Jumat, 13 November 2009

to my L friend!

On email, tengah malam buta.

Boleh saya tanya sesuatu??

Kamu seorang L dan orangtuamu yg sangat menyanyangimu menginginkan melihatmu menikah sebelum ajalnya tiba apa yang bakal kamu lakukan?? sementara mereka sakit-sakitan ditelan usia..(orangtua mengetahui kamu memiliki orientasi seksual yg berbeda dgn yg lainnya)

- kamu akan mencari pasangan pria dan menikah
- memberi pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat (sedangkan sebelumnya orang tua telah banyak mengerti kamu dan sampai penghabisan waktunya masih harus tetap mengerti kamu)
- atau tetap egois tidak mengabulkan permintaan ortu (tetap tidak mau menikah) yg mungkin permintaan terakhirnya..


Best regards,
XXX

My L friend, sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak langsung membalas email itu, bahkan saya mengendapkannya beberapa hari. Bukan bermaksud untuk tidak membantu, tetapi saya merasa saya harus berpikir lebih, tidak boleh sembarangan menjawab. Karenanya sekarang saya mencoba menjawab (dari perspektif saya) dan tidak di email. Kenapa? Karena banyak diluaran sana orang yang memiliki problematika yang sama, jadi bisa sekalian sharing. Saya tahu kamu juga membaca blog saya, jadi pasti kamu mendapatkan jawaban dari sudut pandang saya.

Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Dan dalam kultur manapun orang tua merasa bahagia apabila telah mengantarkan anaknya ke gerbang pernikahan, karena orang tua merasa bahwa ketika sang anak sudah menikah dia akan menjemput kebahagiannya sendiri. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kadang ketika muncul masalah mengenai preferensi seksual dari sang anak, hal tersebut menjadi dilematis.

Saya tahu betul bahwa kamu sedang dilanda dilema yang luar biasa, dan jangan khawatir di luaran sana banyak yang mengalami masalah yang sama dengan kamu. Dilema yang menempatkan kamu dan mereka itu pada posisi sulit, antara ingin membahagiakan orang tua dengan membahagiakan diri sendiri. Kebahagiaan yang tidak bisa disinergiskan. Dua kebahagiaan itu berada di dua kutub yang berbeda. Saya tahu kamu mengalami perang batin kemudian.

Pada kasus kamu, ada hal yang terlihat lebih gampang. Orang tua kamu mengetahui mengenai preferensi seksualmu yang berbeda. Jadi ketika kamu mengambil keputusan apapun nantinya, ada alasan kuat yang mendasarinya. Pergulatan batin akan jauh lebih besar pada mereka yang orang tuanya tidak mengetahui hal itu, sehingga orang tua akan dengan lebih leluasa terus memaksamu untuk menikah. Kamu harus bersyukur tentang ini.

Karena kamu memberi saya tiga pilihah jawaban, saya mau mencoba menganalisisnya dari tiap pilihan.

Kamu akan mencari pasangan pria dan menikah. Langkah yang tidak gampang apalagi bagi mereka yang telah berdamai dengan hatinya dan menerima keadaan dirinya. Bisa jadi hal ini akan menjadi pengorbanan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Menikah dengan pria, mungkin tidak gampang tapi bisa dilakukan. Dan tolong dilakukan dengan hati, dalam artian jangan jadikan pria ini sebuah pelarian. Ketika kamu sudah memutuskan, kamu harus berlaku adil terhadap pasanganmu, meskipun dia pria yang sebenarnya tidak kamu cintai sepenuh hati. Dan jangan lagi pernah menengok ke belakang. Tutup akses kesana, jadikan pria ini sarana untuk mengubah jalan hidupmu, dan mudah-mudahan ke jalan hidup yang lebih baik.

Memberikan pengertian bahwa kamu tidak akan menikah dalam waktu dekat adalah hal yang paling banyak dilakukan oleh kebanyakan orang yang memiliki masalah yang sama dengan kamu. Memperpanjang waktu tempuh dalam menghindar. Tapi pertanyaanya, sampai kapan kamu bisa menghindar? Selamanya kita tidak bisa menghindar karena orang tua akan terus berputar-putar disana, di kerangka kebahagiaan menurut persepsi mereka.

Bersikap egois. Mungkin hal yang paling gampang untuk dipikirkan tetapi tidak mudah dijalani. Ketika seseorang telah memutuskan untuk berlaku egois saja, dia harus siap dengan semua konsekuensi. Kita berbuat adil terhadap diri kita, karena takaran kebahagiaan kita berbeda dengan takaran orang tua. Tapi kita menyakiti hati orang tua secara tidak langsung. Silahkan bertanya pada hati kecil kamu, itukah yang kamu inginkan?

Mungkin ini tidak menjawab pertanyaan kamu. Tapi kalau kamu bertanya, saya akan mengambil langkah yang mana? Maka saya akan mengambil langkah yang pertama. Saya akan menikah, dengan pasangan yang saya lihat kualitas di dirinya bisa merubah saya ke arah yang lebih baik. Yang mungkin bisa memberi saya kebahagiaan lain yang selama ini saya menutup mata tentangnya. Pasangan yang juga bisa menumbuhkan usaha saya untuk mencintainya lahir batin, sampai mati.

19 komentar:

Alil mengatakan...

apis wise juga ya...

*alil cannot say anything about that...

Jo mengatakan...

Menurut gw... itu adalah salah satu bentuk pemerasan mental. Artinya, lo hidup untuk mengorbankan kebahagiaan lo untuk suatu harapan tradisional. (oops.. jangan protes dulu yaa hehe)

Masalah ini akan sama dengan masalah ayam dan telur. Mana yang lebih dulu. Gak akan habis-habisnya dibahas. Masalahnya adalah posisi tawar orang tua lebih tinggi dari pada anak. Dari segi manapun lo liat. Dan, umumnya orang tua memanfaatkan posisi itu :).

Celakanya, sangat bias antara memikirkan kebahagiaan sang anak dan gengsi pada kerabat/tentangga/masyarakat. Masih banyak masalah perjodohan ga matching yang terjadi. Orang tua juga ga mikirin apa anaknya akan merasa bahagia secara batin, karena ukurannya bukan lagi itu, melainkan kedudukan, dan harta. Contoh: Kakak gw ga boleh nikah sama pria pilihannya karena pria itu hanyalah pemusik. Alasannya, dari musik ga jelas pendapatannya. Bukankah itu terlalu materialistis? Atau ketika bokap gw sakit, dia 'maksa' kakak gw nikah dengan anak sahabatnya, soale dulu udah janji.. Nah lo...

Maka, jadilah itu dilema bahkan bagi yang str8 sekalipun. Kalo gitu, bisa gw bilang, siapa yang egois?

Kedua belah pihak harus saling mengerti gw rasa. Masing-masing punya kewajiban dan hak. Dibutuhkan kompromi yang mantap antara ortu dan anaknya. Ada hal yang bisa dibuat/dilakukan, dan ada yang tidak..

Gw rasa ketegasan sikap adalah salah satunya. Namun tidak dengan membabi buta.

Hehe... mungkin pandangan gw ada yang mo nyela.. semua kan terpulang ke masing-masing individu. Gw sendiri udah yakin orang tua dan saudara ga akan pernah berkompromi soal orientasi gw.. Oleh karena itu 'politik' gw hanyalah "DONT ASK DONT TELL"...

Jo mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Jo mengatakan...

Oops, lupa nambahin dan ngedit kommen ke 2 gw yang gw hapus xixixi.. Menurut gw ya L, dalam kondisi lo, mungkin lo harus bertanya pada diri sendiri dan berkompromi dengan ortu lo. Anggaplah ortu lo mencoba berkompromi dengan meminta lo untuk menikahi pria.

Mungkin begini kira-kira pertanyaannya (gw coba jawab versi gw ya):


1. Apakah gw bisa.

Kalo gw jawab, bisa-bisa aja! xixi.. dah terbukti lho (lirik2x tetangga sebelah).. Mereka bisa, gw bisa lah.. (agak ragu, soale semalam mantengin iklan porno kagak narik yang bawah.. xixi.. Tapi bisa diakalin lah)

2. Apakah nantinya gw bahagia... Nah.. ini sulit gw jawabnya. Mungkin dan ga mungkin nih. Tapi gw rasa tidak.. Soale gw tau gw ga bisa bikin dia bahagia (ga usah gw jabarin kenapa gw tau xixi).. Gw enggak seegois itu...

3. Apa yang harus gw bilang ke ortu...

Ini dia nih... bagian ayam vs telur haha.

a. Kalo gw nikah ama perempuan, ortu bahagia, gw mungkin tidak, pasangan gw mungkin tidak.

b. Kalo gw ga nikah ama perempuan, ortu ga bahagia, gw mungkin ga bahagia dan ada seorang wanita diluar sana yang akan terhindar dari rasa ga bahagia...

Nah.. which one is to pick? Any other option?

Apisindica mengatakan...

@alil: sedang belajar dan berusaha menjadi bijaksana setiap harinya. malu sama umur...

@Jo: silahkan berpendapat dari sudut pandang lo. gak akan gw sanggah, karena kan ini opini terbuka. Terima kasih ya!!

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

masih seperti biasa, tulisannya bagus & rapi.. hehe..
wah, tapi kalo ini mah berat bro topiknya.. berasa kaya makan buah simalakama, peribasa nggak dimakan bpk mati kalo dimakan ibu mati, masak simalakama-nya mo diemut-emut ajah.. hahaha..

menurutku seh kalo aku dah mengalami masalah rumit gini, aku coba lepaskan.. aku serahkan kembali pada satu sumber segala hal yg ada di dunia ini.. krn menurutku lagi (sebagai seorang muslim) apapun yg kita cari & dapatkan di dunia ini, seharusnya tidaklah jauh dari ridho Tuhan.. walopun jujur hal ini tdk mudah, sungguh..

*pohon jg msh berusaha

Apisindica mengatakan...

@pohon: setujuuu, Gw yakin sama jalan tuhan jadi segala sesuatunya harus kita kembalikan pada Dia. Tuhan nggak mungkin menzhalimi umatnya kan? Akan ada selalu jalan keluar dari sebuah masalah...

Ligx mengatakan...

ternyata oh ternyata semua pada wise bgt dehh. xixixi..

setubuh sama yg diatas :p

a r i k mengatakan...

Masalah yang juga dialami para gay. Tuntutan untuk menikah! Keputusan yang berat memang.

daysandminds mengatakan...

terlalu banyak pendapat, mungkin gw lebih baik diam saja. Karena setiap orang akan memiliki jalan yang unik. Jadi si L pasti akan memiliki jalannya sendiri

ceritayuda.blogspot.com mengatakan...

@Ligx: artinya banyak yang peduli sama kamu say!!! semoga sudah mengambil keputusan yang tepat yah?!

@Arik: iya, itu juga berlaku buat kaum gay...

@days:setuju sama days....jalan buat seseorang sudah digariskan dari sananya!!

ZULKIFLI BIN MOHAMED mengatakan...

Salam,

"jejak ke mari".

Apisindica mengatakan...

@zulkifli: salam balik!!!

Terima kasih sudah mampir!

Bedjo mengatakan...

Hola halo...
Aku adalah orang pertama yang sangat tidak setuju kalo harus mengorbankan kebahagiaan demi sesuatu yang lain; ortu, adat, standar hidup...

Lihatlah keluar sodara2, hidup ini ngga cuma standar (lahir, besar, nikah, punya anak, mati...) Hoho... alangkah membosankannya itu.
Banyak skali pilihan yang bisa diambil, gaya hidup dah makin berkembang neh.

Klo masih mau dipaksa2 gitu, jah... sama saja kembali ke jaman penjajahan duonk, dimana yang lain dah asik dengan kebahagian pilihan menjalani hidup mereka, eh masih mau2nya kehidupannya ditentukan orang lain.

Kejam... kejam...

Brokoli sehat mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Brokoli sehat mengatakan...

oooh apis,jawabanmu bijak sekali. Some part, i agree with you. Gak mudah menjadi egois ketika membahagiakan orangtua pun jadi pioritas hidup kita. Inget gak kita pernah ngobrolin soal how this is end? Lu bilang bakal bahagiain bokap nyokap lu, dan itu sama sekali gak salah buat gw,dan ketika L pun akan mengambil keputusan itu, ya gak salah juga. I think in this matter,apa yang lebih penting adalah bukan apa yang dipilih, tapi mempersiapkan diri menerima dan menjalani konsekuensi pilihan itu, karena apapun yang L pilih tentu berkonsekuensi

Apisindica mengatakan...

@bedjo: silahkan beropini. Ini forum bebas, sebebas orang-orang untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing.

Buat saya, menikah tidak mengorbankan kebahagiaan. Saya berkompromi. Berkompromi dengan semua jalan hidup yang terpampang di depan. Mungkin ada sebagian kecil kebahagiaan saya yang saya berangus, tapi saya yakin saya bisa meniti kebahagiaan lain. Kebahagiaan dalam bentuk lain.

Mungkin hidup saya membosankan karena mengikuti jalur yang dipilih orang kebanyakan. Tapi mungkin dengan membosankan itu saya bisa berubah menjadi jauh lebih baik.

Saya menghargai keputusan yang sudah Bedjo ambil. Saya bangga malah, karena saya sepertinya tidak akan berani mengambil langkah itu. Bedjo boleh panggil saya pengecut, karena saya terlalu banyak kompromi.

@Brokoli: kangeeeeeeen Popi!! Yuk makan-makan dan ngobrol kayak dulu! Lu sih keburu merit dan pindah ke daerah antah berantah. hehehehe.Gw setuju sama kalimat akhirnya, mempersiapkan diri menjalani konsekuensi dari pilihan yang telah diambil. Setuju banget!!!

LigX mengatakan...

thanks all
thanks for the support, opinion and the spirit of you
here I can not say more than really grateful
i touched to read all comments

Apisindica mengatakan...

@Ligx: hihihihi, Tuh kan lu bisa dapet banyak jawaban ketimbang gw langsung bales di email. semoga bermanfaat yah, gw tahu apapun yang nanti lo putusin lo udah pikirin mateng-mateng dan tidak akan menyesal kemudian!