Kamis, 18 Maret 2010

Cinta (Seringkali) Buta

Sekarang gue tahu kenapa suka ada pembunuhan diantara pasangan sesama jenis karena saling cemburu itu. Kesimpulan gue sih karena rasa kepemilikannya gede, ketimbang melihat orang lain yang dia sayangin itu bahagia, lebih baik dibunuh aja. Atau paling nggak si “mantan” pasangannya itu dibuat menderita. Serem yah?!!

Ini berdasarkan pengalaman temen gue. Pacaran udah hampir 5 tahun lebih, sudah beberapa kali melewati “badai” dan tetap bertahan. Padahal sang pacar juga akhirnya menikah dengan seorang perempuan tentu saja, tapi mereka tetap berjuang untuk tetap bertahan. Menganggap bahwa ketika salah satu sudah berpasangan, itu bukan suatu masalah. Semua tetap bisa dijalani seperti biasa.

Apakah teman gue bodoh? Tidak pastinya. Ketika berurusan dengan hati dan perasaan, seseorang bisa melakukan apa saja. Bahkan sesuatu yang bertolak belakang dengan logika.

Pernah suatu kali gue bertanya sama temen gue itu apa yang dia peroleh dari hubungan tersebut, dia menjawab bahwa pasangannya itu memberikan kasih sayang. Sesuatu yang bisa memenuhi kubutuhannya akan rasa dimiliki, dikasihi. Sementara itu temen gue juga menjelaskan bahwa sebagai balasan sayang yang pasangannya berikan, dia memberikan kesetiaan. Selama 5 tahun berhubungan, temen gue itu setia setengah mati. Nggak ada cerita selingkuh baik fisik maupun hati. Hebat!

Tapi temen gue itu juga bilang, Pacarnya ngasih dia sayang. Dia ngasih pacarnya setia, dan dia ngasih istri pacarnya itu pengkhianatan. Teman gue memang sadar benar dengan apa yang dia lakukan dan jalani, termasuk konsekuensinya.

Entah karena angin apa, kemarin temen gue itu putus dengan pacarnya. Dia tersadar bahwa ternyata selama ini yang dia pupuk adalah kekosongan. Sesuatu yang tidak bisa diperjuangkan sampai ujung. Gue dalam hati cuma bisa bilang, where have you been darling?? Tidak ada keingin untuk menghakimi, karena seperti gue bilang, tidak ada sesuatu yang absolut salah ketika itu berhubungan dengan hati. Logika tidak bisa digandeng untuk selaras dan sejalan.

Temen gue yang mutusin. Pacarnya menolak dengan banyak alasan meski akhirnya dia menerima juga.

Sehari berlalu…
Seminggu lewat…
Sebulan…

Sang mantan pacar kemudian menghubungi lagi temen gue, minta balik. Temen gue nggak mau. Sang mantan maksa. Temen gue bertahan. Kemudian keluarlah ultimatum bahwa kalau temen gue nggak mau balik lagi sama dia, maka dia akan menghubungi temen-temen kantornya dan membuka semua siapa temen gue itu. Membuka rahasia kalau sebenernya temen gue itu gay. Sang mantan memiliki nomer temen-temen kantor temen gue karena dulu handphone temen gue itu dikasih sama dia, dan temen gue lupa menghapus sebagian kontaknya.

Temen gue bingung. Temen gue bimbang. Nangis, kemudian memutar otak.

Sang mantan tidak mau diputusin karena dia merasa bahwa dia telah disia-sia. Mereka berjuang dari nol berdua, dan ketika temen gue sudah sesukses sekarang dia malah diputusin. Tidak diajak mengarungi sukses yang terpampang di depan mata.

Temen gue akhirnya pura-pura bilang kalau dia sebenernya sudah jadian, sudah punya pacar. Dengan seorang perempuan yang juga dikenal sang mantan. Ajaib, sang mantan percaya dan dengan legowo menerima keputusan itu. Dia tidak ikhlas kalau misalnya temen gue itu berpacaran dengan laki-laki lain, tapi karena ini dengan perempuan. Dia mau nerima, dan ikhlas.

Temen gue bisa bernafas lega.

Sehari…
Seminggu kelar…
Sebulan…

“Lo boleh pacaran sama perempuan pujaan lo itu. Tapi gue tetep gak bisa tinggal diam. Lo udah memperlakukan gue kaya sampah. Sekarang gue minta lo tiap bulan kirim gue duit sebesar (sekian) buat nyumpel mulut gue biar nggak ngomong sama temen-temen kantor lo. Dan perlu lo tahu, itu duit bukan buat keluarga gue. itu duit buat biaya berondong gue yang baru jalan sama gue. Gue nggak mau tahu, pokoknya setiap tanggal 25 setiap bulannya lo musti kirim ke rekening gue. Suruh siapa lo putusin gue, padahal kan lo bisa kayak gue. pacaran sama cewek dan sama lo sekaligus”

Ancaman dari sang mantan.

Temen gue kembali dilema. Temen gue kembali nagis. Menyadari dan merunut kebodohan-kebodohan yang telah dilakukannya selama 5 tahun. Sayang nasi sudah menjadi bubur, meski buburnya bisa dibumbuin biar tetep enak.

Gue sebagai temen hanya bisa memberi masukan, tidak bisa berbuat lebih. Tapi sempet terpikir: halal kayaknya orang kaya sang mantan ini buat dibunuh. Astagpirulloh!!!

See, betapa complicated hubungan yang dibina oleh pasangan sejenis? Tidak hanya pada saat pacaran tapi juga masa-masa setelah itu. Apalagi kalau pasangannya itu tidak well educated. Gue kemudian hanya mengelus dada dan banyak-banyak berdoa.

Mencintai orang yang salah (dengan buta) kadang seperti memelihara bom waktu. bisa meledak kapan saja tanpa kita tahu pasti!

10 komentar:

Brokoli sehat mengatakan...

"meski buburnya bisa dibumbuin biar tetep enak"

hmm menarik tuh kata-katanya. Lalu, apa yang harus dibubuhkan agar buburnya tetap enak?

bandit™perantau mengatakan...

saya sendiri tidak bisa memberi masukin yg saya rasa tepat utk masalah seperti itu..

hanya saja, lebih baik menerima konsekuensi daripada beralrut-larut dalam kebohongan...

run to the better life, even the other (people) hate me, i will run to a better life...

rid mengatakan...

"Mencintai orang yang salah (dengan buta) kadang seperti memelihara bom waktu. bisa meledak kapan saja tanpa kita tahu pasti!"

setujuuuu, ma kata2 itu :)

Apisindica mengatakan...

@popi: ya biar buburnya enak ditambahin potongan ayam, cakue, telor, kerupuk. hehehehe

Apapun itu, menerima sesuatu yang telah dilakukan dengan memaknai kesalahan dan belajar dari hal tersebut adalah bentuk dari membumbui "nasi yang sudah menjadi bubur"

@bandit: menerima semua konsekuensi adalah hal paling ksatria. berani berbuat, berani bertanggung jawab. meski itu pahit!

@Rid: iyah. makanya meskipun cinta itu buta, kita TETAP harus punya mata.

maiank mengatakan...

hew bujeet bujeet kaya disinetron sinetron...

pusing aing...kalo kaya begitu...

Apisindica mengatakan...

@maiank: "hidup ibarat sebuah sinema, bahkan lebih menyeramkan. sakit adalah sakit dan darah adalah darah. Tidak akan ada pemeran pengganti yang akan menggantikan kita menjalani sesuatu yang mudah apalagi yang berat"

tong pusing-pusing sagala ah... :P

Ginko mengatakan...

Mabuk cinta, putus asa akhirnya jadi gila.

Saran gue cuma, ketemu langsung, bicarakan semua dan rekam diam-diam buat barang bukti kedepannya kalau ada masalah lagi.

Well, one's reap what one's sow...

Apisindica mengatakan...

@ginko: itu juga yang gw saranin sama temen gw. Bikin bukti otentik untuk persiapan ke depannya. :)

Pohonku Sepi Sendiri mengatakan...

maapkan bro, baru bisa berkunjung sekarang..

ini kisahnya beneran ya bro, menakutkan sekali ya bisa jadi ampe kaya gitu..
setelah sekian lama, ternyata cinta itu seringkali tdk hanya buta ya bro, tapi juga bisu dan tuli.. :)

Apisindica mengatakan...

@pohon: nggak apa-apa bro!

ini kisah nyata yang benar-benar menakutkan.

itu kekuatan cinta, bisa merubah pacar jadi monster!