Jumat, 20 Juli 2012

Saya Datang Lagi

Tahun ini seharusnya ada yang berbeda. Bukan perbedaan mengenai kapan dimulainya berpuasa yang bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan. Tidak peduli jumat atau sabtu, harusnya tahun ini saya menjalani dengan rasa yang tidak pernah sama. Andai saja.

Saya tidak mengerti bagaimana memindai datangnya hilal sebagaimana saya tidak bisa membaui bagaimana datangnya mimpi. Tapi sekian lama diuji seharusnya tahun ini dengan berbeda saya lalui. Bukan mengenai kepasrahan karena untuk yang satu itu, tahun ini kepasrahan saya sudah berganda beberapa kali. Beranak pinak pada tingkat yang mungkin tidak bisa lagi dimengerti.

Tahun ini seharusnya ada yang berbeda. Bukan perbedaan mengenai perhitungan derajat kemunculan hilal yang terlihat melingkupi bulan. Bukan juga perbedaan cara menterjemahkan bayangan yang bergeser dari bulan yang bulat sempurna. Tapi semenjak berpisah dengan Ramadhan tahun lalu, saya mempunyai mimpi.

Bukan bermimpi soal ketakwaan, karena saya tahu setiap saat ketakwaan saya harus menuju ke arah yang terus membaik. Bukan bermimpi soal pahala, karena semua itu hanya Tuhan yang kuasa. Bukan juga bermimpi mengenai pengampunan, karena itu pengharapan semua insan. Keluar menjadi manusia  baru seperti anak bayi yang baru dilahirkan dari buaian. Polos. Tanpa noda.


Tahun ini saya datang dengan camping yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Masih berlumur dosa yang sama karena ternyata saya seperti mencandu tak mau berlalu. Bukan bentuk pemberontakan karena mimpi saya tidak bertemu realisasi. Bukan bentuk pembangkangan karena ternyata saya masih merasa tersisihkan. Saya hanya merasa tidak punya pilihan. Berdiri diantara dua hal yang menyulitkan.

Saya tahu benar apa itu dosa. Saya faham benar apa itu haram. Seandainya saja saya bisa menghindari dosa dan haram seperti pengetahuan dan pemahaman saya mengenai keduanya. Sayang lagi-lagi saya lalai, saya terbuai sehingga saya kembali lagi pada hitam. Hitam yang memabukkan. Hitam yang meninabobokan.

Saya tidak patah arang. Saya tahu Tuhan sayang, makanya tahun ini saya kembali datang. Mengharap pengampunan. Meminta pencerahan karena siapa tahu setelah Ramadhan tahun ini hidayah datang dan membuat saya kembali “pulang” atau paling tidak membuat saya lebih ikhlas menerima segala ketentuan. Tidak berontak atau mengajukan banyak pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu jawaban.

Tahun ini saya datang, bukan hanya meminta pengampunan dari Tuhan tapi juga dari semua handai taulan. Mulut saya cuma satu, tapi darinya sering muncul serapah seperti yang tidak pernah dibilas wudhu. Menyakiti banyak orang baik sengaja maupun tidak disengaja. Hati saya tidak ada yang tahu, tapi sering muncul lintasan hati yang mencurigai. Berburuk sangka. Karenanya di momen yang tepat ini saya juga ingin diampuni. Lewat permintaan maaf yang sungguh-sungguh, mari kita mulai Ramadhan dengan hati yang damai.

Tahun ini seharusnya ada yang berbeda karena selepas Ramadhan tahun kemarin saya punya cita-cita. Harusnya tahun ini saya menghabiskan Ramadhan dengan kamu. Iya kamu, jodoh aku. Mendadak suasana menjadi bisu.

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA SEMUANYA!!!

1 komentar:

Gloria Putri mengatakan...

mencandu tak mau berlalu...itu kosakata terbaru galauers y kang? *ambilpulpendannotes* *nyatett*
hehehe...aniway..met puasa y kangg...semoga puasanya jd berkah..Amin