Rabu, 02 Juni 2010

Kebimbangan

Bismillahirrohmanirrohim….

Sepenggal doa yang saya panjatkan ketika saya berada di ruang tunggu bandara. Sepenggal doa yang bisa mengcover seluruh kegundahan saya saat itu.

Saya berdoa semoga keputusan saya tidak salah. Berharap bahwa memenuhi undangan untuk mengunjunginya bukanlah langkah yang justru akan membawa saya dalam lingkaran sesal yang tak berkesudahan. Mudah-mudahan ini menjadi awal yang lebih baik ke depannya meskipun saya belum bisa merefleksikan apa yang akan terjadi dengan kami esok hari.

Undangan untuk mengunjunginya telah saya terima beberapa bulan yang lalu. Bulan-bulan panjang penuh pertimbangan, bulan-bulan berisi ribuan detik yang saya habiskan hanya untuk berpikir mengenai dampak yang akan timbul apabila saya menyetujui mendatanginya atau bahkan menolak undangannya. Bulan-bulan yang membuat saya terlunta tanpa sarana, tidak memiliki saluran untuk saya bicara.

Saya didera kebimbangan. Otak dan hati tidak pernah mencapai titik temu. Mereka seperti tertarik ke kutub yang berlawanan, saling egois. Sementara saya yang berada di tengah keduanya semakin terombang-ambing dalam turbulen panjang pemikiran. Sejenak ingin melangkah, tapi sesaat kemudian ingin surut mundur ke belakang.

Setelah melewati banyak pertentangan, sesudah larut dalam ribuan doa. Akhirnya saya memutuskan. Saya menerima undangannya untuk mengunjunginya di negeri sebrang. Entah ini akan menjadi keputusan yang tepat atau bukan, yang pasti saya hanya menyakini bahwa setelah saya menjalani barulah saya akan tahu tentang semuanya. Benar atau salah saya akan memutuskan kemudian, dan saya siap dengan semua konsekuensi yang terpampang menantang.

Saya berdoa dalam hati agar semuanya seperti yang saya harapkan. Ketika ini menjadi tidak benar sekalipun saya harus bisa mengambil hikmah dari semua perjalanan dan pengembaraan asa yang akan saya umbar. Tapi saya lebih berharap bahwa ini adalah sesuatu yang benar, hal yang justru akan membuat saya mampu untuk memutuskan kemana saya akan melabuhkan sandaran, melempar jangkar yang tidak lagi sesaat karena saya sudah bosan berlayar tanpa tujuan. Saya sudah teramat lelah mengembangkan layar untuk sekedar melaju dalam lautan ketidakpastian.

Saya mungkin berharap terlalu berlebihan, tapi saya sadar kalau saya harus tetap menapak pada kenyataan. Karenanya saya minta didoakan yang terbaik, tidak hanya untuk saya tapi juga untuk dia.

9 komentar:

Farrel Fortunatus mengatakan...

lakukan selangkah demi selangkah dg penuh keyakinan... jangan biarkan keraguan mengoyak keyakinanmu... sebab diujung sana sudah menunggu seseorang yang akan membahagiakanmu...

Linda Tan mengatakan...

Wish all the best for you, right or wrong we will know after we live it ^_^

Ali Mas'adi mengatakan...

hati-hati di jalan ya.

-Gek- mengatakan...

Mau ke mana nich?
Setuju, hati2 di jalan ya..
Believe in your heart, God always talks through your heart.

Apisindica mengatakan...

@farrel: semoga seseorang itu tetap setia menunggu jika saya kemudian datang terlambat karena berbagai hal. amin.

makasih ya!!

@Linda: thanks a billion sist!!!

@ali: terima kasih banyak...

@Gek: mau jalan-jalan, sambil berusaha menyocokan hati. :)

saya tahu Tuhan selalu berbicara melalui hati saya. Memberi petunjuk yang pastinya jlan terbaik buat saya.

terima kasih yach!

BaS mengatakan...

Baca postingan loe rasanya langkah yang loe ambil sekarang GUEDHEE BUANGET dan bikin GUNDAH GULANA BUANGET *adooh bahasa gw!
Tapi apapun itu, semoga loe segera menemukan jawaban dari banyak pertanyaan di benak loe, pis..........amiien......

Apisindica mengatakan...

@BaS: hahaha, kamu aja kali yang menterjemahkan tulisannya dengan perspektif yang agak lain. jatonya terasa langkah yang harus gw ambil itu gede banget dan bikin gundah gulana. Nggak kok sebenenrnya, biasa aja....:P

Tapi apapun itu, terima kasih untuk doanya. amiiin.

rid mengatakan...

pada akhirnya keputusan harus diambil, iya kan, hehe...

selamat menempuh perjalanan rasa, semoga yg terbaik yang akan kalian dapatkan. salam buat si dia ya.. :D

gut lak, pis

Apisindica mengatakan...

@rid: apapun kenyataan yang terpampang, keputusan memang harus dibuat. :P

terima kasih rid, semoga perjalanan rasa kali ini membuat saya menjadi sesuatu yang terasa baru. :))