Jumat, 20 Januari 2012

Elegi Memori

Makanan dalam mangkok di depan saya sudah tidak lagi mengeluarkan asap. Kepulan yang tadi terlihat menggeliat di permukaan bakmi yang saya pesan menguap dihisap sunyi. Sesunyi hati saya saat itu. Lama saya menunggu sampai akhirnya saya menyimpulkan kalau dia tidak akan datang. Telepon selulernya tidak aktif, sms saya pending digantung ketidakpastian. Saya beranjak tanpa berniat menyentuh makanan yang sudah terlanjur saya pesan.

Kantin itu menjadi saksi, bagaimana saya mengakhiri kisah saya sendiri. Kantin itu memuat testimoni tentang saya yang memunguti hati yang terserak tak lagi berarti.

Lain hari sengaja saya datang lebih pagi. Selain untuk mendapatkan tempat parkir yang strategis, saya juga ingin membuktikan tentang sebuah eligi. Saya ingin tahu tentang siapa pengirim serial note yang dijepitkan di wiper mobil saya. Serial note yang selalu tanpa identitas, serial note yang membuat saya penasaran bukan kepalang karena berisi beragam sanjungan yang membuat saya seperti berada di dalam komedi putar. Pusing tetapi membuat ketagihan.

Saya tidak pernah mendapatinya sampai suatu hari note itu tidak lagi bisu. Di ujung kalimat pendek yang seperti biasanya dia membubuhkan nomer teleponnya. Penuh penasaran saya mengontaknya, dan sejak saat itu saya tidak lagi hanya seperti dalam komedi putar tapi berasa hidup dalam sebuah taman ria dengan berbagai arena permainan. Baik yang menyenangkan, menakutkan, membuat cemburu, bahkan membuat saya jatuh cinta. Kami menjalin cerita, dan berujung seperti halnya dinamika. Ada awalan yang harus ditutup dengan akhiran.

Lewat jalanan-jalanan sepi di dalam komplek itu saya berkeliling. Sendirian. Tidak tahu apa yang saya cari. Mungkin cinta, atau mungkin hanya teman. Saya hanya yakin bahwa keduanya mungkin bergelimpangan di jalan-jalan tersebut. Diantara bangunan-bangunan tua yang berbaur dengan bangunan yang lebih baru. Diantara hiruk pikuk orang yang hilir mudik menaniki tangga atau memarkirkan sepeda. Saya yakin disana ada cinta, saya yakin disana ada bagian saya untuk memintal lagi sebuah cerita. Tidak peduli kalau dari awal sudah bisa saya lihat sebuah ujung yang berderai. Saya hanya menikmati hidup.

Hari ini saya mengulanginya lagi. Parkir di tempat yang sama walau tidak berharap akan ada penggemar rahasia yang mengirimkan sebuah sapa tanpa nama berjepit wiper dan kaca. Waktu sudah jauh meninggalkan saya dari masa-masa itu, memahat undakan-undakan menanjak untuk saya terus bergerak ke atas dengan kemungkinan untuk saya mundur beberapa tahap sekedar berwisata. Melakukan napak tilas hati tanpa kesakitan yang sama yang mungkin dulu pernah tercipta. Saya menuruni undakan rasa untuk sekedar bernostalgia. Merasakan bahwa saya pernah disana dengan cerita yang sudah saya bundel dalam bandrol kenangan.

Hari ini saya menyusuri lagi jalanan lengang di bagian belakang komplek. Tidak menebar senyum seperti waktu dulu. Tidak berharap akan ada seseorang yang akan melihat aura yang saya umbar berlebihan ketika saya berjalan. Waktu saya sudah dibekukan disana, buka masanya untuk saya melakukan hal-hal tak masuk akal seperti yang dulu sering saya lakukan. Lagi-lagi saya hanya ingin bernostalgia. Menikmati perasaan yang mengembang hanya dengan membaui jejak yang pernah saya toreh disana. Jejak yang sebetulnya sudah hilang diganjar panas dan hujan bergantian.

Hari ini saya duduk lagi di kantin itu, mengamati kepulan asap yang keluar dari makanan yang saya pesan. Tidak ingin didahului dingin saya menyendok sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut yang ingin dipuaskan. Tidak seperti dulu, saya tidak ingin kesunyian menyergap saya meskipun saat ini saya juga sedang menunggu. Kali ini saya yakin dia akan datang, kali ini saya yakin waktu akan berbuah pertemuan. Sesekali saya lirik telepon genggam yang saya geletakan sampai akhirnya ada nada panggilan dari nomer yang saya kenal.

“Apis, Ibu sudah ada di ruangan. Kalau mau bertemu, beliau sudah bisa sekarang” Begitu kabar yang disampaikan sekertaris mantan dosen pembimbing saya.

Dulu saya menunggu cinta, hari ini saya menunggu mantan dosen pembimbing saya untuk meminta surat keterangan. Dua jenis penantian yang berbeda tetapi tetap memaksa saya untuk menikmati sepenggal kenangan yang pernah tercipta di kampus ini.

ITB, 20 Januari 2012.

6 komentar:

Syaifullah Arifin mengatakan...

Saya hanya bisa berkata hati saya tersentuh dengan bacaan mu kawan lama.. Tanpa mampu berkomentar lain..

Salam, orang lama "

Anonim mengatakan...

Oh jadi kamu anak i te be toooh... Ih Pinter!

Anonim mengatakan...

Eh... Mo minta keterangan buat S3 ke eropa ya? Wow kereeen *plok2x*

Apisindica mengatakan...

@syaiful: Kawan lama? berasa toko perkakas besar di jakarta. hehe. Apa kabar teman? :P

@JO: Plaaaak!!! ya situ donk jadi anak itb dengan peringkat umptn ke sekian, kalau gw kan masuk cuma karena belas kasian. Huahaha.

Mau ih sekolah ke eropah. doain yah? :D

a.simple.guy mengatakan...

ih aku juga kangen kampusss :) :) :)

Apisindica mengatakan...

@aris: hey, dan aku kangen padamu. Hahaha

Seorang teman yang (juga) ketemu di kampus neh...