Sabtu, 07 Juni 2008

IF I WERE HIM

Kalau gue jadi temen gue, ceritanya bakal lain. Bakal ada episode-episode dimana gue berontak, menggugat kemudian terkulai dan menangis. Menangis darah kalau perlu. Setelah apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga, dengan segenap kemampuan tetapi ujung-ujungnya tetap salah dan nggak dihargai. Wassalam kalo gue. Talak 3 bakal langsung meluncur dari mulut gue setelah sebelumnya didahului dengan sejuta serapah.

Untung temen gue itu bukan gue. Diamah orangnya sabar (atau butuh). Semuanya dia jalanin dengan ikhlas. Kali yah, soalnya hati orang sapa tahu. Beneran lho, dia orangnya kuat, tahan banting. Kerja dikejar-kejar kayak kesehatan, ditekan bergabai pihak, kemudian tetap disalhkan beramai-ramai, dijutekin, tapi dia tetap tegar. Apalagi namanya kalo bukan kuat. Kalau gue pasti udah gila. Thanks God I weren’t him.

Hal pertama yang akan gue lakuin kalo jadi dia adalah menangis. Kalo perlu nangis depan mereka, para bos itu. Memang kadang kelemahan nggak musti dipertontonkan, tapi ini beda. Menangis ini bukan to show our weakness, tapi buat nunjukin kalau kita udah nggak sanggup. Daripada belaga tegar depan mereka tapi besoknya lo ditemuin stroke di atas kasur lo akibat sters sehingga pembuluh darah di otak lo pecah. Pilih mana? Knock on wood….knock on wood.

Kedua, gue bakalan langsung ngacir, cabut nggak perlu bilang-bilang. Nggak peduli dimata mereka gue jadi jelek, toh kesan gw di mereka udah nggak bagus. Mau apalagi? Tuhan itu adil. Jangan takut nggak dikasih rezeki, sepanjang kita masih berusaha. Selalu ada jalan keluar. Percayakan pada Tuhan, biarkan Dia yang akan membalasnya. Kalupun nggak sekarang di dunia, mungkin nanti di akhirat kelak.

Gue orangnya emang emosian, jadi jangan berharap gue akan berlaku seperti temen gue itu. Kesabaran orang juga pasti ada batasnya. So jangan maen api sama gue, bisa-bisa apinya gue pake buat ngebakar kantor. Heheheh. Sabar bu……………….

Tidak ada komentar: