Rabu, 14 Oktober 2009

Mengobati Hati

Kalau aku diberikan satu kesempatan untuk bertanya, maka aku akan bertanya kenapa kamu mundur teratur?

Kamu mundur setelah sebelumnya mengembangkan sebuah harapan, membingungkanku kemudian karena kamu berubah total, seperti matahari yang tiba-tiba terbit dari arah barat. Aku kehilangan orientasi, limbung dengan apa yang terjadi. Aku belum siap menerima perubahan yang mendadak, aku gamang karena sontak aku harus menggapai-gapai di kegelapan yang tercipta.

Kehadiranmu bagai gerimis. Sesaat, tapi tetap meninggalkan jejak. Meninggalkan bau tanah yang mengendap di saraf olfaktorius. Tak mau hilang. Jika aku boleh memilih, aku lebih senang terporak porandakan badai ketimbang terkoyak gerimis. Gerimis hanya mengiris tipis semua perasaan yang membuncah, meninggalkan pekerjaan yang nampaknya belum purna. Tanah belum lagi basah ketika gerimis sudah reda. Gerimis hanya menimbulkan luka.

Tak ingatkah kamu ketika malam-malam itu kamu memaksa untuk bertemu? Tak ingatkah kamu ketika kita berbincang tentang segala hal di bawah terang bulan? Semua itu menimbulkan keyakinan di hatiku kalau kita sedang berjalan ke arah yang sama. Menyongsong fajar sambil bergenggaman tangan dan memautkan hati. Semuanya indah. Sayang kamu tiba-tiba memutuskan untuk mundur teratur. Entah karena alasan apa.

Sekarang ketika semuanya sudah berubah, ketika aku sudah bisa menegakkan kembali kepala, kenapa kamu masih mengikutiku selayaknya hantu. Tak sadarkah bahwa semua tingkahmu itu hanya memberi nanar dalam langkah hidup yang hendak aku tempuh.

Aku bukan malaikat, yang tidak akan mendendam. Aku juga bukan Tuhan yang akan memaafkan secara gampang. Semua butuh proses karena aku hanya manusia biasa. Perasaanku butuh untuk dimengerti, luka hati butuh untuk diobati. Ketika kamu memutuskan mundur, artinya jangan pernah berharap kalau aku akan menjadi orang yang sama. Orang yang bersedia berdiri disampingmu ketika terik membakar habis amarahmu atau ketika hujan memadamkan api semangat hidupmu. Aku tidak bisa lagi seperti itu, setidaknya untuk saat ini.

Dalam perjalananku seiring mengobati luka hati, aku menyadari sesuatu yang membuatku tak habis mengucap rasa syukur. Tuhan, akhirnya aku mengerti kenapa Engkau menjauhkan dia dari aku.

9 komentar:

Bedjo Saja Ya.. mengatakan...

Turut berduka cita sedalam-dalamnya :(((((

lucky mengatakan...

gimana klo loe bilang ke dia: "aku perlu waktu untuk sendiri"

Manusia Bodoh mengatakan...

Jij sendiri yang bilang sama saya, lebih baik usai sedari awal, ketika rasa itu masih dangkal... daripada ketika komitmen telah diikrarkan, ya tooo?

Umm, stay strong!
You just haven't met "him" yet!

Apisindica mengatakan...

@bedjo: masa-masa berdukanya udah lewat kok. Sekarang lagi balik menuju ke era cerah ceria. hehehe

@Lucky: ntar gw coba deh...

@manusia: masalahnya ini bukan lagi dangkal. Ibaratnya sejengkal lagi menuju dasar, seiprit lagi menuju ikrar. Jadi hati gw sudah terlanjur mengembang, tapi yah sudahlah lagian hati ini udah mulai balik ke bentuk awal kok.

yes, i will stay strong! like used to be!

Jo mengatakan...

Hmm.. ini lagi ngomongin siapa?

si A, si B, si C atau si D? Atau jangan2x si E yang udah pergi jauh itu? Jyahaha.. eh.. atau malah udah sampai aja ke si T? Ya ampyun cinta... yang mana siiiih (bingung2x ria)...

Kuncinya:
1. Jangan cepat suka
2. Jangan berharap terlalu banyak
3. Fokus lah pada satu orang saja (hihihi)..
4. dll... (dibahas lain kali xixi)

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

kunci mengobati hati bro; sabar, syukur dan ikhlas.. dapet dari pengalaman yang juga tak kunjung usai diusahakan.. hehe.. cepet sembuh ya bro..

Ginko mengatakan...

Yah kalau dia sudah mundur tidak seharusnya dia memberi harapan lagi, harus ada satu pihak yang stabil disini... yes or no, not in between.

the-magoos mengatakan...

yaaa... obati hati yang luka itu susah, apalagi kalau perihnya sudah sangat merasuk, tapi... kamu pasti bisa!!!

Apisindica mengatakan...

@Jo: dooh, giling lo yah sampe di list gitu.
1. A : udah baseeeeee. Hihihihi
2. B : gak ada B
3. C : gak ada C juga
4. D : masih bingung, iya apa nggak yah...
5. E : suruh selesaikan S2 nya aja dulu. hehehehe
6. T : mauuuuuuuuuuuuuuuu. hihihihihih

tuh, gw fokus kan?!!! :)

@pohon: Makasih ya mabroo..ini udah baikan kok! dengan kunci yang sama: ikhlas...

@ginko: berarti harus gw yang mencoba stabil meskipun dia mengikuti gw seperti hantu. betul tak?!

@magoos: betulll...dan gw yakin gw bisa. Makasih yah!