Jumat, 25 Mei 2012

Keracunan

Sepertinya aku keracunan. Sesak. Pandangan berkunang-kunang dan jiwa seperti dikuasai oleh halusinasi. Pikiran membuatku meracau dan senyum-senyum sendiri.

Beginikah sebentuk keracunan yang sering orang bicarakan? Ketika oksigen tergantikan oleh senyawa lain yang membuat Haemoglobin atau zat warna darah kehilangan kemampuannya mengikat zat asam sehingga sel tidak bisa leluasa bernapas. Sel mengkerut dan darah membiru karena kadar racun yang terus bertambah. Serotonin otak turun drastis menyebabkan tingkat kesadaran berkurang seiring waktu. Otak kehilangan fungsi.

Memang tidak seperti keracunan asam jengkolat yang menyisakan efek bengkak dan lebam di sekujur badan. Bukan juga seperti keracunan asam bongkrek yang menyebabkan muntah hebat sampai seperti rasanya ingin memuntahkan lambung. Tapi  tetap yang namanya keracunan menimbulkan efek nausea atau rasa mual yang berlebihan. Perasaan entah itu perut atau justru malah hati seakan dipenuhi oleh sesuatu yang tidak perlu. Tumbuh tidak terkendali mensabotase kesadaran.

Aku sesak. Dadaku penuh.

Tidak kurasakan tungkai yang biasanya menopang berat tubuh menapak tanah. Aku merasa melayang seperti orang sedang “fly” akibat menegak minuman keras yang dioplos dengan bensin. Mabuk tanggung. Keracunan rasa murah yang ditawarkan sebuah janji untuk mengecap rasa surgawi pengentas sepi. Aku terbuai dan kemudian tercerabut dari sumbu kesadaran sampai akhirnya aku sadar kalau aku tengah diracuni.

Aku sesak. Aku melepas satu-satu kesadaran yang tersisa seperti ketika waktu terus berdetak sementara mobil yang kunyalakan di ruangan tertutup asapnya terus meracuni paru-paru. Mengurangi kapasitas total dan kapisitas vital paru-paru ke angka yang paling minim. Membunuh satu per satu sel yang terisisa di sekujur badan dengan racun yang terus diedarkan darah tanpa henti dan berulang. Hingga racun itu bercokol di otak dan membuatnya gembos seperti balon yang berlubang tak kasat mata. Mengecil perlahan sampai akhirnya kandas tinggal canggang.

Aku keracunan. Lihat saja tubuhku yang membiru efek haemoglobin darah disatobase fungsinya oleh sebentuk rasa yang tidak bisa ditolak raga.

Aku mencari penawar. Berlari sekencang yang aku bisa menuju apotek atau toko obat terdekat. Akan kugadaikan jiwaku kalau perlu untuk mendapatkan penawar yang bisa membebaskan rasa dari keracunan yang terus menggerogoti hati. Organ pusat dari penawar segala jenis racun yang memang sudah dipersiapkan. Tapi kali ini seakan racunnya terlalu dahsyat sehingga hati angkat tangan justru sebelum berperang. Mengibarkan bendera putih di pojokkan seakan membiarkan racun itu merajalela menguasai badan. Mengontrol semua jenis kesadaran yang entah disebabkan oleh otak di dalam kepala atau hati di dalam dada.

Dan aku justru  terbang di ujung perasaan ingin bertahan. Menyerah pada keadaan yang lagi-lagi kejadiannya berulang, padahal aku tahu kalau di ujung jalan pasti menorehkan sebuah kesakitan. Tapi aku sekarang lebih tenang karena aku sudah mencandu kesakitan, menikmatinya sebagai madu yang pasti menyehatkan walau untuk mendapatkannya perlu melawan serangan ratusan lebah prajurit perang.

Tolooooooooong!!!!! Aku sedang keracunan. Lagi-lagi aku keracunan seseorang berwujud tionghoa.

Senin, 21 Mei 2012

Kami dan Pernikahan

“Kalau kamu nikah, nanti aku sama siapa?” Pertanyaan seperti itu pernah terlontar begitu saja tanpa ada tendensi apa-apa.

Saya sadar benar kalau kejadian itu lambat lain akan terjadi. Tidak peduli seberapa lama kami telah bersama. Dari saling tidak mengenal, mengenal kemudian berujung saling memaklumi. Posisi itu pasti harus dilalui sebagai jalan hidup. Entah dia yang duluan, atau bisa jadi justru saya yang mendahuluinya. Entahlah, semua masih misteri.

Bersamanya saya bisa menjadi diri saya sendiri. Tidak perlu lagi berbasa-basi sebagai kedok yang melindungi dari apa yang tidak ingin saya pertontonkan. Bersamanya saya jatuh, bangun kemudian berlari dan tersandung. Tidak ada hal yang saya tutup-tutupi, rahasia saya aman bersamanya. Tidak perlu was-was kalau dia marah kemudian mengumbar apa yang telah saya titipkan selama saya bersamanya sejak awal. Dia dapat dipercaya.

Dan saya melakukan hal yang sama. Berusaha dapat dipercaya setelah dia menitipkan banyak rahasia yang tidak bisa saya umbar sembarangan. Beragam permasalahan baik itu tentang keluarga, pekerjaan, bahakan masalah paling pribadi telah kami hadapi dan pecahkan bersama. Kadang kami lelah didera masalah yang tidak kunjung reda sehingga tidak jarang kami duduk gontai di lantai sambil pasrah. Membiarkan yang terjadi memang harus terjadi.

Pertengkaran bukan tidak pernah ada diantara kami. Dari awal kami bertemu pertengkaran sudah menjadi bumbu sehari-hari. Dia yang terlalu cuek dan saya yang terlalu sensitif menjadi sebuah kombinasi pas untuk mengantarkan pada mulut sebuah pertengkaran, bahkan untuk hal-hal yang terasa sepele. Tapi dari sana lagi-lagi kami belajar memaklumi. Belajar menerima kalau tidak pernah mudah menerapkan apa yang biasa kita terapkan pada diri kita kepada orang lain. Dia dengan kebiasaannya, saya dengan kebiasaannya. Selamanya akan begitu.

Bersamanya saya bukan hanya nyaman. Saya lebih merasa seperti diberkahi. Seperti diberi hadiah yang tidak habis dibagi. Dia memiliki banyak teman, saya juga. Ketika saya dan dia sedang melebur pada mereka maka diantara kami tidak pernah ada rasa saling cemburu, saling ditinggalkan karena kami yakin bahwa ketika kerian itu sudah usai maka kami akan bertemu lagi di satu titik. Berjalan bersamaan. Mentertawakan hidup. Menganalisis takdir. Menjaga kewarasan yang bercokol di dalam otak kami.

Tapi pernikahan pasti akan memisahkan. Paling tidak menjauhkan.  Tidak akan ada lagi kebersamaan seperti dulu karena kami sadar kalau masing-masing dari kami harus menjaga perasaan pasangan. Tidak bisa saya atau dia mengganggu waktu untuk keluarga karena kami tidak lagi sama. Bukan lagi kami yang bebas bertemu, bercerita atau sekedar membodoh-bodohi. Tidak lagi bebas ngobrol di cafe sampai diusir pelayannya karena tidak juga sadar kalau cafe hampir tutup. Tidak lagi bisa bertemu kapan saja, entah mau apa meski ujung-ujungnya kami berdua menenteng tas belanjaan berisi barang yang tidak direncanakan.

Seperti itu bertahun-tahun jadi ketika ada wacana pernikahan, masing-masing dari kami terutama saya mendadak bisu. Jujur saya tidak ingin melepaskan kenyamanan ini, tapi saya juga sadar kalau saya tidak boleh egois. Umur sudah condong mejauhi muda, dan menikah adalah jalan yang harus dilalui demi kebaikan semuanya.

Tentu saja saya ingin bahagia, saya juga tidak lepas mendoakan segera dia bertemu jodohnya. Seseorang yang akan membahagiakannya lebih dari saya. Seseorang yang akan membahagiakannya dunia akhirat. Bukan seorang sahabat seperti saya yang hanya bisa memberinya jatah masalah untuk ikut dia pecahkan. Semoga saja jodohnya segera datang. Amin.

Ditulis spesial untuk Dewi Siti Rochmah. My trully partner in crime. 

Senin, 14 Mei 2012

Bukan Soal Nominal

Terus terang ini semata-mata bukan karena uang, tapi lebih ke arah penodaan kepercayaan.

Bagaimana mungkin, kamu yang sudah aku anggap sebagai sahabat ternyata membohongiku hanya karena sejumlah uang. Bukan soal nominal, uang bisa dicari. Tapi apakah kamu tidak sadar kalau dengan sikapmu yang seperti itu kamu justru kehilangan kepercayaan dari sahabat-sahabatmu macam aku.

Aku tidak habis pikir, kamu yang semula baik, yang tulisan-tulisannya begitu menginspirasi banyak orang ternyata bisa berubah watak hanya karena butuh uang. Aku masih ingat, tulisan-tulisan tentang ibumu yang sebegitu berjuangnya membesarkan kamu dan adikmu sendirian karena ditinggalkan oleh suami yang tidak bertanggung jawab sangat inspiratif sekaligus menggugah. Kemudian kamu yang mati-matian berusaha untuk membahagiakan beliau karena perjuangannya seringkali membuatku tertegun dan berpikir kalau aku sebagai anak ternyata tidak sehebat kamu. Aku iri.

Tapi bagaimana mungkin sekarang kamu bisa berubah seperti ini? Tidakah kamu sadar kalau justru tindakanmu ini bisa menyakiti ibumu? Tidak terbayangkan betapa sedihnya beliau kalau mengetahui anak yang dibanggakannya, yang dibesarkannya dengan penuh perjuangan ternyata mampu membohongi banyak orang hanya karena masalah uang. Lagi-lagi aku tidak habis pikir, sedangkal itukah kamu menilai arti sebuah persahabatan?

Aku luput kehilanganmu. Seorang sahabat yang pernah menemaniku menikmati sepiring besar kepiting saos padang yang super pedas, yang katamu meskipun aku kepedesan tapi mataku tak berhenti jelalatan. Sial. Aku  merindukan masa-masa itu. Tentu kamu juga masih ingat bagaimana aku susah payah membujuk pacarku (sekarang mantan) untuk datang ke pesta pernikahanmu. Saat itu kami jadi tontonan sepanjang gang menuju rumahmu. Bagaimana tidak, keberadaan kami yang terlalu mencolok mengundang banyak kepenasaran. Seorang cina berkulit kuning dengan seorang pribumi berkulit hitam berjalan berdampingan menggunakan batik yang seragam. Dan kamu terkekeh ketika aku menceritakan itu.  Aku masih mengingat semuanya.

Tapi kenapa? Hanya itu yang ingin aku tanyakan. Kalau memang kamu ada masalah, berceritalah seperti dulu. Jangan seperti ini, menghindar dan menimbulkan banyak pertanyaan. Soal uang jangan jadi beban, kalau kamu berhati besar kemudian berterus terang tidak sanggup mengembalikan maka aku akan mengikhlaskan. Persahabatan kita jauh lebih berharga dari sejumlah nominal yang kamu pinjam. Kalau aku sempat menagih, itu karena aku merasa punya kewajiban. Di agama yang aku yakini mengingatkan orang yang punya hutang adalah kewajiban, apalagi dulu kamu bilang meminjam dan bukan meminta.

Sebetulnya aku merasa sangat dibodohi. Bagaimana mungkin kamu tega memanfaatkan kepercayaanku, kenaifanku mempercayai semua apa yang kamu katakan. Tidak kamu hargaikah aku yang karena telfonmu tengah malam itu rela keluar kosan untuk mentransfer sejumlah uang? Kenapa itu aku lakukan? Karena kamu bilang itu mendesak. Kamu masuk rumah sakit, jauh dari siapa-siapa, dan rumah sakit tidak mau merawat kalau kamu tidak memasukan sejumlah uang sebagai jaminan. Dan kenapa aku percaya? Karena kamu sahabatku. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku kalau kamu justru saat itu tengah membohongiku. Tidak ada. Aku murni ingin menolong seorang sahabat.

Sekali lagi ini bukan soal uang, karena kalaupun sekarang kamu punya rezeki dan ingin mengembalikan, aku pasti tidak akan menerimanya. Belikanlah sesuatu untuk kedua keponakanku, anak-anakmu. Tapi tolong, jangan beri mereka makan dari uang hasil menipu. Apalagi belakangan aku mendengar kalau kamu melakukan hal itu tidak hanya padaku seorang, tapi pada beberapa teman lain yang juga jatuh kasihan. Dimana nuranimu? Kamu gadaikan dimana sehingga kamu tega memanfaatkan belas kasihan orang?

Tidak percayakah kamu akan karma? Bagaimana kamu tega mengeluarkan alasan kalau kamu butuh uang karena sedang sakit, mendapat kecelakaan, atau butuh uang untuk kabur dari kota suamimu tinggal karena dia kerap menyiksamu? Perkataan itu doa. Tapi semoga saja perkataan itu tidak benar nyatanya dan hanya jadi alasanmu saja untuk menarik rasa iba orang.

Kalau ada masalah, cerita. Jangan dipendam ketika kamu yakin kamu tidak akan bisa menyelesaikan sendirian. Ada aku dan teman-teman lain yang pasti akan membantu tanpa perlu diminta. Berubahlah seperti dulu, menjadi sosok yang begitu menyenangkan. Doaku selalu ditasbihkan untukmu, teman! 

Jumat, 11 Mei 2012

Angkara

Sleeping around is totally none of my business. Tapi please deh hati-hati dan bertanggung jawab sama apa yang sudah kamu lakukan.

Rasanya saya ingin berteriak seperti itu ketika saya nanti bertemu dengannya. Tapi semua itu hanya rencana, dan rencana tinggal rencana. Saya urung melakukannya ketika bertemu langsung dengan dia sore itu. Apalagi dia yang tiba-tiba memeluk kemudian menangis di hadapan saya.

Panggil saja Angkara. Laki-laki berumur 22 tahun yang saya kenal perantaraan taman aksara. Laki-laki yang entah kenapa tiba-tiba menghubungi saya melalui email dan bercerita panjang lebar mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Mungkin salah saya karena sering membagi kegamangan dan kebimbangan dalam postingan-postingan di taman aksara sehingga menarik banyak pembaca untuk sekedar menghubungi dan berbagi. Tapi berkat mereka-mereka inilah yang membuat saya tidak pernah benar-benar merasa sendiri.

Angkara baru saja lulus dengan nilai “menakjubkan” dari salah satu jurusan favorit di kampusnya, kampus kami. Argggh, kenapa harus kampus itu lagi? Seakan-akan dunia saya hanya berputar-putar di seputaran kampus itu. Cinta pertama, dikhianati, bangkit, berteman, bersahabat, mencintai sahabat, mencintai kekasih orang, mencintai kekasih orang (lagi) semuanya beraroma gajah. Dan sekarang Angkara datang membawa aroma yang sama, gajah. Karena itupulalah secara tidak resmi kalau kami berkorespondensi melalui surat elektornik selalu diawali dengan kalimat ini : “Salam Ganesha! Bakti kami untukmu, Tuhan, Bangsa dan Almamater. Merdeka!!”

Garing.

Saya mengenal Angkara kurang lebih satu bulan yang lalu, dan saya dibuat ternganga oleh hidupnya. Ketakutan yang tengah dia hadapi membuat saya mengelus dada, kasihan. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberinya suntikan semangat. Saya lebih sering berperan sebagai pendengar karena dalam posisinya sekarang dia sedang tidak butuh dihakimi. Saya berusaha membesarkan hatinya karena bagaimanapun noda sudah tergambar. Butuh waktu untuk membuatnya hilang atau sekedar membuatnya pudar.

Sore minggu lalu adalah pertemuan saya yang pertama dengan Angkara. Kebetulan saya ada tugas dinas ke kampus saya dulu untuk menggagas sebuah joint research, dan saya mengajaknya bertemu. Selepas wisuda bulan lalu dia belum kembali ke kampung halamannya di Medan, masalah yang dia hadapi ini yang membuatnya gentar untuk pulang.

Saya menunggunya di salah satu sudut taman di kampus itu. Udara  Bandung terasa segar selepas diguyur hujan hampir 2 jam, dan dia datang terlambat. Mungkin karena hujan. Waktu dia datang, sosoknya tak ada yang berbeda dengan foto-foto yang dipajang di jejaring sosialnya, hanya saja dia nampak kuyu. Tak ada semangat, tidak nampak seperti anak muda yang berhasil menaklukan studi dengan nilai yang gemilang. Semua samar, dibalut kegalauan.

Kami berpelukan seperti 2 orang sahabat yang sudah saling mengenal lama. Kemudian dia menangis, awalnya hanya meneteskan air mata yang lambat laun berubah menjadi isakan. Saya hanya diam, bingung harus berlaku seperti apa. Saya hanya mengelus-elus punggungnya berharap tangisanya segera mereda.

“Gue takut banget Pis!” Hanya kalimat itu yang keluar di sela-sela isakannya.

Angkara sedang menunggu waktu jendela. Waktu tunggu antara dinyatakan tidak terinveksi dengan kemunculan antibodi yang dapat dideteksi. Waktu sekitar 3 bulan yang membuatnya kalang kabut seperti mau mati besok hari. Angkara baru saja melakukan tes HIV, dan meskipun hasilnya negatif tapi dia masih khawatir karena gejala-gejala yang dipertontonkan tubuhnya mirip dengan gejala orang yang terinfeksi HIV.

Tidak saya lihat semangat untuk menjalani hidup pada diri Angkara. Serentetan tes itu benar-benar melenyapkan semua mimpi yang mungkin telah dia rintis dari dulu. Angkara tidak ingin pulang, Angkara tidak ingin mencari kerja. Angkara hanya ingin bangun dari mimpi buruk yang dirasakannya terlalu panjang. Itu yang dia bilang kemarin. Dia juga meminta dukungan doa agar hasil dari menunggu “waktu jendela” nya sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Angkara bukti nyata sebuah kebodohan. Betapa tidak memikirkan dampak dari yang telah dilakukan harus di bayar belakangan. Sekali lagi saya bilang, untuk Angkara dan untuk kalian semua. Sleeping around is none of my business, tapi bertanggung jawablah dengan itu. Lindungi diri kita, karena kalau bukan kita yang melindungi maka ancaman bisa datang tanpa diundang. Saya bukan sok suci, tidak sedang menggurui, tapi saya hanya tidak ingin melihat ada Angkara-Angkara lain yang harus mengorbankan atau paling tidak menggadaikan masa depannya pada banyak ketakutan.

Hari ini “waktu jendela” Angkara berakhir, dan dia akan mengetahui kejelasan mengenai hidupnya. Mari kita mendoakan yang terbaik untuknya apapun nanti hasil yang harus dia telan. Dan semoga Angkara menjadi sebuah pembelajaran. 

Rabu, 09 Mei 2012

Antologi Hujan

Aku berlari ke halaman berusaha mengejar dia yang nampak baru keluar dari pagar. Terlambat. Ketika aku sudah sampai di depan pagar sosoknya sudah hilang di ujung gang. Masih terlihat tas gendongnya sepersekian detik, tapi aku tidak kuasa untuk mengejar. Aku tidak pakai sandal.


Gontai aku kembali ke dalam rumah sambil menenteng barang yang lagi-lagi dia lupakan. Sebuah payung biru yang sudah aku siapkan untuk dibawanya pergi lagi-lagi tidak dia masukan ke dalam tasnya. Kebiasaan, padahal dia paling benci hujan apalagi kehujanan. Penyakit asmanya mudah sekali kambuh kalau air hujan mengguyurnya tanpa perlindungan.


Payung berwarna biru langit itu sengaja aku belikan untuk melindunginya dari hujan. Butuh banyak perdebatan sampai akhirnya dia mau memasukkan payung itu ke dalam tasnya setiap dia akan meninggalkan rumah. Sering kali dia melupakannya sehingga aku yang lebih sering memasukannya, tidak peduli nanti akan dipakainya atau tidak tapi setidaknya barang itu ada di tempatnya ketika dia butuh untuk menerobos hujan yang dia tidak suka.

Hari ini aku lupa, aku disibukan dengan telepon yang terus berdering dan ketika aku angkat tidak ada yang berbicara di seberang. Aku bahkan hanya menganggukan kepala ketika dia berpamitan sambil menempelkan jarinya yang merentang mirip telepon di telinga dan mulutnya. Artinya “Nanti aku telepon” Dia memang rutin menelponku ketika dia punya kesempatan, kadang di tengah marathon rapat yang harus dilaluinya dia menelponku hanya untuk berucap rindu. Kadang aku malah menganggapnya lucu dan kekanakan, dan dia seringkali marah karena merasa kalau usahanya tidak dihargai.

Sambil meletakan payung biru yang seharusnya dia bawa, aku merasakan khawatir yang lebih dari biasanya. Apalagi kumpulan awan hitam sudah bergelayut di minggu pagi ini. Hari ini seharusnya dia libur, tapi tadi dia bilang kalau ada sedikit masalah di kantor yang mengharuskannya datang sebentar. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa dia tidak memasukan payung biru yang aku belikan ke dalam tasnya, pergi hanya sebentar dan hujan pasti mau menunggunya pulang.

Aku makin khawatir ketika di luar aku dengar hujan mulai turun perlahan. Gemericik air yang menyentuh kanopi garasi menimbulkan aroma tersendiri yang membuat aku tak menentu hati. Aku ambil telponku dan akan menghubunginya tapi urung aku lakukan. Dia tidak suka aku telpon ketika dia sedang dalam perjalanan. Katanya ribet untuk mengangkat telpon di tempat umum. Jadi sudah menjadi kebiasaan kalau aku akan menelponnya ketika aku sudah benar-benar yakin dia ada di tempat tujuan kalau dia tidak yang melakukannya duluan.

Banyak kesepakatan-kesepakatan yang kami lakukan semenjak kami memutuskan untuk tinggal bersama 5 bulan silam. Tidak mudah mempersatukan 2 karakter yang sudah terbentuk kuat dalam sebuah rumah yang dibangun atas dasar cinta dan kepercayaan. Pertengkaran dan selisih faham terjadi lebih banyak dibanding jumlah ornamen yang menghiasi ruang tamu mungil di rumah kami. Tapi kami tidak lantas menyerah, seiring dengan waktu masing-masing dari kami melunak. Tidak lagi saling memaksakan kehendak dan berusaha memahami setiap kebiasaan yang sudah mendarah daging sebagai suatu paket lengkap.

Tidak ada lagi aku yang setiap pagi teriak-teriak karena dia lupa menjemur handuk basah yang digeletakan begitu saja di atas tempat tidur. Tidak ada lagi omelan dia yang memprotes kebiasaan mandiku yang katanya selalu lebih lama dari Bandung Bondowoso membangun Prambanan. Semua perlahan berubah menjadi sebuah pemakluman, mungkin bentuk kompromi paling besar yang pernah kami lakukan selama hidup. Tahapan yang memang harus dijalani ketika angka 2 berubah menjadi 1.

Hujan di luar semakin deras. Bau basah sudah tidak lagi tercium digantikan suara air yang terlindi mencari saluran. Hatiku semakin tidak karuan karena aku kenal betul siapa dia, seseorang yang sudah membuatku merubah banyak kebiasaan sejak 5 bulan silam. Dia orangnya tidak sabaran, jadi kalau hujan menghadang dia tetap akan berjalan dengan tempo yang dibuatnya 4 kali lebih cepat dari biasanya. Tidak peduli kuyup yang akan membasahi seluruh badan dan bajunya. Tidak peduli dengan sakit yang bisa saja dideritanya. Tidak peduli dengan aku yang biasanya marah-marah kemudian.

Hujan datang terlalu dini, merenggut hari yang masih bayi. Tanpa melewati gerimis dia langsung berubah wujud menjadi deras. Payung biru langit yang tadi aku geletakan di meja kemudian aku genggam, berharap hangat yang tercipta dari genggaman sampai pada dia yang mungkin saja sedang hujan-hujanan. Seseorang yang sudah membuatku menjadi sesuatu yang baru sejak 5 bulan silam. Seseorang yang memberiku benih kepercayaan kalau cinta itu benar adanya, cinta yang ternyata bisa melintasi berbagai batas keniscayaan.

Aku memijit panggilan cepat di tombol telepon genggamku. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi dan tetap tak ada jawaban. Kuulangi sampai 4 kali dan tetap tak ada sahutan. Aku berlari ke teras, mengamati hujan yang turun seperti ditumpahkan. Rumput-rumput jepang yang kami tanam di kebun sempit pinggir garasi kuyup tak berdaya, terbungkam hujan yang datang kepagian. Pandanganku tetap tertuju pada ujung gang, meski dikaburkan bias air yang tercurah aku tetap memandang ke arah sana. Berharap dia muncul dan kembali pulang karena bajunya basah dan tidak layak dipakai bepergian.

Akan aku siapkan air hangat untuknya mandi kemudian secangkir cokelat panas, minuman kegemarannya. Aku gosokan kayu putih di punggung dan perutnya seperti bayi agar dia merasa hangat, kemudian aku peluk dari belakang. Lama. Prosesi yang sering kami lakukan sambil mengintip bulan dari jendela kamar belakang.

Hujan belum ada tanda-tanda berhenti. Jalanan becek menggenang di kanan kiri jalan. Dan aku masih berdiri di teras depan, menunggu tanpa kepastian. Payung masih kugenggam dengan kedua tangan, barangkali tanpa diduga di muncul di mulut gang sehingga dengan mudah aku bisa berlari menjemput ke depan. Tapi dia tidak muncul, hanya bunyi hujan yang terus terdengar memenuhi ruang pendengaran.

Telponku berbunyi. Sigap aku bergegas masuk ke ruang depan. Nama dia yang muncul di layar. Seketika hatiku berubah tenang, ada semacam kelegaan yang muncul bertandang tanpa diundang. Kujawab telponku dan sesaat kemudian aku dengar suara dari arah seberang.

“Aku tidak kehujanan. Aku memilih berteduh di tepian jalan karena aku ingat kalau aku begitu menyayangimu” Begitu katanya sesaat setelah aku berujar halo.

Kubayangkan seulas senyuman tergambar di wajahnya yang tadi pagi sempat aku elus halus. Kelegaan benar-benar memenuhi rongga dada pagi itu saat hujan datang terlalu dini. Ternyata kebersamaan yang baru sekejap ini mampu membuat kami berkompromi sampai tahap yang kadang tidak dapat dipahami. 5 bulan yang begitu menakjubkan, 5 bulan yang sudah kami lalui sebagai awalan untuk hidup bersamaan. Semoga tanpa akhiran kecuali sebentuk kematian.

Dia membuatku lengkap, seperti hujan yang melengkapi hari pagi ini. Dia memberiku kenyamanan seperti payung biru yang memberi naungan saat dipakai menerjang hujan. Dan yang pasti dialah seseorang, laki-laki yang membuatku menjadi seorang laki-laki.


Bumi Serpong Damai, 9 Mei 2012 jam 2 kurang 5 pagi.
Sebuah Antalogi ketika mata dipaksa terjaga

Senin, 07 Mei 2012

Hati dan Nalar


Menyusuri lorong kenangan tidak selamanya menyenangkan. Padahal seharusnya hal itu meninggalkan seulas senyum tipis yang tergambar di akhir perjalanan yang memang sengaja dilakukan. Sebuah perjalanan napak tilas ketika kita ingin rehat sejenak dari putaran kehidupan yang memaksa kita untuk terus berjalan ke depan. Menoleh ke belakang akan meniupkan energi baru untuk memapah langkah kembali terayun maju.

Tapi seringkali perjalanan tanpa anggaran itu justru menimbulkan banyak persoalan. Hati tidak sepaham dengan nalar karena hati ingin tertambat di masa silam padahal nalar memerintah untuk terus mengayuh pedal dan bergerak ke depan. Hati merasa memiliki banyak peran sehingga seringkali dia meminta porsi lebih dari yang seharusnya ketika perjalanan menyusuri lorong kenangan dilakukan. Hati membelot dari perjanjian awal yang dia buat dengan nalar.

Mereka bersitegang. Saling berargumen tidak mau ada yang mengalah. Masing-masih berpijak pada pegangannya yang berlainan, saling tarik menarik seperti permainan tarik tambang yang dilakukan pada peringatan hari kemerdekaan. Keduanya bertahan, tidak peduli pada peluh yang meleleh di dahi atau di badan.

Nalar yang biasanya limbung duluan. Pertahanannya goyah oleh hati yang terus berjuang ingin tertambat sejenak pada penggalan masa silam. Nalar tidak mau disebut kalah atau mengalah, nalar lebih senang mengambil kata berkompromi. Mempersilahkan hati untuk berjalan di lajur keinginannya mengenang masa silam yang sering temaram. Nalar ongkang-ongkang kaki menunggu di sebuah titik pemberhentian yang sudah disepakati dengan hati. Menunggu dengan pasti karena nalar sangat yakin kalau hati akan kembali, dengan kesakitan yang biasanya belum sembuh terobati.

Hati sebetulnya tahu bahwa berjalan di lorong kenangan tidak selamanya menyenangkan. Banyak air mata yang harus dipunguti kembali. Banyak kesedihan yang harus digugah lagi tanpa alasan. Tapi memang seperti itu kenyataan yang terpampang. Hati lebih senang menyimpan kesakitan dalam labirin-labirin kenangan ketimbang sekedar senyuman atau kebahagiaan. Hati lebih suka kembali dikerubungi rasa sakit daripada digelantungi melodi yang sebetulnya bisa membuatnya bernyanyi. Hati berkomplot dengan sedih dan melupakan tawa yang pernah tercipta.

Begitulah hati. Meskipun dia berteman akrab dengan nalar, tapi ketika dihadapkan pada lorong bernama kenangan maka hati lebih senang berjalan sendirian. Meniti waktu ke belakang tanpa ingin direpotkan oleh nalar yang berteriak-teriak mengingatkan. Hati memilih jalannya sendiri, menyusuri pematang-pematang luka yang masih menganga dan belum sempat pulih seperti sediakala. Hati tidak lantas jera kalau di ujung perjalanan yang dilakukan dia akan kembali membawa kesakitan berulang yang sebetulnya bisa saja dilupakan. Dan hati terus akan mengulang, entah sampai kapan.

Beruntung hati bersahabat dengan nalar karena nalar tidak pernah benar-benar meninggalkan hati sendirian. Dia hanya memberi hati sedikit celah untuk berjalan sesuai dengan kemauannya. Dia menunggu dengan sabar dan memeluk hati yang kembali setelah berlari dengan mata yang membengkak karena dihujani air mata. Dia tidak pernah bosan. Dia tidak lantas menyalahkan. Dia hanya akan berperan sebagai sahabat yang menenangkan. Menasehati dengan rapalan-rapalan yang sama mengenai kebodohan hati yang dilakukannya berulang kali.

Di ujung perjalanan menyusuri lorong kenangan yang tidak selamanya menyenangkan, persahabatan antara nalar dan hati layak ditiru. Tidak saling menghakimi dan memaksakan kehendak karena bagaimanapun mereka adalah dua jiwa yang tidak akan pernah sama. 


Selasa, 01 Mei 2012

Saya Kembali (Lagi)

Hai, saya datang lagi!

Datang lagi? Bukankah kemarin katanya semua cerita sudah menemui ujung kebuntuan sehingga diterminasi tanpa penjelasan? Bukankah kemarin dipaparkan bahwa ketika sudah tidak ada pilihan lain maka perpisahan menjadi jalan satu-satunya yang harus diambil dengan alasan kebaikan banyak orang?

Bukankah kemarin taman aksara genap berpamitan?

Saya yakin akan banyak pertanyaan bernada serupa. Entah memang mempertanyakan atau malah ujung-ujungnya membuat sebuah penghakiman. Tapi biar saya jelaskan. Boleh didengarkan atau diabaikan. Terserah. Hanya saja saya merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa yang kemarin terjadi sampai saya memutuskan untuk menamatkan taman aksara sementara. Sementara?? Iya tentu saja sementara karena buat saya berhenti menulis sama saja dengan meregang nyawa secara paksa. Mematikan sumber dari apa yang membuat saya hidup dalam dunia penuh warna.

Apa yang saya lakukan kemarin adalah hasil saya berguru pada sebatang ilalang. Gulma paling kuat yang pernah saya temui. Tanaman pengganggu yang justru tidak pernah terganggu oleh keadaan iklim di tempat dia menyemai anakan. Ketika cuaca mendukung dia berkembang tidak tahu aturan, tapi ketika cuaca tidak menguntungkan, dia pura-pura mati. Pura-pura karena sebenarnya dia hanya meranggaskan bagian tubuhnya yang kelihatan, mengurangi terdedahnya organ tubuh pada ancaman. Tapi coba bongkar tanah disekitaran dia pernah mengumbar mimpi, disana akan ditemukan primordial-primordial baru dimana ilalang menyimpan tenaga. Kekuatan yang akan dia keluarkan ketika cuaca kembali bersahabat. Menuntaskan janji.

Itu yang saya lakukan kemarin. Meranggaskan sementara apa yang terlihat karena kondisi tidak sedang memungkinkan untuk saya menggagas sebuah cerita atau drama. Lingkungan memaksa saya untuk menarik diri dari peredaran kata, tapi bukan berarti saya berhenti total menulis. Saya menulis, bahkan lebih banyak dari saya menulis hari-hari biasanya. Hanya saja saya menulis pada ranah yang berbeda. Ilmiah dan bukannya drama.

Sebulan belakangan ini saya sedang disibukan dengan skema penilaian angka kredit di tempat saya bekerja. Dan untuk dinilai saya harus membuat tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk makalah yang kemudian saya harus juga submitt ke berbagai jurnal ilmiah terakreditasi. Rutinitas ini mencuri paksa hampir seluruh malam-malam saya. Dan agar tidak merasa beban karena banyak yang bertanya mana update-an blog maka saya memutuskan untuk menyudahinya sementara. Membuatnya tamat sejenak.

Terdengar drama? Oh tentu saja. Hidup saya memang drama banyak babak. Jadi meskipun beban pekerjaan saya sedang banyak-banyaknya, saya tetap memuja drama. Tapi taman aksara memang panggung drama, jadi saya merasa tidak salah ketika memainkan drama di dalamnya. Itu menurut pendapat saya. Bukankah taman juga memang sebuah tempat yang dicipta untuk bermain? Jadi sah-sah saja kalau misalnya ada yang mau bermain disini. Mengenyahkan kebosanan.

Karena di postingan terakhir saya resmi menamatkan, maka di postingan ini juga saya memiliki kewajiban untuk membukanya kembali. Kalau ada yang marah dan merasa dipermainkan, saya mohon untuk dimaafkan. Kalau ada yang antipati kemudian beranjak pergi, saya ucapkan banyak terima kasih karena pernah mengapresiasi. Dalam hidup pro dan kontra tidak bisa dihindari. Saya hanya menjalani khitah hidup saya seperti apa yang saya mau.

Saya tidak bermaksud menipu, tapi kalau ada yang merasa tertipu atau dipermainkan anggap saja yang kemarin itu hanya sebuah april mob yang panjang.