Rabu, 17 Agustus 2011

Pagi

Menangislah, menangislah terus sampai kamu merasa beban yang membatu dihatimu terkikis hingga musnah. Bukankah itu fungsinya glandula lakrimalis si kelenjar air mata yang Tuhan ciptakan menggantung di kedua sudut kelopakmu? Membantu mengenyahkan apa yang menggelayut berat dihatimu ketika hati itu sendiri tidak lagi bisa diajak berkompromi. Menangislah, karena menangis tidak selalu menunjukan kalau kamu lemah. Kadangkala untuk menjadi kuat kita harus berteman dengan air mata.

Gunakan waktumu, tidak peduli kalau beberapa hari ini kamu habiskan waktumu untuk berderai tidak berhenti. Biarkan saja air mata itu membentuk jejak dan mengkristal di wajahmu. Setidaknya kamu akan merasa puas karena telah menumpahkan perasaanmu dalam denting kesedihan, atau mungkin justru penyesalan. Entahlah. Yang pasti menangislah terus ketika kamu merasa masih perlu, dan baru berhenti saat kamu merasa sudah cukup.

Aku belum bisa menyibak tirai kesedihanmu. Kamu masih bersembunyi di balik tameng besi seperti tempurung kura-kura yang kuat tersendikan antara plastron dengan epistronnya. Tempurung atas dan tempurung bawah. Kamu masih belum bersedia menguak apa yang menjadi kekhawatiranmu, kesedihanmu dan mungkin bisa jadi penyesalanmu. Aku mengerti, makanya aku memberimu keleluasaan. Tidak ada paksaan untuk kamu menceritakan apa yang sebetulnya kamu rasakan.

Biarkan aku menerka-nerka. Menelisik dari kumpulan prosa yang mengalir dalam dawai beraromakan cinta. Mungkin aku salah karena aku hanya meraba-raba, mungkin aku berlaku sok tahu karena hanya mengejawantahkan kumpulan kata menjadi sebuah premis yang mungkin akan kamu tentang habis-habisan. Aku hanya khawatir, tidak suka melihatmu terlarut dalam kesedihan panjang seperti sekarang.

Aku rasa semua ini karena pagi. Pagi yang kamu inderai lewat ujung cuping hidungmu. Pagi yang datang menurunkan embun yang ternyata memabukkan, sementara kamu terlanjur menyesapnya terlalu dalam. Kamu kemudian terlena karena embun itu menyejukan hatimu yang sedang dihadang kerontang akibat sebuah pengkhianatan. Pagi itu datang, membawa kegembiraan melalui sebuah pengharapan. Dan kamu hidup dalam pengharapan itu, sebut saja berlebihan. Mungkin.

Kamu hanya terbuai. Kamu tidak sadar kalau sebetulnya pagi akan berubah siang meski besok pagi pasti akan kembali datang. Kamu terlanjur asik mencumbui apa yang pagi hadirkan seperti ketika kamu memutuskan duduk di tepian danau sambil menikmati tarian angsa yang berputar penuh keindahan. Sambil kamu sesap terus udara pagi, kamu meretas banyak harapan yang tidak sempat terungkapkan. Kamu bertaruh atas dasar keyakinan yang lagi-lagi menurutmu patut untuk diperjuangkan.

Ketika pagi beranjak makin terang, kamu dilimbung silau. Tidak siap dengan berbagai kemungkinan yang sebetulnya sudah kamu sadari dari awal. Akhirnya kamu hanya bisa bersedih seperti sekarang karena ternyata kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kamu harapkan. Pagi ternyata tidak abadi, pagi ternyata termiliki, dan pagi ternyata punya jalannya sendiri.

Apapun itu, aku harap kamu belajar sesuatu. Tidaklah mudah menurunkan sauh untuk berlabuh meski perlahan tanpa cukup perbekalan. Tidak ada sebuah negeri yang berisi hanya sepenggal pagi, sehingga kamu harus siap berbagi dengan siang, sore bahkan malam. Dan kalau pagi ternyata memutuskan untuk berjalan di pematangnya tanpa kamu dalam gandengan, maka cukup kamu ikhlaskan. Karena pasti akan datang pagi-pagi lain yang membawa kepastian di hari-hari mendatang.

Menangislah. Kalau perlu sampai kamu tertidur karena letih. Tapi kamu perlu tahu bahwa disini masih ada aku, sahabat yang mengamatimu dari jauh. Yang siap untuk mendengar keluhanmu ketika kamu sudah merasa perlu dan mampu. Aku berjanji tidak akan menghakimi, karena seperti halnya kamu, aku juga pernah terlena sebuah negeri bernama pagi.

7 komentar:

Sassy Enno mengatakan...

dan aku masih menangis.. kali ini sembari terlongong karena nggak ngerti istilah biologi...

plis jangan pake istilah genetika or whatever... I'm not scientist heuuu...

:P

oh! *balik lagi*
makasih ya! :D

gloriaputri mengatakan...

ni buat mba enno ya?
mba enno knapa?
aq juga bingung sama postingannya baru2 ini..trus update twitnya juga....ckckckk..galau tingkat tinggi sepertinya yaaa?

betewe, dl kang apis anak IPA ya? hebat deh masi inget aja istilah2 rumit bgitu..hehhee...aq aja ulangan biologi nyontek, ups...hahahhaa

Wuri SweetY mengatakan...

wahhh pak ahli biologi pake istilah begitu bikin mumet euyyy.

Cup...cup...Suruh udahan dech nangisnya entar Garut mendadak banjir dimusim kemarau.... *senggol mbakyu enno*

Apisindica mengatakan...

@teh enno: heeeey, mana istilah biologi? cuman ada 3. Glandula lakrimalis, plastron dan epistron. Itupun gw kasih penjelasan artinya. hehehe

pemanis atuh pake istilah ilmu gw, biar gw nggak lupa. hehehe.

geus ah tong ceurik wae. hayu urang seuseurian deui!!

@glo: teh enno lagi galau dan drama sepertinya. Hihihi. kaboooooor...

iyah aku anak IPA yang kalau ulangan sama kok suka dicontekin #sombong

@wury: iyah neh kalo dia mewek terus situ bagendit bisa meluas sampe nutupin garut.

anw, situ bagendit itu di garut kan yah? #soktau

rona-nauli mengatakan...

risau.sungguh.

Cindikya mengatakan...

sperti biasa, bahasa tingkat tinggi yang kalo dibaca pas ngantuk (* contohnya sekarang), g nyambung dan g ngerti ngertiii...*oammm

Apisindica mengatakan...

@rona: masa? Sungguh :))

@cindikya: eh ini cuma bahasa Indonesia kok, cuma dikemas agak lebay ajah :p