Sabtu, 16 Maret 2013

Penyangkalan


Pernah marah sama Tuhan?

Tidak

Pernah mempertanyakan?

Saya sudah berhenti

Kenapa?

Mempertanyakan tidak membuat saya menjadi siapa-siapa

Lantas?

Tidak ada lantas. Saya masih tetap hidup (mungkin) bahagia

Hidup dalam penyangkalan?

Tidak ada yang saya sangkal. Saya hanya menjaga perasaan banyak orang.

Apakah itu kewajiban?

Bukan. Saya merasa cukup saya saja yang menanggung apa yang tidak perlu mereka tanggung.

Ah lagi-lagi kamu menyangkal.

Mereka bilang saya hidup dalam penyangkalan padahal saya tidak tahu apa yang saya sangkal. Takdir Tuhan? Tidak. Saya tidak menyangkal itu. Tidak lagi. Dulu mungkin pernah. Tapi sekarang tidak. Buat apa disangkal kalau ternyata saya bisa berdamai. Buat apa melelahkan diri dikejar aktivitas mempertanyakan kalau sebetulnya saya sudah mengantongi sebuah jawaban.

Mereka bilang saya menyerah. Tidak berusaha menjadi siapa saya yang seharusnya. Bagaimana mereka bisa sebegitu yakin padahal saya juga tidak tahu harus menjadi apa saya seharusnya. Bisa jadi mungkin saya memang menyerah, tidak lagi bertarung untuk hal-hal yang awalnya saya amini. Tapi waktu mengajarkan itu. Bagaimanapun lantang menyuarakan ternyata tidak membuat saya terbebaskan. Saya masih seperti saya yang dulu. Hidup (mungkin) bahagia dengan banyak ketakutan di kepala.

Saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Memuaskan pihak-pihak yang merasa memiliki kewajiban mengingatkan saya untuk terus bertahan pada apa yang sebetulnya tidak saya yakini dengan benar. Kata mereka saya disuruh bertanya pada hati, padahal mereka tidak tahu hati saya sudah sedemikian bebal. Kapalan karena ditindih berat beban dari awal saya menyuarakan kegamangan.

Tapi apa yang saya dapatkan? Tidak ada kecuali kesakitan. Penderitaan yang ternyata mendewasakan. Pelajaran yang membuat saya belajar untuk bungkam. Membekap suara yang pernah lancang terlontar. Mengikat keliaran imaji pada ranah yang dibuat oleh sebagian besar orang yang merasa dirinya Tuhan.

Apakah karena saya melakukan itu semua lantas saya dikatagorikan hidup dalam penyangkalan? Entahlah. Saya juga tidak tahu.

4 komentar:

riyanto perdana mengatakan...

Menyangkali diri sendiri itu memang melelahkan. Tapi kadang itu memang harus kita lakukan demi banyak hal.

Apisindica mengatakan...

@riyanto: dan seperti aku bilang, aku tidak menyangkal apapun. Aku menerima diriku apa adanya. Kemarin, sekarang dan (mungkin) nanti.

Farrel Fortunatus mengatakan...

Apis kan terkenal dengan jawaban ambigu-nya he he he...
diam, seringkali disalah artikan orang sebagai; cuek, pasrah, marah, sombong, apatis, capek, dll. Semua tergantung persepsi yang melihatnya, tapi yang tau yang sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Apisindica mengatakan...

@farrel: hahaha, masa sih terkenal karena jawabannya yang ambigu?? :P

setuju, kadang kita hidup dalam perspektif orang lain yang sering kali salah.