Kamis, 14 Februari 2013

Dia


Saya tidak menyangka kalau angin akan menerbangkan saya ke arahnya. Seseorang yang mungkin telah saya tunggu di lorong gelap penantian. Seseorang yang saya harap membawa seberkas cahaya, tidak perlu besar asal berpendar. Dan dengan itu kemudian dia menuntun saya lepas dari ketersesatan, menyelamatkan saya dari buta berkepanjangan.

Mungkin hati saya sudah sedemikian kerontang, gersang dihajar kemarau yang tak berkesudahan. Kemarau yang tetap menghadang walau hujan tengah datang hampir di setiap kesempatan. Rasa yang mengendap kering menyebabkan saya merasa nyaman, enggan beranjak sekedar untuk memapah rintik di halaman.


Kini, ketika dia datang, kemarau seakan lenyap menguap bagai keringat. Diganti segar laksana kuncup yang menitis mekar. Saya merasa hidup, seakan dilahirkan kembali dari rahim cakrawala hati. Dia membawa udara untuk dihela, merangkul matahari guna menyinari. Menggugah perasaan yang sempat mati suri untuk hidup kembali.

Awalnya saya bimbang. Tidak yakin dengan apa yang hati rasakan. Teramat sering saya salah menginderai terang, kerap saya salah mencumbui fatamorgana yang justru membawa saya tidak bisa pulang. Karenanya saya bertahan, tak goyah oleh buai kata yang keluar. Saya tidak ingin gagal karena kecerobohan, saya hanya ingin pulang. Ke peluk hangat pangkuan sayang.

Sekarang, saya yakin kalau dia seseorang. Sosok yang akan saya persilahkan masuk ke dalam. Tidak hanya mengamati tapi boleh juga mengisi. Menambah peralatan yang mungkin masih terasa kurang. Mengganti yang mungkin tidak cocok dengan bentuk dan ruang. Mengarsir dan menandai mana yang boleh diterjang dan mana yang harus ditentang. Saya yakin dia adalah seseorang.

Dalam temaram pendar yang dia hadirkan, saya menemukan lagi siapa saya, siapa dia. Merefleksi bayangan yang terbentuk di dinding. Tidak jelas tapi nyata. Saya berharap semuanya menjadi lebih nampak ketika sudah keluar dari terowongan. Saya senang. Setidaknya saya tidak memapah jejak sendirian, saya bersamanya. Seseorang.

Ketika cahaya semakin benderang, kenapa bayangannya malah memudar. Saya berlari ke tengah lapang, tapi bayangannya terus menciut dimakan terang. Saya berteriak, tapi dia malah menghilang. Saya menangis di batas kesabaran.

Dia memang seseorang. Seseorang yang saya liat dalam impian.

Happy Valentine's day dear dreamed soulmate!

4 komentar:

-Gek- mengatakan...

Happy valentine's day, Apis. :)

Pengobatan Alami Multikhasiat mengatakan...

nice post

Ace Maxs mengatakan...

i love islam ..
tidak ada valentine !!

Gloria Putri mengatakan...

kmrn2 ksini tp no comment,speechless krn tulisan kang apis bagus kayak biasanya
hehehe
tp kali ini komennn ahhhh..
ngakakkkkkkk...wkwkwkwkwkkwkwk
oyw ksini lg krn liat twit e kang apis