Kamis, 21 Juli 2011

Kontemplasi

Ketika saya sudah berhenti bertanya, itu bukan berarti saya tidak percaya lagi pada Tuhan. Saat saya tidak lagi banyak mendebat, tidak lantas saya menyepelekan Zat yang sudah menciptakan saya.

Saya lelah.

Bertanya dan berdebat tidak menjadikan saya siapa-siapa. Tidak membuat saya kemudian mengerti mengenai rencana yang mungkin sudah saya tanda tangani dengan Tuhan ketika saya justru belum lahir. Sebuah perjanjian yang tidak pernah saya ingat bagaimana bunyinya, karenanya saya meraba-raba. Mencari jalanan yang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukan pecundang. Meniti setiap kemungkinan yang menjanjikan kebahagiaan.

Saya sering salah langkah, terperosok pada lubang yang sebenarnya hanya itu melulu. Dulu saya tidak henti mempertanyakan, merapal kemarahan mengenai maksud sebuah penciptaan. Saya tidak bosan mengulang mendengungkan hal yang sama, mendebat segala sesuatu yang orang utarakan. Saya berfikir mereka tidak mengerti, jadi mereka sebetulnya tidak berhak untuk menghakimi. Saya yang menjalani, saya yang mengalami dan terus terang semua tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Akhirnya saya tidak peduli dengan apa yang ada di kepala mereka.

Saya menggugat Tuhan.

Lagi-lagi Tuhan bungkam, tidak melayani segala yang saya kemukakan. Tuhan tidak menggubris semua pertanyaan saya dengan jawaban, padahal yang saya butuhkan hanya sebuah jawaban. Tidaklah perlu jawaban panjang yang mendetailkan, saya hanya membutuhkan jawaban singkat yang memperjelas keadaan. Tapi seperti sia-sia, saya dipaksa mencari jawaban sendiri atas apa yang saya inginkan. Jatuh bangun dalam perasaan yang juga timbul tenggelam.

Saya beranjak dewasa, saya berdamai dengan keadaan.

Saya dan Tuhan kemudian selalu berbincang dengan intim. Seperti pentas monolog sebetulnya karena saya sendiri yang berbicara sementara balasannya hanya diam. Sunyi yang ternyata membuat hati dan kepala saya penuh. Tidak ada lagi proses menyalahkan, tidak ada segala bentuk penyesalan. Kepala saya diisi oleh pengertian bahwa semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi, dan saya tidak perlu tahu apa maksud Tuhan dengan menciptakan keadaan yang harus saya jalani. Tuhan selalu memiliki rencana indah, termasuk untuk saya. Dan itu yang saya yakini yang membuat saya kemudian berhenti bertanya.

Seperti apapun saya, saya pasti bermanfaat. Tidak peduli banyak orang yang menyangsikan tapi saya akan membuktikan kalau saya akan menjadi seorang pemenang dengan cara saya. Kaca mata kita mungkin berbeda, tapi saya yakin kaca mata Tuhan adalah sama. Jadi kenapa kalian tidak meniru Tuhan dengan tidak menilai saya secara keliru? Satu bagian hidup saya memang tidak sempurna tetapi itu tidak berarti keseluruhan hidup saya menjadi sia-sia. Saya punya potensi dan saya hidup dalam kebanggaan.

Saya hanya ingin hidup lebih baik, bukan lagi dalam kebenaran menurut saya tapi dalam kebenaran menurut Tuhan. Jadi mohon didoakan!

12 komentar:

rona-nauli mengatakan...

Alhamdulillah, pagi ini saya diingatkan lagi sama kontemplasi mas ini. saya sempurna dalam ketidaksempurnaan saya.

didoakan, sungguh :)

Enno mengatakan...

didoakeun pisan, bageur...

sing janten jalmi sholeh, tawakal, tetep dina kaimanan...

hmmm aku kontemplasi juga ah :)

JinggaMerah mengatakan...

good job...pengen ngikutin ya pis yg positif nya...

Apisindica mengatakan...

@rona: alhamdulillah kalau misalnya bisa saling mengingatkan :)

Terima kasih banyak doanya...

@teh enno: amiiiiin kanggo piduana. Kan urang hirup kedah saling ngadoakeun suapaya urang slalera aya teras dina tingkat kaimanan anu teras nambih unggal dintenna :)

hayuk kita kontemplasi bareng-bareng...

@jingga merah : thanks. eh, emang ada yang negatifnya yah? :P

bee's friend mengatakan...

Does it means that you have chosen the path?

Next month will be a good time to start a new life.

*hugs*

gloriaputri mengatakan...

AMIN

Anonim mengatakan...

Wish you luck my dear friend in whatever way you choose ;).

Noel

Apisindica mengatakan...

@teman lebah: dari dulu saya sudah memilih, menjadi umat Tuhan saya secara taat.

untuk memulai sesuatu yang baik tidak perlu moment ramadhan, karena kapanpun itu kita harus senantiasa hidup dalam kebenaran menurut tuhan.

Oh iya, sebagai teman yang baik rasanya absurd kalau pake rahasia-rahasia dengan tidak mau menuliskan nama atau apalah.

cheers!

@Glo: terima kasih aminnya glo... #peluk

@noel: peluk noel erat-erat. Ayo pulang ke indo ih, gw kangen tauu. Eh tapi gw ngelamar zurich univ kok tiap ada kesempatan biar ngedeketin elu dan keluarga lu. hehehe :)

Norman mengatakan...

Beuh... Yang diomongkan kemarin... Btw, kamu sudah baik kok. Tinggal memoles terus saja.

Kalau kamu dibilang tidak baik, maka biarkan mereka yang mengatakan menggugat langsung saja.
Kalau katanya kamu tidak berusaha, maka biarkan mereka berlalu dengan usaha mereka
Kalau kamu kelelahan, yuk duduk minum2 lagi. Kali ini gw yang bayarin

Apisindica mengatakan...

@norman: masa seh aku udah baik? hehehe #peluk

ayok kita minum-minum lagi!! :)

Anonim mengatakan...

Luar Biasa Tulisanmu Mas
-GG-

Apisindica mengatakan...

@GG: makasih. nggak suka anonim-anoniman ah... :)