Jumat, 30 September 2011

(Filosofi) Kopi

Apa hebatnya rasa sebuah kopi?

Meskipun dijanjikan bahwa itu adalah kopi berkualitas yang prosedur pendatangannya juga harus melewati bea cukai yang sering merepotkan. Aku seringkali tidak bisa membedakan. Rasanya tetap saja sama. Lebih banyak aroma getir yang menyeruak dibanding euforia seperti yang dijanjikan berlembar-lembar jurnal penelitian. Kafein dapat meningkatkan gairah dan semangat, begitu klaim dari berbagai hasil riset para ilmuwan.

Bagiku, tidak ada bedanya. Pahit kopi mengingatkanku pada gamang jalan yang terpampang. Pahit kopi membuatku teringat pada perasaan bagaimana aku harus berjuang melupakan setelah dilimbung badai kasmaran. Pahit dan harus tetap ditelan, sebegitu miripnya hal itu dengan pengalaman yang sering aku harus rasakan. Berulang-ulang.

Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau dari pekat kopi aku justru bisa menemukan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti sedang Tuhan persiapkan untuk aku cicipi barang sebentar. Atau mungkin bisa jadi malah lama bertahan. Entahlah. Yang pasti dimulai dari satu cup kopi, aku merasa ada sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Sesuatu yang membuat perasaan seperti diganjar kecanduan.

Aku menikmatinya. Sedikit demi sedikit. Karena tidak ingin segera aku kehilangan rasa yang sibuk bermain di pelataran tidak hanya lidah tapi juga perasaan. Aku tidak ingin segera bertemu dengan ampas walaupun kopi jenis ini bisa dinikmati tak bersisa. Tidak meninggalkan jejak kecuali kebahagiaan yang akan terus dikecap papila-papila di indera perasa.

Dan kalaupun satu cup telah lenyap digerus putaran waktu, ada janji yang bersedia untuk membuatkannya kembali. Tidak sekali tapi berulang kali seperti katamu ketika kita menyesap wangi dahan basah selepas hujan di halaman. Katamu kamu tidak keberatan untuk menggunakan keahlianmu mengulangi hal yang sama dan berimprovisasi agar aku tidak merasa bosan. Dan aku setuju, karena aku seperti sudah tidak bisa lepas dari belenggu kafein yang berkarat di cup-cup plastik yang kamu sodorkan tiada henti.

Perantaraan kopi kita bertemu. Lewat kopi kita memulai perbincangan layaknya dua orang awam yang tidak saling mengenal. Dan lewat kental kopi yang keluar dari mesin pembuatnya kita memutuskan untuk menjalani sesuatu yang kita kita yakini bisa untuk dijajal. Perantaraan kopi aku belajar memahamimu meskipun belum sesumbar aku bewarakan hal itu melalui partikel-partikel udara untuk sampai di telinga.

Tidak usahlah kita terburu-buru. Pengalaman aku dan kamu sudah banyak mengajarkan bahwa ketergesa-gesaan hanya akan mengantarkan kita pada perpisahan justru sebelum kita merasa saling membutuhkan. Karenanya, tidak banyak kata yang ingin kusampaikan. Tidak banyak suara yang ingin aku bagikan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku sungguh mengagumimu. Baristaku.

Rabu, 28 September 2011

Siklus (Baca : Hidup)

Di dunia ini semuanya bersiklus, mengikuti alur yang itu-itu saja. Bisa jadi kita sendiri yang menjalani putarannya atau justru orang lain yang mengikuti lintasan yang pernah kita lewati sebelumnya. Tanpa kita sadari ternyata kita mengikuti alur yang sudah pernah orang lain lalui, dan banyak orang di luaran sana yang juga mengikuti kita. Dunia memang aneh.

Sudah beberapa teman yang membuat pengakuan kalau mereka rajin mengikuti tulisan-tulisan saya di blog ini. Kalaupun mereka baru menemukan blog saya, mereka kemudian tidak keberatan untuk membacanya dari awal. Bayangkan, mereka membaca setiap postingan yang jumlahnya sudah sekian ratus. Entah untuk apa. Entah karena penasaran, entah karena tertarik atau justru karena mereka seperti sedang berkaca. Entahlah.

Sebut saja jumawa kalau saya mengakui ternyata ada selintas bangga yang muncul di hati saya. Bangga karena ternyata tulisan-tulisan saya yang seringnya berisi curhatan ala ABG, tulisan penuh drama, ada yang mengapresiasi sedemikian rupa. Bangga ketika mengetahui bahwa kemuraman yang seringkali saya bagi ternyata bisa membuat orang lain tersenyum karena mereka merasakan hal yang serupa. Untuk saya apresiasi tersebut adalah bonus dari konsistensi dalam menulis meskipun tujuan utama menulis buat saya adalah membuat testimoni. Bukti jalanan yang pernah saya titi ketika saya mengikuti sebuah titah takdir.

Mungkin banyak dari kita yang akan menyangsikan ketika ada orang yang mengaku bahwa telah mengikuti tulisan kita sejak lama. Bisa saja orang tersebut hanya melakukan lip service untuk dekat dengan kita atau apalah. Tapi saya tidak. Saya yakin ketika ada seseorang yang bercerita bahwa dia sudah membaca postingan-postingan kita sejak lama, artinya mereka memang melakukannya. Apa saya terlalu naif? Saya pikir tidak. Kenapa? Karena dulu saya juga melakukan hal yang sama. Mengikuti kehidupan seseorang perantaraan tulisannya di blog.

Saya memang telat mengenal blog. Baru pada awal tahun 2008 saya mengetahui eksistensi blog dan sejak saat itu saya seperti memiliki kewajiban baru. Menulis. Perkenalan saya dengan blog juga diperantarai sebuah buku yang sebetulnya berisi kumpulan postingan seorang penulis di blog pribadinya. Blog tersebut yang kemudian menjadi salah satu blog favorit saya, blog yang menginspirasi saya tiada henti. Melalui tulisan-tulisannya saya berkaca, perantaraan kalimat-kalimat di blognya saya kemudian merasa tidak kesepian. Tidak merasakan berat beban yang sedari dulu saya pikul sendirian.

Di awal perkenalan, saya menyempatkan waktu hampir setiap hari menyambangi blognya. Membaca dari awal postingannya yang jumlahnya sudah ratusan, dan saya tidak pernah lelah karena di akhir kunjungan saya selalu tersenyum atau paling tidak mengelus dada. Sebuah hiburan yang seperti mengangkat kisah hidup saya sendiri melalui tangan orang lain. Dari sana saya kemudian mencoba membuat cerita saya sendiri melalui tangan saya. Tidak ada niatan untuk dijadikan cerminan bagi orang lain, saya hanya ingin menjadi penulis kisah hidup saya sendiri. Tapi ketika kemudian ada yang tidak sengaja membaca dan merasa seperti cerita mereka, maka saya bersyukur karena saya bisa membuat orang lain tersenyum melalui prosa yang saya ciptakan.

Saya mengerti benar kalau tulisan saya sering kali muram. Berisi lebih banyak kesedihan dibandingkan kebahagiaan. Tapi kalau ada diantara kalian para silent reader, yang tidak pernah meninggalkan jejak di setiap kunjungannya, merasa ada kesamaan dengan apa yang kalian pernah atau sedang alami. Saya hanya ingin berbagi dan bukan meratapi kesedihan secara berkepanjangan. Jangan kemudian berpikir bahwa ketika saya sedih maka saya akan berketerusan dan menyebarkan aura muram. Seringnya setelah menulis cerita yang sedih saya menjadi seperti dipulihkan. Menulis sesuatu yang sedih untuk saya adalah sebuah terapi untuk lepas dari kesedihan itu sendiri.

Apabila nanti, suatu hari, ketika membaca sebuah postingan di blog ini kemudian merasa ingin berbagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya. Saya siap berbagi, saya siap mendengarkan. Dan saya janji tidak akan menghakimi. Jangan mengulang kesalahan saya ketika dulu tidak berusaha mengontak sang inspirasi blog saya ini karena dibelenggu malu. Saya siap berbagi bukan karena saya merasa lebih tapi justru lebih karena saya merasa bukan siapa-siapa.

Senin, 26 September 2011

Dunia Kaca

“kamu jauh berbeda dari bayangan saya” Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah sekian lama terkunci senyap.

Saya hanya tersenyum. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sebetulnya ini bukan kali pertama saya menghadapi situasi kikuk seperti ini. Berulang kali saya masuk pusaran yang sama, dan berulang kali juga saya bingung harus berlaku seperti apa. Sepertinya saya tidak banyak belajar, atau mungkin saya lamban dalam mencerna setiap pelajaran yang dibisikan pengalaman mengenai kejadian seperti ini.

Malam itu kami duduk berhadapan. Tidak banyak suara yang keluar dari mulut kami. Sunyi. Bahkan kalau disimak benar, detak jantung kami berdua akan terdengar jelas bergantian seperti saling sahut menyahut. Kalimat-kalimat yang mungkin sudah dipersiapkan sebelum pertemuan ini seakan terjerembab dalam jaringan ephitel bersilia di tenggorokan sebelum mereka tiba dan menggetarkan pita suara. Tidak menghasilkan sama sekali bunyi.

Pikiran kami mengembara dalam lintasan yang sepertinya berlainan. Dia berusaha menelisik sosok yang duduk di hadapannya. Saya. Sementara saya mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang harus saya utarakan kalau dia kemudian memberondong saya dengan pertanyaan yang tidak bisa saya duga. Suasana masih senyap. Lampu yang sedikit temaran di atas kami tidak lantas dapat menunjukan arah mana yang harus kami lalui berdua dalam aktivitas bernama percakapan.

“memangnya apa yang kamu harapkan?” sunyi saya lumerkan dengan pertanyaan yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Sedari awal.

“Sebetulnya tidak ada” Begitu ujarnya seraya menatap lurus tepat ke mata saya. “Hanya saja, lintasan atom yang seharusnya berputar beraturan dalam sulkus otak saya tiba-tiba membelot dan meloncat dari satu lintasan ke lintasan yang lainnya secara acak ketika saya mendapati kamu sekarang. Saya hanya bingung. Maaf”

Saya tersenyum lagi. Berusaha memberinya keyakinan bahwa ini memang saya. Seseorang yang dia kenal perantaraan aksara. Seseorang yang wujudnya selama ini mungkin hanya dia reka dan dia imajinasikan dalam kanvas maya sesuka hatinya. Dia hanya berusaha menyusun serakan puzzle menjadi sebuah bentuk dengan petunjuk hanya kumpulan prosa. Dan sepertinya dia salah menyusun. Bentuk lengkap dia dapatkan, tapi itu bukan saya.

Saya hidup di dunia kaca dengan banyak jendela. Saya biarkan orang-orang di luaran saya sepuasnya mengamati tanpa bisa menjamahnya dengan leluasa. Saya membatasi membagi kehidupan saya, bukan untuk menimbulkan kesan misterius atau apalah. Saya hanya merasa bahwa ada bagian-bagian yang tidak perlu saya umbar ke udara. Kalaupun ada sesuatu yang ingin saya bagi, maka saya buka sedikit jendela dan melepaskannya ke angkasa melalui rangkaian prosa yang berderet bagai sinema.

Panggil saya manipulatif, sebutan yang tidak akan saya sanggah sama sekali. Saya hanya perangkai cerita, penyampai kisah tidak fiktif yang saya kemas dalam noktak-noktah diksi. Kejadian yang saya alami mungkin bisa jadi sangat sederhana, sesederhana kucing yang saya lihat di halaman. Tapi dengan bantuan diksi saya bisa mendeskripsikan kucing itu menjadi seperti serigala tanpa merubah jalan cerita.

Dia, seseorang yang saya temui malam itu sepertinya terjebak dalam kumparan yang sama. Salah mengerti tentang saya. Belasan email preliminasi ternyata tidak membuat saya jelas di matanya, padahal di email itu tidak lagi saya libatkan diksi. Saya menelanjangi diri sebisa saya, sejelas yang dia harapkan. Tapi sepertinya hal itu tidak bekerja seperti yang saya harapkan. Dia berjalan dengan pondasi tentang saya yang sudah terekat kuat di kepalanya.

Kemudian, saya hanya memintakan maaf kalau malam itu saya seperti mengintimidasinya melalui penampilan dan kepribadian saya yang asli. Di taman aksara, saya memang apisindica. Tapi di luar itu, saya apisindica yang pasti tidak akan pernah sama.

Kamis, 22 September 2011

Happy B'Day Mom

Namanya Ika. Hari ini dia berusia 52 tahun. Dia lahir dari ayah yang asli Bandung dan ibu yang peranakan Tionghoa. Sedari kecil katanya dia dididik untuk bekerja keras dan percaya akan kekuatan doa. Berkat doa itu pulalah katanya dia juga mampu tidak hanya mengenyam mimpi tapi mewujudkannya menjadi jalan hidup. Sampai sekarang.

Ketika umurnya belum genap 22 bahkan saat gelar yang dibanggakannya belum berhasil dia raih, dia mengambil langkah paling berani sepanjang hidupnya. Dia menerima ajakan menikah dari kakak kelasnya jaman SD yang ternyata juga seniornya waktu di universitas. Dia menikah dengan laki-laki yang baru saja memulai kehidupannya, laki-laki yang juga punya cita-cita sama luhurnya dengan dia. Bahagia, hanya itu yang ada dalam pikirannya waktu itu.

Dari pernikahan itu dan dari rahimnya yang agung kemudian lahirlah apisindica dan apisdorsata. Saya dan adik saya. Dia kemudian tidak hanya menjelma menjadi seorang ibu yang hebat tetapi menjadi wanita tangguh. Wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk ratusan pasien dan kami berdua anaknya. Wanita yang sedemikian rela dibebani oleh ocehan kami sampai saat ini, bahkan menjadi wanita yang sedemikian cekatan membagi waktunya dan seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan saya dan adik saya.

Saya memanggilnya Mami.

Mami, di hari ulang tahunmu ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, semoga mami diberi kebahagiaan dunia akhirat. Diberi umur panjang agar saya bisa membahagiakan mami sampai nanti. Terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tercurah tiada henti dari saya lahir sampai sekarang. Saya tahu Mami merasa itu sudah kewajiban Mami, tapi di mata saya itu merupakan pengabdian akan tujuan hidup yang selalu Mami dengung-dengungkan. Saya belajar dari semua itu Mi, mencoba menjalani jalan hidup dengan satu tujuan. Membagi kasih.

Saya tahu, saya belum bisa membahagiakan Mami menurut versi saya maupun versi Mami. Tapi ketika Mami bilang, kalau saya hidup dengan benar, tidak pernah menyakiti orang, dan selalu percaya akan Tuhan, Mami sudah cukup bahagia. Karenanya saya mencoba untuk berlaku seperti itu walau kadang ternyata sulit sekali menjalankannya. Saya berusaha Mi, tidak lain hanya ingin membuat Mami bahagia. Karena hanya itu satu-satunya yang saya ingin wujudkan selama saya hidup. Melihat Mami bahagia.

Saya juga meminta maaf kalau masih ada kelakuan yang ternyata tidak Mami harapkan. Saya sadar, diucapkan atau tidak, Mami tahu banyak tentang saya. Banyak yang ternyata diluar kuasa saya. Seandainya saya bisa memilih kemana angin akan menerbangkan saya, tentu saya akan memilih untuk selalu berada di kisaran yang Mami harapkan. Sayang, angin kadang tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa diajak berkontemplasi. Tetapi saya tetap berusaha Mi, percayalah.

Di hari ulang tahun Mami ini, ingin rasanya pulang ke rumah sekedar untuk membasuh kaki Mami dan kemudian meminta doa serta maaf di pangkuan Mami seperti dulu. Saat kenyataan hidup yang menghampiri tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mami adalah kekuatan saya untuk tetap bertahan, tetap berjuang karena tujuan hidup saya adalah melihat Mami bahagia dan bangga.

Mom, there are so many things that I like in this world, such as studying, going out, games. But the best of all the things that I like is having a great mother like you. Thanks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.

HAPPY BIRTHDAY MOM!!!! I LOVE YOU SO MUCH!

Senin, 19 September 2011

Reuni

Kemarin, saya mendapat undangan untuk acara halal bihalal dari kantor lama. Kantor lama sekali maksud saya. Kantor dimana saya bekerja ketika saya masih mahasiswa. Iya, saya sejak mahasiswa sudah bekerja, bukan karena kekurangan biaya buat bayar semesteran. Tapi karena untuk menyalurkan hobi yang tidak mau diam.

Dikenalkan oleh seorang teman yang sudah terlebih dahulu kerja disana, saya akhirnya diterima. Pekerjaan yang menyenangkan karena hobi berbicara saya terwadahi dengan baik. Dipercaya menjadi public relation di salah satu tempat hiburan yang berlokasi di salah satu hotel rasanya luar biasa, padahal yang punyanya tahu kalau background pendidikan saya jauh dari dunia ke-PR-an.

Empat tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk join dengan salah satu tempat kerja kan? Banyak sekali pengalaman yang tertoreh di hati saya. Empat tahun rasanya sudah menjadikan kami semua keluarga besar, meski akhirnya saya mengundurkan diri karena alasan Tugas akhir yang menyita waktu dan kesempatan yang saya dapat untuk short course di negeri sakura. Saya meninggalkan bagian terindah dalam hidup saya saat itu. Rasanya sedih tapi saya berpikir bahwa saya beranjak untuk sesuatu yang lebih baik. Masa depan saya.

Memang sepulang dari jepang, saya mendengar bahwa tempat hiburan itu akan tutup karena kesalahan pihak manajeman. Tapi saya tidak sempat mendatanginya karena kesibukan saya melanjutkan studi sampai tempatnya kemudian tutup meski hotelnya sampai sekarang masih ada. Mengingat hal itu kadang saya menyesal, padahal dari sana saya mendapatkan banyak pengalaman. Dan juga banyak pacar.

Kemarin waktu reunian halal bihalal itu, kami berkumpul di restaurant hotel tersebut. Rasanya semua kenangan berlarian minta ditayangkan, kadang kabur, kadang baur. Tapi aromanya masih menusuk-nusuk hidung saya. Rasanya masih seperti kemarin. Bukan hanya kenangan tentang kantor itu yang datang memenuhi rongga dada saya, tapi orang-orang itu juga. Dua orang mantan pacar saya. Iya, disana saya mendapat dua orang pacar. Tentu dalam waktu yang berlainan. Lucu juga kalau diingat-ingat, kok dulu saya seperti piala bergilir. Seperti para pemain film Beverly hills yang pacarannya hanya sama orang di kelompok yang itu-itu saja.

Selaku orang baru, dengan asupan darah segar dan berasa miss congeniality yang ramah sana, ramah sini ternyata menarik perhatian orang, setidaknya dua orang itu. Bayangkan, 4 tahun 2 kali ganti pacar di lingkungan yang sama. Rasanya kok nampak tidak tahu malu sekali saya. Tapi itu jaman muda, jaman-jamannya saya masih laku. Sekarang? Boleh tanya toko sebelah deh. Semakin bertambah umur, mungkin keberuntungan semakin berkurang juga. Atau saya mungkin sudah mempunyai standar baru untuk menata jalan ke depan, jadinya susah mendapatkan yang menurut saya cocok untuk saya ajak serius menata hidup. Dulu lebih banyak untuk senang-senang, atau sebagai ajang pembuktian diri.

Dua orang yang pernah mengisi lobus-lobus hati saya itu datang dengan pasangannya masing-masing, dan saya dengan bloonnya datang sendirian. Padahal kalau mau, saya kan bisa ngajak adik atau kakak sepupu atau teman sekalipun yang kemudian saya bilang pasangan saya. Tapi kemudian saya berpikir, untuk apa menipu diri. Tak ada untungnya buat saya, selain perasaan berdosa. Nurani saya kemudian berkata, nggak laku yah nggak laku saja, tidak usah memaksakan. Toh dengan masih sendiri, tidak berarti saya tidak bahagia.

Seperti sering saya bilang, melihat mantan-mantan kekasih saya sekarang bahagia dengan pasangannya sudah membuat saya sangat bahagia. Tak ada kebahagiaan yang lebih sempurna dari melihat orang yang (pernah) kita sayangi mendapatkan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Melengkapkan puzzle memori suka cita dalam ingatan saya.

Hei kamu…dan kamu..saya senang bertemu dengan kalian hari ini. Menyegarkan kembali ingatan saya akan semuanya. Terima kasih pernah memberi saya kenangan yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapanpun. Saya turut mendoakan semoga hubungan kalian saat ini bisa langgeng. Selamanya. Amien.

Jumat, 16 September 2011

Cin dan Can

Saya memanggilnya Cin. Entah untuk cina atau untuk cinta. Atau mungkin untuk keduanya, cina yang saya cintai.

Cin hadir dengan cara yang tidak biasa, cara yang sama sekali di luar dugaan bisa membuat saya jatuh hati kemudian mencintainya setengah mati. Bertemu pertama kali di depan gerai kebab di kampus kami kemudian dilanjutkan dengan makan siang di salah satu café. Semuanya biasa saja, kesan awal tidak ada yang patut untuk diumbar berlebihan, hanya saja saya suka sekali melihat matanya. Sipit.

Dia memanggil saya Can. Pencarian panjang sebelum akhirnya berakhir pada panggilan itu. Saya pernah bertanya kenapa harus Can, dan dia menjawab Can untuk Candu. Katanya saya ibarat candu buat dia. Membuatnya ketagihan.

Semenjak itu Cin dan Can berjalan dalam koridor cinta yang tidak biasa. Berjalan dengan ego dan kepentingan masing-masing tetapi pada akhirnya tetap bertemu di tengah-tengah ketika semuanya sudah lelah. Saling mengelap keringat yang meleleh di dahi untuk sebuah alasan yang seringnya tidak dimengerti. Kami saling menikmati ketidakpastian, mereguk kasih yang membingungkan.

Sekarang Cin mau pergi. Tidak akan ada lagi ketidakpastian. Tidak akan ada lagi saling memperhatikan dalam ruang yang membingungkan. Semua jalan cerita dan peran sudah saatnya untuk ditamatkan, menunggu episode-episode baru dengan pemain yang pastinya digantikan. Tidak akan ada lagi Cin, tak akan muncul lagi Can. Cin dan Can sudah terbundel dalam satu scenario yang akan disimpan dalam laci kenangan. Mungkin nanti akan bisa ditayangkan lagi, tapi pastinya hanya sebagai film documenter. Atau bisa jadi hanya sebuah dongeng sebelum tidur.

Malam ini Can memakai baju pemberian Cin dan membawanya tidur. Berharap Can akan jatuh ke dalam mimpi bersama Cin untuk yang terakhir kalinya. Apapun itu nanti ceritanya.

Selamat jalan Cin…


Bila aku tak berujung denganmu…
izinkan rasa ini kukenang slamanya…
Tuhan tolong hapus rasa cintaku…
Bila tak Kau izinkan aku bersamanya…

Apalah Arti Cinta dari She, mengalun lembut mengantarkan Can melepas Cin

Rabu, 14 September 2011

KENAPA?

Bocah itu berbaring di pangkuan ayahnya, matanya dipejam-pejamkan padahal hatinya berkecamuk tak karuan.

Belaian tangan sang ayah tidak lantas membuatnya tenang. Hatinya terus meracau, batinnya mengumandangkan banyak pertanyaan.

Bocah itu menimbang-nimbang antara bertanya atau menelannya perlahan. Dia berpikir mungkin ayahnya akan mempunyai jawaban yang menenangkan, tapi kemudian dia berpikir ulang bagaimana kalau jawaban yang diberikan ayahnya justru membuatnya semakin bimbang dan gamang.

Dia memilih menelannya perlahan. Tidak lagi berniat bertanya atas gundah yang selama ini dia gadang-gadangkan sendirian. Berharap dengan ditelan maka seiring waktu, kegundahan akan menghilang. Begitu doanya setiap malam.

Ternyata dia salah. Pilihan untuk menelannya perlahan justru membuat dia seperti tercengkram dalam lingkaran setan. Kegundahan itu masuk ke dalam setiap sel tubuhnya, bereplikasi dan terus membelah seiring dengan pertumbuhannya yang tidak bisa ditahan.

Dia hidup dengan kegundahan itu sepanjang hidupnya.

Jangan bilang dia tidak pernah berontak. Separuh hidupnya dihabiskan dengan pemberontakan atas apa yang dia rasakan. Lebih dari itu, dia pernah menantang Tuhan. Mengajak-Nya bertemu di tanah lapang untuk bertarung pertanyaan satu lawan satu. Dan tentu saja dia menjadi pecundang, kalah oleh sesuatu yang belum bisa terjawab.

Lama kemudian dia kembali memutuskan untuk menelan segala kegundahan yang dia rasakan. Berdamai dengan gamang dan bersahabat dengan bimbang. Baginya berdamai dengan semua dan membiarkannya mengisi setiap sel tubuhnya adalah pilihan yang dirasa paling bijaksana. Melawan justru akan membuatnya semakin banyak ketinggalan.

Transformasi dibuatnya sendiri, jalan Tuhan tetap dilewatinya dengan penuh kekhusuan. Tidak peduli banyak yang mempertanyakan bahkan meragukan keabsahan. Dia terus berjalan penuh kepercayaan kalau Tuhan tidak pernah meninggalkannya sendirian. Tuhan selalu ada ketika dia butuh bala bantuan.

Bocah itu tidak lagi bocah. Berubah menjadi manusia tangguh yang sedikit bisa menjawab takdir yang dipilihkan Tuhan untuk dia mainkan. Atau mungkin justru bukan Tuhan yang memilihkan tapi dia sendiri yang membuat perjanjian ketika dia belum dilahirkan, entahlah. Yang pasti dia paham akan satu hal.

Tuhan memilihnya karena dia lemah. Dan orang lemah akan terus berjuang bagaimana hidup dan bertahan. Orang lemah akan mengumpulkan serakan beras yang tercecer di jalanan untuk sekedar bisa makan. Dan sepertinya Tuhan tidak salah pilih. Dengan kelemahannya bocah itu bertahan sampai sekarang. Dengan kegamangannya yang terus bereplikasi dalam sel tubuhnya, dia keluar menjadi pemenang.

Meski begitu, dalam doanya, bocah yang tidak lagi bocah itu kadang-kadang menyelipkan sebuah pertanyaan yang masih sama. “Tuhan, kenapa aku berbeda?”

Senin, 12 September 2011

Lagu Bisu

Dua buah harmoni lagu bisu mengalun bergantian dari speaker komputer jinjingku. Lagu bisu yang ternyata masih menyelip tersimpan rapih di salah satu folder fileku bertitelkan kenangan. Lagu yang dalam kebisuaannya mampu menyeretku pada potongan ingatan yang sengaja aku bekukan di kamar kos mu sore itu. Potongan ingatan yang tidak lantas meleleh bahkan ketika terpapar panas yang seringkali tidak bisa dihindari.

Kuulang memutar harmoni lagu bisu itu ketika telah mencapai bagian akhirnya, sekali, dua kali, sampai berulang kali, sampai harmoni lagu itu lengket dalam gendang pendengaranku. Harmoni lagu bisu itu terus berdengung, bergantian, mengisi seluruh ruang kenanganku, sampai penuh. Bahkan ketika kupejamkan kedua mataku, dengan jelas aku masih bisa melihat bagaimana proses penciptaan harmoni lagu bisu itu berlangsung.

Jemarimu menari lincah di atas tuts-tuts pianomu sore itu. Jiwamu melebur dalam setiap nada yang tercipta dari senar-senar di bagian dalam piano kebanggaanmu. Sesekali kamu memejamkan mata sambil terus meliuk diantara choda yang tercipta. Kamu ulangi choda-choda itu kalau misalnya menurutmu harmoni yang terbentuk tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Begitu banyak coretan di buku not balokmu, kemudian kamu bilang kalau kamu ingin semua itu berlangsung sempurna.

Aku duduk di pinggiran dipan, mengamatimu dari belakang. Melihat punggungmu yang kadang tegang, kadang santai mengikuti bunyi-bunyian yang mengalun mengisi penuh kamar kos mu sore itu. Aku memilih untuk lebih banyak diam, ikut tenggelam dengan semua prosesi pembuatan dua buah lagu bisu. Lagu yang akhirnya mendapati titik temu. Lagu yang akhirnya menyambungkan puluhan not menjadi sebuah harmonisasi lagu lengkap, tapi masih bisu.

Kamu ulangi lagi memainkan 2 buah lagu bisu tersebut setelah sebelumnya kamu pasang alat perekam di komputermu. Kamu kirimkan lagu-lagu itu ke emailku, dan kamu bilang sekarang adalah giliranku.

Tugasku adalah membuatnya tidak lagi bisu. Kamu menginginkanku menaruh kata-kata berima di setiap harmoni yang sudah tercipta. Kamu ingin lagu yang kamu gubah tidak lagi cacat, tidak lagi hanya alunan nada tanpa kata. Kamu kemudian bilang bahwa kamu ingin dua lagu itu menemukan takdirnya, bertemu dengan kata. Menjadikannya sempurna. Seperti impian kita.

Sayang, kita berakhir sebelum lagu itu berlabuh mengikuti khitahnya. Kita menyelesaikan apa yang pernah kita sepakati justru sebelum lagu itu mengawinkan harmoni dan syair dalam peraduannya. Dan ketika itu kamu memintaku untuk melupakan semuanya, melupakan mimpi-mimpi kita termasuk di dalamnya memberangus proyek dua buah lagu yang sebetulnya bisa menjadi sebuah testimoni. Saksi kalau kita pernah bersama. Tapi untuk apa?

Tiga tahun berlalu, dan lagu itu seperti terlupakan. Menguap menjadi awan yang sebetulnya masih menggantung di langit yang tak pernah ingkar berpasangan bahkan ketika hari cerah sekalipun. Jadi ketika malam tadi aku menemukannya lagi dan memutarnya berulang kali, aku merasa masih berhutang untuk menyelesaikan bagianku. Tidak peduli kalau sekarang kamu sudah bahagia dengan orang lain, aku hanya ingin membuat lagu itu bertemu takdirnya.

Aku ingin lagu itu tidak hanya suara tanpa kata, aku ingin lagu itu tidak lagi bisu. Dan aku berjanji akan kukirimkan kepadamu ketika aku sudah menyelesaikan bagianku, tidak peduli kalau nantinya kamu akan buang lagu itu ke jalanan. Setidaknya lagu itu tidak lagi bisu.

Jumat, 09 September 2011

Galau

Perempuan itu berasal dari terowongan yang temaram. Terowongan tanpa jendela yang menyebabkannya asosial terhadap cahaya. Sebetulnya dia bisa saja memilih bersahabat dengan terang, tapi sepertinya dia lebih nyaman terombangambingkan hitam. Dalam gelap dia mencoba membangun apa yang ada dalam benaknya, berusaha berdiri dan meraba-raba untuk menggapai apa yang dia yakini.

Perempuan itu berjalan tidak lagi sempoyongan , tidak seperti pada saat awal dia memutuskan untuk berjalan dalan kegelapan. Baginya jati diri wajib untuk diperjuangkan, hidup dengan apa yang diyakininya menjadi suatu keharusan yang tidak bisa lagi ditawar. Dia merasa senang, dia menemukan dunianya yang selama ini dia cari. Tidak peduli kalau ternyata dunianya itu gelap, tidak peduli kalau hidup dalam dunianya itu membuatnya terasing.

Perempuan yang berasal dari terowongan yang temaram itu terus berjalan. Tidak menoleh bahkan ketika dia menjumpai banyak persimpangan.

Aku juga tidak ada bedanya dengan dia. Berasal dari terowongan yang juga temaram. Terowongan yang dengan sadar telah dipilih untuk dilalui setelah didera banyak pertimbangan. Aku juga bersahabat dengan gelap, mencandu hitam sampai sakau. Bagiku apa yang harus kujalani dalam terowongan ini adalah sebuah takdir, sehingga tidak perlu lagi banyak mempertanyakan. Bertanya tidak menjadikan aku siapa-siapa ternyata, bertanya justru memberangus jiwaku dengan keraguan.

Aku dan perempuan itu suatu hari berbincang. Mencoba mencari kesamaan dalam jejak yang telah ditorehkan dalam alur terowongan masing-masing. Berusaha saling belajar dari pengalaman satu sama lain, memperkaya jiwa dengan sesuatu yang mungkin belum disesap indera perasa. Dan kami menemukan persamaan. Kami sama-sama ingin keluar dari kenyamanan terowongan yang selama ini meninabobokan. Mungkin tidak langsung mengharapkan terang, tapi remang-remang sudah lebih dari cukup atas apa yang kami harapkan.

Aku dan perempuan itu mencoba beririsan. Saling mengguar masa lalu untuk melihat masa depan yang mungkin bisa diciptakan. Saling mengukur kadar kepercayaan masing-masing untuk mencoba melangkah bergandengan. Mengepaskan bentuk dengan ruang, mencocokkan gambar dalam bingkai.

Aku dan perempuan itu berproses dalam pergulatan di terowongan masing-masing. Bergumul dalam rangkaian doa yang tidak berhenti diucapkan sekujur badan. Kami mencoba menggapai-gapai meski masih dalam kegelapan, karena kami yakin bahwa terowongan ini akan ada ujungnya. Akhir yang pastinya akan membebaskan walaupun jalan ceritanya entah akan seperti apa. Perempuan itu seperti halnya aku meyakini bahwa ujungnya adalah bahagia.

Tapi sayang, lagi-lagi takdir tidak berpihak pada jalan yang sedang aku dan perempuan itu bentangkan. Sepertinya banyak hal yang tidak bisa disesuaikan, yang tidak mudah dieliminir untuk kemudian dimaklumi. Jalan kami tetap berlainan, dan kami memilih untuk menyudahi sepenggal babak yang awalnya menyenangkan. Perempuan itu kembali temaram, dan aku kembali berselubungkan muram.

Rabu, 07 September 2011

Sesederhana Kamboja

Andai saja hidup itu bisa sesederhana kuncup kamboja

Ditunggu merekah – dipuja – kemudian luruh dan menamatkan cerita

Mungkin berakhir tragis sebagai hiasan pusara

Atau justru naik kasta karena dipakai sebagai hiasan pura untuk makanan dewa

Ya, andai saja hidup bisa dibuat sederhana

Sehingga tak perlu ada drama yang berjejer bagai sinema.


Bukankah jatuh cinta juga bisa dibuat sedemikian sederhana?

Sesederhana kuncup kamboja yang menyembul dari ketiak daun yang sudah cukup usia

Tidak perlu alasan, tidak perlu jawaban

Biarkan saja semua rasa meraja di dalam sukma


Jangan tanyakan lagi kenapa aku bisa melabuhkan cinta

Karena mencitaimu itu sederhana

Sesederhana kamboja yang merekah tatkala senja


Nb: nulis apaan sih gue?!?!?!

Senin, 05 September 2011

Surat untuk Semesta

Dear Semesta,

Aku tahu sekarang kamu sedang mentertawakan aku, atau mungkin kamu tidak sekedar tertawa tapi terpingkal-pingkal sampai meneteskan air mata. Bisa jadi setelah serangkaian kegiatan mentertawakanku itu kamu mengelus dada dan jatuh iba. Jangan, aku tidak butuh dikasihani. Aku tidak butuh dimengerti.

Tidak perlu khawatir aku akan tersinggung karena kamu mentertawakanku sampai puas, tidak ada sedikitpun aku tersinggung dengan perilakumu itu. Sumpah. Perlu kamu tahu, jangankan kamu, aku sendiri sebetulnya mentertawakan diriku sendiri. Entah setan atau pikiran apa yang mempengaruhiku sampai aku melakukan hal itu. Untungnya aku tidak lantas jatuh iba terhadap diriku sendiri.

Memang salah kalau aku berbicara mengenai pernikahan? Memang aku keliru kalau aku berbincang mengenai jodoh yang aku inderai di ujung penglihatan? Sepertinya tidak karena bukankah seluruh penghuni semesta juga menggunjingkan hal yang sama? Jodoh dan pernikahan. Seakan-akan kalau sudah bertemu jodoh kemudian melangkah ke dalam pintu pernikahan, mereka sudah berada di puncak kebahagiaan. Atau sudah purna tugasnya membahagiakan kedua orang tuanya.

Siapa yang tidak ingin menikah? Bertemu sang belahan jiwanya kemudian beranak pinak dengan alasan untuk melanjutkan silsilah keturunan ‘darah biru’ dan memenuhi pool genetik dengan pohon pedegree yang baru. Siapa yang menolak menikah ditengah ketakutan hidup sendirian dan tidak akan ada yang mengurus ketika tubuh sudah renta? Semua orang aku rasa pernah berada di titik itu, termasuk aku.

Semesta, lihatlah sebegitu banyaknya reaksi yang timbul ketika aku berbicara mengenai jodoh dan pernikahan. Kamu juga mungkin berkomentar meski dalam hening, tapi aku tahu kamu tidak tahan untuk tidak angkat bicara. Kebanyakan mendoakan, menyelamataiku selayaknya aku sudah menjadi seorang pengantin yang berdiri di atas pelaminan. Dan aku mengaminkan, semoga doa-doa yang keluar indah dari sahabat-sahabat pilihan kemudian diijabah Tuhan dan menjadi kenyataan. Suatu hari nanti. Tidak sekarang.

Silahkan terus mentertawakan, anggap saja aku gila sekalian karena sudah sesumbar tentang hal-hal yang sebetulnya belum jelas kebenarannya. Aku hanya membicarakan jodohku, membicarakan hari dimana aku akan mengucapkan ijab kabul, dan aku hanya berbicara mengenai sebuah bualan. Apa itu salah? Dilarangkah aku untuk mereka-reka seperti apa jodohku dan bagaimana prosesi jalannya pernikahanku kelak? Aku rasa tidak.

Aku mungkin memang keterlaluan Semesta, bercanda tentang sesuatu yang sebetulnya tidak layak dijadikan sebuah banyolan. Tapi lihat, banyak diantara mereka yang mendoakan. Bukankah itu bagus? Bukankan itu bisa jadi sarana pemicu cepatnya aku bertemu dengan jodohku? Ya ya ya, lagi-lagi aku cuma berhayal dan membual. Tapi biarkan saja begitu, biarkan aku menjalankan peranananku atas cerita yang aku gubah sendiri.

Semesta, aku meminta tolong kemudian. Bewarakan kepada khalayak kalau dalam waktu dekat aku belum akan menikah. Aku belum bertemu dengan jodoh yang mungkin sebetulnya (masih) Tuhan sembunyikan sambil aku membenahi diri dan berubah menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Dan kalau misalnya kamu memiliki kemampuan untuk berbicang dengan Tuhan, tolong sampaikan pesanku kalau aku belum bosan menunggu. Kalau tidak tahun ini, aku yakin masih ada tahun-tahun setelahanya.

Mintakan maafku juga kepada mereka yang sudah mendoakan dan merasa tertipu. Bilang, mendoakan itu tidak dosa dan tidak juga merugi. Jadi kalau kemarin mereka sempat mendoakan dan menyelamatiku, suruh mereka terus begitu. Dan aku berterima kasih serta akan terus mendoakan mereka supaya mereka menemukan kebahagiaannya masing-masing.

Terakhir, tolong sampaikan kepada beberapa orang yang sempat mendekat kemudian menjauh lagi. Aku belum termiliki, aku belum akan mengakhiri perjalanan hidupku dengan berlabuh di hati seseorang. Silahkan mendekat kembali, dan akan kita lihat bagaimana semua akan terjadi. Nanti.

Kamis, 01 September 2011

Jangan Dibandingkan (Repost)

Bukankah ini hanya masalah waktu? Begitu aku membatin ketika pertanyaan itu berputar berulang-ulang memasuki gendang pendengaran.

Selayaknya kelahiran, kita tidak pernah bisa memilih kapan kita dilahirkan. Semua sudah disuratkan tanpa bisa ditawar. Tertulis bagai cetak biru DNA yang terus dihasilkan dari untai yang tidak pernah bisa diubah. Mengikuti takdir.

Semua hanyalah soal waktu. Tidak lebih. Hanya kadangkala waktu nampak tidak berpihak pada seseorang, dalam kasus ini kepadaku. Jadi jangan bandingkan aku dengan mereka yang justru dipihaki oleh waktu. Jangan bandingkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan. Memaksakan hanya akan menempatkanku sebagai objek yang selalu kalah, digerus waktu yang terus melaju tanpa bisa dilihat sebagai sesuatu.

Aku sebetulnya tidak bosan mendengar pertanyaan itu menggaung berulang-ulang seperti teriakan di bibir sumur yang meraung dipantulkan berkali-kali. Sudah sangat wajar pertanyaan itu mengarah kepadaku, mengingat angka yang seakan tercetak nyata di keningku. Dua angka yang setiap tahunnya berubah ketika aku sampai pada saat yang dinamakan ulang tahun. Waktu tidak bisa ditahan, membuat ulang tahun seakan terjadi hanya dalam hitungan hari. Mengantarkanku merangkak pada usia yang menurut mereka tidak lagi muda.

Tapi bukankah angka itu hanyalah angka. Angka tidak bisa dijadikan takaran, bukan ukuran atas seseorang sudah pantas atau tidak. Bukan juga gambaran dari sebuah fase kedewasaan. Tua tidak sama dengan dewasa. Angka tidak sama dengan matang. Angka hanya sebuah tanda sudah sejauh mana kita berjalan. Menapaki titian waktu dari titik nol dulu.

Aku tidak sedang berlari menghindar karena sampai kapanpun hal ini harus aku hadapi. Menghindar bukan suatu penyelesaian. Berlari hanya akan memberiku muatan lebih dalam beban yang sudah aku pikul sejak lama. Sejak menurut mereka aku sudah cukup untuk menentukan. Aku hanya tidak ingin dibandingkan. Semua hanya masalah waktu. Cukuplah membandingkan aku dengan mereka yang lebih cepat memutuskan, atau dengan mereka yang dalam takdirnya sudah tercatat lebih cepat keluar dari kesendirian.

Takdir tidak bisa digugat. Mungkin bisa diubah sedikit dengan doa. Tidak perlulah kalian mendengar semua doa yang selalu aku tasbihkan, karena aku senantiasa memanjatkan doa yang paling baik, yang bisa membawaku ke arah yang tidak lagi temaram.

Aku hanya minta janganlah lagi aku dibandingkan tentang hal itu melulu. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang sudah aku capai dan apa yang tidak mereka capai. Apa yang sudah aku gapai dalam kisaran waktu yang menurut kalian sudah berlebihan. Bandingkan itu dengan mereka yang selalu kalian banggakan. Aku yakin aku menang, aku yakin aku lebih dari apa yang mereka telah dapatkan.

Bukankah semua itu hanyalah masalah waktu? Menikah adalah takdir yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Aku yakin akan tiba waktunya nanti ketika Tuhan sudah menentukan. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti kelak akan dijelang.

PS: ditulis setelah momen lebaran ketika banyak keluarga besar yang (lagi-lagi) mempertanyakan.