Kamis, 05 April 2012

Teman

Saya ingat, hari itu tanggal 14 Februari 2009. Di sebuah siang yang tidak terlalu ramai untuk ukuran akhir pekan di sebuah kota bernama Jakarta, cerita kami dimulai. Entah siapa yang menggagas, tapi kami bersepakat untuk akhirnya bertemu muka. Setelah sekian banyak komentar yang dilayangkan, setelah banyak penggambaran minimalis dari sosok masing-masing yang hanya diadopsi dari tulisan yang kerap ditayangkan dalam papan maya bertemplate warna warni bagai pelangi, kami memutuskan untuk memulai.

Persahabatan kami dimulai dari tulisan. Saling berkunjung ke rumah dimana kami bebas berekspresi tanpa takut dihakimi. Kami berkenalan tanpa pernah berjabat tangan. Kami tertawa bersama tanpa sekalipun melihat lesung pipit yang mungkin tergambar di pipi salah satu dari kami. Mungkin terdengar aneh, tapi itulah kami. Sahabat yang tercipta dari kometar-komentar menguatkan atau justru menjatuhkan tanpa ada tendensi menyerang. Kami hanya membangun kedekatan selayaknya sahabat sungguhan.

Saya ingat, setiabudi building tempat yang kami tentukan untuk pertemuan kami yang pertama. Dan saya yakin benar kalau siang itu masing-masing membekali diri dengan amunisi cukup agar tidak dianggap garing atau tidak sesuai dengan penggambaran karakter yang selama ini sudah tertanam. Padahal kami tahu benar bahwa apa yang kami tuliskan seringkali tidak bisa diambil silogismenya untuk menelisik siapa kami sebenarnya. Jadilah pertemuan itu adalah pertemuan pertama yang akan membongkar seperti apa masing-masing dari kami sebenarnya.

Berempat kami bertemu, dan seperti sudah tidak ada sekat. Semua mengalir lancar tanpa saling menjaga image untuk mempertahankan apa yang sudah digambarkan melalui tulisan. Kami tertawa seperti halnya kami tertawa di dalam blog, saling mengomentari ketika salah satu dari kami menunjuk yang melintas di hadapan sebagai tipe pasangan yang selama ini kami cari. Kami terhubungkan sedemikian kuat seperti halnya karib yang sudah bersahabat sejak jaman sekolah dasar.

Dan kami bersahabat sampai saat ini, meski tidak pernah seintim dulu. Bukan karena kebencian atau bentuk saling menghindar, tapi bagaimanapun juga waktu akan mengantarkan semua dari kita pada setiap pemberhentian yang tidak bisa sama. Pemberhentian yang harus dimaknai sebagi bentuk pendewasaan. Pemberhentian yang mengharuskan kami berempat tidak lagi berpegangan tangan. Bukan bentuk ketidakpedulian, tapi bentuk penghormatan terhadap sesuatu yang sudah diputuskan dan harus dijalankan dengan semua konsekuensinya. Masing-masing dari kami tidak pernah merasa ditinggalkan, karena kami yakin bahwa di ujung yang pastinya pararel kami berempat saling mendoakan.

Berempat dari kami berjalan di haluan yang sama tapi ke arah yang berlainan, lagi-lagi takdir yang berperan. Satu-satu berpasangan dan mengundurkan diri meninggalkan saya yang tetap betah sendirian. Tapi saya punya kehidupan sendiri yang terus harus dibenahi. Kehidupan yang sebetulnya belum saya putuskan untuk tetap dijalankan atau berhenti dan mengambil opsi lain. Saya tidak seberani mereka karena saya terlalu banyak menimbang dan berpikir yang justru membuat saya ketinggalan. Untungnya mereka mengenal benar siapa saya, jadi lagi-lagi mereka tidak pernah menghakimi dan menyalahkan.

Kami berempat saling mendukung dan mendoakan atas apapun yang sudah diyakini untuk dijalankan. Jarak bukan halangan untuk saling menyayangi, karena 3 sahabat saya ini sekarang tinggal di luar Indonesia. 2 yang sudah duluan pindah ke luar negeri, dan bulan depan menyusul lagi satu orang. Lagi-lagi saya ditinggal sendirian. Tapi saya yakin semua akan baik-baik saja seperti biasanya.

Temans, saya senang mendengar kalian baik-baik saja dan menjalani hidup dengan nyaman. Tapi perlu kalian tahu 1 hal, saya kangen kalian. 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Aduh baca postingan ini semacam pengen mesen tiket and pulang buat meluk Apis hihi.... Mwah!