Senin, 30 November 2009

Hadiah, Kenangan dan Persahabatan

Hal yang pertama saya lakukan ketika saya sampai rumah di Bandung adalah masuk kamar. Hadiah sebagai oleh-oleh dari maminya si mata segaris sedemikian menarik rasa ingin tahu saya. Sebenarnya saya lebih tertarik pada hadiah yang diberikan si mata segaris sebagai kado ulang tahun yang prematur. Ya, prematur karena ulang tahun saya masih sebulan kedepan.

Saya tidak bertanya-tanya lagi kepada mami tentang pertemuannya dengan maminya mata segaris tempo hari. Saya tidak ingin mami malah jadi banyak bertanya tentang ini dan itu. Saya tidak sedang ingin banyak berbohong juga, jadi langkah yang paling bijaksana menurut saya untuk dilakukan adalah dengan tidak mengungkit-ngungkitnya. Membiarkan pertemuan itu berbekas dengan caranya sendiri di hati mami saya maupun maminya si mata segaris.

Hadiah itu terserak di atas tempat tidur yang rapi karena jarang saya tiduri. Saya hanya mengisi kamar itu ketika saya pulang ke Bandung, dan itu menjadi salah satu hal yang selalu saya rindukan. Bau kamar tidur saya.

Saya mengeluarkan hadiah yang terbungkus kertas berwarna biru dan berpita itu dari plastiknya. Sejenak saya bisa merasakan kalau saya tersenyum, hati saya penuh. Saya merasa terlempar pada masa-masa pendekatannya dulu. Dia selalu memberikan hadiah yang dibungkus kertas berwarna biru dan berpita. Selalu. Tidak peduli meskipun hadiahnya sederhana, tapi dia selalu konsisten dengan kertas warna biru dan pitanya. Angan saya dilambung kenangan akan masa lalu kemudian.

Perlahan, kertas biru itu saya robek. Saya koyak dengan rapi sesuai jalurnya. Saya menghargai setiap detail cara pembungkusannya karena saya tahu si mata segaris sangat suka membungkus hadiah. Saya pernah mengatainya aneh karena hobinya itu, dia hanya tersenyum, senyum yang membuat matanya yang kecil semakin hilang ditelan kelopaknya.

Sebuah cardigan hitam dan sebotol parfum terkuak dari dalam kardus berbungkus kertas biru dan berpita itu. Dua benda yang saya suka setengah mati, dan dia masih mengingatnya. Malam itu, ketika hujan membasuh Bandung hingga basah, lagi-lagi saya dipaksa untuk terlempar ke belakang, ke masa lalu ketika kami masih berjanji untuk bersama. Dulu, ketika kami belum memutuskan untuk berjalan tak lagi bergandengan di jalan yang terbentang. Dulu.

Kartu ucapannya saya baca. Lagi-lagi hati saya penuh, dilimpahi kenangan-kenangan ketika cinta itu masih ada di sana. Di hati saya. Rasa cinta yang kemudian menguap dan mengkristal entah menjadi apa. Dalam kartunya dia menulis.

Buat Apis,

HAPPY (EARLY) BIRTHDAY!
WISHING YOU ALL THE VERY BEST HAPPINESS…

Apa kabarmu sahabat? Semoga semuanya berjalan sesuai dengan yang selalu aku harapkan. Maaf kadonya datang lebih cepat soalnya sekalian mumpung mami nengokin aku disini. Lumayan, ngirit ongkos kirim. Hahahaha, cinanya keluar.

Di sana pasti sudah sering hujan ya? Makanya aku kasih kamu cardigan. Aku masih ingat kalau kamu lebih suka pakai cardigan ketimbang jaket. Mudah-mudahan bisa dipakai untuk sedikit mengenyahkan dingin. Jangan lupa buat jaga kesehatan juga, kamu kan gampang kena flu.

Pokoknya, aku berharap di umur kamu yang sekarang ini kamu bisa lebih dewasa dalam menjalani hidup. Lebih bijaksana dalam memutuskan segala sesuatu. Lebih baik juga dari sebelum-sebelumnya. Amien. Cepetan sekolah lagi! Sekolah itu menyenangkan. Bikin kita selalu merasa muda, meskipun buat aku berada dekat kamu selalu bikin aku merasa muda. Ketawa-ketawa terus sih.

Oke deh sahabat, pokoknya aku selalu berdoa yang terbaik untukmu. Eniwei, apa rencanamu akhir tahun ini? Mengunjungi Suramadu kah? Denger-denger kamu mau jadi orang Madura ya? Hahahaha, becanda. Aku masih berharap kok kalau kamu suatu saat jadi orang Singapur. Udah ah, malah ngelantur.

Hugs,
Mata Segaris


Saya berulang-ulang membacanya, dan berulang kali juga saya tersenyum dibuatnya. Saya bisa dengan jelas membayangkan mimik mukanya ketika menulis semua itu.

Sahabat? Ya akhirnya konsep persahabatan yang memang kami usung sekarang. Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian, tapi untuk sekarang bersahabat mungkin jalan yang paling indah untuk dilalui. Persahabatan yang tidak ada lagi benci, persahabatan yang tidak ada lagi mengorek-ngorek kesalahan di masa lalu. Persahabatan yang akan berjalan ke depan, bukannya tertambat di belakang.

Mata segaris, Terima kasih!

Jumat, 27 November 2009

Something Wrong With Me

Ada yang tahu tempat rukhiah atau ahli ruwatan yang bagus gak? Seriusan nih….Kalau bisa rukhiah aja deh, biar lebih agamis. Kan pake ayat-ayat Quran.

Beneran, kayaknya gue butuh dirukhiah, dikeluarkan Jin atau makhluk-makhluk halus lainnya itu deh. Ada sesuatu yang aneh sama diri gue belakangan ini, dan keanehan itu bukan hanya datang sekali. Berulang kali, dengan masalah yang itu-itu juga. Makanya gue ngerasa kalau ada yang salah. Dan gue jadinya mikir kalau harus dirukhiah.

Entah aura gue yang lagi beda, atau ada yang berubah sama aura PENDIAM gue itu, tapi yang pasti gue ngerasa kalau aura gue nggak kaya dulu lagi. Sekarang aura gue justru menarik orang-orang yang tidak diharapkan kehadirannya . Mungkin ini kerjaanya jin dalam tubuh gue itu, atau bisa jadi mahluk-mahluk itu mensabotase kinerja auranya. Gue nggak tahu, pokoknya gue cuma sadar kalau ada yang salah dengan diri gue.

Masa dalam dua bulan terakhir ini, banyak sekali yang menawarkan hati (lebay mode on). Harusnya bagus donk, yang artinya pasaran gue lagi naik. Kan jarang-jarang, dulu mana pernah bisa begitu. Kering. Hehehehe. Tapiiii, ya itu tadi kenapa yang datang membawa hati justru orang dengan status yang nggak gue harepin. Ada aja masalahnya. Yang datang menghampiri itu kalau nggak pacar orang ya ayahnya anak-anak. Dua status yang bikin hidup ini bakalan ribet. Jangankan memulai suatu hubungannya, berpikir untuk memulai aja udah ribet.

Gue memang pendukung kubu kalau cinta gak boleh buta. Cinta harus punya mata. Jadi meskipun gue udah jatuh cinta setengah mati sama tuh orang (yang cinta itu tumbuh karena biasanya di awal mereka nggak ngaku kalo udah punya apacar atau udah jadi ayahnya anak-anak), gue harus mengakhirinya segera. SEGERA. Gue nggak pengen cinta menjadikan gue orang yang menyedihkan. Gue nggak pengen cinta bikin gue harus jadi selingkuhan. Been there done that. Sumpah, jadi selingkuhan itu nggak enak, apalagi buat gue yang kadang nggak suka berbagi.

Alasan lain adalah gue ingin bersikap adil. Sama si pacarnya atau sama keluarganya terlebih sama diri gue sendiri. Gue pernah diselingkuhin, dan rasanya sakit. Gue nggak pernah mentolelir kelakuan itu apapun alasannya. Meskipun alasannya karena gue kosong, atau gue terlalu sibuk, atau gue mungkin terlalu pasif. Semuanya nggak masuk akal, karena bisa dikomunikasikan. Kalaupun sudah tidak merasa nyaman, apa susahnya bilang dan mengakhirinya baik-baik bukannya malah mengambil tema hidup kalau bisa dua kenapa harus satu. Sialan.

Selain dua status itu, kemarin-kemarin juga ada orang yang berusaha mendekat tapi ya ampun pasifnya setengah mati. Alasannyanya sih takut bikin gue merasa nggak nyaman, meskipun akhirnya gue punya pikiran kalo justru dia yang takut nggak nyaman jalan sama gue. Please deh!! Buat ngakalin keadaan itu, dia selalu mengajak sahabatnya kalau mau ketemuan sama gue. Bahkan ketemuan itupun selalu sahabatnya yang menginisiasi. Capek…Kenapa sih nggak yakin atau percaya sama hatinya sendiri, kalau memang nanti jadinya garing dan bikin suasana gak nyaman, ya udah diterminasi. As simple as that. Yang model-model pasif beginian juga bikin gue langsung teriak COREEEEEET!!!!

Makanya nih, kayaknya butuh banget tempat rukhiah, setidaknya buat mengeluarkan aura-aura jahat dan kotor itu. Biar auranya kena sama yang single-single dan appropriate aja. Nggak usah sama yang aneh-aneh, atau biarin aja aura nggak lakunya yang keluar. Lebih nggak ribet menata hatinya. Tolong ya, kalau ada yang tahu gue dikabarin. Yang nggak pake pegang-pegang badan lho yah! Kan bukan mukhrim. Hahahahaha. GELOOOO!

Rabu, 25 November 2009

Silent Treatment

Gue orangnya ngambekan. Kalo minjem istilahnya Fa, sumbunya pendek. Mudah terbakar. Jadi untuk hal yang sepele aja, emosi gue bisa tersulut.

Masalahnya, gue kalo ngambek itu diem. Minjem istilah orang lagi ah, silent treatment. Gue bakal ngediemin orang yang udah bikin gue ngambek. Seberapa waktu silent treatmentnya sih tergantung gue, kadang bentar, kadang bisa lamaaaa. Suka-suka suasana hati aja, dan ini sudah berlangsung dari dulu, dari gue kecil. Keluarga gue aja udah ngerti kalo gue diem dan nggak nyapa-nyapa mereka artinya gue lagi ngambek. Terdengar sangat kekanak-kanakan, dan gue sadar kalau itu kelemahan makanya sedang dicoba untuk dihilangkan. Tapi kok susah yah?!

Sebagian besar orang-orang di sekitar gue udah pernah jadi sasaran silent treatment ini. Pasti mereka sebel banget deh sama gue kalo gue lagi bersikap seperti ini, tapi mereka juga ngerti kalau gue akan balik ke gue yang seperti biasanya. Kapannya itu yang biasanya mereka nggak tau, jadi mereka akhirnya diem juga. Diem-dieman kayak yang musuhan, padahal kesel atau marah gue udah ilang dari lama. Gue diem karena memang cuma lagi pengen diem.

Yang lebih memperparah kebiasaan gue memberikan orang silent treatment itu adalah karena gue orangnya well prepared. Semua sudah gue rencanakan jauh-jauh hari, jadi ketika ada orang yang mengacaukan semua rencana yang sudah gue susun dari jauh itu, gue jadinya bête. Gue ngambek, dan kalau gue ngambek gue diem. Mood gue bisa rusak berhari-hari karena rencana yang udah gue susun itu berantakan dan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Apalagi ketika rencana itu kemudian digagalkan di menit-menit terakhir.

Contoh kasus, gue janjian sama temen buat ketemu dari seminggu sebelumnya. Pas hari H, temen gue itu membatalkan acara 15 menit sebelum waktu yang ditentukan untuk kita ketemu. Gue pasti marah. Kenapa? 15 menit sebelum waktunya, berarti gue udah dandan, gue udah di jalan, gue udah terjebak kemacetan di beberapa ruas jalan. Gampang sih sebenernya, gue tinggal putar stir, berbelok pulang atau belok ke mall favorit gue dan mengerahkan temen-temen gue yang available buat ketemu disana. Masalah selesai. Tapi gue bête, bukan berarti karena gue punya banyak temen yang bisa gue kerahkan, rencana gue bisa diacak-acak seenaknya kan?!

Tapi kadang kita nggak bisa mengarahkan orang buat bertindak seperti apa yang kita pengen. Orang juga bergulat dengan sifatnya masing-masing, dan harusnya gue bisa berkompromi dengan itu bukannya malah ngambekan nggak penting yang totally childish. Tapi sumpah, susah banget ngilangin sifat ini lho, gue sadar banget itu kekurangan dan harus segera dihilangkan tapi beneran susah. Otak gue udah terpola dengan kalo bête ya marah, kalo marah ya diem, dan kalo diem ya lama.

Apa nggak ada kesempatan kedua? Pasti ada donk meski gue bukan Tuhan yang bisa langsung memaafkan. Tapi dalam diam itu gue biasanya udah maafin kok, cuman keselnya pasti masih ada jadinya masih diem. Dan itu cuman karena pengen diem aja.

Tapiiiiiiiiiiii, kalau udah dikasih kesempatan kedua dan masih suka batalin janji seenak perutnya, dan tetap merasa tidak bersalah. Gue pasti murka. Entah itu alasannya sakit atau apapun, masa sih nggak bisa ngasih kabar melalui sms. Gue bakal jauh lebih menghargai itu, karena seperti yang gue bilang, kadang gue udah nyusun acara itu dari jauh-jauh hari yang berarti gue banyak menghilangkan jadwal lain yang sebenernya bisa gue kerjain di hari itu.

Akhirnya gue cuman bisa balik lagi ke diri gue sendiri. Mungkin gue nya aja yang egois, yang gak pernah bisa ngertiin kondisi orang. Selalu memaksakan orang buat ngertiin gue tapi nggak pernah nyoba ngertiin orang. Ya, yang salah memang selalu gue. Ambekan, egois, childish. Tapi kayaknya kalau nggak ada itu, seorang Apisindica bakal jadi kurang lengkap. Pembenaran cara gue.

Buat yang pernah atau sedang merasakan silent treatment yang gue lakuin, gue minta maaf. Gue tahu gue yang salah, apalagi buat orang yang merasa nggak salah. Yang salah memang selalu gue kok, gue tahu itu. Jadi inget salah satu tagline : “kesempurnaan hanya milik Allah, kesalahan milik?: Dorce Gamalama” Itu yang bunda Dorce omongin di salah satu acaranya lho, bukan kata gue! Hihihihihihi. Sinting!

Senin, 23 November 2009

Mereka Bertemu (Akhirnya)

On the phone with my mom:

Mom : “Pis, kemarin sore ada ibu-ibu dateng ke klinik Mami. Udah agak berumur sih, tapi masih cantik. Katanya mau konsul, tapi pas liat foto keluarga kita di meja Mami itu Mami sama dia jadinya ngobrol. Dia kenal kamu, ibunya temen kamu ternyata”

Me: “Oh, kan biasa Mi, kalau ibunya temen aku yang periksa ke Mami. Eh, tapi temen aku yang mana yah Mi? Temen kuliah?”

Mom: “Bukan. Itu lho, temen kamu si mata segaris itu, yang lagi sekolah di Amerika. Mirip banget yah sama ibunya!”

Me : “Hah???”


Sesaat saya kehilangan semua kata. Saya terlempar pada ingatan saya akan sosok wanita itu, wanita yang dulu sangat dekat dengan saya. Iya dulu, saat saya masih berpacaran dengan anaknya. Si mata segaris. Wanita yang pernah meyakinkan saya bahwa cinta anakanya itu tulus dan sungguh-sungguh. Wanita yang dengan sangat terbuka menerima kehadiran saya di tengah-tengah keluarganya. Wanita yang juga mengatakan bahawa ternyata dia lebih menyayangi saya ketimbang anaknya sendiri. Dan wanita yang juga menangis karena merasa bersalah ketika si mata segaris kemudian menduakan cinta saya.

Entah memang kebetulan atau ada unsur kesengajaan, saya tidak tahu. Tapi apa maksudnya dia datang ke klinik ibu saya? Dulu dia pernah mengutarakan ingin mengenal ibu saya, dan saya hanya bilang untuk apa? Toh ibu saya tidak seterbuka dia. Ibu saya tidak mungkin melakukan hal-hal luar biasa yang dia berikan kepada saya. Saat itu dia hanya mengatakan ingin kenal. Dan lagi-lagi saya hanya tertawa, memangnya kalau sudah kenal mau ngapain? Dan memang, selama saya berpacaran dengan anaknya dia tidak pernah bertemu dengan ibu saya. Sampai kemarin. Entah untuk apa?

Mom: “Dan kamu tahu Pis, tadi kita makan siang bareng. Kemarin itu dia ngundang Mami, dan kebetulan siang tadi Mami nggak ada operasi jadi kita makan bareng deh. Orangnya baik yah, nggak sombong”

Me : “Haah??? Ngomongin apa aja mami sama dia?”


Jantung saya berhenti berdetak. Ribuan kekhawatiran hinggap di dada saya. Saya tahu wanita itu sangat bijaksana, jadi tidak mungkin dia membicarakan sesutu yang memang sebetulnya tidak layak untuk dibicarakan. Tapi tetap ada ketakutan di hati saya, karena ini sangat tidak wajar. Mereka bertemu, tanpa sepengetahuan saya, dan saya tidak punya gambaran apa yang mereka obrolkan kemudian.

Mom: “Banyak sih. Dia cerita kalau dia baru pulang dari Amerika, ngejenguk anaknya. Dan dia nitipin oleh-oleh buat kamu. Kata dia tadinya mau dikirim pake kurir tapi karena ketemu Mami, jadinya dititipin Mami aja. Ketidaksengajaan yang menyenangkan yah? Mami intip di rumah sih oleh-olehnya baju tuh, ada beberapa. Kayaknya dia kenal banget selera kamu deh. Terus ada yang dibungkus juga, kata dia kado ulang tahun buat kamu dari si mata segaris. Ulang tahunnya belum kok kadonya udah nyampe. Aneh.”

Kado dan oleh-oleh. Mudah-mudahan hanya itu motifnya. Hanya itu alasannya sampai dia mau bertemu dengan Ibu saya. Saya kehilangan semua ide tentang pertemuannya dengan ibu saya, benar-benar tidak habis pikir.

Berulang kali saya bilang sama wanita itu, bahwa kami, saya dan anaknya telah selesai. Sudah tidak ada cinta lagi. Tapi meskipun begitu, saya tidak akan pernah merubah sayang saya sama dia. Wanita hebat yang mau dengan keikhlasan hati menerima keadaan anaknya, tanpa menggugat lagi. Wanita yang mungkin hanya satu diantara seribu wanita di Indonesia, yang melihat anaknya tidak hanya dari satu sisi.

Me : “Udah gitu aja, nggak ngobrol apa-apa lagi? Apa jangan-jangan Mami janjian lagi sama dia ya?”

Mom: Nggak kok, nggak janjian lagi. Besok dia pulang ke Singapur. Tapi dia ngajakin Mami buat belanja bareng di Singapur. Malah ngajakin nginep di rumahnya aja disana. Baik banget yah, padahalkan kenal juga baru”


Wahai wanita yang hatinya entah terbuat dari apa. Saya minta jangan seperti ini. Jangan membuat saya selalu serasa berjalan di tempat. Berputar-putar di cerita yang itu-itu juga. Saya tahu kamu menyayangi saya selayaknya anakmu sendiri seperti yang sering engkau bilang, saya juga tahu bahwa kamu masih memiliki keinginan untuk melihat saya dan anakmu si mata segaris itu untuk bersatu kembali. Tapi untuk saat ini saya tidak bisa, saya tidak bisa mempercayai hati saya sendiri. Mempercayai bahwa jarak yang terentang bisa dimanipulasi, hati yang terpisah bisa diakali. Saya belum bisa percaya. Mungkin nanti saya bisa belajar percaya atau justru saya tidak akan pernah percaya. Saya tidak tahu.

Wahai wanita yang memiliki cinta tak hanya yang kasat mata. Ijinkan saya tetap menyayangimu dengan cara saya, dengan jalan yang saya sudah putuskan untuk saya titi. Tapi jangan seperti ini, datang hanya kemudian memberi saya langkah bimbang. Cinta saya pada anakmu mungkin telah tidak ada, tapi percayalah kalau cinta saya kepadamu tidak akan pernah berubah. Sampai kapanpun, saya sudah terlajur menyayangimu sepenuh hati. Ijinkan saya menganggapmu hanya sebagai ibu. Jangan berharap lebih.

Me: “Makanya itu Mi, karena baru kenal itu jangan terlalu percaya sama orang. Pake mau belanja bareng segala. Dia memang baik sih, tapi kalau baru kenal kayaknya berlebihan deh”

Mom: “Iya, Mami juga ngerti. Lagian tadi juga Mami nggak bilang iya, mami cuma bilang mungkin nanti kapan-kapan. Ya udah ah, Mami ada pasien lagi”


Sambil menikmati tarian hujan yang dipertontonkan awan, saya menitipkan rindu untuk wanita itu melalui rintik yang mengecup aspal jalan. Kepada angin saya mewartakan bahwa saya meminta maaf untuk kesekian kalinya, karena saya sudah menamatkan rasa cinta saya pada anaknya. Si mata segaris.

Jumat, 20 November 2009

Di Atas Kereta

Pagi itu seperti biasa, kita bertemu dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri. Ini sudah kesekian kalinya kita bertemu dalam kondisi yang sama. Kadang kita berdekatan, tapi kadang juga berjauhan meski dalam posisi yang itu-itu juga. Aku duduk dan kamu berdiri.

Aku tahu kamu sering mengamatiku seperti kamu juga tahu kalau aku diam-diam mengamatimu. Radar kita tidak hanya menyala, tapi sudah berteriak-teriak dengan kencang. Sayang belum ada keberanian dari aku maupun dari kamu untuk sekedar menyapa, atau setidaknya tersenyum ramah. Kita sudah dipertemukan oleh waktu yang selalu berpihak, tapi kita tidak pernah berusaha mencoba untuk memanfaatkan waktu itu.

Aku heran, kenapa dari sepuluh gerbong yang ada, aku dan kamu selalu memilih di gerbong yang sama, dan selalu dalam kondisi aku duduk dan kamu berdiri. Mungkin kamu harus datang lebih awal supaya setidaknya kita bisa duduk sebelahan atau berhadap-hadapan. Atau mungkin nanti bila ada kesempatan lain, aku harus menawarkanmu duduk di tempatku. Aku harus mencari cara untuk paling tidak membuka sedikit percakapan.

Aku bisa melihat dengan jelas sesuatu dibalik tatapan itu, tatapan yang ketika kupergoki akan kamu alihkan ke luar jendela atau ke koran yang sedari tadi kamu pegang. Rasanya lucu, melihatmu kikuk seperti pagi itu. Rasanya hangat ketika untuk beberapa detik pandangan kita beradu, meski akhirnya kita sama-sama membuang muka karena malu. Aku tahu kamu merasakan hal yang sama. Sayang, kita hanya berkomunikasi perantaraan udara.

Cara kamu berpakaian selalu menarik perhatianku. Kadang kamu bisa sangat rapi tapi tak jarang juga kamu bergaya sangat cuek. Kamu ingat ketika jumat itu, ketika untuk kesekian puluh kalinya kita bertemu dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri, kamu hanya mengenakan polo shirt putih yang dipadukan dengan jins belel itu? Kamu benar-benar menyihirku, memantraiku untuk selalu mencuri pandang ke arahmu, dan kamu dengan cekatan selalu memergoki ketika aku memandangmu. Kamu manipulatif, kamu tahu apa yang akan terjadi dan kamu memanfaatkannya.

Satu hal yang selalu tergambar dengan jelas dalam otakku selain sorot matamu yang penuh makna, kamu kurus. Untuk ukuran tinggi sepertimu, kamu terlalu kurus. Makanya berbincanglah kapan-kapan denganku di kereta pagi yang biasa kita naiki, kita berteman. Nanti akan aku temani kamu makan, aku menontonmu makan maksudku. Atau aku akan menemanimu makan dengan takaranku, setengah porsi untukku, satu setengah porsi untukmu.

Pagi itu, dalam posisi aku duduk dan kamu berdiri, di atas kereta pagi yang membelah Jakarta, aku mengirimkan banyak isyarat melalui udara. Berharap kamu menangkap dan memahaminya.

Rabu, 18 November 2009

Denial Phase

Semalam saya bertanya kepada hati saya. “Betulkah saya sekarang berada dalam fase penyangkalan seperti yang dibilang salah seorang sahabat?”

Lama, tak ada jawaban.. ……Yang saya dapatkan hanya sunyi.

Saya beralih bertanya pada otak, karena saya berpikir bahwa otak biasanya lebih realistis. Tidak lagi mempertimbangkan perasaan. Tapi yang saya dapatkan juga diam. Otak saya seperti mogok tidak mau diajak berpikir, bahkan sekedar untuk memberikan komentar.

Akhirnya saya berbincang dengan diri saya sendiri. Entah dengan siapa, karena hati dan otak yang biasanya bisa saya andalkan keduanya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Saya berbincang dalam hening, dan mungkin lebih tepat dilihat seperti pentas monolog, karena hanya saya yang berbicara. Tanpa ada sahutan.

Seperti orang bodoh, saya terus-menerus mendengungkan berbagai pertanyaan, meski saya tahu bahwa tidak akan ada jawaban. Tapi itu lebih baik, setidaknya saya tidak sedang merasa dihakimi. Saya bertanya, saya juga yang menjawab.

“Apakah ketika saya mengatakan untuk saat ini tidak sedang membutuhkan seorang kekasih, Saya dikatagorikan dalam fase penyangkalan?” Saya merasa itu bukan salah satu bentuk penyangkalan. Saya justru sedang bersikap sangat realistis. Belajar dari berbagai pengalaman yang hadir silih berganti, dari titian waktu yang bergerak dalam jalur perjalanan, saya merasa bahwa kehadiran seorang kekasih bisa dieliminir dengan berbagai hal. Terdengar absurd mungkin, apalagi bagi sebagian orang yang mengenal saya dengan baik.

Tidak sedang membutuhkan kekasih bukan berarti kemudian saya berhenti mencari. Saya tetap mencari tetapi tidak ngotot seperti dulu. Tidak lantas mengambil segala cara untuk menggenggam cinta, bahkan dengan mencoba merebut kekasih orang. Saya benar-benar malu pernah berada di titik itu. Saya selalu yakin akan kekuatan Doa, dan saya sangat yakin kalau Tuhan mendengar. Jadi apakah ketika saya berdiri dalam bentuk kepasrahan seperti ini saya disebut sedang dalam tahap penyangkalan?

Saya mempunyai tiga orang sahabat yang bertemu pertama kali perantaraan blog ini, dan sekarang mereka semua sudah berbahagia dalam kaca mata saya. Hidup dengan cinta yang mereka yakini, bertemu dengan pasangan jiwa yang membuat mereka merasa lengkap. Apakah saya iri? Pasti, siapa yang tidak iri dengan hal itu, tapi perasaan ikut berbahagia bagi mereka jauh lebih banyak ketimbang perasaan iri saya. Salah satu bentuk kebahagiaan saya adalah melihat sahabat-sahabat berbahagia dalam hidupnya. Dan apakah ketika saya merasa iri, saya harus menerima tawaran hati tanpa berpikir banyak hal? Dan apakah ketika saya banyak menolak tawaran hati sampai akhirnya saya mengatakan bahwa saat ini tidak sedang membutuhkan kekasih, kemudian saya dikatakan berada dalam fase penyangkalan?

Seorang sahabat juga bilang bahwa saya sudah tua, menjelang kadaluarsa, jadi kenapa harus pilih-pilih? Saya mengamini. Saya tidak semuda dulu, dalam beberapa tahun ke depan saya akan menginjak usia berkepala tiga, dan mungkin memang saya menjelang kadaluarsa. Tapi karena merasa tua itulah kemudian saya lebih selektif. Mungkin terkesan pilih-pilih, tapi lagi-lagi pengalaman mengajarkan saya banyak hal. Sudah teramat sering saya salah menginderai terang. Saya berpikir itu adalah bulan yang akan menuntun saya pulang, tapi ternyata itu hanyalah lampu taman yang temaram. Saya tersesat kemudian.

Sebagian orang pasti akan berteriak-teriak dan menyebut bahwa tulisan ini adalah bentuk nyata dari sebuah penyangkalan. Silahkan beropini, tapi yang mengetahui saya bahagia atau tidak hanyalah saya. Dan untuk saat ini saya CUKUP bahagia. Saya memiliki kehidupan yang memberikan saya alasan untuk selalu ingin bangun keesokan harinya, dan tersenyum menyambut hangatnya mentari.

Senin, 16 November 2009

Hujan Musim Ini

Aku menghargai kejujuranmu yang telah mengakui bahwa sebetulnya kamu masih memiliki seorang kekasih. Entah kemudian menurutmu itu kekasih di luar nalarmu, di luar logikamu, tapi tetap dia disebut kekasih, seseorang yang pastinya masih mengisi tempat teristimewa di hatimu. Aku menghargai semua niat baikmu sehingga kamu masih menghormati aku dengan berterus terang. Sebelum semuanya berjalan lebih jauh.

Aku tidak ingin cinta menjadikanku bodoh. Aku tidak ingin cinta membuat jiwaku menjadi kerdil. Dan apabila kemudian aku mau berkompromi dengan semua keadaanmu itu artinya aku bodoh, dan aku membiarkan jiwaku kerdil. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menang bersaing dengan cinta yang masa tumbuhnya berkelipatan 365 hari itu. Aku akan selalu kalah tersisih. Tak peduli meskipun kamu bilang bahwa dia sebenarnya kosong, bahwa mencintai dia sungguh di luar akal sehatmu. Aku akan selalu kalah.

Mungkin aku kamu anggap bisa mengisi kosong yang kekasihmu beri, tapi itu artinya aku akan hidup dalam bayang-bayang dia. Dan aku tidak mau seperti itu. Apabila hubungan kalian sudah hitungan tahun, artinya selama ini kamu sudah berkompromi dengan kekosongan itu. Kenapa sekarang kamu justru seperti kebakaran jenggot dengan complain bahwa dia kosong? Jangan jadikan aku sebagai alasanmu mengugat kekosongan itu.

Kamu boleh bilang bahwa mencintainya di luar nalarmu, bahwa mencintainya membuatmu menomersekiankan logika. Tapi, ketika hubungan itu bisa kamu pertahankan sampai sekarang kamu bukan lagi hidup di luar nalar, tidak lagi mengabaikan logika, kamu sudah nyaman. Nikmati kenyamanan itu, jangan kemudian berontak karena kamu pikir aku bisa menutupi kekosongan kekasihmu. Aku mungkin hadir di saat yang tidak tepat, memberikan sensasi baru yang mungkin hanya sebuah selingan.

Gambar puzzle hati di dadamu mungkin tidak penuh karena kekosongan yang menurutmu dimiliki oleh kekasihmu itu, tapi selama hatinya masih bisa mengalunkan isyarat cinta kenapa harus dipermasalahkan. Aku mungkin bisa pas dengan potongan puzzle yang belum lengkap itu, tapi aku yakin warna gambar hatinya akan berbeda, dan aku hanya akan tetap menjadi potongan puzzle. Bukan gambar hati utuh. Karenanya aku memilih untuk mundur. Aku tidak ingin cinta menjadikanku tidak adil terhadap dia. Kekasihmu.

Hujan masih menyisakan genangan air meski bau tanahnya sudah menguap. Genting masih basah setelah sesaat dicumbu rinai hujan. Basah hujan musim ini aku memutuskan untuk beranjak dari sana, dari kepingan harapan yang sebelumnya aku kembangkan. Maaf jika aku kemudian menutup akses komunikasi diantara kita. Tolong beri aku waktu untuk menyembuhkan luka, karena layaknya gerimis, kamu hanya datang sesaat. Dan dalam kesesaatannya itu kamu masih meninggalkan jejak. Jejak air mata.

Jumat, 13 November 2009

to my L friend!

On email, tengah malam buta.

Boleh saya tanya sesuatu??

Kamu seorang L dan orangtuamu yg sangat menyanyangimu menginginkan melihatmu menikah sebelum ajalnya tiba apa yang bakal kamu lakukan?? sementara mereka sakit-sakitan ditelan usia..(orangtua mengetahui kamu memiliki orientasi seksual yg berbeda dgn yg lainnya)

- kamu akan mencari pasangan pria dan menikah
- memberi pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat (sedangkan sebelumnya orang tua telah banyak mengerti kamu dan sampai penghabisan waktunya masih harus tetap mengerti kamu)
- atau tetap egois tidak mengabulkan permintaan ortu (tetap tidak mau menikah) yg mungkin permintaan terakhirnya..


Best regards,
XXX

My L friend, sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak langsung membalas email itu, bahkan saya mengendapkannya beberapa hari. Bukan bermaksud untuk tidak membantu, tetapi saya merasa saya harus berpikir lebih, tidak boleh sembarangan menjawab. Karenanya sekarang saya mencoba menjawab (dari perspektif saya) dan tidak di email. Kenapa? Karena banyak diluaran sana orang yang memiliki problematika yang sama, jadi bisa sekalian sharing. Saya tahu kamu juga membaca blog saya, jadi pasti kamu mendapatkan jawaban dari sudut pandang saya.

Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Dan dalam kultur manapun orang tua merasa bahagia apabila telah mengantarkan anaknya ke gerbang pernikahan, karena orang tua merasa bahwa ketika sang anak sudah menikah dia akan menjemput kebahagiannya sendiri. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kadang ketika muncul masalah mengenai preferensi seksual dari sang anak, hal tersebut menjadi dilematis.

Saya tahu betul bahwa kamu sedang dilanda dilema yang luar biasa, dan jangan khawatir di luaran sana banyak yang mengalami masalah yang sama dengan kamu. Dilema yang menempatkan kamu dan mereka itu pada posisi sulit, antara ingin membahagiakan orang tua dengan membahagiakan diri sendiri. Kebahagiaan yang tidak bisa disinergiskan. Dua kebahagiaan itu berada di dua kutub yang berbeda. Saya tahu kamu mengalami perang batin kemudian.

Pada kasus kamu, ada hal yang terlihat lebih gampang. Orang tua kamu mengetahui mengenai preferensi seksualmu yang berbeda. Jadi ketika kamu mengambil keputusan apapun nantinya, ada alasan kuat yang mendasarinya. Pergulatan batin akan jauh lebih besar pada mereka yang orang tuanya tidak mengetahui hal itu, sehingga orang tua akan dengan lebih leluasa terus memaksamu untuk menikah. Kamu harus bersyukur tentang ini.

Karena kamu memberi saya tiga pilihah jawaban, saya mau mencoba menganalisisnya dari tiap pilihan.

Kamu akan mencari pasangan pria dan menikah. Langkah yang tidak gampang apalagi bagi mereka yang telah berdamai dengan hatinya dan menerima keadaan dirinya. Bisa jadi hal ini akan menjadi pengorbanan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Menikah dengan pria, mungkin tidak gampang tapi bisa dilakukan. Dan tolong dilakukan dengan hati, dalam artian jangan jadikan pria ini sebuah pelarian. Ketika kamu sudah memutuskan, kamu harus berlaku adil terhadap pasanganmu, meskipun dia pria yang sebenarnya tidak kamu cintai sepenuh hati. Dan jangan lagi pernah menengok ke belakang. Tutup akses kesana, jadikan pria ini sarana untuk mengubah jalan hidupmu, dan mudah-mudahan ke jalan hidup yang lebih baik.

Memberikan pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat adalah hal yang paling banyak dilakukan oleh kebanyakan orang yang memiliki masalah yang sama dengan kamu. Memperpanjang waktu tempuh dalam menghindar. Tapi pertanyaanya, sampai kapan kamu bisa menghindar? Selamanya kita tidak bisa menghindar karena orang tua akan terus berputar-putar disana, di kerangka kebahagiaan menurut persepsi mereka.

Bersikap egois. Mungkin hal yang paling gampang untuk dipikirkan tetapi tidak mudah dijalani. Ketika seseorang telah memutuskan untuk berlaku egois saja, dia harus siap dengan semua konsekuensi. Kita berbuat adil terhadap diri kita, karena takaran kebahagiaan kita berbeda dengan takaran orang tua. Tapi kita menyakiti hati orang tua secara tidak langsung. Silahkan bertanya pada hati kecil kamu, itukah yang kamu inginkan?

Mungkin ini tidak menjawab pertanyaan kamu. Tapi kalau kamu bertanya, saya akan mengambil langkah yang mana? Maka saya akan mengambil langkah yang pertama. Saya akan menikah, dengan pasangan yang saya lihat kualitas di dirinya bisa merubah saya ke arah yang lebih baik. Yang mungkin bisa memberi saya kebahagiaan lain yang selama ini saya menutup mata tentangnya. Pasangan yang juga bisa menumbuhkan usaha saya untuk mencintainya lahir batin, sampai mati.

Rabu, 11 November 2009

Perantaraan Angin

Saya mengenal orang ini perantaraan angin. Melalui aksara yang diterbangkan bersamaan dengan debu. Aksara yang kemudian mengendap dalam imaji dan membangun sosok tanpa wujud asli. Saya hanya berharap bahwa angin ikut menghembuskan nyawa sehingga membuatnya menjadi nyata, tak hanya berupa kata.

Kepada angin saya kemudian selalu menitipkan pesan, mencoba mengenali jati dirinya. Mengorek detail relief hatinya yang seakan beku. Tetapi yang saya dapatkan hanyalah dingin, karena dia tidak mudah disibak. Dia berlindung dalam ketegaran laksana karang di tepian pantai. Kokoh berdiri diterjang gelombang.

Saya berjuang dalam keyakinan pada angin. Yakin bahwa angin akan menyampaikan semua pesan yang tak perlu saya ucapkan. Saya hanya yakin bahwa dibalik baju besi yang dia pakai, saya akan menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin saya cari selama ini dalam pengembaraan hati, pengembaraan yang tak jelas ujungnya karena seringkali hanya menempatkan saya di gurun tandus tanpa suara.

Saya memanjatkan doa perantaraan angin, berharap Sang Sutradara Hidup mendengar semua pinta. Saya hanya meminta diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh, menuntaskan apa yang sudah saya mulai. Menyelesaikan kepenasaran akan cinta. Melalui angin saya tak lagi berbisik, saya berteriak lantang : Tolong beri saya kepastian!!!

Ternyata tak perlu ribuan anak panah yang terlepas dari busurnya seiring waktu, angin kemudian memberi saya jawaban. Keterbukaan yang saya cari selama ini akhirnya terpapar dengan sempurna. Saya melihat dia justru dalam perspektif yang tidak lagi sama, dan ternyata saya tidak siap. Dia, seseorang yang saya ingin ketahui aslinya ternyata sedangkan memanggangkan tubuhnya dalam bara. Menomorsekiankan logika hanya karena cinta.

Ternyata angin tidak hanya memberikan jawaban, tapi angin juga membelot. Dia berubah menjadi badai, memporakporandakan hati dan perasaan saya. Memaksa saya untuk terhempas mundur dari dalam himpunan. Mencabuti rasa yang sedang saya semai, melucuti semua keyakinan saya akan damai.

Saya yang dihempas kenyataan kemudian bergumam : “Angin, entah ini cobaan atau becandaan, tetapi kenapa engkau mengirim LAGI sebongkah hati dengan status KEKASIH ORANG?”

Senin, 09 November 2009

Menyerah

“Lupakan aku……….” Sepenggal kalimat yang kemudian menotok pertahanan semua sarafku. Lemah. Tak berdaya, tak bisa malakukan apa-apa.

“Aku mohon jangan menyerah!” Pintaku. Sayang sepertinya dia tidak akan mendengar permintaanku, karena justru kalimat itu terucap setelah telepon tertutup. Atau mungkin sesaat setelah dia menutup hatinya untuk kehadiranku.

“Aku tahu kita pasti bisa melewatinya, makanya jangan menyerah. Jangan sekarang” Kalimat itu kuucapkan meski aku tahu semuanya sia-sia. Semuanya sudah berakhir pada titik nadir yang dibuatnya. Kumpulan titik yang membangun garis-garis samar untuk kemudian menjelma menjadi nyata dan memisahkan aku dengannya.

Aku diam. Hening. Aku membiarkan pikiranku menjuntai, bergulung-gulung luruh ditelan pahit. Pikiranku kemudian menemukan jalan buntu, tapi aku menyuruhnya terus melaju. Biarkan saja pikiranku menabrak semua yang menghalangi jalannya, biarkan merayap, menyelusup melalui liang yang ada. Setidaknya tidak diam, karena dengan diam berarti stagnan. Dan stagnan berati mati, sementara aku tidak mau pikiranku mati. Mati berarti menyerah, dan aku tidak menyerah.

Pikiranku berhenti di salah satu pusaran yang kemudian melingkarkanku untuk mengingat suatu percakapan yang aku tak ingat dimana pernah mendengarnya. Tepatnya pikiranku membelot untuk tidak mengingatkanku akan hal itu. Lamat-lamat percakapan itu menjelma menjadi sangat nyata, bahkan setiap detail kata yang terucap membahana di ruang pikiranku yang menjuntai dan bergulung. Pikiranku memaksaku untuk mendengarkannya berkali-kali, entah apa maksudnya. Tapi aku seakan berada di titik yang itu-itu juga, berputar-putar dan kembali ke titik yang sama.

“Jangan menyerah. Aku mohon jangan menyerah!”

“Apa karena aku bodoh? Aku akan dengan giat belajar agar menjadi pandai dan tidak mempermalukanmu di depan teman-temanmu”

“Apa karena aku nista? Aku akan berdiri setia hanya padamu sampai kapanpun”

“Apa karena aku miskin? Aku akan giat bekerja agar tidak selalu menyusahkanmu dan bergantung padamu”

“Makanya aku mohon jangan menyerah!”

Kalimat-kalimat itu terus menggema di dalam pikiranku yang menjuntai dan bergulung. Semakin bergulung, semakin membuatku oleng. Aku limbung. Aku pusing, kemudian pikiranku menghilang. Aku tak sadar. Apa aku mati? Aku tidak mau mati, karena aku masih mau berjuang seperti kalimat-kaliamat percakapan tadi yang gaungnya kian kencang bahkan ketika aku merasakan bahwa aku telah mati.

Saat gulungan pikiranku berhenti bergerak, aku tersadar. Aku bangun meski tertatih, aku berontak meski tak bertenaga. Aku hanya ingin berjuang. Memperjuangkan cinta yang dulu kita bangun berdua. Aku tak sanggup berjuang sendirian sementara kamu selayaknya prajurit yang mengaku kalah padahal perang belum juga usai. Menyerah untuk tidak berjalan bersamaku lagi. Kenapa?

Aku tidak bodoh, yang artinya aku tidak akan mempermalukanmu di depan teman-temanmu. Mungkin aku nista, tapi meskipun begitu aku akan berdiri setia hanya padamu sampai kapanpun. Aku tidak terlalu miskin, aku punya pekerjaan yang menjanjikan, artinya aku tidak akan terlalu menyusahkan dan bergantung padamu. Tapi kenapa kamu tetap menyerah? Sudah terlalu beratkan beban yang kau pikul untuk sekedar berjalan beriringan denganku?

Aku tahu setapak itu berbatu dan seringkali membuat kaki kita terluka sampai berdarah. Tapi kalau kita bersama, kita akan bisa melewatinya, menyongsong jalan besar tak terjal yang terpampang mengundang. Tak peduli aku harus memapahmu sampai jauh, menggendongku saat kamu sama sekali tidak bisa berjalan. Aku rela menjadi titian langkahmu untuk mengenyahkan sakit yang mungkin datang. Aku rela.

Aku hanya ingin kamu tidak menyerah. Tidak seperti ini, karena aku masih kuat menerima dera. Aku akan berdoa agar aku bisa menggatikanmu untuk menerima sakit, perih dan luka yang mungkin ada. Aku rela. Percayalah aku rela.

Sayangnya kamu sudah tidak percaya padaku, bahkan pada kemampuanmu sendiri. Aku bisa apa? Sekuat apapun aku berjuang tapi ketika kamu memutuskan untuk menyerah maka perjuangan akan sia-sia. Cinta tak bisa diperjuangkan hanya oleh aku sendiri, aku tak akan sanggup. Mungkin aku seharusnya mengikuti caramu menghindar dari semua kenyataan ini. Mungkin sudah saatnya bagiku juga untuk menyerah.

Terima kasih telah mengajarkanku menjadi kuat dengan caramu. Terima kasih telah menjadikanku dewasa lewat pembelajaran yang luar biasa. Aku berhutang banyak padamu. Aku mungkin tidak akan bisa membayarnya sampai kapanpun, karena kini aku juga menyerah. Aku menamatkan peranku di kehidupanmu. Titik.

PS: based on true story. Maaf ya DSR, curhatanmu aku jadikan tema postingan. Seandainya ada yang bisa aku lakukan lebih selain menemanimu menangis seperti semalam!

Jumat, 06 November 2009

Kenapa Berubah?

Aku benci sikapmu belakangan ini. Kenapa sekarang setiap kamu akan menelponku harus didahului dengan meminta izin melalui sms? Kenapa nggak bisa langsung nelpon saja, toh kalau misalnya aku tidak ingin berbicara denganmu akan jauh lebih mudah dengan tidak mengangkatnya ketimbang membalas sms mu dengan kata “tidak”.

Apa alasanmu melakukan itu? Apa kamu takut aku terjebak lagi pada perasaan seperti dulu, atau justru kamu takut pertahananmu yang justru bobol duluan? Pertahanan untuk tidak membiarkan rasa itu ada disana, tidak kamu biarkan tumbuh, padahal aku yakin primordial rasa itu ada di hatimu. Kamu hanya tidak mencoba. Tapi ya sudahlah, semuanya juga sudah berlalu.

Sering aku bilang, ada atau tidak ada rasa cinta di hati ini, aku akan tetap menjadi orang yang sama. Orang yang akan mendukung semua lini kehidupanmu. Berjalan beriringan denganmu sebagai sahabat. Jangan ragu untuk berbagi seperti dulu, bercerita tentang segalanya. Aku sebagai sahabat akan selalu ada untuk itu. Berbagi sepotong kue dalam menjalani semuanya. Sekali lagi aku bilang, tidak akan ada cinta lagi, jadi kenapa harus takut.

Aku justru rindu saat-saat seperti dulu. Saat kamu menggangguku dengan telpon-telpon yang nggak perlu. Telpon pagi-pagi buta, yang selalu dimulai dengan kamu yang bilang “masih tidur ya?” Dan aku akan menjawabnya “nggak kok” padahal dengan mata masih tertutup rapat aku menjawab telponmu. Semuanya berasa rutinitas harian, makanya sekarang ketika kamu begitu sungkan untuk menelponku bahkan merasa harus meminta izin terlebih dahulu, aku jadi membencimu.

Berprilakulah seperti biasanya, seolah tidak pernah ada apa-apa, karena memang tidak pernah ada apa-apa. Terbukalah seperti dulu, layaknya dua orang sahabat yang tidak ada yang ditutupi satu sama lain. Meminta izin ketika ingin mengobrol denganku hanya memperlebar jarak antara aku dan kamu, jarak yang sepertinya tidak mungkin untuk dilewati bahkan dengan melompat sekalipun. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi, aku tidak ingin kehilangan lagi seorang sahabat.

Aku lelah hidup dalam kebencian, makanya jangan buat aku jadi membencimu seperti ini. Membenci seorang sahabat seperti melihat hati sendiri mati perlahan-lahan. Getir. Tapi jika menurutmu dengan kebencian itu hidup kamu bisa lebih tenang, aku akan menjalaninya. Demi persahabatan.

Rabu, 04 November 2009

Tribute to Sinting Maut

Sinmau, apa kabar teman?? Tiba-tiba gue teringat sangat sama lo malem ini. Rasanya pengen ngobrol kayak dulu.

Teringat juga dulu waktu pertama kali kita ketemu. Lo masih inget kan? Ketemuan di salah satu mall dan elo datang terlambat (yang ternyata di ketemuan-ketemuan berikutnya juga lo selalu terlambat). Terus kita langsung gosipin anak yang juga kita ajak ketemuan hari itu. Bisik-bisik bilang coreeeeeeettttt. Gue inget semuanya. Apalagi pertemuan hari itu kita ditutup dengan dugem bareng untuk yang pertama kalinya. Gila-gilaan naik stage, flirting-flirting gak penting, sok jual mahal tapi pas pulang di taksi pada teriak “kok kita nggak laku yah??!!”. Lucu aja kalo inget hari itu.

Pertemuan itu bukan pertemuan terakhir karena ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang tetep ditutup dengan dugem bareng. Lo kita angkat sebagai mamie endorse karena di tangan lentik lo itu, rambut kita-kita jadi tampil maksimal. Yang paling berkesan adalah waktu kita naik stage (selalu) nggak inget malu selain goyang, dan besok-besoknya ada foto kita muncul di situsnya concierge lagi dengan pedenya bergoyang di atas stage di depan dj. Gokil banget. Atau waktu temen kita dari Jogja dateng dan ternyata dia di club laku gila, sementara kita cuman cengo jadi penonton dan lo bilang kalo baju zara baru (nggak worthed) yang gue pake itu nggak ngaruh bikin gue laku. Sial. Gue inget semuanya.

Tapi kita ketemuan juga isinya nggak hura-hura semua, ada kalanya (seringnya) kita ngobrol pake hati tentang hidup, tentang cinta, tentang semuanya di kosan si Peranakan Padang-Arab bertinggi 180 cm itu (ngakunya) yang ternyata pas dulu ketemu kok boncel. Hehehehe. Lucu aja kalau inget semuanya. Kosan lumayan gede yang gerahnya minta gila, yang kayaknya sekarang udah diisi orang lain karena si Peranakan Padang-Arab wannabe itu udah ngontrak rumah sendiri sama istrinya. Memori itu masih menempel jelas di otak gue sampai sekarang.

Semua tinggal kenangan, apalagi dengan lo yang tiba-tiba menghilang dari peredaran. Blog ditutup, SMS nggak pernah dibales, message di YM meskipun gue kirim pas lo offline gue yakin pasti sampe nggak pernah lo gubris. Gue bingung sebenernya ada apa dengan lo? Apa lo baik-baik aja? Cerita dong Sinmau sama gue, sama kita, sahabat-sahabat lo. Kita khawatir.

Kalau misalnya memang lo mau berubah, mau mengganti haluan jalan yang ada, bilang donk!! Kita nggak akan halang-halangi kok, apalagi untuk sesuatu yang lebih baik. Kita pasti dukung, dan kita tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi sahabat lo seperti yang dulu. Lo inget kan waktu si Padang-Arab itu memutuskan buat menikah? Apa kita larang-larang? Nggak kan? Kita malah support dia buat jadi lebih baik. Dan itu akan berlaku buat lo. Menjadi apapun lo, selama lo bahagia, kita pasti dukung. Percaya deh!!

Gue nggak suka cara lo kayak gini, apalagi lo menghilang disaat gue bener-bener sendirian. Si Padang-Arab sudah menikah, yang gak mungkin gue gangguin kayak dulu. Si Koko dokter sangat sibuk dengan pekerjaannya ditambah sedang menata “keluarga” kecilnya dengan sang cinta sejati yang akhirnya dia temukan. Si Uda Padang yang menurut lo senyumnya manis itu lagi ke Swiss memperjuangkan cinta sejatinya. Gue? masih sendiri aja kayak dulu, cinta belom ketemu. Makanya gue butuh lo sebagai sahabat, setidaknya buat partner gue berbagi.

Sinmau, gue pengen ada lo entah dengan casing baru atau casing lama,karena cuman lo yang bisa marahin gue kalau gue kebablasan kayak dulu waktu gue jatuh cinta sama cinta sebelah tangan gue itu, menghibur gue dengan bilang bahwa dia nggak pantes ngedapetin gue, ngeyakinin gue kalo nanti akhirnya gue akan bahagia dan menemukan seseorang. Gue pengen ada Sinmau yang kayak dulu. Gue tahu meskipun lo berubah, hati lo buat gue nggak akan berubah. Makanya gue nggak suka cara lo kayak begini.

Sinmau, gue kangen tauk!!! Bener-bener kangeeeeeeeeeen!!! Setidaknya kalau lo nggak mau ketemu sama kita-kita lagi kasih kita kabar. Itu akan jauh dari cukup.

Senin, 02 November 2009

Terinderai

Saya masih duduk disana, dalam lingkaran yang dibentuk oleh orang-orang yang duduk melingkar, dengan satu orang sebagai porosnya. Orang yang berdiri di pusat lingkaran itu kemudian berbicara mengenai aturan main dari sesi pagi itu. Saya sekuat tenaga berusaha menegakan kepala yang terasa sangat berat, mencoba mencerna apa yang diucapkannya tapi saya tidak bisa. Rasanya ada lonceng besar yang terus berdentang tak karuan di dalam kepala saya.

Tadi malam saya tidak sedikitpun bisa tertidur. Badan saya ngilu, tulang rasanya dilolosi dari sendinya. Menggigil saya menahan sakit yang tidak bisa saya jelaskan. Keringat membasuh semua badan saya, mengalir deras seiring semakin kuatnya saya berteriak meminta tolong. Meminta obat. Saya mengiba semalaman meminta diberi obat, saya sudah tidak kuat. Rasanya saya berada di gerbang kematian tadi malam.

Orang-orang berbaju putih itu mendatangi saya, mengerubungi seperti lalat, tapi tak satupun dari mereka memberi obat seperti yang saya minta. Mereka malah sibuk mengompres badan saya, memegangi tangan dan kaki saya yang terus menggelinjang karena sakit, mencekoki saya dengan larutan manis yang entah apa, tapi bukan obat yang saya minta.

Setelah cairan itu masuk kedalam kerongkongan, saya merasakan otot-otot saya mulai mengendur, rasa sakitnya sedikit demi sedikit terkikis meski badan saya masih terasa ngilu. Saya bergelung memeluk lutut, masih mengigil, masih berkeringat. Rasanya lelah, tapi saya tidak lantas bisa terlelap. Tiba-tiba saya teringat Tuhan, kemudian saya bertanya dalam hening : “Tuhan sekarangkah ajal saya akan tiba?” Tidak ada sahutan. Saya mengulanginya dengan berteriak, tetap tidak ada jawaban. Senyap.

Satu persatu orang di dalam lingkaran itu berdiri ke poros, menceritakan pengalaman mereka. Kepala saya semakin berdenyut, mendidih akibat dualisme antara kejadian tadi malam dengan bingung memulai dari mana cerita yang harus saya bagi dengan mereka. Saya tidak mungkin menceritakan semuanya, dengan seperti ini saja saya sudah cukup malu apalagi kalau harus membagi latar belakang pemicu kejadiannya. Rasanya tidak mungkin, saya masih belum mau.

Tuhan masih baik terhadap saya, tepat setelah orang yang duduk di sebelah selesai membagi pengalamannya, yang berarti giliran saya berikutnya, sesi dipotong break istirahat. Saya menghela nafas panjang, lega. Waktu saya bertambah untuk sekedar mengkarang cerita, merangkai kejadian yang tidak saya alami tapi akan saya bilang bahwa itu pemicu semuanya.

Saya beranjak ke pojokan, memisahkan diri dari mereka. Rasanya hanya ingin sendiri, ingin segera keluar dari tempat ini. Saya seperti dipenjara, banyak peraturan. Dan yang paling sedih, saya harus berpisah dengan teman-teman. Mereka yang justru disalahkan keluarga saya karena menjerumuskan saya ke pergaulan yang dianggap salah. Padahal bukan karena mereka, saya hanya mencari pelarian.

Saya terperanjat ketika ada orang yang tiba-tiba duduk di sebelah, saya meliriknya. Dia ternyata, salah seorang dari kelompok saya. Seseorang yang selalu duduk tepat di seberang saya dalam lingkaran beberapa hari ini. Seseorang yang selalu tersenyum manis ke arah saya, entah apa maksudnya. Senyum penuh makna yang kadang membuat saya tersipu di tengah dentangan lonceng besar di dalam kepala. Sorot matanya ketika tersenyum seakan meredam bunyi lonceng itu. Membawa ketentraman.

“Saya David. Kamu pasti sudah tahu. Kita sudah berkenalan di sesi awal beberapa hari lalu bukan?” Dia berkata sambil menyodorkan segelas teh hangat. Saya sebetulnya tidak sedang ingin minum, makanya tadi saya tidak mendekati ke meja snack. Tapi mau tidak mau saya menerima gelas yang ditawarkan David.

“Terima kasih” Saya berkata pelan.

“Kamu terlihat selalu muram. Mendung. Cobalah sesekali menikmati suasana disini, biar kamu cepat sembuh” Ada ketulusan di balik perkataanya. Saya hanya tersenyum, mungkin senyum yang tidak setulus perkataanya. Seolah dipaksakan.

“kalau boleh saya tebak, you’re gay!” dia tanpa ada beban mengatakan itu di hadapan saya. Saya yang merasa dituduh kemudian berlaku defensif , mencoba berkelit.

“Sok tahu kamu! Kalaupun saya memang iya seperti yang kamu tebak, apa pedulimu? Apa urusan kamu?” sengit saya menjawab.

David malah tertawa kemudian bangkit dari duduknya. Memegang kepala saya sambil berkata, “it was so obvious darling! Tapi tenang saja, saya tidak akan menyebarkannya, karena kamu pikir memangnya saya bukan? Saya sama dengan kamu” David berjalan meninggalkan saya yang masih terkejut dengan kalimat terakhirnya. Setelah beberapa langkah David menoleh dan bilang “saya suka kalau kamu tersenyum”

Lonceng masih berdentang tak karuan di kepala saya, masih membuatnya berat tapi saya merasa tiba-tiba hati saya hangat. Ternyata di tempat seperti ini saya masih bisa ditemukan. Di panti rehabilitasi narkoba, David masih bisa menemukan saya, membaui keanomalian yang justru sedang saya bawa berlari entah kemana. Tanpa tujuan.

Note: Dah ketebakkan? Ini pastinya PIKTIP, jadi saya tidak perlu bersumpah segala kali ini. ;)