Senin, 26 Maret 2012

Terintimidasi Siti

Saya menangis di hadapannya. Tidak lagi peduli kalau saya dianggap cengeng atau apalah, yang pasti di depan tatapan matanya yang polos saya tidak bisa membendung kesedihan saya. Mungkin lebih tepatnya terharu, atau mungkin tergugah, atau mungkin jatuh kasihan, atau malah bisa jadi merasa ditampar berulang-ulang. Entahlah. Mata saya hanya panas kemudian air mata tumpah tidak bisa saya tahan-tahan lagi.

Namanya Siti, usianya 7 tahun, tapi kenyataan hidup telah membuatnya menjadi seseorang di luar kisaran angka usianya. Bahkan lebih dewasa dibandingkan dengan saya yang memang sudah benar-benar tua (secara angka). Kenyataan hidup mengharuskannya berjuang dan bertahan kemudian menjadikannya kuat. Pahit hidup dia jalani lewat hidup seorang bocah polos yang saya yakin tidak pernah bertanya dan menggugat Tuhan dengan pertanyaan “Kenapa?”.

Saya kalah telak oleh Siti. Lewat tangan mungilnya yang tidak mengenal lelah, dia mencoba menumpuk cita dan harapan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi hanya untuk sekedar bertahan hidup dirinya sendiri dan ibunya yang tidak kalah sengsara. Bocah yang sudah ditinggal meninggal oleh ayahnya ketika dia berusia 2 tahun itu, menyemai kekuatan lewat perjuangan yang seharusnya tidak pernah dia kecap kalau saja keberuntungan berpihak ke jalan hidupnya. Tapi kenyataan adalah kenyataan, dan anehnya dia seperti tidak pernah marah pada takdir, pada ibunya, pada ayahnya yang sudah pergi, bahkan pada Tuhan.

Lewat tanyangan televisi saya mengenal Siti. Lewat jalan cerita yang mungkin dilebih-lebihkan saya mencoba menyelami. Saya tidak peduli dengan jalan cerita yang pasti demi rating sebuah tayangan dibuat sedramatis mungkin, yang demi menjaga kesetiaan para penonton, kesedihan dijadikan komoditas yang diperjualbelikan. Saya tidak peduli, saya hanya melihat Siti dengan perspektif yang tidak lagi sama. Bocah yang setelah acara itu usai saya kirimkan sebentuk doa dan harap semoga jalan hidup ke depannya jauh lebih baik. Hanya itu yang saya bisa lakukan.

Siti dengan tangannya yang tidak seberapa kuat berjalan berkeliling kampung puluhan KM untuk menjajakan bakso. Dengan 1 buah termos nasi berisi bakso dan kuah, yang tentu saja panas di tangan sebelah kanan, dan mangkok-mangkok serta sendok dalam ember berisi air di tangan sebelah kiri, siti menjingjing harapan. Demi upah sebesar 2000 rupiah per hari, Siti mengorbankan kesempatannya untuk bermain seperti bocah lain. Untuk menyambung hidup.

Kemana ibunya? Si Ibu tidak kalah sengsara. Setiap hari dia bekerja jadi buruh tani yang hanya akan dibayar ketika padi yang dia rawat sudah bisa dipanen. Berarti itu harus menunggu paling tidak 3 bulan atau lebih, yang pasti dalam hati si ibu berharap kalau rasa lapar bisa ditunda sampai 3 bulan sekali. Ibu Siti yang saya yakin bukan tidak ingin membahagiakan Siti, tapi lagi-lagi kenyataan yang harus mereka telan tidak bisa membuatnya berbuat apa-apa.

Buat mereka yang sudah sangat terbiasa makan sehari sekali, itupun sepiring berdua dengan lauk hanya taburan garam atau kalau sedang beruntung bisa memasak tumis kangkung yang mereka minta di sawah tetangga, hidup adalah seperti itu. Getir. Tidak ada keinginan untuk memiliki ini dan itu, cukup hanya ingin memiliki segelas beras untuk dimasak besok hari dan lusa. Keinginan sederhana yang ternyata tidak sederhana untuk diwujudkan.

Tidak perlu saya ceritakan bagaimana kehidupan Siti dan sang ibu menampar saya. Tapi di tengah keterintimidasian yang dilakukan Siti, saya belajar banyak hal. Yang paling saya garis bawahi adalah saya belajar bahwa berdoa itu lebih penting untuk kebergunaan kita untuk orang lain, dibanding berdoa meminta hal-hal yang sangat aku-sentris seperti yang kerap saya lakukan. Siti mengajarkan itu kepada saya, karena di akhir tanyakan ketika Siti diwawancara, Siti dalam bahasa sunda yang fasih untuk kesekian kalinya mengajarkan hal tersebut. Sambil menampar saya berulang-ulang.

Saya sadur petikan wawancara akhir Siti ke dalam Bahasa Indonesia.

Reporter : “Siti, kalau Siti berdoa, biasanya Siti meminta apa sama Tuhan?”

Siti : “Siti berdoa semoga Siti diberi terus kesehatan dan kekuatan agar Siti bisa terus membantu Emak mencari uang”

Reporter : “Kalau berdoa untuk diri Siti sendiri apa?”

Siti : “Siti berdoa agar Siti bisa menabung untuk membeli seragam dan tas yang sudah sobek”

Sesederhana itu.

Jumat, 16 Maret 2012

Surat Untuk Jodohku

Untuk jodohku,

Aku membayangkan suatu waktu datang mengundang. Kala langit biru bergradasi menjadi kemerahan kemudian berubah lembayung. Ketika angin berubah arah dari darat menuju lautan. Aku membayangkan waktu itu kamu datang dengan senyum yang terpasang, mendekat ke arahku kemudian memeluk laksana pekat yang bercengkrama dengan malam. Erat tak terpisahkan.

Aku menunggu kala waktu itu datang, karena begitu dia membayang tidak sabar rasanya untuk memberimu setumpuk kertas ini. Kertas-kertas berisi tulisanku tentang kamu sebagai inspirasinya. Testimoni tentang bagaimana aku ingin jatuh cinta, ingin cemburu, ingin marah, ingin kecewa kemudian ingin memaafkan sehingga kita bisa berjalan berpegangan tangan memapah waktu yang pasti akan datang.

Aku akan bertanya kepadamu ketika nanti kita bertemu. Pernahkah kamu berpikir kenapa kita saling mencinta? Aku punya jawabanku sendiri, bahkan aku abadikan semuanya dalam untai aksara di salah satu kertas yang akan kuberikan kepadamu kala waktu itu datang. Aku akan bilang, aku tidak pernah memikirkannya. Mencintaimu adalah tindakan spontanitas, terjadi begitu saja. Tidak perlu dipertanyakan karena cinta memang tidak butuh jawaban. Tidak perlu dipersoalkan karena cinta datang membawa kedamaian.

Ketika waktu itu nanti tiba kamu akan kuajak berbincang tanpa suara sambil menghitung bintang di belakang rumahku sehabis hujan. Akan kubisikkan bahwa ketika cinta itu telah datang maka tidak lagi diperlukan suara sekedar untuk mengumbar sayang. Kata seperti terlebur sebelum mereka keluar dari kerongkongan. Tidak ada lagi prosa, tidak ada lagi drama. Kita hanya akan menikmati senyap sambil berdiskusi perantara telepati.

Jodohku,

Kala waktu itu datang, aku berharap cinta yang sedari awal aku simpan sebelum berjumpa denganmu telah purna melewati evolusi. Kamu mungkin juga akan bertanya, kenapa harus evolusi? Bukankah evolusi itu berlangsung secara perlahan? Nanti aku akan tersenyum tidak menjawab. Tapi aku akan memintamu menelaah di salah satu lembar kertas itu, disana aku memaparkan. Evolusi memang perlahan, tapi hasil akhirnya merupakan bentuk paling sempurna. Bentuk yang adaptif terhadap segala macam rintangan dan penghalang. Pengejawantahan cinta yang tidak lagi bisa digugat cerca.

Aku tidak sabar menanti kala waktu itu datang. Aku membayangkan berbaring di sampingmu selagi kamu membaca bundelan kertas-kertas yang aku akan berikan. Kamu mungkin tidak akan banyak berbicara karena sepertinya kamu akan sibuk dengan kata yang berderet bagai sinema. Matamu akan sibuk hilir mudik dari satu tanda baca ke tanda baca berikutnya, tapi kuharap ketika waktu itu tiba dan kamu tengah membaca kertas-kertas yang aku berikan, tanganmu tidak akan pernah berhenti mengelus rambutku.

Jodoh masa depanku,

Saat waktu itu tiba sebetulnya aku ingin kamu tidak membacanya terlalu detail. Cukup beberapa halaman di awal, setelah itu bacalah sepintas-sepintas. Aku tidak ingin kamu melewatkan bagian akhirnya yang sudah aku persiapkan dengan matang karena keburu bosan. Tapi kamu mungkin akan bersikeras. Mungkin kamu ingin tenggelam dalam setiap frase yang membuatmu seperti melakukan perjalanan napak tilas. Kamu ingin menggelepar bahagia pada setiap koma yang mengantarkanmu pada klimaks.

Perasaanku pasti akan tidak karuan ketika banyak halaman sudah kamu habiskan nanti. Antara senang dengan cemas pasti akan saling baku hantam dalam keping otakku yang sepertinya mulai kehabisan kapasitas daya simpannya. Aku sudah mempersiapkan sebuah puisi di akhir kertas yang kuberikan. Bacalah sehingga kamu bisa merasakan semua yang selama ini aku pendam.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Kelak ketika sudah waktunya datang, maka aku akan menyambutnya. Tidak hanya dengan euphoria embun pagi yang menyejukan tapi dengan riuh tabuh kegembiraan.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Kelak yang kuyakini akan datang menyambangi. Kelak yang bukan mustahil untuk diamini. Kelak yang selalu kutunggu di ujung lorong gelap sebuah penantian.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Menunggu sambil menasbihkan ribuan doa, menggelar ratusan puja. Untuknya aku mengucap tak hanya harap, tapi juga pinta. Untuknya kemudian aku bersedia didera, dipancung kerinduan yang tak jelas tepiannya.

Kelak,

Kelak aku yakin akan datang seseorang yang sudah dipersiapkan Tuhan. Membawa kebahagiaan, membebaskan dari tangis-tangis panjang kesedihan. Kelak seseorang itu akan membawaku ke nirwana untuk menyicip sebuah rasa berjudul cinta.

Kelak aku yakin kamu akan hadir. Memberi keceriaan yang mampu menyibak jelaga sepi tak berkesudahan. Mengakhiri ngangaan luka kesendirian. Bersamamu aku akan meretas mimpi dan mewujudkannya menjadi nyata. Tidak lagi semu, tidak lagi buram. Semuanya jelas, sejelas aku merindukan kehadiranmu yang akan datang kelak.

Aku menunggu di ujung bernama kelak

Bersama sabar aku menanti sang kelak turun dari langit laksana hujan. Menitis dalam bentuk yang bisa diraba dengan raga, menjelma menjadi sesuatu yang bisa aku ucap dengan kata.

Aku menunggu di ujung bernama kelak. Ya, kelak. Kelak yang aku belum tahu kapan waktunya akan datang. Aku hanya meyakini, aku hanya mengamini. Kamu akan datang. Pasti, meski kelak.

Rabu, 14 Maret 2012

Villa di Canggu

Liburan full covered di Bali selama 3 hari berakhir, tidak terasa tapi meninggalkan jejak yang susah untuk dihilangkan. Warna kulit yang mencoklat. Dalam kasus saya justru warna kulit yang melegam.

Siang itu dari arah Tulamben saya dan rombongan menuju bandara, pesawat yang akan membawa rombongan kembali ke Jakarta terbang malam hari. Perjalanan yang sama panjangnya dengan waktu berangkat ke Tulamben harus kami lalui. Perjalanan selama 4 jam yang harus kami lewati dengan antusisas yang tidak seperti keberangkatan, karenannya seluruh penghuni mobil lebih banyak sibuk dengan alam mimpinya masing-masing. Saya sesekali terjaga kemudian terlelap kembali karena rasa cape dan ngantuk karena pagi tadi bangun dari jam setengah 4 pagi.

Menjelang sore kami tiba di bandara. Rombongan bergegas menuju counter check in domestik kecuali saya. Saya pamitan dan berdiri di parkiran bandara menunggu jemputan berikutnya. Saya memperpanjang waktu liburan saya 2 hari sehingga genap 5 hari. Tentu saja dengan biaya sendiri. Seorang karib datang menjemput dan membawa saya ke daerah Canggu tempat saya dan teman-teman yang lain membooking sebuah villa. Ya, teman-teman saya dari Bandung dan Jakarta sudah menunggu di sana.

Canggu. Saya tidak familiar dengan daerah tersebut, tapi ternyata untuk pecinta villa daerah tersebut sungguh luar biasa terkenalnya. Canggu memang daerah tempat berdiri banyak villa karena lokasinya yang tidak ramai dengan polusi yang masih minim, favorit para bule. Dan daerah tersebut lumayan jauh, ke arah pantai batu bolong dan echo beach. Yang terakhir itu dalah pantai yang wajib dikunjungi oleh para peselancar karena ombaknya yang besar menggulung-gulung indah.

Hampir 2 jam saya berkendara sebelum akhirnya sampai di Shamira villa. Villa mewah yang karena kebaikan seorang teman bisa kami nego harganya hingga hanya sekian ratus dollar per malam. Jujur, kalau tidak sedang low season dan bantuan teman tersebut mana sanggup kami urunan untuk menyewa sebuah villa mewah. Villa yang kami ketahui keberadaannya dari teman tersebut yang kami lanjutkan dengan brwosing di internet, dan jatuh cinta pada fasilitas yang ditawarkannya.

Saya sampai melongo ketika pertama kali memasuki villa tersebut. Tidak jauh dengan yang saya lihat di situs internet. Villa ini terdiri dari 4 buah kamar super besar, dengan 3 kamar mandi. 1 buah di kamar tidur utama, 1 buah di lantai atas, dan 1 kamar mandi utama berukuran 5 kali kamar kos saya. Di bagian belakang villa, terdapat kolam renang terbuka dengan gazzebo di sampingnya dan kursi-kursi berderet untuk orang berjemur. Fasilitas lainnya adalah 1 buah ruang makan, 1 buah dapur, 2 buah ruang bercengkrama dan 1 buah ruang audio kedap suara tempat menonton televisi. Ditambah 3 orang pembatu rumah tangga yang siap membantu kita kapan saja.

Jujur, ini pertama kalinya saya menginap di villa ketika berkunjung ke Bali. Dan saya tidak menyesal meskipun saya harus merogoh kocek yang lumayan dibanding kalau saya membuka sebuah kamar hotel. Saya juga tidak kapok, saya akan mereservasi villa lagi apabila saya berlibur dan memiliki dana berlebih. Dan yang paling penting adalah ketika saya tidak berlibur sendirian, alasannya tentu apalagi kalau bukan soal urunan. Kalau banyakan dana bisa disharing menjadi seminim mungkin.


Kondisi villa tampak belakang

Kolam renang di bagian belakang villa

Gazzebo di samping kolam renang beserta kursi untuk berjemur

Kondisi Kamar tidur utama

Bagian kamar tidur utama

Kamar mandi di kamar tidur utama (bukan kamar mandi utama)

Best part. Kamar mandi utama yang (lagi-lagi) terbuka

(masih) Kamar mandi utama

Tinggal di villa lebih hommy, lebih berasa tinggal di rumah. Semua bagian bisa dieksplorasi sepuas mungkin, entah digunakan sebagaimana fungsinya atau hanya dijadikan arena untuk sekedar berfoto-foto seperti yang saya dan teman-teman lakukan kemarin. Aktivitas berfoto bukan hanya kami lakukan di tempat-tempat yang lazim, tapi kami juga merambah tempat yang sebetulnya aneh untuk dijadikan tempat berfoto.

Berfoto di kamar mandi utama (yg mana saya? saya yang mengambil foto)

Bali. Entahlah kapan bisa saya kunjungi lagi, mengingat proyek saya sudah berakhir tahun 2011 kemarin dan proposal untuk proyek selama tahun 2012 mengalami penolakan dengan alasan Bali sudah tidak lagi memerlukan bantuan dalam pengelolaan pertanian organiknya. Tapi saya yakin dalam hati, kalau saya pasti akan kembali.

Senin, 12 Maret 2012

Lumba-Lumba dan Lovina

Saya mengenal tempat ini sudah lumayan lama. Perantaraan sebuah novel berjudul “Antara Jalan Jaksa dan Lovina” yang penulisnya saya juga lupa. Saya hanya mengenali nama tempatnyanya, tanpa tahu benar seperti apa rupanya. Kalaupun dulu saya mereka-reka, itu hanya karena penggambaran di novel tersebut yang mengalir nyata.

Lovina. Nama sebuah pantai di pesisir Bali barat. Tentu yang terbayang di benak saya adalah pantai-pantai khas pulau Bali yang eksotik, penuh bule yang mengejar sinar matahari tanpa mengenal kondisi. Pantai selayaknya pantai yang mungkin bisa saya temui dimanapun. Tapi dari novel tersebut saya kemudian tahu kalau Lovina menawarkan sesuatu yang berbeda. Lumba-lumba.

Apa yang spesial tentang lumba-lumba? Seharusnya tidak ada. Saya tinggal mengunjungi Sea World di Ancol dan saya bisa melihat seperti apa rupanya. Mamalia air berbentuk streamline sehingga sering dikatagorikan salah kaprah sebagai ikan, yang senang berenang bergerombol dan melompat-lompat ke udara seperti melakukan atraksi pertunjukan. Mamalia air yang karena kecerdasannya sering dieksploitasi sebagai salah satu bagian dalam bisnis pertunjukan berjudul sirkus. Tapi di Lovina katanya berbeda, kita bisa melihat lumba-lumba berenang dan kalau sedang beruntung melompat ke udara sedemikian dekat dengan kita.

Berhubung saya sedang berlibur di Bali barat, saya dan rombongan memutuskan untuk mengunjungi juga Lovina. Hanya perlu berkendaraan darat selama kurang lebih 30 menit dari tempat saya menginap dan pantai lovina sudah menghiasi pelupuk mata. Masalahnya, berburu melihat lumba-lumba harus dilakukan di pagi hari dengan alasan untuk menghindari matahari. Bukan lumba-lumba yang takut matahari, tapi manusia atau sebutlah saya yang sudah tidak butuh lagi tanning untuk mendapatkan warna kulit seeksotik tembaga. Jadilah kami check out dari resort jam setengah 5 pagi karena sepulang dari Lovina, saya dan rombongan akan menuju Bali kota. Dan bisa dibayangkan, dengan check out jam segitu, jam berapa saya bangun dan mandi di kamar mandi terbuka yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya.

Suasana pantai masih gulita, hanya petromak-petromak yang berpendar dari perahu-perahu yang akan mengantarkan kami ke tengah lautan. Jangan dibayangkan perahu tersebut berbentuk boat luas, tetapi lebih menyerupai perahu nelayan kecil dengan sayap penyeimbang besar di bagian kanan dan kirinya. Satu perahu maksimal hanya diisi 4 orang penumpang termasuk si pengemudi, sehingga kami satu rombongan dipisah menjadi 2 buah perahu. Masih dalam temaram kami menuju ke tengah lautan.


Matahari bahkan belum nampak benar ketika perahu saya sudah di tengah lautan

Di tengah laut, sudah ada beberapa perahu yang kemudian seiring terang bertambah satu-satu menjadi segerombolan perahu. Saya awalnya tidak mengerti bagaimana aturan mainnya melihat lumba-lumba karena perahu yang saya tumpangi berdiam agak lama di tengah tanpa bergerak kemana-mana. Saya juga tidak menginderai kehadiran lumba-lumba yang seperti dijanjikan brosur-brosur agen perjalanan, sampai tiba-tiba salah satu pengemudi perahu dari perahu lain berteriak, “Lumba-lumbanya disana!” sontak semua perahu yang sudah berjumlah puluhan, bergerak ke arah yang ditunjuk oleh pengemudi perahu tersebut. Perahu-perahu tersebut seakan balapan menuju gerombolan lumba-lumba yang berenang riang sambil sesekali melompat ke udara menunjukan kalau mereka betulan ada.


Setelah kemunculannya tersebut, kemudian gerombolan lumba-lumba itu menghilang. Tapi perahu saya dan yang lainnya tetap bertahan, bergerak dengan arah yang tidak beraturan sampai ada yang berteriak membewarakan kehadiran si lumba-lumba lagi. Kemudian aktivitas mengejar ke arah tersebut berulang, demikian terus sampai siang kalau tidak merasa bosan. Setelah hampir 3 jam saya dan rombongan berburu melihat lumba-lumba, kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kami pagi itu. Petualangan baru yang menyisakan sebuah perasaan bahagia tanpa perlu penjelasan kenapa.


Puluhan perahu menungu kemunculan si Lumba-lumba


Lumba-lumba yang berenang sedemikian dekat dari perahu yang saya tumpangi


Menikmati atraksi Lumba-lumba


Melompat ke udara

Dear lumba-lumba, daripada kalian cape berenang, melompat, kemudian menghilang dan muncul lagi ke permukaan. Alangkah lebih baiknya kalau kalian mengasah sisi kenarsisan kalian, tak perlulah muncul menghilang, muncul menghilang. Melompat-lompatlah seakan-akan kalian sedang ada di panggung pertunjukan. Kalian bintangnya, nikmatilah panggung sepuasnya meskipun tanpa kehadiran lampu sorot dan confetti. Yakinlah semua mata yang haus akan atraksimu tidak akan mengalihkan pandangannya. Sekali lagi, di Lovina kalian bintangnya bukan saya atau kami. Kalau kalian mau mengasah sisi kenarsisan tersebut, saya siap membantu mengajari. Sekian.

Kamis, 08 Maret 2012

Snorkeling

Kalau ada pilihan antara snorkeling dengan diving, maka saya akan memilih snorkeling. Alasan utamanya karena saya tidak bisa diving. Masuk akal kan? Jadi ketika ada wacana bahwa kunjungan ke Bali kemarin akan diisi oleh kegiatan snorkeling di Pulau menjangan, saya sangat antusias menyambutnya.

Saya suka sekali dengan pantai dan laut. Tak heran meskipun saya orang bioteknologi, tapi waktu jaman kuliah saya mengambil mata kuliah minor yang berhubungan dengan laut diantaranya biologi kelautan dan ekologi laut. Alasannya karena di dua mata kuliah tersebut banyak kunjungan ke pantai dan laut. Dosen saya tertawa terbahak-bahak waktu saya menjawab demikian ketika dia mempertanyakan kenapa saya mengambil mata kuliah yang diampunya. Kemudian dia bilang, saya cocok jadi anak pantai. Sialan.

Awalnya saya tidak tahu kalau di Bali ada spot untuk snorkeling, tapi ketika browsing di internet dan menemukan Pulau menjangan, saya dan teman-teman kemudian merencanakan untuk mengunjunginya. Pulau menjangan berada di Bali barat, nun jauh di sana dari pusat hedonisme pulau dewata. Pulau ini bisa dicapai dengan menggunakan perahu boat sekitar 30 menit dari mimpi boutique resort tempat saya menginap. Restoran resort ini langsung menghadap ke laut, yang disebelahnya terdapat hutan bakau dan dermaga. Jadi untuk mencapai dermaga ini kami tidak perlu susah payah keluar kawasan resort, tinggal sarapan di restauran kemudian jalan kaki sekitar 15 langkah dan taraaaaaa, dermaga beserta boatnya sudah ada di hadapan.


Dari meja makan restauran dapat kita lihat dermaga dan vegetasi hutan bakau


Sudut beach pool yang langsung menghadap laut lepas dan hutan bakau

Memang, dermaga yang ada di bagian belakang resort ini tidak langsung menghadap pulau menjangan. Jadi untuk mencapai ke sana kami harus menyusuri pinggiran pulau bali yang ditumbuhi vegetasi bakau yang lebat. Saya dalam hati tidak henti mengucap syukur karena takjub dengan keindahan hutan bakau yang terpampang seluas mata memandang. Apalagi vegetasi bakau mengingatkan saya lagi-lagi pada masa kuliah bersama si dia. (Stop menggalau karena ini bukan saatnya J )

Setelah hampir 30 menit melewati hutan bakau dan lautan, boat kami akhirnya sampai di dermaga Pulau Menjangan. Di sana sudah terdapat beberapa boat yang lebih dahulu bersandar, sepertinya kami keduluan oleh rombongan bule-bule itu. Tapi saya tidak khawatir secara lautnya luas, mau diubek-ubek orang sekampung juga tetap akan menyisakan tempat bagi saya untuk setidaknya mengeksplorasi isi laut yang katanya indah.

Dan betul saja, keindahan yang ditawarkan laut pulau menjangan bukan sekedar katanya. Di perairan yang dangkal tempat boat saya bersandar, hamparan karang indah dan ratusan ikan yang berenang bergerombol sudah terpampang menantang untuk diamati. Saya tidak sabar untuk kemudian memasang peralatan snorkeling dan mencelupkan kepala saya ke dalam laut. Dan indah. Dengan alat snorkeling yang disediakan oleh pihak tour dan syukurnya bagus, saya betah berlama-lama di dalam air. Mengeksplorasi setiap jengkal jarak pandang yang hanya berisi karang indah, ikan cantik dan laut yang biru. Berulang kali saya berteriak dalam hati menyebutkan nama spesies terumbu karang dan ikan-ikan yang sempat saya kenal semasa kuliah dulu. Semuanya memporakporandakan ingatan-ingatan saya tentang mereka yang sudah lama berkarat karena jarang sekali dipakai kecuali jaman ujian waktu itu.


Ikan yang berenang bebas diantara terumbu karang

Si clown fish yang semakin terkenal sejak muncul film finding nemo

Gugusan terumbu karang yang super indah

Linkhia, si Bintang laut biru

Tuhan, terima kasih masih Engkau beri aku kesempatan untuk menikmati indah ciptaan-Mu. Semoga dengan selalu mengagumi dan mentafakuri ciptaan-Mu, aku senantiasa menjadi Hamba-Mu yang bersyukur. Amin.

Ayo kita snorkeling!

Senin, 05 Maret 2012

(Bukan) Mimpi Resort

Semoga ini semua bukan mimpi. Itulah kalimat yang pertama kali terlintas ketika saya dan rombongan menginjakan kaki di resort ini. Setelah berkendaraan darat dari Bandar udara internasional Ngurah rai di Denpasar selama hampir 4 jam, akhirnya saya dan rombongan tiba di Mimpi Boutique Resort. Resort di daerah Nagara ke arah Tulamben, Bali Barat.

Kali ini kunjungan ke pulau Dewata bukan dalam rangka perjalanan dinas dan tugas seperti biasanya, tetapi murni liburan. Liburan yang dibiayai oleh salah satu penyandang dana salah satu project saya di tahun 2011. Mereka merasa puas dengan project yang saya dan teman-teman kerjakan, sehingga mereka memberikan hadiah liburan ke bali selama 3 hari full covered. Jadilah saya beserta rombongan yang berjumlah 5 orang berangkat ke Bali, tanpa beban pekerjaan di kepala.

Kami ingin liburan kali ini terasa beda meskipun Bali tidak akan pernah membosankan untuk dieksplorasi, tidak akan pernah membuat mati gaya ketika dikunjungi berulang kali. Dengan beralasan ingin beda tersebut, kami memutuskan untuk mengunjungi Bali barat terutama daerah Pulau Menjangan dan Lovina. 2 Tempat yang saking jauhnya tidak pernah seramai daerah Legian ataupun Kuta, bahkan ketika saya menyusuri jalanan panjang yang tak ramai saya lebih merasa seperti di perkampungan jawa dan bukannya Bali.

Karena mengambil paket liburan dari salah satu travel agent, jadilah dari proses penjemputan di bandara sampai pemilihan tempat menginap sudah diatur sedemikian rapi. Saya dan rombongan tinggal duduk manis dan sampai ke tempat tujuan. Kami menginap di mimpi boutique resort, sebuah resort yang lumayan mewah untuk ukuran saya yang biasa bepergian dengan budget pas-pasan. Satu rombongan terdiri dari 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, dan karena teman saya yang laki-laki tidak biasa sharing room jadilah dia mengeluarkan kocek tambahan untuk membuka kamar terpisah. Saya yang diuntungkan, mendapat satu buah kamar besar untuk dinikmati sendirian.

Dalam komplek resort terdapat beberapa private villa, yang kebanyakan diisi oleh para bule dan sedang berbulan madu. Sementara kami menempati kamar-kamar seperti layaknya hotel kebanyakan meskipun tetap saya rasa lebih cocok untuk dijadikan tempat berbulan madu ketimbang tempat menginap kala liburan. Dengan pintu geser yang besar dan ditutupi tirai, saya memasuki kamar dan langsung disambut tempat tidur ukuran besar berkelambu gantung. Tidak banyak ornamen Bali yang bisa saya temukan seperti di kebanyakan hotel atau resort di Bali, hanya wangi aroma therapi yang menyeruak dari berbagai sudut kamar. Saya celingak-celinguk mencari keberadaan televisi yang akhirnya tetap tidak saya temukan, sehingga saya semakin yakin kalau tempat ini lebih cocok dijadikan untuk berbulan madu. Minim gangguan.

Kamar yang saya tempati selama saya tingga di mimpi resort


Yang lebih membuat saya ternganga adalah bagian kamar mandinya. Luas sekali dan terbuka. Ada taman kecil tanpa atap yang memungkinkan kita untuk melihat langit ketika kita berdiri di bawah shower. Konsep yang menurut saya romatis sekaligus magis dan cocok untuk orang yang sedikit narsis. Romatis karena saya membayangkan romansa yang mungkin dapat tercipta ketika kita berdua dengan pasangan kita dan mandi bersama. Magis karena keterbukaannya yang mungkin menghadirkan pikiran serba klenik ketika kita menggunakannya di malam hari. Dan cocok untuk yang narsis karena keterbukaannya itu ditambah ornamen kaca-kaca besar yang membuat kita mampu mengagumi diri sendiri sepuasnya.

Suasana kamar mandi, dengan shower yang langsung menghadap ke langit

Taman yang langsung terbuka dengan udara bebas

Lewat celah langit cerah yang terpampang sempurna di atas taman yang terbuka di dalam kamar mandi, saya mengamati bintang nan benderang. Berulang-ulang saya meyakinkan diri meskipun resort ini bernama mimpi, tapi saya berharap kalau ini bukanlah sebuah mimpi. Dan kalaupun memang mimpi, saya tidak ingin terjaga secepatnya.