Senin, 03 Desember 2012

I'm What I'm


“Kalau kita terlambat bertemu dengan jodoh, bukan berarti kita harus menghambat orang lain untuk bertemu jodohnya”

Itu quote yang saya buat sendiri sekitaran akhir tahun lalu. Quote yang tiba-tiba muncul di dalam kepala ketika adik saya bertunangan dengan kekasihnya yang sudah dia pacari hampir 3 tahun lamanya. Pertunangan yang dilakukan sebagai langkah awal untuk menuju perkawinan yang direncanakan terjadi tahun ini. Tahun 2012.

Apakah saya sedih? Apakah saya kecewa? Apakah saya merasa ditinggalkan? Apakah saya merasa Tuhan tidak berlaku adil terhadap saya? Jawabannya hanya satu. Tidak. Tidak ada sedikitpun saya merasa sedih, kecewa, ditinggalkan apalagi merasa dizhalimi Tuhan. Boleh percaya atau tidak, tapi itu sesungguhnya yang saya rasakan. Mungkin kebanyakan orang termasuk keluarga dekat saya yang bukan keluarga inti tidak mempercayainya. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak hidup dalam opini mereka.

Kalaupun misalnya saya bersedih, kecewa kemudian merasa ditinggalkan apa yang bisa orang-orang itu lakukan? Memberikan penghiburan? Memberikan semangat? Saya tidak butuh semua itu karena sekali lagi saya tegaskan kalau tidak ada perasaan-perasaan semacam itu ketika adik saya yang memang terpaut umur 6 tahun akan melangkah ke gerbang perkawinan. Saya justru ikut bahagia karena dia lebih cepat bertemu dengan jodohnya. Lebih cepat menyempurnakan agamanya.

Rencana hanya tinggal rencana. Adik saya dan kekasihnya karena satu dan lain hal harus mengubur keinginannnya. Selamanya. Mereka membatalkan pertunangannya. Memberi akhiran pada jalinan kasih yang sudah mereka bina selama tiga tahun untuk alasan yang tidak perlu saya tuliskan. Adik saya bersedih, orang tua saya bersedih, sayapun ikut bersedih. Adik saya sedih karena sebetulnya dia masih sangat mencintai kekasihnya. Orang tua saya sedih karena melihat anak bungsunya bersedih. Saya bersedih karena saya juga kasihan dengan adik saya. Dan kadar sedih sayapun bertambah ketika banyak orang di luaran sana yang mengatakan bahwa putusnya hubungan mereka adalah karena doa yang saya panjatkan.

Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran picik semacam itu. Sebetulnya saya tidak lantas peduli. Saya menganggapnya angin lalu meskipun ketika saya konfrontir mereka mengklarifikasinya sebagai sebuah candaan. Candaan yang menurut saya sangat tidak lucu. Candaan dangkal yang tidak perlu saya perpanjang. Tuhan yang paling tahu apa yang saya rasakan. Sampai berbuih seperti apapun saya menjelaskan, kalau orang lain memilih tidak percaya maka ujungnya hanya akan sebuh ketidakpercayaan. Karenanya saya mengembalikan kepada Tuhan, Dzat yang tidak bisa disangkal.

Waktu terus bergerak. Adik saya disembuhkan. Adik saya kemudian bertemu lagi dengan seseorang. Dan romansa kembali dituliskan. Adik saya memiliki kemampuan untuk move on jauh lebih cepat dari pada saya yang seringkali masih tertambat pada perasaan di belakang. Saya harus belajar banyak dari adik saya. Bagaimana melenyapkan atau menyimpan masa lampau. Apakah lagi-lagi saya merasa ditinggalkan? Tidak. Saya kenal siapa adik saya, tipe orang yang tidak pernah bisa sendirian. Semakin cepat dia berpasangan, semakin cepat bahagia akan dia jelang. Dan saya turut bahagia.

Tidak memiliki seseorang selama bertahun-tahun mengajarkan saya untuk tidak pernah bergantung pada orang lain. Saya mampu datang ke undangan pernikahan siapapun sendirian. Saya mampu berbelanja sendirian. Tidak gentar untuk makan di restoran sendirian. Tidak peduli saat sekian banyak mata mempertanyakan ketika saya datang ke bioskop sendirian. Tidak pernah ada masalah. Saya hanya belajar untuk kuat walau tidak dipungkiri kadang saya iri. Sebatas iri yang datang kadang-kadang tanpa diundang.

Sekarang bulan sudah Desember. Satu tahun silam adik saya bertunangan meski kemudian digagalkan. Dan tahun ini rencana seperti dulu kembali diperdengarkan. Adik saya berencana menikahi kekasih barunya tahun depan. Tanpa pertunangan karena mungkin ada sedikit rasa trauma yang menggelayuti selaksa perasaan. Dan saya tetap saya seperti satu tahun silam. Tidak sedih, tidak kecewa atau merasa dizhalimi Tuhan. Mungkin sudah takdir kalau harus adik saya yang terlebih dahulu menemukan tulang rusuknya yang hilang. Saya tidak keberatan.

Katanya lahir, jodoh dan mati sudah diatur oleh Tuhan. Kenapa sebagai hamba saya harus merasa sangsi? Saya yakin Tuhan sudah mempersiapkan seseorang untuk melengkapi hidup saya. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti tahun-tahun ke depan. Doakan saja semoga stok sabar saya tidak lantas berkurang.

2 komentar:

Farrel Fortunatus mengatakan...

gimana pun juga keadaannya, lebih baik menjadi diri sendiri dan bahagia. daripada keliatannya sempurna tapi menjadi diri orang lain (berubah karena tuntutan/paksaan lingkungan).

Mr. Cappucino mengatakan...

You can't pleased the society. Entah mengapa topik itu yang menguasai pikiranku selama berminggu terakhir. Saya kagum dengan kesungguhan dan kekuatan hati yang bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Toh tujuan paling nikmat dari hidup ketika kita sudah bisa berdamai dengan Tuhan dan diri sendiri.

Salam kenal :)