Kamis, 11 Agustus 2011

Ayo Sekolah!!

Baru baca Kening, bukunya Rakhmawati Fitri alias Fitri Tropika. Di tulisannya yang berjudul “Hello Good bye”, tepatnya di halaman 101 ada kalimat seperti ini: “ Jangan Cuma berwacana! Kamu mau lanjutin sekolah ke luar tapi bahkan nyari schoolarshipnya aja belum, Start to act, no talk only!”

Dan gue rasanya seperti ditampar berulang-ulang. Panas. Gue disindir habis-habisan sama kalimat itu. Selama ini gue hanya berwacana untuk melanjutkan studi, tapi nggak banyak tindakan yang udah gue lakuin. Termasuk menghubungi professor-professor itu. Bawaannya males, bawaannya keder, bawaannya nyerah duluan. Nggak keukeuh kayak waktu dulu.

Lama nggak belajar formal bikin gue males. Bikin otak gue mutung. Bikin gue nggak percaya diri apa iyah gue masih bisa belajar lagi kayak dulu. Gue tau itu cuma ketakutan gue aja, tapi beneran, bekerja itu bikin otak gue berhenti membentuk lekukan-lekukan baru buat nyimpan memori. Aus.

Dan untuk studi lanjutan itu, gue udah nggak bisa pindah dari bidang ilmu yang gue gelutin di 2 tahapan sebelumnya. Sudah terlanjur terperosok jauh, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, gue harus ngambil bidang ilmu itu lagi. Ilmu yang menurut kebanyakan orang tidak cocok sama sifat gue yang pecicilan dan banyak omong.

Kalau ditanya kenapa gue suka sama biologi, gue juga nggak tau jawabannya. Tiba-tiba jatuh cinta aja, dan keukeuh pengen kuliah di bidang itu. Gue nggak peduli waktu temen-temen gue sangsi kalau gue bakal tahan dengan ilmu itu. Mereka malah bikin taruhan berapa lama gue bakal tahan kalau misalnya gue jadi ngambil kuliah di jurusan biologi. Sialan.

Gue bersyukur hidup gue penuh dengan keberuntungan. Jadi ketika akhirnya gue bisa kuliah dan masuk tanpa tes di Perguruan Tinggi ternama di kota gue, gue anggap itu keberuntungan. Atau bisa jadi hasil kasihhani panitia penerimaannya yang jatuh hati sama muka gue yang memelas. Apapun itu, gue bersyukur. Dan seperti bisa ditebak, gue kuliah di jurusan BIOLOGI.

Keberuntungan gue nggak berhenti disitu. Gue beruntung bisa menyelesaikan studi gue tepat waktu, tanpa harus mengulang salah satu dari mata kuliah yang gue ambil. Memang sih di tahun pertama kuliah gue sempat keteteran meskipun nggak sampai harus mengulang. I do really hate physic and calculus, jadi bertemu dengan mereka di 2 semester awal cukup bikin kehidupan remaja gue yang cerah ceriah seperti di neraka. Lebay.

Habis lulus, beruntung bokap gue masih mampu dan menawarkan diri untuk memberikan beasiswa lanjutan ke jenjang berikutnya. Iya sih nggak sampe mampu nyekolahin ke luar negeri, tapi gue anggap itu anugerah. Dan lagi-lagi gue mengambil bidang bioteknologi mikroba. Bidang yang lebih khusus dari biologi. Nggak tahu kenapa nggak kepikiran aja buat ngambil manajemen seperti yang disarankan banyak temen gue. Kadung cinta gue sama biologi. Jadi walhasil bergelutlah gue dengan per-DNA-an yang menurut nyokap gue ilmu abstrak yang bikin lieur alias pusing.

Beruntung lagi gue bisa lulus, kali ini tidak tepat waktu tapi malah prematur. Kurang beruntung apa coba gue? Dan mulailah tragedi dimulai. Indonesia belum siap mengindustrialisasi bioteknologi seperti halnya negara maju. Nyari kerja setengah mati gue, nggak dalam negeri nggak luar negeri. Semuanya susah. Terpikir buat lanjutin sekolah lagi aja kayak yang disaranin pembimbing gue. Dia lagi banyak proyek dan gue disuruh ngerjain sambil dijadikan tema disertasi, gue berpikir dan mentok di kondisi buat apa? Buat apa gue jadi doktor kalau belum jelas mau jadi apa? Memang setelah jadi doktor gue bakal gampang nyari kerja? Memang setelah jadi doktor kampus gue bakal merekrut gue jadi dosen tetap? Dan diujung kegamangan, gue menemui tidak.

Akhirnya gue memutar haluan. Gue kerja yang masih ada bau-baunya biologi tapi tidak bersentuhan langsung. Dan terus terang, itu semua bikin ilmu gue sedikit-sedikit terkikis habis. Sampai akhirnya gue tersadar kalau semua ini tidak boleh dilanjutkan, gue masih punya idealisme yang harus diperjuangkan. Menjadi doktor. Ketika salah satu kementrian itu membuka kesempatan penerimaan pegawai untuk background ilmu gue, gue nggak lagi berpikir. Gue harus coba, sekarang atau nggak sama sekali.

Gue beruntung lagi, dengan bekal pengetahuan bioteknologi gue yang sudah di level entah kemana, gue berhasil meyakinkan para pewawancara bahwa gue mampu dan bisa. Mungkin gue yang beruntung, atau lagi-lagi mereka yang kasihan akhirnya gue diterima. Sekarang gue bekerja di bidang bioteknologi sesuai dengan background pendidikan gue.

Gue mau sekolah, gue mau sekolah. Semangat itu yang dulu membuncah di dada gue. Semangat yang seiring waktu melempem kayak kue apem kelamaan direndem saus kinca. Dengan load kerjaan lab dan lapangan yang serba padat, yang bikin gue harus hilir mudik banyak kota dalam waktu yang ketat bikin gue keasikan selain bikin gue kena tipes yang berulang. Keinginan buat sekolah seperti terabaikan, seperti masuk ke prioritas kelas dua.

Tapi gara-gara baca kening, gue seperti disadarkan. Selama ini gue hanya berwacana tanpa banyak bergerak. Nggak ada usaha memperbagus lagi kemampuan bahasa gue yang juga sudah menguap, nggak ada keinginan untuk memperbaharui proposal riset disertasi gue yang mungkin sudah kadaluarsa dan tidak kekinian. Mungkin sekarang saatnya gue buat bangkit, buat terbangun dari kenyamanan ini. Tolong gue diberi semangat dan didoakan.

Ayo sekolaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!

*) Maaf curhatnya kepanjangan

11 komentar:

arik mengatakan...

Hai Piss ...

Aku ogah sekolah lagi. Maunya travelling aja keluar negri. Sekolah kan bisa lewat jalur non formal.

Farrel Fortunatus mengatakan...

Gaya bahasanya bukan Apis bgt he he he... tp bukan berarti buruk kok. "selamat belajar nak penuh semangat, rajin lah belajar tentu kau dapat..." wkwkwkwk...

Enno mengatakan...

weh bener kata farrel...

apis lagi pake gaya bahasa doktor!
hahahaa...

hayu ah sakola! mumpung masih mudaaa!

ganbatte!

:P

Wuri SweetY mengatakan...

Lam kenal Apis...

AyOooo Sekolah...selama masih ada kesempatan. Sekolah keluar negeri bisa sekalian jalan2 kan asyik tuch, apalagi dpt beasiswa.

GanbarOooo!!!

Apisindica mengatakan...

@Mas Arik: yah sambil sekolah kan bisa sambil travelling :)

@farrel: lagi tes pasar, pantes nggak sih gw nulis pake gaya bahasa begituan...

@teh Enno: bahasa doktor sinting meureun :P

aku yang masih muda, kalau teh enno sih nggak tau yah!!! #dibabuk

@wurry: salam kenal juga mbak Wurry. ayok ah kita sekolah lagi sambil jalan2 :)

Cindikya mengatakan...

hayook,,sekolah jangan males males!!!*kayak aku rajin aja

Apisindica mengatakan...

@cindikya: Hayok!!! yang rajin ah sekolahnya, anak muda harus semangat!! #berasatua

rona-nauli mengatakan...

pengen sekolah lagi, tapi dah ngerasa salah jurusan selama ini...gimana dong :(...masa ngulang S1 lagi :D

Apisindica mengatakan...

@rona: yah kalau masih mau S2 kan bisa loncat jurusan lain. Kecuali S1 dan S2 nya linier, S3 nggak punya pilihan selain HARUS linier lagi :) Yuk ah sekolaah...

Anonim mengatakan...

ke aussie aja yuk....sekalian bantuin gw jaga anak

Apisindica mengatakan...

@doubleagent: heey, jadi istri lo kuliah disana? happy to hear that!!