Senin, 06 Agustus 2012

(bukan) Teman Baik

Saya ingin menjelma menjadi seorang teman yang bisa diandalkan, bukannya dimanfaatkan. Bukan hanya karena saya tidak sungkan mendengarkan, atau sesekali memberikan saran yang terkadang tepat sasaran kemudian saya dimanfaatkan. Dimanipulasi untuk selalu ada ketika dibutuhkan tetapi tidak diacuhkan ketika kehidupan seseorang yang disebut teman tersebut sedang berjalan sesuai dengan keinginan.

Lama-lama saya bosan.

Dulu saya merasa mungkin saya bukan orang yang enak untuk dijadikan pacar, seseorang yang bisa diajak berbagi hati atau sekedar bertautan pikiran dalam kerangka kasih sayang. Saya terlalu egois sehingga seringkali hubungan yang sudah diinisiasi harus berakhir dengan berbagai alasan. Saya bukan pecinta yang beruntung, tapi saya merasa sangat diberkahi karena dikelilingi banyak kawan yang bisa saya andalkan. Setidaknya menghibur ketika saya sedang banyak pikiran, mengalihkan masalah ke bentuk yang jauh lebih menyenangkan.

Saya bersyukur karenanya. Dulu. Tapi kini satu per satu banyak teman yang terjauhkan karena satu dan lain hal. Dan saya memaknainya sebagai sesuatu yang wajar. Bagaimanapun keadaan tidak pernah bisa dipertahankan seperti apa yang diharapkan. Waktu berperan, hubungan individu campur tangan. Faktor-faktor itu akan membuat masing-masing orang melesat dengan busur pada jalan yang berlainan. Memisahkan badan meski pikiran masih bisa bertautan melalui banyak sarana yang bisa digunakan.

Meski begitu tetap saja saya tidak ingin dimanfaatkan. Bukan berarti karena saya memiliki (mungkin) hati seperti peri, kemudian saya diintimidasi. Dihadirkan hanya ketika dibutuhkan, dan dianggap hilang ketika semua masalah sudah menemui terang. Saya keberatan, walaupun seharusnya saya tidak berlaku demikian. Saya meradang meskipun sebetulnya saya bisa saja bersikap lapang. Mungkin bagi mereka yang menganggap saya kawan, saya harus bisa diandalkan untuk kemudian tidak diacuhkan.

Ternyata selama ini saya bukan seorang teman yang baik seperti yang saya pikirkan. Buktinya saya masih merasa perlu balasan atas apa yang sudah saya belanjakan. Butuh pengakuan bahwa saya adalah seorang teman yang bisa diandalkan. Penuh pamrih saya ingin eksistensi saya dihargai, dinilai dengan takaran yang lebih dari orang padahal sebetulnya saya tidak banyak berperan. Saran mungkin bisa saja diambil dari sembarangan orang, tetapi kenapa ketika itu muncul dari mulut dan pikiran saya kemudian saya meminta bayaran.

Tapi bayaran yang saya minta bukan uang atau sanjungan. Bukan juga predikat sebagai peri penolong yang selalu punya solusi atas masalah yang tak pernah berhenti menghampiri. Bukan itu. Jauh di dalam hati, saya justru senang ketika bisa terlibat dalam kehidupan seorang teman. Menjadi sedikit amunisi untuk keluar dari problematika yang tak kunjung reda. Menjadi saksi pergulatan yang akan mengantarkannya pada podium sebagai pemenang. Saya hanya ingin dianggap ada justru ketika teman tersebut sedang tertawa dan mengangkat piala. Tidak perlu menyebutkan nama saya, cukup melirik sejenak dan melemparkan senyuman tipis pada saya yang mungkin masih berdiri di tempat yang lambat laun menjadi tidak terinderai.

Saya ingin tetap bisa terus diandalkan. Memberi seorang teman sedikit sudut pandang untuk keluar dari persoalan dan bukannya menambah drama pada kehidupannya yang tak kalah dengan sinema di layar kaca. Tapi saya juga bukan wahana pemacu adrenalin di taman bermain yang hanya didatangi ketika kepala terasa mau pecah karena masalah untuk kemudian ditinggalkan ketika beban yang bergelayut telah surut.

Saya tahu, saya belum bisa menjadi seorang teman yang dikatagorikan baik atau menyenangkan. Karenanya saya minta dimaafkan.

Note : Ditulis untuk seorang teman. Saya menyesal karena percintaan jarak jauhmu tidak menemukan jalan keluar. Tapi saya tidak menyesal karena saya memutuskan untuk berhenti peduli. Maaf.

2 komentar:

Lita mengatakan...

Dalem amat Kang.
Aku juga sering ngerasa gitu kok, dimanfaatin ma temen. gara2 kartu tarotku sih kebanyakan. *heheh*

ya sudahlah. Share aje ya.

Apisindica mengatakan...

@lita: berarti everybody common problems yah? hehehe

heh heh heh, aku juga mau donk dibacain tarot! *kemudianditabok :)