Sabtu, 31 Desember 2011

Review 2011

Well, mari kita riview apa-apa saja yang sudah saya alami selama tahun 2011 ini. Memang banyak kalau dirunut satu-satu, tapi mari kita lihat dari momen-momen paling dramatis atau paling membahagiakan, atau mungkin paling lebay sekalipun. Ini dari kacamata saya lho yah, jadi jangan berharap yang macam-macam.

Tahun ini saya masih belum boleh sekolah. Ya tahu lah kalau di lembaga riset milik kementrian begini, banyak yang ngantri. Dan yang di posisi paling depan tampak nggak maju-maju sampai rasanya pengen jorokin mereka ke kolam hiu. Wooy, yang ngantri di belakang banyak wooy...Kalau situ nggak bergerak-bergerak gimana yang belakang mau sekolah. Tapi menurut saya sekolah itu rezeki, jadi kalau saya belum diijinkan dan belum lolos beasiswa yang saya lamar diam-diam artinya rezeki saya belum tiba. Dan kata agama juga, Allah akan memberikan sesuatu itu indah pada waktunya. Tahun ini belum indah, jadi ya terima nasib aja. (Baca: paragraf ini intinya membesarkan hati sendiri).

Berhubung sekolah masih belum boleh dan saya tetap harus merasa eksis, saya kasak-kusuk mencari dimana saya bisa mengaktualisasikan diri (tampil, red). Dan Alhamdulillah tahun ini saya dipercaya mengelola 9 proyek penelitian di berbagai daerah yang artinya tahun ini saya banyak perjalanan dinas. Dan berkat proyek-proyek tersebut saya bisa mencicip tempat-tempat yang tidak pernah saya bayangkan bisa menginjakan kaki kesana. Saya berkenalan dengan tanah di pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat, dengan persawahan di desa adat Tana Toraja, dengan panas sengatan matahari di pinggiran pantai wilayah Gunung Kidul, dan terakhir dengan banci-banci transgender di kawasan jalur Gaza di Bali. Maaf, yang terakhir tidak termasuk dalam penelitian. Tapi dikunjungi saking penasarannya saat jadi nara sumber di salah satu kampus di Bali. (Baca: paragraf ini intinya uang saya banyak. Seharusnya. Tapi yah tahu juga birokrasi pemerintahan kita seperti apa. Banyak sunat sana-sini).

Banyak kegiatan wara-wiri ditambah sok totally into diet dan hit the gym like crazy bikin tipes saya berulang. Walhasil saya terpaksa harus mengucapkan salam perpisahan kepada aktivitas diet dan jadwal fitness yang padat. Untuk urusan wara-wiri saya tidak melepaskannya karena ini masalah kepercayaan donatur dan lebih ke masalah uang. Kalau saya tidak wara-wiri, saya nggak punya uang, yang artinya saya akan terganggu jadwalnya dalam menyambangi berbagai midnite sale di mall-mall Jakarta. Jadi sepanjang tahun ini saya selalu berdoa semoga diberi kesehatan yang purna. (Baca: paragraf ini intinya “selamat datang kegemukan” Sixpacks di perut saya tinggal garis-garisnya, garis imajiner tentu saja).

Untuk urusan cinta jangan ditanya, tahun ini saya memecahkan rekor. Tidak ada sekalipun patah hati menyambangi pelataran hidup saya. Bukan hebat, tapi karena sepanjang tahun ini saya tidak pacaran. Terdengar menyedihkan kan? Memang *lari ke pojokan* *sesenggukan* Ada sih beberapa prospekan, tapi ternyata sebelum semuanya jelas sudah keburu saya buang ke keranjang sampah karena satu dan lain hal. Eh bahkan tahun ini saya didatangi seseorang yang pendekatan dari awal sudah mengarah ke soal pernikahan. Tapi seperti biasa, semua hanya angin surga. Sebelum terealisasi, saya dibangunkan paksa dan berjalan lagi sendirian. (Baca: paragraf ini intinya I’m unlucky lover).

Galau adalah satu kata yang overused di tahun ini. Dan saya mencandunya sangat, mengawinkannya dengan drama. Jadi kalau soal drama nan galau saya pasti jawaranya, tapi jangan khawatir, itu semua hanya artifisial. Tipuan. Jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tulis, saya hanya seorang pencerita, penggagas drama tanpa suara di dalam kepala. Dan sebagai orang yang sangat kekinian, saya juga ingin menjual kegalauan yang lagi trend di tahun ini. Sekedar mengikuti alur jaman. Eh tapi tahun lalu, tahun lalunya lagi saya tetap galau kan yah? Berarti.... (Baca: paragraf ini intinya saya penipu ulung. Yang galau).

Hmm, apalagi yah? Kayaknya udah kepanjangan. Eh satu lagi deh, tahun ini saya belum berhasil move on dari dia yang sekarang tinggal di negara tetangga. Bukan move on dari mencintai dia sih, tapi move on dari perasaan bahwa diantara saya dan dia pernah ada sesuatu. Move on dari masa lalunya yang susah, kalau dari rasa cintanya sih udah dari jaman kapan tau. Tapi mau bagaimana lagi, salah satu cara memaknainya hanya dengan menikmati aja perasaan nggak bisa move on ini aja. Lumayan bisa jadi ide tulisan, bukan? (Baca: paragraf ini intinya saya masih hidup di masa lalu)

Sekarang beneran udahan ah, saya kemudian hanya berharap kalau hidup saya ke depan seperti saat-saat saya menjelang sidang skripsi dan tesis dulu, karena menjelang sidang saya menjadi pribadi yang rajin beribadah dan dekat dengan Tuhannya serta jauh dari perbuatan maksiat. Amin. Sekiyan.

Akhirnya, saya Apisindica mengucapkan: “Selamat tinggal 2011 dan selamat datang tahun yang baru 2012” Semoga semua berjalan dengan baik, damai dan tentram ke depannya dalam semua lini kehidupan. Amin. *ciyum yang baca satu-satu* *celepoooot* *digampar terompet*

Kamis, 29 Desember 2011

Mahal Nggak?

Semalam saya pulang agak terlambat dari kantor. Masih ada puluhan DNA yang harus dianalisis sehingga saya harus merelakan jam pulang kantor lebih lama dari biasanya. Ini sudah menjelang akhir tahun tapi pekerjaan saya masih menumpuk dan lembur adalah bentuk konsekuensi yang harus saya hadapi karena terlalu banyak bepergian ke luar kota dan meninggalkan DNA-DNA itu tersimpan rapi di dalam lemari pendingin.

Ya, dan semalam saya sendirian. Setelah menyelesaikan proses retriksi hampir belasan DNA saya memutuskan untuk pulang. Mata dan tenaga rasanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, keduanya berebutan minta diistirahatkan karena terlalu saya porsir hari itu. Saya hanya keluar lab untuk keperluan ke kamar kecil dan makan. Selebihnya saya menjelma menjadi seorang peneliti (baca: sungguhan) yang dikejar target para donatur penelitian saya.

Ketika saya pulang, sudah bisa ditebak kalau kondisi laboratorium sudah sunyi senyap. Tidak ada lagi aktivitas orang atau bunyi alat-alat yang biasanya ribut mengisi lorong-lorong laboratorium yang panjang. Begitupun area parkir, hanya tersisa kendaraan saya yang terlihat menggigil kuyup karena diguyur hujan sepanjang sore. Untung saya memarkirkan kendaraan itu tidak telalu jauh dari pos satpam jadi saya masih bisa melihat aktivitas para satpam yang sebagian malah sibuk menonton tayangan televisi.

Belum genap saya membuka kendaraan saya, dari jarak agak jauh saya melihat segerombolan orang, lebih dari 3 orang jalan sedikit tergesa mendekat ke arah saya. Kondisi yang agak temaram dan mata yang sudah ngantuk berat membuat saya tidak dengan jelas bisa melihat siapa mereka, yang pasti saya tahu mereka berjalan ke arah saya. Buru-buru saya membuka kendaraan saya, tapi sebelum masuk saya bisa dengan jelas melihat gerombolan yang semakin mendekat itu. Mereka adalah para office boy dan cleaning service di kantor ini.

Mau apa mereka? Apa ada barang-barang saya yang tercecer di laboratorium atau ruang kerja saya? Apa mereka punya motif lain melihat ketergesa-gesaan mereka mendekat ke arah saya? Maklum hari ini beberapa orang dari mereka memang saya marahi. Bagaimana tidak marah kalau ketika saya datang, ruangan yang biasanya sudah rapi tersapu dan terpel ternyata masih kotor dan berantakan, kemudian galon air mineral kosong yang dari kemarin sorenya saya minta diisi belum juga diganti. Tekanan pekerjaan menjelang limit akhir membuat sumbu emosi saya terbakar lebih dari biasanya.

Semakin mereka mendekat tergesa, semakin saya gemetar menyalakan kendaraan saya. Semua jendela sudah tertutup rapat, jadi setidaknya saya lebih merasa aman. Saya menunggu, tidak menggerakan kendaraan saya. Di tengah deraan takut saya masih penasaran sebenarnya apa yang mereka mau lakukan. Sesaat setelah mereka berada di sebelah kendaraan saya, salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela. Saya turunkan sedikit jendelanya, dan bertanya “ada apa?”

“ Maaf Pak, saya cuma mau tanya kalau parfum yang Bapak pakai mereknya apa yah Pak? Wanginya enak. Dan maaf lho Pak nanyanya di parkiran, kalau di kantor malu sama temen-temen Bapak yang lain?”

Lemas saya terduduk di kursi. Otot yang semula tegang rasanya seperti dilolosi. Perasaan saya campur aduk antara ingin marah dan geli. Dan mau tidak mau, saya menyebutkan merek parfum yang saya pakai meskipun sesaat kemudian saya panik. Bagaimana kalau nanti satu kantor wangi parfumnya sama semua, dan itu dipakai oleh para office boy dan cleaning service. Bisa rusak reputasi saya (#ditampar).

Ditengah kelegaan saya, salah satu dari mereka bertanya lagi “Mahal nggak Pak?” Sembari memajukan kendaraan saya tersenyum dan menjawab “Lumayan”

Kendaraan saya menjauhi mereka. Saya tertawa seperti orang tolol di tengah jalanan yang mulai lengang tanpa kemacetan seperti biasanya. Dan pertanyaan bodoh terlontar dari benak saya, tadi keteka ada yang bertanya “Mahal nggak Pak?” itu maksudnya parfum saya yang mahal, atau saya yang mahal yah?

#kemudianhening

Selasa, 27 Desember 2011

3 Dasawarsa

Babak baru dalam kehidupan saya baru saja dimulai. Babak yang seharusnya nanti saya isi dengan berbagai kebaikan dan kebenaran yang tidak lagi penuh kompromi. Dulu sebelum sampai pada tahapan ini saya selalu berdoa agar segera terbebaskan dari belenggu kelabu, terlepas dari area abu-abu. Tapi sepertinya saya masih sedemikian betah terayunambingkan ketidakpastian, hidup dengan pembenaran yang sebetulnya adalah sebuah penyangkalan.

Waktu terus begerak tak bisa ditahan, mengantarkan saya dari satu undakan ke undakan di atasnya. Memapah saya pada tujuan yang entah seperti apa karena saya juga belum tahu akhir ceritanya. Dan malam ini ribuan detik mengantarkan saya pada gerbang babak baru yang harus saya jalani. Saya masih terjaga dalam senyap guna melakukan ritual sederhana sebelum saya melangkah pada gerbang baru yang akan terbuka perlahan.

Saya duduk dalam perasaan sederhana. Berusaha merefleksi apa-apa saja yang sudah saya lakukan di waktu terdahulu sebelum saya melangkah melalui gerbang baru. Saya ingin di waktu yang masih tersisa, saya bisa menandai hal-hal yang tidak boleh saya ulangi ketika kaki saya genap menjajak pada babak baru yang tidak bisa saya undur-undur lagi. Saya ingin di akhir saya merefleksi saya bisa lebur dalam perasaan syukur luar biasa karena lagi-lagi saya masih diberi kesempatan yang luar biasa oleh Tuhan. Menjejak usia 30 Tahun.

Tidak ada pesta. Tidak ada acara keriaan semisal menghentak lantai dansa seperti yang sering saya lakukan ketika saya mendapatkan berkah yang sama di tahun-tahun yang telah silam. Saya hanya ingin diam sambil menatap redup lilin yang menyala di atas tart yang untuk tahun ini saya beli sendiri sambil terus bersyukur dan bersyukur. Menghitung semua hadiah yang telah diberikan Tuhan dalam perjalanan seorang Apisindica, termasuk perasaan mengerti bahwa kadang banyak mimpi yang hanya bisa dipelihara sebagai mimpi.

Saya bersukur kepada Tuhan, bahwa sampai umur saya yang ke-30 Tuhan tidak pernah pergi meninggalkan saya bahkan ketika saya sedang alpa. Tuhan selalu ada ketika saya sedang butuh perbincangan misterius yang berujung sebuah ketenangan. Kapan saja dan dimana saja. Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan keluarga, sahabat, teman dan kolega yang turut juga menghiasi dan memberikan arti tersendiri dalam kehidupan saya. Tanpa dukungan dari mereka semua maka saya tidak akan menjadi siapa-siapa.

Ijinkan saya di babak baru ini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut campur tangan dalam mendewasakan saya, baik dengan cara yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Semua saya maknai sebagai cara yang memang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukannya pecundang. Kalianlah yang membuat saya menjadi sekuat ini, karena itu saya bersyukur dan berterima kasih. Mengenal dan memiliki kalian adalah hal yag tidak akan pernah saya sesali sampai mati.

Doa saya yang paling utama hari ini (masih) sama dengan tahun-tahun sebelumnya, semoga saya diberi kesempatan untuk terus bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini. Merangkak dan belajar menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.

Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah engkau tentukan. Amin.

Selamat ulang tahun Apisindica...

Minggu, 25 Desember 2011

Pulang

Saya senang pulang ke rumah.

Rumah tempat saya tumbuh dari belum mengenal dengan jelas apa itu dunia sampai saya dengan jelas mengotori dunia. Rumah tempat saya merasa nyaman dan aman karena saya tidak perlu lagi bersembunyi dari berbagai hal yang membuat saya gentar dan gemetar.

Saya senang pulang ke rumah.

Semua beban dan masalah di luaran saya tanggalkan di depan pintu tanpa saya bawa masuk. Meskipun pada akhirnya semua beban tersebut harus saya kenakan kembali nanti, tapi saya ingin mereka tidak membebani saya ketika saya berada di dalam rumah. Saya ingin lupa sejenak tentang semua yang memberatkan langkah dan pikiran ketika saya selonjoran di sofa depan televisi di rumah ini.

Rumah ini. Bangunan tempat saya melambungkan angan. Tempat saya menggantungkan harapan. Tempat saya menyandarkan kesedihan yang membandel tidak mau saya tanggalkan di halaman. Tempat saya sembunyi-sembunyi memintal perasaan suka terhadap seseorang yang kemudian setelah berani saya undang seseorang itu untuk datang bertandang. Rumah ini saksi semuanya, tempat saya mencetak tawa dan mengenyahkan air mata.

Saya senang pulang ke rumah.

Berbincang di meja makan malam-malam bersama Mami sambil makan es krim berkotak-kotak. Membicarakan dari sesuatu yang penting seperti gambaran masa depan sampai hanya gosip para tetangga. Keintiman ibu dan anak yang seperti biasa sejak jaman saya balita (akan) selalu diterminasi karena Mami mendapatkan telepon yang mengabarkan bahwa ada pasien yang akan melahirkan, entah dengan cara normal maupun seksio caesaria. Dan kebahagiaan sederhana itu menguap seiring dengan mobil yang pergi keluar gerbang. Tapi saya tidak pernah khawatir karena momen seperti itu akan berulang esok hari dengan akhir yang (biasanya) sama.

Saya senang pulang ke rumah.

Di rumah ini saya akan tetap menjadi anak kecil yang senang dimanjakan. Tidak peduli sudah sekian angka yang tercetak dalam lintasan usia karena setiap kali saya pulang ke rumah, saya akan menjadi seorang anak yang senang didongengkan cerita khayal sebelum tidur. Atau seorang anak yang dengan bebas berlarian mengitari kursi-kursi di ruang tengah bahkan meloncat-loncat di atas tempat tidur empuk milik orang tuanya.

Saya senang pulang ke rumah.

Sekedar bernostalgia bahwa saya pernah bahagia dan masih bahagia dengan cara yang tentu saja berbeda. Sejauh apapun saya melangkah pergi, saya yakin bahwa saya pasti akan melangkah pulang. Ke rumah kami.

Bandung, 25 Desember 2011

Kamis, 22 Desember 2011

Mother's Day

Selamat hari ibu, Mami.

Terima kasih untuk selalu menjadi seorang ibu lebah yang bijaksana. Ibu lebah yang tidak pernah lelah mengumpulkan madu dari kuntum-kuntum bunga beraneka warna demi aku anakmu.

Lewat keuletanmu memelihara sarang tempat aku melabuhkan nyaman, aku belajar dan bersyukur. Belajar bahwa tidak ada yang mudah diraih dalam kehidupan. Tidak ada kenikmatan dan kekayaan yang serta merta datang tanpa kerja keras dan cucuran peluh penuh perjuangan. Karena itu aku bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi seorang ibu berhati malaikat sebagai model untukku mengarungi kehidupan.

Pasti banyak hal yang telah aku lakukan dan ternyata membuat mami keberatan serta tidak merasa senang. Tapi Mami tidak lantas meninggalkan aku atau menghentikan kasih sayang yang selalu tercurah seperti hujan. Lewat kalimat-kalimat bijaksana dan menyejukkan mami ungkapkan keberatan serta rasa tidak senang yang mami rasakan. Dan itu menurutku lebih ampuh dibanding makian bahkan pukulan sekalipun. Aku menjadi mengerti serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.

Buat aku mami layaknya malaikat yang selalu membimbingku menapaki jalan hidup yang tidak gampang. Memang sesekali aku tergelincir karena aku lebih memilih tergoda hasutan yang dibisikan setan, tapi mami tidak pernah bosan untuk terus mengingatkan bahwa kebenaran itu harus tetap dijalankan. Mami selalu ada ketika aku sedang merasa sangat kotor, dan mami seperti biasa tidak pernah merasa jijik untuk memandikanku dan menjadikanku bersih kembali. Untuk itu sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menghadiahiku mami sebagai kado terindah sepanjang zaman.

Selamat hari ibu, Mam..

Semoga mami senantiasa diberi limpahan kesehatan untuk terus mengarungi hidup yang tidak pernah sepi cobaan. Semoga mami tetap istiqomah dalam menjalankan tugas yang telah diamanatkan Tuhan, baik itu tugas membimbing aku maupun menolong ribuan pasien yang membutuhkan bantuan. Aku sangat tahu mami memiliki kapasitas lebih dari itu. Dan aku bangga karenanya. Memiliki Mami yang canggih luar biasa.

I love my mom no matter what we go through and no matter how much we argue because i know, in the end, she’ll always be there for me. I love you Mom!!!

Senin, 19 Desember 2011

(sekedar) Unek-Unek

Aku rindu sebuah hubungan intelektual. Hubungan yang akan saling menggali isi di balik tempurung kepala dua orang yang saling mencinta.

Aku bosan dengan hubungan yang kosong layaknya cangkang kepompong yang sudah ditinggalkan kupu-kupu purna bertransformasi dari sebentuk larva. Hubungan tanpa isi yang hanya mengumbar penggalan-penggalan drama tanpa makna. Hubungan yang lebih banyak mempertontonkan hal yang sebetulnya tidak perlu. Hubungan tak sarat kualitas karena dasar hubungan tersebut tidak pernah jelas mengenai apa.

Dan aku bosan dengan itu. Aku tidak ingin (lagi) hubungan yang hanya banyak diisi oleh saling bergenggaman tangan di bawah meja saat aku dan dia menikmati santapan makan malam di sebuah restauran yang temaram. Atau hubungan yang lebih banyak diisi dengan kegiatan mencuri-curi kesempatan untuk berduaan karena aku dan dia sebetulnya tidak ingin ketahuan. Aku bosan dengan semua ritual-ritual tersebut.

Aku sudah tidak lagi muda. Kalau diibaratkan makanan dalam kemasan mungkin aku sudah bisa dibilang menjelang waktu kadaluarsa. Karena itu aku ingin sebuah hubungan yang berkualitas, hubungan intelektual yang akan mensejajarkan aku dan dia dalam cara pandang yang sama dalam melihat sesuatu.

Aku bukan orang yang memiliki intelektualitas tinggi, sehingga aku juga tidak mengharapkan seseorang yang memiliki kapasitas lebih dari itu. Tapi setidaknya aku ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diisi dengan saling mendengarkan. Kalau perlu sesekali diselingi dengan perdebatan tentang sesuatu yang memiliki dasar keilmuan. Bukan diisi dengan banyak perdebatan mengenai misalnya kenapa seharian aku tidak ada kabar. Atau mengapa aku terlambat membalas sms yang dia kirimkan.

Hubungan intelektual. Mungkin terdengar berat untuk dijalankan. Tapi tidak, karena dalam hubungan intelektual, aku dan kamu tidak perlu membahas mengenai relativitas Einstein sebagai dasar dibangunnya mesin waktu. Aku hanya ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diskusi, bukan hanya tentang hari ini tapi juga tentang masa depan dan bagaimana kita merencanakannya dalam kerangka impian. Apa itu sebuah hal yang muluk-muluk?

Aku mengharapkan seseorang yang tidak hanya bisa diandalkan untuk memeluk ketika aku sedang risau. Aku butuh pasangan yang bisa dijadikan sebagai lawan diskusi mengenai masalah yang aku temui dalam pekerjaan. Dan aku akan berlaku sebaliknya. Berusaha ikut memecahkan masalahnya yang dia hadapi dalam pekerjaannya. Mungkin tidak kontekstual, tapi setidaknya bisa berdasarkan akal dan nalar.

Aku tidak lagi muda sehingga aku mengharapkansebuah hubungan intelektual. Hubungan berkualitas yang terus akan mendewasakan dua orang pelaku yang bergenggaman di dalamnya. Aku tahu, aku terlalu banyak mau jadi tidak heran kalau sampai saat ini aku belum juga bertemu dengan sosok yang aku harapkan. Tapi aku sudah dilatih bersabar sekian lama, jadi kalau aku masih disuruh untuk menunggu, maka kalian keliru kalau aku tidak mau.

Jumat, 16 Desember 2011

Jalanan Lengang

Lengang. Jalanan sunyi serupa pernah aku lewati beberapa kali. Jalanan tak beraspal yang menyimpan banyak jebakan berupa kubangan di tempat-tempat yang tak terduga sama sekali. Jalanan yang harus kulalui karena tidak ada jalan lain sebagai alternatif, dan kalaupun ada harus memutar jauh dan menghabiskan banyak waktu.

Aku tidak memilih jalan memutar, karena aku belum tahu medan. Belum tentu jarak yang lebih jauh menjanjikan kemulusan tanpa lubang di jalanan. Bagaimana kalau ujungnya sama saja membuat kakiku terjerembab pada kubangan yang hampir sama? Aku tidak mau bertaruh karena seringkali aku tidak beruntung. Menggadaikan perasaan percaya yang tetap tercuri simalakama.

Iya, aku terlalu penakut. Tidak mau mengambil banyak resiko dengan mencoba hal-hal baru. Aku memilih jalanan lengang yang harus dilalui tanpa penerangan. Lebih memilih meraba-raba dalam gelap dan hati-hati dalam melangkahkan kaki agar tidak berdarah saat terkatuk kerikil tajam yang acak tersebar. Aku memilih jalanan lenggang yang sepi dari lalu lalang kendaraan, sehingga aku benar-benar harus mengandalkan instuisiku sendiri. Percaya kepada apa yang aku percaya.

Sempat aku berguru pada matahari, menyerap sinarnya sepenuh mungkin dan berharap biasnya dapat kusesapkan dalam setiap sendi tubuhku sehingga dapat berpendar ketika aku dalam kegelapan. Tapi sia-sia. Matahari tidak memperbolekanku berpendar kala malam. Dia membagi sinarnya pada rembulan dan gemintang, tapi memadamkan pendarnya dalam tubuhku. Sementara bulan dan bintang seakan cemburu sehingga tidak mau menuntunku dengan cara bersembunyi di balik awan kelabu. Lagi-lagi aku berjalan dalam kegelapan. Sendirian.

Aku memilih jalanan lengang ketimbang jalanan yang ramai. Ketika sepi aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya, tidak perlu bertopeng untuk sekedar menyenangkan hati orang yang sibuk hilir mudik di trotoar jalanan yang ramai. Dalam senyap aku menemukan banyak kedamaian, terhindar dari banyak pertikaian atau paling tidak dari debu dan asap hitam knalpot kendaraan. Aku bisa menjadi aku. Aku bebas berekspresi tentang sesuatu.

Iya, mungkin aku terlalu penakut untuk menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Aku belum cukup bekal untuk dilepas di rimba yang penuh dengan kepalsuan. Dengan cahaya-cahaya benderang yang yang justru menyesatkan, aku takut tidak bisa lagi pulang. Dengan warna-warna yang memabukkan, aku khawatir malah tidak mau pulang sementara aku sadar bahwa akhirnya aku harus hidup dengan benar. Tanpa embel-embel kepalsuan.

Sudah saatnya saya menanggalkan baju yang selama ini saya pakai, menggantinya dengan kain yang akan saya kenakan dalam keabadian. Merintis lagi kepercayaan bahwa kehakikian akan datang meski belakangan dan lewat jalan sepi yang temaram. Bukan lewat jalan yang penuh gegap gempita yang selama ini aku bayangkan.

Dalam ketakutan aku memilih jalanan lengang yang pasti penuh cobaan. Dalam ketakutan aku berserah pada doa agar aku selamat sampai tujuan, tidak peduli kalau perjalanan ini menghasilkan ribuan benjol kapalan. Setidaknya aku ingin hidup lebih baik dari sekarang, tidak lagi menyangkal dan bernafas lega tanpa banyak penyesalan.

Rabu, 14 Desember 2011

Ilalang

Sebut saja dia ilalang. Gulma perusak tanaman budidaya yang mudah sekali tumbuh tanpa perlu perawatan yang berarti. Tidak perlu pupuk, tidak perlu pengairan yang cukup, dan dia akan tetap hidup dengan subur menghimpun suatu kekuatan.

Lewat geragih yang tidak tampak mata dia beranak pinak membentuk suatu perkumpulan sehingga semakin sulit dihilangkan. Dan dia pintar, ketika lingkungan sebegitu tidak menguntungkan dia meranggaskan tajuknya hingga tampak seolah-olah mati. Tapi di dalam tanah dia bersinergi, mengumpulkan kepercayaan-kepercayaan baru untuk diretasnya kembali ketika hujan mulai datang di penghujung kemarau panjang.

Sebut saja dia ilalang. Musuh yang paling ditakuti tanaman budidaya yang disayangi petani. Penuh rakus ilalang akan menghabiskan nutrisi yang digelontorkan petani untuk tanaman yang mereka sayangi. Tanpa kenal ampun ilalang akan berkompetisi untuk memperoleh area hidup yang sedemikian luas dengan cara tumbuh lebih cepat dari semestinya. Lewat mekanisme alelopati, ilalang mengeluarkan racun untuk membunuh saingannya.

Dan apakah dengan segala usaha kerasnya itu dia lantas mendapatkan kasih sayang petani? Jawabannya tetap tidak. Petani akan berusaha lebih giat untuk melenyapkannya, tidak peduli harus mengeluarkan biaya ekstra bahkan mengutang pada tengkulak. Atau ketika sang petani sudah sampai pada tahap frustasi, dia akan membiarkan ilalang berkembang di lahannya tanpa pernah dia perhatikan.

Dan aku pernah hidup seperti ilalang. Tumbuh subur di pekarangan orang, berharap kalau suatu saat pemilik pekarangan tidak lagi merawat bunga layu yang tumbuh di sudut halaman dan berpaling ke arahku sekedar mencari penyegaran. Bunga itu sudah layu, sudah tidak pantas dipertahankan menghiasi pekarangannya yang nyaman. Karenanya aku berusaha keras menjalar ke semua penjuru untuk mencuri sedikit perhatian. Menyemai kepercayaan kalau suatu saat dia akan tersadar dan memilihku sebagai pengganti bunga yang layu.

Bunga itu tetap di tempatnya. Mengeringkan sisa kelopaknya yang pernah menjadi bagian indah dari pekarangan yang nyaman. Aku tahu bunga itu tidak ingin dipertahankan, aku tahu bunga itu hanya menuntaskan sisa-sisa harapannya untuk kemudian mati total. Tidak peduli pada pemilik pekarangan yang bersikukuh ingin mempertahankan meski dia tahu alur cerita yang akan dia hadang.

Dan aku salah. Memilih menyemai benih ketika bunga itu sepenuhnya belum meranggas kering. Dan aku salah. Melancarkan banyak usaha ketika pemilik pekarangan masih gamang antara bertahan atau bergerak meninggalkan. Pemilik pekarangan dilimbung bingung, sehingga akhirnya dia memilih untuk tidak memperhatikan ilalang kusam yang tumbuh disudut yang berlainan.

Sebut saja aku ilalang. Tumbuh liar di pekarang yang masih menjadi milik orang. Penuh upaya aku membuktikan kalau aku mampu bertahan walau tidak banyak kasih yang dicurahkan. Sebut saja aku ilalang, gulma pengganggu hubungan orang. Tanpa bermaksud ingin dibandingkan, aku hanya hadir dalam sebuah kekeliruan. Hingga akhirnya aku lelah dan meranggas kerontang.

Selayaknya ilalang, akan ada saatnya untuk aku menepi kemudian mati.

Senin, 12 Desember 2011

Jendela Tua

Tidak ada yang tahu kalau diam-diam aku sering bercerita kepada jendela tua di rumah itu. Jendela tanpa tirai yang menjadi semacam tempat pelarianku dari berbagai macam persoalan. Kepadanya aku tidak hanya bercerita, tapi aku menggambarkannya dengan serangkaian huruf-huruf yang mungkin hanya dipahami oleh aku dan dia.

Pada bingkai kayunya, aku membisikan semua rahasia yang sejak lama aku simpan. Aku mempercayainya sehingga aku tidak khawatir kalau dia akan mengkhianatiku dengan membewarakannya kepada angin. Aku mempercayai dia segenap hati, apalagi aku dan dia sudah melakukan sumpah darah yang tidak akan kami langgar. Kulukai ujung jariku dengan peniti kemudian kuteteskan ke salah satu bagian bingkainya yang berlubang. Sumpah sakralpun kemudian aku rapal dalam diam.

Meski dia tidak bicara apa-apa, aku tahu kalau dia mengerti tentang kesepakatan kami. Karena itu jugalah aku mempertaruhkan kepercayaanku kepadanya. Menampilkan diriku yang paling polos tanpa berbalut lagi banyak kebohongan. Di hadapannya aku ingin tampil selayaknya anak kecil yang tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan. Di hadapannya aku ingin muncul sebagai aku yang belum pernah mengenal dusta.

Sering malam-malam aku mengendap ke arahnya. Suara aku buat seminim mungkin karena aku tidak ingin membangunkan banyak orang yang justru akan merusak ritualku bercerita pada sebuah jendela tua. Dengan menyenandungkan syair lirih aku mulai bercerita tentang lagi-lagi cinta. Kuharap dia tidak akan pernah bosan dengan penggalan-penggalan cerita yang aku utarakan. Cerita mengenai cinta yang mungkin membosankan. Cinta yang seringkali tidak pernah tersampaikan.

Aku tidak peduli. Aku terus bercerita. Aku terus memupuk kepercayaan kepada sebuah jendela tua.

Dan dia memang setia. Sampai suatu saat ketika dia tergoda oleh sebungkus kembang gula. Dengan lancar dia menceritakan apa saja yang sudah aku percayakan kepada orang asing yang berteduh di dekatnya kala hari hujan. Hanya demi sebuah kembang gula murah dia mengkhianatiku. Demi sebuah sensasi manis perantaraan kembang gula yang dijanjikan orang asing itu dia mengumbar rahasiaku sampai ke yang paling kelam.

Tentu saja aku marah. Merasa dikhianati oleh seorang sahabat yang diikat oleh sumpah darah tempo hari. Dengan berlari aku mendatanginya. Nafasku tersenggal-senggal karena diburu amarah seperti sumbu yang tersulut minyak di bagian bawahnya dan api di atasnya. Aku berteriak-teriak di hadapan jendela tua yang selama ini menjadi sahabatku. Meminta penjelasan atas apa yang sudah dia lakukan. Mengkhianati sumpah untuk tidak pernah menceritakan apapun yang aku ceritakan pada orang lain, apalagi orang asing. Aku benar-benar marah.

Di ujung penggugatanku, aku menangis. Rasanya dikhianati oleh jendela tua yang sudah aku anggap sebagai sahabat yang paling setia itu seperti dibenamkan pada pasir hisap tanpa bisa bernafas lagi. Aku terus menangis. Menggugatnya dengan berbagai pertanyaan sambil kutunjuk-tunjuk tempat dimana aku meneteskan darahku pada bagian bingkainya yang berlubang. Tapi dia tetap diam.

Lama hening membalut kami. Aku kelelahan setelah menuntaskan amarahku yang menggebu, sementara dia masih saja diam tidak menggubris kata-kata yang sudah aku lontarkan. Di ujung kelelahanku, perlahan aku melihat sekelompok embun menutupi kacanya yang tidak bertirai. Embun itu berkumpul dan lama-lama berubah menjadi tetes-tetes air yang membanjiri bingkainya yang usang dimakan usia. Dia menangis.

Sesaat kemudian aku mendengar dia berbisik pelan. Aku dekatkan telingaku ke arahnya agar bisa dengan jelas menangkap apa yang ingin dia utarakan. Masih sambil menangis dia berbisik “Aku menceritakan kepada orang lain karena aku sangat menyayangimu. Aku ingin ada orang lain yang tahu kalau kamu sebetulnya butuh pertolongan”

Aku kemudian hanya bisa diam. Tanpa daya. Kemudian yang kulihat hanyalah gelap.

Kamis, 08 Desember 2011

Asimtot

Gedung Kuliah Umum (GKU) lama, Institut Teknologi Bandung, Pertengahan tahun 1999. Untuk kesekian kalinya pada mata kuliah kalkulus 1 aku mendengar dan mengerjakan latihan soal mengenai asimtot. Seperti bahasan-bahasan lain sebetulnya dimana aku tidak pernah mengerti untuk apa sesuatu yang absurd seperti itu dipelajari. Entah apa kepentingannya sampai aku harus bersusah payah mengerjakan soal tentang suatu garis lurus yang didekati oleh kurva lengkung dengan jarak semakin lama semakin kecil mendekati nol di jauh tak terhingga.

Aku tidak pernah mengerti apa itu asimtot. Mengapa ada garis yang mendekati suatu garis lain yang berbentuk kurva tanpa pernah bisa menyentuhnya hingga saling berpotongan? Aku tidak mengerti konsep asimtot sampai aku mengenalmu.

Dari asimtot aku kemudian mengenal konsep pasangan rel kereta api, yang juga tidak aku mengerti. Seperti asimtot, pasangan rel tersebut terus beriringan tanpa pernah bisa saling beririsan. Tidak ada satu titik tujuan yang membuat keduanya untuk saling bertemu atau paling tidak bersentuhan. Asimtot mungkin lebih beruntung karena garis yang satu terus mendekati garis yang lainnya sampai batas tak hingga meski hasil akhirnya juga tetap tidak berpotongan. Tapi rel kereta berbeda, sepanjang jalan dari satu tujuan ke tujuan berikutnya mereka dipisahkan oleh jarak yang sama tanpa bisa bersinggungan.

Dan kita selayaknya mereka. Bisa saling berpandangan tanpa pernah bisa disatukan. Aku dalam jalur yang satu dengan leluasa bisa mengamatimu yang berada di jalur yang lainnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Kita saling berdekatan, tapi karena sesuatu yang sudah ditakdirkan kita tidak bisa saling berpegangan. Hanya bisa saling mengutarakan rasa lewat getaran-getaran tak kasat mata yang tercipta ketika serombongan gerbong-gerbong itu melintas di atas kita. Sebuah sarana yang aku manfaatkan betul keberadaanya hanya untuk sekedar melepaskan rasa yang entah bisa dikatagorikan sebagai apa.

Kita memilih berbagi kesakitan yang sama. Membagi sama rata titik berat ketika kereta melindasi kita sehingga tidak ada yang menanggung lebih dari kesengsaraan yang tercipta. Lewat cara-cara yang sederhana seperti itu kita mengumbar cinta. Lewat banyak ketidakpastian kita mempertaruhkan segala hal untuk sekedar terus berpandangan sambil mengucap banyak harapan yang sebutulnya kita tahu benar kalau itu tidak bakal kejadian.

Saat melewati satu pemberhentian, entah itu sebuah stasiun atau sebuah area luas tanpa bangunan yang hanya dijaga oleh seorang pria berseragam, aku berharap ada rekonstruksi yang akan menyatukan kita walau sesaat. Mungkin tidak akan berwujud kenyataan karena jarak sepertinya telah ditasbihkan untuk selalu berada diantara kita, tapi aku tidak lepas berdoa. Aku hanya ingin menyentuhmu dan kemudian berkata kalau aku setia kepadamu. Tidak peduli kalau itu akan merubah sebuah tatanan menjadi kongruen dan membentuk suatu bangun ruang.

Seperti asimtot aku akan berusaha terus untuk mendekat ke arahmu sampai waktu yang tak hingga. Sebuah bukti tentang kesetian yang sering kamu perbincangkan. Selayaknya bagian dari sepasang rel kereta yang akan terus mendampingi pasangannya dari satu satu pemberhentian ke pemberhentian berikutnya, aku akan setia mengumbar rasa yang lagi-lagi entah untuk apa.

Seperti asimtot yang konsepnya tidak pernah aku mengerti, kita juga tidak akan pernah saling memahami.

Selasa, 06 Desember 2011

Iklan

Aku menganggapnya sebagai iklan yang hadir dalam fragmen panjang cerita hidup yang seringkali membosankan. Dengan rutinitas yang hanya itu-itu saja, aku butuh hiburan. Sekedar pengalihan untuk sedikit mencuri-curi waktu dan bernafas leluasa. Terbebaskan.

Aku butuh banyak kejutan sebagai sarana memelihara imajinasiku yang liar tentang sesuatu. Karenanya sering aku memanfaatkan semua kesempatan sekecil apapun sambil berdoa bahwa di akhir langkah aku akan memperoleh kejutan. Entah yang menyenangkan atau justru malah menyedihkan. Tak jadi soal, aku pasti akan menikmatinya. Convekti atau air mata semua aku nikmati dengan caraku sendiri.

Yang kemarin terjadi aku anggap hanya iklan. Selingan sesaat yang menyenangkan. Ketika waktu tayangnya telah habis, maka aku akan kembali kepada fragmen-fragmen yang sudah baku tertulis di kitab takdir. Jalan hidup yang senantiasa harus aku titi sambil menunggu iklan-iklan berikutnya hadir.

Kadang iklan sebegitu menggodanya, memaksa kita merogoh lebih dalam untuk membelanjakan hati. Berharap bahwa kesenangan yang dia tawarkan dalam kemasannya memang benar adanya. Tapi hidup tidak demikian, terlalu banyak tipuan pandangan, terlalu banyak manipulasi paralaks yang membuat kita salah dalam mengartikan apa yang kita lihat. Dan semuanya sudah terlambat ketika akhirnya sadar bahwa itu adalah salah.

Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis ketika kenyataan tidak seperti yang ditawarkan dalam iklan. Sudah terlalu banyak keperihan yang justru menguatkan. Sudah terlalu kebal telapak kaki ini untuk merasakan tajam kerikil di jalanan. Aku menyikapi iklan benar-benar hanya sebuah selingan yang menyenangkan. Mewisatakan mata dan perasaan pada bentuk kemasan yang menjanjikan kesemuan. Enak dipandang tapi belum tentu nyaman dirasakan.

Aku sudah tumbuh dewasa. Tidak ada lagi air mata ketika dipaksa untuk mempercepat waktu tayang sebuah iklan padahal hati masih ingin menikmati titik-titik melodi. Aku sudah dewasa sehingga tidak lagi gamang membedakan mana kenyataan dan mana sebuah selingan, meski kadang aku terduduk lama sebelum berkemas kemudian beranjak.

Kamu kemarin, hanya aku anggap sebagai iklan. Jadi ketika di ujung waktu yang pendek itu ternyata kamu memberiku kepedihan, aku sudah membekali hati. Tidak ada penyesalan telah menikmati buaian perasaan dalam waktu yang sesaat. Tidak ada amarah ketika kamu berjalan meninggalkan, karena seperti sudah aku bilang bahwa kamu selayaknya iklan. Sebuah selingan menyenangkan, sebuah kejutan yang membuat hidupku tidak hambar.

Jangan khawatirkan aku. Sudah sering aku mengalami hal yang serupa, jadi aku akan baik-baik saja. Kalaupun sekarang aku menghilangkan semua sarana kita berkomunikasi, itu hanya karena aku tidak ingin menikmati iklan yang sama dua kali.

Selasa, 29 November 2011

Penting (Banget)

Lokasi : Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makasar

Waktu : Senin, 28 November 2011

Kejadian: sesuatu yang membuat saya seperti ABG. Senyum-senyum sendiri setelah pertemuan singkat yang hambar dan diakhiri dengan saling bertukar nomer telpon dan pin BBM

Efek: Sepanjang perjalanan Makasar – Sidrap – Toraja, wajah dia menari-nari di ingatan saya.

Efek lanjutan : Perang batin antara menghubunginya duluan atau menunggu signal kalau dia benar-benar tertarik. Tapi yang pasti saya sering mengecek display picture BBM-nya sambil senyum-senyum tidak jelas.

Efek lebih lanjut : Saya jadi bodoh!

Analisis : Ya, saya murahan. Dengan gampang saya memberikan nomer-nomer pribadi saya kepada orang asing hanya karena pujian yang membuat saya melambung. Pujian tidak penting sebetulnya, hanya saja berefek seperti gendam yang membuat saya hilang akal sesaat.

Analisis lanjutan : Mungkin saya terlalu putus asa dalam mencari cinta sehingga saya menangkap semua peluang yang mungkin sebetulnya tidak bisa dilanjutkan.

Analisis lebih lanjut : Saya menyedihkan.

Tapi setidaknya saya tahu kalau saya belum mati rasa. Saya masih bisa merasakan euphoria kesenangan yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak penting sekalipun. Dan saya menikmati sensasinya. Seperti dulu, saat saya untuk pertama kalinya berusaha mengenali apa itu cinta.

Note : Tidak ada cerita tambahan, jadi saya tidak menerima BBM, email, DM, “kepo” atau apapun yang ingin penjelasan mengenai narasi di atas. Cukup saya, dia dan Tuhan yang tahu.

Note Lanjutan: Iya, saya sok penting banget!!

Rabu, 23 November 2011

Aku Membunuhnya

Darah. Aku melihat darah dimana-mana. Bau amis dan warna merah menyumbat semua lubang panca inderaku, membuatnya kelu dan bisu. Sesaat aku limbung tak bisa mencerna rentetan kejadian yang membuat darah itu berceceran di lantai kamarku. Mataku perih, bukan ingin menangis, tapi aroma darah itu seperti membakar korneaku. Membutakan, merebut cahaya yang harusnya tampak dan menggantikannya dengan warna merah dan hitam. Bergantian.

Pisau itu masih kugenggam. Gemetar. Tetesan darah segar menetes dari ujungnya kemudian merayap di dinding buram kamarku yang temaram. Sekali lagi aku limbung hampir hilang kesadaran, hanya warna merah dah hitam yang bergantian menghantam penglihatan.

Kuhempas pisau itu dari genggaman. Suara berdentang yang dihasilkan besi dan lantai menjalar melalui udara pengap yang memberangus keberanianku yang mulanya tersulut tertantang. Gemetar masih aku rasakan di setiap bagian tubuhku, menggigilkan dan membuatku beringsut ke pojokan sambil memeluk lutut hingga mencium dada. Masih kulihat darah dengan jelas tersimbah di lantai keramik putih sehingga warnanya semakin jelas tergambar. Dalam kubangan darahnya sendiri dia terlentang tak lagi bernyawa.

Aku membunuhnya. Melalui tanganku dia menemui ajalnya, menyapa kematian yang mungkin belum mau dia temui. Perantaraan keberanian dan ketakutan yang teraduk sempurna dalam rongga otakku, dia aku tikam menggunakan pisau berkarat yang sudah lama aku persiapkan. Butuh waktu lama hingga akhirnya hari itu tiba. Butuh banyak konflik batin sampai akhirnya aku benar-benar berani melenyapkannya dengan tanganku sendiri.

Malam tadi aku membunuhnya. Menguras habis darah yang mengalir dalam urat-urat nadinya hingga terburai membasahi hampir seluruh bagian lantai kamarku. Disana dia berkubang tanpa nyawa, dalam genangan darahnya sendiri.

Ada sedikit perasaan lega di tengah ketakutan yang menghadang. Tapi ada juga perasaan seperti seorang penjahat yang tertangkap basah dan siap dihakimi oleh masa. Keduanya menghasilkan sensasi gemetar yang maha dahsyat karena di ujung langkah aku takut menyapa sebentuk penyesalan. Perang batin lagi-lagi berkecamuk mempertanyakan apakah tepat bagiku mengakhiri hidupnya dengan cara yang sedemikian keji. Apakah keberanianku menghujam pisau berkarat tepat ke ulu hatinya sebetulnya hanya reaksi sesaat akibat kesakitan yang sudah sering dia beri. Aku dihantam banyak pertanyaan yang membuatku semakin mengkeret di pojokan.

Dia sudah sepantasnya mati. Bahkan harusnya dari dulu aku memiliki keberanian untuk membunuhnya atau paling tidak memasukan bubuk arsenik kedalam minumannya yang selalu dia minta di setiap kunjungan. Dia layak mati karena keberadaannya hanya mempersulitku yang ingin terbang dengan bantuan sayap rapuh kepercayaan yang tak kasat mata. Begitu kalimat-kalimat pembenaran berdengung dalam rumah siput di dalam telingaku. Memekakkan karena kalimat-kalimat itu seperti berpesta pora di sana, menarikan tarian kemenangan.

Dia pantas mati. Dan orang yang paling tepat membunuhnya adalah aku sendiri. Lewat aku dia harus membaui ajalnya. Perantaraan tanganku dia harus melepas nafasnya satu per satu. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua sudah dilakukan. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua ini demi kebaikan. Lebih lama dia hidup, maka akan lebih banyak kesakitan yang akan dia hidangkan dalam altar pemujaan. Karenanya aku lega dan tidak menyesal.

Malam tadi, dengan pisau berkarat yang sudah aku persiapkan lama, aku membunuh dia. Mengirimnya pada alam kematiam yang katanya abadi sehingga kuharap tidak ada lagi reinkarnasi yang akan membuat dia kembali. Malam tadi, aku membunuhnya. Masa lalu tentang kamu. Selamanya.

Rabu, 16 November 2011

No, Thank You

Buat saya cobaan terbesar dalam menjalin suatu hubungan itu adalah mencintai kekasih orang. Tidak dapat dieliminir memang, tapi saya pasti punya sejumput pilihan untuk kemudian berlari menghindar. Sulit, terus terang, apalagi ketika kenyataan tersebut baru diketahui belakangan saat saya sudah terlanjur banyak membelanjakan perasaan atas nama sebuah pengharapan.

Jangan tanyakan pengalaman saya mengenai mencintai kekasih orang. Berulang-ulang saya dilimbung perasaan yang ternyata itu-itu saja. Mabuk oleh candu yang sebetulnya bisa saya buang dari awal. Tapi sepertinya pada beberapa keadaan saya memilih buta untuk berjalan di lorong yang sebetulnya terang. Saya memilih mengerat urat nadi saya sendiri secara perlahan sehingga menimbulkan sensasi sedih berkepanjangan.

Rasa pedih tersebut mau tidak mau harus saya telan tanpa berhak mempertanyakan. Saya terlanjur menyepakati perjanjian dengan kesakitan yang efeknya sudah saya kenal benar. Tapi tetap saya memilih untuk buta, memilih membebalkan rasa karena mungkin saya pikir saya akan kuat bertahan. Tidak lagi peduli pada luka yang akan menganga lebar di akhir batas sebuah kesabaran. Acuh pada air mata yang pastinya siap ditumpahkan saat saya menyerah di akhir langkah.

Bodoh. Tentu saja saya tahu kalau itu tindakan bodoh. Memilih sesuatu yang saya tahu salah dengan alasan yang seringnya tidak logis adalah tindakan bodoh yang tidak dapat dibenarkan. Dan saya selalu bertahan dalam kebodohan itu, tanpa takut pada ganjaran yang akan saya pampang. Saya bertahan dalam kubangan yang awalnya saya pikir akan membahagiakan karena saya anggap saya bisa berteman dengan konsekuensi dari menggenggam tangan kekasih orang.

Tapi itu dulu. Sekarang saya kapok berjalan pada acuan yang keliru. Mencintai kekasih orang hanya akan membuat hati saya semakin kerontang. Bukan hanya karena diganjar kemarau tak berkesudahan, tapi juga karena perasaan kerdil yang pasti ditimbulkan. Saya lebih baik sendirian ketimbang memunguti remah-remah sisa di pekarangan orang seperti pencuri yang takut ketahuan. Saya memilih tidak membelanjakan perasaan daripada saya harus membayar banyak kerugian yang tidak setimpal.

Kekasih orang tetaplah kekasih orang. Seperti apapun saya memagarinya agar tidak sering meloncat ke tanah tempatnya berasal, saya tidak akan mampu membuatnya terus diam. Dia akan kembali pulang untuk meretas mimpi yang telah lahir duluan. Bersama saya mimpi lahir belakangan, dan dengan cara apapun tidak akan pernah bisa menang. Tidak peduli kalau menurut dia mimpi yang dia semai duluan ternyata sekarang sudah tidak membuatnya nyaman.

Saya sekarang hanya lebih berpikir realistis. Kalaupun dia berjanji akan menterminasi mimpi yang lahir duluan untuk menjajaki mimpi yang lahir belakangan, jangan harap saya akan bersedia dibegitukan. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada saya-saya lain setelah saya yang sekarang. Saya akan ditinggalkan oleh mimpi barunya yang mungkin tidak bisa saya kembangkan. Dan saya percaya bahwa karma akan kejadian.

Sepertinya saat ini Tuhan sedang mengajak saya bercanda, karena lagi-lagi dia kirim seseorang dengan judul kekasih orang. Tapi jangan khawatir, saya akan mengencangkan tutupan pintu hati sambil berujar, “tidak, terima kasih”.

Senin, 14 November 2011

Sahabat Kala Galau

Saya berkenalan dengannya ketika saya menginjak dewasa. Kedua orang tua saya yang menginisiasi perjumpaan pertama kami, dan semenjak saat itu saya seperti ketagihan. Mengunjunginya di hampir setiap akhir pekan.

Seperti ibu peri, dia mengerti saya. Kepadanya seringkali saya membawa gundah gulana atau keluh kesah. Memang dia tidak bisa menghilangkannya, tapi ketika saya berada di dekatnya saya seperti lupa. Dia menyihir saya sehingga saya melayani permainannya, bahkan saya tidak mempedulikan peluh yang bercucuran di tubuh saya.

Saya merasa bahagia. Menemukan jalan pelarian dari setiap masalah yang waktu itu saya punya. Umur yang belum terlalu matang membuat saya kadang tidak bisa memutuskan dan menyelesaikan. Karenanya saya selalu kembali kepadanya berulang-ulang.

Anehnya saya tidak pernah bosan. Bahkan ketika saya tersadar kalau sebetulnya dia tidak pernah memiliki solusi dari semua pertanyaan yang saya bawa lari. Dia hanya berperan sebagai tempat pengalihan dari segala bingung, bimbang dan galau sehingga sebetulnya setelah saya mengakhiri waktu kunjungan, saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya tidak sepenuhnya terbebaskan.

Saya hanya bahagia setiap menjelang waktu pertemuan, penuh persiapan saya berdandan. Deg-degan seperti mau bertemu dengan selingkuhan, gemetar seperti menunggu pengumuman kelulusan. Saya menikmati momen-momen tersebut sambil saya beranjak dewasa, belajar bahwa dia memang tidak pernah punya jawaban dari semua apa yang saya takutkan. Dia hanya sebuah bentuk pengalihan yang sempurna.

Memang sekarang saya masih menyambanginya terkadang, tidak sesering dulu karena saya merasa sudah bisa menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang menghadang. Kalaupun saya mengunjunginya, itu hanya sekedar untuk mewisatakan hati, menikmati masa-masa dulu ketika saya masih tergila-gila kepadanya. Sudah banyak yang berubah, dan sayapun tidak lagi merasakan apa yang dulu saya pernah rasakan. Saya tidak merasa lagi adrenalin saya terpompa kencang ketika saya bercengkrama dengannya.

Saya tidak menyesali apa yang terjadi sekarang ketika saya sudah merasa tidak lagi memiliki ikatan batin sekuat dulu dengannya. Rasa yang dulu pernah terpupuk subur lambat laun meluntur dihajar pergerakan usia. Saya juga tidak menyesali kalau saya pernah dibuat gila olehnya. Itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya menjadi saya yang seperti sekarang. Dari dia saya pernah belajar bagaimana menyelesaikan bimbang, bagaimana mengatasi gamang.

Saya tidak bisa berjanji kalau saya akan berhenti menemuinya ketika saya merasa rindu. Terlalu banyak hal yang dia sudah pernah torehkan sehingga saya seperti tidak bisa lepas dari jeratan buaiannya. Berada di dekatnya saya tidak mengharapkan mendapatkan sesuatu, karena dari awal saya sudah yakin kalau dia hanya bakal menjadi sahabat saya yang pendiam. Yang tidak akan banyak berkelakar ketika saya dirundung kesedihan.

Dan saya yakin dia akan tetap demikian, setidaknya buat saya. Tidak peduli ketika semakin banyak orang yang juga berlari ke arahnya ketika butuh hiburan atau sekedar membuang galau. Dia akan setia kepada saya, hadir ketika saya butuh teman untuk berbincang dalam ramai. Dia akan tetap begitu selamanya, siap saya hentak kapanpun saya mau. Dia akan tetap menjadi sebuah lantai dansa yang saya puja.

Jumat, 11 November 2011

11-11-11

Coba tengok almanakmu hari ini! Bukankah sekarang itu tanggal yang cantik? 11-11-11. Tanggal yang diributkan banyak orang bahkan dari setahun silam. Katanya triple 11 itu bisa jadi sebuah angka keberuntungan, tanggal yang bakal mudah dikenang apabila sebuah momen diabadikan dalam bingkai ketiga angka tersebut.

Tak tertarikkah kamu untuk berlaku seperti kebanyakan orang? Membuat tanggal yang seharusnya biasa saja menjadi sesuatu yang patut dikenang dalam ranah perayaan. Memang sebetulnya tanggal tersebut adalah tanggal yang biasa, seperti tanggalan pada umumnya. Tanggalan ketika kita berdua sibuk dengan aktivitas yang beraneka ragam sampai kadang kita lupa hari apa sekarang.

Sekali lagi aku bertanya, tak tertarikkah kamu untuk berlaku seperti orang kebanyakan? Membuat 11-11-11 menjadi sebuah titik awal yang akan kita kenang pada tahun-tahun mendatang. 3 angka yang pastinya akan kita lewatkan seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal, berjibaku dengan urusan masing-masing tanpa memikirkan bahwa seharusnya sekarang kita sudah menjadi pasangan. Kita hanya lupa bahwa dulu sekali kita pernah bersua dan berjanji untuk bertemu suatu hari nanti.

Mungkin setting 11-11-11 bukan waktu yang tepat untuk kita memenuhi janji yang sudah kita tandatangani. Pasti belum waktunya karena sampai detik ini aku masih belum bisa membaui tanda-tanda kalau kita akan bersama seterusnya. Pasti ada tanggalan lain yang bisa jadi lebih unik untuk kita saling melunasi janji yang pernah terucap. Pasti ada angka-angka lain yang dianggap ajaib yang akan menjadi prasasti dari kita saling berikrar sehidup semati.

Tapi tidak pernahkah kamu disana membayangkan kalau mungkin seharusnya tanggal ini kita menikah? Berdiri di pelaminan menyalami ratusan atau ribuan tamu undangan. Atau kita membayangkan sesuatu yang spektakuler semisal kalau pada tanggal ini kita akan mendapatkan banyak ucapan suka cita dari kerabat dan handai taulan atas kelahiran anak kita yang pertama. Banyak seharusnya-seharusnya yang belum kita realisasikan dalam koridor nyata seperti yang sudah kita sepakati.

Aku seperti halnya kamu tidak lantas khawatir dengan apa yang sekarang berlaku. Pasti ada keyakinan di hati kita masing-masing kalau semua ini hanya masalah waktu. Tanggalan tidak akan menjadi persoalan, angka-angka menawan tidak akan menjadi sebuah beban. Perjanjian dulu sudah kadung pernah diucapkan, kita hanya lupa bagaimana caranya merealisasikan karena terlalu sibuk mencari jalan yang ujungnya akan saling bertautan. Mempertemukan.

Tidak ada istilah terlambat untuk melunasi janji. Hari ini masih menyisakan sekian jam perjalanan. Kalaupun kamu tidak ingin ketinggalan seperti orang kebanyakan dan menjadikan 11-11-11 lebih istimewa dalam frame kenangan, mari kita berjumpa dan melunasi semua janji-janji yang pernah tertulis dalam lembar-lembar buram daun lontar. Kutunggu kamu di pinggir jalan yang sudah kita hapal.

Kalau kamu masih terlampau sibuk, jangan takut aku akan berpaling. Membelanjakan hari demi hari kedepan dalam penantian tidak akan membuatku lantas bosan karena seperti yang sudah aku janjikan, aku akan tetap bertahan sampai kita akhirnya dipertemukan. Kita hanya masih terbuai untuk mengurai jalanan kusut yang terpampang. Kamu hanya perlu yakin seperti halnya aku bahwa di salah satu jalan yang sebetulnya kita sudah kenal, kita akan berpapasan.

Kalau tidak di tanggalan 11-11-11 bagaimana seandainya kita gagas ulang pertemuan kita di tanggalan 1-2-12 tahun mendatang. Aku menunggu jawaban.

Rabu, 09 November 2011

AKUPUN SAMA

Akupun sama, tidak memiliki alasan kenapa harus menunda-nunda. Bahkan waktu seperti sudah tidak bersahabat memburu minta dihentikan untuk kemudian kembali diputar. Nanti, ketika aku sudah menemukan pegangan yang tidak lagi membuatku gamang merapal langkah di jalanan. Tapi sekarang waktu masih saja memburu, membuatku lelah dan terengah-engah.

Tentu saja akan aku hadiahkan sebuah kebahagiaan. Sesuatu yang sudah aku persiapkan ketika aku mulai tersadar beberapa tahun silam. Sayang, bentuk kebahagiaan itu belum juga menemukan ruang untuk kemudian ditampilkan. Semua masih semu, masih berselimutkan seludang kelabu yang sulit disibak bahkan oleh seperangkat doa.

Akupun sama, tidak lepas merapal doa sambil menengadahkan tangan ke udara. Seringkali merasa sia-sia dan tidak berguna, tapi untungnya aku masih diberi sehelai rasa percaya. Sehelai yang beranak pinak menjadi tameng kokoh yang aku rasa melindungiku dari segala mara bahaya. Atau setidaknya dari salah langkah yang seringkali aku coba.

Aku mungkin bukan orang baik, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Mungkin aku masih saja bingung dilimbung persimpangan yang menghadang, tapi aku berusaha untuk lepas dari segala cengkraman yang sudah sekian lama meninabobokan.Keluar dari nyaman sarang yang membuatku lupa akan dosa. Aku berusaha walaupun seringkali aku justru balik lagi pada titik yang serupa.

Tidak tahu kenapa godaan itu seperti sukar untuk dienyahkan, terus membuntutiku yang sebetulnya ingin berubah. Sudah cukup berbagai pengalaman aku gambar dalam dinding perasaan, sudah banyak sari yang aku ambil sebagai bentuk sebuah pembelajaran. Tapi seperti tidak pernah cukup, godaan itu datang dan datang lagi menggoyahkan kaki yang sudah lelah berlari. Membuatku akhirnya menyerah dan kembali berdarah.

Aku tidak sekuat apa yang aku bayangkan. Kerap kali aku berusaha keluar tapi malah terperosok semakin dalam. Aku mencoba menghindar, tapi selalu saja aku diketemukan. Dipaksa mereguk manis dosa yang dihadirkan sosok yang diam-diam aku puja. Mereka datang tanpa diundang, mereka bertandang tanpa tahu aturan. Tanpa mengindahkan tanda mereka menerobos masuk membelaiku kembali dengan rasa yang sebetulnya aku ingin lupa.

Akupun sama, ingin segera keluar sebagai juara. Tidak peduli ketika harus kugadaikan nyawa sebagai tanda bukti untukku melupakan masa lalu. Hitam sudah tertoreh tebal, tapi jangan khawatir, lewat doa akan aku beli sebuah pengampunan untuk menghapusnya perlahan. Noda sudah tercetak, tapi jangan khawatir karena lagi-lagi lewat doa aku akan mengiba sebuah bentuk pemaafan. Tidak ada yang mustahil untuk dikerjakan bukan?

Permudahlah jalanku. Begini saja, bagaimana kalau nanti malam kita bertemu dalam mimpi. Nilai aku sepuasnya, setelah itu kamu boleh pergi. Tidak kembali. Berpikir ulang setelah pergi untuk kemudian kembali. Atau tidak pergi sama sekali sehingga tidak perlu kembali. Kamu yang menentukan.

Senin, 07 November 2011

Drama di Kepala

Aku menjadikan kepalaku sebagai panggung tempat pementasan drama. Puluhan cerita siap dipentaskan ketika aku menekan tombol on di sebelah tulang mata. Tanpa perlu aba-aba, babak demi babak akan runut dimainkan sesuai dengan skenario yang aku gubah sendirian. Kadang penuh persiapan tapi seringkali spontan ketika aku sedang butuh tontonan.

Memang pementasan drama di kepalaku cenderung asosial. Tidak ada penonton yang bertepuk tangan di akhir pertunjukan, atau mengeluarkan sumpah serapah karena sudah membayar sejumlah uang dan tontonannya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Bahkan tidak ada penonton yang tertidur pulas di bangku keras karena keburu bosan sebelum cerita sampai pada klimaksnya. Pementasan drama di kepalaku sepi pengunjung, tapi tidak pernah berhenti berlangsung.

Aku tidak peduli dengan rating karena sebetulnya drama yang aku cuplik bukan untuk konsumsi publik. Aku tidak peduli dengan tidak adanya komersial yang katanya akan meningkatkan nilai jual. Aku hanya ingin panggung yang memang sudah ada tidak miskin cerita, aku ingin mereka tetap gempita meskipun kenyataannya banyak yang kontra. Aku hanya ingin pemeran-pemeran tanpa casting yang sudah aku reka menemukan nyawanya dalam alur sebuah laga.

Terkadang aku membuka sedikit sekat agar pementasan drama yang tengah diputar di kepala menemukan udara. Membuatnya sedikit lega karena terlepas dari pengap yang mendera. Lewat jendela imaji paparan demi paparan aku unggah penuh makna. Bukan untuk mengumbar ataupun membanggakan atas apa yang sedang dirasakan, aku hanya ingin sosok-sosok yang kerap aku pelihara dalam bandrol drama mengenal dunia. Aku ingin mereka lantas bercerita bahwa mereka sebetulnya ada.

Tidak terlalu berlebihan rasanya ketika mereka aku hadirkan layaknya nyata. Menunggang aksara mereka membungkuk memperkenalkan perannya dalam sebuah jalan cerita. Menitis dalam kata mereka memainkan skenario yang digubah penuh prahara. Tapi jangan kasihani mereka, karena mereka hanya bersandiwara. Jangan kasihani aku karena aku hanya seorang penggubah cerita, seorang penggila drama dalam pentas tanpa suara di kepala.

Lewat jendela imaji aku berbagi. Menyapa serakan ribu maya yang berkunjung merapal kidung. Bagai cermin di pinggiran trotoar aku berdiam, menyediakan awahan bagi pejalan kaki yang sekedar ingin merefleksi. Berdiri sebentar kemudian meraba hati, berharap setelah itu sebuah senyum terulas di wajah sang pejalan kaki. Meski tipis tapi aku tahu kalau dia merasa tidak pernah hidup sendiri. Ada orang sepertinya yang memainkan peran yang sama dalam drama yang pentas di kepala. Bedanya hanya karena dia itu nyata.

Aku penggila drama, karenanya aku gagas banyak pertunjukan di dalam kepala. Meski tanpa riuh deru penonton yang gemuruh, pertunjukan tetap harus dijalankan. Mengikuti jadwal kesepakatan antara pihak-pihak yang tidak kelihatan.

Aku penggila drama, dan kalaupun aku umbar ceritanya melalui aksara, aku hanya ingin membersihkan panggung dari debu yang menggunung. Agar ketika sudah sedikit bersih, aku bisa menciptakan lagi babak baru yang kusenandungkan dalam nyanyian. Sendirian.

Jumat, 04 November 2011

Bersemi (Kembali)

Hilang kata. Semua menguap ke udara ketika sosok itu berdiri tersenyum di hadapanku kemarin senja. Tanpa kabar dia tiba-tiba bertandang, membuat limbung seketika. Mengoyak semua tatanan yang tersusun rapi di dalam kepala, membuatnya bergerak acak berlarian tanpa pola. Kebanyakan berebut minta disembunyikan, tapi ada beberapa bagian yang justru menantang ingin ditampilkan.

Sekian tahun tidak ada yang berubah. Hanya gurat kedewasaan yang semakin banyak dipertontonkan wajahmu yang tetap rupawan. Senyummu masih sama, senyum yang pernah membuatku seperti hilir mudik diantarkan ke nirwana. Senyum yang senantiasa mengembang mengiringi bergulirnya hari. Senyum yang pernah padam seperti api terguyur hujan ketika selepas ashar kita bersitegang dan memutuskan tidak lagi berpegangan.

Jangan bertanya apakah saat itu aku merasa kehilangan, atau apakah aku tidak menyesal. Berminggu-minggu aku sakaw mencandu kehampaan sampai akhirnya bebal. Berhari-hari aku selayaknya setan yang bergerak melayang. Tidak aku rasakan kaki yang menapak menopang massa seakan teori relativitas Einstein bekerja tanpa kerangka. Aku kehilangan meskipun sebetulnya sakit yang tengah dia hidangkan.

Bukankah seharusnya ada segumpal maaf yang menggelembung di ujung ketersiksaan? Bukankah seharusnya aku bisa memilih buta dan berdamai dengan apa yang sudah dia lakukan? Sayang aku tidak bisa memilih opsi itu, aku lebih memilih membuka mata tentang kenyataan bahwa dia sudah membagi apa yang seharusnya tidak dia bagikan. Aku lebih memilih melepaskan karena mungkin itu bisa membuat dia lebih bahagia. Aku belajar tidak egois.

Tapi lihat, setelah sekian tahun aku belajar melupakan, sekarang dia datang lagi. Menimbulkan turbulensi yang masih tetap memporakporandakan. Membuatku menaiki mesin waktu ke masa lampau untuk merinci apa yang tidak bisa hilang dari pekarangan kenangan. Dia begitu indah, karenanya dia dan aroma memorinya aku bingkai dalam pigura tanpa kaca. Menyisakan secuil kemungkinan untuk aku rogoh dan aku hadirkan ketika aku ingin bertamasya. Berjalan di pematang yang sering aku dan dia lewati dalam bayangan.

Ratusan pertanyaan berawalan ingatkah bermunculan perantaraan tatapannya yang melumat diriku hingga lekat. Tidak banyak suara yang menggetarkan udara, tidak banyak pertanda yang harus diterjemahkan rasa. Aku dan dia hanya duduk dalam hening dengan jalan pikiran yang saling bertumbukan, mencipta momentum-momentum jawaban dari semua pertanyaan yang keluar bergantian. Merapal semua kemungkinan.

Aku tidak bisa menjanjikan taman untuk saling bercengkrama seperti dulu. Dia juga tidak menjanjikan untuk menyemai ratusan benih bunga beraneka warna sebagai hiasan. Masa lalu telah mengajarkan aku dan dia bahwa terlalu berharap hanya akan menimbulkan kesakitan berkepanjangan. Terlalu dalam menggali perasaan hanya akan menjadikan semuanya sebagai jeratan yang siap menghadang.

Untuk saat ini aku dan dia hanya memulainya dengan rasa percaya. Mengobati luka yang masih menganga, entah untuk berapa lama.

Rabu, 02 November 2011

Aksaraku Mati

Aksaraku mati
Semalam dia meregang nyawa di jalanan
Menyisakan cerita yang menggenang belum usai

Aksaraku mati
Tercerabut dari media tumbuhnya yang menawan
Membawa kelukaan yang tidak bisa dijelaskan
Berdarah kemudian melepas nafas satu satu

Dia datang telanjang
Membelai harapan dengan raut muka yang menantang
Kurapal dengan tangan yang sepenuhnya gemetar
Memberinya pakaian agar sesuai dengan tema dan ruang
Semenjak itu kucandu dia sampai Tuhan cemburu

Dia datang
Menemani aku yang tengah kesepian
Menarikan sebuah penghiburan dalam temaram

Aksaraku mati
Setelah beberapa kali sekarat dan akhirnya kehabisan nafas
Dia menyerah pada awal sebuah alenia

Aksaraku mati
Membusuk khusuk dalam liang tak bertuan

Aksaraku mati
Meninggalkan sebuah prosa tanpa akhiran
Meninggalkan duka di ujung sebuah pengharapan

Aksaraku mati
Dan aku yakin pasti akan hidup lagi
Nanti

Senin, 31 Oktober 2011

Saya (bukan) Cina

Saya bukan cina. Dan kalaupun ada darah cina yang (masih) mengalir dalam tubuh saya, itu sudah mengalami pengenceran beberapa kali sampai kadarnya mungkin tidak bisa terdeteksi lagi. Memang ada jejak yang masih terekam seperti prasasti di bagian mata, membuatnya tidak sebesar orang kebanyakan, tapi itu tidak lantas menjadikan saya terlihat seperti cina. Banyak pribumi yang matanya seperti orang keturunan, dan itu tidak menjadikan mereka seperti cina.

Bukan saya tidak bangga dengan (sedikit) darah cina yang mengalir dalam pembuluh darah saya. Bukan saya tidak mengetahui bagaimana silsilah atas kelahiran saya terbentuk secara pasti dan tidak terbantahkan. Saya hanya sudah tidak merasakan bagaimana aura kecinaan dalam diri saya bisa saya umbar karena konsentrasinya yang bisa disebut minim. Tapi bagaimanapun saya tetap bangga. Saya bangga nenek saya seorang cina tulen, saya bangga ibu saya setengah cina. Dan saya bangga menjadi seperempat cina.

Saya bangga menjadi seperempat cina selayaknya saya bangga menjadi seorang sunda. Darah sunda yang kental membuat penampakan saya menjadi sangat indonesia meskipun tidak bisa dibilang “terlihat” seperti sunda sejati. Melanin yang diwariskan turun temurun sebagai pigmentasi dalam kulit saya berkadar lebih dari orang sunda kebanyakan, menjadikan saya “murtad” dari kekhasan orang sunda itu sendiri yang kebanyakan berkulit bersih.

Kulit saya juga bersih, tapi hitam bersih. Sesuatu yang kadang membuat orang salah tafsir mengenai asal usul saya. Tidak nampak seperti cina, dan tidak nampak seperti sunda. Kemudian bolehlah saya mengkatagorikannya sebagai unik, keunikan yang sering saya tertawakan sendiri ketika saya sedang bercermin. Hal yang mulai sering saya lakukan ketika saya sudah mengerti bagaimana pohon keturunan atas saya terbentuk. Mentertawakan keunikan saya, yang seperempat cina dan tiga perempat sunda tetapi tidak mewakili keduanya.

Hal itu tidak membingungkan saya, saya hanya terlahir seperti ini. Born this way. Tetapi yang membingungkan saya adalah ketika ada orang yang tidak saya kenal kemudian menebak kalau saya memiliki keturunan cina. Beberapa hari yang lalu, saya sedang berkumpul dengan teman-teman cina saya, yang pasti akan membuat saya semakin terlihat “berbeda” dari mereka. Dan ketika saya pulang dari toilet dan sedang berjalan ke arah meja kami seorang bapak-bapak cina menyapa saya dan bertanya, “Kamu masih ada keturunan cina yah?” Seketika saya bengong, dan hanya “Hah?” yang muncul dari mulut saya.

Bagaimana si Bapak bisa membaui kalau saya masih ada keturunan cina walau encer? Padahal saya merasa sudah tidak nampak cina sama sekali malam itu, jangankan nampak, darah “pelit” dan “irit” khas golongan cina saja sudah hengkang dari darah saya. Bukan rasis, tapi saya banyak belajar dari teman-teman cina dan nenek saya tentang “kepelitan” mereka. Jadi bagaimana Bapak itu menerka kalau saya masih ada keturunan cina? Apa karena teman-teman gaul saya malam itu semuanya cina? Tapi bukankah kalau seperti itu saya malah nampak menonjol seperti dakocan di tengah area salju. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

Saya seperempat cina. Tetapi saya merasa sudah kehilangan esensi dari menjadi seperempat keturunan ras itu. Sudah tidak ada ciri menonjol yang bisa saya guar berlebihan karena saya memang tidak punya. Kalaupun ada yang masih melekat erat di darah saya mengenai kecinaan itu, itu hanya karena saya lebih menyukai cina. Sekiyan.

Kamis, 27 Oktober 2011

Berkatmu

Berkatmu aku rela berbincang-bincang lama dengan Tuhan dalam doa.

Sebetulnya aku belum tahu kalau itu kamu. Terlalu banyak rambu malah membuatku bingung untuk menterjemahkan semua pertanda kemana harus melangkah. Karenanya aku lebih banyak diam berharap setidaknya ada kunang-kunang yang datang dan menunjukkan kemana jalan untuk pulang.

Berkatmu aku jadi lebih sering meraba hati.

Mengeliminir apa yang dianggap tidak lagi pantas untuk dipajang di dinding perjalanan dan menggantinya dengan hiasan sesuai umur yang terpampang. Bukan berarti aku merubah diri menjadi orang lain yang mungkin asing, karena itu tidak mungkin. Aku hanya sekedar memperbaiki riasan yang pastinya tidak lagi sesuai dengan jaman.

Berkatmu aku seringkali larut dengan malam beserta gerimis yang turun perlahan.

Berharap. Mendamba. Atau paling tidak melambungkan impian tentang masa depan yang masih belum jelas gambarannya. Tapi itu tidak menggoyahkan tekadku untuk terus mengerami mimpi yang masih dalam cangkangnya. Belum tahu akan menetas seperti apa tapi setidaknya pasti membawa kebaikan. Bukan sesumbar, hanya yakin karena kebaikan niscaya akan berbuah kebaikan.

Berkatmu aku ingin tetap menjadi aku.

Kalau itu benar-benar kamu, maka kamu pasti akan menerima aku apa adanya. Mencinta tanpa syarat, mengasihi tanpa pamrih. Sederhana tapi mengalir deras seperti air bah yang meluncur dari puncak gunung, dan aku akan berusaha menampungnya tanpa tumpah. Karena bila benar itu kamu, maka aku harus melakukan hal yang sama. Mencinta dengan sepenuh nyawa.

Berkatmu aku terus berjalan. Tidak peduli pada rintangan yang pasti banyak menghadang.

Berkatmu aku terus menguntai doa. Tidak takut Tuhan akan bosan mendengar pinta yang hanya berkisar seputaran itu melulu. Hanya kamu dan kamu.

Berkatmu aku beranjak dewasa.

Berkatmu aku belajar bersabar dan menunggu.

Berkatmu aku tidak bosan bertanya. Benarkah itu kamu? Jodohku?

Senin, 24 Oktober 2011

RINDU

Rindu itu adalah ketika aku masih bisa merasakan rumput basah yang menggelitik telapak kakiku di halaman belakang rumahmu, padahal waktu sudah bergulir seiring dengan sobekan-sobekan almanak yang bertempo dinamis.

Mereka mengendap dalam labirin-labirin panjang tanpa sekat di sebuah padang ilalang subur tak terurus. Mempertontonkan ranum tarian angin yang membelai bulir-bulir kembang ilalang seakan menggoda dan mengajaknya berdansa.

Rindu itu adalah ketika aku masih bisa membaui aroma tubuhmu bahkan ketika kamu belum sepenuhnya masuk pintu. Menunggang udara, mereka menyapa lebut syaraf-syaraf penciumanku kemudian mencumbunya perlahan. Berkarat dalam rongga ingatan.

Perantaraan segala wahana, mereka minta dihadirkan meskipun aku tidak menghamba. Membuat limbung seketika karena aku seringkali tidak siap menerima hantamannya yang membabi buta. Mendesirkan selaksa lewat darah yang kuat terpompa menjelajahi setiap inchi bagian tubuhku, menjajahnya dengan leluasa.

Rindu itu adalah ketika aku masih seperti dalam rengkuhanmu padahal dulu itu malam terakhir kita berjumpa. Kamu pamit, tapi pori-poriku selayaknya terbungkam keringat yang meleleh gemetar dari erat yang tercipta. Mereguknya dan disimpan di jambangan rahasia untuk diuapkan sedikit demi sedikit sesukanya, bahkan ketika aku sudah hampir lupa.

Mereka menari. Bercanda. Bahkan tertawa lepas dalam palung-palung emosi yang memenuhi halaman rasa yang aku pelihara. Mereka sengaja menjebakkan diri pada palung buntu tanpa saluran sehingga tidak bisa lepas dari jeratan. Menenggelamkan diri dalam ceruk dangkal yang mudah tergambar membentuk bayangan. Memutar kisah antara aku dan kamu dalam bumbu kerinduan yang tertahan.

Rindu itu ketika kita berlarian di jalanan aspal tanpa sandal. Berebut berburu layang-layang yang putus tanpa tujuan. Tidak peduli lagi pada luka parut yang mungkin akan tergores, tidak takut pada matahari yang garang memanggang.

Dalam selokan mereka berdiam, dorman ketika lingkungan dirasa tidak menguntungkan. Seperti spora cendawan yang menyelubungi diri dengan selimut tahan ancaman, mereka hidup menghimpun tenaga untuk pecah suatu masa. Menyebarkan anak panah untuk menancap pada simpul-simpul syaraf yang membuatku tak bergeming menghadapi serangan.

Aku bertahan, meski kadang kala air mata meleleh perlahan. Membentuk alur memanjang sebagai pertanda suatu kepedihan. Aku menguatkan diri dengan mengkerut di pojokan, menonton kilas balik masa lalu yang menggantung dalam layar ingatan. Seperti godam yang berulang-ulang memukul ujung saluran pencernaan, tidak berhenti hingga semuanya termuntahkan tanpa sisa dan meninggalkan perasaan lega.

Rindu itu adalah seperti saat ini. Ketika aku rindu merindukan seseorang. Sepertimu. Dulu.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Unfaithful (repost)

Saya selingkuh.

Saya tahu saya salah. Saya melayani tawaran hati ketika hati saya sebenarnya telah termiliki. Saya bermain api yang saya sadari bisa membakar diri saya sendiri.

Saya tahu saya salah. Tidak perlu kemudian saya menyalahkan orang lain atau pasangan saya sebagai pemicu tindakan itu. Cukup saya menyadari kemudian merefleksi langkah yang selanjutnya harus ditempuh. Belajar dari segala kebodohan yang telah terlajur dilakukan. Menjadi dewasa dengan cara yang sebenarnya tidak dianjurkan.

Pasangan saya tidak salah. Meskipun dia posesif, meskipun dia banyak melarang saya untuk melakukan ini dan itu bahkan dengan alasan yang seringnya tidak masuk akal, dia tetap tidak salah. Harusnya saya bangga dicintai sedemikian rupa. Harusnya saya bersyukur dianugerahi pasangan yang menyayangi saya melebihi kapasitas saya menyayangi dia.

Selingkuhan saya tidak salah. Dia datang dari masa lalu, menggagas cerita lama untuk dirunut kembali, kemudian menawarkan hati warna merah jambu untuk direguk sarinya. Dia tidak salah, dia hanya datang disaat yang tidak tepat. Datang disaat hati saya sudah berlabel milik seseorang. Hati yang sedang dilanda berontak karena aturan yang makin hari dirasa memberatkan. Hati yang bimbang antara ingin bertahan dan ingin menyelesaikan.

Saya salah. Saya tergoda. Saya selingkuh.

Sebagai manusia biasa, meskipun saya tahu saya bersalah, saya ingin membela diri. Bukan mencari pembenaran, karena jelas-jelas salah. Bukan mencari bala bantuan yang akan mengiyakan karena sejuta iya tetap akan membuat saya sebagai yang bersalah. Saya hanya ingin menjelaskan, atau mungkin lebih tepatnya bercerita. Jangan dihakimi, saya sedang tidak butuh itu. Biarkan saya menghakimi diri saya sendiri. Dengan cara saya.

Saya tidak suka dilarang-larang. Tidak boleh gym, tidak boleh online di YM atau Gtalk, tidak boleh mengumbar cerita di blog, bahkan lebih parah saya dibatasi untuk bertemu teman-teman saya. Hidup saya tidak melulu soal dia, saya punya hidup saya sendiri. Saya ingin menjalani apa yang ingin saya jalani, meskipun tetap akan mengorbit pada dia. Jadi kenapa harus melarang-larang. Toh saya akan tetap hadir mengelilingi lintasan orbit dengan dia sebagai porosnya. Kenapa harus takut.

Lama-lama saya bosan. Saya terkekang. Saya mencari pelarian.

Ketika saya sedang berlari membawa hati yang bimbang, saya bertemu godaan. Manis. Godaan selalu manis, meski akhirnya pasti pahit. Saya salah karena saya melayani, saya salah karena saya kemudian tidak bertutur tentang kebenaran kalau saya sudah bersama seseorang. Entahlah, waktu itu saya memilih bungkam. Saya pikir saya akan keluar sebagai pemenang, ternyata saya jadi pecundang. Saya terlena. Hati saya terobati.

Beruntung saya menyadari dengan cepat sebelum semuanya menjadi rumit. Saya membuat pengakuan kepada keduanya. Membuat semacam list dosa. Saya tidak membela diri di hadapan mereka karena saya salah. Saya hanya ingin menyelesaikan semua urusan, mengakui apa yang memang harus saya akui.

Saya melepas keduanya. Hanya untuk bersikap adil menurut versi saya. Saya beranjak dari dua hati yang sama-sama ingin bertahan. Saya sudah terlanjur menyakiti keduanya, jadi saya tidak ingin menyakiti lebih salah satunya dengan memilih satu diantara mereka. Biarkan saya tetap menjadi saya yang bersalah, yang telah terlena dan tergoda. Saya yang berlari membawa kekeliruan kedalam kekeliruan baru.

Terakhir, untuk kesekian kalinya ijinkan saya untuk kembali mengucap maaf!

Note: Artikel ketiga yang diterbitkan di book of cheat jilid 3 oleh publisher Nulis Buku

Kamis, 20 Oktober 2011

I Love My Ally

Saya mengenal Ally ketika saya masih berpakaian putih biru. Perkenalan yang tidak disengaja tetapi memberikan kesan yang begitu mendalam. Ally memberi saya pengalaman jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah bagaimana awalnya, tetapi sejak saya melihatnya hati saya berucap bahwa dia sosok yang menyenangkan. Seorang perempuan yang bisa membawa saya merasakan arung jeram perasaan yang sering kali dia pertontonkan.

Pertemuan saya dan dia memang dibatasi oleh waktu. Saya hanya memiliki kesempatan bertemu dengannya seminggu sekali, itupun tidak jarang saya melewatkan pertemuan itu karena saya ketiduran. Bodoh, padahal sedari pagi saya sudah menuliskan jadwal dalam hati untuk bertemu dengannya. Kalau sudah seperti itu, ketika saya terbangun dan Ally sudah tidak ada di tempatnya maka saya akan merasakan kosong. Seperti ruh saya diambil paksa dan hanya meninggalkan raga yang bebal rasa.

Ally seorang perempuan yang mandiri. Perempuan yang dengan keunikan karakternya justru membawanya menapaki setingkat demi setingkat undakan hidup menuju kesuksesan menurut takarannya. Saya banyak belajar dari dia, termasuk bagaimana mentertawakan banyak kebodohan ketika hal tersebut dilakukan tanpa sadar dan berefek panjang. Saya berkaca pada perempuan itu, mengambil intisari hidup dalam mata saya yang masih bocah.

Tak jarang saya mengamatinya ketika sedang menangis sendirian di kedai kopi, atau melampiaskan kekesalan serta kesedihannya pada berbotol-botol minuman keras. Saya tidak bisa melarangnya, saya tidak memiliki kapasitas itu karena saya dan dia seperti dipisahkan sebuah sekat kaca. Tembus pandang tapi tidak bisa saling bersentuhan. Karenanya saya hanya mengamati sambil berharap andai saja saya bisa mendatanginya dan merengkuhnya atau paling tidak menangis bersamanya.

Ally mengajarkan saya bagaimana menjadi sentimentil. Mendahulukan perasaan daripada logika dan akal nalar meskipun pada akhirnya tetap tersadar dan bangkit mengejar ketertinggalan. Ally sering membuat saya menangis dan tertawa disaat yang bersamaan lewat tingkahnya yang kocak sekaligus membuat haru. Sebal sebetulnya saya kalau dia sudah berlaku seperti itu, mengaduk-ngaduk perasaan saya sampai kadang saya bingung harus ikut tertawa atau justru mengeluarkan air mata. Tapi Ally pintar, di ujung setiap cerita yang dia pertontonkan dia selalu membuat saya tersenyum lega dan bertekad untuk menemuinya lagi di minggu berikutnya.

Kami bersahabat, atau lebih tepatnya saya bersahabat dengan dia sementara saya tidak tahu dia akan menganggap saya sebagai apa. Saya tidak mempermasalahkannya selama dia masih setia menyambangi saya di jadwal tetap pertemuan kami. Dia tidak pernah absen, tidak seperti saya yang selalu saja ada masa dimana saya melanggar janji untuk bertemu dengannya. Dia tidak pernah marah, tapi saya seperti dibebani karena saya akan luput mengetahui apa yang telah terjadi semenjak pertemuan terakhir kami. Dan pasti saya akan menyesal.

Lewat penuturan Ally, saya mencoba memahami hidup. Perbedaan usia tidak lantas membuat saya berhenti mengaguminya. Lewat sosoknya, saya mengecap bahagia luar biasa karena bisa menjadi semacam saksi dari perjalanan hidupnya yang saya akulturasikan dengan kehidupan saya sendiri. Jauh berbeda memang, tapi proses memahami hidup bagaimanapun akan tetap sama karena hidup mengajarkan bagaimana kita harus bertahan. Hidup memaksa kita berstrategi untuk sekedar menjadi seorang pemenang atau seorang yang beruntung. Dari Ally saya belajar semua itu.

Ally boleh saja pergi, tapi apa yang sudah dia torehkan di hati saya selama beberapa periode waktu tidak akan pernah hilang. Semuanya berbekas tanpa cela, siap diumbar kembali ketika saya ingin melakukan napak tilas seperti minggu kemarin. Saya mendatangkan lagi Ally untuk sekedar bernostalgia, sekedar mengingat kebodohan-kebodohan saya yang percaya bahwa perempuan itu bisa membuat saya bahagia. Tapi memang begitu adanya, ketika saya menghadirkannya lewat sekat kaca yang membatasi kami seperti kemarin saya tetap saja tertawa dan merasa bahagia.

Saya tidak bosan mendatangkannya dalam ingatan saya melalui gambar-gambar yang bergerak beraturan. Sampai kapanpun saya akan mengagumi Ally, Ally McBeal. Pengacara sinting yang hadir dalam serial TV berlangganan jaman dulu. Yang kemudian saya koleksi keping DVD-nya lengkap selama 5 season, 10 CD dan 13 episode dalam setiap Cdnya.

Selasa, 18 Oktober 2011

Setahun Yang Lalu

Hari ini setahun yang lalu, dia menyeberangi lautan untuk mengikuti kata hatinya. Menemui seseorang yang mungkin telah memporak-porandakan dinding pertahanannya tentang sesuatu yang selama ini dia sangkal mati-matian. Dengan tuntunan kepercayaan, dia menantang dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa rasa yang selama ini dia pendam tidaklah salah dan patut untuk diperjuangkan. Dengan percaya bermuatan setengah penuh akhirnya dia memutuskan datang.

Dia ternyata tidak salah prediksi. Tujuan yang semula dia lihat masih berbayang, lambat laun berbuah kejelasan. Seseorang itu melayani tangan yang dia ulurkan, bersedia menyemai benih yang sudah lama dorman dalam lubuk hatinya yang kerontang. Dia merasa tidak sia-sia sudah mempertaruhkan setengah hatinya untuk seseorang yang bisa dia ajak berjalan dalam temaram. Tidak peduli kalau cahaya yang hadir tidak seberapa, karena setidaknya ada seseorang yang bisa dia genggam tangannya untuk membantunya menemukan pintu ke arah terang.

Hari ini setahun yang lalu, dia mengambil langkah paling berani selama perjalanan karirnya. Meminta ijin paksa kepada atasannya untuk datang ke tanah jawa dengan alasan menyelesaikan masalah hati. Dia tidak peduli ketika sang atasan banyak mempertanyakan, memilih bungkam ketika banyak pertanyaan lanjutan. Karena buatnya itu tidak lagi penting ketika dia sudah dapat melihat jawaban yang semakin jelas di hadapan. Sebuah oase yang akan menuntaskan dahaganya tentang perasaan yang selama ini dia kerdilkan dalam pasungan. Perasaan yang membuatnya timbul tenggelam dalam koridor mempertanyakan.

Untuk pertama kalinya dia mengecap cinta yang tidak berwarna merah jambu tapi abu-abu. Mereguk apa yang orang bilang dengan asmara. Dia kemudian berkenalan dengan cemburu dan intrik ala sinema. Hidupnya menjadi berwarna penuh drama, apalagi seseorang yang dia genggam adalah pemuja prosa dengan peran yang sering kali tidak bisa diterka. Dan dia mau berdamai dengan semua itu entah untuk apa. Mungkinkah karena cinta? Atau hanya sekedar bertahan untuk meyakinkan bahwa ini adalah sesuatu yang selama ini dia cari dalam kegelapan? Tidak pernah ada jawaban.

Hari ini setahun yang lalu, dia dan seseorang itu berjalan beriringan. Mencoba saling meyakinkan diri sendiri bahwa jarak yang terbentang bukan lagi suatu halangan. Semua bisa dimanipulasi perantara suara yang bergetar melalui garputala berbayar pulsa. Mereka saling meyakinkan ditengah banyak keraguan karena sebetulnya mereka sadar benar bahwa jarak adalah suatu rintangan yang tidak pernah gampang. Bagaimanapun jarak tetaplah jarak, tidak bisa diakali. Jarak tetap menjadi sebuah barier bagi kepercayaan yang sedang diretas deras.

Hari ini, seseorang itu sedang mengenang. Mengurai lagi dalam diam cerita tentang dia yang pernah menyeberangi lautan hanya untuk menemuinya dan berucap cinta. Memang dia tidak ada lagi dalam genggaman karena dalam perjalanannya ternyata banyak yang tidak bisa dipersatukan. Banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya muncul justru memberatkan, membuat rentang semakin jauh dirasakan. Cerita harus diakhiri dengan cara yang tidak semestinya, saling membenci bahkan hingga saat ini.

Hari ini, seseorang itu sedang mengenang. Melabeli dia dengan predikat salah satu kekasih terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan untuk membuatnya merasa sempurna. Dia yang pernah memberinya kebahagiaan, dia yang pernah memberinya air mata, dia yang sampai sekarang masih menimbulkan keraguan apakah dia bersedia diberi kesempatan kedua?

Hari ini, seseorang itu mengenang bahwa setahun yang lalu dia pernah punya pacar.

Kamis, 13 Oktober 2011

Hujan Musim Ini (Repost)

Aku menghargai kejujuranmu yang telah mengakui bahwa sebetulnya kamu masih memiliki seorang kekasih. Entah kemudian menurutmu itu kekasih di luar nalarmu, di luar logikamu, tapi tetap dia disebut kekasih, seseorang yang pastinya masih mengisi tempat teristimewa di hatimu. Aku menghargai semua niat baikmu sehingga kamu masih menghormati aku dengan berterus terang. Sebelum semuanya berjalan lebih jauh.

Aku tidak ingin cinta menjadikanku bodoh. Aku tidak ingin cinta membuat jiwaku menjadi kerdil. Dan apabila kemudian aku mau berkompromi dengan semua keadaanmu itu artinya aku bodoh, dan aku membiarkan jiwaku kerdil. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menang bersaing dengan cinta yang masa tumbuhnya berkelipatan 365 hari itu. Aku akan selalu kalah tersisih. Tak peduli meskipun kamu bilang bahwa dia sebenarnya kosong, bahwa mencintai dia sungguh di luar akal sehatmu. Aku akan selalu kalah.

Mungkin aku kamu anggap bisa mengisi kosong yang kekasihmu beri, tapi itu artinya aku akan hidup dalam bayang-bayang dia. Dan aku tidak mau seperti itu. Apabila hubungan kalian sudah hitungan tahun, artinya selama ini kamu sudah berkompromi dengan kekosongan itu. Kenapa sekarang kamu justru seperti kebakaran jenggot dengan complain bahwa dia kosong? Jangan jadikan aku sebagai alasanmu mengugat kekosongan itu.

Kamu boleh bilang bahwa mencintainya di luar nalarmu, bahwa mencintainya membuatmu menomersekiankan logika. Tapi, ketika hubungan itu bisa kamu pertahankan sampai sekarang kamu bukan lagi hidup di luar nalar, tidak lagi mengabaikan logika, kamu sudah nyaman. Nikmati kenyamanan itu, jangan kemudian berontak karena kamu pikir aku bisa menutupi kekosongan kekasihmu. Aku mungkin hadir di saat yang tidak tepat, memberikan sensasi baru yang mungkin hanya sebuah selingan.

Gambar puzzle hati di dadamu mungkin tidak penuh karena kekosongan yang menurutmu dimiliki oleh kekasihmu itu, tapi selama hatinya masih bisa mengalunkan isyarat cinta kenapa harus dipermasalahkan. Aku mungkin bisa pas dengan potongan puzzle yang belum lengkap itu, tapi aku yakin warna gambar hatinya akan berbeda, dan aku hanya akan tetap menjadi potongan puzzle. Bukan gambar hati utuh. Karenanya aku memilih untuk mundur. Aku tidak ingin cinta menjadikanku tidak adil terhadap dia. Kekasihmu.

Hujan masih menyisakan genangan air meski bau tanahnya sudah menguap. Genting masih basah setelah sesaat dicumbu rinai hujan. Basah hujan musim ini aku memutuskan untuk beranjak dari sana, dari kepingan harapan yang sebelumnya aku kembangkan. Maaf jika aku kemudian menutup akses komunikasi diantara kita. Tolong beri aku waktu untuk menyembuhkan luka, karena layaknya gerimis, kamu hanya datang sesaat. Dan dalam kesesaatannya itu kamu masih meninggalkan jejak. Jejak air mata.

Note: artikel kedua yang dimuat di book of cheat jilid 2 dan diterbitkan oleh publisher Nulis Buku

Senin, 10 Oktober 2011

Pertaruhan

Taruhan. Sudah sekian lama saya mempertaruhkan hidup saya di atas meja judi. Tidak ada kekhususan judi jenis apa yang menjadi favorit saya, karena saya hanya ingin bertaruh bukannya berjudi. Andaikan permainan anak-anak semacam galasin bisa diajadikan ajang taruhan, saya pasti sudah mempertaruhkan hidup saya disana. Menikmati ketegangan, mencari keberuntungan.

Lewat dadu yang dilempar atau kartu yang dihentak bergantian, saya mempertaruhkan hidup saya. Mengatur beragam strategi untuk mendapatkan kepuasan batin yang tergambar melalui seulas senyuman kemenangan. Saya seringkali tidak tertarik dengan hadiah utama, karena proses bagaimana jantung saya berpacu seiring dengan deru kocokan dadu atau kocokan kartu mejadi hal yang menurut saya lebih penting untuk dinikmati.

Tidak jarang saya terlewat gila, saya gadaikan tidak hanya sebagian hidup saya tapi hampir keseluruhannya. Yang tersisa mungkin hanya kepercayaan bahwa siapa tahu saya menang. Siapa tahu saya bisa memberikan hidup saya sensasi arung jeram adrenalin yang akan membuatnya lebih kuat. Tempaan-tempaan semacam ini memang saya perkenalkan pada hidup saya agar dia tidak cengeng, agar dia tahu bahwa ada rasa yang disebut dengan kekalahan.

Saya bukan Tuhan, jadi tidak selamanya saya menang. Saya sering dipaksa menyicip kalah, dan kekalahan itu akan saya nikmati dengan mengemasi hati. Beranjak dari ajang pertaruhan itu untuk menjajal arena pertaruhan baru. Bagi saya mengemasi hati bukan lagi sesuatu yang dirasa sulit, aneka pengalaman telah memberi saya awahan untuk melakukannya sesederhana menghirup udara. Memang kadang arena pertaruhannya meninggalkan jejak yang tidak mudah dihilangkan, merapat erat pada hati selayaknya lintah yang belum puas mereguk darah. Tapi saya tetap berkemas dan terus berjalan.

Waktu akan menyembuhkan. Mengikis perlahan ketidakberuntungan yang saya pernah taruhkan di meja perjudian, meski tetap akan meninggalkan sebuah ceruk seperti bopeng akibat jerawat yang digaruk paksa. Kalau sudah seperti itu maka saya akan membungkusnya dalam kristal memori untuk saya telan dan simpan di lobus khusus hati saya. Kristal bening yang bisa saya terawang isinya ketika suatu saat saya ingin bernostalgia. Bukan mengungkit, karena saya hanya melakukan wisata hati. Memutar film dokumenter yang ceritanya sudah pasti usang.

Waktu akan menyembuhkan. Memberikan kekuatan baru untuk saya mempertaruhkan hidup di arena perjudian yang berhadiah sama. Saya tidak akan pernah tahu saya menang kalau saya tidak bertaruh. Saya tidak akan pernah bisa mengklaim kalau saya seorang pecundang, apabila saya tidak menggadaikan kepercayaan saya kemudian kalah. Saya hanya menjalani hidup dengan mengecap pertaruhan demi pertaruhan, dengan harapan di salah satu ujung pertaruhan entah yang mana saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan.

Kali ini, entah untuk yang keberapa belas kali, saya pasang taruhan kemudian bermain sesuai aturan. Tidak banyak yang saya pertaruhkan, hanya segenggam hati perak kecil berisi anyaman kepercayaan yang saya inisiasi sejak lama. Sesaat sebelum saya melemparkan kocokan kartu ke landasan, saya terpejam dan berharap bahwa pertaruhan saya dengan takdir di permainan ini akan saya menangkan dan mengantarkan saya pada seseorang yang akan saya panggil jodohku.