Kamis, 22 Agustus 2013

Dahulu

Kaget. Itu yang pertama aku rasakan ketika untuk pertama kalinya setelah kehilangan kontak hampir setahun lebih mendengar suaramu kembali. Tawamu, nafasmu, pelafalan huruf R yang terdengar lucu, semuanya membuka lembar demi lembar memori yang sesungguhnya sudah kusimpan rapih dalam salah satu kotak kenangan di dalam hatiku.

Mendengar suaramu kembali meskipun di telpon memaksaku untuk kemudian membongkar semua ingatan masa laluku denganmu. Masa dimana dulu pernah kita jalani titian penuh pelangi. Mejikuhibiniu. Indah. Aku masih ingat semuanya, kenangan tentangmu memang kusimpan rapih disana, di kuadran khusus dalam siklus perjalanan hidupku. Ibarat pasir pantai, koyak oleh ombak tapi setelah itu rapi kembali

Masih bisa kurasakan hangatnya jabat tanganmu ketika kita berkenalan untuk pertama kalinya. Di Jepang. Ya, di negeri matahari terbit itu aku mengenalmu. Saat itu kita masih sama-sama bego, sama-sama bingung. Berjalan di selasar salah satu kampus, mencari kantor administrasi yang mengurus beasiswa kita. Kita sama-sama dapat beasiswa untuk short course di universitas tersebut. Perbedaan foundation yang memberi beasiswa yang membuat kita tidak pernah bertemu sebelumnya di Indo.

Lucu memang kalo mengingat masa itu. Masa-masa penuh perjuangan, penyesuaian dan yang paling indah tentunya masa ketika bunga sakura bermekaran seiring dengan mekarnya bunga cinta kita. Aku nggak tahu kenapa rasa itu bisa muncul. Apakah kebersamaan kita yang menyebabkan semuanya? Aku nggak peduli, yang pasti aku sangat bahagia mengenal dan kemudian jatuh cinta kepadamu.

Kita seringkali sibuk dengan urusan kita masing-masing, maklum kita memang beda jurusan. Studiku lebih banyak mengharuskan aku untuk berada di laboratorium, sementara waktumu lebih luang. Tapi itu tak menjadikan jalan keluar. Waktu studi yang terbatas membuat kita menjadi lebih egois, menjadi tidak memperhatikan perasaan masing-masing. Rasanya menjadi hambar. Kita tersadar ketika setahun berlalu dan kita sama-sama harus balik. Aku masih ingat jelas janji kita untuk melanjutkan studi di kota yang sama suatu hari nanti, barengan. Janji yang indah.

Semenjak pulang ke Indo, kita jarang berhubungan. SMS dan telpon hanya berbunyi datar, tak mampu memendarkan bara yang tersisa. Kemudian lama tak kudengar kabar darimu, dan tiba-tiba aku mengetahui bahwa kamu sedang mengambil studi mastermu di Amerika. Kamu memang lebih beruntung, beasiswaku tak kunjung datang. Makanya aku memutuskan untuk mengambil studi masterku di Indonesia.

Hari ini, disaat lebaran, kamu kemudian menghubungiku. Sekedar melepas rindu katamu. Mumpung lagi liburan sebelum kamu balik ke amrik bulan Februari besok. Kehadiran yang sesungguhnya tak aku harapkan karena aku tahu pada akhirnya hanya akan meninggalkan perih. Meninggalkan luka yang kembali menganga.


Komunikasi kita kali ini memang tak sebatas suara, tapi raga bernyawa ikut terlibat. My God, akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Kamu masih seperti yang dulu. Tak berubah, hanya banyak raut kedewasaan yang kulihat bertambah disana. Aku tahu kamu bukan kamu yang dulu, tapi aku yakin rasa itu masih ada di dalam hatimu. Rasa yang sama, yang pernah ada tujuh tahun yang lalu saat bunga sakura dan tsubuki bermekaran.

Tidak ada komentar: