Jumat, 27 Desember 2013

Selamat Ulang Tahun, Jiwa!

Babak baru dalam kehidupan saya baru saja dimulai. Babak yang seharusnya nanti saya isi dengan berbagai kebaikan dan kebenaran yang tidak lagi penuh kompromi. Dulu sebelum sampai pada tahapan ini saya selalu berdoa agar segera terbebaskan dari belenggu kelabu, terlepas dari area abu-abu. Tapi sepertinya saya masih sedemikian betah terayunambingkan ketidakpastian, hidup dengan pembenaran yang sebetulnya adalah sebuah penyangkalan.

Waktu terus begerak tak bisa ditahan, mengantarkan saya dari satu undakan ke undakan di atasnya. Memapah saya pada tujuan yang entah seperti apa karena saya juga belum tahu akhir ceritanya. Dan malam ini ribuan detik mengantarkan saya pada gerbang babak baru yang harus saya jalani. Saya masih terjaga dalam senyap guna melakukan ritual sederhana sebelum saya melangkah pada gerbang baru yang akan terbuka perlahan.

Saya duduk dalam perasaan sederhana. Berusaha merefleksi apa-apa saja yang sudah saya lakukan di waktu terdahulu sebelum saya melangkah melalui gerbang baru. Saya ingin di waktu yang masih tersisa, saya bisa menandai hal-hal yang tidak boleh saya ulangi ketika kaki saya genap menjajak pada babak baru yang tidak bisa saya undur-undur lagi. Saya ingin di akhir saya merefleksi saya bisa lebur dalam perasaan syukur luar biasa karena lagi-lagi saya masih diberi kesempatan yang luar biasa oleh Tuhan. Menjejak usia 32 Tahun.

Tidak ada pesta. Tidak ada acara keriaan semisal menghentak lantai dansa seperti yang sering saya lakukan ketika saya mendapatkan berkah yang sama di tahun-tahun yang telah silam. Tidak ada kue tart, tidak ada nyala lilin. Saya hanya ingin diam sambil terus bersyukur dan bersyukur. Menghitung semua hadiah yang telah diberikan Tuhan dalam perjalanan sebuah jiwa, termasuk perasaan mengerti bahwa kadang banyak mimpi yang hanya bisa dipelihara sebagai mimpi.

Saya bersukur kepada Tuhan, bahwa sampai umur saya yang ke-32 Tuhan tidak pernah pergi meninggalkan saya bahkan ketika saya sedang alpa. Tuhan selalu ada ketika saya sedang butuh perbincangan misterius yang berujung sebuah ketenangan. Kapan saja dan dimana saja. Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan keluarga, sahabat, teman, teman spesial dan kolega yang turut juga menghiasi dan memberikan arti tersendiri dalam kehidupan saya. Tanpa dukungan dari mereka semua maka saya tidak akan menjadi siapa-siapa.

Ijinkan  saya di babak baru ini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut campur tangan dalam mendewasakan saya, baik dengan cara yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Semua saya maknai sebagai cara yang memang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukannya pecundang. Kalianlah yang membuat saya menjadi sekuat ini, karena itu saya bersyukur dan berterima kasih. Mengenal dan memiliki kalian adalah hal yag tidak akan pernah saya sesali sampai mati.

Doa saya yang paling utama hari ini (masih) sama dengan tahun-tahun sebelumnya, semoga saya diberi kesempatan untuk terus bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini. Merangkak dan belajar menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah engkau tentukan. Amin.

Selamat ulang tahun, Jiwa!...

Jumat, 22 November 2013

Meregang Nyawa

Aksaraku mati
Semalam dia meregang nyawa di jalanan
Menyisakan cerita yang menggenang belum usai

Aksaraku mati
Tercerabut dari media tumbuhnya yang menawan
Membawa kelukaan yang tidak bisa dijelaskan
Berdarah kemudian melepas nafas satu satu

Dia datang telanjang
Membelai harapan dengan raut muka yang menantang
Kurapal dengan tangan yang sepenuhnya gemetar
Memberinya pakaian agar sesuai dengan tema dan ruang
Semenjak itu kucandu dia sampai Tuhan cemburu

Dia datang
Menemani aku yang tengah kesepian
Menarikan sebuah penghiburan dalam temaram

Aksaraku mati
Setelah beberapa kali sekarat dan akhirnya kehabisan nafas
Dia menyerah pada awal sebuah alenia

Aksaraku mati
Membusuk khusuk dalam liang tak bertuan

Aksaraku mati
Meninggalkan sebuah prosa tanpa akhiran
Meninggalkan duka di ujung sebuah pengharapan

Aksaraku mati
Dan aku yakin pasti akan hidup lagi
Nanti

Jumat, 04 Oktober 2013

Aku dan Kamu

Aku orangnya rapi dan kamu cenderung sangat berantakan. Dari awal aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kita berjalan bersamaan.

Aku orangnya teratur, akan mengembalikan sesuatu ke tempatnya semula untuk sejuta alasan. Sementara kamu orangnya serampangan, sesuka hati meletakan barang yang diambil di tempat baru yang sebetulnya tidak cocok dengan ruang. Kamu bilang nanti juga ada yang membereskan.

Aku seringkali kesal.

Kamu anak tunggal, terbiasa mendapatkan apa yang kamu inginkan sendirian. Tidak banyak pengalaman bagaimana berbagi mainan ataupun perasaan sementara aku anak sulung yang dituntut punya banyak tanggung jawab dan memberi perhatian. Bisakah kita menemukan jalanan untuk bersama dari sebegitu banyak persimpangan?

Aku tidak sedikit dihantui ragu.

Aku membatasi makan dengan alasan menjaga badan. Bagiku gemuk itu adanya di kepala, di dalam stigma. Jadi seberapapun orang bilang aku sudah kurusan, aku tetap merasa memiliki berat badan yang berlebihan. Bodoh memang, tapi itu yang kejadian. Kamu hobi membeli berbagai jenis varian makanan. Hanya dibeli dan bukan dimakan. Kalaupun dimakan, itu hanya seperti hiburan. Dicicip sedikit dan kemudian bosan. Tanpa rasa bersalah kamu memintaku untuk menghabiskan, dan seringkali aku menolak meski ujung-ujungnya tetap aku makan untuk alasan menghindari pertengkaran. Kamu tidak suka aku berdiet sementara aku kikuk dengan bentuk badanku yang sekarang.

Aku tidak suka pada sikapku yang tidak kukuh pada pendirian.

Sumbu emosiku pendek, mudah tersulut oleh hal-hal sepele ketika sesuatu tidak berjalan seperti apa yang  aku inginkan. Emosimu mudah meledak-ledak, bahkan oleh hal yang seharusnya tidak menjadi sumber kemarahan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau kita sedang bertengkar. Mungkin seperti memelihara 2 bom waktu yang siap meledak dalam waktu yang bersamaan. Aku lantas berpikir dapatkah aku melakukan pemakluman untuk hal ini. Meredupkan sedikit bara emosi ketika sedang terjadi pertentangan.

Aku tidak yakin.

Aku hanya seorang pegawai pemerintahan. Dan kamu pasti benci aku membubuhkan kata “hanya” di depan pegawai pemerintahan. Tapi aku ingat dengan jelas bagaimana kamu menggugat. Katamu dengan background pendidikan yang aku miliki, dengan kualitas yang kamu lihat ada padaku maka aku hanya membuang banyak kesempatan dengan menjadi pegawai pemerintahan. Aku berdalih kalau ini adalah pilihan, seperti halnya kamu yang memilih untuk menjalankan bisnismu sendiri ketimbang bekerja di bawah orang.

Aku punya penghasilan. Cukup walau tidak berlebihan. Aku mandiri secara finansial, tidak akan bergantung pada siapapun untuk sekedar mencukupi berbagai jenis kebutuhan. Penghasilanmu jauh lebih besar dibandingkan dengan yang aku dapatkan. Kemadirian finansialmu mungkin akan jauh lebih matang. Dan aku ketakutan akan pendapat orang apabila kita memutuskan untuk jalan berisisian. Mungkin orang tidak tahu, tapi perbedaan yang jelas terlihat akan mengundang banyak persepsi. Kamu bilang abaikan sementara aku terus kepikiran.

Aku takut dinilai orang dekat denganmu memiliki motif tertentu.

Aku memiliki mantan, kamu pun demikian. Bedanya kamu selalu mencari tahu siapa mantan-mantanku. Entah untuk apa padahal aku juga tidak pernah menengok ke belakang. Sesekali memang dilakukan tapi hanya untuk melakukan wisata hati, sekedar napak tilas tanpa ingin mengulang. Aku tidak penasaran dengan mantan yang pernah mengisi kehidupanmu. Bukan tidak perhatian, tapi aku merasa bahwa semua orang punya masa silam. Sekarang adalah sekarang. Kemarin ada untuk memberikan sebuah pelajaran.

Banyak pertentangan. Banyak perbedaan. Aku dan kamu seolah bertolak belakang dari berbagai aspek yang sedang dinilaikan. Tidak sedikit keragu-raguan. Sering muncul banyak ketakutan. Goyah justru sebelum langkah pertama dilakukan. Pengecut untuk lantang mengikrarkan apa yang tengah hati rasakan.

Waktu membuktikan. Memupus semua ketakutan, menghilangkan semua bentuk keragu-raguan. Aku bahkan tidak pernah menyangka akan dicintai sehebat ini. Aku juga tidak pernah menduga kalau aku mampu berdamai dengan sekian banyak perbedaan. Dan berhasil. Aku dan kamu berhasil membuktikan. Ketakutan dan keragu-raguan bisa dihilangkan dengan menanamkan kepercayaan. Percaya kalau kita akan mampu keluar dari kungkungan dan menjadi pemenang.

Aku mencintaimu tanpa ada lagi keragu-raguan. Aku menyayangimu tanpa bumbu ketakutan dikata-katai orang. Selamat ulang tahun, Sayang.

Selasa, 01 Oktober 2013

Menyalin Wajah

Kesalahanku hanya satu. Terlalu khusuk menyalin wajahmu sepanjang perjalanan hari itu. Wajah yang rautnya aku salin sempurna dalam lembar-lembar ingatan terbaik yang pernah aku punya. Tidak hanya raut yang aku gambar, tapi aku selipkan juga rona-rona yang terhias bagai pelangi yang muncul setelah hujan sore hari.

Kesalahanku hanya itu. Kesempurnaan replika yang aku salin dalam lembar terbaik ingatan ternyata sulit untuk dienyahkan. Bahkan ketika kesakitan dia hidangkan di altar sebagai bukti ketidaksetiaan yang akhirnya terbongkar. Wajah itu tetap berada di sana, menempati tempat yang paling istimewa padahal rasa terhadapnya sudah tidak pernah lagi ada. Mungkin secara tidak sadar aku justru memeliharanya, membiarkan dia tetap subur dalam ranah ingatan dengan substrat sejumput kenangan usang.

Sebetulnya tidak ada yang layak dikenang. Potongan-potongan cerita yang dulu terasa indah hanyalah sebuah kiasan. Bumbu yang justru menyamarkan dari rasa yang sesungguhnya terhidang. Sayang lidah suka akan tipuan sehingga seringkali tidak bisa membedakan mana kenyataan dan yang mana kebohongan.

Aku terlalu khusuk menyalin wajahmu sampai otak menolak lupa. Tidak hanya dulu, tapi hingga saat ini. Dan aku menyesal. Dengan keterbatasan kemampuanku membuat pola bagaimana bisa wajahmu justru tergambar dengan sempurna. Dengan keterbataan tanganku menghubungkan satu titik kordinat ke titik koordinat berikutnya, bagaimana rautmu justru tercipta tanpa cela. Aku ingat semua, bahkan setiap detail yang kadang orang lain tidak menyadarinya. Aku ingat semua, bahkan pada bekas luka yang kamu tutupi dengan sejumlah perona.

Ternyata aku salah. Yang aku salin dengan khusuk justru adalah sebuah topeng. Penghalang yang kamu kenakan untuk menyamarkan siapa yang sesungguhnya ada di belakang. Berbulan-bulan aku gambar wajahmu dalam berlembar-lembar kertas buram dengan penampakan yang nyaris sempurna. Ratusan malam aku habiskan tinta hanya untuk membubuhkan semua tanda yang aku rekam ketika mata terjaga. Dan itu sebuah kesalahan. Sketsa itu masuk ke dalam ranah ingatan jangka panjang hingga sekarang. Tidak mau enyah, bercokol tidak beritikad pergi.

Aku sudah jauh berjalan selayaknya kamu yang mungkin sudah ditelan penggalan-penggalan kisah yang terjelang. Aku sudah banyak menyicip jalinan-jalinan baru yang ditawarkan ketika aku berjalan meniti tujuan, tapi otak tetap nenolak lupa. Wajahmu yang dengan khusuk aku salin waktu dulu senantiasa menyambangiku. Mendatangi bahakan di saat sesungguhnya aku sedang ingin sendirian. Datang tanpa diundang justru menyulitkan karena seringkali aku tidak punya ancang-ancang. Tiba-tiba terpelanting karena tidak siap menerima kehadiran sosok yang wajahnya aku salin dengan khusuk  meski hanya serupa bayangan.

Kesalahanku hanya satu. Terlalu khusuk menyalin wajahmu sehingga menepel pada ranah ingatan yang sulit dienyahkan. Dengan sekali kejapan aku bisa meningat semuanya, mengesampingkan kesakitan yang sering kamu pertontonkan. Dengan satu helaan nafas, kamu sempurna terhadirkan mengalahkan luka yang sebetulnya tidak bisa disebut kering benar.


Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi kali ini aku bersungguh-sungguh ingin lupa. Selamanya.

Selasa, 24 September 2013

(Ditinggal) Menikah

Semalam kamu paksa aku untuk ikut bermobil denganmu. Hari sudah teramat larut dan rasanya lelah telah memberondongku untuk sekedar menikmati gelap. Kamu tetap memaksa meski aku sudah berulang kali menolaknya. Kamu bilang ada sesuatu yang penting.

Bahasa tubuhmu menggambarkan sebuah kerisauan. Entah apa, yang pasti aku melihat sebuah beban bergelayut di wajahmu.

Ketika kutanya kita mau kemana, kamu hanya menjawab singkat. “Nanti juga tahu!”

Ketika kutanya mau membicarakan apa, kamu juga menjawab dengan singkat. “Nanti kalau sudah sampai disana, kamu juga akan tahu!”

Hening lebih banyak mendominasi perjalanan kita. Tidak banyak percakapan yang tercipta, tidak banyak kata yang terlontar. Bosan. Dan ketika aku berusaha membunuh kebosanan itu dengan bermain BB, kamu marah. Kamu bilang aku tidak berempati dengan muatan beban yang akan kamu sampaikan kepadaku. Aku menyerah, akhirnya aku hanya berusaha menikmati alunan musik dari speaker di mobilmu malam itu.

Mobil menepi di tepian jalan dengan pemandangan kota Bandung. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah kelipan lampu rumah-rumah penduduk yang membuat semuanya jauh lebih indah. Aku ingat tempat ini, tempat  dimana kita sering menghabiskan malam-malam panjang tanpa tujuan. Menikmati pekat, menghitung bintang. Disini juga kita sering berbagi cerita tentang apapun. Saling mencaci, saling mentertawakan kebodohan masing-masing.

“Aku akan menikah!” dia berkata tiba-tiba. Posisi tubuhnya berada beberapa meter di depanku sehingga aku tidak bisa melihat raut wajahnya ketika dia mengatakan hal itu. Tapi dari getar suaranya, aku tahu kalau dia mengatakannya dengan penuh kehati-hatian.

“Aku sudah tahu” jawabku singkat

“Kamu tidak keberatan? Maksudku kamu tidak apa-apa?” dia bertanya dengan posisi masih memunggungiku. Lagi-lagi aku kehilangan momen mengamati wajahnya ketika berkata semua itu.

“Untuk apa aku harus keberatan? Dari awal aku sudah bilang bahwa kalau kamu mau menikah ya tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja dan itu bukan masalah besar. Ini semua hanya masalah waktu, kalau waktu lebih berpihak kepadamu sehingga membuatmu harus menikah lebih dulu aku ridho”

“Benarkah?” Dia bertanya lagi. Kali ini dia membalikan tubuhnya dan memandangku.

“Sungguh. Jodohmu lebih dahulu sampai, tidak ada alasan untuk menunda-nundanya lagi. Tidak perlulah memperhatikan perasaanku, aku akan seperti biasanya. Mendukungmu dengan segenap kesungguhan. Bukan salahmu juga kalau jodohku datang terlambat, meski kamu harus yakin seperti halnya aku kalau jodohku itu akan datang suatu hari nanti. Sekali lagi ini hanya masalah waktu”

Tiba-tiba dia menghambur ke arahku kemudian memelukku dan berkata “ terima kasih atas pengertianmu”

Malam itu, di bawah jutaan bintang yang dihadirkan langit malam Bandung yang cerah dua orang laki-laki berpelukan erat. Tidak lagi ada beban dari laki-laki yang selalu memanggilku AA. Semuanya lenyap menguap seiring dengan angin yang mengigilkan tubuh karena malam semakin condong ke arah pagi.


Adikku akan segera menikah, melangkahiku. 

Kamis, 22 Agustus 2013

Dahulu

Kaget. Itu yang pertama aku rasakan ketika untuk pertama kalinya setelah kehilangan kontak hampir setahun lebih mendengar suaramu kembali. Tawamu, nafasmu, pelafalan huruf R yang terdengar lucu, semuanya membuka lembar demi lembar memori yang sesungguhnya sudah kusimpan rapih dalam salah satu kotak kenangan di dalam hatiku.

Mendengar suaramu kembali meskipun di telpon memaksaku untuk kemudian membongkar semua ingatan masa laluku denganmu. Masa dimana dulu pernah kita jalani titian penuh pelangi. Mejikuhibiniu. Indah. Aku masih ingat semuanya, kenangan tentangmu memang kusimpan rapih disana, di kuadran khusus dalam siklus perjalanan hidupku. Ibarat pasir pantai, koyak oleh ombak tapi setelah itu rapi kembali

Masih bisa kurasakan hangatnya jabat tanganmu ketika kita berkenalan untuk pertama kalinya. Di Jepang. Ya, di negeri matahari terbit itu aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama bego, sama-sama bingung. Berjalan di selasar salah satu kampus, mencari kantor administrasi yang mengurus beasiswa kita. Kita sama-sama dapat beasiswa untuk short course di universitas tersebut. Perbedaan foundation yang memberi beasiswa yang membuat kita tidak pernah bertemu sebelumnya di Indo.

Lucu memang kalo mengingat masa itu. Masa-masa penuh perjuangan, penyesuaian dan yang paling indah tentunya masa ketika bunga sakura bermekaran seiring dengan mekarnya bunga cinta kita. Aku nggak tahu kenapa rasa itu bisa muncul. Apakah kebersamaan kita yang menyebabkan semuanya? Aku nggak peduli, yang pasti aku sangat bahagia mengenal dan kemudian jatuh cinta kepadamu.

Kita seringkali sibuk dengan urusan kita masing-masing, maklum kita memang beda jurusan. Studiku lebih banyak mengharuskan aku untuk berada di laboratorium, sementara waktumu lebih luang. Tapi itu tak menjadikan jalan keluar. Waktu studi yang terbatas membuat kita menjadi lebih egois, menjadi tidak memperhatikan perasaan masing-masing. Rasanya menjadi hambar. Kita tersadar ketika setahun berlalu dan kita sama-sama harus balik. Aku masih ingat jelas janji kita untuk melanjutkan studi di kota yang sama suatu hari nanti, barengan. Janji yang indah.

Semenjak pulang ke Indo, kita jarang berhubungan. SMS dan telpon hanya berbunyi datar, tak mampu memendarkan bara yang tersisa. Kemudian lama tak kudengar kabar darimu, dan tiba-tiba aku mengetahui bahwa kamu sedang mengambil studi mastermu di Amerika. Kamu memang lebih beruntung, beasiswaku tak kunjung datang. Makanya aku memutuskan untuk mengambil studi masterku di Indonesia.

Hari ini, disaat lebaran, kamu kemudian menghubungiku. Sekedar melepas rindu katamu. Mumpung lagi liburan sebelum kamu balik ke amrik bulan Februari besok. Kehadiran yang sesungguhnya tak aku harapkan karena aku tahu pada akhirnya hanya akan meninggalkan perih. Meninggalkan luka yang kembali menganga.


Komunikasi kita kali ini memang tak sebatas suara, tapi raga bernyawa ikut terlibat. My God, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Kamu masih seperti yang dulu. Tak berubah, hanya banyak raut kedewasaan yang kulihat bertambah disana. Aku tahu kamu bukan kamu yang dulu, tapi aku yakin rasa itu masih ada di dalam hatimu. Rasa yang sama, yang pernah ada tujuh tahun yang lalu saat bunga sakura dan tsubuki bermekaran.

Senin, 05 Agustus 2013

Spiritual Journey

“Cuuuuuuh”  Tiba-tiba anak kecil itu meludahi saya. Untung saya berhasil menghindar sehingga ludah anak kecil itu tidak membasahi baju ikhram yang sedang saya kenakan. Sempat hilang kesadaran beberapa saat kemudian saya teringat dan mengucapkan istigfar beberapa kali. Istigfar yang saya lanjutkan dengan permohonan ampunan kepada Allah Sang Pemilik Hidup. Saya takut ini merupakan balasan dari apa yang pernah saya lakukan.

Anak kecil itu seorang perempuan. Berdarah arab yang terlihat jelas dari bentuk hidung dan matanya. Duduk di kursi roda di sekitaran maqom Ibrahim. Entah cacat atau tidak karena bisa jadi dia hanya didudukan di atas kursi roda milik kerabatnya, saya tidak tahu. Yang pasti ketika saya baru selesai menyempurnakan tawaf umroh saya di putaran ketujuh, ketika peluh masih belum kering membasahi hampir seluruh permukaan kulit, saya tanpa sengaja mengamatinya. Matanya yang polos memperhatikan saya seperti mengiba dari kejauhan. Lewat sorot matanya dia membewarakan kesedihan yang mendalam. Menurut saya.

Mata kami terus berpandangan sampai akhirnya saya memiliki kesempatan untuk medekatinya. Saya sengaja melewati anak kecil itu ketika akan melaksanakan shalat mutlak di belakang maqom Ibrahim sebelum prosesi sa’i. Ketika saya berjalan mendekat, dia terus menatap saya dengan sorot yang sama. Tidak berubah, tidak bergeming. Hati saya menciut seperti bisa merasakan pesan sedih yang dia ingin sampaikan. Karenanya ketika saya tepat berada di hadapannya, saya membungkukkan badan sambil mengusap tangannya dan mengucapkan “Assalamualaikum”. Seketika kemudian dia meludahi saya. Astagfirullah.

Entah kenapa dia meludahi saya, saya tidak tahu. Saya hanya beranjak meninggalkan anak itu sambil mengucap istigfar berulang-ulang. Dari jauh saya melirik ke arah anak itu dan dia masih saja memandangi saya dengan tatapan yang serupa. Saya anggap ini mungkin ganjaran atas kelakuan saya selama di tanah air sehingga selesai shalat mutlak saya berdoa memohon pengampunan. Saya menceritakan kejadian tersebut kepada pembimbing saya ketika menuju ke bukit Safa, saya bertanya apakah saya perlu shalat taubat karena kejadian tadi. Pembimbing saya bilang tidak perlu, cukuplah beristigfar dan memohon pengampunan dari Allah. Satu yang membuat saya sedikit tenang, pembimbing saya bilang mungkin anak kecil tadi meludahi karena dia saya sentuh tangannya. Budaya di Arab memang tidak membolehkan laki-laki menyentuh perempuan yang bukan mukhrimnya, dan itu sudah diajarkan dari mereka kecil. Ya semoga saja itu hanya kesalahan saya sebatas menyentuhnya. Amin.

Siapa yang tidak takut akan balasan atas banyak kesalahan? Sudah menjadi cerita kalau kita sedang berada di Tanah Haram maka akan banyak kejadian yang berupa balasan dari semua yang sudah pernah kita lakukan. Saya pun demikian. Sebelum berangkat dari tanah air saya melakukan shalat taubat. Meminta pengampunan dari banyak dosa, meminta dijauhkan dari segala macam balasan atas apa yang pernah saya lakukan. Tapi kalaupun harus kejadian maka saya meminta perasaan iklhas yang paling rebah dengan tanah. Itu saja.

Saya sadar benar kalau saya bukan orang yang sangat baik, tapi saya juga tidak jahat. Kalau soal dosa, saya berdalaih karena saya manusia. Gudangnya dosa. Karenanya ketika menginjakan kaki di Tanah Haram baik itu Madinah maupun Mekkah, saya sudah ikhlas lahir batin kalau ada kejadian yang akan membuat sadar kalau itu adalah balasan. Alangkah lebih baik menurut saya kalau saya diingatkan meskipun dengan cara dibalas oleh hal yang tidak mengenakan. Setidaknya saya langsung bisa meminta sebentuk pengampunan.

Ternyata manusia juga gudangnya ketakutan. Ketakutan-ketakutan yang saya khawatirkan akan mendapatkan balasan langsung alhamdulillah tidak kejadian. Dan mungkin Allah punya cara lain untuk membalasnya nanti kemudian, lagi-lagi saya hanya bisa berserah dan pasrah. Saya berdoa agar saya selalu diberi waktu untuk bertaubat sebelum datangnya hari pembalasan. Amiiin.

Selama di Tanah Haram saya justru mendapatkan banyak kemudahan. Saya bisa berulang-ulang shalat di Rawdah yang penuh sesak dan masuknya saling berebutan. Rawdah berada di dalam masjid Nabawi di Madinah. Rawdah merupakan mimbar tempat Rasulullah memimpin shalat, dan Rawdah ini pulalah yang disebut sebagai Taman Surga. Tidak heran banyak orang berebutan untuk bisa shalat di sana. Di Madinah saya juga berkesempatan beberapa kali bershalawat di makam Nabi yang tidak kalah sesaknya. Pernah ketika saya sesenggukan ingat dosa selepas shalat duha di Nabawi, orang arab di sebelah saya menepuk bahu dan menawarkan tisue. Saya ambil satu tapi dia bersikeras agar saya mengambil lebih. Dan sesenggukan saya semakin menjadi setelahnya.

Masih di hari yang sama setelah shalat duha dan kejadian saya diberi tisue, seperti biasa sebelum pulang ke hotel saya pasti mengisi botol air minum saya dengan air zam-zam yang banyak tersedia di dalam masjid. Karena jarak yang sangat pendek antara kran galon dengan lantai maka untuk mengisi botol biasanya jamaah mengisi berulang kali menggunakan gelas platik yang juga tersedia di situ. Pagi itu saya duduk di depan galon dan mulai mengisi gelas pertama, tapi belum juga penuh saya ditepuk oleh orang di belakang saya. Ketika saya menoleh, saya menemui orang india yang tanpa banyak bicara menepuk-nepuk galon tempat saya mengambil air. Setelah itu dia mengangkatnya sehingga saya bisa langsung mengisikan zam-zam ke dalam botol minum tanpa harus berulang kali menuangnya perantaraan gelas. Saya mengucapkan “syukron” ketika botol minuman saya telah penuh kemudian pamit pergi. Beberapa langkah saya menoleh lagi dan sudah tidak ada orang yang tadi menolong saya. Entah kemana.

Di Mekkah lain lagi. Pernah suatu saat saya keluar dari Masjidil Haram, berjalan pelan menuju hotel sambil mengamati ribuan orang yang berlalu lalang. Dalam hati saya berkata “Kok nggak ada orang cina yah?” kemudian melanjutkan perjalanan pulang  menuju hotel. Beberapa meter sebelum pintu hotel saya merasa ada yang menjajari langkah saya, cuaca panas dengan suhu hampir 50 derajat membuat saya lebih sering menutupi kepala dengan sorban dan berjalan menunduk. Karena terhalang pinggiran sorban tersebut kemudian saya mendongakan kepala dan menoleh. Ada bapak-bapak yang berjalalan bersisian dengan saya. Melihat saya menengokan kepala dia kemudian tersenyum dan mengajak bersalaman. Dia lalu bertanya “Are you from Indonesia?” Ketika saya menganggukan kepala dia kemudian bilang “I’m from China”. Subhanallah, hanya itu yang keluar dari mulut saya yang menganga.

Alhamdulillah di perjalanan Umrah kali ini saya juga berkesempatan memegang Hajar Aswad. Batu hitam di salah satu sudut Kabah. Awalnya saya sangsi melihat ribuan orang yang berebut ingin memegang bahkan menciumnya. Tapi ketika saya tawaf sunnah selepas shalat dzuhur, saya merasa ada yang mendorong saya untuk terus mengelilingi kabah di putaran yang paling kecil hingga jarak saya sedemikian dekat dengan batu itu. Sambil berdoa dan melafadzkan nama Allah saya berhasil menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang-orang tersebut dan tangan saya bisa dengan leluasa mengelus batu hitam tersebut. Hanya saja ketika saya mencoba untuk membungkukkan badan ingin menciumnya, dari arah samping ada laki-laki arab berukuran badan 3 kali lebih besar dari saya mendorong sehingga saya terpelanting ke samping. Sadar saya tidak mungkin maju lagi, perlahan saya mundur dak keluar dari kerumunan. Rezeki saya hanya sampai mengelus, itupun sudah syukur Alhamdulillah.

Kejadian di Masjidil Haram yang paling membuat saya merinding adalah kejadian ketika saya Shalat dzuhur berjamaah untuk terakhir kalinya. Selepas salam seperti biasa saya beristigfar kemudian membaca shalawat dan takbir. Ketika sedang membaca shalawat, saat masjid masih dalam kondisi penuh bahkan shaft masih terisi penuh kecuali orang di sebelah saya yang entah kemana ada laki-laki yang tiba-tiba duduk di sebelah saya. Dia menepuk bahu saya kemudian saya menoleh. Saya bisa jelas melihat dia kecuali mukanya karena tertunduk sangat dalam. Putih, bersih, botak dan wangi.

Dia bertanya “Are you malaysian?” Bukan, saya bilang “I’m Indonesian”. Dia kemudian memperkenalkan namanya dan asalnya yang dari Yaman. Sayang saya tidak jelas mendengar namanya ketika dia menyebutkannya tadi. Dia bilang “I have no money, can i ask you some?” sambil menunjuk saku di dadanya dan tetap dengan tertunduk dalam. Saya balik bertanya “How much do you need?” Dia bilang “Up to You”. Saya lalu mengambil uang dari dalam tas sebanyak 10 real dan bertanya “it is enough?” Dia bilang “yes” kemudian “Syukron”. Setelah mengantongi uang dia berdiri dan pergi. Saya memasukan dompet lagi ke dalam tas dan ketika saya menengok ke arah dia pergi saya tidak menemukannya, padahal jarak saya memasukan dompet dengan menengok tidak lebih dari 10 detik.

Sampai hari ini saya masih dengan jelas bisa mengingat baju yang dia kenakan dan wangi yang semerbak dari tubuhnya. Entahlah dia siapa, saya juga tidak tahu. Mungkin saya dimintai uang karena saya kurang bersedekah di Indonesia, atau bisa jadi dia itu adalah..... Sudahlah tidak perlu menebak-nebak yang pasti saya ridha memberikan uang itu, bahkan kalau diingat sekarang rasanya kurang saya memberinya hanya 10 real mengingat harga kopi di luar pelataran mesjid saja mencapai harga 13 real. Ya semoga saja dia masih mendapatkan derma dari orang-orang yang dimintanya seperti saya. Amin.

Banyak pengalaman yang saya petik dari perjalanan Umrah kemarin. Tapi yang paling berharga untuk saya adalah perjalanan rohani ini membuat saya semakin sabar, semakin ikhlas dan semakin nrimo. Tidak selamanya apa yang saya inginkan akan dikabulkan. Tidak semua yang ingin saya hindarkan akan selamanya terhindar. Jadi tetaplah saja berdoa dan menghamba. Semoga saja perasaan ini tidak hanya bertahan sampai sekarang, tapi sampai tahun-tahun ke depan. Kalau bisa sampai saya mati nanti. Amiin. Mohon saya didoakan.

APIS : Rindu Kabah L

Sabtu, 27 Juli 2013

MATI

Inikah Mati?

Sebuah lorong gelap dengan cahaya samar di kejauhan saat kemampuan mata hanya terbatas sampai sana. Lorong yang banyak orang perbincangkan karena merupakan penghubung antara dunia kasat mata dengan dunia antah berantah yang mereka sebut akhirat. Sebetulnya aku ragu, dari mana mereka tahu tentang lorong ini padahal mereka belum mengecap mati.

Inikah Mati?

Saat raga merasa melayang seringan awan. Tanpa beban, tanpa persoalan. Katanya tidak berlaku lagi hukum gravitasi Newton yang membuat kita menapak pada tanah. Sesuatu yang juga katanya membedakan antara massa dengan berat. Entahlah apa itu karena aku sama sekali tidak mengerti. Yang aku tahu adalah sekarang aku melangkah bagai terbang. Tidak kurasakan gaya gesek yang biasanya menempelkan telapak kakiku pada tanah. Aku benar-benar melayang. Tanpa sayap.

Kerongkonganku berat. Tak ada lagi suara yang bisa aku keluarkan dari sana, padahal banyak sekali kalimat yang ingin aku sampaikan. Bukan protes karena aku ingat bahwa kalau mati itu sudah tiba maka katanya tidak ada lagi proses tawar menawar. Katanya sejago apapun aku berkelit kata, semuanya hanya akan sia-sia. Lagi-lagi katanya, karena sungguh ini adalah pengalamanku yang pertama.

Inikah Mati?

Kulihat seseorang dengan wajah berpendarkan cahaya menunggu di ujung penglihatan. Seseorang dengan wujud yang tidak pernah kukenali sebelumnya. Diakah yang disebut malaikat? Perpanjangan tangan Tuhan yang bertugas untuk menghitung berapa banyak kebaikan dan kenistaan yang sudah aku lakukan? Tiba-tiba aku gemetaran. Kepalaku berdenyut tidak karuan karena sebelum aku sampai pada sosok itu, kepalaku mencoba menghitung. Semakin mendekat, semakin baur hitungan yang sudah aku lakukan.

Aku tahu aku banyak dosa. Aku tahu hidupku nista. Aku meracau sambil terus berjalan mendekat ke arahnya. Mungkin sebenarnya aku tidak berjalan karena kakiku tidak berasa melangkah. Mungkin juga aku sebenarnya tidak mendekat karena dalam diriku aku merasa berlari menghindar. Sekuat tenaga aku beringsut mundur tetapi kenapa tetap saja jarak antara kami justru mendekat padahal dia tidak bergerak. Kepalaku semakin berdenyut. Telingaku semakin berdengung. Mataku semakin silau karena semakin dekat dia semakin berpendar.

Inikah Mati?

Bingung. Tidak ada sekelompok orang dengan jubah putih dan jubah hitam yang berdiri bersebrangan seperti yang aku lihat di film-film. Aku tidak bisa melihat mereka, padahal keberadaannya bisa dijadikan petunjuk bagaimana statusku sekarang. Mati ataukah bukan. Aku semakin limbung karena cahaya menyilaukan itu terus menghantam mataku, membuatnya kehilangan daya akomodasi sama sekali.

Cahaya benderang itu terus menghadang dan dengan sisa keberanian yang terkandung di badan, aku berusaha menantang. Kubuka mataku lebih lebar, tak peduli kalau itu bisa membutakan. Membakar retinaku sampai hitam. Aku tidak peduli karena entah dari mana datangnya, keberanian itu terhunus bagai pedang.

Cahaya itu masih menyilaukan. Tapi perlahan aku menyadari kalau itu bukan datang dari sosok yang tidak pernah aku kenali. Cahaya itu terasa akrab, datang dari balik terali di atas jendela kamarku. Cahaya yang setiap harinya sengaja kubiarkan menerobos untuk memberikan sensasi terang.


Syukurlah, ternyata aku belum mati. Itu hanya cahaya matahari.

Apisindica : Tiba-tiba ingat mati…

Selasa, 25 Juni 2013

Hampura

Assalamu’alaikum.

Nama saya Apisindica. Saya orang baik yang kadang berbuat tidak baik. Perbuatan tidak baik tersebut bisa jadi saya lakukan secara sadar maupun tanpa disengaja. Untuk perbuatan yang dilakukan secara sadar mungkin lebih mudah untuk saya dimintakan maaf karena bisa jadi saya mengingatnya atau saya bisa mengingat-ngingatnya. Yang jadi masalah adalah perbuatan tercela yang dilakukan tanpa disengaja. Seringkali saya tergelincir pada suatu keadaan yang ternyata itu menyakiti orang tanpa saya sadari benar. Dan karena tanpa disengaja tentu saja saya akan lupa, karenanya saya juga minta dimaafkan. Diampuni.

Nama saya Apisindica. Dari mulut saya bisa keluar banyak hal. Doa, harapan, nasihat, sampah hingga serapah. Saya juga seringkali tidak bisa mengontrol apa yang keluar dari mulut saya. Terlontar tanpa dipikirkan terlebih dahulu sehingga berujung tindakan menyakitkan bagi orang. Bergunjing juga merupakan aktivitas yang tidak bisa saya hindarkan. Membicarakan orang demi sekedar memuaskan kepenasaran atau malah justru menjelek-jelekkan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol mulut saya, sehingga darinya lebih banyak keluar dosa.

Maaf. Mungkin hanya sepenggal kata tersebut yang saat ini bisa saya ujarkan. Saya mengerti kalau saya seperti membuat semuanya terasa sederhana. Mudah dilakukan. Bertahun-tahun membuat berbagai kesalahan, kemudian datang dengan enteng menghadirkan maaf yang seperti tanpa muatan beban. Tapi terus terang, saya juga tidak tahu bagaimana menghapusnya. Noda sudah terlanjur tergambar, jejak mungkin sudah mengeras tidak bisa hilang. Karenanya saya hanya ingin diberikan ampunan. Diberikan sebuah bentuk pemaafan. Tidak peduli seberat apapun kesalahan yang sudah dilakukan. Saya meminta maaf dengan penuh penyesalan.

Nama saya Apisindica. Saya tidak jutek atau judes. Potongan muka saya memang seperti ini dari sananya. Bukan ingin menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah dia ciptakan. Bukan juga ingin mencari pembenaran dari mimik yang sering saya pertontonkan. Tapi benar, saya hanya terlihat tidak bersahabat. Saya hanya sulit untuk memulai perbincangan dengan orang asing atau orang yang baru saya kenal. Aslinya saya jauh lebih ramah, asalkan saya sudah merasa nyaman dan aman. Saya hidup dalam sebuah rahasia yang sampai saat ini belum berani saya buka. Saya ketakutan kalau apa yang saya sembunyikan terbongkar pada orang yang belum terlalu saya kenal. Itu saja.

Nama saya Apisindica. Saya orang sunda yang seperti kebanyakan orang dari suku tersebut senang sekali bercanda. Tapi mungkin saya bercanda kadang kelewatan, tidak meraba perasaan orang yang menjadi bahan bercandaan. Becandaan saya mungkin juga kadang seperti tidak berpendidikan karena saya lebih mementingkan bagaimana banyolan yang saya ucapkan menjadi bahan tertawaan. Saya sering lupa kalau apa yang saya lontarkan membuat orang tidak berkenan. Saya alpa. Nyaris selalu lupa.

Lagi-lagi saya minta dimaafkan untuk semua jenis kesalahan yang tidak akan selesai saya detailkan sekarang. Saya meminta maaf untuk semua perbuatan tidak terpuji yang sudah merugikan banyak orang. Saya berserah, dimaafkan atau tidak itu bukan menjadi persoalan. Saya hanya ingin berdiri jujur di titik ini dan meminta sebuah bentuk pengampunan. Mengakui  dosa-dosa yang sudah saya lakukan. Mungkin ada yang luput karena itu di luar kapasitas saya sebagai manusia dengan banyak keterbatasan.

Nama saya Apisindica. Saya pendendam. Saya mengingat orang-orang yang pernah menjadi mimpi buruk selama saya menjalani kehidupan. Orang-orang yang pernah melakukan pengkerdilan tidak langsung pada diri saya sebelum akhirnya saya bangkit dan membuktikan kalau saya tidak seperti yang mereka bayangkan. Saya mengingat mereka semua karena semakin saya ingin lupa, kotak memori itu justru dengan jelas tergambar. Mungkin mereka tidak sengaja. Atau bisa jadi mereka justru dikirim Tuhan untuk membentuk saya menjadi manusia seperti sekarang. Saya belajar memahami. Belajar memaklumi. Untuk itu saya mohon didoakan agar dapat menghapus semua keperihan-keperihan yang pernah tertoreh sehingga tidak lagi ada dendam.

Nama saya Apisindica. Insya Allah nanti malam saya akan melakukan perjalanan religi ke rumah Allah. Ke Tanah Haram untuk melakukan ibadah Umrah. Saya mohon dimaafkan atas semua kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Katanya dengan banyak dimaafkan, saya akan menjadi lebih lapang untuk melangkah bertemu Allah. Kalaupun nanti di sana saya mendapat ganjaran atas apa yang sudah saya lakukan, maka doakan saya ikhlas menerimanya sebagai kifarat atau penghapusan dosa. Saya Ridho. Pasrah sampai tingkatan pasrah yang paling rebah dengan tanah.


Doakan saya, agar ketika kalau saya pulang nanti saya menjelma menjadi manusia yang lebih baik dari sekarang.Tidak ada tujuan khusus dari kepergian saya mengunjungi Tanah Haram, saya hanya ingin meminta pengampunan. Insya Allah.

Jumat, 14 Juni 2013

Teruntuk Hujan

Untuk Hujan,

Semalam kamu singgah lagi di halaman. Entah apa yang ingin kamu bewarakan padahal seharusnya ini bukan lagi saatnya musim penghujan. Tapi kamu kerap kali masih datang, seperti kehausan. Seperti ada beban yang belum tuntas terlunaskan.

Lewat rintik yang membasuh karat debu di ujung dedauan, kamu menebar muram. Mengigilkan kesunyian yang tercipta karena sebagian besar orang justru berdiam dalam selimut kenyamanan. Menyuarakan kidung perih seperti anak yang menangis menunggu ibunya pulang dari ladang.

Kamu mendobrak belenggu. Menganomalikan sabda alam ketika seharusnya kamu tenang beristirahat sambil menyulam rinai untuk diturunkan ketika kering sudah menghasilkan bosan. Kamu tidak peduli, datang dan datang lagi seolah ingin selalu dihadirkan. Tidak ingin tergantikan oleh kerontang yang sepertinya sudah mengintai.

Semalam kamu memapah pagi yang menjanjikan embun kesejukan. Menghadirkan becek  di kubangan-kubangan aspal yang regas dilindas roda-roda kendaraan. Lewat genangan kamu ingin dikenang, bahwa semuanya belum usai. Kamu belum ingin dienyahkan. Belum ingin ditamatkan sesaat.

Hujan, berteduhlah barang sebentar. Ada cinta yang masih harus aku jelang. Cinta yang baru saja aku semai. Cinta yang baru berkecambah sehingga kuncupnya mencumbui udara. Jangan biarkan dia luruh kembali hanya karena terlalu banyak menyesap uap yang membuatnya kedinginan. Jangan biarkan dia tenggelam dalam deras air yang tercurah perantaraan awan. Aku ingin yang sekarang lebih lama bertahan karena aku bosan memulai dari awal. Aku letih di ujung banyak penantian. Karenanya bersahabatlah sedikit padaku, padanya. Pada kami.

Aku bukan tidak ingin kamu datang di penghujung petang, karena bagaimanapun kamu akan menjadi semacam ujian bagi kami. Menjadi kuat atau malah tercerai berai. Tapi tolong jangan dulu sekarang, jangan terlalu cepat datang. Kami masih saling menyamakan banyak pertentangan. Berdamai dengan seribu macam perbedaan, mematut diri pada cermin yang tergantung di dinding untuk menyesuaikan proporsi.

Hinggaplah sejenak di ranting cemara, amati kami dan beri nilai dari proses yang sedang dijalani. Ketika kamu sudah merasa kami cukup kuat maka datanglah bertandang. Beri kami sedikit tantangan. Tak perlu yang menguras tenaga sampai berkeringat hingga basah. Cukuplah sebuah permainan yang rasanya seperti menaiki bianglala. Berputar, menaik dan kadang berhenti.

Aku dan dia bagaimanapun berasal dari dua kutub yang bertolak belakang. Karenanya mungkin akan ada saatnya kami lelah dan berjalan menuju titik yang sama untuk menunggu datangnya hujan dan mengiba kesegaran. Nanti. Tidak sekarang.

Minggu, 02 Juni 2013

Teu Bisa Ngarawu Ku Siku

“Teu bisa ngarawu ku siku”

Falsafah orang sunda yang sampai saat ini masih saya pegang. Falsafah yang tidak akan pernah berubah artinya sekalipun dunia sudah mengalami banyak kemajuan seperti sekarang ini. Teu bisa ngarawu ku siku arti secara harfiahnya adalah “tidak bisa meraup menggunakan sikut” sedangkan menurut enin (nenek) yang pernah mengajarkan falsafah ini artinya adalah kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Sikut memiliki keterbasan meskipun dia bisa digunakan untuk mengambil sesuatu.

Dan saya percaya. Mungkin lebih tepatnya diajarkan untuk percaya karena berbagai pengalaman hidup mengajarkan saya untuk lebih meyakini falsafah tersebut. Dan benar. Banyak hal yang tidak bisa diraih sekaligus. Banyak hal yang untuk dicapai, terlebih dahulu dihadapkan pada sebuah pilihan. Bisa dua, tiga atau mungkin sekaligus banyak yang seringkali membuat saya bingung dan linglung.

Kenapa harus bingung? Saya sebetulnya tinggal memilih, bahkan bisa dilakukan sambil memejamkan mata atau nungging sekalipun. Tapi andai semua bisa sesederhana itu, semudah kata atau nasihat yang keluar dari mulut saya untuk orang lain. Nasihat seringkali mudah diberikan kepada orang lain, tapi ketika diterapkan pada diri sendiri ternyata tidak semudah apa yang harus dilakukan. Banyak pertimbangan, banyak pertentangan, banyak konflik. Akhirnya saya sering terduduk dan bingung. Alasannya karena saya ingin semua opsi dari pilihan yang dihadapkan.

Serakah? Sepertinya. Salah? Tidak. Sangat manusiawi menurut saya ketika seorang manusia sebutlah saya menginginkan lebih dari 1 perwujudan keinginan. Urusan terwujud atau tidaknya sering saya abaikan karena saya lebih berfokus untuk tetap memperjuangkannya. Apakah saya mendapatkan kesemua pilihannya? Kadang iya dan seringkali tidak. Kalaupun saya mendapatkan semuanya, maka tidak ada salah satu yang maksimal, semuanya nanggung seperti hukum alam.

Ibu saya pernah bilang, ketika kita mendapatkan sesuatu maka kita harus melepaskan yang lainnya. Dan saya juga tidak kalah mengamini. Serakah saja tidak cukup. Kemaruk saja tidak lantas membuat saya bahagia dan mengantarkan saya jadi pemenang. Berpikir matang yang kemudian harus dilakukan ketika saya dihadapkan pada sebuah pilihan. Sekali keputusan sudah dibuat maka akan sukar untuk saya berjalan mundur ke belakang. Dan saya tidak ingin hidup dalam penyesalan. Menyalahkan suratan padahal jelas-jelas saya yang memutuskan.

Beberapa hari ke belakang saya dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Sulit menurut saya karena bisa jadi menurut orang lain itu hanya hal remeh yang seharusnya tidak dipikirkan secara berlebihan. Sulit menurut saya karena pertentangan yang hadir justru mempertemukan dua kutub yang saling berlawanan. Masalah duniawi dan akhirat. Sulit menurut saya karena sekarang saya masih hidup di dunia, bagaimanapun saya harus menabung bekal untuk kehidupan saya di dunia ke depannya. Kebutuhan harus dibeli, tidak turun dari langit. Sulit menurut saya karena saya sangat yakin dengan kehidupan akhirat. Kehidupan setelah mati. Jadi sayapun harus menabung untuk bekal saya di akhirat kelak. Dilematisnya adalah ketika jadwal untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan akhirat ternyata berbentrokan. Salah satu tidak bisa ditawar. Tidak bisa dijawal ulang seperti yang pernah saya bayangkan.

Berhari-hari saya bingung. Dirundung banyak pertentangan yang menghantarkan saya pada sakit kepala hebat dan produksi asam lambung yang berlebihan. Cemen. Berhari-hari saya seperti orang linglung yang tidak tahu jalan pulang padahal jalanan di depan jelas tanpa tutupan awan. Saya menangis. Ingin protes pada Sang Pemilik Hidup, tapi urung saya lakukan. Terlalu sering saya protes. Terlalu sering saya menjadi hamba yang pembangkang. Kali ini saya ingin lebih ‘nrimo. ‘Narimakeun’ atas apa yang sudah Tuhan rencanakan.

Katanya saya harus belajar ikhlas. Belajar menerima suratan sebagai takdir yang memang harus disandang. Dan ternyata iklhas itu tidak gampang. Mudah diucapkan tapi hati seringkali tidak mudah ditaklukan. Berulangkali dia menggugat apa yang sudah saya putuskan. Melemparkan saya pada putaran yang semakin membuat saya sempoyongan. Berulang-ulang. Sampai saya tidak bisa lagi menahan isi perut untuk keluar. Mual.

Waktu terus diputar. Tengat waktu semakin sempit untuk saya memutuskan. Ditengah tangisan yang sudah mulai mereda. Di ujung kepeningan sisa dari saya berkontemplasi tentang pilihan yang muncul akhirnya saya memutuskan. Mengambil satu pilihan, dan melepaskan yang yang lainnya. Apakah saya ikhlas? Masih sedang diusahakan. Masih terus belajar. Saya hanya yakin bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk saya. Tuhan akan membukakan pintu rezeki lainnya ketika saya justru menutupnya dengan sadar. Tuhan pasti menyayangi saya, hambanya yang pembangkang.


Bismillah. Keputusan sudah bulat dibuat. Semoga ini memang jalan yang terbaik, tidak hanya menurut saya tapi juga menurut Tuhan. Amin.

Senin, 20 Mei 2013

Mengetuk Kemungkinan


Sudah jauh aku berjalan sendirian. Menapaki setiap pematang yang membentang ingin ditaklukan. Membuka setiap kesempatan yang menggoda untuk sekedar dijajal. Banyak yang sudah aku dapatkan entah itu kebahagiaan atau sebuah kesakitan. Pelajaran-pelajaran hidup yang justru menguatkan, menempa batin yang awalnya rapuh tak tahan cobaan. Banyak pula yang sudah aku belanjakan. Penantian, mempertaruhkan, menyodorkan perasaan, disakiti, disia-siakan. Dan aku bertahan. Berharap semakin kuat setiap harinya.

Sendirian bukan berarti lemah atau menjadi bisa dilemahkan. Sendirian buatku menjadi sebuah jalan untuk melakukan banyak penilaian. Objektif, tidak lagi subjektif. Pematutan dari serangkaian kegiatan ketika aku mulai berjalan. Penilaian dari serangkaian penerimaan diri ketika pertama kali menyadari kalau ada yang berbeda dari sebagian besar orang. Penilaian yang mulanya lebih banyak berisi angka merah karena dipenuhi dengan banyak kemarahan. Pengugutan kepada Tuhan. Ketidakterimaan.

Seperti keledai dungu aku dulu hanya berputar-putar di area itu melulu. Mengesampingkan kebahagiaan yang sebetulnya dapat diraih ketika aku berjalan meskipun sempoyongan. Dibutakan oleh ritual mempertanyakan hal yang sebetulnya tidak perlu jawaban.

Apakah aku sekarang sudah memperoleh jawaban? Entahlah. Yang pasti aku sudah mengantongi sebuah pemakluman hasil berjibaku dengan banyak pertanyaan yang dulu sering aku gadang. Hasil yang mungkin tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Hasil yang mungkin membuat orang justru mentertawakan. Aku tidak peduli. Hidup bukan hanya pada koridor menyenangkan hati orang lain yang justru tidak mengenal siapa aku sebenarnya. Hidup adalah bagaimana meraih kebahagiaan dengan cara aku. Meskipun sendirian.

Sendirian bukan halangan. Sendirian justru membuat aku kuat dengan caranya sendiri. Terdengar klise? Pastinya. Mudah dijalani? Tentu saja tidak. Butuh waktu tidak sebentar untuk aku sampai pada fase seperti sekarang. Butuh banyak pemakluman seperti yang sudah aku bilang. Butuh banyak menebalkan telinga karena selalu sendirian menimbulkan banyak pertanyaan dari lingkungan, seakan kalau sendirian aku menjadi seorang pesakitan. Kesepian. Butuh dikasihani. Kasihan.

Kebiasaan sendirian bukan berarti aku tidak mencari pasangan. Lagi-lagi pengalaman mengajarkan banyak hal. Bukan berarti karena ingin lepas dari stigma kesendirian aku menjadi tidak lagi memilah. Angka di kepala tidak lagi muda. Bertualang dari satu pemberhentian sesaat ke pemberhentian sesaat yang lainnya bukan lagi saatnya untuk dilakukan. Sayang memboroskan waktu untuk sesuatu yang dari awal sudah kita tahu bagaimana ujungnya, apalagi dengan kesadaran penuh bahwa ternyata dengan sendirian aku baik-baik saja.

Sudah jauh aku berjalan sendirian. Mencoba menikmati apa yang sudah Tuhan beri sebagai jalan yang memang harus dijalankan. Tanpa pertanyaan walaupun terjal. Sudah jauh aku berjalan sendirian. Menyemai banyak doa di setiap kesempatan, berharap suatu saat ada sebagian doa yang dikabulkan. Tidak perlu semua, karena aku tahu tidak akan semua doa bertemu dengan jawaban. Sudah jauh aku berjalan sendirian. Mengetuk pintu-pintu virtual sampai bertemu dengan apa yang (mungkin) selama ini aku idam-idamkan.

Apa aku bosan? Tidak jarang. Tapi aku punya keyakinan kalau bosan hanya akan membunuh harapan. Kesendirian membuat aku kreatif agar terbebaskan dari belenggu bosan. Kesendirian memaksaku memutar akal agar aku tidak lantas mati perlahan. Aku tetap harus hidup untuk berbagai alasan. Aku harus tetap berkarya agar ketika aku nanti mati aku bisa diingat untuk sebuah alasan meskipun mungkin tidak penting. Dan aku tetap merapal banyak doa sambil mengetuki pintu-pintu potensial dimana aku yakin ada seseorang yang akan membebaskan.

Sebulan yang lalu ketika berjalan sendirian, seperti biasa aku mengetuk pintu yang sudah aku amati sejak lama. Awalnya ragu tapi kemudian aku menantang diri untuk terus berani. Lama tak ada jawaban. Aku  menunggu. Satu, dua, tiga sampai sembilan. Tetap tak ada jawaban hingga akhirnya aku memutuskan bahwa aku harus memutar badan dan kembali berjalan. Tepat di langkah pertama yang kubuat, seseorang membuka pintu itu dan tersenyum lebar.

Akankah aku tidak lagi berjalan sendirian?

Rabu, 15 Mei 2013

(Mungkin) Kamu


Saya mencari pelabuhan,

Suatu daratan dimana saya tidak ragu untuk melempar sauh dan bersandar. Daratannya boleh sebuah pulau secara keseluruhan atau hanya sebidang pantai berpasir putih yang menjanjikan kenyamanan.  Saya hanya ingin menepi, berharap untuk jangka waktu yang panjang karena ternyata saya bosan menarik jangkar kemudian mencari lagi tepian.

Sebetulnya saya sudah bersahabat dengan gelombang sejak lama, terombang-ambing dalam lautan pencarian. Kadang saya bergerak ke tepian ketika saya melihat ada daratan, tapi tak jarang saya terhempas kembali ke tengah padahal saya belum sepenuhnya mendekat. Daratannya menipu, mirip fatamorgana. Semakin saya mendekat, semakin saya yakin bahwa disana tidak ada pelabuhan yang saya reka dalam imaji. Saya kembali berkelana mencari.

Beberapa kali saya berlabuh, menemukan apa yang selama ini saya dambakan. Pelabuhan yang menjanjikan langkah terpadu menuju asa yang mungkin bisa direalisasikan. Kepadanya saya melempar jangkar keterikatan, mencoba menyelaraskan dua kepribadian agar bisa berjalan beriringan. Kepadanya saya menggantungkan harapan bahwa dia adalah ujung dari sebuah pencarian. Sebuah pelabuhan.

Tapi sebuah cerita selalu memiliki ujung, akhir yang masih bisa diurai meskipun dalam keadaan kusut sekalipun. Saya terombang-ambing lagi badai, angin memaksa saya untuk menarik jangkar dan terhempas lagi ke lautan. Meninggalkan daratan yang dulunya penuh pengharapan. Meninggalkan asa yang mungkin pernah tergambar di bibir pantai. Asa yang lambat laun terhapus ketika ombak menciumi butiran pasir. Menghapus jejak. Selamanya.

Sekarang, saya sedang menginderai adanya daratan terpampang menantang. Daratan yang saya yakini ada pelabuhan disana. Memang masih samar dan masih terhalang kawanan awan yang membentuk jelaga. Tapi entah kenapa kapal saya seperti tidak bisa dikendalikan, saya terus melaju mencoba menyibak kelabu. Saya terus berjalan padahal daratannya seperti timbul tenggelam. Dia mungkin ragu seperti halnya saya dulu. Belum yakin atas apa yang sebetulnya tengah dia rasakan tentang saya yang ambigu.

Saya memang melihat tepian untuk saya berlabuh, tapi saya juga belum sepenuhnya yakin untuk melempar sauh dan kemudian bersandar. Ketergesa-gesaan hanya akan menimbulkan gelombang, membangunkan laut dari tidur tenangnya yang panjang. Izinkan saya sesaat untuk duduk di buritan kemudian mengamati dari jarak yang sedemikian dekat. Biarkan saya menyulam benang-benang kepercayaan dan keyakinan bahwa dia memang sebuah pemberhentian dimana saya bisa meletakan hati saya disana. Tanpa ada keraguan.

Kamu juga saya izinkan duduk mengamati di tepian. Memilah dan menilai kelayakan apakah saya pantas untuk bersandar. Gunakan lampu di mercu suar sebagai pertanda ketika kamu sudah membuat sebuah keputusan. Wartakan pada angin bagaimana kata hatimu sehingga angin akan menggerakan gelombang dan membawa saya terdampar atau justru membuat saya karam. Apapun itu, keputusan tetap harus dibuat. Dan dalam prosesnya, saya akan menikmati pelangi yang menghubungkan saya dan kamu, tak peduli bagaimana hasilnya nanti.

Saya melihat pelabuhan, dan mudah-mudahan pelabuhan itu adanya di hatimu. Selamanya, sampai mati,  karena sepertinya saya mulai menyadari kalau namamu memang jodohku

Rabu, 01 Mei 2013

Terserah


Akupun sama, tidak memiliki alasan kenapa harus menunda-nunda. Bahkan waktu seperti sudah tidak bersahabat memburu minta dihentikan untuk kemudian kembali diputar. Nanti, ketika aku sudah menemukan pegangan yang tidak lagi membuatku gamang merapal langkah di jalanan. Tapi sekarang waktu masih saja memburu, membuatku lelah dan terengah.

Tentu saja akan aku hadiahkan sebuah kebahagiaan. Sesuatu yang sudah aku persiapkan ketika aku mulai tersadar beberapa tahun silam. Sayang, bentuk kebahagiaan itu belum juga menemukan ruang untuk kemudian ditampilkan. Semua masih semu, masih berselimutkan seludang kelabu yang sulit disibak bahkan oleh seperangkat doa.

Akupun sama, tidak lepas merapal doa sambil menengadahkan tangan ke udara. Seringkali merasa sia-sia dan tidak berguna, tapi untungnya aku masih diberi sehelai rasa percaya. Sehelai yang beranak pinak menjadi tameng kokoh yang aku rasa bisa melindungiku dari segala mara bahaya. Atau setidaknya dari salah langkah yang seringkali aku papah.

Aku mungkin bukan orang baik, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Mungkin aku masih saja bingung dilimbung persimpangan yang menghadang, tapi aku berusaha untuk lepas dari segala cengkraman yang sudah sekian lama meninabobokan. Keluar dari nyaman sarang yang membuatku seperti lupa akan dosa. Aku berusaha walaupun seringkali aku justru balik lagi pada titik yang serupa.

Tidak tahu kenapa godaan itu seperti sukar untuk dienyahkan, terus membuntutiku yang sebetulnya ingin mengakhiri. Sudah cukup berbagai pengalaman aku gambar dalam dinding perasaan, sudah banyak sari yang aku ambil sebagai bentuk sebuah pembelajaran. Tapi seperti tidak pernah cukup, godaan itu datang dan datang lagi menggoyahkan kaki yang sudah lelah berlari. Membuatku akhirnya menyerah dan kembali berdarah.

Aku tidak sekuat apa yang aku bayangkan. Kerap kali aku berusaha keluar tapi malah terperosok semakin dalam. Aku mencoba menghindar, tapi selalu saja aku diketemukan. Dipaksa mereguk manis dosa yang dihadirkan sosok yang diam-diam aku puja. Mereka datang tanpa diundang, mereka bertandang tanpa tahu aturan. Tanpa mengindahkan tanda mereka menerobos masuk membelaiku kembali dengan rasa yang sebetulnya aku ingin lupa.

Akupun sama, ingin segera keluar sebagai juara. Tidak peduli ketika harus kugadaikan nyawa sebagai tanda bukti untukku melupakan masa lalu. Hitam sudah tertoreh tebal, tapi jangan khawatir, lewat doa akan aku beli sebuah pengampunan untuk menghapusnya perlahan. Noda sudah tercetak, tapi jangan khawatir karena lagi-lagi lewat doa aku akan mengiba sebuah bentuk pemaafan. Tidak ada yang mustahil untuk dikerjakan bukan?

Permudahlah jalanku. Begini saja, bagaimana kalau nanti malam kita bertemu dalam mimpi. Nilai aku sepuasnya, setelah itu kamu boleh pergi. Tidak kembali. Berpikir ulang setelah pergi untuk kemudian kembali. Atau tidak pergi sama sekali sehingga tidak perlu kembali. Kamu yang menentukan.

Rabu, 24 April 2013

Cahaya


Mungkin kamu kaget kenapa sekarang telpon darimu aku angkat setelah ratusan telpon sama yang sebelumnya tak kuacuhkan. Mungkin kamu juga mengira bahwa aku sudah menyerah dengan kegigihanmu karena berusaha menghubungiku kembali. Kamu merasa menang bahwasanya aku menyerah seperti biasanya. Menyerah setelah kamu dengan ketekunanmu membuatku berpikir bahwa kamu memang layak. Seperti dulu. Saat pertama aku mengenalmu.


Bukan. Sekarang tidak seperti itu. Sekarang keadaanya lain, keadaan yang memaksaku untuk berubah. Kenapa akhirnya aku mau menerima telpon darimu? Jawabannya hanya satu. Perasaanku sudah teramat biasa. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi amarah. Yang ada hanya satu, memaafkan. Aku memaafkanmu yang sudah sedemikian teganya membuatku kembali jatuh ke jurang yang itu-itu saja, jurang patah hati. Aku mengampuni semua kesalahanmu kemarin. Tanpa syarat. Hidup dengan perasaan tak memaafkan dan tak mengampuni hanya membuatku tersiksa, membuat keropos jiwa yang sebenarnya telah rapuh. Karenanya aku tak mau, aku memaafkanmu.


Di awal pembicaraan kamu memulainya dengan permintaan maaf dan penjelasan. Maaf, aku tidak butuh lagi penjelasan dan pembelaan. Semua sudah terjadi, dan penjelasan serta pembelaanmu tidak akan membawa hubungan kita kemana-mana. Penjelasan hanya akan membuatku menggugatmu, padahal aku sudah tidak mau. Menggugatmu hanya akan mengungkit luka itu, membuatnya kembali berdarah di bagian yang sama. Cukup, bukan itu alasanku mau kembali berbicara denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa perasaanku sudah sedemikian membaiknya. Hatiku sudah tidak kelabu, dan aku bisa kembali tertawa denganmu.


Tapi semakin kutahan, semakin kuat kamu berusaha menjelaskan semuanya. Semakin kualihkan, semakin menggebu kau memberiku argumen tak berkesudahan. Aku hanya memilih untuk mendengarkan karena aku memang tidak punya pilihan. Kamu bilang kamu khilaf, kamu lepas kendali. Terlena oleh sesuatu yang nyatanya tak seindah yang kamu pikirkan. Itu menurutmu, kembali aku hanya mendengarkan. Tidak berusaha menuntut, meghakimi apalagi menyalahkan. Aku sudah memilih untuk tidak berada dalam posisi itu. Aku sudah berdiri dikoordinat baru, tanpa rasa sakit itu.


Kamu juga kemudian bertanya, apakah aku masih mengingat konsep hubungan kita dulu. Dulu kamu bilang bahwa kita bagaikan sepasang kunang-kunang yang mencumbui bulan. Ketika salah satu kehilangan terang, maka cukup melihat bulan karena bulan akan menuntun salah satu dari kita menuju jalan pulang. Kelip fluorescens di badan kita menjadi pertanda bahwa kita saling menguatkan, saling mengarahkan kemana harus pulang. Ke hati kita berdua. Tapi itu dulu bukan? Ketika kamu belum menemukan terang yang lain, terang yang ternyata membuatmu juga merasa nyaman untuk kemudian menuntunmu pulang. Maaf aku jadi bertanya, padahal aku hanya ingin mendengarkan.


Kamu juga bilang, bahwa yang kemarin itu bukan bulan. Kamu salah menginderai terang. Katamu, kamu pikir dia mengarakanmu pulang menuju bulan, tapi ternyata hanya menuju lampu taman. Lampu yang terangnya temaram dan mati kala siang. Kamu kemudian tersesat dan tersadar bahwa penunjuk jalan ada dalam diriku. Aku tersenyum meski kamu tak melihatnya. Aku hanya berfikir, bagaimana aku bisa menuntunmu pulang sementara aku sudah memilih untuk berada dalam fase pupa. Tak ada lagi binar fluorescens di tubuhku yang akan menggiringmu mencumbui bulan. Bagaimana aku bisa membawa kamu berjalan ke arah yang dulu kita sepakati kalau aku sudah memilih untuk berhenti. Masuk kembali kedalam kepompong emas tempatku sekarang berlindung, menunggu saat yang tepat untuk menjadi kunang-kunang lagi bersama yang lain. Yang pasti bukan kamu.


Kunang-kunang yang pernah jadi pasanganku, pulanglah sendiri. Carilah jalan yang akan mengantarkanmu pada bulan. Jangan kamu memintaku lagi untuk menemanimu, aku sudah memilih. Aku sudah terlanjur menjadi pupa. Dan dalam penantianku untuk lahir kembali dengan cahaya baru, aku akan terus mengamatimu, karena apabila kamu tersesat, aku akan menuntunmu pulang. Sebagai sahabat.

Selasa, 02 April 2013

Aku Bukan Aku


Apa yang lebih menyakitkan dari mengetahui kalau selama ini hidup dalam kebohongan? Kebohongan yang begitu menyesakan sampai rasanya tidak sanggup lagi mengehela nafas untuk sekedar mengembangkan paru-paru. Kebohongan yang mengoyak semua harapan yang pernah terlontar dan harapan yang masih tersimpan rapi dalam bentuk angan.

Katanya semua itu adalah “white lies”. Bohong putih. Bohong untuk kebaikan, meskipun aku tidak tahu untuk kebaikan siapa. Kebaikan aku? Kebaikan mereka? Aku tidak punya jawaban.

Kalau aku boleh memilih, aku tidak pernah ingin tahu kenyataan yang sebenarnya. Apalagi kenyataan ini tidak siap aku telan. Tidak sekarang. Tidak nanti. Tidak kapanpun. Aku hanya ingin hidup dalam kebohongan ini, sehingga aku tidak perlu merasakan kesakitan sebegini rupa. Tidak perlu mengurai dari mana muasal semua ini berawal. Aku hanya ingin seperti kemarin. Hidup dalam kebohongan yang tidak pernah aku tahu. Hidup dalam penyangkalan kenyataan yang sudah membuatku sedemikian nyaman.

Salah aku apa? Tujuan apalagi Tuhan yang tengah Engkau persiapkan? Terima kasih sudah memberi kepercayaan sedemikian besar, tapi aku tidak sekuat apa yang Engkau bayangkan. Aku remuk, luruh bersama banyak mimpi yang ranggas dalam sekali hentakan. Aku tidak punya lagi harapan, semuanya sudah tergadaikan pada sesuatu yang sampai sekarang belum ingin aku percayai.

Hidup lebih dari 30 tahun dengan banyak kemudahan. Dengan kenyamanan yang mengayunambingkan, membuat aku merasa menjadi orang yang paling beruntung. Hidup berkecukupan tanpa pernah merasa rendah diri untuk sekedar menghadapi kehidupan yang menantang. Dan aku bangga karenanya, memiliki dua orang tua yang selayaknya titisan dari surga. Hadir untuk alasan mengantarkanku pada gerbang tujuan. Hadir senantiasa mengayomi perjalanan hidupku yang terkadang mudah tapi tak jarang pula sukar.

Ternyata aku salah. Kalau orang lain bilang bahwa anak itu titipan, maka aku juga merupakan titipan. Titipan yang secara harfiah memang sengaja dititipkan. Entah oleh siapa. Aku yang selama ini merasa bahwa orang tuaku yang sekarang adalah orang tua yang pada tubuhku mengalir darah keduanya, ternyata salah. Aku bukan anak kandung mereka. Aku bukan darah daging mereka. Aku hanyalah anak angkat yang mereka ambil dari sebuah panti asuhan yang saat ini panti asuhannyapun tidak bisa lagi dilacak keberadaannya.

Duh Gustiiiiiiiii, kenapa harus aku? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum sedemikian terninabobokan nyaman? Kenapa tidak sejak dulu ketika aku belum menggelembungkan pengharapan seperti yang harus aku kemasi sekarang. Kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa Mami? Kenapa Papi? Kenapa baru sekarang?

Katanya cinta kedua orang tuaku yang ternyata bukan orang tua kandungku tidak akan pernah berubah. Katanya aku memang bukan lahir dari mereka, tapi aku hadir perantaraan mereka. Untuk masalah itu aku memang tidak akan pernah ragu, tapi lagi-lagi aku bertanya kenapa harus sekarang? Apakah aku dirasa sudah cukup usia untuk menelan pil pahit yang dijejalkan tanpa ada bantuan air yang melicinkan tenggorokan. Kenapa tidak dari dulu? Karena kalau aku tahu lebih awal mungkin kesakitan yang aku rasakan tidak seperti sekarang.

Jauh aku sudah berjalan dengan kebahagiaan yang ternyata kiasan. Lama aku hidup dengan banyak kebanggaan yang ternyata sekarang harus tergadai. Dan aku bisa apa? Menangis? Air mata tidak bisa merubah keadaan. Aku akan tetap menjadi aku yang sekarang. Seorang anak pungut yang diambil dari sebuah panti asuhan yang keberadaannya tinggal kenangan. Seorang anak pungut yang diadopsi karena belas kasihan. Anak yang dipungut untuk dijadikan pancingan karena sudah bertahun-tahun orang tuaku yang sekarang tidak juga diberi keturunan.

Aku tentu saja berterima kasih kepada mereka, yang tanpa banyak perhitungan sudah membesarkan aku sampai sekarang. Berkat mereka aku mengeja banyak kemudahan. Karena mereka aku mengenal aspek kebahagiaan. Kebahagiaan yang sekarang mau tidak mau harus aku terjemahkan ulang. Kebahagiaan yang direnggut tanpa aku punya alasan untuk terus mempertahankan. Bagaimanapun aku bukan anak kandung mereka, bagaimanapun hak aku sekarang memiliki batasan.

Kenyataan ini membuatku limbung sehingga aku berharap tidak bisa terjaga esok pagi ketika aku tertidur kelelahan mencari jawaban. Tapi lagi-lagi aku harus mengetahui dari mana aku berasal. Siapakah orang tua kandungku? Siapakah mereka? Bagaimana rupanya? Tidak. Aku tidak akan menghakimi karena bagaimanapun berkat merekalah aku bisa mencicip hidup di dunia. Tapi aku hanya ingin bertanya, kenapa aku dititipkan di panti asuhan yang sekarang tinggal kenangan?

Kenapa?

Apakah aku anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan sehingga tidak diinginkan?

Apakah aku adalah aib kalau kalian membesarkan tanpa perlu menitipkanku di sebuah panti asuhan?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

.......................

......................

......................

......................

Kenapa tulisan ini tidak diposting kemarin ketika April mop? Kenapa? 


Maaf, Apisnya sibuk.


Happy Belated April Fools everyone........

Rabu, 27 Maret 2013

Ala Orang Dewasa


Aku selayaknya dia adalah pemuja drama, tapi kami selalu meletakannya di halaman tanpa pernah sekalipun membawanya masuk ke dalam.

Katanya ini adalah hubungan ala orang dewasa. Hubungan yang tidak perlu mengumbar banyak kata cinta ke udara. Hubungan yang tidak patut dibumbui oleh drama banyak babak yang justru akan menjerumuskan hubungan itu sendiri pada sebuah prahara. Awal dari kehancuran karena terlalu banyak intrik seperti sinetron striping yang selalu mencari-cari alasan untuk memperpanjang durasi tanyang.

Tidak. Aku tidak keberatan. Aku justru ditantang untuk terus belajar, bukan hanya belajar menerima ketidakbiasaan karena ternyata aku sekarang tidak sendirian. Tapi juga belajar bagaimana merebahkan tangguh, melunturkan ego dan meredam letupan emosi tak perlu demi sebuah tujuan yang lagi-lagi tidak diperbincangkan secara mendalam. Katanya orang dewasa sudah saling tahu kemana tujuan akan dilabuhkan. Diskusi berkepanjangan hanya menghabiskan banyak energi dan seringkali malah saling berbenturan emosi.

Bagaimanapun sudah sedemikian lama aku sendirian. Terbiasa memutuskan banyak hal tanpa meminta pandangan orang lain termasuk pasangan. Kesendirian membuat aku sedemikian mandiri, kesendirian membuat aku merasa mampu melakukan ini dan itu tanpa bantuan dari siapapun. Kesendirian membuat aku terninabobokan nyaman. Tidak lagi mencari karena otak seperti sudah teraklimatisasi. Buat apa berdua kalau dengan sendiri semua juga bisa dijalani.

Dan aku dikagetkan. Terkejut dengan banyak ketidakbiasaan yang ternyata harus dikompromikan. Terbelalak oleh perasaan yang jauh lebih nyaman ketika melakukan hal remeh temeh seperti melaporkan dimana posisi kita sekarang. Dulu tidak pernah ada yang peduli dimana aku berdiri. Tidak pernah ada yang mencari ketika malam-malam justru aku habiskan dengan melakukan hal yang aku senang. Sebut saja sekarang aku jet lag.

Tidak ada yang tidak bisa dipelajari. Begitupun hubungan ala orang dewasa yang sekarang ini sedang aku jalani. Hubungan tanpa banyak telpon berdering untuk saling mengawasi. Hubungan minim interogasi karena kami mencoba untuk saling mempercayai. Menganggap bahwa semua akan terpulang pada janji yang diucapkan ketika semua ini dimulai.

Aku mencintainya, dan dia tahu itu. Dia mencintaiku dan akupun mengetahuinya. Kalau sudah begitu kenapa harus saling berlomba untuk memamerkan rasa cinta? 

Kamis, 21 Maret 2013

Fragmen satu


Mobilnya sudah terparkir di satu-satunya car port di rumah itu, karenanya aku memarkirkan mobilku di jalanan komplek persis di depan rumahnya. Sedikit berlari aku menuju teras yang hanya berukuran 4x3 meter, hujan yang turun cukup deras membuatku sedikit kuyup padahal tidak lebih dari hitungan jari aku tadi berlari.

Kuketuk pintunya. Sekali. Tidak ada jawaban. Dua kali. Masih tidak ada jawaban. Kukeluarkan telepon selulerku hendak meneleponnya, tapi belum tuntas aku memijit tombol call, pintu sudah keburu terbuka. Dia muncul dari balik pintu. Mukanya pucat. Matanya sayu.

Refleks kuletakan punggung tanganku di dahinya. Tidak panas. Dia sudah tidak demam, padahal tadi waktu aku di kantor dia mengabari kalau dia demam. Kuletakan bungkusan bubur yang sengaja kubeli tadi di jalan sambil menuju ke rumahnya. Dia kulihat berbaring lagi di sofa depan tv sambil menonton film kegemarannya. CSI. Film yang seringkali membuatku cemburu karena merasa dinomorduakan. Konyol.

Selang nebulizer terlihat berantakan di dekat sofa. Dia pasti sesak lagi pikirku, tapi seperti biasa dia tidak pernah mau bilang. Dan kalau aku mempermasalahkan, sudah pasti sebuah pertengkaran yang akan dijelang. Makanya aku lebih banyak diam, kecuali dia yang bercerita duluan.

Kuambil sendok dan menyodorkan bubur yang tadi kubeli. Dia menggeleng. Katanya dia tidak bernafsu untuk makan. Tapi aku tidak menyerah, aku duduk di sebelahnya kemudian menyendoki bubur tadi dan menyuapinya. Dia memakannya. Mungkin terpaksa. Aku tidak peduli. Bubur hanya habis seperampatnya, tapi setidaknya ada yang makanan yang masuk sebelum dia memakan obatnya.

Tidak lama kemudian dia tertidur. Dengkuran halus teratur terdengar lebih riuh daripada suara film yang sedang diputar di televisi. Kuambil remote dan kemudian aku matikan tayangannya. Waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Kunaikan selimutnya hingga menutupi dada, kukecup keningnya dan aku beranjak pulang.

Kunci yang masih menempel di lubang pintu aku lepas. Kusimpan di guci tempat biasa dia meletakan kunci mobilnya. Perlahan kututup pintu dan menguncinya dari luar. Kunci yang sengaja pernah dia titipkan agar kapan saja aku bisa berkunjung ke rumahnya. Kunci yang memiliki simbol kepercayaan yang dihadiahkan kepadaku. Kepercayaan yang tumbuh begitu saja padahal hubungan kami baru saja dimulai.

Rabu, 20 Maret 2013

(pasti) Berujung


Aku masih memiliki keyakinan kalau suatu hari jalan ini akan berujung. Entah kapan, karena sampai sejauh ini yang kutemui selalu hanya serupa simpangan. Simpangan yang mau tidak mau membuatku berhenti sejenak dan memilah ke arah mana kaki ini harus dilangkahkan.

Selain lurus ke depan, jalanan juga menghadirkan belokan ke kanan, ke kiri dan awahan untuk beringsut mundur ke belakang. Dan aku selalu mengeliminasi opsi untuk mengambil jalanan yang pernah dititi. Mundur ke belakang hanya akan membuatku semakin jauh ketinggalan. Padahal waktu terus diputar, kehidupan terus dijalankan.

Sering kali aku memilih untuk terus lurus, mengabaikan belokan ke kiri ataupun ke kanan. Aku pikir dengan terus lurus jalanan akan lebih mudah untuk dilalui. Sering kali benar, tapi tidak jarang juga yang kutemui adalah sebuah kebuntuan. Jalan berujung rintangan yang tidak mengantarkan aku pada sebuah tujuan. Terpaksa aku berjalan memutar, membuka setapak asing sambil berharap menemukan jalanan besar yang tidak lagi membingungkan.

Tujuan. Apa yang aku ketahui tentang tujuan? Nihil. Aku hanya merasa kalau harus terus berjalan. Pernah aku menuliskan tujuan pada lembar-lembar lontar dan menyelipkannya di ikatan pinggang. Lembaran yang kemudian aku baca ulang ketika gamang menghampiri tanpa ada permisi. Tujuan yang membuatku merasa tetap harus hidup walau kenyataan hanya selayak ilusi. Mudah dibayangkan tetapi sulit untuk direalisasi.

Dan aku tersadar. Tujuan yang aku tuliskan tidak sesuai dengan harapan banyak orang. Awalnya aku tidak peduli, memilih menulikan telinga dan membutakan mata. Aku tidak hidup untuk mereka. Aku tidak berkewajiban memuaskan dahaga mereka mengenai cinta. Tapi aku salah. Lagi-lagi salah. Bagaimanapun aku dan mereka akan beririsan pada banyak hal. Bersinggungan pada kepentingan-kepentingan kolektif yang ternyata tidak bisa begitu saja diabaikan. Kompromi dijadikan jalan keluar. Melunakkan ego dijadikan landasan untuk membuat banyak pemakluman.

Apa yang aku dapatkan kemudian? Tidak ada. Aku tetap saja gamang. Bingung mau terus lurus ke depan atau berbelok ke kiri dan ke kanan. Tujuan yang semula dipegang lambat laun teruapkan. Tidak lagi jadi sebuah prioritas yang ingin dilakoni. Hidup dengan sederhana. Membahagiakan banyak pihak. Tidak lagi ramai mengajukan tuntutan. Berhenti mempertanyakan. Mengurangi gugatan. Cukup.

Impian yang dari dulu dilambungkan ketika mulai tersadar kalau aku tidak sama, pelan-pelan meranggas. Keinginan yang semula menggebu ketika mulai merasa bahwa aku berbeda, lama-lama berkurang. Aku kemudian merevisi arti bahagia itu sendiri. Menyesuaikan dengan putaran-putaran angka yang semakin lama semakin membesar. Tumbuh subur dipupuki kenangan dan pengalaman.

Jalan ini pasti berujung. Entah kapan. Karena sampai saat ini aku masih saja sendirian. Meski  (mungkin) bahagia.

Sabtu, 16 Maret 2013

Penyangkalan


Pernah marah sama Tuhan?

Tidak

Pernah mempertanyakan?

Saya sudah berhenti

Kenapa?

Mempertanyakan tidak membuat saya menjadi siapa-siapa

Lantas?

Tidak ada lantas. Saya masih tetap hidup (mungkin) bahagia

Hidup dalam penyangkalan?

Tidak ada yang saya sangkal. Saya hanya menjaga perasaan banyak orang.

Apakah itu kewajiban?

Bukan. Saya merasa cukup saya saja yang menanggung apa yang tidak perlu mereka tanggung.

Ah lagi-lagi kamu menyangkal.

Mereka bilang saya hidup dalam penyangkalan padahal saya tidak tahu apa yang saya sangkal. Takdir Tuhan? Tidak. Saya tidak menyangkal itu. Tidak lagi. Dulu mungkin pernah. Tapi sekarang tidak. Buat apa disangkal kalau ternyata saya bisa berdamai. Buat apa melelahkan diri dikejar aktivitas mempertanyakan kalau sebetulnya saya sudah mengantongi sebuah jawaban.

Mereka bilang saya menyerah. Tidak berusaha menjadi siapa saya yang seharusnya. Bagaimana mereka bisa sebegitu yakin padahal saya juga tidak tahu harus menjadi apa saya seharusnya. Bisa jadi mungkin saya memang menyerah, tidak lagi bertarung untuk hal-hal yang awalnya saya amini. Tapi waktu mengajarkan itu. Bagaimanapun lantang menyuarakan ternyata tidak membuat saya terbebaskan. Saya masih seperti saya yang dulu. Hidup (mungkin) bahagia dengan banyak ketakutan di kepala.

Saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Memuaskan pihak-pihak yang merasa memiliki kewajiban mengingatkan saya untuk terus bertahan pada apa yang sebetulnya tidak saya yakini dengan benar. Kata mereka saya disuruh bertanya pada hati, padahal mereka tidak tahu hati saya sudah sedemikian bebal. Kapalan karena ditindih berat beban dari awal saya menyuarakan kegamangan.

Tapi apa yang saya dapatkan? Tidak ada kecuali kesakitan. Penderitaan yang ternyata mendewasakan. Pelajaran yang membuat saya belajar untuk bungkam. Membekap suara yang pernah lancang terlontar. Mengikat keliaran imaji pada ranah yang dibuat oleh sebagian besar orang yang merasa dirinya Tuhan.

Apakah karena saya melakukan itu semua lantas saya dikatagorikan hidup dalam penyangkalan? Entahlah. Saya juga tidak tahu.