Rabu, 09 Desember 2009

Ketika Hujan Tiba

Desember sudah datang, ditandai dengan seringnya hujan yang turun mencumbu genting rumah. Hawa dingin diiringi angin yang kadang mengigilkan sudah terasa di awal desember . Desember, saya selalu menyukai bulan ini. Kesannya romantis. Geliat romansa yang selalu memberi semangat untuk setidaknya meniupkan harapan baru. Harapan tentang banyak hal. Tentang cinta, tentang hidup, tentang kebahagiaan. Saya suka desember walaupun menurut sebagian orang desember itu kelabu.

Ketika saya menulis postingan saya yang sebelumnya “tentang rokok dan cemburu” saat itu sedang hujan. Hujan bulan desember, dan saya sangat antusias. Bukan antusias karena saya “terlihat” seperti sedang memamerkan sesuatu, berusaha membewarakan kalau saya sedang dekat dengen seseorang. Bukan itu. Saya antusias karena saya menyukai hujan, tarian hujan tepatnya. Hujan selalu membawa saya ke dimensi yang berbeda, melambungkan saya ke tengah derai yang menyejukan dan membuat basah.

Memang desember ini, ketika hujan tercurah sesering matahari menyapa semesta, saya banyak mendapat ‘hadiah’. Mungkin berkah dari hujan yang tercurah itu. Banyak harapan yang tiba-tiba menyelusup kedalam selimut malam saya melalui perantaraan mimpi. Anehnya ketika saya terbangun, saya hidup dengan mimpi itu. Mimpi yang membuat saya kemudian harus memilah-milahnya untuk memisahkan mana yang bisa saya kecap dan mana yang harus saya kembalikan ke dunia asalanya. Dunia mimpi, dunia yang tidak bisa direalisasi.

Kadang hadiah atau paket atau apapun itu kemudian saya menyebutnya, baru berani saya telisik dari berbagai sisi. Paling jauh saya hanya menimangnya, belum berani saya buka. Mungkin saya terlalu pengecut, tapi bayang ketakutan untuk sekedar membukanya seperti menghantui langkah saya. Kerap kali saya justru menghadapi kenyataan bahwa saya ternyata membuka kotak Pandora, masalah yang tidak kunjung berakhir setelah saya membukanya. Ujung-ujungnya saya merasa tidak bahagia dan putus asa. Karenanya sekarang saya lebih berhati-hati, sekedar menjaga perasaan saya sendiri. Saya sekarang lebih memilih menyimpan hadiah atau paketnya tetap di depan pintu. Belum saya pungut masuk.

Seperti seseorang yang saya gambarkan dengan kebiasaanya merokok, saya masih memperlakukannya seperti hadiah yang masih dalam kotak meskipun untuk yang ini saya sudah menimangnya dan membawanya hilir mudik kemana-mana. Di luar kamar. Saya mencoba lebih berdamai, lebih berani, karena saya tahu ketika itu tidak saya lakukan maka saya justru tidak akan mengetahui apa-apa. Yang saya dapatkan hanyalah kosong nantinya. Makanya saya lebih berani. Memungut, menimang, membawanya berjalan, melewati hujan, berteduh menunggu reda, menyentuh semua bagian kotaknya, dan akhirnya tetap saya letakan di luar kamar.

Boleh bilang saya naïf atau munafik. Tapi ketika pengalaman mengajarkan saya sesuatu, maka saya harus lebih bijaksana dalam memaknai proses pembelajarannya itu. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil langkah yang akan saya ambil atau tidak sembrono dalam memilih pijakan yang akan saya titi adalah hal yang banyak diajarkan oleh pengalaman. Pengalaman yang saya maknai kali ini bersama hujan di bulan desember, yang kadang kehadirannya mendahului pagi.

Kalau saya boleh berdoa, saya hanya minta kali ini saya diberi kesabaran yang agak lebih. Saya tidak ingin tergesa-gesa membuka hadiahnya untuk menjejalkannya kedalam kompartemen hati saya, meskipun saya sudah merasakan kekosongan yang teramat sangat. Saya hanya ingin merasakannya tepat terlebih dahulu. Tepat dalam artian bahwa dia memang seseorang yang saya cari selama ini. Entah kedepannya akan seperti apa, tapi setidaknya bukan hubungan sesaat yang ketika berakhir saya seperti dipaksa bangun tiba-tiba dari tidur nyenyak saya ketika hujan.

Hujan di desember ini, saya menemukan seseorang yang sedang saya pelajari perspektifnya dalam menjalani hidup. Seseorang yang saya akan ajak mengarungi banyak pergulatan pemikiran sebelum saya mengambil dari kotaknya dan meletakannya tidak lagi di depan pintu. Tapi akan saya bawa masuk, agar dia terhindar dari hujan. Bersama hati saya.

13 komentar:

lucky mengatakan...

saran gw segeralah dipungut, dibawa masuk kamar, dibuka, dicoba.

batas waktunya 3 hari, klo ga suka boleh dibalikin.

*ajaran sesat*

Grey_S mengatakan...

Batas waktunya seminggu kali Luck. Lebih dari seminggu, garansi tokonya abis.

Ligx mengatakan...

setuju sama Lucky, dipungut, dibawa masuk ke kamar, dibuka dan di coba. Ga kan pernah tau rasanya klo ga pernah di coba..
Bagaimana cara menikmatinya itu terserah anda, banyak cara untuk menikmati sesuatu kok. hihihihi

*tersenyum genit*

Alil mengatakan...

dipilih.. dipilih.. dipilih...

duuuhhh... yang lagi banyak candidate....
hahahhaa....

Zhou Yu mengatakan...

Seminggu? Garansi resmi bukannya sebulan? Seminggu ga cukup kale waktunya buat mempelajari

Apisindica mengatakan...

@Lucky: dipungut, dibawa masuk kamar, dibuka, dicoba. Kok persepsinya lain yah di kepala gw. Hihihihihi. 3 hari ya? hmm...liat nanti deh!

@grey: kalo garansi toko abis, garansi resminya berapa lam buk? hihihihi

@LigX:banyak cara untuk mencobanya yah? kalo gitu gw nyobanya dengan cara, dicolek trus baru dimasukin mulut (berasa nyicipin kue tart) Boleh gak pake cara begituan. hehehe

@Alil: banyak kandidat yang tetap harus disimpan di alam mimpi atau bahkan justru dibuang. Bukannya nggak oke sih, tapi lebih ke milik orang lain. Lagi berusaha memilih yang bener aja...

Apisindica mengatakan...

@zhou yu: garansi toko seminggu, garansi resmi itu setahun. huahaha. trus kalo brangnya tidak sesuai harapan, klaimnya kemana? ke rumah orang tuanya? gak kebayang. ;)

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

hehe.. nice post bro.. :)

tapi bro, kalo terlalu lama ditimang kesana kemari bagaimana dengan kotak hadiah itu sendiri.. masihkah dia ada disana ato kunjung pergi?

Apisindica mengatakan...

@pohon: hahaha, berarti waktu akan menjadi saringan tersendiri. ketika dia masih mau berkompromi dengan waktu dan dia masih mau berkomitmen dengan detik yang bergerak, kemudian dia bertahan. Artinya dia survive dan dia menunjukkan siapa dia sebenarnya.

Saat itu mungkin saya akan dengan hati yang penuh, membawanya masuk. tanpa ada ragu!

ninneta mengatakan...

nice post....

dan aku selalu suka waktu hujan turun... apalagi hari ini... hujan tanpa geledek... menyenangkan sekali....

Ligx mengatakan...

Apis, sukses loe dah bikin otak gue ngeres, tanggung jawab buat bersihin hayoo.,. hahahahahahahaha

-Gek- mengatakan...

emang di hati ada payung ya?
Jadi ga kehujanan, gitu??

ummmm..

hehehhe!

Apisindica mengatakan...

@ninneta: semua orang suka hujan, apalagi yang benar-benar hujan tanpa kilat dan petir. Terima kasih sudah berkunjung.

@LigX: ntar gw suruh emak (pembantu) di rumah gw buat ngebersihin otak lu yah. Kasih aja alamat lengkapnya. hehehehe

@Gek: di hati bukan cuman ada payung kali, ada beras, ada terigu, minyak goreng. Nah kok kaya toko sembako. heheheh

Piss...