Selasa, 12 Februari 2008

“MACHO MAN NGOMONG CONG” VS “TUHAN TIDAK PERNAH ISENG”

Firstlly, buat para blogger yang baca blog ini jangan langsung menjudge kalo gue gay! Gue cuman mau belajar bikin resensi buku. Suer…. :D. Kalo nggak percaya, datang…rasakan…dan buktikan.Hehehehehe.

Baru-baru ini gue beli dua buku yang pakem temanya mirip yaitu tentang “gay world”. Yang bikin gue bingung kok sekarang banyak yah yang ngeluarin buku dengan tema yang masih jadi polemik di masyarakat kita. Kalo soal gay club yang udah ngejamur di Jakarta itu lain soal, lain perkara. Tapi bikin buku….., dipublikasikan, dipajang di display terus jadi best seller, rasanya masih menyebarkan aroma ambiguitas. Apa mereka pengen eksistensinya semakin diakui dan mengibarkan panji kalau kaum mereka ada dan berkembang atau mereka cuma ingin menulis dan menulis. Gue gak pernah tau.

Buku “Macho Man Ngomong Cong” (MMNC) yang ditulis Fa dan “Tuhan Tidak Pernah Iseng” (TTPI) yang ditulis Zemarey Al-Bakhin, memang memaparkan permasalahan dengan cara yang berbeda, tapi keduanya memiliki kekuatan yang dahsyat. Makanya buku-buku ini WAJIB dikoleksi. Setelah dibaca…..kesan, penafsiran dan pengejawantahan gue serahin ke masing-masing individu. I have no right to judge….

MMNC sebenarnya buku yang berisi kumpulan tulisan Fa di blog pribadinya yang kemudian dihimpun dan dipublikasikan. Buku yang “fresh” dengan tema-tema sederhana yang dekat dengan kehidupan kita. Meski agak sedikit vulgar tapi benar-benar menghibur. Gue jamin, setidaknya yang baca bakalan senyum-senyum sendiri meski nggak ketawa ngakak (ya iyalah….lo pikir baca Crayon Sinchan!). Apa pasal? Karena cerita-ceritanya mengalir dengan santai, tanpa beban tapi sarat makna. Makna buat siapa? Ya buat lo lo pada yang ngerasa diri lo gay. Hahahaha. Nggak dink, buat orang straight juga cerita-ceritanya bisa memberi perspektif lain yang “menggoda” melalui kesederhanaan bahasanya. Kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan buku ini. You have to read this book, Really!

TTPI lebih mirip atau bahkan mirip dengan buku-buku kebanyakan. Autobiografi. Memaparkan kehidupan Rey, sang penulis dari mulai lahir, besar, terkepung banyak masalah, sadar dan cara memaknai kesadarannya tersebut. Sederhana tapi berkualitas, membuat yang pada baca buku ini meraba hati mereka sendiri. Yang menjadi kekuatan buku ini adalah perspektif agamanya yang lumayan mengena dengan masalah yang dihadapi penulisnya. Agama memang sesuatu yang hakiki, yang tak terbantahkan, jadi ketika agama dijadikan acuan untuk memaknai berbagai masalah yang mendera, semuanya menjadi luar biasa. Hal inilah yang sangat disadari oleh Rey. So….You have to read this book also!

Berawal dari kesadaran Fa dan Rey tentang disorientasi seksual mereka, maka mengalirlah cerita dalam kedua buku tersebut. Mereka menjual pergulatan hidup di “dunia” yang masih dianggap tak lazim. Mereka mengeksplorasi setiap detail kehidupannya untuk dibagi dan diyakini oleh para pembacanya. Kesadaran Rey bahwa rohnya “terjebak” di tubuh yang salah dipaparkan dalam TTPI secara indah. Hal ini tidak ditemukan pada MMNC, karena Fa tidak merasa demikian (mungkin!). Fa hanya menikmati hidup dan menjalaninya sebagai suatu berkah. Kehidupan Fa yang sangat “metropolis” yang menjadikannya berbeda dengan Rey meski mereka memiliki kesamaan yaitu mempertanyakan eksistensinya kepada Tuhan (pada awalnya!).

Rey menggugat Tuhan mengapa dia diciptkan “berbeda”, meski akhirnya timbul keyakinan bahwa Tuhan menciptakannya masih koma belum titik sehingga dia masih bisa merubah jalan hidup yang telah Tuhan kasih. Apabila ada manusia “seperti” Rey yang kemudian menerima apa adanya kodrat tanpa ada keinginan untuk mengubahnya, artinya dia telah menciptakan titik untuk hidupnya tersebut. Berbeda dengan Rey, Fa meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Dari dasar itulah dia merasa bahwa ke-gay-annya adalah sesuatu yang memang sudah diciptakan Tuhan dengan sempurna, and he totally proud about that. Fa kemudian menggugat masyarakat dari kesadarannya itu, apabila Tuhan menciptakan dia dengan sempurna termasuk his gayness, mengapa masyarakat menghujat kaumnya? Sorry Fa, I have no correct answer yet.

Pertentangan dalam kedua buku tersebut yang masih bisa ditarik benang merahnya adalah mengenai konsep pernikahan. Fa menganggap bahwa gay menikah hanya untuk alasan klise seperti pengen punya anak, bisexual reasons, ngebahagiain ortu, gak tahan tekanan sosial, agama, takut ntar tua nggak ada yang ngerawat, financial reasons, and so on. Fa mengagumi semua gay yang memutuskan untuk menikah, apapun alasannya meski dia sendiri memutuskan untuk tidak menikah (untuk saat ini, sapa tau besok-besok berubah….amien!). Sementara Rey menganggap pernikahan merupakan jalan untuk menuju pertaubatan. Dia merasa pernikahan yang telah dijalaninya merupakan rem baginya untuk tidak melanggar batas norma. Yang keren dari Rey, akhirnya dia mengakui semua masa lalunya pada sang istri (GILEEEEE!..what a brave action!). Yang masih ganjel di pikiran gue, Rey bilang di bukunya kalau meskipun dia sudah menikah tapi alam bawah sadarnya masih menyukai sesama jenis. Adilkah itu buat istrinya yang udah menerima dia apa adanya? (come on Yuda, bukan saatnya untuk menghakimi. So mind your words!..Upss,Sorry!).

Nggak ada lagi kata yang bisa terurai untuk mengungkapkan keberadaan dua buku ini kecuali, MENARIK, MENGHIBUR DAN BERTUTUR TANPA BERMAKSUD MENGGURUI. Selamat tersungkur dalam nuansa baru bagi para pembacanya! Benar-benar tersungkur (seperti halnya gue) dalam rasa puas sekaligus kagum pada keterbukaan Fa dan Rey. Selamat menyelami dunia baru yang mungkin para blogger tidak menyadarinya padahal dekat dengan kita, oleh karena itu janganlah menutup mata karena “mereka” memang ada. Jangan menghakimi karena itu jalan yang sudah mereka pilih seperti jalan yang kalian pilih selama ini untuk dijalani. Mereka sadar betul apa yang sudah mereka pilih.

Akhirnya, terucap untaian kata maaf untuk Fa dan Rey karena gue yang gak ngerti apa-apa dan bukan siapa-siapa udah berani mengomentari dan mengapresiasi buku kalian. Hal ini bersumber dari kekaguman terhadap karya kalian terlebih keterbukaan kalian. Semoga tulisan sederhana ini menjadi setitik bara api yang akan menyemangati kalian untuk kembali berkarya, bukannya setetes embun yang menyegarkan tapi justru memadamkan bara yang udah ada (Gaya banget ya gue…..Sapa gue coba?). Terucap juga terima kasih karena dengan hadirnya buku kalian, merangsang keinginan gue untuk membuat resensi sederhana, paling nggak mengkritisi. Teruslah menulis karena gue nggak sabar untuk nunggu karya-karya berikutnya. Keep on fighting guys (or gays!), Life is too good to feel bad. Salam.

Bandung, 8 Pebruari 2008
Ditengah malam buta, sambil meniti pelangi

Tidak ada komentar: