Kamis, 29 Desember 2011

Mahal Nggak?

Semalam saya pulang agak terlambat dari kantor. Masih ada puluhan DNA yang harus dianalisis sehingga saya harus merelakan jam pulang kantor lebih lama dari biasanya. Ini sudah menjelang akhir tahun tapi pekerjaan saya masih menumpuk dan lembur adalah bentuk konsekuensi yang harus saya hadapi karena terlalu banyak bepergian ke luar kota dan meninggalkan DNA-DNA itu tersimpan rapi di dalam lemari pendingin.

Ya, dan semalam saya sendirian. Setelah menyelesaikan proses retriksi hampir belasan DNA saya memutuskan untuk pulang. Mata dan tenaga rasanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, keduanya berebutan minta diistirahatkan karena terlalu saya porsir hari itu. Saya hanya keluar lab untuk keperluan ke kamar kecil dan makan. Selebihnya saya menjelma menjadi seorang peneliti (baca: sungguhan) yang dikejar target para donatur penelitian saya.

Ketika saya pulang, sudah bisa ditebak kalau kondisi laboratorium sudah sunyi senyap. Tidak ada lagi aktivitas orang atau bunyi alat-alat yang biasanya ribut mengisi lorong-lorong laboratorium yang panjang. Begitupun area parkir, hanya tersisa kendaraan saya yang terlihat menggigil kuyup karena diguyur hujan sepanjang sore. Untung saya memarkirkan kendaraan itu tidak telalu jauh dari pos satpam jadi saya masih bisa melihat aktivitas para satpam yang sebagian malah sibuk menonton tayangan televisi.

Belum genap saya membuka kendaraan saya, dari jarak agak jauh saya melihat segerombolan orang, lebih dari 3 orang jalan sedikit tergesa mendekat ke arah saya. Kondisi yang agak temaram dan mata yang sudah ngantuk berat membuat saya tidak dengan jelas bisa melihat siapa mereka, yang pasti saya tahu mereka berjalan ke arah saya. Buru-buru saya membuka kendaraan saya, tapi sebelum masuk saya bisa dengan jelas melihat gerombolan yang semakin mendekat itu. Mereka adalah para office boy dan cleaning service di kantor ini.

Mau apa mereka? Apa ada barang-barang saya yang tercecer di laboratorium atau ruang kerja saya? Apa mereka punya motif lain melihat ketergesa-gesaan mereka mendekat ke arah saya? Maklum hari ini beberapa orang dari mereka memang saya marahi. Bagaimana tidak marah kalau ketika saya datang, ruangan yang biasanya sudah rapi tersapu dan terpel ternyata masih kotor dan berantakan, kemudian galon air mineral kosong yang dari kemarin sorenya saya minta diisi belum juga diganti. Tekanan pekerjaan menjelang limit akhir membuat sumbu emosi saya terbakar lebih dari biasanya.

Semakin mereka mendekat tergesa, semakin saya gemetar menyalakan kendaraan saya. Semua jendela sudah tertutup rapat, jadi setidaknya saya lebih merasa aman. Saya menunggu, tidak menggerakan kendaraan saya. Di tengah deraan takut saya masih penasaran sebenarnya apa yang mereka mau lakukan. Sesaat setelah mereka berada di sebelah kendaraan saya, salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela. Saya turunkan sedikit jendelanya, dan bertanya “ada apa?”

“ Maaf Pak, saya cuma mau tanya kalau parfum yang Bapak pakai mereknya apa yah Pak? Wanginya enak. Dan maaf lho Pak nanyanya di parkiran, kalau di kantor malu sama temen-temen Bapak yang lain?”

Lemas saya terduduk di kursi. Otot yang semula tegang rasanya seperti dilolosi. Perasaan saya campur aduk antara ingin marah dan geli. Dan mau tidak mau, saya menyebutkan merek parfum yang saya pakai meskipun sesaat kemudian saya panik. Bagaimana kalau nanti satu kantor wangi parfumnya sama semua, dan itu dipakai oleh para office boy dan cleaning service. Bisa rusak reputasi saya (#ditampar).

Ditengah kelegaan saya, salah satu dari mereka bertanya lagi “Mahal nggak Pak?” Sembari memajukan kendaraan saya tersenyum dan menjawab “Lumayan”

Kendaraan saya menjauhi mereka. Saya tertawa seperti orang tolol di tengah jalanan yang mulai lengang tanpa kemacetan seperti biasanya. Dan pertanyaan bodoh terlontar dari benak saya, tadi keteka ada yang bertanya “Mahal nggak Pak?” itu maksudnya parfum saya yang mahal, atau saya yang mahal yah?

#kemudianhening

5 komentar:

rona-nauli mengatakan...

ahahaha...baca tulisan kali ini bisa bikin sayah ngakak pagi2 :)). itu jangan2 yang ditanya mahal or gak malah mobilnya? :D

Tanto mengatakan...

Wah kayaknya bapak jadi trendsetter disana ya. Selamat ya pak.

erikmarangga mengatakan...

pasti setelah itu balik lagi ya. trus bilang; tapi bisa dicicil kok (sayanya):D

Apisindica mengatakan...

@Rona: selamat menikmatiiii!!!! Ah mobil jelek, nggak mahal :)

@tanto: harus dooonk...dimana bumi dipijak disitu langit dijungjung. dimanapun berada harus jadi trendsetter :)

@erik: yalopikir KPR rumah. Gampar yaaah! :P

Erik Marangga mengatakan...

Kan obral om:)

ingat loh, udah kepala berapa kemarin itu?

huahahahaha...!!!