Senin, 28 Juni 2010

Bukan Matematika

Semalam kami bertengkar hebat, dan rasanya setelah pertengkaran itu saya merasa gamang melihat jalan yang terpampang di depan. Saya tidak lagi yakin kemana saya akan membawa hati ini berlari, saya melihat kebuntuan.

Memang bukan sekali dua kali kami berselisih paham, tapi kejadian semalam itu rasanya berbeda. Tidak hanya koma, saya melihat titik. Saya menginderai hadirnya sebuah akhir, garis finish.

Saya mengerti benar posisi saya, saya sangat tahu diri. Karenanya dari awal saya tidak pernah banyak menuntut, tidak pernah meminta untuk ini dan itu. Tapi ternyata dia terlanjur asyik dengan kenyamanan yang tercipta, tenggelam dalam tenang suasana yang saya pilih untuk saya jalani. Bukan saya tidak ingin berkonflik, bukan saya tidak ingin sekedar melakukan konfrontasi, tapi saya lebih ke mencoba memahami posisinya yang tidak gampang. Meraba hatinya yang sedari awal sudah terbagi.

Untuk saya cinta bukan matematika. Dalam cinta tidak ada proses menghitung berapa yang sudah saya berikan kepada pasangan. Tidak ada menghitung persentase keuntungan dari saya menawarkan sebentuk hati. Tidak ada spekulasi linier bagaimana menghitung persamaan sebelah kanan agar bisa seimbang dengan persamaan sebelah kiri. Cinta itu ikhlas. Tanpa perhitungan, tanpa angka.

Tapi semalam dia memaksa saya menghitung. Semalam dia memojokkan saya sehingga saya dipaksa seperti membuat list laporan pengeluaran bulanan. Saya mendetailkan apa yang sudah saya korbankan. Saya merinci apa-apa yang hati saya sudah belanjakan sekedar untuk berjalan beriringan dengannya yang tidak lagi sendiri. Saya menghitung berapa banyak kerugian yang saya raup semenjak dulu saya berkata iya.

Salahkah ketika saya meminta perhatian lebih? Salahkah ketika saya meminta waktu yang lebih lama untuk berdua? Saya ingin apa yang kami jalani berkualitas meskipun berjalan di acuan yang mungkin salah. Saya hanya ingin dimengerti bahwa meskipun mungkin saya marginal tapi saya juga punya perasaan yang perlu dipertimbangkan.

Posisi saya selamanya akan seperti yang dia bilang tadi malam, selalu salah. Ketika saya banyak menuntut maka hukumnya adalah salah. Dia bilang saya sudah berkomitmen dengan segala konsekuensi yang saya tahu dari awal, jadi menuntut lebih hanya akan membuat saya seperti mengingkari komitmen yang sudah saya sepakati dengan hati saya sendiri.

Saya sadar, mencintai dia menimbulkan banyak polemik. Menyebabkan banyak konflik. Tapi bukan berarti kalau hanya saya yang harus mengerti, dia juga harus memahami. Menyelami hati saya yang sudah berkomitmen dengan statusnya. Tapi mungkin memang sudah saatnya saya untuk berjalan mundur, meninggalkan jejak keambiguan yang dia ciptakan. Saya harus pintar membaca banyak pertanda, dan mungkin ini tanda kalau memang hubungan ini harus segera diterminasi.

Semalam kami bertengkar hebat. Dan ketika dia berlalu sambil membanting pintu, jangan harap saya akan membukanya kembali. Cukuplah bagi saya dipaksa menghitung cinta yang sesungguhnya bukan matematika.

Kamis, 24 Juni 2010

Pembawa Pesan

Waktu itu saya masih tinggal di Bandung, jadi kalau ada events di Jakarta saya bolak balik Bandung Jakarta. Sebagai orang yang tidak mau dipusingkan oleh keribetan jalanan dan kesemrawutan kemacetan, saya lebih memilih menggunakan sarana transportasi umum semacam travel ketimbang bawa kendaraan sendiri. Tinggal duduk manis kemudian sampai tujuan.

Saya ingat, waktu itu saya habis ada acara di Pondok Indah dan berniat untuk langsung pulang ke Bandung menggunakan travel langganan. Sambil menunggu jam pemberangkatan, saya duduk di ruang tunggu sambil membaca majalah yang disediakan. Tepat di hadapan saya duduk seorang bapak yang sedari tadi terus memandangi saya, mau tidak mau saya juga sering melihat ke arahnya untuk sekedar memastikan apakah dia masih memandangi saya atau tidak. Ternyata masih, dan lama.

Saya memutar otak. Membuka laci-laci ingatan karena saya yakin benar kalau bapak itu tidak asing. Ada satu waktu dimana saya pernah satu scene hidup bersamanya, entah kapan.

Saya terus berusaha memutar ingatan dan violaaaa, saya mengingatnya. Saya menemukan chapter kecil dimana saya pernah berinteraksi dengan dia. Chapter yang mungkin terselip ditumpukan cerita-cerita inti sehingga sulit sekali untuk sekedar menemukannya. Tapi saya berhasil menguaknya, mengingat serpihan kecil cerita itu.

Kami ngobrol, saya yang menyapanya terlebih dahulu. Saya menanyakan apakah dia benar ayah dari teman kuliah saya. Dan ternyata benar. Kemudian dia balik bertanya, dimana dia pernah berinteraksi dengan saya dalam waktu yang relatif lama. Saya menjawab pernikahan anaknya, sahabat saya.

Dari sana dia bercerita tentang keluarganya secara detail. Mengungkapkan kebanggaanya terhadap semua anak dan menantunya bahkan cucunya. Dia sampai mengeluarkan handphonenya dan menunjukan sms cucunya yang sedang liburan ke Praha. Awalnya saya bingung, kok dia bercerita dengan sangat detail padahal ini mungkin kali kedua saya bertemu dengannya. Maklum dia termasuk orang yang sibuk. Tapi saya waktu itu hanya menikmati ceritanya, hanyut dalam kebanggaanya terhadap keluarga yang dia bangun.

Ceritanya masih terngiang-ngiang di otak saya bahkan sampai saat ini.

Ketika saya menyampaikan kepada sahabat saya mengenai apa yang ayahnya ceritakan, dia dan kakak serta adikknya sempat heran. Katanya Papi biasanya tidak seperti itu, Papi orangnya tertutup dan jarang bercerita kepada orang lain apalagi tentang keluarganya. Heran. Itu yang mereka sekeluarga rasakan.

Hari ini, tepat 3 tahun lebih satu bulan dari hari pertemuan saya dengan papi. Saya memanggilnya Papi, mengikuti panggilan anak-anaknya. Dan hari ini tepat 3 tahun meninggalnya papi. Ya, satu bulan setelah pertemuan saya dengannya, dia meninggal karena stroke. Dan saya kemudian sadar bahwa ternyata saya adalah orang yang dia pilih untuk menyampaikan pesan pada keluarganya. Pesan bahwa betapa dia sangat bangga dengan keluarganya, istri, anak, menantu dan cucunya.

Terima kasih Papi, sudah mempercayakan amanat kepada saya. Orang yang mungkin tidak Papi kenal sebelumnya.

Mengenang dr. Venusri Latif Sp.S (Alm). Semoga Arwah Papi selalu mendapat tempat yang paling indah di sisi Allah. Amin.

Senin, 21 Juni 2010

Memilih Buta

Dia memilih untuk buta.

Dalam hatinya dia berharap bahwa cinta akan mengubah orang yang dia cintai menjadi seperti apa yang dia harapkan. Mungkin buta yang rela dia kecap dan gelap yang dijadikannya sahabat hanya dia anggap sebagai rintangan yang dapat dia entaskan agar segera mencapai garis finish. Hati kekasih yang tidak pernah mau mengerti.

Dia memilih untuk buta.

Dalam ketersiksaanya memperjuangkan apa yang dia yakini, dia terus berusaha. Mencari jalan-jalan yang mungkin tidak mau orang lain lewati hanya sekedar untuk memberinya keyakinan bahwa pada akhirnya dia akan keluar sebagai pemenang. Mendapatkan tidak hanya hati sang kekasih tetapi juga kehidupan yang akan tertambat pada masa depan yang sudah dia rencanakan. Masa depan dengan banyak cahaya gemintang yang akan membebaskannya dari belenggu gelap tak berkesudahan.

Dia memilih untuk buta.

Menganggap angin lalu komentar-komentar orang di sekelilingnya yang mengatakan dia bodoh dan buang-buang waktu. Bodoh karena tetap mencoba dan terus mencoba menyelusup selaksa dingin sang pujaan yang tidak juga mau tahu bahwa sebenarnya dia telah berjuang habis-habisan. Buang-buang waktu karena dia dalam hati kecilnya sadar benar bahwa sudah terlalu banyak penolakan yang dipertontonkan seseorang yang ingin dia dapatkan. Tapi dia memilih untuk konsisten, menjadi buta.

Entah sampai kapan dia akan sanggup bertahan. Entah sejauh apa dia akan berjalan, karena lamat-lamat kesadaran itu mungkin akan datang. Memberangus kepercayaannya terhadap cinta, membuatnya takluk pada kata menyerah yang pasti dibencinya. Semuanya tidak dia pikirkan karena dia hanya merasa bahwa dengan terus berjuang maka dia telah berusaha menamatkan rasa cintanya. Ketika nanti pada akhirnya kenyataan tidak seperti yang dia harapkan mungkin dia tidak akan terlalu menyesal. Setidaknya dia sudah tamat dengan rasa cintanya itu.

Dia, seorang wanita yang saat ini masih memilih untuk buta mungkin akan tetap berjalan dalam koridor yang dia yakini akan mengantarkannya sampai tujuan. Tidak peduli sesering apa sang lelaki yang dia harapkan dapat memahami perasaanya terus menunjukkan sikap antipati. Dia mungkin akan terus memilih buta, menganggap bahwa perasaan sang lelaki yang ternyata juga menyukai laki-laki akan berubah seiring angin yang kerapkali memaksa daun untuk gugur dari ranting di halaman.

Based on true story. Tulisan ini dibuat untuk dua orang teman saya yang selalu mendrama. Cepatlah tuntaskan masalah kalian, jujurlah satu sama lain agar hidup kalian tidak seperti menguntai benang kusut tanpa ujung.

Jumat, 18 Juni 2010

Cinta Lingkar Perut

Selalu ada alasan buat seseorang jatuh cinta atau putus dengan pasangannya. Kebanyakan sih seseorang jatuh cinta karena penampilan fisik. Cakep lah, lucu lah, putih lah, tinggi lah, bodynya oke lah. Pokoknya semua tentang fisik. Sesuatu yang buat gue justru bukan prioritas utama. Selain karena gue sadar diri dengan penampilan fisik gue yang segini adanya, penampilan fisik banyaknya menipu. Hanya untuk menutupi apa yang memang seharusnya ditutupi.

Gue sebenernya gak adil dengan menyamaratakan yang fisiknya oke pasti dalemnya nggak bagus. Maklum gue seringnya malah terjebak dalam posisi sirik. Nggak bisa kaya mereka yang ternyata punya kualitas lain selain fisik. Tapi yang penting buat gue dalam memilih seseorang untuk menjadi pasangan adalah smart. Kalo pinter, nyambung diajak ngobrol apapun, fisik yang standar bisa diabaikan. Lagian jalan sama seseorang yang good looking malah bikin nggak nyaman, apalagi kalo dia sadar banget dengan ke-good lookingannya itu. Makan ati.

Putus juga gitu, selalu ada alasan kenapa hubungan harus diakhiri. Dari mulai alasan yang masuk akal sampai yang mengada-ngada. Gue sih seringnya bilang kalau putus itu karena mau melanjutkan studi S3, nggak dink itumah kalau gue mau keluar kerja. Gue kalo mau putus alesannya apa ya? Tergantung kondisi kayaknya, soalnya kalau bilang soal chemistry kayaknya udah teramat basi. Setelah jalan sekian lama kok baru ketahuan kalo ternyata chemistry antara kita nggak jalan, nampak alasan yang aneh.

Nah kemaren waktu gue sama gebetan gue makan di salah satu mall di Jakarta, sampailah kita ke salah satu topik yang sebenernya dimulai karena lewat gerombolan si berat. Empat orang mahasiswa (dari tampangnya) yang badannya super duper gede. Gebetan gue bilang katanya kalau gue terlalu banyak makan nanti badannya bisa segede mereka. Knock on wood. Trus dia rada ngomel liat porsi makan gue yang “sedikit” lebih banyak dari biasanya. Ya iyah lah gue makan “agak” banyak secara 1) Kita udah pesen banyak makanan, gebetan gue nggak mau makan, katanya nggak enak, trus giliran gue yang bayar, ya udah mendingan diabisinkan? Sayang tau. Mahal. 2) Gebetan gue ngajak jalan, muter-muter jakarta dari pagi dan kita nggak makan siang, cuman makan pas sore itu. Terang aja gue “sedikit” kerasukan. Laper banget.

Back to our conversation. Dia bilang kalo gue banyak makan, kurang olah raga kayak yang kejadian sama gue belakangan ini, trus nanti perut gue jadi buncit, dia bakal ninggalin gue.

What??!!!! Ninggalin gue cuman karena perut gue yang membuncit? Yang bener aja. Meskipun kita ngobrolnya dalam konteks becanda tapi tetep bikin gue kepikiran. Masa suka dan sayang sama gue karena perut gue yang rata aja. Banyak kualitas lain di diri gue selain perut rata. Sialan. Merasa terhina gue. Lagian kayaknya nampak nggak mungkin kali gue jadi buncit. I'm totally into diet, so kalo gue jadi buncit, kayaknya gue bunuh diri deh. Maaf, mode berlebihan dimainkan. Buncit memang bukan gue banget. Nggak mau pokoknya. Apa kabar dengan baju-baju bodyfit gue? Masa melar di bagian perutnya kalo dicuci karena keseringan kena stretch pas dipake. Tidakkkkkkkkkkkkkkkk!!!!

The point is : Banyak hal-hal bodoh yang pasangan ungkapin ketika mereka pengen putus dari kita. Bukan berarti gebetan gue yang ini pengen putus sih (ya iya lah, jadian aja belom.) Jangan. Jangan sekarang maksudnya.

Ini yang harus banyak dipelajari oleh orang, belajar mengeluarkan alasan yang masuk akal ketika kita ingin putus. Alasan yang cantik, yang bikin kita nampak tidak sedang ngibul. Tapi kembali ke peraturan awal yah. Kalian boleh mutusin pacar kalian tanpa alasan kalau :

  1. Pacar lo selingkuh. Nggak ada ampun untuk ketidaksetiaan.
  2. Pacar lo ketahuan masih nge-drug. Meskipun awalnya lo tahu dan dia berjanji buat nggak ngulanginnya lagi
  3. Pacar lo ringan tangan. Langsung laporin ke polisi!
  4. Pacar lo posesif. Ribet.
  5. Pacar lo psycho. Serem.
  6. Pacar lo tukang bohong. Apa yang kita harapkan dari seorang pembohong.

Tapi kalau ada orang yang mau mutusin gue karena gue perutnya jadi buncit gimana? Nggak masuk akal banget kan karena gue nggak selingkuh, nggak nge-drug, nggak ringan tangan, nggak posesif, nggak psycho, dan bukan tukang bohong. Cinta kok sebatas lingkar perut!!!!!!

Apis: Mulai nanti malem gue mau mulai ngemil air putih lagi ah.................

Rabu, 16 Juni 2010

Surat Untuk Teman

Teman,

Saya tidak punya alasan untuk menahanmu agar tidak pergi. Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri, dan itu jauh lebih baik dari jalan yang sekarang masih saya titi. Karenanya hal yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakanmu. Berharap kebahagiaan selalu menyambanginmu setiap saat, tanpa henti.

Kamu sudah memutuskan, dan saya mendukung keputusanmu. Bukan hanya sekarang ketika kamu memutuskan untuk benar-benar pergi, tapi dari saat kamu memutuskan untuk menyelesaikan kemabiguan duniamu dan tertambat pada kehidupan yang lebih jelas. Berkeluarga.

Saya sadar betul bahwa hari ini akan tiba, bahkan menurut saya hari ini datangnya terlambat. Tapi dalam keterlambatan itu pasti ada sesuatu yang bisa diambil, pembelajaran yang tidak hanya mendewasakan tapi juga meneguhkan pendirian. Kamu pernah bilang bahwa di depan jalan sungguh bercabang, dan ketika sudah memutuskan berarti pantang untuk menoleh ke belakang. Dan saya setuju, seperti itulah yang seharusnya dilakukan.

Kehilangan seorang sahabat seperti kamu memang menyakitkan, tapi ketika itu menjadi titik tolak bagi kebahagiaanmu yang hakiki, justru imbasnya menggembirakan. Saya tahu kamu punya kualitas lebih untuk menjadi seseorang yang lebih baik dengan jalan yang sudah kamu putuskan untuk kamu lalui. Dan saya yakin bahwa jauh di sana, di lubuk hatimu, kamu merasa bahagia. Kenapa saya harus bersedih kalau kamu bahagia? Sebagai sahabat seharusnya saya ikut bahagia.

Kamu tahu, sebetulnya saya iri kepadamu. Kamu lebih cepat memutuskan dibanding saya, kamu lebih beruntung lebih dulu menemukan jalan terang seperti yang sering kita bicarakan. Jalan terang menurut kita berdua. Jalan yang seharusnya mengantarkan kita pulang, bukan jalan yang justru menyesatkan dengan selalu berputar-putar pada masalah yang sama. Cinta yang tidak tertamatkan.

Saya selalu berharap bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kamu harapkan. Tidak ada yang salah dengan keputusan yang telah kamu pancangkan. Tidak ada lagi keraguan sekedar untuk melangkah menuju akhir pencarian, kamu telah menemukannya. Hiduplah untuk itu. Berusahalan untuk konsisten dengan apa yang telah digariskan dalam kehidupanmu.

Jangan lagi menengok ke belakang bahkan untuk sekedar melambaikan tangan. Saya tahu posisimu, saya bahagia melihat kepergianmu. Yang perlu kamu yakini hanyalah bahwa saya, sahabatmu akan selalu berada disini. Mendukungmu dalam rengkuh doa dan harap yang tak kunjung usai. Menguntai serakan ribu dukungan untukmu menemukan kebahagiaan.

Teman, semoga kamu selalu bahagia dengan jalan yang mungkin kini sudah tidak terasa terjal dan berbatu.

Ps: doakan saya agar bisa segera menyusulmu mendapati terang.

Senin, 14 Juni 2010

Noni Belanda

Saya percaya bahwa makhluk halus itu ada. Apapun namanya itu, saya yakin mereka memang berada di sekitar kita. Tapi saya juga yakin kalau alam kita dan mereka tidak bersinggungan, mereka dengan dunianya dan kita dengan dunia kita. Mungkin sesekali beririsan, bisa saling mengamati meskipun saya tidak berharap kalau saya akan beririsan dengan dimensinya sekalipun. Cukuplah saya hanya percaya dan meyakini.

Dulu, waktu saya bekerja di site, di daerah antah berantah yang memang terkenal dengan mistik dan kleniknya, malam adalah sebuah siksaan panjang. Bagaimana tidak, ketakutan seringkali menyergap saya ketika gelap mulai turun. Banyak cerita yang kemudian justru semakin mendramatisir rasa ketakutan saya, melemparkan saya dalam belenggu gemetar dan was-was terhadap mahluk yang sebetulnya tidak bisa saya lihat. Sesuatu bisa saja terjadi bukan? Walaupun saya tidak bisa melihatnya.

Memiliki teman sekamar tidak lantas mengurangi rasa takut itu. Sang teman sekamar itu justru menambah dan membebani saya dengan rasa takut yang berlipat-lipat. Membuat hidup saya justru seperti sedang menaiki roller coaster, penuh ketegangan. Memacu adrenalin. Teman sekamar saya seorang bali, tidak bisa melihat mahluk gaib tapi seringkali didatangi makhluk-makhluk tak kasat mata itu perantaraan mimpi.

Kerapkali tengah malam dia berteriak-teriak dalam tidurnya seperti orang ketakutan. Saya pikir dia hanya mendapat mimpi buruk, tapi ketika saya bangunkan dan dia bercerita, teror hidup saya dimulai. Apalagi setelah mendapatkan “kunjungan-kunjungan” itu dan teriak-teriak maka si teman saya itu akan dengan mudah tertidur dengan lelapnya meninggalkan saya yang didera ketakutan amat sangat, berjuang sekuat tenaga agar jatuh tidur. Seringnya tidak bisa.

Saya tahu saya punya punya Tuhan yang akan melindungi saya, jadi ketika banyak kejadian-kejadian janggal yang menimpa, saya hanya bisa berserah. Saya berdoa sebisa saya, meminta dijauhkan dari hal-hal yang tidak ingin saya lihat atau saya alami. Seperti saya bilang, saya mempercayai eksistensi mereka jadi tidak perlu ditunjukan wujudnya kalau hanya sekedar untuk percaya.

Kemarin saya baru pulang dari salah satu kota di Jawa Timur. Bekerja sama dengan satu perkebunan besar disana untuk melakukan penelitian. Itu merupakan kali kedua saya mengunjungi perkebunan itu. Perkebunan khas peninggalan jaman Belanda lengkap dengan landscape dan tata ruangnya. Kesan seram tentu saja menyeruak dari tiap penjuru, tapi namanya juga perkebunan pasti sepi apalagi bangunan-bangunan bergaya Belandanya yang luas dan terkesan angker.

Saya tinggal di penginapan di kawasan perkebunan tersebut. Tempatnya bagus karena memang dijadikan juga sarana agrowisata lengkap dengan out bondnya. Tidak pernah ada pikiran aneh-aneh apalagi ini adalah kali kedua saya menginap disana. Bedanya kali ini saya kebagian kamar depan yang memang jauh lebih bagus dibanding kamar belakang yang saya tempati waktu pertama kali menginap disana.

Lima hari disana tidak ada kejadian aneh, apalagi saya disibukan oleh penelitian dengan lokasi yang lumayan jauh dari penginapan. Lelah membuat saya selalu tertidur dengan lelap, kecuali pada malam terakhir. Malam itu malam jumat, setelah diskusi dan berkoordinasi tentang langkah selanjutnya sampai tengah malam dengan teman-teman satu tim, saya tidur tapi tidak lelap.

Dalam tidur, saya bermimpi ada seorang noni Belanda yang masuk ke kamar, melewati saya kemudian masuk ke kamar mandi dan menyibak-nyibakkan rambutnya yang pirang. Tidak jelas rupanya seperti apa yang pasti saya tahu dia cantik lengkap dengan gaun khas Belandanya. Saya kemudian terbangun dan tidak bisa tidur lagi padahal hari belum juga subuh. Saya ketakutan, semua doa yang saya bisa saya baca. Bisa saja saya menganggap kalau itu hanya mimpi tapi karena dari awal sudah banyak rumor tentang noni-noni Belanda tak kasat mata itu yang membuat saya jadi memiliki pemikiran lain.

Akhirnya saya tidak menganggap itu sebuah masalah. Mungkin “dia” hanya ingin berkenalan, apalagi penelitian ini akan berlangsung sampai satu tahun ke depan yang membuat saya harus bolak-balik ke sana. Salam perkenalan yang aneh, dan mudah-mudahan hanya sekali itu “dia” menyambangi saya melalui mimpi dan jangan sampai menyambangi lagi baik dalam mimpi apalagi langsung. Amin.

Kamis, 10 Juni 2010

Tentang Doa

Saya suka sekali kalimat yang di tulis mas Pras di blog-nya. Kalimatnya saya modifikasi (seijin penulisnya tentu saja).

“Ketika kamu meminta kepada Tuhan untuk diberi wajah rupawan, maka Tuhan tidak serta merta mengirimkan seorang dokter spesialis bedah plastik yang berpengalaman untuk kemudian merubah parasmu. Tapi jauh di sana, di tempat yang tidak pernah kamu sangka sama sekali, Tuhan telah menciptakan seseorang yang akan mengagumimu apa adanya. Seseorang yang bisa menerimamu bagaimanapun penampilanmu. Mereka yang kemudian disebut dengan jodoh”

Tanpa sadar saya mengangguk tanda setuju dengan kalimat di atas. Bagaimana tidak, kalimat itu seakan mengingatkan betapa congkaknya saya selama ini. Bagaimana saya seringkali tidak mensyukuri berkah Tuhan hanya karena Dia tidak menjawab permintaan saya dengan cara yang saya inginkan. Bukankah itu congkak? Padahal saya tahu betul bahwa Tuhan selalu bekerja dengan cara yang misterius dalam menjawab doa-doa saya. Tapi tetap saja yang saya lancarkan adalah protes dan gerutu.

Kita, terutama saya selalu menginginkan sesuatu yang instan. Ketika saya meminta sesuatu kepada Tuhan maka saya ingin kepastian segera tentang jawabannya. Iya atau tidak. Kalau iya maka saya akan melanjutkan usaha saya sedangkan kalau tidak maka saya akan mencari jalan keluar lain untuk mewujudkan mimpi saya. Permohonan yang saya sampaikan selalu ingin dijawab seperti saya meminum jamu, ketika saya minum maka pahitnya akan langsung terasa. Sayang Tuhan tidak bekerja seperti itu.

Saya diberi pelajaran tentang sabar, tapi tidak pernah saya praktekkan. Sabar hanya sekedar teori bahwa orang yang sabar akan disayang Tuhan. Saya lebih seringnya membatin, sampai kapan saya harus bersabar sementara orang-orang di luaran sana selalu dengan cepat mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi kemudian saya sadar bahwa Tuhan akan menjawab semua apa yang saya tasbihkan. Tentu saja dengan jalan-Nya.

Kadang Tuhan ketika menjawab doa kita tidak langsung pada sasarannya, tapi Tuhan menciptakan scenario yang berputar-putar untuk saya sampai pada sebuah tujuan. Pada akhirnya Tuhan pasti akan menjawab doa saya tapi untuk saya sampai pada jawabannya maka saya harus melewati pos-pos yang justru akan memberi saya kesempatan untuk belajar. Belajar bersyukur, belajar bersabar dan belajar ikhlas.

Lihat lagi kalimat yang saya modifikasi dari tulisannya Mas Pras. Saya seringkali merasa tidak rupawan, ( memang itu kenyataannya)selalu kalah banding dengan orang-orang ‘beruntung’ di sekitar saya yang telah diberi anugrah berupa paras rupawan. Tapi kemudian saya menyadari bahwa bagaimanapun bentuk dan rupa saya, Tuhan telah menciptakan seseorang yang mau berkompromi dengan bentuk dan rupa itu. Dan seseorang itu pasti datang. Saya meyakini karena itu yang Tuhan telah janjikan. Kalau Tuhan telah berjanji kenapa saya masih harus menyangsikan.

Tapi namanya juga manusia. Saya kerap ditunggangi egois bahkan terhadap Tuhan. Saya hanya ingin Tuhan bekerja sesuai dengan apa yang saya refleksikan di dalam doa. Kalau tidak seperti itu maka saya akan menggugat. Biasanya seperti itu, dan pasti akan selalu seperti itu meskipun saya telah disadarkan bahkan oleh tulisan saya sendiri.

Tuhan, ijinkan saya selalu menyadari apa yang telah menjadi kesalahan saya meskipun kadang itu terasa terlambat. Tapi sebagaimana saya meyakini-Mu, maka bimbinglah saya untuk selalu berjalan di koridor yang Engkau harapkan. Amin.

Senin, 07 Juni 2010

Masa Lalu

Kami duduk berhadapan dalam dimensi yang tidak lagi sama. Hening seperti membelenggu kata dari mulut kami, membungkam setiap aksara yang seharusnya lancar tertata bagai prosa. Suara detak jantung mungkin bisa terdengar apabila disimak betul, saling berpacu dalam putaran waktu yang berputar tak mau diam.

Saya berusaha mencairkan suasana, saya menawarinya lagi minuman yang sudah terhidang di atas meja. Dia tetap menggeleng. Sesaat kemudian dia menatap tepat ke arah mata saya. Tatapan yang justru saya rasakan menghujam dada, mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan yang tidak bisa saya gambarkan rasanya. Saya hanya merasa sakit. Saya sakit melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Tolong jangan menangis! Saya membatin. Saya tidak tega melihatnya menitikan air mata. Cukuplah saja beberapa malam belakangan ini saya mendengarnya sesenggukan ketika kami tidur saling memunggungi. Tangisnya selalu tertahan, tapi saya bisa mendengarnya dengan jelas, dan itu meremukan pertahanan saya. Meruntuhkan ego saya sebagai seorang laki-laki.

“Saya butuh penjelasan!” dia berkata sambil terus memandangi saya yang seakan terlumat dalam samudera beriak matanya. “Saya hanya tidak ingin dibohongi”

Saya semakin kehilangan kata. Saya dilanda kebingungan, tidak tahu harus memulai dari mana. Saya tidak ingin salah merunut reka ulang banyak hal yang sekarang justru digugat paksa. Beragam kenangan yang sudah saya simpan jauh dalam kotak memori yang mungkin berdebu harus saya bongkar kembali. Sebetulnya saya ingin lupa mengenai banyak hal di masa lalu meski itu semua mendewasakan. Saya sudah berusaha memulai dari awal lagi ketika memutuskan terikat padanya. Seseorang yang justru memaksa saya sekarang untuk terhempas ke masa dulu.

“Saya menunggu!” ujar dia. Saya seperti tiba-tiba ditarik untuk kembali menapak bumi. Khayalan saya tentang banyak kejadian seperti dibelesakkan ke dalam dasar bumi yang tak berujung.

Saya memberanikan diri untuk mulai mengurai benang-benang ingatan. Saya tidak merasa bahwa yang akan saya lakukan adalah benar. Menguak tabir masa lalu justru akan membuat kami, saya dan dia berada dalam arah yang berlawanan. Jarak yang terbentang mungkin tidak akan bisa dijembatani, walaupun saya yakin kalau dia sudah dewasa dan bisa menerima penjelasan saya tanpa menghakimi.

“Saya seperti halnya kamu pasti punya masa lalu. Dan kita tidak hidup di masa lalu karena kita senantiasa melangkah. Meniti putaran waktu menuju apa yang kita sebut masa kini atau masa depan. Masa lalu saya mungkin muram, tapi semua tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Masa lalu saya mungkin menjadikan saya seorang pendosa yang tidak hanya hina di mata Tuhan tapi juga manusia, tapi masa lalu itu yang membentuk saya menjadi seperti sekarang. Seseorang yang kamu kenal, seseorang yang akhirnya menjadi tempat berlabuhmu selamanya”

“Jangan mempunyai pikiran kalau saya tetap berkubang di masa itu, saya sudah berubah semenjak saya bertemu kamu. Saya memulai titik nol lagi di hari pernikahan kita karena saya merasa kalau kita punya masa depan, dan saya beruntung bertemu kamu. Kamu adalah alasan saya untuk selalu menjadi lebih baik. Kamu adalah alasan terbesar saya untuk membuang masa lalu itu. Andai saja memori itu bisa dihapus dengan mudah maka saya rela menukarkan apa saja untuk melenyapkan selamanya”

“Masa lalu saya mungkin tidak bagus menurutmu, tapi apakah itu mempengaruhi rasa sayang dan cinta saya sama kamu? Tidak. Masa lalu itu hanya sepenggal jalan hidup yang justru membawa saya kepadamu. Menghantarkan kapal saya untuk menemukan dermaga terakhirnya. Dan sekalipun saya tidak pernah ingin kembali ke masa lalu itu. Menengok sesekali mungkin saya lakukan, karena kadang saya tergelitik untuk sekedar menoleh, tapi hanya itu. Kenapa? Karena sekarang saya sudah punya kamu. Istri yang harus saya jaga dan saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak”

“Percayalah, apapun masa lalu saya, saya sudah meninggalkannya. Kalaupun saya tidak menceritakannya dari awal karena saya merasa bahwa itu bukan lagi hal penting yang harus diumbar. Bukan sesuatu yang pantas untuk dijelaskan lagi. Saya tidak bermaksud membohongimu, jadi kalaupun sekarang kamu tahu tentang bagaimana saya dulu, saya minta maaf. Semua masa lalu itu memang tidak bisa dihapus, tapi saya bisa berubah”

“Jadi benar kalau dulu sebelum menikahi saya kamu adalah seorang…….?” Peluh membasahi sekujur tubuh saya, sesaat sebelum dia menuntaskan pertanyaannya saya mendengar bunyi yang memekakkan telinga. Saya membuka mata dan mengangkat badan, bunyi alarm handphone meraung-raung di atas meja.

Sial, ternyata saya sedang bermimpi.

Cerpen ini saya persembahkan untuk banyak orang di luaran sana yang sudah mengambil langkah untuk keluar dari masa lalunya yang kelam dan menata hidupnya yang baru. Menceritakan atau tidak masa lalu kita kepada pasangan adalah pilihan, dan saya tahu pasti banyak konsekuensi dari hasil pilihan tersebut. Selamat menikmati konsekuensi dari pilihan-pilihan itu.

Rabu, 02 Juni 2010

Kebimbangan

Bismillahirrohmanirrohim….

Sepenggal doa yang saya panjatkan ketika saya berada di ruang tunggu bandara. Sepenggal doa yang bisa mengcover seluruh kegundahan saya saat itu.

Saya berdoa semoga keputusan saya tidak salah. Berharap bahwa memenuhi undangan untuk mengunjunginya bukanlah langkah yang justru akan membawa saya dalam lingkaran sesal yang tak berkesudahan. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang lebih baik ke depannya meskipun saya belum bisa merefleksikan apa yang akan terjadi dengan kami esok hari.

Undangan untuk mengunjunginya telah saya terima beberapa bulan yang lalu. Bulan-bulan panjang penuh pertimbangan, bulan-bulan berisi ribuan detik yang saya habiskan hanya untuk berpikir mengenai dampak yang akan timbul apabila saya menyetujui mendatanginya atau bahkan menolak undangannya. Bulan-bulan yang membuat saya terlunta tanpa sarana, tidak memiliki saluran untuk saya bicara.

Saya didera kebimbangan. Otak dan hati tidak pernah mencapai titik temu. Mereka seperti tertarik ke kutub yang berlawanan, saling egois. Sementara saya yang berada di tengah keduanya semakin terombang-ambing dalam turbulen panjang pemikiran. Sejenak ingin melangkah, tapi sesaat kemudian ingin surut mundur ke belakang.

Setelah melewati banyak pertentangan, sesudah larut dalam ribuan doa. Akhirnya saya memutuskan. Saya menerima undangannya untuk mengunjunginya di negeri sebrang. Entah ini akan menjadi keputusan yang tepat atau bukan, yang pasti saya hanya menyakini bahwa setelah saya menjalani barulah saya akan tahu tentang semuanya. Benar atau salah saya akan memutuskan kemudian, dan saya siap dengan semua konsekuensi yang terpampang menantang.

Saya berdoa dalam hati agar semuanya seperti yang saya harapkan. Ketika ini menjadi tidak benar sekalipun saya harus bisa mengambil hikmah dari semua perjalanan dan pengembaraan asa yang akan saya umbar. Tapi saya lebih berharap bahwa ini adalah sesuatu yang benar, hal yang justru akan membuat saya mampu untuk memutuskan kemana saya akan melabuhkan sandaran, melempar jangkar yang tidak lagi sesaat karena saya sudah bosan berlayar tanpa tujuan. Saya sudah teramat lelah mengembangkan layar untuk sekedar melaju dalam lautan ketidakpastian.

Saya mungkin berharap terlalu berlebihan, tapi saya sadar kalau saya harus tetap menapak pada kenyataan. Karenanya saya minta didoakan yang terbaik, tidak hanya untuk saya tapi juga untuk dia.