Minggu, 02 Juni 2013

Teu Bisa Ngarawu Ku Siku

“Teu bisa ngarawu ku siku”

Falsafah orang sunda yang sampai saat ini masih saya pegang. Falsafah yang tidak akan pernah berubah artinya sekalipun dunia sudah mengalami banyak kemajuan seperti sekarang ini. Teu bisa ngarawu ku siku arti secara harfiahnya adalah “tidak bisa meraup menggunakan sikut” sedangkan menurut enin (nenek) yang pernah mengajarkan falsafah ini artinya adalah kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Sikut memiliki keterbasan meskipun dia bisa digunakan untuk mengambil sesuatu.

Dan saya percaya. Mungkin lebih tepatnya diajarkan untuk percaya karena berbagai pengalaman hidup mengajarkan saya untuk lebih meyakini falsafah tersebut. Dan benar. Banyak hal yang tidak bisa diraih sekaligus. Banyak hal yang untuk dicapai, terlebih dahulu dihadapkan pada sebuah pilihan. Bisa dua, tiga atau mungkin sekaligus banyak yang seringkali membuat saya bingung dan linglung.

Kenapa harus bingung? Saya sebetulnya tinggal memilih, bahkan bisa dilakukan sambil memejamkan mata atau nungging sekalipun. Tapi andai semua bisa sesederhana itu, semudah kata atau nasihat yang keluar dari mulut saya untuk orang lain. Nasihat seringkali mudah diberikan kepada orang lain, tapi ketika diterapkan pada diri sendiri ternyata tidak semudah apa yang harus dilakukan. Banyak pertimbangan, banyak pertentangan, banyak konflik. Akhirnya saya sering terduduk dan bingung. Alasannya karena saya ingin semua opsi dari pilihan yang dihadapkan.

Serakah? Sepertinya. Salah? Tidak. Sangat manusiawi menurut saya ketika seorang manusia sebutlah saya menginginkan lebih dari 1 perwujudan keinginan. Urusan terwujud atau tidaknya sering saya abaikan karena saya lebih berfokus untuk tetap memperjuangkannya. Apakah saya mendapatkan kesemua pilihannya? Kadang iya dan seringkali tidak. Kalaupun saya mendapatkan semuanya, maka tidak ada salah satu yang maksimal, semuanya nanggung seperti hukum alam.

Ibu saya pernah bilang, ketika kita mendapatkan sesuatu maka kita harus melepaskan yang lainnya. Dan saya juga tidak kalah mengamini. Serakah saja tidak cukup. Kemaruk saja tidak lantas membuat saya bahagia dan mengantarkan saya jadi pemenang. Berpikir matang yang kemudian harus dilakukan ketika saya dihadapkan pada sebuah pilihan. Sekali keputusan sudah dibuat maka akan sukar untuk saya berjalan mundur ke belakang. Dan saya tidak ingin hidup dalam penyesalan. Menyalahkan suratan padahal jelas-jelas saya yang memutuskan.

Beberapa hari ke belakang saya dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Sulit menurut saya karena bisa jadi menurut orang lain itu hanya hal remeh yang seharusnya tidak dipikirkan secara berlebihan. Sulit menurut saya karena pertentangan yang hadir justru mempertemukan dua kutub yang saling berlawanan. Masalah duniawi dan akhirat. Sulit menurut saya karena sekarang saya masih hidup di dunia, bagaimanapun saya harus menabung bekal untuk kehidupan saya di dunia ke depannya. Kebutuhan harus dibeli, tidak turun dari langit. Sulit menurut saya karena saya sangat yakin dengan kehidupan akhirat. Kehidupan setelah mati. Jadi sayapun harus menabung untuk bekal saya di akhirat kelak. Dilematisnya adalah ketika jadwal untuk memenuhi kebutuhan duniawi dan akhirat ternyata berbentrokan. Salah satu tidak bisa ditawar. Tidak bisa dijawal ulang seperti yang pernah saya bayangkan.

Berhari-hari saya bingung. Dirundung banyak pertentangan yang menghantarkan saya pada sakit kepala hebat dan produksi asam lambung yang berlebihan. Cemen. Berhari-hari saya seperti orang linglung yang tidak tahu jalan pulang padahal jalanan di depan jelas tanpa tutupan awan. Saya menangis. Ingin protes pada Sang Pemilik Hidup, tapi urung saya lakukan. Terlalu sering saya protes. Terlalu sering saya menjadi hamba yang pembangkang. Kali ini saya ingin lebih ‘nrimo. ‘Narimakeun’ atas apa yang sudah Tuhan rencanakan.

Katanya saya harus belajar ikhlas. Belajar menerima suratan sebagai takdir yang memang harus disandang. Dan ternyata iklhas itu tidak gampang. Mudah diucapkan tapi hati seringkali tidak mudah ditaklukan. Berulangkali dia menggugat apa yang sudah saya putuskan. Melemparkan saya pada putaran yang semakin membuat saya sempoyongan. Berulang-ulang. Sampai saya tidak bisa lagi menahan isi perut untuk keluar. Mual.

Waktu terus diputar. Tengat waktu semakin sempit untuk saya memutuskan. Ditengah tangisan yang sudah mulai mereda. Di ujung kepeningan sisa dari saya berkontemplasi tentang pilihan yang muncul akhirnya saya memutuskan. Mengambil satu pilihan, dan melepaskan yang yang lainnya. Apakah saya ikhlas? Masih sedang diusahakan. Masih terus belajar. Saya hanya yakin bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk saya. Tuhan akan membukakan pintu rezeki lainnya ketika saya justru menutupnya dengan sadar. Tuhan pasti menyayangi saya, hambanya yang pembangkang.


Bismillah. Keputusan sudah bulat dibuat. Semoga ini memang jalan yang terbaik, tidak hanya menurut saya tapi juga menurut Tuhan. Amin.

Tidak ada komentar: