Minggu, 30 Maret 2014

Dia Memutuskan Untuk Pergi

Dia memutuskan untuk pergi. Menyisakan jarak yang tidak bisa sekedar dilangkahi.

Dia memutuskan untuk pergi. Katanya mencoba peruntungan baru karena di kota ini dia merasa sudah banyak hal yang membuat mutung.

Dia memutuskan untuk pergi. Membuat ceruk kesedihan menemukan jalan untuk mengalir lewat air mata yang menetes padahal sudah sekuat tenaga ditahan. Berusaha kuat padahal hati terasa sempoyongan. Mencoba tegar padahal perasaan seperti dilanda badai topan.

Aku mencoba bermufakat dengan akal. Tidak berlaku egois karena menurut nalar arti bahagia itu adalah melihatnya bahagia. Tidak peduli kalau ternyata kebahagiaan itu diperolehnya dengan cara beringsut meninggalkan kenyamanan yang sudah sekian lama kami rasakan. Tidak peduli kalau kebahagiaan itu ternyata harus diperoleh dengan perantaraan jarak yang terbentang. Jarak yang membatasi ketika hanya ingin saling memandang. Jarak yang terbentuk pada saat tangan ingin saling mengenggam. Sekedar berdekatan.

Dulu, jauh sebelum hati bersepakat untuk berjalan berisisian kemungkinan untuk saling terpisahkan sudah ada dalam frame pemikiran. Entah dia atau justru aku yang memulai. Dalam timeline kami jarak sudah dipertimbangkan akan membayang meskipun datangnya entah akan kapan. Artinya kami harus senantiasa siap memasang kuda-kuda. Tidak lantas goyang tanpa awahan ketika jarak tiba-tiba datang memaksa untuk dihadirkan. Tidak segera ambruk ketika perpisahan berbuah jarak terhidang tanpa diundang.

Dia memutuskan untuk pergi. Mendahului aku yang di babak-babak awal justru yakin akan memulai langkah itu terlebih dahulu. Dan ternyata aku tidak sesiap apa yang sudah dibayangkan. Kaki ini goyah juga meskipun tetap memasang kuda-kuda. Aku seperti direnggut paksa dari rasa nyaman yang senantiasa bisa dihidangkan ketika kapanpun ingin berduaan. Aku seperti mendadak disuruh berhenti dari kesenangan merasakan sensasi komedi putar karena arena pasar malam tiba-tiba ditertibkan oleh sekawanan orang-orang berseragam. Aku seperti kehilangan sebelah pegangan. Gamang.

Lama bergumul dengan berbagai pemikiran sampai akhirnya sanggup untuk mengiyakan. Tidak sedikit pertentangan batin ketika menimbang hingga ujungnya ikhlas membiarkan dia terbang. Aku tidak boleh egois. Menghalangi kebahagiaannya hanya untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Aku tidak boleh egois melihatnya kelelahan dengan segala hal di kota yang sudah membuatnya tidak nyaman hanya untuk membuatku merasa nyaman. Cinta tidak seperti itu.

Aku bertahan. Dia juga bertahan. Tidak mudah memang tapi seperti biasa ternyata jarak bisa dimanipulasi. Komunikasi bisa digagas dengan berbagai cara walaupun hanya tersisa selembar lontar. Perasaan masih bisa dihangatkan dengan kata-kata yang mengalir lancar lewat kabel sarat optik di udara. Memang kulit tidak bisa lagi sering bersentuhan, tapi esensi sebuah hubungan tidak melulu soal itu.


Kami belajar dewasa. Dipaksa dewasa lebih tepatnya. Dan kami bertahan. Hari sudah bergulir hingga hitungan bulan dan seperti dapat dilihat kami masih bersamaan. Saling mengenggam secara virtual dalam menghadapi segala macam masalah yang memang tidak bisa dihindarkan. Kami masih saling menyayangi, tidak peduli pada jarak yang tercipta memisahkan. Kami masih saling mencintai, tidak lantas menyerah pada dua titik koordinat yang saling berjauhan.