Selasa, 30 Maret 2010

Manusia Tuhan

“Kekuasaan Tuhan yang menentukan orang ke sorga atau neraka. Kekuasaan Negara harus melindungi si lemah yang dianiaya”

Saya sangat setuju dengan tweet yang ditulis oleh Bapak Goenawan Mohamad di atas. Tweet yang diposting oleh beliau ketika melihat bagaimana beringasnya beberapa ormas yang mengatasnamakan agama membubarkan Kongres Regional International Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Intersex Association [ILGA] di Surabaya. Kongres yang sebetulnya juga belum dimulai pelaksanaanya.

Mereka yang menyebut dirinya pemanggul panji-panji Tuhan mengusir paksa para peserta kongres yang masih tinggal di salah satu hotel. Mereka berteriak anarkis, mencaci dengan membabi buta, beringas bak kerasukan diatas keyakinan yang mereka sebut dengan jihad. Gerakan yang mereka artikan dengan menegakkan kebenaran.

Dalam ajaran agama manapun, Lesbian, gay, Biseksual, Transgender dan Intersex tidak ada yang membenarkan. Semuanya dilarang. Tapi apakah ketika seseorang kemudian memilih jalan tersebut sebagai jalan hidupnya haruskah digugat dengan paksa? Haruskah mereka kemudian diadili secara semena-mena? Pengadilan berbasis agama oleh orang-orang yang kadar keagamaannyapun tidak diketahui dengan jelas.

Tidak adil menurut saya. Bagaimanapun kita tidak berhak untuk menentukan jalan hidup seseorang, apalagi pilihan jalan hidup itu dipilih dengan keyakinan yang sangat besar. Saya yakin benar bahwa kelompok yang “minoritas” itu sudah mengerti betul mengenai konsekuensi dari pilihan jalan hidupnya, baik itu secara duniawi maupun agama. Tapi apakah kemudian kita berhak untuk menghakimi sewenang-wenang? TIDAK.

Saya justru melihat bahwa orang-orang dari ormas agama tersebut telah menjelma menjadi “manusia Tuhan”. Manusia yang merasa dirinya memiliki kapasitas sebesar Tuhan. Kapasitas untuk menentukan apakah seseorang bisa masuk surga atau neraka, kapasitas yang melampaui kekuasaan yang telah dianugerahkan Tuhan hanya sebagai manusia. Mahluk yang bertugas hanya menghamba kepada Tuhan, bukan menjelma bagai Tuhan. Mereka salah kaprah, mereka kebablasan dalam memahami tujuan penciptaan mereka.

Saya tidak membela kaum manapun karena seperti saya bilang, semua itu jalan hidup. Dan jalan hidup murni suatu pilihan. Saya hanya geram, saya hanya kesal. Bagaimana pemahaman terhadap ajaran agama disalahartikan dengan berperilaku justru bagai setan. Saya bisa dibilang kecewa, karena agama yang seharusnya menjadi pemersatu dan penentram justru dijadikan senjata oleh manusia untuk bertindak brutal dan menciptakan teror bagi manusia yang lain. Tuhan tidak menciptakan ajaran untuk hal-hal semacam itu, saya yakin.

Bagaimana manusia yang bertindak bagai Tuhan bisa dibenarkan? Bagaimana manusia yang bisa dengan lantang menentukan manusia lain berhak masuk surga atau neraka bisa dianggap benar? Apakah mereka yang bisa dikatagorikan sebagai penganut agama yang asli? Apakah mereka yang dengan beringas meneriakkan hukum-hukum agama untuk mengadili manusia secara agama bisa digolongkan sebagai prajurit Tuhan?

Kenapa kita sebagai manusia justru sibuk menghakimi dan menilai orang? Apakah tidak lebih baik bagi kita untuk bercermin, menelaah kekurangan kita sebagai hamba Tuhan. Tidak perlulah bertindak sebagai manusia Tuhan. Tidak perlulah membawa pengadilan Tuhan ke dunia, karena sebagaimana saya yakini bahwa pengadilan Tuhan itu pasti ada, dan hanya Tuhan yang berhak melakukannya, bukan manusia. Tidak usah yakin dulu kalau mereka berteriak lantang tentang kebenaran yang mereka yakini kemudian akan masuk surga. Cukuplah yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan selalu mengawasi.

Buat mereka yang memilih jalan hidup yang kemudian banyak dikatagorikan “salah” oleh banyak orang, saya tahu bahwa banyak hal dan pemikiran yang telah dilalui sampai jalan hidup itu yang kemudian dipilih. Saya juga tahu bahwa konsekuensi dari jalan itu sudah diketahui dengan jelas, jadi jalani saja dengan benar. Lebih baik dianggap “salah” tetapi tidak pernah menyakiti sesama, alangkah lebih baik dianggap “anomali” tetapi menjalani hidup ini tanpa kebencian dan iri dengki. Yakin saja bahwa manusia-manusia yang menganggap diri Tuhan itu juga belum tentu masuk surga.

Jumat, 26 Maret 2010

Hendry Ginanjar

Aku memafkanmu teman! Atau mungkin agar kamu lebih tenang, aku mengampunimu.

Kejadiannya sudah lama sekali, ketika kita masih bisa dikategorikan anak-anak. Mungkin belum bisa membedakan mana bercanda kelewat batas atau mana bercanda yang masih bisa ditolerir. Saat itu kita masih berpakaian putih-biru.

Kamu ingat bagaimana kamu menggangguku setiap hari? Bagaimana kamu mengikutiku bagai hantu yang senantiasa menggoda dengan segala polahmu yang aku bilang sangat berlebihan? Mungkin kamu lupa, tapi aku tidak. Aku masih dengan jelas mengingat semuanya, setiap detail teror yang kamu lancarkan setiap harinya. Kamu adalah alasan terbesarku untuk malas pergi ke sekolah, waktu itu.

Berusaha untuk membuatku terjatuh dengan kakimu, menarik bajuku sampai keluar dari celana, mengacak-acak rambutku hingga masai, merebut jajananku dan kemudian melahapnya sampai habis, mengotori celanaku dengan serbuk kapur, dan masih banyak tingkah jahilmu yang aku tidak pernah tahu atas dasar apa kamu melakukannya. Mungkin untuk kesenangan semata, karena kamu selalu terbahak-bahak setelah ‘aksi’ mu berhasil.

Aku lebih sering diam daripada melawan, karena apabila aku melawan maka kamu akan seperti biasa mengerahkan teman-teman lain untuk membantu aksimu menjahili aku lebih parah. Aku juga heran kenapa teman-teman yang lain selalu tunduk padamu. Mereka seakan tidak peduli dengan aku yang meronta sedemikian rupa. Mereka ikut tertawa melihat aku yang terperdaya. Seringkali aku juga turut membenci mereka.

Aku biasanya menangis diam-diam, mengutuki diri yang merasa tidak berdaya.

Kamu bilang membenciku karena aku terlalu pintar, aku terlalu rapih. Kamu juga complain karena aku jarang pulang bareng dengan kamu dan teman-teman yang lain karena lebih sibuk mengambil les ini dan itu. Kamu tidak suka dengan keaktifan aku di kelas, dengan kepiawaianku menarik rasa sayang guru dengan menjadi anak baik dan penurut. Kamu bilang kamu tidak suka semua itu, kamu bilang kamu muak.

Dulu aku bertanya-tanya, betulkan semua alasan itu yang menyebabkan kamu membenciku? Betulkah semua itu yang menjadikanmu seseorang yang membuatku selalu tidak tenang? Menciptakan iklim horor setiap harinya di sekolah. Betulkah semua itu Hendry Ginanjar?? Lihat, aku masih mengingat namamu sampai sekarang.

Kamu mungkin lupa pernah membuatku terjerembab sampai mencium lapangan basket sepulang sekolah, tapi aku tidak. Aku ingat hingga kini, mungkin selamanya. Aku bangkit dan kemudian berlari pulang. Sepanjang perjalanan aku menangis sambil membuat strategi pembalasan untuk esok hari. Yang terpikir adalah bagaimana cara membunuhmu. Mengenyahkanmu selamanya dari dunia. Kamu adalah satu-satunya orang yang membuatku memutar otak bagaimana caranya membunuh. Kamu harus mati besok, begitu aku membatin.

Alhamdulillah, semuanya tidak kejadian. Akal sehatku masih menuntunku untuk berpikir logis. Menghadapimu seperti hari-hari biasa kemudian menjadi pilihanku sambil berharap suatu saat kamu akan berhenti karena bosan.

Tak terasa, kita sudah berjalan jauh dari waktu itu dan aku yakin kamu pasti sudah lupa semuanya. Aku sudah memaafkanmu dari dulu walaupun susah sekali menghapus kejadian-kejadian buruk yang kamu ciptakan dalam memori jangka panjangku. Aku sudah memaafkanmu ketika hari perpisahan. Hari terakhir dimana aku melihat kamu, setelah itu aku tidak pernah sekalipun bertemu kamu lagi sampai hari ini.

Tapi semalam, aku mendapat kabar. Hendry Ginanjar, orang yang pernah membuatku ingin menjadi seorang pembunuh, orang yang pernah menjelma menjadi monster dalam kehidupanku telah meninggal dunia karena sakit. Perpisahan SMP itu ternyata telah menjadi titik akhir dari pertemuan kita.

Teman, aku mengampunimu. Memaafkanmu dengan ikhlas, tanpa dendam. Aku hanya sukar melupakan. Semoga Kamu bersemayam dengan tenang dalam keabadian. Apabila nanti dalam kubur kamu ditanya pernah menyakiti seseorang dan kamu teringat aku, jangan khawatir, Malaikat pasti tahu kalau aku sudah mengampunimu.

Selamat jalan Hendry!

Selasa, 23 Maret 2010

Mulut Comberan

Dari dulu saya SANGAT sadar kalau mulut saya tidak lebih dari sebuah comberan. Banyak sekali kalimat-kalimat makian atau hinaan yang kerap keluar dari sana. Sebagian besar teman saya malah menyebutnya mulut silet, karena yang keluar dari sana selalu menyakitkan. Bikin sakit hati. Saya sadar mengenai hal itu, benar-benar sadar.

Lahir dengan kelebihan yang ada di mulut, membuat saya sering berpikir apakah itu harus saya maknai sebagai kelebihan atau justru kelemahan. Dari dulu, mulut bisa menafkahi saya. Dengan kemampuan mulut saya itu, lembaran-lembaran rupiah bisa tercetak. Jangan berfikir yang macam-macam!!! Saya tidak pernah menjual ciuman, saya tidak pernah menggadaikan mulut atau bibir saya pada setan. Saya bersyukur tidak pernah sedikitpun tergoda, meski pada beberapa kasus saya justru menggratiskannya.

Saya menjual kemampuan mulut saya dengan cara menjadi seorang MC. Mami saya yang menjerumuskan. Kata dia dibanding saya banyak ngoceh tapi nggak dibayar dan cuma bikin berisik, lebih baik belajar public speaking. Dan terbukti, setelah itu saya mencintai dunia ‘ngomong’ lebih dari apapun. Saya bisa mendapatkan uang sekaligus sedikit ketenaran (semu). Salahkan Mami saya kalau saya dari kecil ingin jadi artis timbang presiden!

Kenapa saya lebih senang menyebut mulut saya comberan dibanding mulut sampah, karena kalau sampah kesannya selalu kotor. Nggak pernah ada baik-baiknya, meski ada sampah organik yang katanya ramah lingkungan. Tetap saja sampah dan berkonotasi kotor. Sedangkan kalau comberan, ada saatnya bersih kalau sedang bersih walaupun sesaat kemudian pasti kotor disertai bau. Saya bisa berwujud ibu peri dan ibu tiri dalam waktu yang berselingan, bahkan bersamaan.

Sebetulnya saya tidak sesumbar dalam mengeluarkan kata-kata hinaan atau apapun itu yang kemudian diartikan teman-teman saya menyakitkan. Boleh dicek kepada siapa saja biasannya saya mengelurakan kepedasan kata, kepada teman-teman dekat yang sudah saya katagorikan asik. Tidak mudah tersinggung, karena mereka juga sebetulnya tahu kalau saya dalam kapasitas bercanda. Kadang memang kebablasan, tapi tidak pernah keluar dalam koridor canda, lucu-lucuan.

Salahnya, saya seringkali tidak mampu melihat mood dari lawan bicara. Tetap hajar dengan ngomong asal ceplos nggak jelas juntrungannya. Saya harus lebih banyak belajar, bukan hanya sekedar bagaimana membaca mood lawan bicara tetapi terlebih bagaimana mengerem mulut biar tidak terlalu banyak omong. Belajar mengomentari hanya dalam hati, belajar memaki tanpa ekspresi.

Kalau saya diberi kesempatan untuk lahir kembali, saya akan memilih menjadi orang yang bisa lebih diam. Mungkin akan lebih tidak banyak konflik, mungkin akan menghadapi lebih sedikit konfrontasi. Hidup mungkin akan jauh lebih aman dan tidak menjadi sosok yang seringkali menyebalkan.

So, buat siapapun di luaran sana yang pernah tersinggung dengan sesuatu yang keluar dari mulut saya, saya minta maaf. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menyakiti perasaan kalian. Saya hanya merasa bahwa dengan becandaan model begitu, kita bisa jauh lebih dekat. Mungkin itu salah satu refleksi rasa sayang saya terhadap kalian. Boleh diterjemahkan aneh, karena saya yakin ketika pertama kali kalian bertemu dengan saya, yang ada dalam benak kalian pasti juga ‘aneh’. Sekali lagi saya minta dimaafkan.

Bila nanti dalam perjalanan waktu ke depan saya masih mengulangi dan mengulanginya lagi. Mungkin lebih baik saya tidak usah ditemani.

Senin, 22 Maret 2010

Reunian

Kami bertemu pertama kali lebih dari 10 tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1996. Tidak terasa waktu terus berputar dan kami semua telah bertransformasi dengan jalannya sendiri-sendiri, hingga saat ini. Mungkin kami hanya menjalani apa yang sudah digariskan, hidup dalam hidup yang memang sudah ditasbihkan.

Sekelompok orang-orang ‘gila’ berkumpul menikmati masa SMA. Bercanda seakan waktu berputar di kisaran yang itu-itu saja. Kesenangan dan permainan. Tidak pernah berpikir jauh tentang masa depan, karena kami merasa dulu hidup hanya pada masa itu, bukan masa depan. Hidup yang indah.

Sudah menjadi takdir, ketika ada pertemuan pasti harus ada perpisahan. Perpisahan bukan dalam artian tidak akan bertemu lagi, tetapi kebersamaan yang kemudian menciut artinya. Kebersamaan yang terlucuti karena waktu memang harus berlalu. Kebersamaan yang terhadang oleh jalan yang banyak terpampang. Sejumput pilihan.

Kemudian kita memilih jalan kita masing-masing. Berproses menuju kedewasaan. Belajar menjadi manusia.

Kurang lebih 14 tahun yang lalu. Selama hampir 3 tahun selalu bertemu, kemudian berpisah setelah itu. Menjadi jarang bertemu, menjadi kian asing satu sama lain. Komunikasi yang sedemikian lancar lamat berkurang bahkan menghilang. Sekelompok orang ‘gila’ menjadi individu yang mungkin membentuk kelompok-kelompok ‘gila’ lain di luar irisan yang telah ada.

Kemarin, setelah hampir 14 tahun itu kami bertemu lagi. Dipersatukan dalam sebuah reuni dengan personil yang lengkap. Semua datang. Bertemu di salah satu tempat makan yang pertamanya saya pikir “masih musim yah makan disana?” Tempat hang out favorit kami. Dulu, ketika Mall mungkin hanya ada sekitar hitungan jari. Semua hadir membawa cerita. Semua hadir dengan porsi ‘gila’ yang berbeda.

Dari 10 orang itu, 9 orang datang bersama keluarganya. Entah itu dengan istrinya atau suaminya saja, atau lengkap dengan anak-anaknya. 1 orang datang sendiri. Saya. Siyal…Saya tahu saya akan menjadi bahan olok-olokan karena saya tidak datang dengan pasangan saya. Kalau saya mau, bisa saja saya menyewa atau menyogok teman lain untuk diperkenalkan sebagai ‘pasangan’ semu saya. Tapi untuk apa? Hanya menipu diri.

Ini yang saya hindari dalam kumpul-kumpul sebenarnya. Dipertanyakan mengenai pasangan dan ketebelece-nya. Kemarin saya membela diri dengan berkata bahwa mereka tidak sekolah sebanyak saya, bahwa mereka tidak banyak tenggelam dalam jurnal dan textbook sebanyak saya. Jadi fokus mereka memang keluarga, sementara buat saya sekolah adalah fokus utamanya.

Dulu juga tiap ditanya, jawabannya nanti aja mau sekolah dulu. Sekarang kalau menjawab mau sekolah dulu kok kayaknya aneh yah. Masa mau nunggu kelar s3 dulu. Kelamaan dan mungkin ketuaan meski saya merasa bahwa saya masih muda. Masih banyak hal yang harus diwujudkan, banyak asa yang masih perlu dikejar. Menjadi doktor salah satunya. Mungkin terdengar egois, tapi yah itu dia tadi. Hidup kan sejumput pilihan.

So buat temen-temen ‘gila’ yang kemarin reunian. Jangan khawatirkan saya, tenang saja. Jodoh saya sedang dalam perjalanan kok. Perjalanan dikirim Tuhan!!!

Kamis, 18 Maret 2010

Cinta (Seringkali) Buta

Sekarang gue tahu kenapa suka ada pembunuhan diantara pasangan sesama jenis karena saling cemburu itu. Kesimpulan gue sih karena rasa kepemilikannya gede, ketimbang melihat orang lain yang dia sayangin itu bahagia, lebih baik dibunuh aja. Atau paling nggak si “mantan” pasangannya itu dibuat menderita. Serem yah?!!

Ini berdasarkan pengalaman temen gue. Pacaran udah hampir 5 tahun lebih, sudah beberapa kali melewati “badai” dan tetap bertahan. Padahal sang pacar juga akhirnya menikah dengan seorang perempuan tentu saja, tapi mereka tetap berjuang untuk tetap bertahan. Menganggap bahwa ketika salah satu sudah berpasangan, itu bukan suatu masalah. Semua tetap bisa dijalani seperti biasa.

Apakah teman gue bodoh? Tidak pastinya. Ketika berurusan dengan hati dan perasaan, seseorang bisa melakukan apa saja. Bahkan sesuatu yang bertolak belakang dengan logika.

Pernah suatu kali gue bertanya sama temen gue itu apa yang dia peroleh dari hubungan tersebut, dia menjawab bahwa pasangannya itu memberikan kasih sayang. Sesuatu yang bisa memenuhi kubutuhannya akan rasa dimiliki, dikasihi. Sementara itu temen gue juga menjelaskan bahwa sebagai balasan sayang yang pasangannya berikan, dia memberikan kesetiaan. Selama 5 tahun berhubungan, temen gue itu setia setengah mati. Nggak ada cerita selingkuh baik fisik maupun hati. Hebat!

Tapi temen gue itu juga bilang, Pacarnya ngasih dia sayang. Dia ngasih pacarnya setia, dan dia ngasih istri pacarnya itu pengkhianatan. Teman gue memang sadar benar dengan apa yang dia lakukan dan jalani, termasuk konsekuensinya.

Entah karena angin apa, kemarin temen gue itu putus dengan pacarnya. Dia tersadar bahwa ternyata selama ini yang dia pupuk adalah kekosongan. Sesuatu yang tidak bisa diperjuangkan sampai ujung. Gue dalam hati cuma bisa bilang, where have you been darling?? Tidak ada keingin untuk menghakimi, karena seperti gue bilang, tidak ada sesuatu yang absolut salah ketika itu berhubungan dengan hati. Logika tidak bisa digandeng untuk selaras dan sejalan.

Temen gue yang mutusin. Pacarnya menolak dengan banyak alasan meski akhirnya dia menerima juga.

Sehari berlalu…
Seminggu lewat…
Sebulan…

Sang mantan pacar kemudian menghubungi lagi temen gue, minta balik. Temen gue nggak mau. Sang mantan maksa. Temen gue bertahan. Kemudian keluarlah ultimatum bahwa kalau temen gue nggak mau balik lagi sama dia, maka dia akan menghubungi temen-temen kantornya dan membuka semua siapa temen gue itu. Membuka rahasia kalau sebenernya temen gue itu gay. Sang mantan memiliki nomer temen-temen kantor temen gue karena dulu handphone temen gue itu dikasih sama dia, dan temen gue lupa menghapus sebagian kontaknya.

Temen gue bingung. Temen gue bimbang. Nangis, kemudian memutar otak.

Sang mantan tidak mau diputusin karena dia merasa bahwa dia telah disia-sia. Mereka berjuang dari nol berdua, dan ketika temen gue sudah sesukses sekarang dia malah diputusin. Tidak diajak mengarungi sukses yang terpampang di depan mata.

Temen gue akhirnya pura-pura bilang kalau dia sebenernya sudah jadian, sudah punya pacar. Dengan seorang perempuan yang juga dikenal sang mantan. Ajaib, sang mantan percaya dan dengan legowo menerima keputusan itu. Dia tidak ikhlas kalau misalnya temen gue itu berpacaran dengan laki-laki lain, tapi karena ini dengan perempuan. Dia mau nerima, dan ikhlas.

Temen gue bisa bernafas lega.

Sehari…
Seminggu kelar…
Sebulan…

“Lo boleh pacaran sama perempuan pujaan lo itu. Tapi gue tetep gak bisa tinggal diam. Lo udah memperlakukan gue kaya sampah. Sekarang gue minta lo tiap bulan kirim gue duit sebesar (sekian) buat nyumpel mulut gue biar nggak ngomong sama temen-temen kantor lo. Dan perlu lo tahu, itu duit bukan buat keluarga gue. itu duit buat biaya berondong gue yang baru jalan sama gue. Gue nggak mau tahu, pokoknya setiap tanggal 25 setiap bulannya lo musti kirim ke rekening gue. Suruh siapa lo putusin gue, padahal kan lo bisa kayak gue. pacaran sama cewek dan sama lo sekaligus”

Ancaman dari sang mantan.

Temen gue kembali dilema. Temen gue kembali nagis. Menyadari dan merunut kebodohan-kebodohan yang telah dilakukannya selama 5 tahun. Sayang nasi sudah menjadi bubur, meski buburnya bisa dibumbuin biar tetep enak.

Gue sebagai temen hanya bisa memberi masukan, tidak bisa berbuat lebih. Tapi sempet terpikir: halal kayaknya orang kaya sang mantan ini buat dibunuh. Astagpirulloh!!!

See, betapa complicated hubungan yang dibina oleh pasangan sejenis? Tidak hanya pada saat pacaran tapi juga masa-masa setelah itu. Apalagi kalau pasangannya itu tidak well educated. Gue kemudian hanya mengelus dada dan banyak-banyak berdoa.

Mencintai orang yang salah (dengan buta) kadang seperti memelihara bom waktu. bisa meledak kapan saja tanpa kita tahu pasti!

Senin, 15 Maret 2010

PERI

Sabtu pagi, disaat sebagian besar orang masih terlelap atau malas-malasan di tempat tidur karena tidak disibukan oleh rutinitas pekerjaan, saya terlibat pembicaraan yang cukup seru dengan salah seorang teman di pulau lain. Memang tidak ngobrol secara langsung, tapi melalui fasilitas BBM. Itupun sambil malas-malasan di atas kasur dan masih selimutan.

Curhatan dia membuat mata saya yang masih berat sontak terbelalak setengah melotot.

Seorang wanita lajang, masih muda, dokter spesialis terkenal, hidup sudah sangat mapan, ternyata mempunya sisi lain kehidupan yang WOW. Sisi yang membuat saya mengelus dada karena tidak menyangka, tidak pernah terpikir sedikitpun kearah sana karena saya sudah mengenalnya cukup lama ketika kami masih sama-sama di Bandung. Speechless.

Bukan dia yang ingin saya ceritakan, tidak ada hak saya untuk kemudian mengumbar atau menghakimi. Hidup dia, terserah dia. Sudah dewasa dan pasti bisa mempertanggungjawabkan semuanya. Yang menggelitik adalah di akhir pembicaraan dia kemudian bertanya kenapa saya tidak pernah banyak cerita, kenapa selama dia mengenal saya, saya tidak seantusias dia menceritakan setiap detail kehidupannya.

Dia sebetulnya mengenal saya, termasuk pada bagian paling gelapnya. Hanya memang saya tidak pernah merinci detail kejadian-kejadia apa yang menghadang, tidak kemudian meminta sedikit advise untuk menyelesaikannya, bahkan hanya untuk sekedar berbagi. Itu yang dia pertanyakan.

Saya kemudian teringat bahwa saya pernah berpikir kalau saya selalu memiliki solusi untuk orang lain tapi tidak pernah memiliki solusi untuk diri saya sendiri. Solusi yang saya berikan tidak pernah saya bisa terapkan pada diri saya sendiri, meskipun masalahnya relatif sama. Mungkin sudah hukum alam, itulah sebabnya dokter juga butuh dokter lain untuk menyembuhkan penyakitnya.

Terlahir dengan anugerah sebagai orang yang selalu menjadi tempat curhat orang lain, membuat saya menjadi semakin kaya hati. Kaya pengalaman. Saya bisa belajar dari masalah teman atau kerabat, dan itu mendewasakan. Menjadi kuat dengan menganalisis masalah dan mencarikan solusinya, menjadi bijaksana dengan memecahkan masalah melalui banyak pertimbangan baik dan buruk. Menjadi lebih baik dengan menghindari masalah yang sama.

Sayang, seperti saya bilang saya seringkali sulit menerapkan solusi tersebut ketika masalah itu benar-benar mengenai saya. Dan saya kesulitan menemukan orang untuk tempat sekedar berbagi. Bukan tidak mempercayai sahabat-sahabat saya, saya hanya kesulitan. Kesulitan untuk terbuka.

Teman saya yang dokter itu kemudian bertanya apa yang saya lakukan ketika saya punya masalah. Dan jawaban saya adalah menulis. Dengan menulis saya bisa menumpahkan segalanya, dengan menulis saya bisa melalui kesulitan-kesulitan ketika ingin berujar. Dengan menulis saya bisa bebas menumpahkan segalanya tanpa ragu. Saya berbagi dengan menulis.

Teman saya yang lain sambil bercanda bilang, ketika ada yang selalu memiliki solusi untuk orang lain tapi tidak pernah punya solusi untuk diri sendiri adalah ciri khas dari PERI. Saya menimpali, mana ada peri segede BUTA begini. :)

Kamis, 11 Maret 2010

saya tetap salah

Masih inget sama seseorang yang saya panggil pualam? Seseorang yang sedemikian dinginnya sampai tidak pernah mau mengangkat telpon dari saya dengan berbagai alasan. Seseorang yang kemudian menyadarkan saya bahwa saya terlalu keras berusaha untuk sesuatu yang saya juga tidak tahu untuk apa. Seseorang yang akhirnya membuat saya memaki diri saya sendiri. “Bodoh sekali kamu Apis!!!”

Tapi itu dulu. Sekarang saya bersahabat dengannya. Saling bercerita tentang segala sesuatu, termasuk perselingkuhan yang saya lakukan kemarin.

“Untung dulu aku tidak jatuh ke dalam pelukanmu yah. Kalau iya, pasti aku juga kamu selingkuhin” begitu reaksinya ketika saya bercerita tentang perselingkuhan itu.

Saya hanya tertawa. Saya kemudian bilang, “ si x (nama pacar saya) saja yang sangat berkualitas bisa saya selingkuhin, apalagi kalau cuma selevel kamu” Dan kami berdua kemudian tertawa, karena konteksnya memang dalam kondisi bercanda. Saya yang bercanda, dia saya tidak tahu. Mungkin saja pernyataannya itu memang serius dan dari hati. Saya tidak peduli.

Sebut saja dia Carpelai (begitu dia ingin dipanggil) teman dekat dari si pualam yang juga teman saya. Sama-sama alumni gajah duduk. Si Carpelai tahu permasalahan saya dengan pualam dulu, dia juga tahu mengenai kehidupan saya yang kemarin-kemarin. Entah apa yang ada dalam kepala dia melihat kelakuan saya, entah itu waktu jaman-jamannya ribut dengan si pualam atau masa setelah itu. Semua ucapan atau nasihat dia hanya saya dengarkan, tanpa bereaksi. Sampai kemarin.

Sehari setelah pualam, Carpelai mempertanyakan hal yang sama : “Apis, apakah kamu akan selingkuh juga kalau misalnya dulu pualam menerima kamu?”

Saya tidak punya opsi lain selain menjawab dengan jabawan yang sama dengan yang saya bilang pada pualam. Awalnya saya merasa aneh mendapati pertanyaan itu dua kali diajukan oleh dua orang yang berbeda dalam dua hari berturut-turut. Mulanya saya biasa saja, tapi mendengar pernyataan yang kedua dari Carpleai, mau tidak mau saya bereaksi. Termasuk dengan pertanyaan yang pertamanya.

“Saya sempat kepikiran kalau kamu pacaran dengan si x itu hanya untuk membuktikan kepada pualam kalau kamu bisa lepas dari dia”

Saya tidak suka dengan kalimatnya itu. Ketika saya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang, tidak ada maksud saya untuk membuktikan kepada siapapun kalau saya bisa. Tidak ada untungnya buat saya. Kalau memang misalnya dulu pualam antipati sama saya, itu hak dia. Masalah dia. Dan saya tidak perlu membuktikan kepada dia kalau saya bisa beranjak dan tidak stuck selamanya pada bayang-bayang dia. Saya bukan tipe seperti itu. Pembuktian seperti itu tidak akan membawa saya kemana-mana.

Soal selingkuh, saya tahu itu salah. Tapi semuanya diluar kuasa saya, terjadi begitu saja hanya karena saya tergoda kemudian terlena. Tidak pernah saya niatkan dalam diri saya ketika memulai suatu hubungan bahwa nantinya saya akan menyelingkuhi pasangan saya. Tidak pernah ada niatan seperti itu. Jadi, jangan langsung menyimpulkan sesuatu atas dasar yang belum jelas. Tidak berarti kalau saya pernah selingkuh maka saya akan menyelingkuhi pasangan saya yang berikut-berikutnya.

Saya manusia biasa yang bisa tergoda. Saya bukan malaikat, jadi pasti suatu saat akan salah melangkah. Tapi saya juga bukan setan yang senantiasa salah dan alpa. Bukan seseorang yang akan dengan mudah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang karena seperti saya sering bilang, saya belajar. Dari kejadian kemarin tentu saja saya belajar, saya bisa memilah nilai baik dan buruk. Karenanya tolong jangan sudutkan saya dengan hal-hal yang absurd.

Sekali lagi saya tekankan, ini bukan pembelaan diri. Bagaimanapun saya tetap salah. Saya tahu.

Senin, 08 Maret 2010

unfaithful

Saya selingkuh.

Saya tahu saya salah. Saya melayani tawaran hati ketika hati saya sebenarnya telah termiliki. Saya bermain api yang saya sadari bisa membakar diri saya sendiri.

Saya tahu saya salah. Tidak perlu kemudian saya menyalahkan orang lain atau pasangan saya sebagai pemicu tindakan itu. Cukup saya menyadari kemudian merefleksi langkah yang selanjutnya harus ditempuh. Belajar dari segala kebodohan yang telah terlajur dilakukan. Menjadi dewasa dengan cara yang sebenarnya tidak dianjurkan.

Pasangan saya tidak salah. Meskipun dia posesif, meskipun dia banyak melarang saya untuk melakukan ini dan itu bahkan dengan alasan yang seringnya tidak masuk akal, dia tetap tidak salah. Harusnya saya bangga dicintai sedemikian rupa. Harusnya saya bersyukur dianugerahi pasangan yang menyayangi saya melebihi kapasitas saya menyayangi dia.

Selingkuhan saya tidak salah. Dia datang dari masa lalu, menggagas cerita lama untuk dirunut kembali, kemudian menawarkan hati warna merah jambu untuk direguk sarinya. Dia tidak salah, dia hanya datang disaat yang tidak tepat. Datang disaat hati saya sudah berlabel milik seseorang. Hati yang sedang dilanda berontak karena aturan yang makin hari dirasa memberatkan. Hati yang bimbang antara ingin bertahan dan ingin menyelesaikan.

Saya salah. Saya tergoda. Saya selingkuh.

Sebagai manusia biasa, meskipun saya tahu saya bersalah, saya ingin membela diri. Bukan mencari pembenaran, karena jelas-jelas salah. Bukan mencari bala bantuan yang akan mengiyakan karena sejuta iya tetap akan membuat saya sebagai yang bersalah. Saya hanya ingin menjelaskan, atau mungkin lebih tepatnya bercerita. Jangan dihakimi, saya sedang tidak butuh itu. Biarkan saya menghakimi diri saya sendiri. Dengan cara saya.

Saya tidak suka dilarang-larang. Tidak boleh gym, tidak boleh online di YM atau Gtalk, tidak boleh mengumbar cerita di blog, bahkan lebih parah saya dibatasi untuk bertemu teman-teman saya. Hidup saya tidak melulu soal dia, saya punya hidup saya sendiri. Saya ingin menjalani apa yang ingin saya jalani, meskipun tetap akan mengorbit pada dia. Jadi kenapa harus melarang-larang. Toh saya akan tetap hadir mengelilingi lintasan orbit dengan dia sebagai porosnya. Kenapa harus takut.

Lama-lama saya bosan. Saya terkekang. Saya mencari pelarian.

Ketika saya sedang berlari membawa hati yang bimbang, saya bertemu godaan. Manis. Godaan selalu manis, meski akhirnya pasti pahit. Saya salah karena saya melayani, saya salah karena saya kemudian tidak bertutur tentang kebenaran kalau saya sudah bersama seseorang. Entahlah, waktu itu saya memilih bungkam. Saya pikir saya akan keluar sebagai pemenang, ternyata saya jadi pecundang. Saya terlena. Hati saya terobati.

Beruntung saya menyadari dengan cepat sebelum semuanya menjadi rumit. Saya membuat pengakuan kepada keduanya. Membuat semacam list dosa. Saya tidak membela diri di hadapan mereka karena saya salah. Saya hanya ingin menyelesaikan semua urusan, mengakui apa yang memang harus saya akui.

Saya melepas keduanya. Hanya untuk bersikap adil menurut versi saya. Saya beranjak dari dua hati yang sama-sama ingin bertahan. Saya sudah terlanjur menyakiti keduanya, jadi saya tidak ingin menyakiti lebih salah satunya dengan memilih satu diantara mereka. Biarkan saya tetap menjadi saya yang bersalah, yang telah terlena dan tergoda. Saya yang berlari membawa kekeliruan kedalam kekeliruan baru.

Terakhir, untuk kesekian kalinya ijinkan saya untuk kembali mengucap maaf!

Rabu, 03 Maret 2010

Godaan

Percaya mengenai pengaruh warna aura?

Sebenanarnya saya tidak terlalu percaya mengenai aura-aura itu. Tapi kalau mengenai mood yang akan mempengaruhi energi, saya mengamini. Jika seseorang sedang marah atau bĂȘte, pasti yang banyak keluar adalah energi negatif, sedangkan kalau orang sedang bahagia energi positif yang akan muncul. Orang jatuh cinta, energi positif kompleks. aura pink yang keluar.

Jatuh cinta sama dengan pink!!!

Ya gimana nggak positif kompleks energinya kalau dimana-mana menjadi mengobral senyum. Lagi depan komputer senyum, lagi bales email kerjaan senyum, lagi chating di BB senyum, lagi nunggu busway senyum, lagi nunggu antrian alat fitness senyum. Pokoknya Nampak menjadi sanagt ramah ketika jatuh cinta. Energi positif berloncatan dari dalam tubuh kita, aura pink terpampang jelas di atas kepala.

Dan itu menjadi masalah…such a big thing!

Karena bawaannya selalu senyum dengan aura pink yang jelas diumbar kemana-mana, kadang menarik orang-orang yang nggak diundang. Meski kita sedang tidak bermaksud mengundang siapapun, kita hanya mengekspresikan perasaan cinta yang berimbas pada aura pink tadi. Jadilah mereka kita sebut godaan.

Sialnya godaan itu pasti banyak banget kalau kita sedang jatuh cinta. Padahal dulu waktu nggak laku berasa kemarau panjang tak berkesudahan. Udah sering senyum dan berlaku ramah di mall, di gym, di tempat klien tetep aja nggak pernah dapet. Tapi kalau sedang jatuh cinta, ibaratnya ujan pasti langsung deres. Banyak banget yang datang. Kalau belum jadian sih masih make sense lah ya buat pilih-pilih tapi kalau udah jadian dan berkomitmen dengan monogamous relationship rasanya godaan itu kudu wajib nggak dilayani.

Masalahnya, terkadang godaan yang datang itu jauh lebih ‘bagus’ dibandingkan pasangan kita sendiri. Bolehlah dibilang katanya rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi kadang itu kejadian. Benar-benar lebih hijau. Makanya kita tanpa sadar meskipun tidak seluruhnya masuk ke halaman tetangga tersebut, setidaknya hanya mengulurkan tangan untuk menyentuh rumputnya. Hanya sekedar membunuh kepenasaran.

Gimana kalau kita terlalu asyik menyentuh rumput itu dan tanpa sadar jatuh cinta. Masih pantaskah rumput itu kemudian disalahkan dengan stempel sebagai godaan? Masih pantaskah kemudian rumput itu dikatagorikan sebagai pengrusak suatu hubungan? Masih pantaskah kita kemudian berlalu dengan perasaan tidak bersalah sama sekali dengan alasan bahwa godaannya terlalu berat?

Saya tahu kalian pasti punya jawaban yang sama dengan saya. Jawabannya pasti TIDAK. Mari kita teriakan tidak bersama-sama! Tapi jangan salah, ‘tidak’ kita teriakan ketika kita mengutamakan logika, bagaimana ketika kita mengajak hati berdiskusi? Jawabannya tidak akan semutlak ketika kita menggunakan logika. Banyak pertimbangan yang kemudian menggoyahkan logika dan nalar.

Bagaimana jika rumput tetangga kemudian tidak hanya bisa direngkuh, dia menawarkan hati untuk dimiliki. Menggagas sebuah hubungan yang dulu belum sempat tercicipi. Mengobral kembali khayal yang dulu sempat terlintas meski belum nyata terealisasi. Apakah itu sebuah godaan?

Senin, 01 Maret 2010

REV

Pernah ketemu orang yang ndablek? Ndablek dalam artian terus aja ngikutin secara tidak langsung padahal udah dicuekin sedemikian rupa. Memang nggak terlalu ganggu sih, secara ngikutinnya kan tidak langsung. Tapi tetep aja bikin terheran-heran. Apa dia memilih buta? Atau mungkin dia sudah merasa puas dengan melaporkan semua yang dia alami meski gak pernah ada respon dari gue? entahlah.

Mungkin gue jahat dengan selalu mengabaikannya.

Sebut saja dia Rev. Sekarang sedang menyelesaikan program KoAs di salah satu PTN di Bandung. Gue kenal dia pertengahan tahun 2003. Saat itu dia masih kelas 1 SMA, dan gue jadi gurunya. Yup, lulus S1 gue pernah jadi guru 6 bulan. Terpanggil untuk berbakti pada bekas sekolah, itu alasan klisenya. Alasan logisnya karena gue sedang menunggu untuk pergi ke Jepang, daripada nganggur 6 bulan mending ngajar aja. Seru-seruan.

Sebagai guru “muda” (waktu itu), pastilah jadi primadona. Bukan kegeeran, tapi kenyataan dan memang hal yang lumrah kalau menurut gue. Umur gue masih 21, beda sama murid-murid gue paling 5-6 tahunan. Pemikiran masih relatif sama, kegemaran jalan dan gaul pastinya nggak jauh beda. Kadang gue keceplosan menggunakan bahasa tidak baku dan kata “gue” waktu ngajar. Maaf, soalnya udah kebiasaan.

Banyak murid yang jadi sangat dekat, bukan hanya di sekolah tapi juga di luar sekolah. Tapi si rev ini beda. Dari awal gue udah ngerasa beda aja sama sikapnya. Rajin smsnya ngalahin pacar gue waktu itu. Dan seringkali sms hal-hal yang nggak penting. Awalnya gue tanggepin tapi lama-lama ganggu dan bosen juga yah. DIA NGGAK PERNAH BERHENTI. Itu yang gue bingung, sampai sekarang.

Mau ujian, lapor. Mobilnya ditabrak, lapor. Kena insomnia berat, lapor. Kalah maen PS, lapor. Liat hantu di kamar jenazah, lapor. Belanja baju kebanyakan, lapor. Nggak pernah dapet pacar, lapor. Untung kalo dia kebelet pipis nggak pernah lapor.

Semuanya nggak pernah gue tanggepin.

Boleh bilang gue jahat. Boleh bilang gue nggak punya hati, atau apapun istilahnya. Tapi harusnya dia punya mata kan? Setidaknya mata hati. Kalau gue selama ini nggak pernah nanggepin semua yang dia laporkan artinya gue sama sekali nggak tertarik, atau lebih parahnya dia harusnya ngerasa kalau gue amat sangat terganggu, makanya nggak pernah bales SMS nya.

Rev, kalaupun kamu orang kaya, atau orang tuamu pengusaha pulsa yang sukses, jangan buang-buang pulsa percuma. Sayang mending dipake buat hal-hal yang lebih berguna semisal sms pasien-pasien kamu buat nanyain keadaannya. Gue bukan nggak mau nanggepin, tapi gue nggak tertarik. Dan sekarang sudah dalam taraf agak terganggu. Maaf yah!!!

“Lumayan lho Pis, dokteeeeeer” Setan tiba-tiba berbisik menggoda.