Senin, 02 April 2012

Dijebak (mantan)

Demi alasan klise pertemanan, saya tidak pernah menghapus pin BB ataupun nomer telpon mantan dari BB saya. Begitupun mereka, mungkin untuk alasan yang sama kontak saya tidak pernah dihapus. Tapi bukan berarti dengan memelihara pin BB ataupun nomer telpon mereka, kami menjadi intens berkomunikasi seperti dulu. Identitas-identitas tersebut hanya mati suri, berjejal memenuhi memori yang sebetulnya kalaupun dihilangkan tidak akan menimbulkan jejak yang berarti. Toh selama ini juga tidak pernah berfungsi.

Lagi-lagi saya ataupun mereka terjebak dalam alasan klise. Karena dulu memulai hubungan dengan baik-baik dan berpisahpun ditempuh dengan cara yang baik pula, jadi untuk apa saling menghilangkan jejak sekumpulan nomer yang bisa dilupakan begitu saja meskipun masih terpampang di kontak list. Apalagi isue pertemanan atau persaudaraan ketika urusan hati telah menemukan kebuntuan, menjadi semacam pengingkaran atas komitmen yang awalnya dulu disepakati bersama. Jadi mari biarkan saja nomer-nomer itu terpampang tanpa nyawa di sana.

Untuk saya, seorang penganut kepounited. Tidak menghapus pin BB mantan punya alasan tersendiri, bukan karena saya belum move on meskipun secara nyata saya memang belum move on dari mantan saya yang cina itu. Tapi saya senang menjadi seorang stalker, pengikut drama kehidupan yang sering para mantan paparkan lewat display picture ataupun status BBM-nya. Lewat kedua sarana tersebut saya jadi tahu kalau mereka baik-baik saja, atau tengah berlibur kemana, atau sudah mempunyai gandengan baru. Yang terakhir kadang membuat saya cemburu, bukan cemburu sama mantannya tapi cemburu karena kok saya belum punya pasangan lagi. Ya sih, masalah saya.

Dan saya juga yakin, para mantan juga melakukan hal yang sama terhadap saya. Apalagi dengan kerajinan saya mengupdate display picture dan status BBM sesering saya berganti baju, pasti mereka penasaran. Mungkin saya GR, tapi saya tahu benar kalau mereka melakukan hal tersebut walaupun tidak lantas berkomentar.

Jujur, sampai sekarang saya masih menyimpan sedikit perasaan pada salah satu mantan. Cina tentu saja, seseorang yang ketika saya mendekat sebetulnya dia masih berstatus sebagai kekasih orang. Dan saat itu saya memilih untuk buta, tetap mendekat dengan menomorsekiankan logika. Saya tidak peduli karena saya waktu itu berpikir bahwa perasaan saya harus diperjuangkan, walaupun saya harus merebut orang yang belum sepenuhnya terlepaskan. Memang, dia saat itu masih dalam kebimbangan tapi tetap saja labelnya masih sebagai kekasih orang.

Saya menjadi stalkernya sampai sekarang. Hanya stalker karena saya tidak berani menyapanya duluan. Saya takut, takut karena saya tahu dia tidak pernah punya perasaan apa-apa terhadap saya. Dan kalaupun dulu dia melayani, dia hanya mencari pelarian. Mencari hiburan dari hubungannya yang sedang goncang. Terbukti dengan akhirnya saya yang ditinggalkan. Saya takut kalau saya akan terjebak dengan perasaan saya yang dulu dan responnya dia akan tetap sama. Panggil saya pengecut karena memang begitu keadaannya. Tapi saya lebih memilih menjadi pengecut dibanding terperangkap dalam perasaan sulit move on seperti yang dulu dan sekarang masih saya rasakan.

Komunikasi diantara kami nyaris tidak ada. Kami hanya saling membiarkan nomor-nomor kontak masing-masing menjadi hiasan sunyi dan usang karena lama tak dipakai. Entah demi alasan yang apa lagi. Tapi kemarin berbeda, setelah sekian lama tidak ada kabar saya mendapati notifikasi BBM saya berbunyi dan nama dia yang keluar.

Saya gelisah, deg-degan antara ingin cepat-cepat membuka atau membiarkannya dulu beberapa saat agar dia tahu kalau saya tidak setertarik itu. Batin saya berperang, berada di tengah perasaan bahagia dan ketakutan. Dan akhirnya saya menyerah pada kepenasaran saya kemudian membuka pesan yang dia kirimkan.

Lama saya tertegun. Bisu. Karena kalimat yang dikirimkannya begitu menohok perasaan saya, membuatnya mencelos seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air. Di pesan singkatnya yang setelah sekian lama tidak pernah saya terima, dia menulis :

“Test contacs. Ignore Please!”

Sialan.

HAPPY (BELATED) APRIL FOOLS EVERYONE!!!!

2 komentar:

Gloria Putri mengatakan...

postingan ini ada hubungannya sama twitnya bbrp hr yg lalu kang? soal menghapus kontak bbm itu mnyenangkan?
xixixi.....aq jg kadang jd stalker mantanku..asyik sih ngliat mreka...sebel klo pas pacarnya lbh oke, tp seneng jingkrak2 klo dia putus...huaahhhahaha

Apisindica mengatakan...

@glo: gw sih nggak pernah ngehapus kontak bbm mantan. Kalau kontak bbm gebetan yang nyebelin sih sering :)

duuuuh, kamu jahat. masa bahagia di atas penderitaan mantan :P