Jumat, 14 Juni 2013

Teruntuk Hujan

Untuk Hujan,

Semalam kamu singgah lagi di halaman. Entah apa yang ingin kamu bewarakan padahal seharusnya ini bukan lagi saatnya musim penghujan. Tapi kamu kerap kali masih datang, seperti kehausan. Seperti ada beban yang belum tuntas terlunaskan.

Lewat rintik yang membasuh karat debu di ujung dedauan, kamu menebar muram. Mengigilkan kesunyian yang tercipta karena sebagian besar orang justru berdiam dalam selimut kenyamanan. Menyuarakan kidung perih seperti anak yang menangis menunggu ibunya pulang dari ladang.

Kamu mendobrak belenggu. Menganomalikan sabda alam ketika seharusnya kamu tenang beristirahat sambil menyulam rinai untuk diturunkan ketika kering sudah menghasilkan bosan. Kamu tidak peduli, datang dan datang lagi seolah ingin selalu dihadirkan. Tidak ingin tergantikan oleh kerontang yang sepertinya sudah mengintai.

Semalam kamu memapah pagi yang menjanjikan embun kesejukan. Menghadirkan becek  di kubangan-kubangan aspal yang regas dilindas roda-roda kendaraan. Lewat genangan kamu ingin dikenang, bahwa semuanya belum usai. Kamu belum ingin dienyahkan. Belum ingin ditamatkan sesaat.

Hujan, berteduhlah barang sebentar. Ada cinta yang masih harus aku jelang. Cinta yang baru saja aku semai. Cinta yang baru berkecambah sehingga kuncupnya mencumbui udara. Jangan biarkan dia luruh kembali hanya karena terlalu banyak menyesap uap yang membuatnya kedinginan. Jangan biarkan dia tenggelam dalam deras air yang tercurah perantaraan awan. Aku ingin yang sekarang lebih lama bertahan karena aku bosan memulai dari awal. Aku letih di ujung banyak penantian. Karenanya bersahabatlah sedikit padaku, padanya. Pada kami.

Aku bukan tidak ingin kamu datang di penghujung petang, karena bagaimanapun kamu akan menjadi semacam ujian bagi kami. Menjadi kuat atau malah tercerai berai. Tapi tolong jangan dulu sekarang, jangan terlalu cepat datang. Kami masih saling menyamakan banyak pertentangan. Berdamai dengan seribu macam perbedaan, mematut diri pada cermin yang tergantung di dinding untuk menyesuaikan proporsi.

Hinggaplah sejenak di ranting cemara, amati kami dan beri nilai dari proses yang sedang dijalani. Ketika kamu sudah merasa kami cukup kuat maka datanglah bertandang. Beri kami sedikit tantangan. Tak perlu yang menguras tenaga sampai berkeringat hingga basah. Cukuplah sebuah permainan yang rasanya seperti menaiki bianglala. Berputar, menaik dan kadang berhenti.

Aku dan dia bagaimanapun berasal dari dua kutub yang bertolak belakang. Karenanya mungkin akan ada saatnya kami lelah dan berjalan menuju titik yang sama untuk menunggu datangnya hujan dan mengiba kesegaran. Nanti. Tidak sekarang.

Tidak ada komentar: