Jumat, 10 Agustus 2012

Rumah Masa Lalu


Dia datang lagi. Membawa turbulen yang masih sama. Memporakporandakan keinginan yang sudah lama rapi tersimpan, menarik pada dimensi yang tidak lantas bisa dijelaskan.

Dia datang lagi setelah sekian lama menghilang. Menghadirkan kegundahan yang dulu pernah berhasilkan aku disembunyikan. Memang tidak hilang benar karena ternyata aku tidak punya lebih keberanian untuk memberangusnya hingga menjadi arang. Aku memilih menyimpan baranya, menjaganya agar masih bisa berpendar hingga saat ini. Entah untuk apa. Bodoh.

Aku tahu dia tidak lagi sama. Bahkan ketika dia memutuskan untuk menyudahi apa yang pernah hati sepakati dia sudah menjelma menjadi sosok asing yang tidak bisa lagi dikenali. Dia menanggalkan semua yang pernah kami alami sementara aku dengan motif yang sampai kini tidak dimengerti tetap keukeuh menyimpannya. Aku hanya tahu kalau aku akan tetap mengaguminya, tidak peduli waktu justru memisahkan kami pada dimensi yang saling terjauhkan.

Dia datang lagi. Dalam jarak yang mendekat setelah kemarin sempat terpisahkan oleh batasan regional. Tanpa menggagas apa-apa dia hadir, sementara aku gemetar bahkan hanya dengan membayangkan kalau ada suatu waktu dimana kami pasti akan bertemu. Direncanakan ataupun hanya kebetulan, aku tahu kalau takdir pasti akan mempertemukan. Dia dengan perasaan mungkin hanya menganggap pertemuan dengan teman, dan aku dengan pengharapan yang sama seperti masa silam. Bodoh.

Dia datang lagi. Mengisi rumah masa lalu yang aku jaga halamannya dari alang-alang agar tidak berkesan muram. Rumah masa lalu yang pernah kami tinggali dulu. Rumah berjendelakan pemandangan ketika kami bertautan dan berlarian sambil saling mengenggam.

Rumah itu tidak pernah aku tinggali. Sepi. Aku hanya menjaganya dari rayap yang akan membuatnya lapuk dimakan pengharapan. Dan kini ketika dia datang lagi dan menempati salah satu ruangannya, aku hanya akan mengamati dari jauh. Lewat jendela yang genap terbuka, aku hanya ingin mengagumi. Bodoh.

Rumah itu memang rumah masa lalu. Rumah yang harusnya aku runtuhkan hingga rata dengan tanah, hingga tidak ada lagi aroma menyeruak yang akan menyulitkan ketika ingin menerusakan perjalanan.

Sayang aku memilih jalan yang berlainan, rumah masa lalu itu hingga kini masih ada. Di sini. Di salah satu sudut hati yang nampaknya sudah mengeras bagai batu.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Ih lagi2x blom moveon....

Apisindica mengatakan...

@anonim: susah boooo!!! :(

Trica Jus mengatakan...

berbagi kata kata motivasi gan
Apa yang anda lakukan hari ini, merupakan kunci kebaikan ataupun juga kehancuran hari esok anda. Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini.
salam kenal sukses selalu dan ku tunggu kunjungan baliknya :D

Anonim mengatakan...

Bukannya ga bs move on, tp belum mau..
Karena kadang hati ga pernah rela melepas kenangan..
Dan bukan hanya kenangan buruk yg menyakitkan, tp kdg kenangan indah justru lbh menyakitkan :(