Senin, 15 Agustus 2011

Ingatan tentangmu

I miss you, still.

Sebaris kalimat pembuka yang aku terima dari emailmu semalam. Email yang membuatku tersenyum sendiri dan mengingat sebuah episode tentang kita. Dulu. Episode yang (lagi-lagi) terpaksa ditamatkan karena waktu tayangnya yang sudah habis. Bukan karena kita tidak ingin memperpanjangnya menjadi season 2 seperti halnya sinetron di Indonesia, tapi saat itu kita sama-sama berdiri di tingkat kewarasan penuh. Sadar bahwa semua akan sulit untuk diperjuangkan.

Email semalam adalah perangkat komunikasi kita yang sempat terputus beberapa tahun lalu. Kita sama-sama berhenti berkirim kabar bahkan untuk saling mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu yang meminta, katamu akan sulit untuk berhenti memikirkan tentang kita apabila kita masih intens berkomunikasi. Aku setuju, guna menjaga perasaanmu. Tidak ingin lagi ada kegiatan saling menyakiti, cukup bagiku pernah menyakitimu sekali waktu itu. Waktu aku akhirnya meninggalkanmu di bandara.

Kamu membuka emailmu dengan pertanyaan-pertanyaan ingatkah aku? Tentu saja aku ingat. Semuanya. Kamu dan memorinya masih menempati sepenggal ruang di dalam ingatanku, selamanya akan begitu. Aku tidak ingin menghapusnya dengan alasan apapun. Kamu terlalu istimewa untuk disingkirkan dengan mudah, terlalu indah untuk tidak dikenang sebagai masa lalu yang mendewasakan. Kamu akan tetap begitu, istimewa dan indah.

Aku ingat bagaimana kamu mengkhawatirkanku saat aku menjalankan puasa di tengah musim panas yang melelahkan. Aku ingat bagaimana pertengkaran-pertengakaran kita ketika kamu bersikukuh menyuruhku membatalkan puasa karena katamu wajahku terlihat pucat. Aku ingat semuanya. Bahkan aku ingat bagaimana kamu menemaniku berbuka dan sahur sambil mengantuk di meja makan apartemen kita. Mukamu lucu ketika itu, ada sungkan tapi kamu merasa perlu. Perpaduan antara keberatan dan rasa sayang.

Katamu, kamu kemarin teringat aku karena ada mahasiswamu yang juga melakukan puasa. Dan itu seperti memacu ingatanmu untuk menaiki mesin waktu dan kembali ke masa lalu. Masa-masa yang pernah kita lalui bersama yang di dalamnya terdapat irisan bulan puasa yang aku jalankan bersamamu. Ya bersamamu, karena kadang kamu juga melakukan puasa meskipun sering siang-siang aku terima sms mu yang mengabarkan kalau kamu minum karena tidak kuat, atau kamu yang meminta ijin untuk makan duluan pada jam-jam terakhir kita melakukan puasa.

Semua ingatan berlarian minta ditayangkan dalam gambar kenangan. Mungkin itu juga yang kamu rasakan disana, berhenti pada titik-titik memori tentang kita. Tentang kita yang ternyata harus mengubur impian untuk terus berpegangan, saling berbesar hati untuk melepaskan mimpi yang kita genggam bersamaan. Semua demi tujuan yang tidak bisa lagi kita perjuangkan, tujuan yang ternyata mengharuskan kita berjalan berlawanan.

Tapi seperti yang kamu bilang dulu ketika kita berpisah di bandara, tidak pernah ada yang sia-sia dengan cinta. Tidak ada yang salah ketika kita memutuskan untuk tidak lagi beriringan. Semua sudah ditasbihkan, semua hadir karena alasan. Dan katamu butuh banyak alasan untuk melepasku waktu itu. Masa studiku yang telah berakhir dan mengharuskanku kembai ke Indonesia, kariermu yang mulai menanjak dan tidak akan pernah gampang untuk ditinggalkan, semua jadi alasan yang mengantarkan kita pada perpisahan. Tapi kita sudah sama-sama dewasa, tidak ada lagi keegoisan dalam keputusan yang kita buat. Semua sudah dipikirkan.

Ramadhan tahun ini kamu datang lagi, perantaraan kalimat-kalimat maya di layar komputerku. Saling mengenang satu sama lain untuk alasan yang mungkin sama. Demi masa lalu. Soal kerinduanmu, jangan khawatir. Aku juga merindukanmu dengan caraku sendiri yang mungkin tidak akan kamu mengerti.

7 komentar:

Enno mengatakan...

wah wah! si eksotis teh sama buleee?

:)

Cindikya mengatakan...

pagi pagi sendu!:P

ROe Salampessy mengatakan...

menyimak cerita'nya.

wuih.. terkadang perasaan emang gak bisa di bohongi. tapi demi masa depan yg lebih baik. harus tetap melangkah ke depan.

hehehe... sok teu gw. :)

Farrel Fortunatus mengatakan...

nostalgiaaaa... masa berpacaaaaaaran... (themes song by ona sutra, judul lagu 'terbayang-bayang'). dangdut banget ya? he he he... gpp, karena menurut gw musik dangdut adalah musik yang paling jujur/apa adanya. komen na teu nyararambung ha ha ha...

gloriaputri mengatakan...

nostalgia ni yeee

Wuri SweetY mengatakan...

Halahhhh disini juga lg Rinduhhh.

Flashback ceritanya nich?

Apisindica mengatakan...

@teh enno: yaeyalah, masa kalah sama teteh! :)

@cindikya: soal sendu tergantung perspektif yang baca kalee #denial

@ROe: hahaha, apapunlah demi masa depan yang cerah ceriah... :P

@farrel: omaygosss farrel, meni ona sutra pisan ih. Keliatan banget lo teh angkatan berapahnya. hihihi

@glo: nostalgia remaja kitaaaaa...(malah nyanyi)

@Wuri: disini lagi hujan rinduh. Bukan flasback tapi sedang dihantam kenangan (eh, sama ajah yah?)