Senin, 21 Maret 2011

Mau Dibawa Kemana

Saya percaya sama karma. Kalau kita melakukan sesuatu yang buruk di masa sekarang, suatu saat kita akan menerima imbalan dari kelakuan itu entah dalam waktu dekat atau waktu yang lama sampai kita sering lupa karma atas apa. Yang pasti karma pasti datang. Pasti. Menurut saya.

Dua kali saya pernah menjadi anak bimbing, di luar pembimbing-pembimbing projects short course. Dan setiap saya menjadi anak bimbing, saya selalu menjadi mahasiswa yang manis. Mahasiswa penurut yang nggak pernah macem-macem. Pertama, karena saya memang manis dan penurut (PLAK!). Kedua, saya hanya ingin cepat lulus. Selama pola pikir dosen pembimbing saya tidak bertentangan dengan pola pikir saya, atau masukannya memang masukan yang harus dipertimbangkan maka saya akan mengikutinya. Saya tidak ingin konfrontasi dengan dosen pembimbing justru menghambat kelulusan saya.

Tidak ada kelakuan yang buruk selama saya jadi anak bimbing. Perasaan. Ya kecuali saya suka menunda-nunda revisi skripsi atau tesis karena kebanyakan nyari duit. Maklum selama konsentrasi nulis skripsi atau tesis dan persiapan sidang, saya menolak semua tawaran pekerjaan. Imbasnya keuangan saya jadi lumayan seret, dan ketika ada tawaran pekerjaan setalah sidang. Saya pasti mengiyakan, padahal revisi belum dikerjakan. Yang penting sudah lulus.

Tapi kenapa sekarang saya seperti terkena karma. Hampir setahun lalu saya diberi (lagi) anak bimbing titipan dari salah satu universitas di tanah jawa. Dia ikut penelitian di lab saya, dan karena materi penelitiannya cocok dengan background pendidikan saya maka saya didaulat atasan untuk menjadi pembimbing tugas akhir mahasiwa tersebut. Sebetulnya saya tidak mau, tapi karena saya pikir dengan membimbing mahasiswa dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan saya akhirnya saya menyetujuinya.

Sebagai pembimbing, saya punya tanggung jawab moral untuk mengarahkan topik penelitiannya. Sebisa mungkin saya membantunya menyelesaikan semua kendala yang dia hadapi ketika melakukan penelitian. Tapi sumpah, mahasiswa ini bebalnya bukan kepalang. Sering tidak nurut dengan arahan saya, sering tidak datang ke lab dan suka bimbingan sesuka hidupnya. Awalnya saya biarkan, tapi lama-lama bikin emosi juga. Buat saya menjadi tanggung jawab moral untuk membimbingnya sampai lulus. Tapi ketika dia berlaku sesukanya, saya juga akhirnya membiarkannya. Hidup dia, harus dia yang bertanggung jawab.

Beberapa lama dia nggak datang ke lab dan tiba-tiba datang dengan hasil penelitian yang sudah rampung. Sebagai pembimbing, wajar kalau saya mempertanyakan semua data yang dia tulis dan analisis. Bukan karena datanya yang memang acak-acakan, tapi saya lebih mempertanyakan dari mana dia mendapatkan data tersebut padahal datang ke lab saja tidak pernah. Saya tidak mau dibohongi, saya punya andil untuk ikut mempertanggungjawabkan semua data yang dia tulis.

Tapi dia berkelit, katanya dia penelitian ketika saya sering tugas luar. Padahal menurut laboran tidak pernah dia muncul. Kemudian saya mempertanyakan data yang sangat kacau tersebut, tidak layak menurut saya data tersebut dijadikan acuan untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah. Lagi-lagi dia berkelit, katanya semua data dan analisis sudah disetujui pembimbing pertamanya. Akhirnya saya menyerah, dengan berat hati saya menandatangani surat persetujuan mengijinkannya sidang. Hal ini juga saya lakukan mengingat tengat masa kuliahnya yang hampir batas akhir, kalau dia tidak lulus maka dia akan kehilangan beasiswanya. Saya jatuh iba. Saya menyerah.

Ketika sidang, lagi-lagi dengan berat hati saya membubuhkan tanda tangan di lembar penilaian. Meskipun nilai yang saya berikan adalah nilai batas terendah kelulusan, saya tetap tidak puas. Apalagi melihat kemampuannya menjawab semua pertanyaan yang penguji termasuk saya berikan. Dan sumpah, nilai tersebut saya berikan bukan karena saya sakit hati atau marah terhadap perilakunya, tidak ada masalah tersebut saya bawa-bawa ketika ikut mengujinya. Tapi kemampuannya menguasai materi yang menjadi bahan pertimbangan.Terus terang saya malu. Bukan hanya terhadap institusi saya, tapi juga kepada universitas “ternama” tempat dia kuliah dan terlebih kepada negara saya.

Bukan sok idealis, tapi saya berfikir mau dibawa kemana negara ini ketika penerus bangsanya memiliki mental seperti mahasiswa saya ini. Mudah-mudahan tidak banyak yang seperti dia, dan saya dalam hati mendoakan semoga Tuhan menyentuh hatinya dan mengubah tabiatnya. Demi kebaikannya sendiri. Amin.

Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak: 1 kali

6 komentar:

Dewi mengatakan...

wooowww...

gue dukung lo! IMO, terkadang idealisme itu penting banget.. tapi sering kali terkubur oleh periuk nasi.. *piss*

Apisindica mengatakan...

@dewi: hahahaha, keren kan sahabatmu inih? ^__*

kalo gw sih seringnya bukan terkubur oleh periuk nasi tapi terkubur baju zara dan topman.

:)

Enno mengatakan...

bener banget...
mau dibawa kemana negara kita klo sarjananya kayak bimbingan kamu semua? :D

btw jd inget lagi kasus pejabat alay itu...
mgkn dulu dia jenis mhsw bimbingan yg kayak gini ya, bhkn mgkn lbh parah. Skripsinya dapet beli! hahaha

:D

Apisindica mengatakan...

@mbak enno: hihihi. iyah kayaknya si pejabat alay itu dulu lulusnya nyogok. Skripsinya beli trus ngasih amplop deh sama dosen pembimbingnya.

:p

pau mengatakan...

selain karma, ada juga 'jalan hidup'

dua hal itu dalam kuasa Tuhan.

kita lakukan saja sebatas kemampuan akal dan nurani kita, selanjutnya biarlah Tuhan (karma dan jalan hidup) menentukan nasibnya...

Apisindica mengatakan...

@mas pau: ih masnya bijaksana sekali... *peluk*

setuju mas, tugas kita memang hanya menjalani. Just it!