Jumat, 19 Agustus 2011

2 tahun Silam

Masih ingatkah kamu Ramadhan dua tahun lalu? Saat itu dengan tegas kamu mengatakan tidak untuk tawaran hati yang aku ungkapkan dengan terbata. Kamu bilang kamu tidak ingin menjadkan aku sebagai pelarian, meskipun sebetulnya tidak sedikitpun aku keberatan. Memang, saat itu kamu belum sepenuhnya lepas dari kekasihmu yang menurutmu hanya memberimu kekosongan. Kamu masih diambang keraguan diantara pilihan untuk tetap bertahan atau mengambil langkah menyudahkan.

Dan aku datang membuat runyam. Memperkeruh keadaan yang sedang tidak jelas juntrungannya. Menawarkan sebongkah hati untuk saling berbagi, mengulurkan tangan untuk saling berpegangan. Awalnya kamu memang gamang, melayani apa yang sedang aku lakukan. Tapi beberapa kali kamu berhenti, menengok ke belakang dan kemudian bimbang. Sesaat melepaskan genggaman, kemudian menyambutnya lagi dan berjalan berdampingan.

Saat itu aku tidak peduli. Aku memilih buta ketika kamu seringkali beringsut mundur dan menghampiri pacarmu yang kosong untuk sekedar menggugat. Tidak aku pedulikan perasaanku yang sebetulnya juga berdarah-darah, dipermainkan oleh sikapmu yang seringnya ambigu. Tapi aku bertahan juga entah untuk apa. Mungkin aku bodoh, tapi saat itu sepertinya aku tidak punya pilihan selain memperjuangkan apa yang aku rasakan sampai titik akhir yang belum jelas tergambar.

Saat itu ramadhan. Dan kamu menolakku. Memberiku kepedihan yang lumayan karena aku sudah terlanjur membelanjakan banyak hal. Mempertaruhkan persahabatanku dengan banyak orang yang justru menentang apa yang aku lakukan. Menurut mereka aku salah jalan, memboroskan perasaan terhadap orang yang tidak layak. Aku bergeming, memilih diam dan bertahan kepada kebodohanku mencintaimu yang masih bimbang dan belum mau memutuskan.

Aku memang salah. Datang seperti rautan yang memperuncing keadaan antara kamu dengan pacarmu yang kosong. Seperti hapusan aku ingin menghilangkan coretan cerita yang pernah kalian torehkan dalam putaran waktu terhitung bulan. Tapi kenapa kemudian kamu melayani? Tapi kenapa kemudian kamu sepertinya nyaman dengan apa yang aku lakukan? Kamu seakan memanfaatkan kebodohanku demi kepentinganmu.

Sampai aku tersadar ketika kamu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melayani. Memilih menjadi bagain kosong kekasihmu yang sering kamu ributkan. Aku menerima dan kemudian beringsrut mundur, memberi kesempatan bagi hatiku sendiri untuk tersembuhkan meskipun harus dengan cara menutup semua akses komunikasi denganmu. Aku tidak ingin kamu dilimbung bimbang, dan aku tidak ingin perasaanku terombang-ambing lagi dengan kebodohan yang bisa saja berulang.

Tapi kamu mengikutiku bagai hantu, bahkan sampai saat ini. Untuk apa kamu memfollow twitterku dan sering berkomentar tentang apa yang aku tuliskan? Untuk apa kamu berulang-ulang meng-add pin BB ku. Seperti tidak jera ketika aku hapus dan kamu meng-add-nya kembali, begitu seterusnya sampai aku bosan dan menyerah di ujung jalan. Kamu masih mengungkit cerita lama, menghadirkan perasaan yang sebetulnya belum purna menghilang. Kamu tahu itu, dan lagi-lagi kamu memanfaatkannya.

Sudahlah, aku tidak ingin melakukan kebodohan seperti saat ramadhan 2 tahun silam. Aku memang masih sendirian, tapi bukan berarti aku bisa kembali kepadamu yang sudah aku ibaratkan sebagai barang usang. Pantang bagiku mengorek-ngorek barang lama meskipun mereka menjanjikan rasa baru yang mungkin lebih menawan. Sekian.

12 komentar:

Cindikya mengatakan...

Ini aku yang 1 tahun silam,,Trelalu sama critanya!-___-"

Ali Mas'adi mengatakan...

hmmm... masa lalu hanya untuk di kenang...

BaS mengatakan...

Hey Apisindica....

Kalau aku ingatnya apa ya??

16 Oktober 2010 terbang dari Banjar-Jakarta kali yak.....

hohohoho

Apisindica mengatakan...

@cindikya: waaah, ternyata kejadian beginian bisa terjadi sama siapa saja yah? :))

@ali mas'adi: masa lalu memang hanya untuk dikenang, kapan-kapan :P

@BaS: oh itu tanggal 16 oktober 2010 yah? cieee, bas kesuat-suat yah? :D

ROe Salampessy mengatakan...

nice story.. :)

gloriaputri mengatakan...

iya kang...jangan mauu.. *kompor
#loh
hehehheee

Apisindica mengatakan...

@SOe: masa sih? makasih! :)

@Glo: tentu sajah sayah tidak mau. enak ajaaa! :P

Wuri SweetY mengatakan...

Dr kemaren flash back trs nich si Akang...
Bener jangan mau, kayak cewek di Dunia cm 1 aja. :)) Met Puasa Akang!!!

Apisindica mengatakan...

@wuri: kadang kalau mengenang itu rasanya bikin gimana gitu deh. hehehe.

iyah tenang aja, nggak bakal mau kok :)

Anonim mengatakan...

Berasa mo tahun baru... Ada kaleidoskop gt hahaha ;)

Block aja PIN nyaaa :p

Apisindica mengatakan...

@anonim: hahaha, emang kalo kaleidoskop cuma boleh pas mau tahun baru ajah?

kalo di block ketahuan, dia makin rewel :)

Anonim mengatakan...

desain kata demi kata yang membuat saya takjub.. Apalagi melodrama itu jg pernah saya alami. Dan tetap berbekas hingga saat ini. Bolehkah saya belajar pd anda bung..desain kata demi kata yang membuat saya takjub.. Apalagi melodrama itu jg pernah saya alami. Dan tetap berbekas hingga saat ini. Bolehkah saya belajar pd anda bung.. (quantumspiritz@gmail.com)