Senin, 09 Januari 2012

Judes

Assalamualaikum,

Hai, apa kabar? Anda tentu ingat saya. Saya yakin itu. Bagaimana tidak, sudah dua orang teman saya menyampaikan salam anda untuk saya termasuk mengenai insiden buku atau apalah yang katanya pernah anda alami dengan saya. Jujur, insiden buku yang anda bewarakan kepada teman atau teman-teman saya tidak sedikitpun menempel di dalam kepala saya. Saya benar-benar lupa, bahkan mengenai anda sendiri saya hanya ingat bahwa anda teman satu kelas saya ketika SD. Hanya itu.

Bukan sombong, tapi coba anda ingat-ingat kapan terakhir kita bertemu? Dan mungkin waktu terakhir bertemu itu kita hanya saling menyapa tanpa berbincang mengenai banyak hal, tidak seperti dua orang karib yang mendadak dilanda euforia karena bertemu setelah rentang waktu memisahkan sekian lama. Kita tidak seperti itu, mungkin hanya sepatah kata “hai” dan saling melempar senyum kemudian terlupakan begitu saja. Waktu yang sudah begitu lama ternyata tidak mampu melemparkan kita pada dimensi yang sama.

Mengenai insiden buku, mungkin ada baiknya kalau anda menceritakan kepada saya seperti apa kejadiannya. Jadi sebelum teman-teman saya mentertawakan, saya sudah dibekali amunisi untuk tertawa bersama mereka tentang kebodohan atau mungkin kenaifan saya waktu itu. Ya, jaman saya berseragam putih merah, yang saking lamanya atau tidak berkesannya buat saya tidak terlintas di ingatan sedikitpun. Tapi sepertinya untuk anda itu berkesan dan membekas hingga anda mengingatnya sampai sekarang dan menceritakannya pada orang lain selayaknya kejadian yang baru terjadi kemarin sore.

Mungkin buat anda itu sepele, terlebih buat saya yang tidak bisa mengingatnya. Tapi ketika itu menjadi bahan lawakan atau ledek-ledekan antara teman-teman saya, saya jadi menganggapnya tidak lagi lucu. Apalagi saya tidak ingat seperti apa kronologisnya. Saya ataupun teman-teman yang lain sering menjadikan masa lalu sebagai bahan guyonan, dan saya atau mereka tidak pernah mempermasalahkan itu karena saya tahu konteksnya. Tapi mengenai insiden buku yang anda sampaikan kepada salah satu teman saya itu kemudian menjadi banyolan, saya sedikit teriritasi. Saya keberatan.

Saya tidak tahu apa motif anda. Mungkin anda (maaf) berpikir dengan berlaku seperti itu anda akan dianggap pernah menjadi teman atau bahkan sahabat saya, tapi anda salah. Sekarang saya malah menjadi antipati terhadap anda. Mungkin sekarang anda hebat dengan karier yang bagus, yang karenanya anda jadi sering hilir mudik ke luar negeri bahkan tinggal beberapa lama disana, tapi itu ternyata tidak membuka pola pikir anda yang sempit. Saya mungkin tidak sehebat anda, tapi saya juga pernah bersekolah di luar negeri yang saya yakin anda tidak tahu. Maaf saya lupa, anda sepertinya lebih mengurusi insiden ketika kita masih “bodoh” ketimbang urusan ketika kita sudah dewasa.

Lewat surat ini sebetulnya saya hanya ingin mengungkapkan keberatan saya. Maaf kalau anda terganggu dan tidak suka. Saya berhak keberatan karena yang anda umbar adalah hidup saya, masa kanak-kanak saya yang mungin telah saya ubah sedikit demi sedikit ketika saya beranjak dewasa. Bukankah itu yang namanya hidup? Selalu berbenah selagi berjalan mengelilingi khitah waktu. Anda boleh saja mengabari teman-teman saya kalau anda saya kirimi surat seperti ini, tapi alangkah bijaksananya kalau tidak anda lakukan. Cukuplah ini hanya antara saya dan anda. Demi masa lalu.

Terakhir saya berdoa semoga anda dan keluarga senantiasa diberi kebahagiaan oleh Tuhan, dan saya mohon dimaafkan apabila ada kata atau kalimat saya di surat ini yang tidak berkenan. Dan perlu anda tahu saya tidak mendendam, jadi kalau suatu hari nanti kita bertemu (lagi) mari kita bersapa seperti waktu terakhir kita bertemu walau yang keluar hanya sepenggal “hai”.

Salam,
Apis.


Semalam, saya tinggal mengklik tombol send dan kemudian surat ini akan sampai ke tangannya via jejaring sosial facebook. Tapi saya urung, karena setelah saya pikir-pikir sekarang giliran saya yang mungkin berlebihan. Masa lalu tetaplah masa lalu, kalaupun itu adalah sebuah kesalahan maka sekarang saat saya untuk terus memperbaikinya. Semoga Tuhan selalu memberi saya waktu untuk terus membenahi diri ke arah yang lebih baik. Amin.

Tidak ada komentar: