Halaman

Senin, 18 Februari 2013

Pengalaman Pertama


Sekilas saya menyapu pandang ke seluruh bagian ruangan yang terletak di bagian belakang rumah ini. Letaknya memang terpisah dari bagian rumah inti sehingga untuk sampai ke sini saya harus melewati jalanan batu yang di kanan kirinya terdapat taman yang ditumbuhi rumput jepang yang asri. Tidak ada yang istimewa dari ruangan ini, hanya ada sebuah sofa kulit di samping pintu dan sebuah ranjang yang masih tertutup sprei putih yang rapi.

Satu hal yang membuat saya sedikit merasa janggal. Lampunya temaram. Minim untuk ukuran ruangan yang lumayan besar.

Saya kemudian duduk di sofa kulit dan kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Mata saya kemudian tertumbuk pada beberapa lukisan janggal yang menempel dengan posisi yang tidak wajar di dindingnya yang berwarna tak kalah aneh. Lukisan bukan abstrak tetapi tidak mudah dimengerti. Lukisan sederhana tetapi rumit dijabarkan kata.

Seorang laki-laki kemudian masuk ke ruangan itu. Laki-laki yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Laki-laki yang baru saya tahu suaranya melalui sambungan telpon beberapa hari lalu. Dan saya takjub karena laki-laki itu tidak kalah janggal dengan lukisan-lukisan yang ada di ruangan tersebut. Dia hanya memakai kaos kutung bergambar Curt Cobain. Berbagai tato terlihat menghiasi kedua lengannya yang kekar. Saya juga melihat beberapa terletak di betisnya yang nyaris tanpa bulu. Seketika saya ciut, keberanian yang sudah saya bangun runtuh dalam hitungan detik padahal laki-laki itu belum mengatakan apa-apa.

Laki-laki itu mengulurkan tangan dan menyebutkan nama. Nama seperti yang dia sebutkan ketika saya menelponnya. Gagap saya menyambut uluran tangannya dan sepertinya dia bisa mencium ranah keragu-raguan yang mungkin tergambar nyata di wajah saya sore itu.

“Tangan kamu dingin sekali. Nampaknya kamu gugup dan belum yakin dengan apa yang akan kita lakukan” Laki-laki itu menggenggam tangan saya seperti mau meyakinkan bahwa apa yang akan kami lakukan nanti bukan sesuatu yang berbahaya.

“Maklum ini yang pertama buat saya” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut saya, itupun diucapkan dengan sedikit terbata.

Saya memang belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya lakukan. Keinginan ini memang sudah sekian lama saya pendam, tetapi saya sepertinya terlalu pengecut untuk mengalahkan ketakutan yang seringkali singgah di hati tidak mau pergi. Pergulatan batin selalu menggelayuti ketika saya ingin mencicipi hal yang akan saya lakukan dengan laki-laki itu. Laki-laki yang mungkin saya percaya, atau paling tidak padanya saya melabuhkan banyak kepercayaan untuk menuntaskan kepenasaran saya dengan sesuatu yang sedari dulu ingin saya lakukan.

“Tenang. Kamu bisa percaya pada saya. Tidak akan sakit seperti yang banyak orang bilang. Kamu datang pada orang yang tepat maka yang perlu kamu lakukan hanyalah percaya kepada saya” Laki-laki itu menenangkan. Sejurus kemudian dia menyalakan musik dari perangkat pemutar yang ada di atas meja kecil di sudut ruangan. Musik instrumental melumat pendengaran saya, membuat sendi-sendi yang sedikit kaku mejadi seperti dilolosi.

Saya menelan ludah. Kebimbangan masih berperang di dalam hati. Keinginan untuk mencicipi dan ketakutan akan menjadi ketagihan silih berganti menghantam perasaan saya yang semakin mengambang. Rasanya ingin berlari pergi, tapi entah apa yang tetap membuat saya tetap berada di sini. Harusnya saya berani, tidak lagi takut dengan apa yang selama ini saya ingini. Saya memutuskan untuk tepat tinggal.

“Bisa kita mulai?” laki-laki itu bertanya kemudian tersenyum ke arah saya. Deretan giginya yang rapi dengan jejak banyak nikotin dan kafein jelas terlihat di sana. “Tidak usah ragu, saya jamin kamu tidak akan apa-apa” Kembali dia meyakinkan saya yang masih dilimbung keragu-raguan.

Bagai kerbau dicucuk hidung saya berjalan mendekati laki-laki itu. Masih diselimuti ragu, perlahan saya membuka baju saya dan melonggarkan ikatan tali pinggang yang saya kenakan. Saya menaiki ranjang berseprei putih yang masih rapi dengan posisi tengkurap. Wangi pengharum pakaian yang dikeluarkan sarung bantal yang menopang kepala saya sekejap mencumbu saraf olfaktorius di dalam lubang penciuman. Menyegarkan. Menenangkan.

Tangan laki-laki itu saya rasakan menyentuh bagian bawah badan saya. Dingin. Tapi kemudian tidak ada lagi dingin karena yang saya rasakan hanyalah sakit. Tangan saya mencengkram kuat bagian samping ranjang yang sedikit berdecit. Sesekali saya memejamkan mata berharap kesakitan itu segera sirna. Tidak ada suara karena tenggorokan saya lebih ke arah menahan, tapi ada suara lain yang asing yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Suara yang timbul bersamaan dengan saat tangan laki-laki itu menekan badan saya.

Saya tidak melihat, tidak bisa melihat lebih tepatnya. Tapi saya yakin di bagian bawah sana ada darah. Kesakitan semacam yang sedang saya rasakan tentu saja akan membuahkan pendarahan. Proses pendarahan yang entah kenapa membuat teman-teman saya seperti ketagihan sehingga mengulangi lagi dan lagi. Keringat saya rasakan membasahi hampir seluruh permukaan tubuh saya. Keringat yang keluar karena suhu tubuh saya yang meningkat seiring dengan saya menahan. Sesekali laki-laki itu menyeka keringat saya. Tangannya masih dingin saya rasakan. Tangan yang saya percayai untuk memberikan pengalaman pertama saya dengan hal baru yang selama ini mungkin saya inginkan.

Waktu berjalan lambat seakan memberi kesempatan saya untuk menikmati kesakitan yang sedang ditimbulkan. Dan memang benar, lambat laun saya merasa nyaman. Tidak ada lagi sebentuk kesakitan, hilang sudah semua perasaan menahan. Saya menikmati semua proses yang sedang berlangsung hingga tidak ingin permainan ini menemukan akhiran. Saya tidak lagi menutup mata karena saya ingin menyaksikan bagaimana proses ini dimainkan.

Laki-laki itu kemudian berdiri. Suara yang tadi timbul memenuhi ruangan lenyap tanpa sebab, tapi keringat masih meninggalkan jejak di badan saya. Lembab.

“Kamu hebat. Untuk ukuran orang yang pertama kali melakukan ini kamu luar biasa” laki-laki itu berkata sambil melemparkan handuk kecil ke arah saya. Dan saya hanya tersenyum. Tersanjung oleh ucapan laki-laki yang baru pertama ini saya temui. Laki-laki berlengan kekar dengan tato yang terpasang sempurna di sana.

Saya bangkit dari ranjang dan berjalan ke sisi ruangan. Tangan saya memegang celana yang tadi melorot ketika serangkaian proses dilakukan. Cermin persegi yang tergantung di sebelah lukisan yang abnormal saya datangi, celana saya turunkan lagi hingga panggul. Sambil mematut diri dari belakang saya merasa puas dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Laki-laki yang baru saya kenal hari ini. Laki-laki yang menuntaskan kepenasaran saya tentang rasa yang selama ini justru saya inginkan. Laki-laki yang dengan piawai membubuhkan gambar naga di pinggul saya dalam bentuk tato permanen.

1 komentar:

Farrel Fortunatus mengatakan...

kok lebih terkesan pengalaman pertama disodomi ya? he he he... #ngeresdotcom