Senin, 15 Maret 2010

PERI

Sabtu pagi, disaat sebagian besar orang masih terlelap atau malas-malasan di tempat tidur karena tidak disibukan oleh rutinitas pekerjaan, saya terlibat pembicaraan yang cukup seru dengan salah seorang teman di pulau lain. Memang tidak ngobrol secara langsung, tapi melalui fasilitas BBM. Itupun sambil malas-malasan di atas kasur dan masih selimutan.

Curhatan dia membuat mata saya yang masih berat sontak terbelalak setengah melotot.

Seorang wanita lajang, masih muda, dokter spesialis terkenal, hidup sudah sangat mapan, ternyata mempunya sisi lain kehidupan yang WOW. Sisi yang membuat saya mengelus dada karena tidak menyangka, tidak pernah terpikir sedikitpun kearah sana karena saya sudah mengenalnya cukup lama ketika kami masih sama-sama di Bandung. Speechless.

Bukan dia yang ingin saya ceritakan, tidak ada hak saya untuk kemudian mengumbar atau menghakimi. Hidup dia, terserah dia. Sudah dewasa dan pasti bisa mempertanggungjawabkan semuanya. Yang menggelitik adalah di akhir pembicaraan dia kemudian bertanya kenapa saya tidak pernah banyak cerita, kenapa selama dia mengenal saya, saya tidak seantusias dia menceritakan setiap detail kehidupannya.

Dia sebetulnya mengenal saya, termasuk pada bagian paling gelapnya. Hanya memang saya tidak pernah merinci detail kejadian-kejadia apa yang menghadang, tidak kemudian meminta sedikit advise untuk menyelesaikannya, bahkan hanya untuk sekedar berbagi. Itu yang dia pertanyakan.

Saya kemudian teringat bahwa saya pernah berpikir kalau saya selalu memiliki solusi untuk orang lain tapi tidak pernah memiliki solusi untuk diri saya sendiri. Solusi yang saya berikan tidak pernah saya bisa terapkan pada diri saya sendiri, meskipun masalahnya relatif sama. Mungkin sudah hukum alam, itulah sebabnya dokter juga butuh dokter lain untuk menyembuhkan penyakitnya.

Terlahir dengan anugerah sebagai orang yang selalu menjadi tempat curhat orang lain, membuat saya menjadi semakin kaya hati. Kaya pengalaman. Saya bisa belajar dari masalah teman atau kerabat, dan itu mendewasakan. Menjadi kuat dengan menganalisis masalah dan mencarikan solusinya, menjadi bijaksana dengan memecahkan masalah melalui banyak pertimbangan baik dan buruk. Menjadi lebih baik dengan menghindari masalah yang sama.

Sayang, seperti saya bilang saya seringkali sulit menerapkan solusi tersebut ketika masalah itu benar-benar mengenai saya. Dan saya kesulitan menemukan orang untuk tempat sekedar berbagi. Bukan tidak mempercayai sahabat-sahabat saya, saya hanya kesulitan. Kesulitan untuk terbuka.

Teman saya yang dokter itu kemudian bertanya apa yang saya lakukan ketika saya punya masalah. Dan jawaban saya adalah menulis. Dengan menulis saya bisa menumpahkan segalanya, dengan menulis saya bisa melalui kesulitan-kesulitan ketika ingin berujar. Dengan menulis saya bisa bebas menumpahkan segalanya tanpa ragu. Saya berbagi dengan menulis.

Teman saya yang lain sambil bercanda bilang, ketika ada yang selalu memiliki solusi untuk orang lain tapi tidak pernah punya solusi untuk diri sendiri adalah ciri khas dari PERI. Saya menimpali, mana ada peri segede BUTA begini. :)

9 komentar:

Farrel Fortunatus mengatakan...

menolong orang lain memang mulia, jadi lanjutkanlah. diatas langit, ada langit. diatas guru yang hebat, ada maha guru... ga ada salahnya berbagi dengan orang yang bisa kita percaya.

alimasadi mengatakan...

peri segede BUTO...!!!!
Berarti kita senasib dong..

Apisindica mengatakan...

@Farrel: setujuuuuu!!!! di atas langit masih ada langit. Ini juga lagi belajar membuka diri dikit-dikit. hehehehe

@ali: hahaha. nasib, nasib!!!

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

memang benar kok bro..
ketika kita bisa memberikan banyak pandangan solusi bagi orang lain, tapi di satu sisi kita bagaikan org buta yg meraba2 mencari solusi utk diri kita sendiri..
mungkin memang spt itulah fitrah manusia di dunia.. utk saling mengisi dan melengkapi..

Apisindica mengatakan...

@pohon: yup, thats the point. Saling melengkapi dan mengisi!

hadidot mengatakan...

kamu selalu bisa curhat sama Tuhan kok,DIA maha mendengar segala keluh kesah hambaNYA. yg jelas Tuhan gak pernah ngecewain mahlukNYA yg manapun juga:)

semoga kamu bisa menjadi lilin yg rela berkorban dirinya buat sesama secara konsisten ya pin,salam:D

Apisindica mengatakan...

@hadidot: Saya tahu Tuhan selalu ada buat saya. Tidak pernah berpaling meskipun saya nista sekalipun.

Semoga. Insya allah. amiiiiin!

Ginko mengatakan...

Manusia memang sudah ada tipe-tipe-nya, ada tipe listener, ada juga yang out-spoken. Just enjoy, saya percaya manusia bisa berubah kalau ada kepentingan yang mendesak. Selama belum ada... just enjoy.

Apisindica mengatakan...

@ginko: i try to enjoy everything, flow like water, blow like wind!