Saya hanya ingin tahu, bagian mana yang membuat saya terlihat agresif. Bukan hanya di blog saya menelisik tapi juga di serpihan-serpihan waktu lain yang melingkarkan saya, si Pualam dan kedua sahabat saya itu.

Saya teringat dengan facebook. Memang dua hari belakangan ini saya menulis status tentang bagaimana saya mengirim SMS pada seseorang dan tidak pernah dibalas. Tanpa menyebut nama si Pualam tentu saja. Tak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin tahu opini orang apabila berada di posisi yang sama dengan saya, secara saya memang pada dasarnya selalu ingin tahu. Dan itu nggak ada maksud lebih, nggak bermaksud menggugat secara tidak langsung tentang kelakuan si Pualam, toh saya sudah berkompromi dengan kelakuannya itu. Apa itu membuat saya terlihat agresif?

Ketika saya mengirim sms pada si pualam kemudian tidak dibalas, dan saya MASIH tetap mengirim sms mungkin ini yang membuat saya terlihat agresif, terlihat maksa. Kalau ingat hal ini kadang saya tersenyum geli. Merasa bodoh. Tapi, tujuan saya terus mengirimnya sms padahal saya juga tahu kalau tidak akan pernah dibalas, saya hanya ingin tahu sejauh atau selama apa dia mau bertahan. Masa sih hatinya tidak tergerak sedikitpun, meski kembali saya tahu kalau dia pasti akan kuat bertahan. Saya hanya berdiri di atas keyakinan saya. Orang bisa berubah. Orang bisa melunak, meski entah kapan.

Apa saya terlihat agresif ketika saya sering mengajak jalan si Pualam kemudian mengenalkannya pada teman-teman saya? Tidak ada maksud apa-apa. Tidak bermaksud juga untuk memamerkan kalau saya punya gandengan, meski ada teman yang bisik-bisik dan menebak kalau kami pacaran. Bukan, tidak seperti itu. Saya dan dia sekarang sahabatan, tidak ada perasaan-perasaan lain yang justru akan membuat semuanya semakin ribet. Saya hanya membiarkan semuanya mengalir. Membiarkan berjalan natural seperti sekarang ini.

Mengajaknya jalan kemudian mengenalkannya dengan banyak teman hanya ingin memberinya wawasan baru, sedikit menambah cara pandangnya dalam melihat sesuatu. Saya tahu Pualam juga temannya banyak,wawasannya juga luas, tapi siapa tahu berkenalan dengan teman saya justru bisa memperkaya isi otaknya dengan hal-hal baru. Dan apa itu kemudian dikatagorikan agresif?

Ya sudahlah disebut agresif juga nggak apa-apa, karena bukan hal yang memalukan juga. Tapi karena si pualam suka membaca blog ini, saya jadinya nggak enak sama dia. Perantaraan tulisan ini kemudian saya meminta maaf kalau misalnya ternyata si Pualam merasakan hal yang sama kalau saya agresif dan agak menggangu. Tidak ada maksud lain, saya hanya sedang memaknai jalan yang Tuhan sedang kasih untuk saya lewati.

Jumat, 11 Desember 2009

Pualam

Saya yakin semua orang tahu mengenai hikayat jin dalam botol. Jin yang akan mengabulkan 3 permintaan kita ketika jin itu kita lepaskan dengan cara menggosok-gosok botolnya. Tapi pernahkan bertemu dengan orang yang menggunakan analogi jin dalam botol melalui cara yang berlawanan? Maksudnya orang tersebut tidak akan menjawab tiga pertanyaan yang kita ajukan terhadap dia pada saat pertama kali berkenalan? Saya pernah.

Pernahkah bertemu dengan orang yang tidak mau memberikan nomer telpon dengan alasan bahwa kita sudah sering ngobrol di YM atau Gtalk, bahkan online 24 jam selama 7 hari sehingga tidak butuh nomer telpon? Saya pernah.

Pernahkah bertemu dengan orang yang mengeset handphonenya sehingga ketika kita menelpon HP-nya tidak berbunyi sama sekali hanya karena alasan kita mendapatkan nomernya dari mbah Google di internet? Saya pernah. Padahal saya bertanya pada Mbah google juga karena saya tidak diberi meskipun meminta dengan cara yang sangat baik-baik.

Pernahkan mengirim sms kepada seseorang, tapi tidak pernah dibalas dengan alasan tidak ada sms yang masuk padahal notifikasi di HP kita menunjukan pesannya terkirim? Saya pernah. Padahal saya mengirim sms juga karena untuk membangunkannya yang itupun dia minta sebelum saya tidur. Ya mungkin saya yang salah mengenai ini, dia minta dibangunkan via Gtalk dan saya malah melalui SMS.

Pernahkah makan bersama dengan seseorang dan duduk berdampingan tetapi dia sangat menjaga jarak sampai saya takut dia akan jatuh? Saya pernah.

Pernahkah mengajukan pertanyaan kepada seseorang dan orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sangat di luar perkiraan? Saya pernah. Saya pernah bertanya kepada seseorang , kebahagiaan apa yang akan sedikit dikorbankan atau ditukarkan dengan sebuah hubungan? Dia menjawab dia akan menukarkan sedikit kebahagiaannya berupa kegemarannya makan di Burger King, Makan Indomie rebus dan makan gorengan pedas selama setahun. Tidak salah memang, itu kebahagiaanya. Saya hanya takjub dibuatnya.

Pernahkah diberi pertanyaan oleh seseorang dan tidak boleh mempertanyakan hal yang sama terhadap orang tersebut? Saya pernah. Dia bilang, begitulah aturannya kalau ngobrol dengan dia.

Saya pernah mengalami kejadian-kejadian di atas. Dan saya mengalami semuanya dengan orang yang sama. Ya, satu orang. Satu orang yang hidup dengan beragam aturan, satu orang yang kadang membuat saya berpikir panjang tentang sikapnya itu. Berusaha memahami setiap alasan yang dia berikan ketika saya mempertanyakan. Seseorang yang membuat saya kadang tersenyum sendiri karena merasa konyol, bahkan ketika merasa kesal. Dia sukses membuat saya tersenyum atas sesuatu yang menurut saya aneh.

Karena semua sikapnya itu saya kemudian memanggilnya PUALAM. Pengandaian atas semua sikap dinginnya. Saya tahu dia tidak suka dipanggil dengan pualam, makanya saya semakin menjadi-jadi memanggilnya begitu.

Tapi belakangan ini sang pualam mulai menghangat. Buktinya dia yang selalu menemani saya menghabiskan waktu menunggu kereta terakhir sementara teman-teman yang lain telah beranjak duluan dengan berbagai alasan. Dia mau menemani saya berjalan dari GI sampai stasiun Sudirman padahal saya tahu dia kepanasan dan sudah lelah. Saya senang dia mulai menghangat meskipun tetap tidak mau mengangkat telpon dan membalas sms saya. Tapi ya sudahlah, hak dia juga.

Pualam, entah kenapa kamu bersikap seperti itu. Tidak perlu dijawab karena saya yakin kamu juga tidak akan pernah mau menjawabnya seperti biasa. Mungkin kamu belum bisa mempercayai saya, ada bagain dalam diri kamu yang merasa tidak nyaman atau malah tidak aman. Saya tidak tahu. Tapi kapanpun kamu mau berbagi, mau berbicara tentang apapun, kamu tahu kalau saya selalu ada disini. Di Gtalk!!!! ;)

Rabu, 09 Desember 2009

Ketika Hujan Tiba

Desember sudah datang, ditandai dengan seringnya hujan yang turun mencumbu genting rumah. Hawa dingin diiringi angin yang kadang mengigilkan sudah terasa di awal desember . Desember, saya selalu menyukai bulan ini. Kesannya romantis. Geliat romansa yang selalu memberi semangat untuk setidaknya meniupkan harapan baru. Harapan tentang banyak hal. Tentang cinta, tentang hidup, tentang kebahagiaan. Saya suka desember walaupun menurut sebagian orang desember itu kelabu.

Ketika saya menulis postingan saya yang sebelumnya “tentang rokok dan cemburu” saat itu sedang hujan. Hujan bulan desember, dan saya sangat antusias. Bukan antusias karena saya “terlihat” seperti sedang memamerkan sesuatu, berusaha membewarakan kalau saya sedang dekat dengen seseorang. Bukan itu. Saya antusias karena saya menyukai hujan, tarian hujan tepatnya. Hujan selalu membawa saya ke dimensi yang berbeda, melambungkan saya ke tengah derai yang menyejukan dan membuat basah.

Memang desember ini, ketika hujan tercurah sesering matahari menyapa semesta, saya banyak mendapat ‘hadiah’. Mungkin berkah dari hujan yang tercurah itu. Banyak harapan yang tiba-tiba menyelusup kedalam selimut malam saya melalui perantaraan mimpi. Anehnya ketika saya terbangun, saya hidup dengan mimpi itu. Mimpi yang membuat saya kemudian harus memilah-milahnya untuk memisahkan mana yang bisa saya kecap dan mana yang harus saya kembalikan ke dunia asalanya. Dunia mimpi, dunia yang tidak bisa direalisasi.

Kadang hadiah atau paket atau apapun itu kemudian saya menyebutnya, baru berani saya telisik dari berbagai sisi. Paling jauh saya hanya menimangnya, belum berani saya buka. Mungkin saya terlalu pengecut, tapi bayang ketakutan untuk sekedar membukanya seperti menghantui langkah saya. Kerap kali saya justru menghadapi kenyataan bahwa saya ternyata membuka kotak Pandora, masalah yang tidak kunjung berakhir setelah saya membukanya. Ujung-ujungnya saya merasa tidak bahagia dan putus asa. Karenanya sekarang saya lebih berhati-hati, sekedar menjaga perasaan saya sendiri. Saya sekarang lebih memilih menyimpan hadiah atau paketnya tetap di depan pintu. Belum saya pungut masuk.

Seperti seseorang yang saya gambarkan dengan kebiasaanya merokok, saya masih memperlakukannya seperti hadiah yang masih dalam kotak meskipun untuk yang ini saya sudah menimangnya dan membawanya hilir mudik kemana-mana. Di luar kamar. Saya mencoba lebih berdamai, lebih berani, karena saya tahu ketika itu tidak saya lakukan maka saya justru tidak akan mengetahui apa-apa. Yang saya dapatkan hanyalah kosong nantinya. Makanya saya lebih berani. Memungut, menimang, membawanya berjalan, melewati hujan, berteduh menunggu reda, menyentuh semua bagian kotaknya, dan akhirnya tetap saya letakan di luar kamar.

Boleh bilang saya naïf atau munafik. Tapi ketika pengalaman mengajarkan saya sesuatu, maka saya harus lebih bijaksana dalam memaknai proses pembelajarannya itu. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil langkah yang akan saya ambil atau tidak sembrono dalam memilih pijakan yang akan saya titi adalah hal yang banyak diajarkan oleh pengalaman. Pengalaman yang saya maknai kali ini bersama hujan di bulan desember, yang kadang kehadirannya mendahului pagi.

Kalau saya boleh berdoa, saya hanya minta kali ini saya diberi kesabaran yang agak lebih. Saya tidak ingin tergesa-gesa membuka hadiahnya untuk menjejalkannya kedalam kompartemen hati saya, meskipun saya sudah merasakan kekosongan yang teramat sangat. Saya hanya ingin merasakannya tepat terlebih dahulu. Tepat dalam artian bahwa dia memang seseorang yang saya cari selama ini. Entah kedepannya akan seperti apa, tapi setidaknya bukan hubungan sesaat yang ketika berakhir saya seperti dipaksa bangun tiba-tiba dari tidur nyenyak saya ketika hujan.

Hujan di desember ini, saya menemukan seseorang yang sedang saya pelajari perspektifnya dalam menjalani hidup. Seseorang yang saya akan ajak mengarungi banyak pergulatan pemikiran sebelum saya mengambil dari kotaknya dan meletakannya tidak lagi di depan pintu. Tapi akan saya bawa masuk, agar dia terhindar dari hujan. Bersama hati saya.

Senin, 07 Desember 2009

Tentang Rokok dan Cemburu

Dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak merasa keberatan dengan kebiasaanmu merokok. Aku mengerti kalau jauh sebelum kamu mengenalku, kamu sudah memulainya. Jadi sekali lagi aku bilang kalau aku tidak akan pernah melarangmu untuk merokok. Aku tidak punya hak lebih juga untuk itu, aku hanya berstatus seseorang yang sedang dekat. Hanya itu.

Aku bukan hanya tidak akan melarangmu merokok, aku juga mau berkompromi dengan kebiasaanmu itu. Kamu ingat betapa seringnya aku ngomel karena kepanasan di dalam mobil hanya karena kamu membuka jendela dan mematikan AC. Hanya untuk merokok. Aku hanya ngomel, tapi tidak lantas memintamu berhenti. Kenapa? Karena aku mengenalmu sudah satu paket, dan aku mau menerima paket itu. Lengkap.

Tapi ketika kemarin kita ngobrol panjang di salah satu gerai kopi, ngobrol tentang segala hal yang tidak melulu soal hati. Ketika cuaca sangat bersahabat karena tidak mencurahkan hujan dan angin yang selalu berhembus sehingga kita memilih duduk di luar beratapkan pekat, aku baru sadar kalau kamu bisa merokok sebanyak itu. Rasanya tak henti-hentinya kamu membakar dan mengisapnya kemudian menjatuhkan abunya ke dalam asbak. Berulang-ulang seperti itu meski topik yang kita bicarakan selalu berubah-ubah.

Aku mulai khawatir. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu. Aku tahu, mungkin kamu sudah sangat tidak peduli dengan itu, dengan kesehatanmu. Karena seperti kamu sering bilang dalam argumenmu, kalau kamu imbangi kebiasaanmu itu dengan olah raga. Aku juga tahu, sesering apa kamu mendatangi fitness centre untuk membentuk tubuhmu atau menurut alasanmu untuk mengimbangi kebiasaanmu merokok. Tapi semuanya tidak bekerja seperti itu, tidak lantas racun-racun rokok itu menghilang karena kamu berolah raga seperti orang gila. Aku hanya khawatir.

Cemburu. Kamu juga sering bilang kalau aku hanya cemburu. Bukan cemburu karena aku tidak merokok, karena aku memang tidak ingin. Tapi menurutmu aku cemburu terhadap rokok-rokok itu karena kamu pikir aku selalu complain tentang tidak didengarkan ketika ngobrol dengan kamu hanya karena kamu yang sedang merokok. Bukan begitu, tapi kadang kamu memang seperti terisolir dengan asap-asap itu ketimbang mendengarkan aku ngomong. Tapi balik lagi ke paket tadi. Aku mengenalmu ketika paket lengkapnya sudah terbungkus, jadi tidak ada gunanya untuk banyak protes.

Aku hanya minta cobalah dikurangi sedikit demi sedikit. Kalau tidak bisa diberhentikan, ya dikurangi. Tapi jangan karena aku karena seperti sering aku bilang langsung padamu, aku tidak keberatan tentang kebiasaanmu itu. Aku hanya ingin kamu lebih memikirkan kesehatanmu di masa yang akan datang. Siapa tahu kita ada jalan untuk terus beriringan, dan aku tidak mau melihatmu sakit-sakitan karena dampak jangka panjang dari kebiasaanmu itu.

Aku hanya berusaha peduli, tidak cemburu seperti yang kamu pikir.

Rabu, 02 Desember 2009

He's Getting Married

Pagi belum juga berdiri dengan sempurna ketika Mami membangunkan saya hari itu. Rumput di halaman mungkin baru saja purna melakukan gutasi, tapi goncangan di badan saya mau tidak mau memaksa saya untuk membuka mata. Berat. Apalagi saya baru saja terlelap sesaat, kehidupan malam bersama teman-teman jaman kuliah selesai dikecap ketika jarum jam sudah sangat condong ke arah kanan.

“Papi, ngajak nyari sarapan tuh. Ayo bangun!”

“Harus yah Mi? Aku masih ngantuk, lagian belom laper juga. Aku ngak ikut aja ya!” Setengah sadar saya bergumam.

“Eh, ayo bangun! Kasian Papi, udah lama nggak jalan bareng sama kamu kan? Sekali-kali sarapan di luar bareng kayak dulu”

“Tapi aku nggak mau nyetir yah! Ngantuk” saya merajuk manja.

Saya duduk di belakang, sementara Mami dan Papi di depan. Saya teringat jaman dulu, ketika saya masih kecil. Apis kecil senang sekali melihat-lihat dari balik jendela mobil sambil bertanya apa ini dan apa itu, berceloteh tentang hampir semua yang dilihatnya. Mengomentari orang-orang yang lalu lalang di luaran.

Pagi itu saya juga melakukan hal yang sama. Menatap ke luar jendela, mengamati kesibukan orang di luar. Bedanya saya tidak lagi mengeluarkan komentar melalui lisan, meskipun hati saya sibuk berbicara ini dan itu, pikiran saya menganalisis bagaimana dan apabila. Saya sangat suka menatap keluar jendela, apalagi ketika hujan baru saja reda dan meninggalkan jejak basah. Rasanya nyaman.

“Gimana kehidupan cinta kamu? Lagi dekat dengan siapa sekarang?” Pertanyaan Papi seketika membuyarkan lamunan saya. Merenggut paksa imagi yang sedari tadi berputar-putar di dalam kepala. Tiba-tiba saya menjadi sangat tidak berminat pada semesta, rasanya ingin menghilang atau menghindar. Pertanyaan yang lagi-lagi merusak bagain kokhlea telinga saya. Mengiritasi. Saya tidak suka pertanyaan tentang itu, dan Papi tahu. Tapi kenapa pagi ini tiba-tiba Papi mempertanyakannya lagi.

“Papi tahu kamu tidak pernah sendirian, Papi juga tahu kalau kamu bahagia dengan status kamu yang sekarang, entah itu punya pacar atau nggak. Papi tahu prioritas kamu, dan buat Papi itu nggak masalah. Maksud Papi, karena kamu selalu bilang ingin mengambil S3 dulu dan baru menata hidup sambil jalan sekolah, yang artinya juga masih agak lama. Kamu keberatan nggak kalau misalnya si Embrot nikah duluan?”

“Hah? Tapi nggak berarti kalau pacarnya si Embrot itu hamil duluan kan?” Pertanyaan bodoh memang. Tapi terlontar secara spontan begitu saja. Reaksi dari sedikit keterkejutan, yang mungkin dirasa berlebihan.

“Ya nggak lah! Kamu ini kalau ngomong kok sembarangan” Mami menimpali. “Kalau kamu setuju, mungkin lamarannya awal tahun depan dan nikahannya bisa jadi tengah atau akhir tahun”

“Ya apa urusannya aku pake nggak setuju segala. Aku malah senang banget, ada yang bisa ngasih Mami sama Papi cucu lebih cepat. Beban aku sedikit berkurang” Saya tertawa ditengah perasaan lega, lucu,dan senang. Saya kemudian mengalihkan pandangan lagi ke luar jendela. Orang-orang masih sibuk lalu-lalang, basah hujan masih menyisakan tapak di jalanan.

Si Embrot, yang sekarang sudah tidak Embrot lagi, yang malah dengan nggak sopan badannya “jadi” dan lebih bagus dari saya, mengambil langkah yang jauh lebih berani. Berniat menyelesaikan masa lajangnya ketika usianya belum juga genap 23. Keputusan yang sangat berani, dan pastinya tidak diputuskan secara instan. Saya ikut bahagia untuknya. Sangat.

Si Embrot, dokter muda yang saya bisa lihat kecemerlangan kariernya dari sekarang. Partner berantem abadi saya sepanjang masa, berniat melangkahi saya, kakaknya yang beda usia dengannya terpaut 5 tahun. Dia akan menikahi wanita yang dicintainya, wanita yang dikejarnya dari semenjak SMA. Wanita yang padanya akan saya titipkan adik saya selamanya, adik yang membuat saya tidak pernah ingin beranjak dewasa.

Embrot, saya ikut berbahagia dengan keputusanmu. Mudah-mudahan bukan keputusan yang salah atau terlalu awal, karena saya yakin kamu tahu yang terbaik buat kamu. Sudah menikah atau belum, kamu tetap adik saya, lawan paling seimbang dalam berbagai perkelahian.

Soal pelangkah, tak usahlah kamu memikirkannya terlalu berlebihan. Saya hanya meminta yang gampang-gampang saja, itu pun hanya untuk mengugurkan tradisi di kebudayaan kita. Sebagai pelangkah mungkin saya hanya akan meminta untuk KELILING EROPA!