Jumat, 04 Maret 2011

Nenek Gerandong

Saya baru pulang dari pedalaman Mamuju. Sebuah kota kecil di provinsi Sulawesi Barat yang untuk mencapai kota tersebut dibutuhkan waktu tempuh sekitar 10 jam dari Jakarta melalui jalur udara dan dilanjutkan dengan jalur darat. Kota yang entah apa bisa disebut dengan “kota”.

Ini kali kedua saya mengunjungi Mamuju. Jangan berpikir kalau saya ketagihan mengunjungi kota tersebut. Tidak pernah sebelumnya terlintas dalam pikiran saya dapat mengunjungi kota yang mungkin namanya saja awam di telinga banyak orang, apalagi sampai dua kali. Jangan juga berpikir kalau saya sedang dalam program menemui belahan hati saya yang sering saya gambarkan dipisahkan oleh rentang jarak. Bukan, dia ada di pulau sebelah, bukan di Sulawesi.

Saya ke Mamuju dalam rangka pekerjaan. Kalau punya pikiran bahwa saya akan keluar dari kerjaan saya sekarang dan memilih Mamuju sebagai tempat bekerja yang baru, tolong segera disingkirkan. Saya punya kenangan yang buruk tentang remote area, dan saya kapok. Jadi tidak akan pernah saya kembali mengulang kenangan buruk itu sampai kapanpun. Ini hanya pekerjaan singkat, konsekuensi dari kerja sama tim saya dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Di Mamuju saya bertemu dengan seorang perempuan yang melemparkan ingatan saya pada masa lalu. Sekitaran tahun 2006. Perempuan yang membuat saya mengelus dada dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa di remote area manapun pasti ada seorang perempuan seperti dia. Perempuan tangguh yang mampu bertahan lebih dari siapapun. Perempuan yang merasa lebih hebat dari laki-laki manapun. Perempuan yang punya kesan menyebalkan.

Ingatan saya terbang ke Situbondo di akhir tahun 2006. Di kota kecil tersebut saya bertemu dengan perempuan yang punya titel ditakuti. Perempuan perkasa yang juga dengan kedudukannya disegani banyak orang. Manajer saya. Seorang manajer yang memimpin dengan sistem tangan besi. Perempuan yang menurut teman-teman saya perpaduan sempurna antara nenek lampir dengan nenek gerandong. Perempuan galak dan juga ketus.

Di Mamuju saya juga bertemu dengan perempuan model beginian. Titisan nenek sihir. Koordinator Utama Hama dan Penyakit Tanaman. Dan karena pekerjaan saya disana berhubungan dengan deteksi penyakit tanaman, mau tidak mau saya harus berurusan dengan dia. Dan saya tidak suka. Dia tidak menganggap saya partner tapi lebih ke bawahan. Dia selalu menampilkan opsi tidak percaya dengan apa yang saya lakukan. Dia selalu meremehkan kemampuan saya dalam melaksanakan sampling. Dan saya merasa diintimidasi secara tidak langsung.

Sebetulnya saya tidak peduli karena dia bukan atasan saya. Dan saya tidak punya tanggung jawab sedikitpun untuk melaporkan pekerjaan saya kepadanya. Saya bekerja sama langsung dengan direktur perusahaannya dan bukan dengan dia, jadi kenapa harus repot mengurusi tabiatnya yang terlihat tidak bersahabat. Tapi karena dia ada dan nyata di setiap kegiatan saya selama di Mamuju, sedikit banyak saya teriritasi dengan keberadaannya. Mungkin dia merasa terancam, padahal tidak ada sedikitpun niatan saya untuk mengambil posisinya. Seperti saya bilang, tidak akan pernah mau lagi saya bekerja di remote area. Bekerja di sana hanya membuat saya gila.

Saya hanya ingin bilang sama si ibu ini, jangan merasa terancam dengan keberadaan saya. Saya hanya bekerja sesuai porsi saya. Dan saya orang luar, saya sangat tahu itu. Saya hanya peneliti yang di’hire’ untuk melakukan riset lepas tentang kejadian luar biasa yang sedang berlangsung. Jadikan saya partner bukannya musuh karena kalau kita bersinergi, pasti masalah serangan Ganoderma boninense pada kelapa sawit dapat kita atasi dengan segera.

Saya kemudian tergelitik untuk bertanya kepada Tuhan. Tuhan, kenapa selalu Engkau ciptakan wanita model begini untuk bekerja di tempat-tempat yang jauh dari peradaban?

Apisindica – Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali

Note : Ganoderma boninense adalah jamur penyebab busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit yang menyebabkan robohnya pokok batang. Penyakit ini menyerang kelapa sawit dari sejak bibit tetapi baru terdeteksi setelah pohon kelapa sawit berusia 7 tahun sehingga merugikan karena penangannya yang relatif terlambat.

11 komentar:

Andre mengatakan...

Ahirnya Akhirnya Akhirnyaaaa......
cukup dengan membaca postingan ini satu kali dan langsung mengerti. hahaha...

pras mengatakan...

hehe...
seru juga ya.

Seperti yang Yuda tulis, mungkin selama ini peneliti sebelum Yuda yang datang ke remote area juga punya karakter : dari jakarta (sok lebih modern), sok lebih tahu, sok pinter padahal nggak ngerti medan, dstnya. Sehingga membuat wanita2 tersebut sudah pasang benteng dulu.

Usul aku: lain kali sebelum datang ke remote area, kirimin dulu para wanita itu syal atau blazer branded, atau sepasang kucing persia. Mungkin mereka jadi lebih lunak. hehe

Dewi Siti R mengatakan...

horeeee.... lu ngikutin saran gue... tengkyu tengkyu tengkyu.. :)

Enno mengatakan...

hahaha...
ce yg beginian banyaaaaak pisan yud! untungnya aku ga termasuk *sok yakin*

eh btw emang knp hrs baca berkali2 baru ngerti?
aku tiap kesini baca sekali langsung ngerti kok...

tapi emang sih, kali ini tulisan kamu lbh simpel, lugas dan to the point. begini aja deh gaya nulisnya.

bagus! *gaya pak tino sidin tea*

wkwkwkwk

nita mengatakan...

Sabaaaar mas :) mkn sebenarnya tu ibu kesepian jadinya pikirannya ndak terbuka untuk hal baru. kalo pikiran ibu itu positif toh ndak ada salahnya kerjasama dgn rekan yang baru dan berbagi ilmu ato mlh nambah ilmu. smoga mslh ganoderma boninense segera teratasi yach.. Gbu

Apisindica mengatakan...

@andre: hahahaha, segitunyah!!!

@mas pras: kalo peneliti-peneliti sebelumnya mungkin sih mas. Tapi aku kan beda. Aku baik hati gituuu *plak

tetep yah harus sogokan baju branded dan kucing persia. Sayangnya aku dah gak punya kucing, nggak ada yang ngurus. :(

@dewi: Iyaaah, gw pikir-pikir ternyata seru juga usul lo. Makasih yah...

@mbak enno: Banyak yah? wadeeeeeh, bisa bahaya dunia inih. hehehe

Katanya tulisanku pake bahasa dewa jadi suka banyak yang nggak ngerti, makanya kalo baca harus berkali-kali.

Lagi mencoba nulis pake gaya biasa mbak. Ajarin yah! :)

@nita: makasih yah...Iyah mungkin ibunya wawasannya sempit. hehehe.

Farrel Fortunatus mengatakan...

Tak kenal makanya tak sayang, tak sayang makanya tak cinta, tak cinta makanya tak kawin, tak kawin makanya membujang... (lho? ga nyambung ya? he he he...)
Btw, setuju sama enno, lebih suka gaya bahasa yang ini, lebih ngalir dan enak dibaca (maklum, gw ga begitu ngerti gaya bahasa puitis he he he...).

Enno mengatakan...

iya yud, emang sih dirimuh kdg kalo nulis suka kebawa gaya laporan penelitian yg panjang lebar gitu hehehe.... mentang2 peneliti deh ah :P

aku yg biasa ngedit dan nerima hasil laporan reporter yg amburadul sih msh bs ngerti (kamu jauh lbh bagus dr anak2 buahku itu malah haha)... tp utk yg profesinya bkn tukang ngedit sih emang agak bikin bingung kali yaaa....

terusin aja gaya lugas dan nyantai begini. ini malah nunjukin diri kamu sebenarnya kan?

cayo!
:D

Apisindica mengatakan...

@farrel: iyah..iyah..nanti nulisnya pake gaya beginian (nggak janji dink) Tapi masih belajar yah, jadi kalau masih suka kebawa gaya yang kemaren mohon dimaafkan :))

@mbak enno: mau donk jadi anak buahnya mbak enno kalau begituh :P

aku yang sebenenrnya adalah aku yang pendiam dan pemalu (preeet). Jadi gaya bahasanya harus gimana dooonk! hehehe

nuhun ah buat masukana..

Enno mengatakan...

jgn mau jd anak buahku, krn aku galak pisan! tar ada lg tulisan nenek gerandong jilid 2 ttg gue! wkwkwkwk

ya udah tulisannya kayak gini aja yah...
pake bahasa yg simpel dan gak diputer2 hihihi

Apisindica mengatakan...

@mbak enno: nanti di akhir tulisan nenek gerandong jilid 2 ada kalimat. Dan nenek gerandong itu bernama teh enno. hihihihih

iyah-iyah, kan nuju diajar. Insya allah nyak! :)