Minggu, 08 Februari 2009

Realisasi Doa Jaman Dulu


Tuhan, aku yakin kalau Engkau pasti masing ingat doa-doa yang aku panjatkan ketika aku baru lulus kuliah dulu. Aku sangat ingin meniti karier di Jakarta. Aku yakin Engkau masih ingat semua itu, dan aku yakin kalau Engkau tahu bahwa alasanku ingin berkarir di Jakarta bukan karena ingin hidup bebas yang katanya metropolis, bukan itu. Aku hanya ingin berkarir dengan jejak yang jelas. Karir yang titiannya pasti karena aku sangat yakin, dengan background pendidikanku yang sudah sangat spesifik akan sulit sekali berkarier di Bandung. Padahal aku cinta mati dengan kota kelahiranku ini.


Tuhan, kala itu aku terus menunggu jawaban atas doaku. Menanti realisasi kuasaMu atas permintaanku. Sayang mungkin Engkau punya itikad baik yang tidak aku mengerti, setelah aku menunggu, tak juga Kau kabulkan semua harapanku. Tapi aku tidak lantas berburuk sangka Kepadamu. Aku tahu dan yakin Engkau bekerja dengan cara yang sama sekali tidak aku mengerti. Aku kemudian mengubah haluan, bukan mengalihkan keinginanku untuk meniti karir di Jakarta, tapi untuk sementara menundanya. Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku sambil terus berharap bahwa ketika aku menyelesaikan studiku nanti, Engkau kemudian mengijabah doaku.


Tapi Tuhan, ketika studiku telah berakhir dan kembali aku meminta kepadaMu untuk memberiku karir di Jakarta, lagi-lagi Engkau menunjukkan cara yang tidak kumengerti. Engkau tidak lantas memberiku kesempatan untuk hengkang ke Jakarta. Engkau malah mengirimku ke kota yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kota kecil yang sangat jauh. Tapi aku tidak menyesalinya, karena itu menambah relief indah di dinding perjalanan hidupku. Ketika aku memutuskan pindah dari kota itu, Engkau kembali memberi karier di kota yang bukan Jakarta. Untungnya sekarang tidak seterpencil kota yang dulu. Sampai saat ini, karierku yang ini ketika aku diberi naungan rizki di pinggiran jauh Jakarta. Tapi Tuhan, kembali aku tekankan, aku tidak menyesali semuanya. Aku tidak berburuk sangka.


Dengan pikiran dewasaku, aku mencoba menelaah semuanya karena aku yakin ada rencana indah dan baik dibalik semuanya. Aku tahu dan mengenal siapa diriku sebenarnya, aku tahu akan seperti apa aku di Jakarta. Dengan karier dan pekerjaan yang mapan, aku pasti akan jauh dariMu. Kenapa aku yakin seperti itu? Seperti aku bilang tadi, karena aku tahu dan mengenal siapa diriku. Karier mapan di Jakarta hanya akan membuat diriku hancur, menjebakku dalam dosa. Aku yakin itu, oleh karenanya aku tahu kenapa Engkau tidak mengabulkan semua doaku. Karena Engkau menyayangiku.


Sekarang, ketika aku pasrahkan semuanya. Mencoba berdamai dengan hati dan keadaan. Engkau kembali menunjukkan kuasaMu. Tanpa disangka-sangka, Engkau memberiku karier di Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, langsung di jalan protokol, di daerah segitiga Emas di Jakarta. Harusnya aku bersyukur bukan? Doaku akhirnya terkabulkan. Tapi sungguh ketika aku menelaahnya lagi dengan pikiran dewasaku, aku hanya bias tersenyum. Engkau begitu menyayangiku duhai Tuhan.


Dulu, aku meminta karier jelas di Jakarta, Engkau tidak mengabulkannya. Kini, ketika aku sudah mulai berdamai dengan keadaan, Engkau tiba-tiba mengirimku ke Jakarata. Karier mungkin sangat jelas, aku tahu itu. Tapi sebagai pegawai pemerintah, abdi negara, aku tahu dengan jelas penghasilanku. Makanya aku tahu Engkau menyayangiku Tuhan. Engkau tidak membiarkanku tenggelam dalam kegiatan hura-hura. Tapi aku tidak menyalahkanmu Tuhan, aku justru mendalami arti dari kuasamu. Terima kasih Tuhan. Engkau sangat baik.


Kembali, kau akan menyelamatkanku dari kemungkinan terjauh darimu. Menjadikanku hamba yang harus senantiasa menyambangiMu, untuk bersyukur dan meminta lebih. Aku juga sangat yakin, Engkau tak akan pernah bosan aku datangi. Aku hanya meminta, bimbinglah aku agar selalu berada di jalanMu. Amien.

Tidak ada komentar: