Kamis, 14 April 2011

Saya Tidak Tahu

Ketika sebuah hubungan berakhir haruskah semuanya juga berakhir? Menutup semua akses komunikasi semisal menghapus nomor telpon, PIN BB, ID YM bahkan me-remove pertemanan di jejaring sosial macam facebook atau twitter hanya untuk alasan meminimalisir rasa sakit hati yang mungkin akan muncul kemudian. Perlukah melakukan semua itu?

Kalau saja ikatan pernikahan bisa berakhir apalagi hanya hubungan spesial bernama pacaran. Saya meyakini bahwa sesuatu yang memiliki awal akan mengandung akhir, entah itu akhir yang menyenangkan atau akhir yang justru menyedihkan. Dan bukankah ketika kita sudah memutuskan untuk memulai sesuatu kita harus siap dengan sebuah akhir? Jadi kenapa harus terlalu reaktif dengan akhir yang sebetulnya kita tahu mungkin saja menghadang di hadapan?

Tapi saya tahu kalau tiap orang berlainan. Memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengatasi kesakitan yang ditimbulkan oleh sebuah perpisahan. Setiap orang dengan caranya sendiri menyikapi kenyataan bahwa sesuatu yang diperjuangkannya tidak bisa lagi beriringan. Banyak yang marah, banyak juga yang didera sedih berkepanjangan, tapi tidak sedikit juga yang sepertinya santai menghadapi semua itu. Tergantung pada individunya masing-masing.

Dulu waktu saya masih hijau, dan mungkin masih sehijau shreek saya pasti akan mengalami sedih berkepanjangan ketika hubungan yang saya perjuangkan ternyata harus diterminasi. Entah itu berdasarkan kesepakatan bersama atau keputusan sepihak. Yang pasti saya akan bersedih dan merasakan bahwa saya sedang berada di titik kulminasi paling rendah dalam siklus kehidupan saya. Merasa bahwa itu mungkin akhir dari segala-galanya. Membuat saya hidup dalam kebencian terhadap sang mantan.

Biasanya dengan perasaan sedih saya membereskan barang-barang kenangan pemberian sang mantan ke dalam satu box kemudian mengembalikan kepadanya. Kalaupun dia tidak mau menerimanya maka saya akan membuang semua benda-benda tersebut. Tidak ingin saya terlingkarkan dengan kenangan yang akan datang perantaraan barang-barang tersebut. Keberadaannya hanya akan menjadi semacam siksaan yang menempatkan saya pada perasaan marah dan sedih. Menyingkirkan semuanya adalah langkah yang saya pikir paling tepat.

Tapi sekarang saya tidak lagi hijau. Kehidupan membuat pemikiran saya matang, membuat saya mengerti bahwa siklus itu akan terus dijalani. Bukan hanya siklus ketika saya harus menghadapi perpisahan tapi juga siklus ketika saya mencari pelabuhan untuk bersandar. Pelabuhan yang kemudian saya merasa aman dan nyaman untuk melemparkan jangkar dan mengaitkan hati pada dermaga yang penuh dengan pengharapan. Pelabuhan yang sampai saat ini ternyata belum saya temukan.

Saat ini saya menginginkan sebuah hubungan yang dewasa. Hubungan yang tidak banyak drama meskipun laga bagai sinema itu diperlukan sesekali untuk mengusir kebosanan. Saya ingin hubungan yang bisa mendewasakan pemikiran dalam menapaki jalan yang terpampang di depan. Jalan yang pastinya tidak gampang karena dua ego yang akan beriringan. Tapi ketika seseorang itu nanti dikirim Tuhan, saya akan mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik. Buat dia, buat saya, buat kami.

Mungkinkah itu kamu? Seorang mantan yang tinggal di benua seberang, yang dua tahun lalu sempat singgah sebentar dan kini kembali datang? Saya tidak tahu.

Apisindica – Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali

5 komentar:

Enno mengatakan...

hohoho ada apa ini? CLBK, kang yudha? wkwkwkwk

BaS mengatakan...

Selamat mengusahakan hati ya apis. Jikapun harus sedikit menoleh ke belakang namun bisa memberikan kamu kenyamanan ....go for it apis!
salam yak buat yang sipit......:)

Apisindica mengatakan...

@mbak enno: CLBK itu apa yah mbak? Hihihi

@BaS: makasih BaS. Tapi ini matanya biru kok bukan sipit!! :)

eka lianawati mengatakan...

saya juga tidak tahu
kalau disimpan, kata'nya life has to be go on
hahaha

Apisindica mengatakan...

@eka: heh? apa yang tidak tahu kalau disimpan?

kalau masalah life has to be go on sih aku juga percaya. thanks yah udh mampir...